Warning : TYPO, OOC
Sebelumnya aku mau memberitahumu sesuatu, kalau tulisan italic itu memiliki tiga arti, yaitu kata-kata didalam pikiran, flashback, kata diluar bahasa Indonesia atau untuk menekankan makna suatu kata. (itu mah empat ya? Pokoknya gitu deh!) Aku rasa kalian mengerti bila langsung membacanya.
Enjoy :)
Yukiko terkesiap.
Conan memutar otak, puluhan cara terlintas di otak untuk melarikan diri dari ancaman pistol. Namun kesemuanya memiliki persentase keberhasilan yang kecil. Tidak mungkin ia mempertaruhkan nyawa ibunya. Matanya membelalak, sekarang ia ketakutan.
Atmosfer ketegangan begitu terasa di udara. Sekarang Conan melototi Gin. Orang itu menyeringai seram. Conan bergidik. Lalu ia melihat jalanan yang tertutup mobil mereka, pembatas jalan yang hampir rata. Sebuah rencana yang kemungkinan berhasilnya besar langsung terpikirkan olehnya.
"Rem." geramnya.
"Eh?" Yukiko melirik Conan putus asa, tidak yakin dengan apa yang didengarnya tadi.
"REM SEKARANG!" Conan berteriak frustasi. Yukiko mengerti dia tidak salah dengar. Maka ia mengerem keras, membuat Feroza itu tersentak. Tentu saja Porsche mereka melaju terus, tidak memperkirakan kalau Yukiko akan berhenti. Seketika Yukiko mengerti rencana apa yang terbayang di kepala sang anak. Yukiko membanting setir ke kanan, melintasi pembatas jalanan, lalu melesat pergi, menghilang.
"Kakak…" Vodka bingung, memutuskan tindakan yang harus dilakukan.
"Biarkan saja." tukas Gin. "Mereka tikus dalam karung, akan segera ketemu."
Napas Conan memburu. Bahkan ia bisa mendengar suara napas Yukiko, saking kerasnya karbondioksida keluar dari hidungnya, kaget. Ia melirik spion, memperhatikan apakah mobil hitam itu menyusul. Namun, bayangannya saja tidak dia lihat.
Lalu tanpa sengaja ia melihat Haibara.
Wajah Haibara pucat sekali —kalau sekarang suasananya sedang santai, Conan pasti meledeknya sebagai hantu— dan berkeringat. Tangannya mencengkeram rok yang ia kenakan. Conan menoleh ke belakang, bertanya dengan nada penuh kekhawatiran. "Kau… baik-baik saja?"
Haibara terdiam beberapa detik, lalu mengangguk kaku. Ekspresinya masih tegang, namun cengkeraman tangannya mulai mengendur, napasnya mulai tenang. Lalu akhirnya ia benar-benar rileks, dan menyenderkan kepalanya di jok.
"Khas kau banget, bahkan disaat tegangpun kau bisa berpikir." katanya setelah beberapa menit. Conan memutar bola matanya, yakin kalau ucapan ilmuwan itu bukanlah pujian.
"Oh yeah, hanya itu yang terlintas di kepalaku. Tetap saja aku takut…" ia melirik ibunya. "Sialan, aku benar-benar membuat orang-orang terdekatku dalam bahaya."
"Tenang saja, Shin-chan…" Yukiko berkata, bermaksud menenangkan. Namun Yukiko terdengar seperti menenangkan diri sendiri. Suaranya terlalu tegang untuk membuat Conan tenang. "Aku bisa menjaga diri sendiri, percayalah padaku."
"Tidak." bantah Conan. "Aku akan minta agen FBI melindungi Ibu dan Ayah, Professor, Ran dan Paman, serta anak-anak kelompok detektif. Terlalu bahaya membiarkan mereka tak terlindungi."
"Yah, yang penting sekarang kita menuju ke mana?" tanya Yukiko, bingung. Ini arah balik ke Beika.
"Rumah kita saja." jawab Conan, tau mungkin sekarang itu tempat teraman, seaman yang bisa dirasakan, karena Gin dan Vodka bakal mengira mereka keluar kota.
"Shinichi-kun!" Professor menghambur keluar rumahnya, ia segera menyuruh Yukiko masuk. Conan melangkah ke dalam cepat, diikuti Haibara. Ia melirik ke sofa, lalu membanting diri disana, kelelahan. Akhirnya bebas dari belenggu ketakutan.
Sekarang sudah pukul 9 malam. Besok hari Senin, Professor akan mengurus keluarnya Conan dan Haibara dari sekolah. Tentu saja dikawal FBI. Dan mulai besok, Conan dan Haibara akan melaksanakan 'pelatihan' yang dikatakan Jodie itu. Mungkin aku harus bisa beladiri sedikit tanpa senjata, pikir Conan.
Setelah Yukiko bicara pada Subaru Okiya, bahwa ia mau menempati rumah itu, si pemilik rumah sementara itu pun akhirnya pergi. Kebetulan ia sudah menemukan apartemen yang bagus.
Conan mengabaikan omelan ibunya menyuruh mandi — pasti ibunya mau memandikan dia layaknya anak kecil betulan. Membayangkannya saja sudah malas, apalagi melakukannya. Akhirnya pukul 10 Yukiko dan Conan ke rumah mereka yang sebenarnya. Lalu Conan memasuki kamarnya, mandi sebentar dan berganti baju yang agak kebesaran karena ia tau besok pasti ia membesar seperti kemarin-kemarin, lalu tertidur.
Tentu saja dengan mimpi.
Ia berjalan, sebagai Kudou Shinichi, lagi-lagi ditempat yang sama, luas, tak berujung, dengan langit abu-abu, berteriak mencari Ran. Lalu ia menemukan Ran terduduk, menangis. Ia memeluk gadis itu, menenangkannya. Ran membalas pelukannya, menangis di dadanya.
"Shinichi, jangan pergi… jangan tinggalkan aku…"
"Aku takkan pergi."
"Bawa aku bersamamu…" bisik Ran lirih lagi.
"Tidak bisa." nada suaranya keras dan kasar. Mana mungkin ia membiarkan Ran dalam bahaya, dan itu semua karena dirinya?
"Kenapa?"
Lalu tiba-tiba dadanya sakit, tulangnya meleleh. Ran ketakutan melihat dia menggeliat di tanah, kesakitan.
"Shinichi!" Ran berteriak ketakutan. "Shinichi? Kau kenapa?"
Ran…ia membatin namun tak bisa bicara, tubuhnya kaku. Kemudian muncul Gin di belakang Ran, moncong pistolnya ke kepala Ran.
"RAN!"
Pertama-tama yang disambut matanya adalah langit-langit putih. Lalu ia terduduk, melihat sekeliling. Kamarnya.
Haaaah, mimpi lagi! Conan tersaruk-saruk ke kamar mandi di kamarnya, lalu mencuci muka. Melihat bayangan dirinya. Sekarang dia adalah Kudou Shinichi sewaktu SMP. Ia mendengus. Entah berapa kali lagi rasa sakit dan mimpi-mimpi aneh akan menggelayutinya sampai ia benar-benar kembali menjadi Kudou Shinichi sesungguhnya.
Membayangkannya saja ia jadi kesal sendiri.
Tapi ia sudah menjatuhkan pilihan. Dan tidak mau mundur. Inilah keputusannya, menghadapi organisasi sialan itu dengan segenap kekuatan, dan ingin ini semua berakhir dengan bahagia. Happy ending. Kalo di dongeng, live happily ever after.
Kayak bisa aja hidup seperti itu.
Ia melirik jendela. Hari masih gelap. Pukul 4 pagi. Terlalu dini untuk bangun, tapi dia tidak mengantuk lagi, dan akhirnya memutuskan untuk sarapan, walau masih terlalu pagi. Tapi ia lapar.
Ia menguap lebar, lalu tersaruk-saruk keluar kamar. Ada bau masakan, lalu ia mengingat kalau sekarang ia bersama ibunya. Ia masuk ke dapur, sudah ada piring, telur mata sapi di atas meja, nasi di dalam magic jar, roti bakar, dan berbagai macam topping. Sepertinya tadi ibunya ke supermarket 24 jam di jalan raya, mengingat ia sendiri tidak pernah beli telur sejak badannya menyusut. Malas berpikir, dan perutnya juga sudah menyanyi, maka ia menarik kursi dan duduk disana. Lalu meneguk susu di atas meja sampai habis. Sepertinya ibunya benar-benar habis belanja.
Susunya hambar, tapi ia tidak peduli. Enak-enak saja di mulut. Ibunya berbalik sambil memegang spatula.
"Shin-chan! Kau sudah sikat gigi belum? Kok belum ganti baju?" Yukiko menghampiri anak semata wayangnya, menaruh telur di piring, lalu melepas celemek dan ikut duduk. Conan memutar bola matanya. "Tentu aku sudah sikat gigi! Malas ah, nanti saja." jawabnya, membuka mulut lebar-lebar dan melahap roti dengan meises kayak di iklan TV.
"Detektif pemalas." Suara berat terdengar ditelinganya. Conan hampir lompat dari tempat duduknya, tersedak. Ia langsung menuang susu dari kotak dan meminumnya. Menoleh ke belakang, ia melihat seorang laki-laki yang membawa koran dan mirip dirinya.
Kudou Yusaku. Tentu saja.
"A…. A… A…" Conan tergagap.
"Ayaaaaahhhh…" Yuusaku melanjutkan, namun dengan nada manja. Conan mengernyit jijik. Aneh sekali ayahnya ini. Yukiko terkikik.
"Kok disini?" lanjut Conan. Ayahnya mengangkat bangku, duduk didepannya.
"Menurutmu?"
"Menurutku…" Conan memeras otak, namun karena setengah mengantuk jadi otaknya gak jalan dengan benar. "Tidak tau." akhirnya ia memutuskan kalau dia tidak tau.
"Payah, kau 'kan detektif." Conan memutar bola matanya. Yusaku nyengir. "Mana mungkin aku membiarkan ibumu dalam incaran pembunuh yang mengecilkan tubuhmu? Jadi aku ikut, lagipula tidak ada proyek kok." Yusaku menyendok nasi dan makan dengan lahap. Makannya dipiring keramik, mengingatkan Conan lagi ini benar-benar rumahnya. Conan jadi teringat Ran yang selalu menyiapkan nasi di mangkok.
"Ayah belum makan berapa tahun?" tanyanya acuh tak acuh.
"Tidak sampai tahunan, sepertinya 6 bulan." Yusaku membalasnya dengan gurauan. Conan jadi tersenyum. Padahal kemarin tegang sekali, sekarang ia bisa rileks sedikit.
"Wajar, 'kan Shinichi, aku belum makan dari kemarin." ayahnya meminum kopi dan menyulut rokoknya. Yukiko langsung mengambil rokoknya dari tangan Yuusaku.
"Yukiko…"
"Tidak boleh!" Yukiko tidak mau menolerir. Yusaku mengangkat bahunya, lalu hendak mengeluarkan rokok lagi dari kotaknya.
"YUSAKU! UUH!" akhirnya Yukiko mengembalikan rokok ke tangan suaminya. Yusaku nyengir penuh kemenangan. Sedangkan anak dari pasangan rada gak beres itu menatap mereka dengam mulut menganga lebar. Imajinasi berkembang liar dikepalanya.
"Shinichi!" Ran, yang memakai celemek, mengambil rokok dari tangannya.
"Masa aku tidak boleh merokok?" Shinichi mendengus lalu mengambilnya dari tangan Ran.
"Kau! Tidak baik merokok teruuuus! Nanti kau impoten baru tau rasa!" Ran mengomel dan hendak mengambil rokok dari tangan Shinichi lagi, namun Shinichi malah menarik pinggang istrinya, mencium leher Ran dan meniup-niupnya.
"SHINICHI!"
"Apa?"
"Tidak boleeeh…" namun Ran membalik badan dan memeluknya. "Sarapan dulu, oke?"
"Memangnya kenapa kalau aku impoten?" tanya Shinichi sambil meniup leher Ran lagi. Ran langsung berbalik lagi, namun Shinichi malah memeluk lehernya dan meniup-niup lagi.
"Ge…li…"
"Kenapa kalau aku impoten?" tanya Shinichi dengan nada jahil.
"Nanti kau tidak bisa…" semburat kecil muncul di pipi Ran.
"Tidak bisa apa?"
"Ti, tidak bisa…"
Bayangan itu membuat Conan tersenyum sendiri. Asik juga ya kalau aku sudah menikah dengan Ran, tapi masa aku merokok sih… pikirnya sambil senyum lebar. Lalu ia memakan rotinya, makin asik dengan bayangannya, dengan Ran sebagai istri tentu saja.
"Shin-chan? Kenapa kau senyum-senyum sendiri?" tanya Yukiko. Conan masih tersenyum, lalu menoleh. "Kenapa, Bu?"
"Pasti membayangkan kalau sudah menikah dengan Ran." celetuk Yusaku. Conan tersedak lagi, ia menuang susu namun sudah habis. Lalu ia mengambil kopi ayahnya dan meminumnya.
"Puah! Panas sekali!" teriak Conan, tambah tersedak, kesal.
Hidup penuh dengan kata 'tersedak', apalagi itu karena ayahmu yang bisa menebak apa yang ada di pikiranmu, tentu saja bukan hidup yang baik.
Ran terdiam, hening dalam perjalanannya menuju ke SMA Teitan. Hari masih pagi, baru pukul 6.30. Masih ada waktu 1 ½ jam untuk masuk ke sekolahnya. Namun ia sudah setengah perjalanan menuju ke sana, ia bilang ke ayahnya kalau ada latihan karate pagi.
Sebenarnya tidak.
Ia mau ke SD Teitan dulu. Mengecek apakah Co—Shinichi masih bersekolah disana. Ia tersenyum sendiri. Masa orang itu, tahan bersekolah di SD? Dia 'kan kelas dua SMA. Pantas saja rapornya sempurna terus.
Sekarang senyum gelinya berubah jadi senyum pahit.
Lalu ia melihat VW Professor Agasa, keluar dari gedung sekolah Shinichi selama mengecil. Ia berlari, mengejarnya. "PROFESSOR!"
Kemudian ia berhasil menyajari mobil yang berjalan pelan itu, melambai, dan berteriak lagi. "PROFESSOR!"
Lalu Agasa Hiroshi menoleh, menurunkan kaca.
"Oh, Ran-kun, ada apa?" tanya Professor beruban itu ramah.
"Dimana Shinichi?"
"Eh?"
"Dimana Shinichi?"
"Di, dia 'kan sedang memecahkan kasus…"
"Professor, kumohon." wajah Ran memelas, matanya berkaca-kaca. "Aku sudah tau semuanya. Jadi beritahu aku dimana dia. Aku mau menghajarnya."
"T, tapi…"
"Kumohon…"
Professor menghela napas. Sepertinya agen FBI dibelakangnya tak tau apa yang ia bicarakan, karena mereka tak kunjung turun. "Masuklah, Ran, kuantar kau."
"Terima kasih Professor!" Ran merasa senang sekali seakan terbang ke langit. Ia membuka pintu penumpang depan, lalu duduk disana. Professor segera melaju, dan berbelok ke arah rumahnya.
"Ki, kita mau kemana?"
"Ke rumahku."
Ran terbelalak. "Shi, Shinichi ada disana? Kau serius?"
"Tidak, tepatnya ada di sebelah rumahku."
Ran tertegun. Berarti ia ada di rumahnya. Kenapa tak terpikir olehku? batinnya. Ia menoleh ke arah jalanan, teringat bisik-bisik Sonoko dan ayahnya, tidak sengaja ia dengar.
"Hei, kenapa Ran seperti itu?" tanya Kogoro. "Ia seperti stress berat, tatapannya kosong! Kukira itu karena ia baru bangun tidur. Tapi sudah satu jam berlalu, dan tatapannya tetap seperti itu! Ada apa dengannya? Apa yang membuatnya seperti itu? Jelaskan padaku!"
"Aku tidak tau…" Sonoko mengangkat bahu, tapi wajahnya sedih total. Ran mengintipnya dari pintu. "Sebelum pingsan, ia menyebut-nyebut nama Shinichi-kun. Lalu terjatuh di bahuku. Aku bingung, ada apa dengan Shinichi-kun? Maka, setelah aku menelpon Dokter Araide, aku mencari nomor ponsel Shinichi-kun di ponsel Ran. Aku menghubunginya, namun tidak aktif…"
"Bocah detektif itu…" Kogoro menggeram.
"Tenang Paman, tenang! Kau harus tenang! Sekarang, mana bocah itu?"
"Ha? Maksudmu bocah ingusan yang membuat anakku menderita itu? Mana aku tau!"
"Bukan, bukan…" Sonoko menggeleng kesal. "Conan. Mana Conan?"
"Oh, anak itu. Tadi ia dijemput oleh orang tuanya. Lalu karena mereka bilang mau membereskan barangnya sendiri, jadi aku tidak tau. Ketika aku bangun, mereka sudah pergi. Dan kau sedang panik diatas." jawab Kogoro.
"Aduuh…" Sonoko menggaruk kepala, sebal. "Padahal Ran mengigau nama Shinichi berkali-kali. Lalu berganti jadi Conan. Sedang dibutuhkan, dia malah pergi."
Setelah itu dia menutup pintu, dan memutuskan untuk tidur lagi. Ia tidak mau mendengar apa-apa lagi. Hatinya sakit. Tubuhnya panas. Kepalanya pening, tenggorokannya jadi kering. Ia mau bertemu pujaan hatinya. Setidaknya… bersama lelaki itu.
Bersama Kudou Shinichi. Walaupun ia menjelma menjadi Edogawa Conan.
Mengapa aku jadi orang yang menyedihkan begini? Padahal waktu ada Conan… Ran tidak mau melanjutkan kata-kata itu, walau hanya dihatinya.
Mobil berhenti. Ran tersentak, lalu melihat kalau mereka sudah sampai.
"Shinichi… disini?"
Sulit sekali menyebut nama Shinichi sekarang.
Professor tidak menjawab. Ran menganggapnya sebagai persetujuan. Lalu ia melompat dari mobil, dan langsung masuk ke sana.
"SHINICHII!" teriak Ran. Namun tidak disahuti.
Rumah itu rapi, tidak seperti ketika Ran mengunjunginya terakhir kali. Ia berteriak memanggil nama detektif SMA dari timur itu. Namun hening.
Lagi-lagi keheningan. Kesunyian. Ran jadi muak sendiri.
Ia duduk di sofa ruang tamu, bersandar disana. Menatap ruangan itu. Lalu mengelilingi rumah bergaya Eropa yang ditinggali Shinichi dan keluarganya. Ia melihat dapur.
Ia ragu-ragu, namun akhirnya masuk juga. Melihat pemanggang roti yang masih hangat. Berarti beberapa saat yang lalu ada orang disini¸ Ran menganalisis. Lalu ia ke ruang tamu lagi, dan ada Professor disana, menatapnya bingung.
"Professor! Dimana Shinichi? Kok tidak ada? Sepertinya baru beberapa menit yang lalu ia disini, pemanggang rotinya masih hangat. Aku ke kamarnya dan selimutnya berantakan, padahal terakhir kali aku kesini…"
"Dia sudah pergi." potong Professor Agasa. Ran terdiam.
"Per…gi?"
"Aku baru saja diberitahu oleh agen FBI yang melindungiku di rumah, kalau Shinichi dan Ai-kun sudah pergi setengah jam yang lalu, katanya mereka akan memulai pelatihan untuk melawan penjahat yang membuat mereka mengecil. Sedangkan Yukiko dan Yusaku masuk ke perlindungan FBI, walau tidak melalui program perlindungan saksi." jelas Agasa.
Ran bergeming, menyerap kata-kata Professor Agasa, seakan-akan beliau berbicara dengan bahasa Planet Mars.
"Oh," hanya itu respon dari Ran. Agasa mengira ada kata-kata yang ingin Ran ucapkan lagi, namun dia hanya diam.
"Yasudah, aku pulang ya, Ran-kun. Jaga dirimu." Professor Agasa menutup pintu ruang tamu. Lalu terdengar langkahnya yang berat menjauh, dan ia menutup pintu depan.
Sekarang Ran sendiri.
Ia terduduk di sofa. Terdiam, menunggu air matanya keluar. Namun tidak ada yang muncul. Malah hanya ada rasa kesepian yang dalam. Yang menusuknya ke dalam.
Ia teringat kata-kata Sonoko beberapa minggu lalu, ketika keadaan masih biasa saja. Ia belum tau Conan adalah Shinichi, Sonoko belum mencoba menjodohkannya dengan orang lain, ia masih rindu pada Shinichi.
"Ran!" Sonoko memukul punggung Ran keras-keras. Ran yang sedang melamun langsung menoleh ke belakang, hendak mengomeli Sonoko. "SONOKO!". Yang dibentak hanya mengeluarkan jari berbentuk 'peace' dan cengiran innocentnya.
"Ada apa sih?" tanya Ran, melamun lagi, melihat ke arah lapangan. Ada anak-anak yang bermain bola. Seakan ia melihat Shinichi ikutan disana.
"Kau sedang memikirkan suamimu, ya?" tanya Sonoko, menyandarkan pinggangnya di meja sebelah Ran dan menyilangkan tangan di belakang kepala. Ran hanya mengernyit, melihat Sonoko heran.
"Shinichi-kun."
"Oh…" Ran memalingkan wajahnya lagi ke lapangan. "Memangnya kenapa?"
"Yah… jangan terlalu memikirkan orang yang belum tentu memikirkanmu, Ran. Maju terus. Lupakan saja dia, cari cowok lain. Cowok tuh kayak ikan, ada dimana-mana!"
Ran menopang dagu, menelusuri corak dinding sambil berpikir.
"Lupakan saja dia, cari cowok lain. Cowok tuh kayak ikan, ada dimana-mana!"
Ran menghembuskan napas lelah.
Sebenarnya ia bisa saja memilih. Meninggalkan kenangannya soal Shinichi, dan mencoba bersama cowok lain. Tapi ia tidak bisa. Ia sudah terbelenggu dengan Shinichi-nya. Walau ia berusaha, tapi yang dibenaknya adalah Shinichi.
Tinggalkan, maju terus, dan bersama lelaki lain, lupakan Kudou Shinichi. Atau disini, setia menunggutetap berpegang teguh pada kesabaran, walau ia belum tau hasil akhirnya bagaimana.
Ran menetapkan pilihannya pada opsi kedua, yang membuat dia tenggelam dengan kesedihan dan kesunyian, tak bisa melawan arus kepedihan yang kuat, membuatnya tertekan dan megap-megap kehabisan napas. Tak tau apa pilihannya salah atau benar.
"Kudou-kun…"
Conan menoleh. Haibara menatapnya tajam, membuat dia bingung sendiri.
"Ada apa, Haibara-san?" tanya Conan, memberi penekanan pada honorable 'san'.
"Perasaanku tidak enak."
"Haaah?" Conan melihat cewek pintar berambut pirang stroberi itu. Bingung. "Apa maksudmu? Semuanya akan baik-baik saja!"
"Tidak tau, mungkin akan ada hal yang tidak bagus?" Haibara mengangkat bahu. Conan merengut, mengalihkan matanya ke komik lagi.
Beberapa menit kemudian mobil berhenti. Mereka melihat sebuah gedung yang lumayan besar, tiga tingkat.
"Kita sudah sampai." ujar Jodie pelan. Mereka memasuki gedung putih itu. Lalu Jodie berbicara dengan resepsionisnya, dan naik lift menuju lantai 3.
"Kita mau kemana, Bu Jodie?" tanya Conan. Tidak menyangka gedung yang tidak menarik ini adalah gedung milik FBI.
"Ke dojo."* jawab Jodie.
"Dojo?" Conan dan Haibara saling lirik. Mau apa mereka? Belajar beladiri sekarang juga?
Lift berhenti. Mereka keluar. Lalu jalan, belok ke kanan, dan keujung koridor. Mereka masuk ke pintu, dan melihat sebuah ruangan yang lumayan luas. Ada beberapa alat olahraga dan diujung dekat tembok lain ada ruangan kedap suara untuk latihan menembak.
"Ah, hi, Jodie! I think I won't meet you today!" seorang wanita berambut pendek, hitam, dan ikal berjalan mendekati mereka. Tubuhnya lumayan bagus, tetapi kulitnya berwarna sawo matang seperti Hattori Heiji. Matanya besar, namun ada kantung mata pertanda kurang tidur. Sepertinya orang Asia, namun bukan Asia Timur. Dia memakai celana pendek hitam 5 cm diatas lutut, kaus oblong putih dengan gambar pantai dan parka merah marun. Ia tersenyum manis kepada Conan dan Haibara.
"Oh, I dunno that you have a, eh, some kids?" wanita itu berkata heran.
"No, no, they're not my mine. I'm not married yet, after all!" Jodie memutar bola matanya, dan mereka tertawa. Conan dan Haibara makin bingung siapa dia.
"So, who are they?" dia membungkuk dan melihat ke arah Conan – Haibara. "Siapa namamu?" dia bisa bahasa Jepang walau logatnya aneh.
"The boy is Kudou Shinichi, and the girl, Miyano Shiho."
"Eh? That famous high school detective?" wanita itu nampaknya mengetahui Kudou Shinichi.
Conan tersenyum.
"Am I… crazy? Tell me what's going on."
"Kau akan tau ceritanya nanti. Sekarang ajarkan saja mereka beberapa jurus gilamu itu, ok? Kau harus membuat mereka bisa melawan tanpa senjata."
"Gampaaang!" wanita itu tersenyum lebar. Conan jadi merasakan hal buruk seperti Haibara tadi sekarang.
"Oh ya, panggil aku Ara. Aku akan membimbing kalian!"
"Edogawa Conan."
"Haibara Ai."
"Ok, ok, Edogawa-kun, Haibara-chan!" si wanita yang ternyata dipanggil Ara itu mengulurkan tangan ingin bersalaman. Bibirnya membentuk senyum, karakter yang ceria. Conan membalasnya, namun dia menarik tangan Conan, mendorong bahunya dan menekan bahu itu ke lantai. Setelah itu dia hendak menyikut Conan. Conan menutup mata, namun tak ada yang menyentak wajahnya.
Ara melepaskannya.
"Hati-hatilah, detektif.." Ara berdiri, merapikan bajunya. "Dunia tidak sebaik yang kau kira."
*Dojo : tempat latihan untuk beladiri, lantainya dari tatami dan dindingnya khas Jepang banget, tapi disini kubikin ruangan luas dengan dinding dan lantai biasa, hanya dilapisi karpet
Thanks to :
Sha-chan Anime Lover (Benarkah? Baguslah... itu friendster, sekarang grupnya udah ga aktif, pindah ke FB semua), rachel moore (udah kuupdate, ikutin trus yah! Kamu bikin akun dulu non, baru bisa jadi author), Fumiya Ninna 19 (Yap, betul sekali, liat aja disini kelanjutannya wkwk)
This is it, mehehehehhe *cengengesan*.
Ada OC nih, cuma tambahan anggota FBI aja wkwkwk. Karakternya sih ngambil dari dua temanku.
Yah, gaada yang mau kubilang sih. Just please to you, review!
Best regards!
