Hinata is Mine!

Disclaimer : Masashi Kishimoto dan Fujimaki Tadatoshi

Rate : T

Pairing : GoMxHinata

Happy Reading~

"Hinata-chan!" Panggil Momoi memasuki kelas Hinata

Ia melihat Hinata sedang mengobrol dengan gadis berambut merah muda sepertinya, gadis pirang, dan gadis bercepol. Tak banyak membuang waktu, Momoi mendekati Hinata.

"Ada apa Momoi-san?" Tanya Hinata

"Apa kau tau kenapa para Kisedai sekarang berlatih gila gilaan?" Tanya Momoi yang saking penasarannya sampai mendatangi kelas Hinata. Ia yakin gadis manis ini ada hubungannya.

Hinata terdiam dan sedikit merona.

"Sebenarnya, mereka akan one on one dengan Sasu-nii besok" Jawab Hinata

"Kenapa?" Tanya Momoi penasaran

Hinata terdiam. Merasa malu mengungkap alasannya. Apa yang harus ia katakan? Bahwa mereka berusaha agar dapat kencan dengannya.

"Jangan jangan untuk meminta restu kencan denganmu Hinata" Celetuk Ino asal

Namun anggukan Hinata sukses membuat ke 4 gadis lain terdiam.

"Ehh??!! Serius??!!" Sakura dan Momoi berteriak kaget

"Mereka melakukannya agar diizinkam kencan denganmu?!!!!" Pekik Momoi heboh

Untung kelas sepi, para murid masih betah mengobrol di koridor.

"Pantas saja Dai-chan tak pernah terlambat lagi! Tet-chan juga berlatih shoot lebih keras. Mereka bahkan menambah porsi latihan!!"

Momoi berbinar "Lalu, Lalu, secara pribadi adakah yang kau dukung?"

Hinata membuka mulutnya, para gadis yang mengelilingi Hinata pasang telinga baik baik.

Namu sebelum suara Hinata menyapa gendang telinga mereka, suara lain terdengar.

"Satsuki, apa yang kau lakukan disini?"

Momoi berbalik cepat dan tersenyum tanpa dosa. Dihadapannya Akashi Seijuuro.

"Hehe Sei-chan, Ti-tidak kok. Aku hanya merindukan Hinata-chan!" Elak Momoi yang dibalas tatapan tak percaya sang emperor

Jangan harap bisa membohongi Akashi.

"Hinata, dia tidak mengatakan hal buruk padamukan?" Tanya Akashi sambil menatap Hinata intens

"Tidak Akashi-kun" Jawab Hinata sambil menggeleng

"Baguslah, kalau itu terjadi katakan saja padaku"

"Hum" Hinata mengangguk dan tersenyum

Ah, Manis sekali~

Akashi bahkan tak sanggup menahan keinginan untuk mencubit pipi chubby itu.

Tapi karna ego seorang Akashi, ia berakhir dengan mengelus puncak kepala Hinata pelan.

Momoi merasa rahangnya hampir jatuh.

Sejak kapan Akashi bisa bertindak seperti itu pada seseorang? Apalagi perempuan?

"Kalian sedang apa, nanodayo?" Sapaan seseorang membuat Akashi melepaskan elusannya di helai rambut Hinata

Aura Akashi sedikit menggelap, ia tak suka diganggu di tengah kegiatan yang disukainya.

"Ah, Shin-chan!" Momoi menyapa

"O-ohayou nanodayo" Sapa Midorima begitu pandangannya bertemu dengan pandangan Hinata, ia mengalihkan pandangannya

"Ohayou Midorima-kun" Balas Hinata dan melirik Akashi yang terdiam

"Akashi-kun sakit?" Hinata mendekat dan dengan polosnya menaruh tangan di dahi Akashi "Tidak panas"

Sentuhan Hinata sukses membuat aura Akashi kembali baik

"Shintarou, kenapa kau membawa mini neko dan gelas kaca?" Tanya Akashi begitu menatap Midorima, tak biasanya Oha Asa menyarankan dua lucky item.

"Lho- Kalau tidak salah saat menonton Oha Asa tadi pagi, mini neko itu lucky item Capricorn kan?" Cetus Tenten, kadang kadang ia menonton acara itu

Dan seketika semua menatap Hinata.

"Bukankah kau lahir di akhir bulan desember?" Tanya Sakura pada Hinata "Capricorn kan?"

Hinata menganggu dan menatap Midorima "Jadi lucky item itu untukku?"

Midorima dengan ketsundereannya hampir berkata tidak, namun saat melihat tatapan Hinata padanya, ia akhirnya mengangguk.

"A-aku tak sengaja membawanya nanodayo, u- untukmu saja, ingat ya, aku bukan sengaja membawanya"

Midorima memalingkan wajahnya ke samping.

"Arigatou Midorima-kun"

Tidak sengaja membawa? Untuk pecinta Oha Asa seperti Midorima itu mustahil.

"Kau juga percaya pada ramalan?" Tanya Akashi pada Hinata

"Begitulah" Jawab Hinata dengan tersenyum "Akashi-kun ingin diberikan lucky item?"

"Tidak perlu" Jawab Akashi langsung "Dan Satsuki, kembali ke kelasmu. 10 menit lagi bel berbunyi"

Mereka bahkan tak sadar sudah banyak orang di kelas. Adegan tadi cukup mencuri perhatian mereka.

-Skip Time-

Hinata hanya bertemu Akashi dan Midorima di kelas, gadis manis itu bahkan tak bertemu sisa anggota kisedai yang lain, sepertinya Momoi benar. Mereka berlatih lebih keras.

Tiba tiba pipi gadis itu merona.

Ia merasa begitu spesial.

"Kau melamun, Hime?" Sebuah suara menyadarkan Hinata

"Eh? Nii-san?" Tanya Hinata heran, kenapa Sasuke menyusul ke kelasnya?

"Kau lama" Ujar Sasuke seolah membaca pikiran Hinata "Nii-san khawatir"

Sasuke mendekati Hinata, mengambil alih tas yang dibawa adiknya "Dan ternyata kau melamun"

Hinata mengikuti langkah Sasuke yang mulai menjauhi kelas.

"Kau tenang saja, Hime. Nii-san pasti akan menang. Nii-san tak akan membiarkanmu kencan dengan orang yang tak kau mau"

Yang tak kau mau? Benarkah Hinata tak ingin mencoba berkencan dengan salah satu anggota GoM?

"Kau melamun, sweetheart. Ada masalah?" Sapa Itachi ketika melihat buku yang dibaca adiknya sama sekali tidak berpindah halaman

"Ti-tidak kok Nii-san" Hinata mengelak

"Bukunya membosankan? Kau mau membeli buku baru? Ayo Nii-san antar" Ajak Itachi, ia tau toko buku selalu membuat mood adiknya membaik

"Nii-san tidak sibuk?"

"Pekerjaan Nii-san sudah selesai. Ayo, agar pikiranmu lebih bebas" Itachi menyimpan buku dalam genggaman Hinata "Kau mau berganti baju dulu?"

"Aku pakai jaket saja" Jawab Hinata begitu melihat sekarang pukul 17.30, tak masalahkan kalau memakai baju rumahan? "Sasu-nii bagaimana?"

"Biar Nii-san yang ajak, kalaupun Sasuke tak ikut. Kan ada Nii-san"

Hinata tersenyum, merasa bahagia mempunyai keluarga yang sangat memperhatikannya.

Hinata beranjak membawa jaketnya sementara Itachi menuju ruangan Sasuke.

"Hime"

Hinata yang sedang berada di kamarnya berbalik, dan menemukan Sasuke berdiri di depan pintunya.

"Sasu-nii tak bersiap siap?" Tanya Hinata heran, setelan pria itu bahkan belum berganti

"Nii-san sangat ingin ikut, tapi Nii-san harus lembur agar besok ketika tanding tak ada pikiran berkas. Kau pergi bersama Ita-nii saja ya?"

Hinata mengangguk lalu mendekati Sasuke.

"Baiklah tapi ketika aku dan Ita-nii pulang nanti, Sasu-nii harus sudah mandi dan berganti pakaian. Agar ketika makan malam nanti Nii-san tak sekusut ini"

Sasuke terkekeh dan mencubit kedua pipi Hinata gemas

"Oke Hime. Perintah diterima"

"Kalau begitu segera laksanakan Otouto. Kami akan berangkat sekarang" Suara Itachi menyapa

"Aniki jaga Hinata" Pesan Sasuke menatap onyx Itachi serius

"Tentu saja Otouto. Ayo berangkat sweerheart"

"Hum" Hinata mengangguk dan menghampiri Itachi

"Jaa Sasu-nii" Hinata melambaikan tangan yang dibalas lambaian yang sama oleh Sasuke

Itachi dan Hinata menuju ke Mall Tokyo.

"Hinata, Nii-san mau ke toko jam tangan dulu, kau tunggu di toko buku ini ya? Jangan kemana mana"

Hinata mengangguk. Itachi tersenyum dan segera pergi, tak ingin membuat Hinata lama menunggu. Dan, oh! Itachi bahkan berbicara pada kasir dan penjaga pintu agar menjaga Hinata!

"Hinata-san?" Sapa suara yang dikenal Hinata

"Ah, Kuroko-kun" Sapa Hinata kembali. Dan bagi Kuroko ini pertama kalinya sapaannya dibalas tanpa pekikan kaget.

Ia suka perasaan nyaman saat bersama Hinata.

"Kuroko-kun mau membeli buku?" Tanya Hinata

"Ah, Iya aku mencari Light Novel terbaru. Hinata-san kemari dengan siapa?"

Tanya Kuroko, karna mustahil Hinata sendirian di jam seperti ini. Kedua kakaknya kan protektif.

"Dengan Ita-nii, tapi Ita-nii ke toko jam dulu"

"Hinata-san mencari buku apa? Biar kubantu carikan"

"Mencari novel, tapi kita cari di bagian light novel saja, sepertinya seru, sekaligus Kuroko-kun mencari buku" Ujar Hinata

Sepertinya Kuroko menemukan hal lain yang disukainya selain membaca novel dan bermain basket, yaitu mengobrol dengan Hinata.

Dan pada akhirnya tak satupun dari Kuroko dan Hinata membeli novel.

Itachi sempat panik tak menemukan Hinata di rak novel, tapi untunglah ia menemukan Hinata setelah berputar putar.

"Hinata sejak kapan kau menyukai light novel?" Tanya Itachi mendekat

"Ita-nii? Sudah selesai? Aku sekalian menemani Kuroko-kun" Jawab Hinata

"Kuroko?" Alis Itachi menyernyit

"Benar Itachi-san" Jawab Kuroko yang menyentak Itachi

"Kuroko? Tadi kau kemana?" Tanya Itachi berusaha mengontrol kekagetannya, bukankah tadi adiknya hanya sendirian

"Aku dari tadi disini" Jawab Kuroko sudah terbiasa

"Nii-san lucu, masa Kuroko-kun tak terlihat. Kalau begitu kami permisi ya Kuroko-kun" Pamit Hinata juga Itachi dan meninggalkan toko buku

"Tak ada novel yang kau beli Hinata?" Tanya Itachi begitu Hinata mengajaknya keluar toko buku

"Tidak. Aku mau beli cemilan saja ya?" Pinta Hinata dengan tatapan memelas pada Itachi

Tanpa tatapan itu pun Itachi akan memberikan apa yang diinginkan sang adik.

"Tentu sweerheart, tentu. Apapun untukmu"

Begitu sampai di bagian market, Hinata segera pergi mencari cemilannya "Nii-san bawakan keranjangnya ya? Aku menunggu di tempat snack"

Itachi tersenyum dan mengeleng geleng kepalanya lantas beranjak membawa keranjang.

Hinata menyusuri jajaran snack. Dan akhirnya ia menemukan snack yang diinginkannya, tapi di rak paling atas. Hinata mengembungkan pipinya dan berusaha meraih snack itu. Tapi terlalu jauh.

Saat berpikir untuk menunggu Itachi. Tiba tiba badannya terangkat. Sebelum sempat berteriak suara terdengar.

"Ayo ambil snacknya Hinata-chin"

Suara bernada malas ini, Murasakibara. Hinata meraih snack incarannya. Murasakibara menurunkan Hinata saat snack sudah dalam genggaman.

"Arigatou Mukkun"

"Tak masalah~ Kukira hanya bayanganku saja aku melihat Hinata-chin"

Ujarnya dengan nada malas, namun sedikit ada antusias disana

"Hinata-chin hanya beli cemilan itu? Pantas saja kau ringan sekali" Komentar Murasakibara

"Kalau makan snack bisa membuatku tinggi, aku akan memakan baaaannyyyaakk sekali snack" Ujar Hinata antusias

Murasakibara menunduk menatap Hinata cemberut.

"Jangan. Hinata-chin manis dengan tinggi seperti ini" Ujar Murasakibara polos dan menatap Hinata lekat membuat pipi gadis itu merona

"Hinata?" Suara Itachi terdengar lega "Aku tak melihatmu kau tertutup oleh orang in- eh Murasakibara?"

"Kau kakak Hinata-chin kan? Hinata-chin harus makan banyak. Dia ringan sekali. Aku takut Hinata-chin terbawa angin kalau angin besar" Ujar Murasakibara polos pada Itachi

Itachi tertawa pelan "Murasakibara, Hinata ini banyak makannya. Namun entahlah, dia tak pernah menjadi gendut"

"Benarkah?" Tanya Murasakibara sedikit tak percaya

Hinata malu malu mengangguk.

Akhirnya Itachi dan Hinata belanja ditemani Murasakibara.

"Terimakasih Mukkun, kami pulang dulu ya, Sasu-nii bisa bisa tak mau makan kalau kami belum pulang" Pamit Hinata

Murasakibara mengangguk dan membiarkan Hinata berlalu dengan Itachi.

"Ah, aku lupa membeli cemilan" Ujar Murasakibara dan kembali masuk kedalam

Begitu Itachi dan Hinata menginjakan kaki di kediaman Uchiha, Sasuke sudah bersidekap di ruang tengah.

"Kalian lama" Ujar Sasuke sedikit kesal

"Gomen Nii-san" Hinata menunjukan ekspresi bersalah

Sasuke tak kuat lama menatap ekspresi Hinata.

"Baiklah, karna kalian lama, Nii-san yang memasak. Ayo makan"

Uchiha memang kaya. Tapi maid yang bekerja hanya sampai sore, dan beberapa pelayan memang tinggal disini, juga penjaga gerbang. Tapi urusan masak, mereka memilih sendiri. Kadang Sasuke kadang Hinata. Sebelum Hinata datang, Sasuke memang menyewa koki, sekarang tidak lagi.

"Nii-san memasak apa?" Tanya Hinata sambil berjalan ke ruang makan

"Sup tomat" Jawab Sasuke bangga "Dan Chiken Katsu"

Hinata mengangguk dan Itachi menghela nafas "Sasuke, kau benar benar akan menjadi tomat suatu hari nanti"

Sasuke melotot dan Hinata tergelak, bukan tak mungkin ucapan Itachi menjadi nyata, habisnya, Sasuke sangat menyukai tomat!

Hari ini dari bangun pagi entah kenapa Hinata merasa berdebar.

Hari ini adalah hari tanding Kisedai dengan Sasuke.

"Kau tenang, Hime. Nii-san akan menang, tunggu di gym saja nanti ya" Ujar Sasuke saat mengantar Hinata ke sekolah

"Baiklah Nii-san" Jawab Hinata berusaha menutupi perasaan berdebanya

Sasuke pergi begitu melihat Hinata memasuki gedung sekolah.

"Yo Hinata!" Panggil lelaki berkulit tan begitu berpapasan dengan Hinata "Kau nanti menonton pertandingan kami kan?"

"Tentu Aomine-kun. Aku akan menontonnya"

"Yosh! Lihatlah penampilanku ya!"

Hinata terkikik pelan "Penampilan?"

"Ma-maksudku permainanku" Aomime gelagapan, ucapannya tadi memang ambigu , tapi aomine bersyukur, setidaknya ia mendapat tawa Hinata di pagi hari

"Aomine-kun kelasmu di lantai 3 ya?" Tanya Hinata

"Ya. Bersama Tetsu" Jawab Aomine, ah kelas Hinata sudah dekat

"Hinata" Panggil Aomine sambil berhenti, juga menghentikan langkah Hinata

"A-aku pasti menang. Kita pasti akan berkencan. Tunggu saja" Ujar Aomine dan segera berlari menaiki tangga

Sementara Hinata merona hebat. Aomine itu ... kelewat jujur.

"Hinataaaa!!" Panggil Tenten dari kejauhan "Eh, kenapa mukamu merah begini?"

"A-aku tak apa apa kok" Elak Hinata, Tenten menatap Hinata menyelidik, tau benar gadis itu menyembunyikan sesuatu

Ditatap sedemikian rupa oleh Tenten, Hinata akhirnya mengaku.

"Benarkah?!" Tenten terkejut

Hinata mengangguk. Tak lama Ino dan Sakura pun tiba, Hinata mengisyaratkan agar Tenten tidak bercerita pada dua gadis itu, Hinata tak sanggup menahan godaan godaan mereka.

"Hinata siap untuk melihat pertarungan memperebutkanmu?" Sapa Ino begitu datang membuat rona merah kembali menghiasi pipi bungsu Uchiha

"Kita akan menontonnya benarkan?" Tanya Ino pada Sakura dan Tenten

Tenten dan Sakura mengangguk "Lagipula wasitnya Naruto-kun"

Sakura tersenyum, senang membayangkan akan bertemu kekasihnya.

"Dan Hinata, Neji bilang ia juga akan datang, aku menceritakannya tak apa kan?" Tanya Tenten

"Aku tak masalah, aku merindukan Neji-nii kok, Tapi sepertinya Sasu-nii yang bermasalah" Ujar Hinata meringis, Hubungan Neji dan Sasuke memang masih belum akur

"Neji-nii?" Tanya Sakura penasaran "Kau mengenal gebetan Tenten itu?"

"Tunggu tunggu, Sakura ada Naruto, Tenten ada Neji, dan Hinata ada para GoM, lalu aku?" Ujar Ino cemberut membuat Sakura melupakan pertanyaan tentang Neji tadi

"Undang saja kekasihmu menonton" Akashi menjawab

"Ehh?!!" Ino berteriak saking kagetnya, sejak kapan Akashi berhawa keberadaan tipis seperti Kuroko?

"Dan Hinata, aku pasti menang. Kupastikan kita akan berkencan. Tenang saja"

Tenang saja? Akashi kata katamu membuat Ino dan Sakura berpikiran, bahwa Hinata juga sangat ingin kencan denganmu!

"Aku tak akan kalah nanodayo, ta-tapi bukan berarti aku ingin kencan dengan Hinata nanodayo" Ujar Midorima tiba tiba

Aduh! Sejak kapan para pemain GoM mempunyai kemapuan seperti Kuroko!

Akashi terlihat cukup kaget dengan kehadiran dan ucapan Midorima.

"A-aku bukannya menantangmu Akashi" Lanjut Midorima tak ingin disangka mengibarkan bendera perang

"Hn. Aku tau, Shintarou" Respon Akashi, apalagi ia tau bahwa Midorima itu tsundere akut

"Ja-jadi karna itu Midorima-kun membawa lucky item sebesar itu?" Ucapan Hinata membuat semua mata memandang ke tangan Midorima

Midorima memegang sebuah kardus

Kardus kosong.

"Kardus? Bukankah ada kardus yang kebih kecil?" Tanya Tenten heran

"Ini agar keberuntunganku lebih besar, nanodayo"

"Wah wah, kau sungguh ingin kencan dengan Hinata ya?" Goda Ino

"Ti-tidak nanodayo" Ugh. Sifat tsundere nya keluar lagi

"Sudahlah, segera duduk ke bangku masing masing" Titah Akashi

Karna kalau Akashi memasuki kelas, artinya 15 menit lagi bel berbunyi. Ini bukan karna Akashi suka terlambat.

Tapi setiap pagi, Akashi selalu datang ke ruang Osis terlebih dahulu, mengecek kegiatan. Sungguh ketua Osis yang baik.

Akhirnya bel pulang berbunyi. Dikelas yang berbeda, para anggota Kisedai membatin 'Ini saatnya'

"Hinata, mau pergi ke gym bersama?" Ajak Akashi saat para siswa keluar dari kelas

"Boleh" Jawab Hinata, tersenyum manis dan bangkit

"Kalian juga ingin menonton? Karna kalian teman dekat Hinata maka boleh" Ujar Akashi namun mereka menangkap maksud Akashi 'boleh tapi jangan bersama', Akashi ingin bersama Hinata saja sepertinya.

"Ayo!" Ajak Hinata

"Duluan saja, aku mau menelepon Sai" Ujar Ino

"Aku mau menyambut Naruto di bawah" Ujar Sakura

"Aku menjaga agar Neji tidak bertemu Sasuke dulu" Ujar Tenten

"Lalu Midorima-kun?" Tanya Hinata, dibalik bahu Hinata Akashi menatap Midorima tajam

"Du-duluan saja nanodayo"

Hinata mengangguk lantas mengajak Akashi pergi.

Tak lama setelah itu Midorima menyusul.

Tenten, Sakura dan Ino menggeleng geleng, Raja Iblis itu sudah terjerat pesona Hinata.

Begitu pintu gym dibuka, sudah ada Aomine, Kuroko dan Kise disana.

"Hinatacchi!!! Aku merindukanmu ssu!!" Pekik Kise dan menerjang Hinata, Akashi tak sempat menyelamatkan Hinata, sehingga Kise berhasil memeluk gadis itu

"Ki-se-se-sa-k" Ujar Hinata, sebelum Akashi turun tangan, Murasakibara yang baru datang langsung memisahkan mereka

"Kise-chin bisa membunuh Hinata-chin" Ujarnya tak suka

"Ryouta, kau tak ingat pesan Sasuke?"

"Aku ingat ssu! Tapi aku tak kuat, Hinatacchi kawai sekali ssu!!" Ujarnya membela diri

"Sudahlah tak apa" Ujar Hinata, tau kalau ini dilanjut akan menyudutkan sang pemuda kuning

"Oii Kise, kendali dirimu masih kurang!" Teriak Aomine dari lapangan terlihat tak suka

"Sudah berkumpul rupanya" Suara tegas lain bicara

Uchiha Sasuke. Berdiri di pintu gym bersama Itachi dan lelaki bersurai kuning lain.

Tak lama, Momoi datang berbarengan dengan Ino dan Tenten. Hinata tak melihat Neji dimanapun.

"Wah sudah mau dimulai!" Pekik Momoi "Ayo para gadis kita menonton di sana"

Sebelum ditarik Momoi, Hinata sempat berpandangan dengan Sasuke, melalui tatapan, Sasuke tau Hinata menyemangatinya.

"Baiklah" Itachi angkat bicara "Disini Uchiha Itachi dan Uzumaki Naruto adalah wasit. Uchiha Sasuke akan bertanding one on one dengan 6 lelaki. Masing masing orang bermain 10 menit"

"Itu terlalu singkat" Kuroko berkomentar

"Tidak. Itu cukup. Sebab Sasuke bertanding dengan 6 orang dalam satu waktu. Lebih dari itu staminanya tak mencukupi. Yang mencetak poin terbanyak pemenangnya"

"Bolehkan aku mengajukan syarat lain?" Akashi mengangkat tangannya

"Silahkan"

"Bagaimana kalau kesepakatannya diubah, siapapun asal ada diantara kami yang menang, maka semua berhak mendapat bagian kencan dengan Hinata"

Mendengar Akashi menjelaskan serinci itu mau tak mau wajah Hinata merona hebat.

"Kami sudah berjuang bersama. Aku tak ingin hanya gara gara satu yang menang semua bermusuhan. Kami harus tetap saling mendukung"

Kisedai yang lain tersenyum. Tak salah menjadikan Akashi seorang kapten.

"Persahabatan? Baik. Kesepakatan diterima"

Oh Sasuke, sepertinya kau terlalu meremehkan mereka. Gelar Generation of Miracle, tidak akan diberikan secara cuma cuma pada orang yang tak punya bakat.

Pertandingan benar benar sengit. Ini putaran terakhir, Akashi melawan Sasuke.

Sasuke sudah mulai kelelahan.

Pertandingan pertama tadi Sasuke vs Kise, Kise memang hebat, Sasuke hampir kewalahan. Hingga skor 6-6

Pertandingan selanjutnya Sasuke vs Kuroko, Missdirection Kuroko berkali kali menipu Sasuke, skornya 2-2

Lalu Midorima melawan Sasuke, Sasuke sempat kesusahan sebab Midorima ahli threepoint, hingga skor berakhir 6-6

Dengan Murasakibara pun Sasuke kesusahan memasukan bola ke ring, tinggi tubuh Murasakibara penghambatnya hingga hasil 0-0

Lalu sang Ace, Aomine. Kelincahannya memang yang terbaik, tapi Sasuke berhasil berkali berkali menahannya skornya 4-4

Semua seri, dan Sang Kapten akhirnya menutup pertandingan. Sasuke kelelahan, dan Akashi yang absolut. Dan pertandingan terakhir dimenangkan oleh Akashi dengan skor tipis 4-3

Para Kisedai berseru antusias begitu mengetahui Akashi berhasil memenangkan game.

"Pemenangnya Akashi Seijuuro! Dan sesuai kesepakatan, anggota lain juga diberi kesempatan untuk berkencan dengan Hinata"

"Aku kelelahan Aniki. Kalau dalam keadaan fit. Ia akan kalah" Ujar Sasuke membela diri sambil terengah engah di tengah lapangan

"Sudahlah, Teme. Lagipula mereka cukup tampan untuk menjadi adik ipar"

Sasuke memukul kepala Naruto dengan sedikit kencang "Diam kau dobe"

Tak lama Hinata datang dan menyerahkan handuk juga air minum.

Sasuke menenggak airnya rakus. Terlihat benar benar kelelahan.

"Baiklah. Mau tak mau. Aku mengizinkan kalian kencan dengan Hinata. Dengan satu syarat. Jangan biarkan dia terluka seujung jaripun"

Para Kisedai mengangguk antusias.

"Kencan dengan Hinata hanya dengan izin Sasuke dan Itachi? Jangan lupa, aku juga kakaknya"

Suara itu tegas. Tak terbantahkan.

Dia Hyuga Neji.

Oh Kami-sama, kencan dengan gadis sebaik Hinata, harus melewati banyak tantangan.

-TBC-

Haloo~ Cerita ini sebenernya di wattpad udah tamat, tapi rasanya kok sedih yaa disini diabaikan, jadi kayaknya cerita ini juga mau author tamatin di fanfiction, toh draftnya ada, tinggao copy paste dari wattpad ke fanfiction