Naruto © Kishimoto Masashi
Lovely Girl © Haruno Aoi
Setting: AU
Warning: crack, OC, OOC, tema pasaran
Tidak suka? Terserah Anda ^^v
.
.
.
* Lovely Girl *
.
.
.
Sasuke belum bicara lagi sejak berada di apartemen Karin; apartemen sederhana yang mempunyai dua kamar tidur, satu kamar mandi, ruang tengah yang merangkap sebagai tempat menerima tamu, dan dapur. Karin masih berada di dapur sejak beberapa menit yang lalu. Sedangkan ia duduk dengan gelisah di sofa merah panjang yang menghadap langsung ke televisi yang menayangkan berita sore. Secara mendadak ia merasa begitu canggung berada di dekat Karin. Sebenarnya tak terhitung banyaknya hal yang ingin dibicarakannya dengan Karin, tetapi ia malah bungkam karena tidak tahu harus memulai dari mana.
Dalam diamnya, ia juga terus waspada terhadap Yume yang tengah membelai anak anjing berbulu cokelat yang tadi dipungut. Karin memperbolehkan Yume merawat anjing itu, tanpa memedulikan tampang syok yang ditunjukkannya tatkala mendengar persetujuan tersebut. Ia tentu yakin bahwa Karin belum lupa akan phobianya terhadap anjing. Namun, ia juga merasa tidak punya hak untuk menentang keputusan Karin, apalagi Yume terlihat sangat menyukai anjing kecil itu.
Ia sibuk dengan pikirannya sendiri ketika Karin menghampirinya dengan membawa nampan berisi tiga mug putih yang mengepulkan uap tipis. Aroma yang menggugah selera membuatnya menoleh ke arah datangnya Karin, tetapi selang beberapa detik ia kembali mengalihkan perhatiannya ke depan. Ia merasa sangat gugup saat pandangannya bertemu dengan wanita itu. Bahkan jantungnya berdegup semakin kencang tatkala Karin menduduki tempat di sebelahnya setelah meletakkan nampan di atas meja.
Selain aroma manis yang menguar dari susu di dalam tiga mug tersebut, indra penciumannya dapat menangkap aroma vanilla yang dibawa oleh Karin. Sepertinya Karin masih setia pada suatu merk parfum. Ia masih ingat bahwa Karin gemar mengoleksi parfum beserta botol kacanya yang unik. Aroma yang paling dihafalnya dari Karin adalah vanilla, selain aroma yang dihasilkan oleh parfum citrus yang bercampur sedikit aroma lembut bunga dan kayu—yang langsung membuatnya terbayang akan kilasan kejadian malam itu.
Karin mengangsurkan salah satu mug kepada Sasuke. "Susu madu," katanya singkat, dan Sasuke tidak punya alasan untuk menolak.
Dulu, Karin lebih sering membuatkannya cokelat panas saat cuaca dingin atau musim dingin seperti saat ini. Karin yang seorang dokter pasti tahu kalau sekarang ia tidak boleh lagi terlalu banyak mengkonsumsi cokelat—hanya jika wanita itu masih ingat bahwa ia hampir mati karena kerusakan lambung. Waktu itu, ia benar-benar tidak menjaga pola makan setelah dicampakkan oleh Karin, malahan dalam seminggu bisa dihitung dengan jari berapa sendok nasi yang masuk lambungnya. Sekian bulan berikutnya, ia sampai muntah darah tanpa sepengetahuan orang lain. Dan beberapa hari kemudian, seorang maid menjerit histeris begitu menemukan tubuh dinginnya dalam keadaan meringkuk di atas ranjangnya yang sangat berantakan.
Saat terbangun di sebuah kamar rumah sakit, ia langsung menemukan wajah-wajah khawatir anggota keluarganya yang sudah lebih dari setahun tidak pulang ke rumah. Ia tidak tahu sudah berapa lama ia tertidur di ranjang berseprai putih itu. Yang ia tahu, tubuhnya terasa sangat lemas dan kelopak matanya begitu berat untuk dibuka. Bahkan ia membutuhkan alat bantu pernapasan agar bisa bernapas dengan benar.
Ia mengira bahwa maut akan segera menjemputnya kala itu, namun ia belum melihat Karin yang sangat dirindukannya. Perempuan yang telah mengeluarkannya dari rasa kesepian. Satu-satunya perempuan yang mampu mengisi kekosongan hatinya. Di luar kesadarannya, bibirnya selalu menggumamkan nama itu. Dan setiap saat keluarganya selalu meyakinkan dirinya bahwa Karin akan segera datang menemuinya.
Semangat hidupnya yang sempat menguap, kembali berkobar.
Namun, lama-kelamaan ia mulai sadar bahwa harapannya akan berakhir dengan kekosongan. Sebab, hingga ia dipindahkan ke kamar inap biasa, Karin tak kunjung menampakkan diri.
Kini Sasuke hanya harus menjalani hidup sehat agar radang lambungnya tidak kambuh lagi, kalau perlu ia akan menelan obat pengurang asam lambung. Tetapi, walaupun sudah dilarang sedemikian rupa oleh dokternya, terkadang ia juga masih mengoleskan selai cokelat di roti tawarnya.
Dalam sekian menit hanya terdengar suara dari televisi. Mereka berdua masih saling menutup mulut. Karin pun yang dulu bisa bertingkah genit di depan Sasuke, kini hanya diam seribu bahasa.
"Cuci tangan dulu, Yume," perintah Karin saat Yume hampir meraih bagiannya. Bocah berambut merah gelap itu langsung melesat ke kamar mandi. "Jangan lupa gunakan sabun," imbuhnya dengan suara yang lebih keras dengan harapan Yume bisa mendengarnya.
"Kau membesarkan Yume dengan sangat baik," celetuk Sasuke yang baru saja menyeruput sedikit susu madunya.
Sembari berusaha menekan kegugupannya, Karin menyahut, "Seperti ibu-ibu lainnya, aku juga mengusahakan yang terbaik untuk Yume."
Kasih ibu terhadap anak memang tiada terkira. Begitupun dengan perjuangan Karin demi Yume—yang sungguh tak terbatas. Andai Sasuke tahu bahwa Karin masih bekerja sampai seminggu sebelum melahirkan Yume. Beruntung Karin mengenal orang-orang yang dapat dipercaya sekaligus diandalkan, seperti Sakura dan Kakashi, tidak lupa rekan-rekan kerjanya di rumah sakit yang tidak ragu untuk selalu membantunya.
Sejurus kemudian Sasuke menengok ke samping kanannya untuk memandang Karin lamat-lamat. Wanita bersurai merah itu masih tampak terpaku pada cairan seputih gading di dalam mug yang digenggamnya dengan kedua tangan. Karin tidak banyak berubah, selain terlihat lebih dewasa dan matang dibandingkan enam tahun yang lalu. Karin juga masih menyukai bingkai kacamata yang lumayan tebal.
Kehadiran Yume menyadarkannya bahwa ia terlalu lama memandang Karin. Yume mengambil tempat di antara dirinya dan Karin seraya meminum susu madunya dengan semangat. Ia menahan tawa karena melihat susu yang menempel di bibir atas Yume. Harus ia akui bahwa bocah itu benar-benar menggemaskan. Di saat yang sama, Karin terkikik geli karena alasan serupa sembari membelai kepala Yume dengan sayang.
Sasuke terpaku melihat senyum dan tawa pelan Karin. Akhirnya, sejak perpisahan itu, ia bisa kembali menyaksikannya.
Senyum simpul masih bertahan di bibir Karin begitu pandangannya bertumbukan dengan mata kelam Sasuke. "Kalau tidak sedang terburu-buru, pulanglah setelah makan malam," katanya tenang.
Kalau boleh, Sasuke akan selalu berada di sisi Karin dan Yume.
"Aku akan segera menyiapkannya," ujar Karin yang kemudian meminum susu madunya dengan pelan-pelan namun hingga tandas. Setelah mengambil mug kosong di tangan Yume, ia bergegas ke dapur untuk memasak.
Sasuke tidak sabar mencicipi masakan Karin lagi. Pasti Karin lebih pandai memasak sekarang. Ia juga tak bosan memandang sosok Karin yang tengah berkutat di meja dapur. Wanita bertubuh proporsional itu melakukan pekerjaannya dengan cekatan layaknya koki profesional. Tanpa sadar senyumnya mengembang, membuat Yume yang sedari tadi memperhatikannya menjadi keheranan. Masih dengan tatapan intens yang mengarah pada Karin, ia meminum susu madunya sampai tak tersisa.
Sekali lagi, Sasuke jatuh cinta pada Karin.
Tidak sampai satu jam, Karin mulai mengisi meja makan dengan masakannya serta peralatan makan. Yume yang semula menemani Sasuke di depan televisi, bergerak membantu ibunya dengan meletakkan tiga gelas kosong di meja kayu yang permukaannya berbentuk persegi tersebut. Karin memberikan senyumnya untuk Yume, kemudian mengisi gelas-gelas itu dengan air mineral. Tidak jauh dari sana, Sasuke tak sekalipun mengalihkan pandangan dari keduanya, mengabaikan program televisi yang sebenarnya sejak tadi tidak berhasil menarik perhatiannya.
Dirasa semuanya sudah siap, Karin memberikan isyarat pada Sasuke agar mendekat hanya melalui tatapan matanya. Sasuke belum memberikan respon yang berarti. Yume mendekat padanya untuk mematikan televisi, lalu menarik lengannya menuju meja makan. Yume meminta Sasuke menduduki kursi yang berseberangan dengan Karin, sementara dirinya duduk di kursi yang berada di salah satu sisi meja—yang berarti di antara keduanya. Keadaan seperti ini membuat dada Sasuke berdebar-debar, entah mengapa.
"Yume sangat suka sup iga sapi…," Suara Karin mengisi suasana hening di meja makan, "apalagi kalau banyak irisan tomatnya."
Yume memang anak Sasuke. Ia melihat mangkuknya yang berisi sup beraroma sedap itu. Berikutnya, ia melihat mangkuk Yume.
"Kenapa supku tidak ada irisan tomatnya?" Sebenarnya Sasuke sangat tahu jawabannya. Namun ia hanya ingin mendengar secara langsung alasan Karin.
Karin masih mengatupkan bibirnya untuk beberapa saat. Ia baru menyahut ketika sudah memiliki keberanian untuk membalas tatapan Sasuke, "Apakah … lambungmu sudah sehat betul?"
"Belum," jawabnya singkat.
"… Kalau begitu, kau memang belum boleh makan apapun yang asam…," Karin berhenti sejenak untuk menekan luapan rasa yang tak asing saat Sasuke memandangnya dalam-dalam, "termasuk tomat yang sangat kau sukai. Aku juga memasak dagingnya dengan empuk, dan kujamin sudah tidak ada lemaknya. Beruntung kau tidak terlalu menyukai makanan manis, karena lambungmu juga belum boleh menerimanya dalam jumlah berlebih…."
"—Aa … apa doktermu tidak memberitahumu?" Dengan cepat Karin menambahkan.
Sasuke mengangguk, entah apa maksudnya. "Tapi konsultasi pada dokterku tidak gratis, dan aku tidak mendapatkan makanan seperti ini," ujarnya.
Karin tertawa pelan, dan Sasuke turut bahagia melihatnya.
"Yume lapaaar~"
Keluhan Yume membuat dua orang dewasa di sana tersadar bahwa cukup lama keduanya mendiamkan makanan di depan mereka, sekaligus merasa bersalah karena membiarkan Yume menunggu.
"Itadakimasu." Karin mengawali. Diikuti seruan riang Yume. Sementara Sasuke hanya menggumamkannya pelan.
Sasuke terdiam setelah lidahnya mencecap sesendok kuah sup buatan Karin. Benar saja, sekarang Karin sudah lebih lihai dalam hal memasak. Ia merasa bahwa masakan Karin lebih lezat daripada masakan koki-koki handal restoran berkelas internasional di seluruh hotel bintang lima milik Uchiha Group. Boleh dikatakan kalau ia berlebihan, tetapi indra pengecapnya tidak mungkin berbohong. Pasti ada bumbu khusus yang membuat masakan Karin terasa sangat enak. Cinta, mungkin?
~ooo~
Malam ini bukan untuk pertama kalinya Sai candle light dinner bersama Shion. Ia sengaja menyewa restoran yang diketahuinya dapat membangun suasana romantis dengan pasangannya. Sejatinya Sai memang pria romantis. Ia juga sudah berpengalaman dalam hal memperlakukan wanita. Namun, sebelum mengenal Shion, ia tidak pernah berhubungan secara serius dengan para wanita—yang beberapa di antaranya hanyalah one night stand.
Selama tinggal di Amerika Serikat, bersama kawan-kawannya, ia sudah biasa melakukannya; petualangan cinta satu malam yang berakhir di ranjang. Hanya bersenang-senang, tidak lebih. Tanpa kasih sayang, komitmen, dan pernikahan. Sai memang sudah playboy sejak masa remajanya, namun tidak seliar ketika ia menuntut pendidikan seni di Harvard University.
Setelah pulang ke Jepang dan bekerja di studio milik keluarganya, ia langsung tertarik pada Shion. Tanpa disangkanya, Shion memberikan respon positif begitu ia melakukan pendekatan. Tidak lama kemudian, ia dan Shion mengukuhkan hubungan sebagai pasangan kekasih. Ia merasa Shion berbeda dengan wanita-wanita yang pernah dikenalnya, itu sebabnya ia melamar Shion saat ulang tahunnya. Ia bahkan mulai merancang konsep pernikahan. Sekarang tidak ada lagi nama perempuan di kontak ponselnya, selain Shion dan keluarganya.
Sambil menunggu pelayan mengantarkan main course, Sai teringat akan sesuatu yang tadi ia letakkan di dekat kursinya; sebuah shopping bag berukuran sedang. Ia mengambil isinya yang berupa kotak berbentuk balok pipih warna kuning lembut dan berhiaskan pita violet. Ia lalu menyerahkannya kepada Shion sembari tersenyum lembut.
"Oleh-oleh dari Mommy," ujarnya, "khusus untuk calon menantunya."
Dengan ragu, Shion menerima pemberian Sai. Ia baru mengeluarkan suaranya setelah pelayan selesai menyiapkan makanan utama di meja, "Kapan ibumu tiba di Jepang?"
"Dini hari tadi," jawab Sai tanpa memudarkan senyumnya.
Untuk menunjukkan pada Sai bahwa ia menghargai kebaikan ibunya, ia membuka kotak itu. Dengan gugup ia meraih winter coat berwarna abu-abu di dalamnya. Entah ini merupakan hadiah yang ke berapa dari Sai maupun ibunya. Perasaannya sungguh tak menentu sekarang. Ia kalut, merasa semakin bersalah kepada Sai dan keluarganya—terlebih kepada keluarga besar Uchiha yang sudah menerimanya sebagai bagian dari mereka.
"Aku suka," ujar Shion sebelum Sai menanyakannya. "Sampaikan rasa terima kasihku kepada ibumu."
"Setahuku, biasanya kau menyampaikannya sendiri," balas Sai, "Kau masih menyimpan nomor telepon dan email Mommy, bukan? Kau juga bisa bertemu langsung dengan Mommy, kalau kau mau."
"… Ya," sahut Shion, "tentu saja. Tapi tidak ada salahnya kalau kau juga mewakiliku untuk mengucapkannya secara langsung."
Ia sungguh merasa tidak enak hati telah mempermainkan mereka. Orang tua Sai begitu baik, apalagi sang ibu yang tidak ragu untuk menunjukkan rasa sayang kepadanya selaku calon istri dari putra semata wayang mereka. Namun, karena itulah ia tidak akan sanggup jika harus kembali bertatap muka dengan mereka. Apalagi demi dirinya, ibu Sai bersedia meluangkan waktu untuk bertemu dengannya di tengah agenda yang padat. Ia masih ingat betul bagaimana senyum manis ibu Sai yang disunggingkan untuknya dalam pertemuan pertama mereka.
"Hm, baiklah." Setelah itu, Sai memberikan isyarat pada Shion untuk menyantap makanan mereka.
Sampai menyelesaikan makanan penutup, keduanya tidak saling bicara. Hanya terdengar permainan musik light jazz yang mengalun lembut.
"Honey, malam ini stay di tempatku, yuk…," Sai kembali berbicara saat melihat Shion mengelap bibirnya dengan anggun. "Mungkin sebaiknya aku book kamar hotel, ya…?"
Sai masih tersenyum, tidak menghiraukan perubahan raut wajah Shion yang sepertinya sudah mengerti akan arah pembicaraannya.
"Kayaknya malam ini Grand Uchiha tidak penuh, kok, Honey…."
Hotel yang dimaksud oleh Sai adalah salah satu hotel bintang lima milik Uchiha Group yang kebetulan letaknya paling dekat dengan tempat makan tersebut.
"Atau … mau di love hotel saja?"
Shion sama sekali tidak menyembunyikan kekesalannya. "Bagaimana kalau di Sungai Amazon?" desisnya tajam, "Tiba-tiba saja aku ingin memancing ikan piranha."
Sai terkekeh, namun langsung terdiam begitu Shion bangkit dari tempat duduknya dan menghampirinya. Ia juga masih diam tatkala Shion memukulkan tas tangan ke dadanya.
"Apa kau kira aku rela menyerahkan kehormatanku kepada playboy sepertimu?"
Shion memang berbeda. Eh, sebentar, "—Jangan bilang kalau kau … masih virgin?" Sai terbelalak setelah mencerna kata-kata Shion.
Wanita bersurai pirang itu semakin kalap. "Apa aku juga terlihat seperti perempuan yang sudah pernah mengatakan … please take my virginity?" bentaknya.
Shion tak peduli jika suaranya sampai didengar oleh para pelayan di dapur. Setidaknya tidak ada tamu lainnya yang pasti akan membuatnya tampak memalukan karena bersuara sekeras itu di tempat umum. Tanpa kata, ia melenggang meninggalkan Sai yang masih terbengong-bengong.
Setelah keluar dari rumah makan, ia bisa mendengar derap langkah kaki dari arah belakangnya. Trotoar begitu lengang, berbanding terbalik dengan jalan raya yang lumayan dipadati kendaraan. Ia melangkah lebar ke halte terdekat. Ia tahu kalau Sai mengikutinya, tetapi ia ingin mengabaikannya. Ia hampir memanggil taksi yang lewat ketika tangan Sai menahan salah satu lengannya. Berikutnya ia bisa merasakan punggungnya menghangat karena mantel abu-abu yang disampirkan Sai di kedua pundaknya.
"Sebentar lagi 'kan kita menikah, Honey…." Sai berbisik mesra, "Sama saja, bukan?"
Tak butuh waktu lama bagi Sai untuk merasakan pipinya memanas karena tamparan Shion.
Sebenarnya sejak di dalam restoran tadi Sai hanya bercanda—untuk membuktikan bahwa Shion memang berbeda dari wanita-wanita yang pernah tidur dengannya. Ia tidak akan berbuat kurang ajar pada perempuan yang benar-benar disayanginya. Paling tidak ia akan melakukannya setelah berikrar janji setia, dan sudah resmi menjadi pasangan suami istri yang terdaftar di catatan sipil.
Ia sungguh tidak menyangka kalau Shion akan menanggapi candaannya dengan serius. Ia juga terkejut mengetahui kenyataan bahwa Shion masih perawan. Cukup lama bergaul dengan beberapa wanita yang sama brengseknya dengannya, membuatnya merasa tidak percaya pada awalnya. Tetapi, karenanya, ia semakin yakin kalau ia tidak salah dalam memilih calon istri.
"Aku benar-benar ingin menceburkanmu ke Sungai Amazon." Shion benar-benar geram pada si tuan muda kadal itu.
Sai akan lebih melebarkan senyumnya jika mungkin. Ia beranjak maju dan mendekap Shion di dadanya. "Kau membuatku semakin tak bisa melepasmu…," lirihnya.
Hati Shion mencelos, dan ia hampir terbuai oleh kata-kata manis Sai. Sebelum terlambat, ia menginjak kaki Sai tanpa ampun. Dengan begitu, ia bisa terlepas dari pelukan erat Sai.
"Kau mencintai Ino." Kata-kata itu meluncur begitu saja dari mulut Shion.
Sai yang semula masih terfokus pada nyeri di ujung kakinya, kini memandang Shion dengan nyalang. Keningnya mengernyit dan alisnya tampak menukik tajam. Tidak ada lagi senyum ramah yang biasanya jarang absen dari wajahnya.
"Tahu apa kau mengenai hatiku?" desisnya.
Shion segera menghentikan taksi. Kali ini Sai tidak mencoba untuk menahan kepergiannya.
~ooo~
Bagi Sasuke dan Karin, cinta berarti tidak perlu meminta maaf dan menyatakan penyesalan. Sebab, cinta datang dari hati. Karena itu, mereka berdua bisa saling memaafkan tanpa ada kata maaf yang terucap. Mereka juga tidak menyesali apapun yang telah terjadi. Karin bersyukur Yume hadir di dunia ini, begitupun dengan Sasuke yang sudah bisa menerima kenyataan bahwa ia adalah seorang ayah.
Sasuke pamit pulang saat jam sembilan lewat, setelah menidurkan Yume di kasur. Seusai makan malam, ia masih menemani Yume menonton film anak-anak. Beruntung anjing Yume sudah terlelap, jadi selama itu ia bisa bernapas lega.
Mereka bertiga sudah terlihat seperti keluarga kecil yang berbahagia; menonton televisi bersama dan sesekali menyelinginya dengan tawa. Yume duduk di tengah, sementara kedua orang tuanya mengapitnya dengan protektif.
Sejujurnya Sasuke betah berlama-lama bersama Karin dan Yume. Apalagi tadi Yume tertidur di pangkuannya, membuatnya merasa berat untuk meninggalkan apartemen Karin, bahkan hanya untuk memindahkan bocah manis itu di tempat tidur. Sayangnya, statusnya sekarang tidak mendukung harapannya. Ia harus segera pulang, agar ia tidak memberikan masalah untuk Karin.
"Sampai jumpa," ucap Sasuke yang masih tampak sedikit canggung.
"Hati-hati," pesan Karin saat Sasuke mulai menuruni tangga. Apartemen berlantai tiga itu memang tidak memiliki lift. Untungnya apartemen yang disewa Karin berada di lantai dua.
Karin hampir berbalik dan memasuki apartemennya ketika melihat pria berambut perak yang menaiki tangga, Hatake Kakashi.
"Mencari Sakura?" tanyanya saat Kakashi berjalan ke arah pintu apartemen yang berada tepat di sebelah apartemennya.
Dokter gigi itu menggumam untuk menjawab pertanyaan Karin. Dapat dilihat kalau ia tengah tersenyum tipis bila maskernya dibuka.
"Sakura masih di rumah sakit, 'kan…." Karin masih bertahan di tempatnya semula. Ia bisa melihat Kakashi yang mencoba membuka pintu apartemen Sakura, namun gagal. Sepertinya pria itu juga tidak membawa kunci apartemen adik tirinya.
"Astaga…," gumam Kakashi, "aku lupa."
Karin terkekeh. "Sudah mulai pikun, Hatake-san?" candanya.
Kakashi menyeringai di balik maskernya. Ia menghampiri Karin dan menyodorkan bungkusan yang dibawanya.
"Tolong berikan pada Sakura," pintanya, "dan katakan kalau ini dari Okaasan."
"Baik," sahut Karin sembari menerima tas karton yang menguarkan aroma daun teh kering itu.
"Aa … terima kasih."
Kakashi terlihat belum ingin beranjak dari sana. Sepertinya ia masih ingin menyampaikan sesuatu, dan Karin seolah menunggu dengan tetap bertahan di sana.
"Pria tadi…,"
Alis Karin tampak naik menanggapi ucapan Kakashi yang terasa sengaja dipotong.
"sangat mirip dengan Yume."
Maksudnya, Uchiha Sasuke? Bisa jadi mereka berdua berpapasan, mengingat Kakashi datang tidak lama setelah Sasuke menuruni tangga.
"Dia memang ayah Yume," ujar Karin tanpa keraguan, "jika yang Hatake-san maksud adalah Uchiha Sasuke."
Kedua mata Kakashi menyipit karena senyum yang lagi-lagi tertutup masker. Ia mengangkat telapak tangan kanannya sebelum memasukkannya ke saku celana seperti tangan satunya. Setelah melihat bungkukan singkat Karin, ia menuruni tangga dengan langkah tenang.
~ooo~
Sasuke merasa tidurnya semalam begitu nyenyak. Ia menuruni tangga rumahnya dengan wajah fresh yang dihiasi senyum tipis. Hari ini ia tidak akan pergi ke kantor. Tidak ada yang perlu dicemaskannya jika ia memercayakan peluncuran produk baru kepada sang General Manager; Yakushi Kabuto. Masalah bocornya data rancangan dan video fashion show produk terbaru tempo hari sudah dapat ditangani tanpa menimbulkan kerugian yang berarti. Kini perusahaannya tengah melakukan proses produksi dalam partai besar tanpa mengganti desain maupun bahan baku. Rancangan baru yang terlanjur dibuat akan diterapkan pada periode produksi berikutnya.
Hanya tinggal menemukan tikus kecil yang diduganya masih bergerak lincah dalam perusahaan fashion yang dikelolanya, dan ia sudah memerintahkan orang-orang kepercayaannya untuk bergerak secara halus. Itachi selaku Presiden Direktur pada perusahaan induk juga merasa sedikit terganggu dengan masalah tersebut, sehingga kakak Sasuke itu tidak ragu untuk menawarkan bantuan. Apalagi Itachi juga mendapatkan informasi tentang pelaku yang dinyatakan lebih dari satu orang. Pergerakan mereka yang begitu licin dan sulit untuk dilacak, merupakan suatu indikasi bahwa mereka bukanlah orang sembarangan.
Sasuke pun sudah mendapatkan laporan bahwa sebelum hilangnya rancangan produk tersebut, ada seseorang yang membobol data perusahaan berikut segala aktivitasnya yang biasanya tercatat secara otomatis. Anehnya, desain produk terbarunya sama sekali belum diendus oleh kompetitor. Itu berarti pelaku tidak—atau mungkin belum—melakukan tindakan yang selama ini dikhawatirkan oleh para pemegang saham mayoritas perusahaannya. Hal tersebut membuat para petinggi perusahaan berpikir keras mengenai tujuan para pelaku. Namun, Sasuke sudah meyakinkan mereka bahwa masalah seperti ini hanyalah batu kerikil yang muncul di tengah kesuksesan yang diraih perusahaan. Bahkan, sejak rapat yang digelarnya secara tertutup dan rahasia, ia telah memerintahkan ahli komputer perusahaannya untuk memata-matai segala aktivitas internet dari orang-orang yang dicurigainya.
Sasuke belum ingin memikirkannya lebih lanjut agar tidak merusak hari bahagianya. Ia bahkan sudah mempunyai rencana untuk menjalani hari ini. Ia membawa langkah lebarnya menuju ruang makan, bergabung bersama anggota keluarganya yang lain dan menduduki tempat duduk di sebelah Mikoto seperti biasanya. Ayahnya sebagai kepala keluarga juga tetap duduk di kursi utama. Pagi ini, selain orang tuanya, ia hanya melihat Itachi yang tampak kusut, tanpa Hinata yang biasanya duduk di samping pria berambut panjang itu—yang berarti di seberangnya.
"Dia kenapa?" tanyanya pelan pada Mikoto.
"Itachi seperti itu sejak Hinata minta dipulangkan ke rumah orang tuanya," bisik Mikoto sembari meletakkan lebih banyak lauk di piring Sasuke, "Bahkan Hinata tidak mau menunggu sampai nanti siang atau setelah sarapan. Jadi, pagi-pagi buta tadi Itachi mengantarkannya ke kediaman Hyuuga."
"Hm? Mereka akan bercerai?"
"Hush!" Mikoto mengibaskan tangan kanannya di depan wajah Sasuke. "Menurut pengakuan Hinata kepada Okaasan, akhir-akhir ini dia merasa ingin marah setiap melihat Itachi," katanya masih dengan berbisik, "Hinata juga mengatakan kalau dia jadi membenci Itachi. Karena itu, dia memilih untuk menjauhi Itachi sampai suasana hatinya membaik lagi." Ia terkikik pelan, begitupun dengan Sasuke yang terlihat menyeringai senang sebagai pengganti tawa. "Mungkin bawaan bayi," tambahnya.
"Aku bisa mendengar kalian," desis Itachi yang sedari tadi hanya mengaduk makanannya tanpa minat. Ia memandang Sasuke dengan tajam setelah menghentikan gerakan tangannya. Saat ini adik kesayangannya itu terlihat sangat menyebalkan. Ia kemudian menyunggingkan senyum yang tampak dibuat-buat. "Merasa senang, eh?"
Tiga manusia lainnya menahan tawa melihat tampang Itachi yang semakin kusut.
~ooo~
Hanya sepotong handuk putih yang menutupi bagian bawah tubuh Sasuke ketika ia keluar dari kamar mandi. Ia tidak terkejut melihat Ino duduk di atas tempat tidurnya, meskipun ia tidak tahu sejak kapan perempuan itu memasuki kamarnya.
Sasuke memakai kaus putih tanpa lengan sebelum mengambil kemeja biru muda dari lemarinya. Ia mengenakannya dengan cepat, lalu mengancingkannya dengan cekatan. Tanpa diduganya, Ino sudah berdiri di dekatnya dan membantunya menautkan kancing pada pergelangan tangan kanannya. Belum ada komunikasi saat ia mengambil celana panjangnya dan bergegas ke kamar mandi. Tidak sampai satu menit, ia sudah kembali dengan penampilan rapi yang ditambah vest rajutan biru gelap.
"Ada yang ingin kau bicarakan denganku?" tanyanya sembari mengambil winter coat warna hitam dari lemari putihnya. Sebenarnya ia juga ingin menyampaikan sesuatu pada Ino, namun dirasanya tidak tepat jika dibicarakan dalam keadaan seperti ini.
"Kau sedang terburu-buru?" Ino berjalan mendekat.
"Tidak juga." Sasuke menduduki kursi terdekat untuk mengganti sandalnya dengan kaus kaki dan sepatu hitamnya.
Ino tersenyum lembut begitu Sasuke bangkit dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Sasuke dengan langkah tenangnya tanpa memudarkan senyum. Sasuke masih bergeming dan tampak menunggu apapun yang akan dilakukan olehnya. Ino bergerak memeluk Sasuke dengan perlahan. Sasuke tidak melakukan suatu perlawanan, dan Ino semakin mengeratkan lingkaran kedua lengannya yang melewati bagian dalam mantel tunangannya tersebut.
"Sasuke…," lirih Ino yang menyamankan diri di dada bidang Sasuke.
"Hm?" sahut Sasuke tanpa membalas pelukan Ino.
"aku … tidak bisa menjadi istrimu."
Hening ketika Ino melepaskan pelukannya berikut cincin yang ia sematkan di jari manis Sasuke saat pesta pertunangan mereka. Ia juga belum berkata-kata tatkala mengambil cincin yang lebih kecil dari saku mantelnya, kemudian meletakkan keduanya di telapak tangan Sasuke yang besar.
"Ino—"
"Aku serius," sela Ino seraya tersenyum misterius. Ia membungkuk dalam sebelum berbalik dan berjalan cepat meninggalkan mantan tunangannya.
Setelah pintu kamarnya kembali ditutup, Sasuke memandang dua cincin di tangan kanannya dalam kebisuan. Ternyata Ino mendahuluinya untuk memutuskan pertunangan di antara mereka. Jujur, ia memang menginginkannya. Seperti Ino, ia juga tidak ingin membawa hubungan tanpa cinta itu ke jenjang yang lebih tinggi. Namun, ia merasa ada yang aneh dengan sikap Ino. Entahlah, ia hanya merasa bahwa Ino menjadi sedikit pendiam, bahkan sejak perempuan Yamanaka itu resmi menjadi tunangannya.
Apakah ini merupakan keputusan terbaik bagi mereka berdua?
Ino pun memilih untuk mundur, berarti ia juga ingin terlepas dari Sasuke. Sejauh yang Sasuke ketahui, Ino bukanlah sosok perempuan yang gegabah dalam mengambil keputusan. Pasti Ino juga sudah mempertimbangkan segala konsekuensi atas pemutusan hubungan pertunangan di antara mereka.
Entah mengapa Sasuke jadi teringat akan rangkaian kata yang dulu sering diucapkan oleh Karin; keinginan wanita bisa mengalahkan kerasnya batu.
~ooo~
Sasuke menekan bel apartemen Karin dengan gugup. Beberapa kali ia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan, berharap dapat mengurangi ketegangan yang dirasakannya. Ia sempat menahan napas ketika mendengar suara pintu yang akan dibuka. Semoga saja ekspresi wajahnya tidak terlihat buruk saat pintu di depannya benar-benar terbuka lebar untuknya.
"Ini untuk yang kemarin," ujar Sasuke sambil menyerahkan kotak kecil merah polos kepada Karin yang belum sempat mengeluarkan sapaan.
Karin hanya menaikkan aslinya sebelum menerimanya dan membuka tutupnya perlahan. Matanya sedikit membulat melihat isi kotak tersebut. Seingatnya, benda berbentuk bunga teratai itu adalah hadiah yang pernah diberikan kepadanya karena ia berhasil membuat onigiri yang sesuai dengan selera Sasuke. Ia juga baru kali ini melihat lampu tidur itu sejak kembali dari luar kota. Bagaimana bisa orang yang sama kembali memberikan benda serupa? Namun, ia yakin kalau lampu tidur berbentuk teratai itu memang miliknya, bukan baru atau barang penggantinya.
Kalau begitu….
Karin bergegas membalik lampu tidur itu dan membuka tutup baterainya. Kertas berhiaskan rangkaian kata curahan hatinya yang ditulisnya beberapa tahun silam masih terlipat dengan rapi di sana.
"Apa itu?" Sasuke pura-pura tidak mengerti.
Karin menutup tempat baterai lampunya secepat ia membukanya tadi.
"B-bukan apa-apa," jawabnya tergagap dengan pipi merona.
Ia hampir menanyakan mengapa benda itu bisa berada di tangan Sasuke lagi, tetapi kehadiran Yume seakan membuyarkan semua pertanyaan yang sebelumnya memenuhi benaknya. Bocah itu sumringah melihat kedatangan Sasuke.
"Sasuke-kun akan ikut?" tanyanya riang sambil mengayunkan pelan tangan Sasuke yang digenggamnya.
Mendadak Sasuke merasa bahwa seharusnya Yume tidak memanggilnya demikian.
"Ah, kalian akan pergi?"
Yume mengangguk semangat.
"Hanya makan-makan di kedai okonomiyaki," jawab Karin.
Okonomiyaki. Sasuke masih ingat kalau itu adalah makanan kesukaan Karin. Dulu, saat akhir pekan, ia sering diajak Karin ke suatu kedai okonomiyaki. Terkadang ia sendiri yang berinisiatif mengajak Karin, meskipun ia tidak begitu menyukai makanan berlemak seperti itu. Namun, tetap saja ia menganggapnya sebagai kencan.
"Ini sudah hampir malam. Kalian akan naik apa?" Sasuke tidak menyembunyikan nada cemasnya.
"Dekat, kok," ujar Karin, "cukup dengan berjalan kaki."
"Oh…." Sasuke terdiam, lalu memandang Yume yang melihatnya dengan mata berbinar tanpa melepaskan genggaman di tangannya. "—Bagaimana kalau aku yang traktir?"
~ooo~
Sasuke dan Karin duduk berhadapan di salah satu meja di kedai okonomiyaki. Di tengah meja sudah ada penggorengan pipih untuk memasak okonomiyaki, seperti yang mengisi beberapa meja lainnya. Sasuke yang mengusulkan untuk mengambil tempat duduk di meja yang menyediakan penggorengan, daripada di depan juru masaknya—yang berarti hanya tinggal menikmatinya. Ia ingin melihat lagi bagaimana Karin menggoreng okonomiyaki. Di sebelah Karin, duduk Yume yang terlihat ingin segera mencicipi okonomiyaki berisi irisan daging sapi yang hampir matang di penggorengan.
Setelah matang, Karin memotong okonomiyaki dengan kote, lalu mengambil sepasang sumpit untuk menyuapi Yume. Karin meniupnya berkali-kali sebelum menyuapkannya ke mulut Yume. Sasuke diam memerhatikan mereka berdua sambil memakan roti yang tadi dibelinya sebelum memasuki kedai. Makanan berlemak tidak baik untuk lambungnya.
Tetapi melihat Karin dan Yume, membuat Sasuke ingin memakannya juga.
"Karin," panggilnya sembari menunjuk makanan di atas penggorengan yang tampak menggiurkan.
"Lambung," balas Karin yang kemudian malah menyuapkan okonomiyaki ke mulutnya layaknya bintang iklan, membuat Sasuke meneguk ludah.
"Satu suapan saja." Sasuke menawar.
Karin terkikik geli. Ia menggunakan kote untuk menyuapi Sasuke, namun seperti sebelumnya ia meniupnya beberapa kali sampai yakin bahwa makanan itu tidak terlalu panas begitu masuk mulut.
Bohong kalau malam ini Sasuke hanya makan satu suapan okonomiyaki langsung dari tangan Karin.
~ooo~
Dalam perjalanan pulang, Yume menggandeng kedua tangan orang tuanya. Terkadang kedua kakinya tidak menapak di atas aspal setiap kali Sasuke dan Karin mengangkat lengannya tinggi-tinggi secara kompak. Sesekali tawa riang Yume terdengar, menambah kehangatan yang mereka rasakan.
"Sabtu nanti, Sasuke-kun juga ikut?"
Karin terkesiap mendengar pertanyaan Yume. "Ah—"
"Ke mana?" Sasuke menatap Karin yang terlihat tidak memperbolehkan Yume untuk membeberkan agenda mereka.
"Ke taman hiburan," jawab Yume jujur, "terus, Mama juga mau mengajak Yume ke kebun binatang pada hari Minggu."
Sasuke kembali memandang Karin dengan sorot meminta penjelasan. "Kau tidak kerja pada hari itu?" tanyanya basa-basi.
"Aku meluangkan waktu untuk menepati janjiku pada Yume," balas Karin yang kini hanya memandang lurus ke depan, "sebagai hadiah ulang tahunnya yang tertunda."
"… Ulang—tahun?" lirih Sasuke. Ah, ya, ia belum tahu kapan Yume lahir.
"Yume genap berusia lima tahun pada tiga Januari lalu."
"Tiga Januari…," gumam Sasuke sembari memasukkan tanggal dan bulan tersebut ke dalam daftar hari penting dalam hidupnya. Melihat Yume menguap beberapa kali, ia berinisiatif menggendong bocah itu. Yume memeluk leher Sasuke dengan erat, dan ia cepat tertidur karena telapak tangan besar yang mengelus punggungnya.
"Apa aku … boleh ikut?"
Karin terkekeh. "Kami akan naik kereta, lho…," ujarnya, "Kau 'kan tidak suka berdesak-desakan. Aku juga masih ingat kalau kau selalu ngedumel waktu kuajak naik kereta … yang bau lah, panas lah, berasa mau mati karena tidak kebagian tempat duduk lah…."
Karin lalu tertawa pelan melihat delikan mata Sasuke. Selain keluhan yang dulu sering didengarnya, ia jadi teringat bagaimana Sasuke yang terus menggandeng tangannya saat mereka harus berdiri di dalam kereta. Ia juga masih ingat bagaimana rasanya dipeluk oleh Sasuke ketika ia hampir jatuh karena terdorong oleh para penumpang. Sampai turun dari kereta pun, kakinya masih terasa gemetaran. Mengingat hal itu, ia jadi tidak ingin mendapatkan tempat duduk selama menumpang kereta bersama Sasuke.
Sasuke akan menyambung percakapan jika tidak merasakan getaran ponselnya. Ia menahan tubuh Yume dengan satu lengan kekarnya sebelum menggunakan tangan satunya untuk merogoh saku celananya. Layar ponselnya menampilkan nama Ino, dan ia segera menekan tombol menerima panggilan.
"Maaf…."
Hanya satu kata itu yang dapat didengar oleh Sasuke sebelum sambungan terputus dan ponselnya mati karena baterai lemah.
~ooo~
Dua security yang membukakan pintu gerbang untuk Sasuke tampak berekspresi aneh. Sasuke mencoba mengabaikannya dan melajukan mobilnya menuju garasi rumahnya. Ia kembali dibuat heran karena Mikoto terlihat mondar-mandir di teras depan rumah. Begitu melihat dirinya yang berjalan santai, ibunya itu melambaikan tangan agar ia memperlebar langkahnya.
"Kenapa kau sulit dihubungi dalam keadaan genting seperti ini?" gerutu Mikoto yang tampak kalut.
Mikoto merasa tidak sanggup untuk menjelaskan duduk permasalahannya. Itu sebabnya ia mengajak Sasuke menemui Itachi di ruang kerjanya yang berada di lantai dua. Di dalam ruangan yang didominasi warna abu-abu tersebut, Itachi terlihat memandang serius ke arah layar komputernya. Dengan suasana hati yang tiba-tiba memburuk, Sasuke menghampiri Itachi dan melihat apa yang menjadi pusat perhatian sang kakak. Ia menumpukan salah satu telapak tangannya di meja Itachi dan memusatkan pandangannya ke objek yang sama.
Seketika Sasuke terbelalak melihat beberapa judul berita terbaru tentang dirinya dan mantan tunangannya, yang bahkan sudah menyebar di internet dalam berbagai versi.
Uchiha Sasuke Selingkuh, Yamanaka Ino Menyayat Nadi
Uchiha Sasuke Memutuskan Hubungan Pertunangan, Yamanaka Ino Melakukan Percobaan Bunuh Diri
Uchiha Sasuke Terlibat Affair dengan Janda Beranak Satu, Yamanaka Ino Cemburu dan Mengiris Nadi
Yamanaka Ino adalah model dan bintang iklan yang sedang naik daun tahun ini, tidak heran jika Uchiha Sasuke pun menjadi sorotan publik. Apalagi Sasuke juga pernah bergelut di bidang modeling, dan tidak jarang wajah rupawannya meramaikan majalah-majalah.
Tetapi, apa maksud dari semua ini? Ino bunuh diri? Tidak mungkin! Dua jam yang lalu ia mendengar suara Ino melalui ponsel!
Lagipula, apa-apaan ini? Semua berita menyudutkannya. Ia adalah pihak yang disalahkan, dan pasti langsung dicap buruk oleh orang-orang yang telah membaca berita sampah seperti ini.
Dan … janda beranak satu…?
Cih! Ingin rasanya Sasuke menyobek mulut orang yang mengatakannya, atau memotong jari-jari yang telah menuliskannya.
"Apa yang akan kau lakukan untuk meluruskan semua kekacauan ini?" gumam Itachi dengan ekspresi datar bercampur tegang, "Beberapa saat yang lalu, beritanya sudah ditayangkan di televisi."
"Shit," desis Sasuke.
Bagaimana kalau Karin menontonnya? Apalagi ia yakin kalau berita ini tidak hanya sekali ditayangkan.
.
.
.
TBC~
Note:
Cinta berarti tidak perlu meminta maaf dan menyatakan penyesalan. [Love Story – Erich Segal]
Saya tidak bermaksud bashing chara, hanya mengangkat sedikit fenomena bunuh diri di Jepang. Dan lagi, kepribadian seseorang bisa berubah karena kelahiran anak, jadi jangan heran kalau Karin tidak segenit di animanga—kalau di depan Sasuke. Menurut saya, Karin cool kok, tapi hatinya mudah tersentuh—sensitif. Buktinya waktu lihat Sakura nangis, Karin tidak tega, kan…? ^^v
Sasuke: *melotot sambil menghunus kusanagi*
Author: Ampun … jangan potong jari-jariku, Sasuppyon…. *ngacir*
Go koui, arigatou gozaimashita:
Chappy Siegrain Fernandes 09 (Kukasih senyuman karena jadi reviewer pertama pada chapter sebelumnya :) *Chappy: hueks* ^^v), Jimi-li (Ternyata belum ada flashback lagi di chapter ini. Selain manga Naruto, aku sukanya shoujo manga, tapi juga suka sama yang bergenre mystery, hoho. Tapi sekarang sudah jarang banget baca manga selain Naruto. Lebih suka novel, terlebih novel-novel karya Erich Segal sama Sherlock Holmes punyanya Sir Arthur Conan Doyle, dan paling suka sama The History of Love *jawaban yang sangat melenceng* Gak mungkin bosen kok, semakin panjang reviewnya, aku semakin suka dan semakin bisa bikin aku senyum-senyum gaje. Makasih, yuaaa… ^^v), Nasiyeh (^^), Jielly N. S (^^), dindaaa (Sama-sama… ^^), kazuki's girl (^^), Aiiko Aiiyhumi (Emang Naruto kelihatan *?* jahat ya? ^^v), Yamanaka Emo (Nice Young Lady kayaknya sudah tamat ya? Masih gantung kah? *tidak perlu ditanyakan* Ada yang bilang kalau genre western berhubungan sama koboy atau suku Indian, jadinya aku males nerusin, padahal udah terlalu yakin kalau western kayak zaman Victoria gitu, haha…. ^^v)
Terima kasih banyak semuanya, terlebih reviewers karena meluangkan waktunya untuk meninggalkan rangkaian kata penyemangat. Terima kasih juga silent readers….
Bagaimana tanggapan kalian untuk chapter ini? Jujur, ya…. ^^
Sambil menunggu review, sebaiknya menyelesaikan proposal usaha dan operation process chart yang semuanya harus dikumpulkan Senin depan. Ada libur malah banyak tugas. #tepar
