Disclaimer: Masashi Kishimoto

Genre: Hurt / Comfort / Angst

Rated: T+

Pairing: SasuSakuNaru

Warning: Canon, OOC, Angsty, Fluff, Mary sue, dan berbagai hal lain.

Naruto © Masashi Kishimoto


Love Always Comes Late

Story by: Akina Takahashi

Chapter 7: Regret

Beberapa hari kemudian

City Hall Konoha, Hari pernikahan Naruto dan Hinata

"Sakura, kau tidak perlu memaksakan diri untuk datang." Ino terlihat khawatir. Ia menatap Sakura yang tengah sibuk merias dirinya untuk bersiap.

"Hm, aku tidak memaksakan diri sama sekali." Kali ini ia memoles bibirnya dengan lipstick berwarna peach. "Naruto dan Hinata adalah sahabatku, aku sama sekali tidak merasa terpaksa untuk datang ke hari bahagia ini." Ia bangkit dari meja riasnya kemudian merapikan obi kimono nya yang berwarna pink pucat. "Bagaimana Ino?" Sakura berputar seolah memperagakan kimononya pada Ino.

Ino hanya tercengang, sedikit takjub ketika menyadari betapa cantiknya sahabatnya ini. Sakura mengenakan kimono merah muda dengan motif bunga Sakura. Rambut pinknya digelung keatas dengan beberapa ornamen rambut yang terlihat elegan menghiasinya.

"Kau cantik sekali Sakura." Ino tersenyum. Ia menggandeng tangan Sakura. Kimono biru yang ia kenakan ikut bergerak seiring dengan pergerakan kakinya yang berjalan ke pintu keluar. "Ayo kita kesana."

Sakura mengangguk pelan. "Un." Ia berjalan beriringan dengan Ino yang masih menggenggam tangannya seolah berusaha memberi kekuatan padanya. "Terima kasih Ino."

.

.

Lampu-lampu yang ada di tempat ceremonial sedikit diredupkan untuk menambah suasana khidmat pernikahan yang akan dilaksanakan sebentar lagi. Upacara adat tradisional Jepang sudah dilaksanakan sehari sebelumnya dan hari ini adalah hari upacara kedua yang akan dilangsungkan secara western style.

Tamu yang memenuhi ruangan sangat banyak. Bahkan tak hanya dari dalam Konoha, beberapa pejabat dari Suna, Kirigakure dan Amegakure juga terlihat mendatangi acara sakral bagi Naruto dan Hinata. Wajah-wajah yang familiar pun bermunculan. Mulai dari sahabat-sahabat naruto sejak genin, Sang Kazekage, Gaara dan saudara-saudaranya, Iruka, Asuma, Kurenai, Tsunade, Anko, shizune dan semua pejabat Konoha datang ke pesta ini. Naruto adalah orang yang sangat penting bagi Konoha. Jadi wajar saja bila tamu yang datang ke pesta ini sangat banyak.

Hinata terlihat sangat cantik dengan gaun pernikahan berwarna putih panjang yang dihiasi sedikit ornamen berbentuk bunga mawar di pinggangnya. Rambut hitamnya digelung rapi keatas dan dihiasi tiara berlian yang sangat indah. Wajah putihnya dihiasi gurat kemerahan dan senyum anggun sejak tadi masih saja menghiasi bibirnya. Ia terlihat sangat bahagia hari ini.

Sementara Naruto berdiri di sampingnya. Rambut blonde nya disisir rapi sehingga tidak terlihat berantakan seperti biasanya. Tubuhnya terlihat tegap dibalut dengan jas hitam yang terkesan elegan. Ia pun tersenyum ketika melihat semua teman-temannya hadir di hadapannya. Ia berdiri diatas podium yang posisinya sekitar satu meter lebih tinggi dari tempat teman-temannya berada sehingga ia dapat melihat dengan jelas siapa saja yang telah hadir disana. Senyumnya sedikit memudar ketika ia melihat Sakura berdiri di barisan terdepan, sahabat pink nya itu terlihat sangat cantik dimatanya hari ini yang entah kenapa ia merasa bahkan hari ini Sakura terlihat lebih cantik daripada calon pengantinnya sendiri.

Sesaat mata cerulean Naruto bertemu dengan mata emerald Sakura. Sedikit awkward, Naruto berusaha mengalihkan pandangannya sementara Sakura hanya tersenyum tipis. Ia bisa melihat tangan Naruto yang terkepal sedikit bergetar ketika mata mereka bertemu tadi. Entah kenapa melihat hal ini, perisai mental yang sudah dipersiapkannya sejak semalam tiba-tiba saja runtuh. Ingin rasanya ia menangis saat ini juga. Berteriak "Naruto no baka!" sekeras-kerasnya pada Naruto. Menariknya pergi dari sini, pergi meninggalkan Hinata dan hidup berdua saja dengannya.

Ino yang menyadari perubahan sikap sahabatnya segera berbisik di telinga Sakura. "Kau mau kuantar pulang?" tanyanya khawatir.

"Tentu saja tidak, Ino-chan. Aku akan tetap tinggal disini hingga acara berakhir." Ujar Sakura mantap.

"Tapi…" perkataan mereka terpotong karena Neji dan Tenten tiba-tiba saja muncul diantara mereka.

"Selamat siang, Sakura." Sapa Tenten ceria. "Selamat siang juga Ino."

"Selamat siang untuk kalian berdua." Sapa Neji dengan nada datarnya yang seperti biasa. Sesaat Ia menatap Sakura dengan tatapan yang tidak bisa ditebak.

"Wah, mesra sekali kalian. Kenapa bukan kalian saja yang menikah duluan?" gurau Ino melihat kedekatan Neji dan Tenten. Kata-kata Ino hanya disambut dengan memerahnya muka Tenten dan gumaman tidak jelas Neji.

"Ka, kami tidak seperti itu k-kok." Tenten sedikit tergagap. Hal ini malah menambah keyakinan siapapun yang melihatnya kalau Tenten punya perasaan khusus pada Neji.

"Ya, aku pun sedikit heran. Kenapa bukan kami saja yang menikah duluan." Ujar Neji datar. Tanpa ekspresi.

"Hahahahaa" Ino tertawa terbahak-bahak mendengar kata-kata yang diucapkan Neji berkebalikan dengan yang diucapkan Tenten. Sakura hanya tertawa kecil melihat ulah mereka berdua yang terlihat aneh.

"Neji no baka!" Tenten memukul pundak Neji. Wajahnya memerah bagaikan tomat. Ia menghentakkan kakinya sebelum pergi meninggalkan Sakura dan Ino.

"Huf." Neji menghela napas panjang sebelum melanjutkan kata-katanya. "Sampai jumpa lagi, Yamanaka, Haruno." Sesaat mata amethystnya menatap mata emerald Sakura. Ekspresinya sedikit berubah ketika ia kembali teringat perkataan Hinata.

"Ya, aku tahu. Aku tahu Naruto-kun masih mencintai Sakura-chan. Bukan, mungkin sampai kapanpun ia akan tetap mencintai Sakura-chan karena bagaimanapun juga ia adalah cinta abadinya."

Sesaat Neji seakan membatu menatap Sakura. Jadi dialah wanita yang dicintai Naruto.

Bukan Hinata

"Tapi niisan... harus ada yang berani memutus rantai cinta yang tak berbalas ini."

"Dan itu adalah aku."

Sakura hanya sedikit berjengit heran ketika menyadari Neji menatapnya serius. Sedikit salah tingkah ia berkata. "Ano… apa ada yang salah dengan wajahku, Neji-san?"

"Ah, maaf." Neji akhirnya tersadar bahwa tindakannya mengganggu Sakura. "Kau terlihat sangat cantik hari ini. Haruno"

"Hei, hei." Ino sedikit cemberut dan memisahkan Neji dengan Sakura. "Jangan merayu sahabatku, Neji." Ino menarik Sakura sedikit menjauh dari Neji. "Tenten bisa marah nanti." Gerutunya.

"Ah, ya. Benar katamu." Neji segera bergerak menjauhi Ino dan Sakura. Ia melambaikan tangannya pelan. "Sampai jumpa lagi."

Setelah membalas lambaian tangan Neji, Ino segera berbisik di telinga Sakura. "Apa sih yang terjadi dengannya?" gerutu Ino sebal. "Dasar, semua lelaki itu sama saja. Semuanya hidung belang." Ino mendengus lalu menggenggam tangan Sakura. "Sakura, kau harus berhati-hati ya. Jangan sampai jatuh ke pelukan lelaki hidung belang."

Sakura hanya tertawa kecil. "Tak perlu mengkhawatirkanku Ino." Ia sedikit bercanda dengan berkata. "Lelaki hidung belang yang mempunyai kemungkinan untuk bersamaku hanyalah Kakashi-sensei." Ia terkikik kecil disambut dengan Ino yang tertawa kecil.

"Hei, ada apa menyebut-nyebut namaku?" tiba-tiba saja sesosok pria yang baru saja dibicarakan muncul. Rambut peraknya terlihat lebih rapi dari biasanya. Ia mengenakan jas hitam yang terlihat elegan. Mata berlainan warnanya terlihat memikat walaupun tak seorangpun yang bisa melihat wajahnya dengan jelas karena ia masih saja mengenakan masker untuk menutupi wajahnya.

"Ah, gomen na Sensei." Sakura terlihat kaget. Ia merasa sedikit bersalah. "Aku tidak tahu kau ada disini."

"Ini kan pernikahan anak murid kesayanganku tentu saja aku harus datang." Ujar Kakashi singkat. "Ngomong-ngomong Sakura…"

"Hm?"

"Kau bisa saja jatuh hati padaku loh." Ia mengedipkan sebelah matanya pada Sakura. "Kau tahu? Wajahku sebenarnya sangat tampan."

Sakura tertawa kecil. "Lalu mengapa sensei menutupi wajah tampanmu dengan masker?" Ino juga tiba-tiba bergabung dengan pembicaraan mereka. "Iya benar. Kenapa?" tanyanya.

"Kau tahu sebenarnya…" Kakashi menarik tangan Ino dan Sakura agar lebih dekat dengannya. Lalu berbicara dengan suara kecil. "Aku pernah diserang oleh segerombol ibu-ibu ketika mereka melihat wajahku. Hal itu benar-benar mengerikan." Kakashi kembali melanjutkan bisikannya. "Sejak saat itu aku tidak pernah membuka masker ku walaupun hanya sebentar." Ino tidak bisa meredam rasa gelinya. Ia tertawa terbahak-bahak. "HAHAHAHA"

"Sst diam!" Kakashi segera menghentikan Ino yang mulai menarik perhatian orang-orang di sekitar mereka. "Gomen sensei." Dengan segera ia menutup mulutnya, tapi masih tertawa kecil. "Dengar ya, ini rahasia. Kalian berdua tidak boleh menceritakannya pada siapapun. Mengerti?" Kakashi mengingatkan. Ia terlihat sedikit malu di depan Sakura dan Ino. "Siap. Serahkan pada kami sensei!" Ino dan Sakura menjawab secara bersamaan.

.

.


"Para hadirin sekalian dimohon untuk sedikit tenang karena sesaat lagi upacara pernikahan akan dilaksanakan." Terdengar pengumuman dari pengeras suara yang sukses membuat semua tamu yang hadir dengan segera duduk di tempat yang disediakan. Beberapa sahabat-sahabat terdekat Naruto mengambil posisi paling depan. Mereka tersenyum lebar di hadapan Naruto.

Akhirnya saat yang paling ditakuti oleh Sakura datang juga. Tubuhnya sedikit bergetar ketika lampu di ruang upacara mulai sedikit diredupkan dan lampu sorot yang berada di podium tempat Naruto dan Hinata berada mulai dinyalakan. Menandakan fokus semua orang yang ada disana akan terpusat pada kedua pasangan ini. Sakura melirik kearah kanan dan kirinya, seolah memastikan tidak ada orang yang memperhatikannya. Ia takut, ia takut bila ia tiba-tiba lepas kendali. Bila ia tiba-tiba saja menangis meraung-raung, atau bila tiba-tiba ia tidak bisa mengontrol kaki dan tangannya untuk berlari ke panggung dan menarik Naruto pergi.

Tiba-tiba saja, seluruh tubuhnya mati rasa. Ia bahkan tidak bisa mendengar kata-kata yang diucapkan pendeta dia atas podium. Semuanya seolah hanyalah film bisu tanpa suara. Kini Sakura yakin, ada masalah dengan otaknya. Bukan, ia tahu hatinyalah yang bermasalah.

Sakura POV

Bbbzzzzttt

Zzztttt

Yang bisa kulihat hanyalah potongan-potongan gambar bergerak yang sedikit terputus-putus. Suara mereka bahkan tidak terdengar di telingaku. Yang terdengar hanyalah bunyi dengingan seperti bunyi telepon yang lama tidak diangkat.

NGIIIIIIIING

Aku tahu, saat ini otakku mulai bermasalah. Bukan, hatiku lah yang bermasalah. Akibatnya informasi yang sampai ke otakku tidak terolah dengan sempurna. Sial. Ini bukan saatnya untuk menjadi melankolis.

Bukan saatnya.

Naruto tidak boleh melihatku seperti ini

.

.

"Dengan ini Uzumaki Naruto telah resmi menjadi suami Hyuuga Hinata"

Kenapa? Kenapa hanya kalimat ini yang terdengar?

Kenapa kakiku tiba-tiba saja lemas? Aku memaksakan lututku yang bergetar hebat untuk tetap tegak. Seketika aku berusaha tersenyum ketika aku menyadari mata cerulean Naruto menatapku. Entah apa yang ada di pikirannya sekarang.

PLOK PLOK PLOK

"Selamat berbahagia Hinata dan Naruto!"

Suara riuh tepuk tangan dan ucapan selamat tiba-tiba saja membanjiri telingaku. Aku berusaha mengangkat kepalaku untuk menatap kedua pasangan yang terlihat berbahagia itu. Awalnya sedikit ragu aku bertepuk tangan seolah aku ikut merasa bahagia bersama mereka. Ya, Naruto tidak boleh tahu betapa hancurnya aku saat ini.

"Selanjutnya, inilah saat yang ditunggu-tunggu." Pembawa acara yang tak kukenal namanya itu tiba-tiba saja berseru. Sedikit membuyarkan fokusku pada Naruto.

"Mempelai pria dipersilakan untuk mencium mempelai wanita."

Sesaat aku melihat tingkah Naruto dan Hinata yang terlihat awkward. Gurat merah diwajah Hinata bertambah banyak. Membuat wajahnya terlihat semakin menggemaskan. Sementara Naruto hanya menggaruk kepalanya tang tidak gatal.

"WOOOH!"

Seketika suasana yang awalnya sedikit tenang tiba-tiba saja menjadi riuh kembali, bahkan kali ini lebih riuh daripada tadi. Aku bisa melihat beberapa rekan Anbu yang sedang tidak menjalankan tugasnya bersiul menggoda Naruto dan Hinata.

"Ayo serang saja! Jangan malu-malu, Naruto!" beberapa diantara mereka berteriak.

Aku tak mampu melihat ini.

Jangan.

Aku tidak mau kehilangan orang yang paling berharga bagiku pergi dengan gadis lain.

Namun kenyataan berkata lain.

Akhirnya saat ini tiba. Saat hukum karma berlaku bagiku.

Naruto menatap Hinata kemudian mendekatkan wajahnya hingga hidung mereka bersentuhan. Perlahan ia menekan bibir gadis itu dengan bibirnya. Menciumnya penuh kelembutan. Tanpa mempedulikan orang lain mereka terus melanjutkannya cukup lama.

Tiba-tiba saja air mataku keluar tanpa aba-aba. Sial. Aku tidak boleh seperti ini. Sedikit gusar aku mengusap air mataku. Berharap tak ada seorangpun yang menyadari aku menangis seperti ini. Ino tiba-tiba saja mengusap pundakku. Ya aku tahu ia pasti sangat khawatir padaku. "Kau harus kuat Sakura." Bisiknya di telingaku. Aku hanya mengangguk lemah kemudian menatap mata biru sahabatku itu. Ino tersenyum lembut, tak lama kemudian aku merasakan tangan Kakashi-sensei mengusap kepalaku. "yosh, yosh." Gumamnya.

Sedikit merasa beruntung karena saat ini Kakashi-sensei dan Ino berada di sebelah kanan dan kiriku. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi bila tak ada mereka disini.

Seandainya saja jika aku berada di posisi Hinata sekarang apakah aku akan menangis seperti ini?

Hahahaha itu adalah pertanyaan yang sangat bodoh yang terpikir di kepalaku.

Sesaat sebelum pesta pernikahan ini berakhir aku memberanikan diri menatap Naruto yang masih berada diatas podium. Mata kami bertemu. Tatapannya sangat sulit untuk diartikan. Apakah ia masih mempunyai perasaan cinta untukku hingga tatapannya seperti itu?

Waktu seolah berhenti ketika kami saling bertatapan. Walaupun tanpa kata-kata aku bisa mengetahui apa yang ada di pikirannya sekarang.

Ya itu sepertinya sudah menjadi kemampuan di luar sadarku. Setelah hampir 20 tahun bersama dengannya. Sedikit banyak aku bisa membaca pikirannya. Ya, aku tahu ia mengkhawatirkanku sekarang. Aku hanya tersenyum lebar, "Daijoubu." Ujarku singkat. Sesaaat aku melihat dia menarik napasnya lega. Masih dalam keadaan bertatapan, aku mengeluarkan sebuah kertas origami berbentuk bangau yang telah kubuat sebelumnya tadi. Dengan perlahan kualirkan chakra hijau kedalamnya. Berusaha memberinya kekuatan untuk terbang kearah Naruto. Dan akhirnya berhasil. Bangau kertas itu terbang perlahan menuju kearah Naruto.

Naruto sedikit takjub dengan apa yang kulakukan. Begitu pula semua tamu yang hadir disitu. Terutama Kakashi, dan Ino yang berada di sisiku saat ini. Aku berusaha terlihat seperti gadis yang paling bahagia saat ini. Dengan tertawa lebar aku berteriak pada Naruto yang baru saja menangkap bangau kertas pemberianku.

"Semoga kau dan Hinata bahagia selamanya!" aku berteriak sekeras-kerasnya pada Naruto. "Aku tidak akan memaafkanmu bila kau menyakiti Hinata! "

"Sakura-chan..." aku bisa mendengar Naruto berbisik. Mata birunya terlihat berkaca-kaca. Sementara Hinata terlihat terharu, ia menutup mulutnya dengan tangannya. Seketika saja ia menangis. Aku tidak tahu apakah itu tangisan bahagia, terharu, ataukah sedih. Tapi aku mendengar ia mengucapkan terima kasih padaku. "Terima kasih Sakura-chan."

Ya, Naruto. Ingatlah wajahku saat ini. Ingatlah bagaimana senyumanku.

Karena mungkin saja kau tidak akan bertemu denganku lagi.

Sesaat setelah acara benar-benar berakhir aku segera berjalan keluar ruang upacara pernikahan. Dengan hati-hati aku berjalan sembunyi-sembunyi agar tak seorang pun yang menyadari kepergianku. Setelah ini aku akan pergi meninggalkan Konoha untuk melaksanakan misi yang diberikan Tsunade-shishou padaku.

Dengan menarik napas panjang, aku mengangkat tanganku untuk menjalankan jurus berpindah tempat. "KAI!"

POOF

.

.


Naruto POV

Aku berusaha mencari Sakura yang tiba-tiba saja menghilang dari kerumunan tamu yang datang ke pesta pernikahanku. Sedikit merasa frustasi karena tak menemukan Sakura dengan gusar aku membuka lipatan bangau kertas yang baru saja diberikan padaku. Mataku melebar ketika membaca apa yang ada di dalamnya. Tulisan rapi yang biasanya kukenali kini terlihat lebih berantakan. Terlihat sekali jika Sakura-chan berjuang keras untuk menulis ini. Aku hanya bisa terdiam ketika mataku bergerak menyusuri huruf-huruf yang ada.

Yo, Baka Naruto!

Tanpa sadar aku tertawa kecil ketika membaca baris pertama yang ada di surat itu. Entah kenapa aku sangat menyukai ketika Sakura memanggilku baka-Naruto. Ya, aku tahu kata-kata yang diucapkan sahabatku itu adalah ungkapan rasa sayang padaku. Ya, Mengingat Sakura mempunyai sifat tsundere.

Kekkon omedetou gozaimasu! Selamat atas pernikahanmu!

Haa akhirnya sahabatku ini menikah juga. Hahaha aku tidak menyangka kau akan mendahuluiku Naruto.

Tulisan yang terkesan ceria namun sarat akan kesedihan. Entah kenapa ada perasaan ganjal di hatiku. Rasanya sesak ketika membaca ini. Namun aku masih melanjutkan kegiatanku. Karena aku semakin penasaran pada apa yang ingin disampaikan oleh Sakura saat ini.

Hm, selama ini ada dua hal yang ingin kusampaikan padamu sejak dulu. Yang pertama adalah terima kasih karena kau sudah mau menjadi sahabat terbaikku yang menemaniku disaat-saat tersulit dalam kehidupanku. Dan yang kedua adalah aku mencintaimu. Bukan sebagai sahabat, melainkan sebagai wanita. Bahkan dalam imajinasi terliarku, aku membayangkan betapa bahagianya aku bila berada di posisi Hinata sekarang.

Seketika lututku terasa lemas. Kenapa? Kenapa kau baru mengatakannya sekarang?

Kenapa kau baru mengatakannya saat aku berusaha melupakan cintaku padamu dengan menikahi Hinata?

Sakura-chan, kenapa hal seperti ini terjadi?

Aku sudah mengatakannya padamu Naruto. Di musim dingin lima tahun lalu.

Seolah menjawab pertanyaanku, Sakura mengingatkanku pada pernyataan cintanya lima tahun lalu. Saat aku mengira ia menyatakan cintaku hanya untuk mencegahku mencari Sasuke.

Ingatan saat itu kembali mengusik pikiranku.

"Naruto... aku mencintaimu..."

"Kubilang aku mencintaimu. Aku tidak peduli lagi pada Sasuke. Bahkan kupikir aku sudah gila karena aku pernah mencintai orang itu..!" Sakura mulai terlihat frustasi. "Bisakah kau mendengarkan perasaanku saat ini?"

"Sasuke semakin lama semakin menjauh dariku..." Sakura berbisik di telingaku. Air mata menggenang di mata emeraldnya. "Tapi kau..." suaranya melemah. "Kau selalu ada di sampingku, melindungiku..."

"Aku tidak ingin mendengar kau berbohong lagi Sakura."

Tanganku bergetar hebat ketika membaca baris-baris selanjutnya.

Saat itu aku berharap seandainya kau tahu perasaanku yang sebenarnya. Asal kau tahu, aku tidak pernah berbohong. Aku tidak pernah membohongimu ataupun diriku sendiri.

Aku mencintaimu.

Perasaan itu tumbuh perlahan di hatiku. Semakin aku jauh denganmu, semakin aku merasakan kau adalah orang penting bagiku. Selama 20 tahun ini kita bersama, perasaan itu tumbuh semakin lama semakin besar. Kuakui aku terlambat menyadarinya. Kuakui mungkin sampai kapanpun aku tidak bisa menghilangkan posisi Sasuke di hatiku. Tapi kau telah memiliki tempat di hatiku saat ini.

Aku mencintaimu.

Aku tahu mungkin surat ini tidak akan cukup untuk menyatakan betapa besarnya cintaku padamu. Tapi aku sungguh berharap dari hatiku yang terdalam agar kau bahagia, Naruto. Dengan ataupun tanpa diriku. Dan Hinata telah menjadi pilihanmu. Aku ikhlas melepasmu.

Semoga kau berbahagia. Aku menginginkanmu bahagia melebihi siapapun juga.

Naruto, berbahagialah untuk bagianku juga. Aku mencintaimu... Sahabat terbaikku

PS:

Mungkin kau tidak bisa menemuiku setelah ini. Aku harus menenangkan diriku dulu sebelum bisa bertemu lagi denganmu. Ya, kau tahu kan? Ada ungkapan, "Waktu adalah obat terbaik". Mungkin aku harus mencoba membuktikan kebenaran ungkapan itu. Jadi jangan khawatirkan aku ya! Berbahagialah!

Sayonara, Uzumaki Naruto, sahabat terbaikku yang sangat kucintai!

With Love,

Haruno Sakura

Saat ini aku merasakan dunia seolah berhenti berputar. Air mata memenuhi pelupuk mataku. Dengan gusar aku melipat surat cinta dari Sakura dan memasukkannya dengan kasar ke kantung jas yang kukenakan. Dengan terburu-buru aku berlari keluar ruangan. Berusaha mencari Sakura sebelum ia pergi jauh. Sebelum ia benar-benar meninggalkanku. "Naruto-kun! Kau mau pergi kemana?" seketika suara Hinata menghentikan langkahku. Aku menatap mata amethystnya dan kini merasa terombang-ambing. Apakah benar aku harus pergi mencari Sakura disaat aku telah memiliki ikatan dengan Hinata? Hatiku semakin goyah ketika Hinata menatapku dengan tatapan khawatir. "Aku akan keluar sebentar." Akhirnya aku memutuskan untuk mencari sahabat bodohku itu.

Hinata menatapku dengan tatapan kecewa. Ia pasti sedikit kesal karena aku akan pergi disaat upacara adat di rumahnya akan dilangsungkan sesaat lagi. "Ano... jangan pergi terlalu lama Naruto-kun... ayahku menginginkanmu berada di rumah sebelum senja."

"Baiklah. Aku mengerti." Aku berlari kecil menuju pintu keluar tanpa menatap Hinata yang baru saja resmi menjadi istriku.

Aku berlari tanpa henti di sepanjang jalan di pusat Konoha. Berteriak memanggil nama Sakura seperti orang gila. "SAKURA! SAKURA-CHAN!" aku tidak peduli pada tatapan orang-orang yang menatapku dengan tatapan heran.

Seketika saja ada tangan yang menyentuh pundakku. Sedikit berharap itu adalah Sakura, aku membalikkan wajahku menatap si pelaku. Sedikit kecewa karena itu hanyalah Kakashi-sensei aku sedikit berteriak pada Kakashi. "Sensei! Jangan mengagetkanku! Aku sedang mencari Sakura-chan!" teriakku gusar.

Kakashi menepuk kepalaku. Menghentikan diriku yang gusar. Aku terdiam menatapnya tanpa kata-kata hingga akhirnya ia mengatakan hal yang sangat membuatku kaget.

"Akhirnya kau menyadari perasaan Sakura padamu."

Aku membelalakkan mataku. "A... sensei, bagaimana bisa tahu...?"

Kakashi-sensei menghela napas panjang. "Semua orang juga tahu akan hal itu Naruto." Ujarnya sedikit menyindirku. "Kau bodoh Naruto, tidak pernah menyadari perasaan Sakura selama ini..."

CTARR

Bagaikan tersambar petir, aku hanya terpaku mendengar kata-kata Kakashi.

"Dia benar-benar mencintaimu."

Aku kembali gusar. Dengan emosi aku mengacak rambutku yang semula rapi kini menjadi berantakan. "Katakan apa yang harus kulakukan, sensei!"

"Semuanya sudah terlambat" Kakashi menatap Naruto serius. "Saat ini jika kau memutuskan untuk mengejar Sakura kau akan menyakiti Hinata."

"Bahkan lebih parah dari Sakura karena saat ini ia telah memiliki ikatan yang sangat kuat denganmu. Dia adalah istrimu Naruto. Jangan lupakan itu."

Dan kini aku merasa lututku lemas dan tak bisa lagi berdiri tegap. Aku mendudukkan diriku karena shock mendengar kata-kata yang diucapkan Kakashi-sensei.

Cinta abadiku, Haruno Sakura ternyata benar-benar mencintaiku.

Kenapa semuanya harus terlambat?

Kenapa aku baru mengetahuinya sekarang?

Kami-sama! Tolong aku!

.-TSUZUKU-


Haa akhirnya bisa update juga.

Terima kasih buat yang udah setia membaca fic saya yang mellow ga jelas ini... hehe

Regards,

Akina Takahashi