Disclaimer: Naruto bukan punya saya. Begitu juga Kiba dan Ino.
Warning: crack pairs, typical, ceritanya rada shoujo manga-ish gtu deh. Bukan rada lagi, emang pure shoujo manga-ish. Kalo cerita semacam ini tidak sesuai selera anda silahkan klik tombol 'back'.
Read on and enjoy.
Chapter 7
Ino, Kiba, and Mathematics
Sore itu begitu bel tanda pelajaran terakhir selesai berbunyi, Kiba langsung bergegas menuju lapangan. Karena musim turnamen sudah dekat, Sasuke menambah porsi latihan mereka. Biasanya bila hari itu mereka sudah latihan pagi, sorenya mereka bisa langsung pulang. Bila hari Jumat latihan sore selalu ditiadakan, maka kali ini harus diadakan. Semuanya supaya mereka bisa meraih gelar juara di turnamen musim semi kali ini.
Musim lalu mereka dikalahkan oleh Akademi Katolik dari Perfektur Shinjuku. Sasuke sangat malu atas kekalahan itu. Sebetulnya bukan kekalahan mereka yang membuatnya malu. Namun fakta bahwa mereka kalahdari sekelompok calon pendeta-lah yang membuatnya malu. Karena itulah si kapten berambut gelap itu bersumpah akan membalas kekalahannya musim depan.
Dari jauh Kiba sudah bisa melihat beberapa anggota tim sedang melakukan pemanasan di pinggir lapangan, beberapa bahkan sudah memulai putaran lari mereka. Pandangannya kemudian berpindah ke arah Sasuke yang sedang berbicara dengan Gaara. Sebenarnya itu adalah pemandangan yang wajar. Gaara sudah menjadi semacam penasehat bagi Sasuke. Bila si kapten memiliki strategi baru, ia pasti akan mendiskusikannya pertama kali dengan Gaara. Terkadang Kiba berpikir, mengapa bukan Gaara saja yang menjadi kaptennya? Namun ia pernah mendengar desas-desus kalau Gaara bukanlah orang yang ambisius. Dan kapten tim sebelumnya memang pernah mencalonkan si rambut merah itu sebagai penerusnya. Hanya saja karena suatu alasan pemuda itu menolak.
Alasan tersebutlah yang sampai sekarang menjadi misteri terkelam dalam klub futbol Amaterasu Field.
Ketika berjalan semakin dekat dengan lapangan, dari sudut matanya Kiba menangkap sesosok gadis yang sedang berdiri di luar pagar lapangan. Hanya dengan melihat rambutnya yang berwarna indigo saja Kiba sudah tahu siapa gadis itu, karena memang cuman ada satu orang di Amaterasu Field yang memiliki warna rambut seunik itu. Dan orang itu adalah Hinata Hyuuga.
Kiba pun bergegas mendekatinya.
Hinata sedang menatap ke suatu tempat di lapangan. Ia menggigit bibirnya dengan pandangan sayu. Sebelah tangannya mencengkeram pembatas lapangan, sementara sebelah lainnya menggenggam ponselnya.
"Apa yang kau lakukan disini?"
Dari reaksinya yang berlebihan, Kiba tahu ia baru saja menangkap basah Hinata yang sedang melakukan sesuatu—sesuatu yang tak ingin ia beritahu pada orang lain. Gadis itu berputar dan sudah bersiap meluncurkan seribu alasan untuk menjelaskan keberadaannya di situ, namun berhenti saat menyadari bahwa orang yang menangkapnya adalah Kiba.
"K-K-Kiba-kun!" Wajahnya memerah, tangannya menahan dadanya. "Kau mengagetkanku!"
Kiba tersenyum geli melihat sahabatnya.
"Kau menguntit seseorang ya?" tuduh Kiba blak-blakan.
Kedua mata gadis itu melebar, secara otomatis ia langsung tergagap. "A-A-Apa? Tidak!"
"Aku sudah lama mengenalmu, Hinata. Jangan bohong." Kiba berdiri di sebelah Hinata dan mencoba menatap lapangan dari posisi gadis itu.
Jelas sekali bahwa pemuda yang disukai Hinata berasal dari klub futbol. Namun gadis itu tak pernah mau mengakuinya. Ia bilang ia takut Kiba akan menggodanya kalau ia memberitahu identitas pemuda misterius tersebut. Kiba tak mencecarnya, namun tetap saja ia penasaran dengan laki-laki yang cukup hebat berhasil membuat Hinata jatuh hati.
Kiba sudah mengenal Hinata jauh sebelum ia mengenal Naruto Uzumaki. Karena mereka dulu bertetangga, sejak kecil kedua orang itu sudah bermain bersama. Dari Taman Kanak-Kanak sampai SMA mereka selalu belajar di tempat yang sama. Waktu mereka lebih kecil, mereka tak terpisahkan; kemana-mana selalu bersama-sama. Namun sejak keduanya menginjak remaja, barulah mereka sadar bahwa bagi orang yang tak tahu, kedekatan mereka mungkin terlihat abnormal. Jadi keduanya memutuskan untuk menjaga jarak saat mereka masuk SMA. Namun di luar itu semua, mereka berdua tetap berteman baik.
Kiba sadar kalau dari sananya ia dan Hinata memang memiliki banyak persamaan. Mereka berdua adalah orang yang sederhana, tak suka menonjol, dan sadar bahwa ada banyak hal dalam hidup ini yang lebih penting daripada sekedar mendapatkan kekasih. Namun remaja tetap remaja. Dan Hinata pun pada akhirnya tetap jatuh hati pada seseorang. Sementara Kiba...
Mendadak pikirannya melayang ke setoples penuh cookies yang belum tersentuh di dalam lokernya serta seorang gadis cantik berambut pirang yang memberikannya pagi tadi.
Pagi itu ketika Kiba menerima cookies tersebut, tentu saja ia merasa senang. Kiba bahkan nyaris tak percaya kalau seorang Ino Yamanaka, gadis yang menjadi menjadi rebutan sebagian besar populasi laki-laki di Amaterasu Field, memanggang seloyang cookies pagi-pagi buta untuknya. Hal tersebut cukup menjadi alasan bagi pria manapun untuk langsung meleleh ditempat mereka berdiri. Namun bukan Kiba, karena Kiba tetap tahu ia harus menjaga reaksinya agar tak menakuti gadis itu.
Well, tapi itu bisa dipikirkannya nanti. Sekarang fokus pada Hinata.
Apakah pria itu Sasuke Uchiha?
Tentu saja Sasuke termasuk dalam daftar pertama dugaan Kiba. Menurut para gadis, Sasuke adalah makhluk terindah yang pernah diciptakan Tuhan untuk bersekolah di Amaterasu Field. Mungkin saja Hinata juga jatuh pada pesona si kapten. Tapi bukankah itu terlalu dangkal? Setahu Kiba Hinata bukanlah tipe gadis yang akan menyukai pujaan hati sekolah.
Hmm...
Kiba melirik Hinata, kemudian melirik Sasuke.
Ia mengangkat kedua alisnya.
Pandangan Hinata memang tertuju pada Sasuke.
"Aku bisa membantumu untuk berbicara dengannya kalau kau mau."
Hiinata terlonjak mendengar tawaran Kiba.
"A-A-Apa maksudmu?"
"Cowok yang kau sukai." Kiba mengangkat bahu. "Kau tahu betul aku bisa memberikan pin BB-mu untuknya. Kau mau?"
Hinata langsung membelakangi Kiba. "T-Tidak perlu. Aku sudah punya."
"Benarkah?" Kalau dipikir lagi, tidak mustahil bila pin BB Sasuke dimiliki semua orang di Amaterasu Field. Perempuan-perempuan kepo itu pasti menyebarkannya. "Kau sudah chat dengannya?"
"S-Sudah." Ia menghela napas kemudian bersandar, dahinya menyentuh pagar.
"Aku bisa mendengar 'tapi'."
Hinata tertawa lesu. "Kamu memang hebat." Ia melirik ponselnya. "Tapi dia jarang sekali membalas pesanku. Mungkin karena aku memang bertindak seperti stalker karena tiba-tiba mendapat pin-nya tanpa sepengetahuannya."
Kiba meletakkan tasnya di tanah, ia bersandar sambil menghadap Hinata, kedua lengannya tersilang di depan dada. "Mungkin dia sibuk membalasi chat orang satu-satu. Yang chat dia pasti banyak. Tidak seperti kita."
Hinata tiba-tiba memejamkan mata sambil mengerutkan dahi, kemudian menatap Kiba. "Tunggu dulu Kiba. Kau benar-benar tahu siapa yang kita bicarakan ini?"
"Tentu saja." Kiba mengangguk-angguk. "Kau mau masuk ke lapangan? Bawa saja sunkist atau coca-cola siapa tahu dia mau meminumnya."
Wajah gadis itu langsung memerah. "Nanti aku dimarahi lagi."
"Aku akan melindungimu."
Hinata memainkan kedua telunjuknya. "B-Benarkah? Tapi... aku tak tahu apakah dia suka sunkist atau tidak. Aku takut kejadiannya sama dengan kue kemarin."
Kiba tiba-tiba teringat dengan kue yang dibuat Hinata di klub memasaknya. "Ah ya, ngomong-ngomong apa yang terjadi dengan kue itu?"
"Dia tidak memakannya." Hinata terdengar sedikit merajuk. "Karena dia..."
"Apa yang kau lakukan di situ, Inuzuka?"
Mereka berdua langsung menoleh dan mendapati Sasuke―yang tanpa mereka sadari tiba-tiba sudah berada di sana―dengan tangan tersilang dan pandangan tajam. Gaara berada di belakangnya. Wajahnya tetap pasif seperti biasa.
"Aku tak ingat memberimu instruksi untuk pacaran sementara anggota klub yang lainnya sedang..."
"Aku tidak pacaran, oke?" Kiba menyela dengan nada bosan. "Berhentilah berpikiran negatif. Kau membuatku muak."
Sasuke sudah siap melontarkan cacian ketika mendadak Gaara maju dan mendekati pagar. Sasuke dan Kiba sama-sama ternganga saat melihat si pemuda rambut merah itu menghampiri Hinata. Masih dengan wajahnya yang pasif, ia berkata. "Apa yang kau lakukan di sini?"
"Eh?" kata Sasuke dan Kiba serempak. Sementara Hinata hanya menundukkan kepala dan menyembunyikan wajahnya yang memerah dengan rambutnya.
Tunggu dulu, kenapa Gaara...?
"H-Hanya ingin melihat sebentar," bila tidak memasang telinga dengan baik, maka kau tak akan mendengar jawaban Hinata yang dibisikkan gadis itu dengan sangat lembut.
Tentu saja kalimat tersebut tak luput dari pendengaran ketiga laki-laki yang berada di situ yang kebetulan memang bertelinga tajam.
Gaara menghela napas, lalu berbalik menatap Kiba. "Bisakah kau ke ruang ganti sekarang?" Kemudian berbalik pada Sasuke, "kau mulai putaranmu duluan, aku akan menyusul nanti."
Dalam situasi yang normal mungkin Kiba akan menolak. Namun ini pertama kalinya Gaara memerintahkannya untuk melakukan sesuatu. Dan meskipun Kiba tahu bahwa Gaara bukan siapa-siapa untuk memerintahnya sesuka hati, tapi Kiba bisa mendengar nada tak ingin dibantah dalam suara pemuda itu. Belum lagi melihat Sasuke yang langsung berbalik menuju trek lari begitu Gaara menyuruhnya. Semuanya terlalu aneh! Apalagi kenyataan bahwa Gaara mengusir mereka berdua untuk berbicara dengan Hinata! Dengan Hinata! Hinata sahabatnya!
"Tunggu dulu, apa yang mau kau lakukan dengan..."
"Pergilah, Inuzuka."
Dari balik rambutnya, Hinata melirik Kiba dan memberinya pandangan yang memohon pada lelaki itu untuk pergi.
Maka tanpa banyak omong Kiba pun langsung angkat kaki, meninggalkan pasangan yang dipisahkan oleh pagar besi itu di sana.
Begitu selesai berganti pakaian dan hendak memulai putarannya, Kiba tidak heran saat menemukan Hinata duduk di bleacher di pinggir lapangan. Bibirnya tersenyum lebar saat mengikuti gerakan Gaara yang sedang melakukan putarannya.
Entah mengapa Kiba merasa lega melihatnya. Lega bukan hanya karena Hinata bahagia, namun juga lega karena lelaki yang ia sukai ternyata Gaara. Ia tak bisa membayangkan berapa banyak saingan Hinata jika yang ia sukai betu-betul Sasuke.
Kiba juga senang melihat Sasuke yang tak bisa berkata apa-apa saat melihat Hinata berada di lapangan.
"Aku sebenarnya tidak suka dia di sini. Karena bukan hanya mengalihkan perhatian Gaara, ia juga mengalihkan perhatian kau."
Kiba hanya terkekeh mendengar tuduhan Sasuke.
"Kenapa? Kau tidak terima fakta kalau untuk pertama kalinya ada gadis yang tak memujamu?"
"Apa itu suara orang cemburu?"
"Kenapa aku yang cemburu?"
"Kau cemburu karena tak ada gadis yang tergila-gila padamu."
Kiba baru saja hendak melontarkan balasan yang tak kalah sarkastis ketika ekor matanya menangkap suatu gerakan dari pinggir lapangan. Sebenarnya bukan hal yang aneh apabila kelompok cheerleader masuk ke lapangan, dan Kiba biasanya tak peduli dan hanya fokus pada latihannya.
Namun kejadian pagi itu mengubah semuanya.
Kini kepala Kiba terpuntir ke belakang hanya demi melihat Ino Yamanaka.
Suatu gerakan yang sangat tolol yang pernah dilakukan oleh seorang Kiba Inuzuka.
Gadis itu tidak menyadari tatapannya. Lain dengan lelaki berambut hitam yang sedang berlari di sampingnya.
Dia langsung terkekeh. "Ino Yamanaka, ya? Rupanya kau sama saja dengan yang lain."
Dalam hati Kiba memarahi dirinya sendiri karena sudah begitu bodoh menunjukkan ketertarikannya pada Yamanaka di depan orang lain, apalagi Sasuke. Namun di luar ia tetap tenang dan hanya mengangkat bahunya dengan santai. "Bukan urusanmu," katanya singkat.
Kiba menambah kecepatannya supaya tidak harus mengobrol lebih lanjut dengan Sasuke. Pada saat itu dalam pikirannya ia bertanya-tanya, apakah Ino pernah memberi Sasuke cookies juga?
Ia pun segera menertawakan pertanyaan-nya yang konyol tersebut.
Mana mungkin belum pernah.
Dan mendadak toples cookies yang kini masih terbungkus rapi di dalam lokernya tak terlihat begitu spesial lagi. Itu hanyalah sebuah token yang menunjukkan terima kasih dari seorang teman ke teman lain. Tidak kurang, tidak lebih.
Si line-backer berambut cokelat menghela napas.
Entah mengapa pikiran tersebut membuatnya sangat kecewa.
Gadis itu duduk di salah satu meja panjang pada perpustakaan kota, sepasang alisnya yang melengkung sempurna menyatu akibat jawaban yang sedang dipelototinya. Perbedaan antara jawaban yang ada di buku catatanya dengan jawaban di bagian belakang buku teks matematikanya membuatnya bingung.
Aku salah dimana?
Ia mengecek kedua kalinya, membuka halaman yang memuat penyelesaian soal yang sedang dikerjakannya, pelan-pelan membandingkan langkah-langkah yang ada di buku dengan yang ia kerjakam: turunan; lalu cari gradien dari tangen; lalu gradien normal; dan terakhir, substitusi angka-angka tadi ke persamaan...
"ITULAH YANG KULAKUKAN," teriak Ino tanpa sadar, memancing pandangan sinis dari orang-orang yang sedang berkonsenterasi dengan buku yang mereka baca. Ino menggumamkan permintaan maafnya sebelum menghela napas panjang dan kembali melihat catatannya. Jadi kenapa hasilnya sangat berbeda?
Karena merasa pesimis, Ino pun menjatuhkan pensil mekanik-nya dan memandangi pensil tersebut bergulir di atas pekerjaannya menuju bagian tengah buku teks matematika-nya. Mungkin dia memang tidak ditakdirkan untuk lulus pelajaran ini. Festival Amaterasu Field dan turnamen musim semi sudah makin dekat. Sebagian besar waktunya ia dihabiskan untuk bersiap-siap menghadapi dua acara tersebut. Rapat, rapat, latihan, rapat lagi, latihan, dan latihan lagi. Ia bisa saja menghabiskan setiap akhir minggunya di perpustakaan dengan belajar, namun ia tahu itu semua tak akan cukup. Tidak ada istana yang dapat dibangun dalam waktu satu malam. Ia menghela napas lagi.
Sebenarnya Sakura sudah berjanji untuk mengajarinya Matematika. Namun mereka tak pernah menemukan waktu dimana mereka berdua sama-sama luang. Kalau Sakura bisa, Ino pasti ada rapat. Kalau Ino bisa, Sakura pasti sedang ada acara. Seperti yang terjadi hari Sabtu itu.
Namun Ino tidak bisa bergantung pada Sakura selamanya. Ia setidaknya harus mulai belajar sendiri. Karena itu, disinilah ia berada sekarang. Mencoba peruntungannya di perpustakaan kota yang untungnya tak begitu ramai di akhir pekan itu.
Saat itu baru pukul dua siang. Namun Ino sudah kehilangan semangat belajarnya. Ia sudah bisa membayangkan pandangan orang-orang yang berusaha menahan tawa mereka ketika tahu bahwa Ino Yamanaka, kapten klub pemandu sorak sekaligus ketua klub kerajinan tangan, tidak lulus pelajaran matematika dan tidak naik kelas.
Mengapa ia bisa sangat bodoh dalam pelajaran ini?
Hanya pelajaran ini saja.
Ino tak pernah mengalami kesulitan untuk mempelajari pelajaran lain seperti Geografi, Sejarah Jepang, atau Ekonomi. Ada apa antara otaknya dengan pelajaran ini?
Ino menumpukan dagunya pada lengan kiri, lalu mengela napas lagi saat pandangannya yang kosong jatuh pada pintu masuk perpustakaan, atau dari sudut pandangnya lebih terlihat seperti pintu keluar perpustakaan. Mungkin pandangannya yang tanpa sengaja menatap pintu adalah suatu pertanda dari yang di atas sana untuk menyudahi kegiatan belajarnya hari Sabtu itu dan kembali lagi kesini esok hari. Namun tidak peduli betapa sukanya Ino pada ide tersebut, ia tetap tak bisa menyingkirkan perasaan bersalah akibat nilai jeleknya pada mata pelajaran ini semester lalu. Rasa bersalah tersebut cukup untuk menahannya di tempat tersebut untuk satu atau dua, tidak, mungkin tiga setengah jam ke depan.
Seharusnya saat itu Ino kembali melanjutkan sesi belajarnya, namun ia masih merasa malas dan terus bengong menatap pintu masuk perpustakaan ketika mendadak dari udara kosong Kiba Inuzuka muncul melewati pintu tersebut.
Dia terlihat berjalan menuju Ino, dan si gadis pirang pun secara otomatis mengalihkan pandangannya.
Saat menatap buku teksnya kembali, diam-diam Ino menunggu Kiba menyapanya duluan. Detik demi detik berlalu, Ino bisa mendengar langkah kaki Kiba yang mendekat. Ketika suaranya benar-benar dekat, Ino sudah sangat menduga Kiba akan menyapanya. Namun, momen tersebut tak kunjung datang.
Kiba melewati Ino begitu saja.
Sejujurnya Ino agak kaget dibuatnya, dan...sedikit bingung.
Tidak seperti beberapa momen-momen sebelumnya dimana mereka tanpa sengaja berpapasan satu sama lain, setidaknya lelaki itu akan membuat gerakan untuk menyapanya duluan. Tapi kali ini, Kiba benar-benar mengabaikan Ino sama sekali.
Selama dua menit berikutnya, Ino mengawasi Kiba dari ekor matanya, sambil menimbang-nimbang: mungkin dia harus menyapa lelaki itu duluan?
Kiba mengambil tempat di meja dekat meja Ino. Setelah duduk lelaki itu mengeluarkan buku, tempat pensil dan bolpoinnya. Setelah beberapa saat, lelaki itu pun mulai membaca. Masih mengabaikan Ino.
Mungkin dia tidak melihatku? Pikir Ino.
"Inuzuka...Hai," sapa Ino akhirnya.
Mendengar namanya dipanggil, ia pun langsung menoleh ke arah si gadis pirang. "Yamanaka," katanya. Dia tersenyum. "Hai."
"Kau belajar?" tanya Ino basa-basi. Memangnya ngapain lagi orang ke perpustakaan?
"Ya. Bagaimana denganmu?"
"Aku juga." Kiba mengangguk dan tersenyum sebelum perhatiannya kembali pada bukunya. Ino pikir gerakan tersebut mungkin akhir dari percakapan mereka, ketika dia tiba-tiba bertanya.
"Kau sedang belajar apa?" tanyanya melihat ke arah buku-buku di hadapan Ino.
"Matematika."
"Bisa?"
Ino merasa sedikit bimbang merespon pertanyaan tersebut. Menunjukkan bahwa ia sedang kesulitan agak sedikit memalukan. Apalagi menunjukkannya pada seseorang sepintar Kiba, yang beberapa minggu lalu secara kebetulan juga menolongnya mengerjakan soal di kelas matematika. Bila sekarang Kiba masih melihat dia tidak bisa mengerjakan soal ini, lelaki itu pasti akan berpikir Ino adalah cewek pemalas yang sama sekali tidak mau belajar dari kesalahan.
"Bisa...lumyan," jawab Ino akhirnya, berusaha menambahkan nada positif dalam suaranya.
Ino sedikit takut ia terdengar terlalu positif hingga ke tahap mencurigakan. Mungkin dia memang terdengar mencurigakan. Lagipula ia mau membodohi siapa? Dia bahkan belum mencapai separuh dari soal yang hendak ia kerjakan dan ia sudah mengalami kesulitan.
Dia sama sekali tidak bisa mengerjakan ini.
"Baguslah," kata Kiba. Rupanya lelaki itu memutuskan untuk mempercayai Ino. Si pirang pun mengangguk dan kembali pada bukunya, dan berpikir Kiba pasti melakukan hal yang sama. Namun lelaki itu tiba-tiba berkata lagi, membuat Ino menoleh. "Kalau kau membutuhkanku..." Dia berhenti sebentar, nampak ragu dengan kalimat yang baru saja meluncur dari mulutnya, "Aku disini," kalimat terakhirnya ia ucapkan dengan nada yang lebih lembut.
Itu seharusnya adalah akhir dari pembicaraan mereka. Tetapi bukannya kembali ke bukunya, Ino malah menahan pandangannya pada Kiba. Ia merasa takjub, bukan hanya karena jawaban lelaki itu yang seakan-akan menunjukkan ia bisa membaca pikirannya, namun...ada sesuatu yang membuat Kiba terlihat berbeda hari ini. Dan yang dimaksud Ino berbeda tentu saja penampilan fisiknya. Padahal lelaki itu hanya mengenakan kaus polo berwarna hijau tua dengan jeans, namun entah mengapa kombinasi tersebut membuatnya...menawan.
Wajah Ino memerah. Tetapi ia berhasil menyunggingkan senyum dan mengucapkan terima kasih sebelum kembali ke latihannya. Dalam hati berdoa semoga kesunyian perpustakaan itu tidak membuat si rambut cokelat bisa mendengar degup jantungnya yang ia rasa terlalu kencang.
Empat puluh menit kemudian, kondisi Ino rupanya tidak banyak berubah. Ia sudah mengerjakan lima nomor. Tapi kelima-limanya menghasilkan jawaban yang sama sekali berbeda dengan apa yang ada di bagian belakang buku teks. Ino memutuskan untuk meninggalkan soal-soal tersebut dan mengerjakan yang lain, dengan harapan ia akan menemukan kesalahannya dan setelah itu ia akan mengerjakan soal-soal yang masih salah dijawabnya tadi. Namun itu tak terjadi. Makin ke bawah soal yang dihadapi Ino rupanya makin susah. Kalau di nomor-nomor sebelumnya Ino masih tahu ia harus mengerjakan langkah-langkah apa terlebih dahulu, sekarang ia bahkan tak tahu harus mulai darimana.
Karena bingung, Ino pun mulai menggigiti ujung pensilnya. Perlahan-lahan semangatnya pun mulai benar-benar luntur. Ia menghela napas.
Aku menyerah...
Mendadak Ino penasaran apa yang sedang dilakukan Kiba. Berusaha agar tidak nampak terlalu mau tahu, ia pun melirik ke arah pemuda itu, dan kekhawatirannya bahwa lelaki itu akan menangkap basah dia sedang memperhatikannya hilang karena ternyata...
...Kiba Inuzuka sedang tertidur di atas bukunya.
Kini Ino tidak lagi hanya melirik, ia dengan berani memandang Kiba lurus-lurus. Melihat lelaki yang wajahnya sangat damai saat tertidur seperti itu, memancing senyuman lembut di wajah Ino.
Mendadak kelopak mata yang tertutup itu terbuka dan mengagetkan Ino. Si gadis pirang itu terkesiap dan langsung berpura-pura melihat ke suatu tempat di belakang Kiba sebelum mengembalikan pandangannya kembali ke bukunya. Dia berharap Kiba tak menyadari apa yang barusan ia lakukan.
"Gimana Matematika-nya? Lancar?"
Shit, dia pasti lihat. Ino pun dengan enggan kembali memandang Kiba, dan akhirnya menjawab dengan jujur.
"Susah...," katanya dengan nada menyerah.
Tanpa peringatan Kiba mendadak berdiri kemudian meninggalkan mejanya dan berjalan menuju meja Ino. "Coba kulihat."
Ino menegang, namun tidak mencoba menghentikannya. Dan sebelum ia menyadarinya, Kiba sudah duduk di sebelahnya.
"Yang mana yang susah?"
Menyadari wajah Kiba yang terlalu dekat dengannya, Ino pun sedikit bergeser ke samping sebelum mendorong buku matematikanya ke arah lelaki itu. "Aku sedang mengerjakan bagian yang segitiga, dan semua jawabanku tidak ada yang sama dengan yang ada di belakang buku. Pasti ada bagian yang salah kukerjakan."
Dia mengangguk mengerti lalu membaca soal yang ada di buku teks sebelum mempelajari jawaban yang Ino kerjakan. Tak lama kemudian, dia sudah membalik halaman buku catatan Ino. Dia pasti sudah menemukan kesalahan Ino dan sekarang mulai mengerjakan jawabannya sendiri. Untuk kedua kalinya hari itu, Kiba Inuzuka membuat Ino Yamanaka takjub. Lelaki itu mengerjakan soal yang ada di hadapannya dengan sangat cepat seakan-akan itu adalah hal yang alami baginya. Kurang dari semenit ia sudah hampir selesai.
"Kamu jago ya..."
Masih mengerjakan, ia menjawab, "aku hanya banyak latiham." Dia berhenti sebentar untuk tersenyum pada Ino. "Kau juga pasti bisa," katanya sebelum menyelesaikan jawabannya.
"Mungkin aku butuh jauh lebih banyak waktu supaya bisa mengerti ini."
Saat Ino melihat ujung bibir Kiba yang melengkung naik, ia sejujurnya merasa senang. Ia senang melihat bagaimana Kiba selalu berusaha meresponnya meskipun saat ini ia sedang berkonsenterasi mengerjakan soal yang maha sulit (bagi Ino) di hadapannya. Bahkan dia sendiri terlalu capek hingga ketiduran saat belajar apapun itu yang sedang dipelajarinya; tapi disini...saat ini, lelaki itu malah menolongnya.
"Nih," Kiba menunjuk persamaan tangen yang Ino kerjakan, membandingkannya dengan persamaan yang ia kerjakan, "pertama-tama kau perlu mengalikan kedua sisi dengan empat sebelum membaginya dengan tiga," katanya melihat ke arahku, "lalu untuk soal yang lain, kau cuman lupa mentranslasikan persamaannya."
Ino membungkuk untuk mempelajari jawaban Kiba. "Wow..." katanya. "Betul-betul kesalahan yang...simpel."
"Kau tidak seburuk yang kau kira dalam Matematika."
"Terima kasih, Inuzuka." Ino tersenyum lebar ke arahnya. "Aku sangat senang kau menolongku."
Dia mengangguk. "Ada lagi?"
Sebenarnya masih banyak, namun Ino merasa tidak enak mengambil keuntungan dari kebaikan hati Kiba. "Umm ya. Tapi aku tidak ingin menyita waktumu."
"Yang mana soal selanjutnya?" tanyanya santai, menepis kekhawatiran Ino.
Memutuskan untuk menerima bantuan Kiba lebih jauh, Ino pun menunjuk soal selanjutnya.
Kedua orang itu duduk di sana mengerjakan Matematika hingga perpustakaan tutup. Namun karena banyaknya hal yang tak dimengerti Ino, apa yang seharusnya adalah satu sesi belajar bersama Kiba berubah menjadi tiga sesi lagi. Sesi selanjutnya adalah keesokan harinya. Mereka berdua bertemu di tempat yang sama dan duduk di meja yang sama. Sama seperti dua sesi berikutnya.
Karena keduanya sama-sama sibuk dengan kegiatan ekstrakurikuler mereka di sekolah, ditambah kerja sambilan Kiba, mereka berdua hanya bertemu saat akhir pekan. Namun ketika mereka bertemu, Ino pasti belajar sesuatu, dan setelah sesi kedua, tiba-tiba Ino jadi tidak sabar menanti sesi belajar bersama Kiba berikutnya.
Dengan bantuan lelaki itu, Ino menemukan dirinya mampu belajar Matematika dengan lebih mudah. Meskipun Ino masih mengalami kesulitan memahami dan mengingat semua rumus yang ada dan bagaimana cara menggunakannya, namun setelah penjelasan Kiba, semuanya menjadi lebih mudah bagi Ino. Si pirang pun menjadi lebih percaya diri menghadapi Matematika. Apalagi sebentar lagi akan ada ujian tengah semester...
Karena ingin berterima kasih, setelah sesi belajar mereka yang terakhir Ino pun mengajak Kiba ke salah satu kafe yang sangat disukainya yang kebetulan berada di dekat perpustakaan. Saat itu pukul empat sore, cuaca sangat cerah dengan langit biru, sedikit awan, dan angin yang sejuk. Karena cuaca yang indah, Ino pun menyarankan mereka supaya duduk di meja di luar kafe. Setidaknya itu adalah alasan pertamanya.
Alasan keduanya adalah sebagai strategi untuk menghindari momen-momen yang canggung.
Meskipun akhir-akhir ini Ino merasa ia dan Kiba mendadak jadi lebih dekat, dia yakin akan lebih bijaksana bila mereka duduk di luar dimana pemandangan dapat menjadi topik yang menarik apabila mendadak terjadi keheningan yang canggung di antara mereka.
Ya, meskipun terlihat dekat, namun kedekatan mereka karena Matematika. Dan apa yang mereka bicarakan biasanya seputar Matematika. Mereka belum sedekat itu untuk membicarakan hal-hal seperti apa yang biasa Ino bicarakan dengan teman-teman dekatnya.
Setelah memesan minuman masing-masing, mereka pun duduk dengan santai sambil membicarakan topik-topik yang umum. Misalnya seperti rencana mereka setelah lulus, hal-hal seperti itu.
"Aku berencana melanjutkan sekolahku di Amerika tahun depan," jawab Kiba ketika Ino bertanya padanya tentang apa yang ia akan lakukan tahun depan.
"Amerika?"
"Ya. Ada dua universitas di sana yang menarik perhatianku. Mereka menawarkan program yang sangat bagus untuk jurusan yang kuinginkan."
"Jurusan apa?"
"Teknik mesin."
"Seperti...mobil?" Ino sebenarnya tidak begitu tahu apa saja yang dipelajari dalam teknik mesin, namun ia selalu berasumsi bahwa itu pasti berhubungan dengan mobil atau semacamnya.
Kiba tersenyum. "Itu adalah salah satu bagiannya." Lalu ia balik bertanya. "Bagaimana denganmu?"
"Aku juga akan lanjut ke universitas, mungkin belajar hukum atau semacamnya. Sebenarnya aku belum memutuskan...bahkan aku mungkin tidak akan kuliah," Ino mengamati whipped cream bercampur dengan minumannya yang berwarna pink dan menciptakan warna yang menarik.
"Lalu kau akan kemana?"
"Aku bisa bekerja selama satu tahun lalu mungkin saja aku bisa..." Mendadak Ino terdiam. Lalu wajahnya memerah dan ia menunduk.
Bukan rahasia lagi kalau Ino sudah berkali-kali muncul di majalah remaja. Namun ia tetap saja merasa malu ketika mengakui bahwa ia ingin menjadi model profesional. Bukan berarti model fesyen adalah suatu profesi yang memalukan, tapi lebih karena industri fesyen itu sendiri bukanlah industri yang dengan gampang dapat dimasuki siapa saja. Menjadi seorang model profesional tidak hanya membutuhkan perjalanan karier yang sangat jauh dan menanjak, namun juga membutuhkan kecantikan yang luar biasa. Karena itulah ketika mengakui cita-citanya pada seseorang, terkadang Ino merasa dirinya terdengar sedikit sombong.
"Bisa...apa?" Kiba terlihat penasaran sekarang, pandangannya seakan-akan menyuruh Ino untuk melanjutkan apa yang hendak ia katakan.
Ino menggigit bibir bawahnya. Sepasang matanya yang biru melihat kesana kemari beberapa kali. "Ummm..." Di hadapannya Kiba tetap menunggu dengan sabar namun tidak menurunkan pandangan ingin tahunya. "Mungkin aku bisa jadi model profesional," kata Ino akhirnya.
Kiba mengangguk. "Aku mengerti kenapa kau berpikir ke arah sana. Kau sangat cantik."
Jawaban Kiba membuat Ino mematung. A-apa?
Tidak ada keraguan, tidak terbata-bata. Kiba mengatakannya begitu saja dengan mudah. Suaranya lembut, seakan-akan apa yang barusan ia katakan itu adalah hal yang natural baginya. Bahkan saat Ino duduk disana menatapnya, Kiba tetap membalas tatapannya dengan pandangan lurus.
Mendadak Ino merasa situasi mereka berubah canggung. Gadis itu pun melihat ke arah lain, dan berusaha mengubur kecanggungannya dengan menyeruput minumannya beberapa kali.
Ino tidak tahu mengapa ia tiba-tiba jadi salah tingkah begini. Ia sudah biasa dengan pujian seperti itu dari orang-orang di sekitarnya. Lalu apa yang membuat kali ini berbeda?
"Ngomong-ngomong, Yamanaka." Ino mendongak saat Kiba menyebut namanya. "Terima kasih untuk kue tempo hari. Enak sekali," pujinya.
Ino tertawa canggung, "aku hanya suka melakukannya kalau sedang senggang."
Mendadak suatu bunyi nyaring terdengar dari bawah meja, dari saku celana Kiba. Lelaki itu mengeluarkan ponselnya, yang terlihat berbeda dari yang pernah dipegang Ino beberapa minggu lalu. Yang itu nampak lebih baru. "Sebentar," katanya pada Ino sebelum menjawab teleponnya. "Halo?"
"Aku sedang di kafe bersama Yamanaka...Tidak, aku tetap akan ke supermarket nanti."
Ino merasa lega karena sepertinya mereka sebentar lagi akan berpisah.
"Di kafe dekat perpustakaan..." katanya lagi sebelum beberapa "hm...hm..." dan akhirnya ia memutus teleponnya dengan "Oke, bye."
"Apa kau harus pergi sekarang?" tanya Ino penuh harap.
"Tidak. Tidak. Itu tadi Hinata. Aku sudah berjanji padanya akan belanja makan malam hari ini. Tapi dia tidak akan memasak sampai jam enam nanti. Jadi aku masih punya waktu."
Nama tersebut terdengar tak asing di telinga Ino. Ia rasa Sakura beberapa kali menyebut-nyebut nama itu. Namun ia lupa kenapa. "Hinata?"
"Hinata Hyuuga. Dia sekolah di Amaterasu juga."
Oh, Hinata Hyuuga, sekarang Ino ingat. "Hinata yang sedang dekat sama Gaara? Dia temanmu?"
"Ya. Kami sama-sama tinggal sendirian disini. Keluargaku ada di Seoul, sementara keluarga Hinata ada di Beijing. Makanya setiap akhir pekan seperti ini kami selalu makan malam bersama."
Ino mengangguk-angguk. Kemudian tiba-tiba teringat beberapa minggu yang lalu ia pernah melihat Kiba bersama seorang gadis di pinggir lapangan. Waktu itu Ino mengira gadis itu adalah pacarnya Kiba. Tapi kalau ia ingat-ingat lagi...gadis itu bisa saja Hinata.
"Seoul?"
"Dulunya tinggal di Tokyo, tapi karena perusahaan keluargaku berkembang, ibuku pun pindah ke Seoul. Sesekali ia tetap kesini mengunjungiku."
Ino terdiam sebentar, memikirkan situasi yang dialami Kiba. Selama ini ia selalu dimanjakan oleh kedua orang tuanya dan ia tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya tinggal jauh dari mereka. Pasti rasanya... "...kesepian," kata Ino tanpa sadar.
"Maaf?"
"M-maksudku... apa kau tidak kesepian? Tinggal sendiri?"
Kiba hanya tersenyum, lalu menggeleng. "Kakakku juga tinggal disini. Meskipun sekarang ia sudah pindah bersama pacarnya. Lagipula aku punya anjing..." Dia mengangkat bahu. "...yang membuat tempatku tak pernah benar-benar sepi." Kiba kemudian sadar ia sudah bercerita cukup banyak tentang dirinya sendiri, dan ganti bertanya. "Bagaimana denganmu?"
"Aku?"
"Maksudku bagaimana orang tuamu? Apa yang mereka lakukan?"
"Oh, ayah dan ibuku sama-sama tinggal disini bersamaku. Aku tak bisa membayangkan apa yang terjadi padaku kalau aku pulang ke rumah yang tidak ada mereka," Ino terkekeh, "ayahku bekerja disebuah perusahaan minyak. Karena pekerjaannya kadang ayah bisa pulang sangat larut atau tak pulang sama sekali. Dia juga sering sekali ke luar kota. Tapi kalau dia sedang pulang cepat, kami pasti akan merayakannya dengan pergi ke suatu tempat. Lalu ibuku... ibuku sebenarnya lebih sederhana. Ia mengelola sebuah toko bunga di hotel Le Meridien. Sebetulnya dia tak kalah sibuknya dari ayah. Tapi dia selalu berusaha pulang cepat supaya bisa menyambutku di rumah kalau aku pulang."
Sepanjang gadis itu bercerita, Kiba mendengarkan dengan seksama. Dagunya bertumpu pada telapak tangannya saat ia mengamati wajah Ino yang sumringah ketika bercerita tentang keluarganya.
"Aku tidak punya saudara. Makanya kedua orang tuaku sangat menyayangiku. Tapi terkadang aku bertanya-tanya bagaimana rasanya punya saudara..."
Tapi sebenarnya Ino tak pernah benar-benar menginginkan saudara. Ia sudah sangat puas dengan kehidupannya yang sekarang. Di rumah ia disayang seperti seorang putri oleh kedua orang tuanya. Siapa yang menginginkan saudara jika kau sudah mendapatkan semua yang kau inginkan?
Mendadak Ino teringat bahwa saat itu ia sedang bersama Kiba Inuzuka. Ia pun juga menyadari pandangan lelaki itu ke arahnya. Pandangan tersebut entah mengapa membuatnya tidak nyaman.
Tanpa peringatan, Ino tiba-tiba berdiri, mengagetkan lelaki yang duduk di seberangnya. "B-bukankah kau harus berbelanja sekarang, Inuzuka? A-aku akan membayar minuman kita dulu."
Kiba yang kaget hanya mengangguk lalu mengucapkan terima kasih pada Ino yang bergegas masuk ke dalam kafe.
Dari dalam kafe, Ino bisa melihat Kiba yang sedang mengecek ponselnya. Wajahnya tidak terlalu senang. Tapi mungkin itu hanya perasaan Ino saja. Dari jarak sejauh itu, wajah siapapun bisa saja terlihat tidak senang.
Ketika Ino kembali, Kiba menawarkan diri untuk mengantarnya pulang.
"Oh tidak perlu. Aku berkendara kesini." Ino tidak berbohong, mobilnya ia parkir di perpustakaan. "Tapi, terima kasih atas tawaranmu."
Kiba tampak sedikit kecewa. "Aku akan menemanimu ke mobilmu," katanya. Untuk tawaran yang itu, tentu saja Ino tidak bisa menolak.
Mereka berdua berjalan menuju mobil Ino dalam diam. Pembicaraan yang terjadi hanyalah sedikit komentar dari mereka masing-masing tentang cuaca hari itu serta prediksi mereka tentang cuaca besok. Ketika sampai di Honda Civic abu-abu milik Ino, keduanya pun saling berhadapan.
"Terima kasih untuk hari ini," kata Ino tulus.
"Kalau kau mengalami kesulitan lagi, kau bisa menghubungiku," tentu saja yang Kiba maksud adalah menghubunginya lewat BBM.
"Terima kasih," kata Ino lagi.
Kiba masih berdiri di sana ketika Ino sudah menyalakan mesin dan memundurkan mobilnya. Bahkan ketika gadis itu hampir keluar dari area parkir perpustakaan, dari kaca spionnya ia masih bisa melihat si pemuda berambut cokelat mengamatinya dari belakang.
Halo semuanyaaa! Apa kabar? Senang akhirnya bisa kembali menulis Mona Lisa. Pertama-tama saya mau minta maaf atas update yang superrrr duperrrr lama ini. Saya sebenarnya abis hiatus, dan akhir-akhir ini punya hobi baru yaitu nonton film-film lawas, hohoho. Kalo temen-temen tau judul film lawas yang bagus monggo di-share hehehe.
Kedua, saya juga mau minta maaf atas kesalahan yang saya buat di chapter sebelumnya, yaitu ketidaksesuaiaan nama cookies-nya Ino yang ada di judul sama yang ada di cerita. Di judul namanya white chocolate chips, sementara di cerita namanya vanilla chocolate chips. Itu adalah pure error in persona huhu. Terima kasih banyak untuk Sukie Suu Foxie yang sudah mengingatkan akooh :''')
Ketiga, saya mau ucapin maaciiiih sebesar-besarnya untuk para readers yang sudah meninggalkan review berupa saran dan komentar2 luar biasa untuk cerita ini. Saya juga sangat senang melihat betapa banyaknya jumlah pembaca yang menaruh cerita ini di list Favorite kalian. Senangggg sekali rasanya tahu bahwa yang demen sama pair Kiba/Ino ini ada banyak di luar sana. Aku sayang kalian kyaa :*
Saya akan berusaha untuk mengupdate cerita ini lebih cepatttt, dan saya harap para pembaca sabar menunggu.
Semoga cerita ini bisa menghibur para pembaca sekaliannn ;)
Akhir kata, apabila para pembaca tidak keberatan, mohon meninggalkan satu atau dua komentar atau kritik di kotak review. Reviews are what keeping this story alive anyway :3
Terima kasih sudah membaca Mona Lisa!
Sampai jumpa di chapter depan!
xoxo,
shiorinsan
