A/N: YATTA! Balik lagi bareng Re! Eh? tapi jangan bunuh Re ya kalau udah baca fic di bawah! Re bener-bener ngak da waktu! Re sibuk banget bantu-bantu OSIS nyiapin MOS. Hiy! Salam panitianya serem banget!
Eh?
Malah ngelantur. Ehem! Ehem! Utk mengemat waktu. Re hanya ingin bilang selamat karena sekarang SASUNARU DAY! Re bela-belain update Demon sekarang biar bsa ngeramaiin SasuNaru Day. Tapi jangan marah kalo dikit dan Re gak jadi bikin di Chapter ini Scene kencannya SasuNaru.
Sekali lagi Re mohon maaf.
Oke? Happy Reading!
HaikuReSanovA: Jangan pernah sesali hidup yang kau miliki. Meski aku tidak ada disampingmu. Teruslah hidup. Demi dirimu dan...diriku...
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rating: T
Pairing: NaruSasu
Warning: OOC, OC, menggunakan darah manusia *?* , agak menyesatkan, tapi itulah yang saya sukai. Dan ini PERINGATAN! Adegan dibawah bukan GaaNaru! Itu hanya tuntutan skenario dan bukan pair! Harap dimengerti.
Summary: "Aku datang kemari bukan untuk melihatmu seperti ini, Sasuke-hime..."
DEMON
CHAPTER 7
Hiruk pikuk sekolah terdengar hingga keluar gerbang. Para siswa berlalu lalang di koridor sekolah. Mengerjakan urusannya masing-masing. Mencoba menyelesaikannya sebelum bel masuk berbunyi.
Tapi banyak juga yang tidak melakukan aktifitas di luar ruangan. Salah satunya ya orang ini. Pangeran es Sasuke yang begitu terkenal ke angkuhannya.
"Tidak ke kantin Sasuke?" tanya Neji.
Sasuke yang tengah menatap keluar jendela hanya menggumam tidak jelas. "Hn."
"Kau ini tidak berubah, ya?"
"Urus saja urusanmu sendiri Hyuuga," kata Sasuke acuh tak acuh.
Neji mengedikkan bahu tidak peduli. "Terserah padamu." Setelah itu Neji meninggalkan Sasuke. Menyerah untuk, setidaknya, mengajak Uchiha yang satu ini berbicara.
"Bagaimana?" tanya Rei yang menunggu di pintu kelas.
"Kau menyuruhku berbicara pada batu," kata Neji asal.
Rei tertawa pelan mendengar istilah Neji.
"Terima kasih untuk..setidaknya mencoba berbicara padanya."
"Tidak masalah. Hanya saja aku ragu dia akan menjawab dengan kata-kata selain 'Hn'-nya itu."
"Sasuke memang orang yang sulit."
Sementara itu Sasuke hanya mendelik pada jendela yang tidak bersalah di depannya. Apa mereka pikir dia tidak bisa mendengar percakapan mereka? Menyebalkan!
"Apa kau pernah bangkit dari tempat duduk ini saat istirahat, Sasuke?" sapa Rei seraya duduk di bangku yang ada di depan Sasuke.
"Bisakah kau berhenti berada disekelilingku seperti bayangan?" tanya Sasuke tanpa menatap Rei.
"Bisakah kau tidak ketus sehari saja padaku? Oh, kurasa kau ketus pada semua orang."
Sasuke tidak membalasnya. Jadi Rei memulai dengan topik baru yang cukup berbahaya.
"Bagaimana lehermu? Ini hari pertama kau sekolah setelah kejadian minggu lalu," tanya Rei hati-hati. Benar saja, seketika tubuh Sasuke menegang. Ini benar-benar topik yang sensitif untuknya.
"Tidak terasa apa-apa," jawab Sasuke akhirnya.
Rei mengamati wajah Sasuke dengan cermat. Ekspresinya gelisah, ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Ada masalah, Sasuke?"
Sasuke tersentak, otomatis dirinya menatap mata Rei. Gadis ini memang terlalu pintar untuk dibohongi.
"Tidak." Sasuke mengalihan pandangannya sebelum Rei bisa mengorek isi kepalanya lebih jauh.
"Aku tahu tidak ada gunanya menanyaimu. Tapi asal kau tahu. Masalahmu bisa jadi masalah semua orang jika kau mencoba menutupinya."
Sasuke mendengus.
"Kita lihat saja."
"Tidak perlu sekeras kepala itu. Dan...aku baru ingat. Kita latihan jam lima nanti. Datang saja ke Dojo."
"Aku tahu."
"Kuharap kau tidak lupa."
Rei tidak berbicara banyak. Setelah mengatakan itu dia bangkit dari kursi yang di dudukinya. Berniat kembali ke kelasnya sendiri.
Sasuke menghela nafas pelan setelah Rei pergi. Kenapa orang-orang selalu mengganggunya? Menanyakan apa dia baik-baik saja. Memangnya mereka pikir dia siapa? Bayi tujuh bulan yang perlu dituntun untuk berjalan?
"Kita akan bertemu lagi..."
Kalimat itu tiba-tiba terngiang di telinga Sasuke.
"Sial!" desis Sasuke. Kenapa di saat seperti ini dia malah teringat kata-kata iblis pirang itu?
Sasuke mengacak rambutnya gusar. Dasar iblis! Akan dia balas suatu saat nanti! Ingat itu! Uchiha tidak pernah melanggar janjinya.
Memang hobi Sasuke untuk menyumpah-nyumpah sepertinya. Kebiasaannya, menyalahkan orang lain. Ups, dalam hal ini adalah menyalahkan seorang iblis pirang yang tanpa sadar telah menarik perhatiannya.
Sumpah serapahnya terputus saat Ebisu Sensei memasuki kelas. Pelajaran Fisika, tidak ada yang ingin tewas dalam pelajaran ini. Mau tidak mau Sasuke harus mengalihkan pikirannya untuk sementara dari sang iblis pirang. Dan dia bersyukur karenanya.
"Bagaimana keadaanmu, Cash?" tanya Re.
"Seperti yang kau lihat. Aku baik-baik saja," jawab Cash. Dirinya tengah sibuk berkutat dengan laptop Apple dipangkuannya.
"Baguslah, aku tidak perlu mengurusmu lagi kalau begitu."
"Reyne!"
Alis Re berkedut mendengar nama itu. Otomatis dia menoleh untuk melihat siapa yang berbicara. Dilihatnya Naruto nyengir lima jari di pintu kamar Cash.
"Apa?" tanya Re ketus.
"Hehehehe...tidak. Iseng saja."
"Bukankah sudah kubilang ribuan kali untuk tidak memanggilku seperti itu?" tanya Re sadis.
Cash tertawa tertahan. "Menurutku tidak ada yang salah dengan namamu. Kenapa kau tidak suka, sih?" tanya Cash heran.
"Cash benar, tidak ada yang salah dengan namamu."
"Oh, ya?" tanya Re sinis. "Apa itu pantas dikatakan oleh iblis yang mengolok-olok namaku?"
Cash Cuma nyengir dengan wajah tidak berdosa.
"Reiny!"
"Diam!"
"Reiny!"
"Kubilang diam!"
"Reiny!" Cash masih saja kekeuh dengan seringai di wajahnya.
"Apa kau ingin laptop kesayanganmu itu rusak?"
ujar Re dengan senyum manis di bibir. Sebuah pedang tergenggam manis di tangannya.
Wajah Cash pucat seketika. Jika Re sudah berbicara dengan gaya seperti itu. Berarti dia benar-benar marah.
"Ti...tidak...te...terima kasih..."
"Bagus..."
Naruto yang menonton dari pintu hanya terkikik senang.
"Oh, ya, Reyne. Aku akan pergi hari ini. Jadi tolong katakan itu pada Gaara. Aku tidak bisa menemukannya dimana pun," ujar Naruto sambil menggaruk belakang kepalanya.
Reyne menoleh. Melihat wajah Naruto yang polos itu membuat kemarahannya surut.
"Oke," jawabnya sekenanya.
"Terima kasih!"
"Kau mau kemana, Naruto?"
Pertanyaan Cash itu sukses membuat Naruto yang telah berbalik menoleh.
"Aku hanya jalan-jalan..."
"Kalau begitu pergilah, biar aku dan Reyne yang akan mengurus semuanya."
"Tentu!"
Cash dan Reyne berpandangan. Ini sesuatu yang baru menurut mereka. Naruto tentu saja anak yang bersemangat dan ceria. Tapi dia anak yang tertutup. Dia tidak akan keluar dari tempat ini jika tidak ada perintah.
"Ini aneh," komentar Cash.
"Kau tahu apa yang ada dalam pikiranku," seringai Reyne.
"Ikuti dia!"
Bel berdentang tiga kali menandakan berakhirnya jam pelajaran. Semua anak bergegas pulang. Tidak ada yang ingin berlama-lama di sini kecuali yang masih memiliki kegiatan klub. Koridor sekolah mulai sepi ketika Sasuke menyusurinya seorang diri. Sudah kebiasaannya untuk pulang disaat sekolah sudah sepi. Karena lebih mudah baginya untuk menghindari para fans girlnya yang selalu mengerubunginya.
Sasuke tidak tahu Rei sudah pulang atau belum. Lagipula itu bukan urusannya, malah lebih baik jika Sasuke tidak melihatnya. Dengan begitu tidak ada yang akan mengerecokinya dengan berbagai nasihat tidak berguna.
Halaman sekolah pun ternyata telah sepi. Seperti biasa, itu berarti tidak ada yang akan mengganggunya.
Dia salah.
Langkah Sasuke terhenti begitu saja.
Ada yang lebih buruk dibanding Rei yang mengerecokinya ternyata. Seorang pemuda pirang telah menunggunya di gerbang.
Entah kenapa dia merasa sedikit takut dan ada sesuatu yang aneh menelusup ke dalam hati kecilnya.
Apa ini? Kenapa rasanya ada yang aneh dengan diriku?
Pemuda itu menoleh. Dan anehnya detak jantung Sasuke tiba-tiba menjadi cepat.
Seakan berlomba untuk memerintahnya melakukan sesuatu.
"Hai!" sapa Naruto. Jaraknya dan Sasuke hanya terpisah lima meter. Tidak ada penghalang apapun diantara mereka.
"Dobe!" desis Sasuke. Kakinya terpaku begitu saja ke tanah. Tidak bisa digerakkan, dan itu artinya dia tidak bisa kabur dari iblis pirang ini.
"Hei! Siapa yag kau katai 'Dobe', Teme?" seru Naruto tidak terima. Dengan kesal Naruto menghampiri Sasuke. Tanpa sadar akan akibatnya pada pemuda yang kini ada dihadapannya.
"Dobe..."
Sasuke merintih pelan. Tidak bisa bisa menahan bibirnya sendiri agar desah kesakitan itu tidak lolos. Tanda di lehernya benar-benar sakit saat Naruto mendekatinya.
Mata Naruto membulat melihat reaksi Sasuke. Itu jelas rintih kesakitan. Naruto mencondongkan wajahnya agar bisa melihat mata Sasuke lebih jelas. Tidak diragukan lagi. Kesakitan. Hanya itu yang ada dalam bola mata hitam itu.
Naruto melirik leher Sasuke. Tempat dimana dia menggigit leher Sasuke beberapa waktu lalu telah berubah menjadi tanda yang kini berwarna merah membara. Menunjukkan berapa sakit yang diderita Sasuke.
Nafas Sasuke sudah terengah-engah. Berusaha menahan sakit, sementara tubuhnya sama sekali tidak bisa digerakkan.
"Apa sesakit itu, Sasuke?" bisik Naruto di telinga Sasuke. Dia bisa mendengar detak jantung Sasuke yang terlalu cepat.
Sasuke tidak menjawab. Atau tepatnya tidak bisa menjawab.
Naruto menghela nafas pelan. Tidak disangkanya akan jadi seperti ini. Diturunkannya wajahnya hingga ke leher Sasuke. Mengecup pelan tanda kemerahan yang ada disana. Tentu saja Naruto tidak menggigitnya seperti waktu ini. Dia tidak cukup bodoh untuk mengulangi kesalahannya.
Ketika dia manarik bibirnya. Tanda itu telah kembali berwarna hitam. Tidak berwarna merah dan itu berarti Sasuke tidak lagi merasa kesakitan.
Nafas Sasuke masih menderu. Sisa kesakitan itu masih terasa dan tiba-tiba saja tubuhnya terasa lemas dan kakinya tidak bisa menopang tubuhnya lagi. Dia ambruk begitu saja kepelukan Naruto.
"Aku datang kemari bukan untuk melihatmu seperti ini, Sasuke-hime..."
"Kau lihat itu?" tanya Cash.
"Yeah."
"Kurasa Naruto memang tertarik pada keturunan penjaga itu, ya?" tanya Cash menurunkan teropong yang digunakannya.
"Hei, hei, kanapa kau mesti memakai benda iru?" tanya Reyne heran.
"Kenapa? Tidak ada yang melarangnya tuh!"
"Kau sama anehnya dengan Naruto," komentar Reyne sinis.
"Wah, terima kasih," balas Cash dengan seringai di bibir.
"Tapi kau benar. Naruto memang tertarik pada penjaga itu."
Cash menaikkan alisnya. "Apa sih yang dilihat Naruto dari bocah ingusan itu?"
"Mana kutahu, tanya sendiri pada Naruto."
"Huh! Sikap sinismu keluar lagi."
Reyne mendelik pada Cash.
"Ada yang akan marah dengan ini," kata Cash.
"Naruto memang terlalu polos untuk menyadarinya. Kurasa penjaga itu pasti akan mati kalau dia turun tangan," Reyne menatap halaman sekolah tempat Naruto dan Sasuke berada.
"Ini tidak akan mudah."
"Ya, ini tidak akan mudah..."
TBC
A/N: Sorry jadinya kayak gini! Re baru ngerjain ini semalem selama 2 jam dan lagi kering ide. Apalagi ngejar waktu. Sorry ya...?
Oh, ya, Re saya ganti jadi Reyne. Soalnya kasihan namanya mirip ama Rei, Yah…biar Re ngak bingung dan juga enak nulisnya.
Review! Review! Review! Review! Review! Review! Review!Review!
Kalo ngak Review ngak lanjut!
With LovE,
HaikuResanovA
