Pusiiiinnngggg....T_T

"…": ngomong

'…': ngomong dalam hati

OoooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooooO

"Kyo, ambilkan gunting merah, dong!"

"Kyo, tolong pasangkan tali di panggung!"

"Kyo, tolong ambilkan pesanan makanan di kantin."

"Kyo…" "Kyo…" "Kyo…" dan "Kyo…" yang lain. Banyak sekali kata 'Kyo' bergema di aula Fujimori. Lima hari lagi, perayaan Halloween akan dilaksanakan. Panitia semakin bergiat mempersiapkan segalanya, mulai dari dekorasi, konsumsi, panggung, pertunjukan, dan sebagainya. Tiap panitia tampak semangat dan gembira menyiapkan detil acara tersebut. Tapi sepertinya kesenangan tidak tampak pada wajah salah satu panitia deh.

'Menyenangkan? Ini sih namanya jadi pembantu! Di mana orang itu sekarang, tidak keliatan juga si Anthony.' Kyo uring-uringan di dalem hati, kesal. Dia letakkan barang-barang pekerjaannya, kemudian berjalan ke arah pintu. Dengan emosi, dia buka pintu dan menutupnya keras. Kyo berjalan menyusuri lorong saat namanya dipanggil.

"Kyo! Tunggu!" suara Makoto membuat Kyo berhenti kemudian berbalik.

"Kau mau ke mana? Tugasmu sudah selesai?"

"Aku mau pergi, membuat perhitungan."

"Perhitungan? Pada siapa?"

"Pada ketua sialanmu yang tidak bertanggung jawab itu! Buat apa aku capek-capek kaya' babu, sedangkan dia pasti enak-enakan di suatu tempat!" Kyo menjawab Makoto dingin. Dia butuh penjelasan atas ketidakhadiran Yukimura, apalagi dia tidak pernah ada ketika Kyo membantu kerjaan panitia. Ditambah, kali ini Yukimura tidak ada, Anthony juga tidak ada. Kyo jadi berpikir yang macam-macam.

Makoto kaget dengan statement Kyo. Dia menunduk, meremas roknya di samping tangannya. Lalu dengan suara bergetar dan mata berkaca-kaca dia membalas ucapan Kyo.

"Jaga ucapanmu, anak baru! Setidaknya hargai dia sebagai kakak kelas, mungkin dia sedang belajar mempersiapkan ujian negara."

"Tidak ada hubungannya. Orang seperti itu tidak pantas-"

"Cukup! Kau,yang tak tau apa-apa tentang Sanada-san, tak usah bicara macam-macam! Kau pikir serendah itu ketua kami?? Sebagai anak baru, kau sama sekali tidak berhak menjelek-jelekkan dia! Apa kau tahu, acara ini untuk siapa, hah?!"

Kyo terkejut, ada orang yang berani membentakknya, karena selama dia sekolah, tak ada yang berani membentaknya karena takut.

"Untuk Fujimori, untuk kalian…" jawab Kyo lirih.

"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Ini untuk ketua Sanada!!" makoto mengatur nafasnya yang tidak teratur. Sedangkan Kyo hanya terpaku menatap Makoto, bingung.

'Untuk Yukimura?'

"Kami… kehilangan Ketua yang dulu ceria, murah senyum, dan bersemangat. Sejak 'hari itu', ketua tampak sering murung dan pikiran serta tatapannya kosong."

'Apakah seperti tatapan yang waktu itu?'

"Jadi kami membuat perayaan ini supaya dia kembali tersenyum. Walau ketua menentang keras, karena akan memancing gangguan dari sekolah lain, kami tetap bersikeras. Dengan berat hati akhirnya ketua mengijinkan. Kami ingin membuat kejutan bagi ketua lewat acara ini. Kami berharap jika perayaan ini sukses, ketua akan lebih rileks dan bias tersenyum." Makoto menjelaskan pada Kyo dengan mata berkaca-kaca. Bahunya naik turun karena sesenggukan menahan agar tangisnya tidak meledak.

"Memangnya ada apa di 'hari itu'?"

"Dua tahun lalu, pernah ada kerusuhan besar di perfektur ini. Saat itu, aku masih ada di SMP Fujimori tak bisa melupakan hari mengerikan dalam hidupku. Kobaran api di mana-mana, jeritan orang panik, orang-orang berlarian ke sana kemari tak tentu arah. Waktu itu ketua masih kelas satu, namun karena dia populer, kami yang dari SMP Fujimori tentu mengenalnya, dia pribadi yang menyenangkan,ceria, agak 'gila', bersemangat, dan care pada hampir semua orang. Namun, di hari itu, dia..."

"Cukup, Makoto!" Ada suara lain yang ikut nimbrung percakapan Kyo dan Makoto. Makoto membalikkan badannya sedangkan Kyo hanya memutar matanya, melirik, suara siapa itu.

"Sasuke..."

"Jangan ungkit masalah yang sudah lewat. Sekarang kerjakan saja tugasmu."

"Maaf, aku ke sana sekarang." Makoto pergi menginggalkan Kyo yang masih berdiri di koridor.

"Ada hal yang tidak aku ketahui?" Kyo berjalan mendekat dan melontarkan pertanyaan pada Sasuke.

"Tentu. Tidak semua orang perlu mengetahui segalanya." Jawab Sasuke enteng.

"Apa maksudmu?"

"Bukan apa-apa, tidak penting."

'Tentu saja penting, karena ini menyangkut... dia...'

"Aku tahu, biarpun kau kadang menjelekkan Sanada-san, sebenarnya kau respek padanya, bukan? Dia sangat menghargai kesediaanmu ikut berperan dalam perayaan ini. Jangan kecewakan dia apalagi membuatnya sedih, jangan sampai dia tahu keributan kecil ini." Sasuke berbalik, melangkahkan kakinya ke arah ruang komisi disiplin.

Deg! Serasa jantung Kyo berhenti sepersekian detik mendengar ucapan Sasuke.

'Benarkah, aku akan membuatnya sedih? Hanya karena masalah seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi dua tahun lalu? Aku harus dapat jawabannya.'

"Kembalilah ke aula." Sasuke berseru dari jarak yang agak jauh membuyarkan pikiran Kyo.

"I-iya, Sarutobi."

"Kyo! Aku mencarimu, ternyata kau lagi bengong di sini. Bantu aku membuat labu-labu Halloween." Tora menarik Kyo ke dalam aula lagi. Dia mengambil beberapa labu dari sterofoam ukuran kecil sampai besar. Dia siapkan peralatan yang dibutuhkan : pisau, pensil, lampu,gunting, dan kabel. Mula-mula mereka menggambar wajah,lalu mengukir labu, dan terakhir, memasang lampu.

"Apakah Yukimura berubah?" gumam Kyo

"ha? Aku tidak dengar kau bilang apa."

"Apakah ketua berubah sifatnya?"

"Setahuku, Sanada-san tidak berubah. Murah senyum dan menyenangkan. Kau sudah aku ceritakan bukan? Ada apa memangnya?"

"Tidak, bukan apa-apa." Kyo meneruskan mengukir wajah di labu. Kyo mahir sekali dalam membuat ukiran, pinggirannya halus dan rata. Hasil pekerjaannyapun bersih, tidak seperti Tora. Kyo masih bingung. Makoto bilang, Yukimura berubah, sedangkan Tora bilang dia tidak berubah. Sebenarnya apa yang terjadi di 'hari itu', dan kapan tepatnya 'hari itu'.

"Hey Kyo, tahukah kau, sebagian dana dari perayaan ini diambil dari uang Sanada-san. Jadi kami ceritanya berhutang padanya. Yah, kebodohan kami juga sih... nekat membuat acara, tapi tidak merencanakan dengan matang apabila terjadi devisit. Zaman susah, malah bikin perayaan, ahahahaha..." Tora tertawa mengingat kebodohannya.

"Kenapa kau buat acara ini?" Kyo penasaran, apakah omongan Makoto yang mengatakan acara ini untuk Yukimura bohong atau sungguhan.

"Tentu saja untuk ketua, dia telah bekerja banyak untuk Fujimori, untuk kami. Maka kami memberikan acara ini sebagai hadiah untuknya."

"Cuma karena hal itu? Tidak ada hal yang lain?"

"Iya kok! Hey Kyo, kau aneh sekali sejak keluar dari aula, ada apa sih?"

"Tidak, bukan urusanmu."

Tora manyun mendengar jawaban Kyo. Tahu begitu, dia tak usah jawab pertanyaan Kyo dari tadi.

"Katamu, dia juga ikut membiayai acara ini, dari mana dia dapatkan uang, apa orang tuanya kaya?"

"Dia orang yang biasa saja. Dia itu tipe pekerja keras. Mungkin saat ini, dia sedang kerja sambilan di suatu tempat agar cepat mendapatkan uang. Uang itu sekalian untuk biaya hidupnya dan sekolah. Duuuhhh.... niatnya ingin membuat kejutan untuk ketua, tapi malah dia yang direpotkan..."

Kyo terkesiap. 'Dia tidak pergi kemana-mana selama ini. Tetap ada di belakang mereka, mendorong dan mendukung. Aku memang tidak tahu apa-apa tentangnya... tapi berpikir buruk tentang Yukimura.'

"Kyo, Kyo... jangan bengong, tanganmu keiris bisa gawat."

'Aku salah'

-xxx-