MASK
.
CAST:
HaeHyuk (Donghae & Eunhyuk) with JO SOHYUN
.
GENRE:
Romance, Drama & Hurt
.
RATED:
M
.
WARNING!
YAOI!
SEX CONTENT!
NC!
Kehadiran Donghae yang tiba-tiba memang mengejutkan bagi kedua orang itu. Jika Siwon terkejut dengan keheranan maka berbeda dengan Hyukjae yang terkejut dengan rasa kesal yang mendidih.
Siwon berdiri. "Kau datang, Lee Donghae? Mau makan bersama?"
Mata Donghae yang sedang menatap Hyukjae beralih pada Siwon. "Tidak perlu. Aku punya jam makan siangku sendiri."
"Oh, ayolah, sobat." Siwon tertawa renyah.
Donghae mengeraskan tatapan serta ekpresinya, bahunya menengang, memperingati Siwon dengan bahasa tubuhnya.
Siwon yang memang sudah lama berteman dengan Siwon tentu tahu itu. Dia hanya mengangkat kedua tangan dengan ringisan kecil.
Donghae kembali beralih mata pada Hyukjae yang sibuk menontonnya sejak tadi, meraih tangan Hyukjae kemudian menariknya.
Hyukjae yang tidak siap dengan tarikan Donghae sedikit terjengit dan agak oleng ketika berdiri. Beruntung kakinya bisa mengimbanginya dengan cepat, tangannya yang bebas membawa barang-barangnya di meja kemudian membiarkan Donghae menariknya keluar restaurant.
Di depan sana sudah ada mobil yang biasa Donghae gunakan. Hyukjae meringis merasakan pegangan kuat Donghae di tangannya yang sudah menyerupai cengkraman.
Donghae membuka pintu penumpang. "Masuk." Suruhnya dingin.
Hyukjae tidak langsung menuruti, memiringkan posisinya sehingga bisa melihat ekpresi Donghae yang tidak bisa ia tebak.
"Donghae, kita sebelumnya sudah sepakat."
"Hyuk, hal yang paling tersulit aku lakukan adalah mengontrol emosiku sendiri." Donghae memeringati tegas, memejamkan matanya sambil menelan ludahnya dan ketika mata hitam itu terbuka benar-benar seperti akan siap meledak.
Hyukjae mendengus menyerah. Tanpa mengeluarkan protes lagi dia memasukan tubuhnya ke dalam mobil, disusul Donghae. Bahkan ketika pintu mobil berdebum karena di tutup Hyukjae tetap mempertahankan posisi kepalanya menghadap jendela.
Hyukjae melirik ketika mendengar helaan nafas berat dari samping dan melihat Donghae yang sedang menutup matanya dengan lengan di dahi. Ia bedecak pelan lalu kembali membuang wajah ke samping.
Hyukjae merasa geli dengan dirinya saat ini. Hyukjae tahu dengan jelas jika sikapnya sekarang ini sedang merajuk, seperti wanita yang biasa lakukan. Sebenarnya Hyukjae tidak terlalu mempermasalahkan kedatangan mendadak Donghae hanya saja dia merasa kesal pada Donghae yang meremehkannya dan kekhawatiran berlebihannya yang tidak beralasan bagi Hyukjae membuatnya seperti makhluk paling lemah di muka bumi ini.
…
Hyukjae hanya diam ketika Donghae meraih tangannya, kali ini dengan lembut, dan membiarkan pria itu menariknya memasuki restoran Shashimi. Dan saat mereka masuk seorang pelayan wanita sudah mendampingi mereka, menuntunnya ke ruangan yang privasi.
Pelayan membuka pintu, mempersilahkan mereka masuk dan Hyukjae hanya tersenyum sebagai tanda terimakasihnya. Melepaskan tangannya dari Donghae lalu mengambil duduk, mengabaikan Donghae yang masih betah berdiri sambil menontonnya.
Pintu ruangan kembali terbuka, kali ini dengan tiga pelayan yang membawa makanan. Setelah makanan tertata di meja, pelayan-pelayan itu pamit undur diri dengan sopan dan Hyukjae membalasnya tak kalah sopan, mengucapkan terima kasih dengan senyum ramah.
Donghae mendekat saat ketiga pelayan itu telah pergi, mengambil duduk di samping Hyukjae. Matanya terus memperhatikan Hyukjae.
"Hyuk, bicaralah." Mohon Donghae.
Donghae menyerah, di diamkan oleh Hyukjae beberapa menit saja dia tidak sanggup dan bagaimana bila dia hidup tanpa sekertaris menawannya. Sungguh, membayangkan saja Donghae tidak bisa.
Donghae meraih tangan Hyukjae, menciumi setiap buku-buku jari Hyukjae dengan lembut. "Aku tahu aku salah, jadi jangan mendiami aku lagi, sayang."
Hyukjae menarik tangannya sehingga Donghae mengangkat kepalanya. "Donghae, aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Kau membuatku seperti idiot yang lemah."
Donghae terbelalak, mengulurkan tangannya untuk meraih wajah Hyukjae, menariknya mendekat hingga dahi mereka bertemu dan ibu jarinya bergerak lembut di atas pipi Hyukjae. Donghae menggeleng pelan, menjilat bibirinya kemudian menggigitnya.
"Hyukjae sayang, jangan pernah berfikiran seperti itu. Kaulah yang terbaik, Hyuk." Bisik Donghae tepat di depan bibir Hyukjae.
"Tapi kau yang membuatku berfikir seperti itu, Hae."
"Aku bersalah. Maafkan aku, oke?" Donghae menyahut cepat.
Donghae segera mempertemukan bibir mereka, menghentikan Hyukjae yang akan bicara. Bibirnya bergerak memagut bibir atas Hyukjae dan ketika ia melihat Hyukjae memejamkan matanya yang sudah menikmati ciuman ini dirinya ikut menutup matanya.
Donghae bisa merasakan bibir bawah Hyukjae yang bergerak membalas gerakan bibirnya. Hal itu membuatnya tidak bisa menahan senyum dan membuatnya menginginkan lebih dari sekedar ciuman. Yap, Donghae tidak bisa menahannya lagi.
Tanpa melepaskan ciumannya Donghae perlahan merebahkan Hyukjae di lantai, kedua lengannya langsung menopang tubuhnya agar Hyukjae tidak tertindih. Donghae mendesis dalam ciumannya ketika tangan Hyukjae menjalar mengalungi lehernya, meremas rambutnya pelan.
Hyukjae tidak tahu bagaimana tubuhnya bisa berbaring di bawah Donghae, dengan kedua kaki yang terbuka dan Donghae yang berada di tengah-tengah. Ciuman Donghae begitu nikmat, bibir tipisnya sangat lihai memanja anggota mulutnya. Hyukjae menaikkan kaki kanannya ke tubuh Donghae, menekan kakinya dan gerakkan itu tanpa sengaja membuat kedua milik mereka bergesekkan.
Hyukjae mengerang di susul geraman keras dari Donghae. Pada saat itulah Hyukjae tersadar, jika mereka sedang berada di restaurant. Hyukjae menarik kepalanya bersamaan mata beningnya yang terbuka. Hyukjae meringis saat merasakan bibirnya berdenyut keras, pasti bibirnya membengkak.
"Sayang—"
"Donghae, ini tempat makan." Sela Hyukjae memotong ucapan Donghae.
"Tapi aku sungguh merindukanmu dan menginginkanmu."
"Ini tempat umum dan itu sangat tidak sopan jika kita keluar dan ruangan ini bau aroma seks."
"Aku bisa mengurusnya, Hyuk."
"Kau lapar dan harus makan, Hae."
"Itu oke. Aku hanya perlu menyetubuhimu dan aku akan kenyang."
Batin Hyukjae sempat mendengus tak percaya. Rasanya ingin sekali Hyukjae meninju Donghae namun ia harus menahan tangannya. Perkataannya itu melecehkannya.
"Donghae, tapi aku tidak nyaman." Hyukjae bersyukur bisa memperingati Donghae dengan rasa perhatiannya.
Tetapi sepertinya kali ini berhasil, terbukti dari Donghae yang terdiam dan mulai mengangkat tubuh dari Hyukjae setelah mendesah jengkel. Hyukjae juga ikut mendudukkan diri dan senyuman geli tidak bisa ia tahan ketika melihat ekpresi frustasi Donghae. Tentu saja itu pura-pura, agar ia tak dicurigai.
"Hyuk, jangan menertawakanku!" Seru Donghae.
Hyukjae mengulum bibirnya lalu kembali dengan duduknya seperti semula, memegang sumpit dan menyuapkan satu sasahimi yang telah jadi ke dalam mulutnya.
Donghae hanya menatap Hyukjae yang sedang makan dalam diam dengan tenang, dengan gerakkan halus dia meluruskan kedua tangannya lalu merengkuh pinggang kecil Hyukjae dan kepalanya ia sandarkan di pundak kekasih laki-lakinya.
"Hyuk, haruskah kita membuat percakapan? Kau sepertinya masih marah padaku." Donghae bergumam tepat di telinga Hyukjae.
Hyukjae tersenyum simpul. "Benarkah? Hm, sedikit, jika kau ingin tahu."
"Ayolah, sayang, bukan hanya kau saja yang marah disini." kata Donghae dengan nada merajuknya.
Hyukjae memutar bola matanya sambil mendengus malas.
"Lee Hyukjae." Donghae mendesis melihat respon yang diberikan oleh sekertaris seksinya.
"Apa?" Tantang Hyukjae, suaranya terdengar kuat.
Baiklah, Donghae menyerah. "Fine, Hyuk. Aku takkan membatasi jadi tanyakan apa yang mau kau tahu!" katanya jengkel.
Hyukjae agak memiringkan tubuhnya menghadap Donghae, menunjukan keseriusannya saat ini. "Hae, sungguh—" Hyukjae menjilat bibirnya sejenak. "Kenapa kau sangat khawatir pada Siwon?"
Donghae terperangah sebentar sebelum mendapatkan kembali kesadarannya. "Aku bukan mengkhawatirkannya tapi kau, Hyuk. Siwon itu predator mengerikan. Hampir dari semua sekertarisku pernah dia tiduri."
Hyukjae terdiam cukup lama. Mulutnya spontan menyebutkan nama seseorang membuat Donghae mengeryit tak suka. "Yoona?"
"Ya, dia sudah menjadi mantan Siwon sejak lima bulan yang lalu." Sahut Donghae dingin.
Hyukjae menghela nafas panjang dan melemaskan tubuhnya yang entah kapan menenggang. Katakanlah ini terkejut. Dia tidak pernah menyangka kenyataan ini sebelumnya dan entahlah mengapa sedikit perasaan khawatir pada Yoona. Mungkin karena perempuan itu baik padanya sejak awal kedatangannya.
Donghae menjauhkan dirinya dari Hyukjae. "Kau mengkhawatirkan Yoona?" tanyanya penuh selidik dan… amarah.
Oh no, Hyukjae mulai merasakan hawa tak mengenakkan dari atasan panasnya. "Ya, tentu saja iya, Hae."
"Sekertaris Lee." Peringat Donghae dengan tajam menggunakan posisi mereka.
"Fuck it." Umpat Hyukjae tanpa suara.
"Kau benar-benar, sir." Geram Hyukjae. "Yoona perempuan baik tentu aku khawatir, aku juga terkejut mendengar tentang hal itu dan dari semua itu hanya rasa kepedulian manusiaku. Itu saja, Lee Donghae."
Hyukjae yakin jika dirinya sedang mabuk makanya dia berani memanggil nama lengkap Donghae. Jujur saja dia sudah sangat jengkel dengan posesif menyebalkan bossnya.
Donghae mengerutkan area mulutnya, menahan semua kemarahan untuk pacar prianya. Membuang wajahnya begitu juga dengan nafasnya lalu kembali menatap wajah yang akhir-akhir ini ia puja. "Baiklah, aku tidak mau kita bertengkar lagi." Katanya menyerah.
Begitupun dengan Hyukjae. dia juga langsung menenangkan dirinya pendengar perkataan Donghae. "Ya, lalu?"
Hyukjae hanya ingin mengembalikan suasan yang sebelumnya dan memusnahkan hawa panas pertengkaran mereka.
"Yeah, dia biseks, Hyuk, sama sepertiku tapi dia lebih dulu daripada aku. Dia punya pacar laki-laki dan pacarnya itu juga temanku. Jadi, bisa dikatakan kami bertiga itu ada dalam ruang lingkup pertemanan yang sama."
"Oh my god!" Hyukjae berseru. "Donghae, ini lebih mengejutkan."
"Aku tahu ini sangat sulit dipercaya untuk orang lain tapi inilah kenyataannya, sayang." Donghae membasahi bibirnya, memfokuskan mata dan seluruh pikirannya pada Hyukjae. "Aku mempunyai perbedaan sedikit dengannya. Kalau pacar asliku seorang wanita dan kau yang berkelamin laki-laki sebagai selingkuhanku maka Siwon keterbalikannya. Pacar aslinya adalah seorang pria dan selingkuhannya semuanya adalah wanita. Kau mengerti maksudku, kan?"
Hyukjae hanya bergumam dengan kepala yang mengangguk.
"Dan aku tahu arti tatapannya padamu. Itu tatapan tertarik, dia menyukaimu, Hyuk." Lanjut Donghae yang sepertinya emosinya kembali keluar karena mengingat kejadian saat meeting tadi.
"Tapi aku tidak menyukainya, Hae." Tekan Hyukjae dengan jelas.
"Hyukjae, kau tidak tahu betapa mengerikannya dia." Donghae menggeram frustasi. "Oke, pembicaraan selesai. Kau bisa mengganti topik."
Hyukjae membuang nafas dari hidungnya, menahan rasa kesalnya. "Ceritakan padaku kenapa kenapa Siwon bisa putus dengan Yoona."
Donghae mengeryit sesaat lalu melemaskan pundaknya. "Seperti kataku tadi. Yoona tahu bahwa dia hanya selingkuhan dari seorang gay. Dan aku yakin itu pasti menyakiti harga dirinya sebagai wanita." Donghae menjeda sebentar untuk mendengus geli. "Yah, itu sangat keterlaluan. Selingkuhan dari seorang gay, bukankah lebih baik menjadi orang ketiga di rumah tangga orang daripada selingkuhan seorang gay?"
Donghae mengeryit melihat Hyukjae yang terdiam. Cukup lama dia menyadari maksud keterdiaman Hyukjae. bibirnya langsung mengatup dengan tangan yang terulur meraih tubuh Hyukjae ke pelukannya.
…
Ketika Donghae menghentikan mobil, supir Jung sudah berdiri di depan pintu utama gedung, menanti kehadian tuannya. Pria paruh baya itu bergegas membukakan pintu untuk tuannya.
"Terima kasih." Gumam Donghae.
"Sama-sama, Tuan."
Donghae hanya tersenyum melihat supir Jung sedikit membungkuk padanya. Tanganya mengibas di udara, mengatakan pada supir Jung untuk jangan terlalu sopan dan formal padanya.
Donghae berputar ke depan melewati kap mobil lalu membukakan pintu untuk Hyukjae yang agak terkejut. Membantu Hyukjae turun dari mobil, berputar kembali ke kap mobil kemudian menarik masuk ke dalam kantornya sendiri.
Donghae yang tampan dan panas itu tersenyum pada setiap pegawainya yang memberi hormat padanya. Mengabaikan sosok androgini yang sedang merasa risih dan mencoba melepaskan genggaman tangannya.
Hyukjae menghela nafas. Setiap dia mencoba melepaskan pegangan Donghae dari tangannya yang ada tangan besar itu semakin kuat cengkramannya. Ia masih terus mengikuti kemana langkah Donghae memimpin. Kepalanya menunduk dalam dan hanya bisa menerima dengan pasrah begitu setiap mata yang memandang ke arah mereka dengan kerutan.
…
Yoona tampak terkejut saat Hyukjae dan Donghae memasuki ruangan. Dengan sigap wanita cantik itu berdiri dan membungkuk hormat.
"Presedir Lee, Jaksa Cho Kyuhyun sedang menunggu dan sudah di dalam ruangan."
"Thanks, Yoona." Donghae tersenyum lebar. Sepertinya kemarahannya sudah melebur.
Hyukjae juga tersenyum. Baru ingin menyapa lagi-lagi bossnya menariknya untuk mengikutinya menuju ruangannya.
Hyukjae memanjangkan tangannya ke depan, meraih pintu lebih dulu dan membukakan untuk Donghae. Bagaimanapun mereka tengah di kantor dan Hyukjae harus kembali ke posisinya.
"Danke, babe." Donghae mengedipkan sebelah matanya yang berhasil memunculkan semu merah di pipi putih Hyukjae.
Di tengah-tengah ruangan disana. Lebih tepatnya di sofa, sosok jangkung berambut ikal cokelat sedang duduk tegak bak bangsawan. Menjelaskan keeksistensiannya. Sosok yang di sebutkan Yoona tadi memang bukanlah main-main. Siapa yang tidak kenal dengan sosok tersebut.
Ya, Cho Kyuhyun. Jaksa muda yang terkenal cekatan dalam menghadapi kasusnya. Dan hampir sebagian kasusnya adalah para penjahat penjabat tinggi di Korea Selatan dan eksekutif-eksekutif perusahaan yang bermain kotor dengan uang. Tak jarang banyak yang meminta jaksa muda itu menjadi bagian dari beberapa orang yang mengincar aman namun citranya selalu bersih.
Dan kehadirannya disini cukup membuat Hyukjae bertanda tanya. Mungkinkah jaksa itu sedang menyelidiki perusahaan ini yang artinya bisa membantunya meruntuhkah Lee Donghae.
Belum sedetik Hyukjae merasa senang dan detik selanjutnya pupus harapannya dengan jaksa itu. Melihat bagaimana akrabnya mereka berdua yang saling melempar senyum dan menyapa layaknya teman.
"Hei, apa kabar, dude?" Donghae menyapa, khas laki-laki saat bertemu. Melepaskan pegangannya kemudian mendekati Kyuhyun yang telah berdiri karena suaranya.
Mereka berpelukan ala bersaudara sejenak.
"Baik. Seperti yang kau lihat." Jaksa Cho tersebut merentangkan tangannya sembari mengedikkan bahu.
Donghae merendahkan tubuh dan akhirnya bokongnya menyentuh sofa. Lidahnya bergerak melontarkan pertanyaan. "Bagaimana liburanmu di Swiss?"
"Sangat menyenangkan." Sahut Kyuhyun. Ikut duduk kembali di sofa seperti Donghae. "Dan aku bertemu dengan Kibum. Dia menanyakan kabarmu dan kukatakan jika kau baik-baik saja."
"Well, itu bagus. Kudengar Kibum akan pulang ke Korea." Donghae melipat satu kakinya di atas kakinya yang lain.
"Benar. Mungkin malam ini dia akan tiba." Jawab Kyuhyun, kemudian menyeruput teh yang disediakan oleh pegawai Donghae.
"Jadi?"
Kyuhyun berdecak lalu meletakan cangkir teh di atas meja. "Wah, Donghae, kau sangat kaku sekali. Sifat to-the-point yang kau miliki tak pernah berkurang."
"Dan mulut keperempuanmu semakin cerewet."
"Kurang ajar kau!"
Donghae mendesah malas. Sudut matanya menyadari Hyukjae masih berdiri di sampingnya membuat Donghae mengerutkan dahinya. "Kenapa masih disitu? Kemarilah, duduk di sampingku." Suruh Donghae sambil menepuk-nepuk sisi sofa yang kosong.
Hyukjae ingin menolak namun Donghae kembali memancarkan kilatan mutlak membuat Hyukjae mengiyakan saja. Memutari sofa lalu duduk di samping bossnya.
Kyuhyun menatap Donghae seakan berucap 'Siapa', mengisyaratkannya menggunakan lirikan yang mengarah pada Hyukjae.
"Sekertaris pribadiku."
Merasa dirinya yang diperkenalkan, Hyukjae mengangguk sopan pada Kyuhyun yang dibalas anggukan singkat juga oleh jaksa muda tersebut.
"Apa?" Donghae mengerutkan lagi dahinya, kesal dengan tatapan menyelidik Kyuhyun yang ingin tahu. "Langsung saja. Jadi, bagaimana?"
Sekali lagi, Kyuhyun melirik Hyukjae dengan keterdiamannya membuat Hyukjae yang sebagai sasaran tak enak hati, sedikit canggung.
"Tenang saja, dia aman." Donghae mengibaskan tangannya.
Telah terkonfirmasi dan Kyuhyun mempercayai itu karena Donghae sendiri yang bilang. "Kupikir cukup aman."
Donghae menaikan alisnya. "Cukup aman?" Punggungnya agak menunduk, meletakkan kedua tangannya di atas lutut, dan membiarkan wajahnya bertumpu pada jari-jarinya yang bertautan. Siap mendengarkan penjelasan Kyuhyun.
"Ya, High Company cukup aman. Mereka baru saja melunasi hutangnya pada Seoul Central Bank yang menyebabkan menurunnya harga saham namun sekarang sudah kembali stabil. Dan hutang pajak mereka pada pemerintahan seperempat persen lagi lunas jadi kupikir cukup aman."
Tingkat keseriusan pembicaraan mereka naik. Dan itu jelas terdengar dari nada suara Kyuhyun keluarkan, begitu luwes, tegas dan meyakinkan.
"Cho Kyuhyun, aku akan berinvestasi jutaan won jadi tidak ada kata 'cukup aman' dan aku mau itu harus 'benar-benar aman'."
"Donghae, kenapa investasi ini sangat penting bagi mereka karena mereka membutuhkan modal untuk menutupi hutangnya pada pemerintahan." Jelas Kyuhyun. Jaksa muda itu menyandarkan punggungnya di sofa lalu menyilangkan dua tangannya di dada dan melipat kaki kanannya di atas kaki kirinya. "Aku yakin kau bisa membuat perjanjian yang menguntungkan, itu pilihanmu. Aku hanya orang hukummu."
Hyukjae melirik dua pria ketegori hebat itu secara bergantian, sebelum pada akhirnya matanya jatuh di Donghae. Boss panasnya itu masih terdiam dengan wajah datar dengan kadar dingin dan keseriusannya tak menurun.
Sejujurnya, Hyukjae terkejut bukan main. Dia kira seorang Cho Kyuhyun datang kemari karena memiliki konflik dengan perusahaan yang Donghae pimpin tetapi setelah mendengar percakapan mereka barulah ia mengerti. Dan sekarang baru ia ketahui bahwa perusahaan Donghae yang berhasil menggaet jaksa muda tersebut sebagai firma hukumnya.
Perusahaan Donghae bukanlah perusahaan ecek-ecek yang artinya tidak mudah digoyahkan. Terbukti dari bersihnya dia bermain dan siapa yang memegang hukum di kantornya.
Hyukjae juga tidak bisa menahan matanya dari jaksa muda di depannya, ketampannya tidak kalah dari Donghae. Rambut hitamnya dengan style poni ke atas, membentuk jambul membuat kesan berwibawa di tubuh tingginya, yang pasti lebih tinggi dari bossnya.
Hyukjae tersentak saat merasakan remasan di pahanya. Ia segera menoleh dan mendapati wajah tak bersahabat boss panasnya. Ohh, tertangkap basah memerhatikan Kyuhyun dan itu bukan hal yang bagus.
"Baiklah, aku akan mengurusnya." Nada Donghae terdengar dingin.
Kyuhyun mengangguk mendengar jawaban Donghae. Kemudian meraih tasnya dan mengeluarkan dua berkas dari sana, meletakannya di meja. "Ini data-data yang kau pinta."
"Thanks, Kyu. Kau bisa pergi sekarang." Sekali lagi Donghae menjawab tanpa melihat lawan bicaranya.
"Boss, dia tamumu." Hyukjae berbisik pada Donghae dengan gerakkan bibir saja.
"Kau mengusirku?" Kyuhyun menyipitkan sebelah matanya, tersinggung dengan kalimat terakhir temannya.
"Sampaikan salamku pada Kibum." Donghae menatap Kyuhyun sebentar walau akhirnya matanya kembali fokus menyorot Hyukjae.
Kyuhyun memandang dua rekan kerja tersebut dengan heran, keberadaanya terabaikan dan akhirnya pria itu mengerti. Jaksa muda itu menghela nafas panjang lalu berdiri. "Oke, aku pergi. Selesaikan permasalahan intim kalian." Sindirnya dengan ketus.
Kyuhyun berjalan keluar sambil menenteng tas kerja. Jujur, dia kesal diabaikan. Lihat saja pembalasannya pada Lee brengsek itu.
Hyukjae tergagap, merasa jika posisinya yang disebutkan oleh Kyuhyun tadi. Ia berdiri dan membungkuk sekilas sebagai sikap sopannya. Hyukjae sempat menahan nafas ketika lengan Kyuhyun membuka pintu, memperlihatkan punggung tegap jaksa tersebut. Dia sedikit kagum dan iri tentu saja. Jaksa itu mempunyai proposi tubuh yang sempurna untuk pria.
Hyukjae terlonjak, tangannya ditarik dan membuat dirinya kembali duduk. Dia menelan ludah. Ketakutan mulai muncul setelah melihat wajah boss yang juga pacarnya siap menghancurkan batu. Keras, dingin dan tajam.
"Kau tertarik padanya?"
Mata Hyukjae mengambang, kilasan bayangan Kyuhyun yang ia kagumi terlintas. "Ya, dia sangat panas."
Senyum kecil yang sempat tersemat di bibirnya menghilang tergantikan tubuhnya yang menegang. Kelopak Hyukjae berkedip cepat setelah menyadari kesalahannya, dengan gugup dia memperbaiki ucapannya. "Ya, dia—maksudku, secara genetik Jaksa Cho menarik."
Donghae mengetatkan garis bibirnya.
"Aku hanya berpendapat, sir." Hyukjae menghadapkan telapak tangannya ke atas di sisi tubuhnya. Bahasa tubuhnya seakan berbicara, 'Aku tidak mengatakan yang salah'.
Donghae memejamkan matanya kemudian bangkit dan melangkah menuju meja kerja miliknya. Memilih untuk tidak dibahas, kepalanya rasanya mau pecah.
Hyukjae mengambil berkas yang diberikan Kyuhyun di meja. Tersunggut-sunggut mengikuti Donghae. "Dasar tukang ngambek." Gerutunya.
Donghae yang sudah duduk di kursi mendelik ke seketaris androgininya, tidak terima mendengar seperti ejekan di telinganya. "Kemari. Berdiri di sampingku." Suruhnya dingin yang pas dengan ekpresinya saat ini.
Hyukjae bergegas menurutinya. Menggerakan kakinya dan berhenti tepat di samping kursi atasannya yang pecemburu, seperti ucapannya tadi.
Donghae merebut berkas dari tangan Hyukjae dan agak di banting ke atas meja. Lalu, menarik pinggul kekasih prianya hingga terduduk di atas kakinya, menyamping dari tubuhnya.
Kedua lengan kekar Donghae terlipat erat di pinggang Hyukjae, menempelkan wajahnya pada bahu Hyukjae. "Aku tidak bisa marah padamu atau mengabaikanmu lebih dari semenit."
"Kau marah padaku?"
"Ya. Dan jika emosiku yang tadi digabungkan dengan saat ini maka jawabannya adalah sangat marah."
Hyukjae tersenyum mendengarnya, kepalanya merunduk untuk mengecup bibir Donghae membuat pria itu tegak dalam duduknya.
"Masih marah padaku?"
"Kau memohon maaf lewat ciumanmu tadi?"
"Ya." Hyukjae mengulum bibirnya, bermaksud menggoda bossnya.
Donghae melemaskan pundaknya, mengikuti permainan seketaris perubah seksualnya. "Aku akan memafkanmu jika ciumanmu lebih basah dan intim." Donghae mengakat alisnya, memberikan tawaran yang hebat menurutnya.
Hyukjae mendengus. "Dasar pencemburu ulung, pangeran seks-ku."
Seringai muncul di sudut bibir Donghae setelah mendengar kembali julukannya keluar dari bibir tebal hyukjae.
Hyukjae melingkarkan dua tangannya di leher Donghae. Kepalanya mendekat ke wajah Donghae, mempersempit jarak hingga akhirnya bibir mereka menempel sempurna dan saling memagut. Ciuman yang lebih intens, basah, bergairah dan lebih dalam tentunya.
Donghae yang pertama menyudahi ciuman mereka.
"Sir, bolehkah aku bertanya?" Hyukjae mengeluarkan suara manjanya. Tangannya masih memeluk leher Donghae, mengelus lembut di bagian belakang leher pria jantan itu.
"Jika kau ingin bertanya tentang si Cho gila itu maka lupakan." Donghae menjawab, agak sinis.
Hyukjae merengut jengkel. "Dengarkan aku dulu. Aku belum bertanya."
Donghae menyerah. Menghela nafas lalu menjawab dengan malas. "Oke, tanyakan."
"Cho Kyuhyun—maksudku, Jaksa Cho itu, dia temanmu?"
"Kenapa? Kau minta untuk aku kenalkan?" Lirikan tajampun tak bisa terhindar begitu mendengar pertayaan Hyukjae yang mempunyai maksud lain.
"Dengarkan aku dulu." Hyukjae meringis sebal. "Bukankah dia jaksa? Kenapa dia bisa menjadi firma hukummu?"
Donghae bengong sebentar. Bibirnya mengalun tawa rendah yang seksi. "Penasaran seperti biasa, Seketaris Lee."
"Oke, lupakan. Tidak usah di jawab." Ketus Hyukjae.
"Dasar tukang ngambek."
Hyukjae mendelikan mata, tak terima. Barusan Donghae membalikan kata-katanya sepuluh menit yang lalu.
"Kyuhyun yang dijuluki jaksa muda bertalenta itu adalah temanku. Dia memang seorang jaksa tapi merangkap sebagai pengacaraku."
Hyukjae mengangguk mengerti. Tampak puas karena jawaban sang boss namun ekpresi itu tidak bertahan lama. Rasa haus ingin tahu kembali tercetak di wajahnya. Dengan takut-taku ia menatap ke mata hitam pacaranya dan sepertinya Donghae mengizinkannya kembali bertanya.
"Aku dengar tadi kalian menyebut nama Kibum. Apa itu Kibum yang itu? Yang kau katakan padaku tadi pagi tentang pacar Siwon?"
"Ya." Donghae menyahut enteng.
Hyukjae terdiam keget. Bibirnya melipat kedalam kemudian berseru takjub. "WOW!"
Pria jantan itu hanya terkekeh, gemas dengan reaksi yang pria-nya tunjukkan.
"Apa pekerjaanya? Si Kibum itu?" Hyukjae kembali bertanya, kali ini menggunakan suara yang berbeda. Nadanya terdengar seperti… menantang.
"AKu tidak sabar melihat ekpresi kagetmu lagi." Donghae menyeringai licik, mungkin pamer. "Dia seorang produser."
Mata Hyukjae terbelalak.
"Produser film dan drama."
Sekarang mulutnya ikut melebar terbuka.
"Hebat! Perkumpulan anak kolongmerat!" Hyukjae berdecak kagum.
"Kau—Lee Donghae si pemilik Lee Group, perusahaan kontruksi terbesar. Choi Siwon si CEO Department Store dari Hyundai Group, kemudian Cho Kyuhyun si jaksa terhebat di Korea Selatan dan sekarang Kibum si produser film dan drama. Tidak bisa kubayangkan." Hyukjae tidak mampu berkedip. Mata beningnya menilik dalam Donghae, seakan sedang melihat seisi dunia di dalam diri boss panasnya.
Donghae hanya tersenyum, bahunya mengangkat naik menjelaskan dia tidak bisa berkomentar apapun. Ia mengambil salah satu berkas dan memulai bekerja.
Hyukjae meredakan diri dari fase tentang kenyataan-pergaulan-Lee-Donghae dan ikut meraih berkas, tapi ini berkas yang tadi di bawa Kyuhyun. Mengeryit saat membacanya. Di kertas itu hanya berisikan nama-nama beserta jabatan dan nomer rekening. "Berkas apa ini?"
Donghae melirik sejenak lalu kembali dalam bacaanya. "Nama-nama tikus pencuri keju di kantorku."
"Korupsi?"
"Bingo!" Donghae berseru. Penanya bergerak menandatangani lalu menutup berkas kemudian membuka berkas lain.
Hyukjae manggut-manggut mengerti. "Kau akan menangkapnya?" Melirik bossnya yang serius bekerja dan sialnya menambah ketampanan wajahnya berlipat.
"Tentu saja."
"Dan memecatnya?"
"Tergantung."
"Tergantung?" Hyukjae mengeryit dalam, heran.
Donghae menutup berkas dan menaruhnya di meja. Setelahnya, memberikan fokus untuk sekertaris menawanya.
"Tergantung dengan kondisi mereka. Aku harus mendengar alasan mereka. Aku tidak mungkin membuat mereka benar-benar jatuh dan kehilangan segalanya, aku tidak sejahat itu. Aku menimbang dari sefatal apa kesalahan mereka dan disitulah peranku bermain."
"Aku masih tidak mengerti." Hyukjae berujar ragu-ragu. Secuil timpul rasa curiga.
"Mereka memanfaatkan keuntungan kantor untuk diri mereka masing-masing dan keuntungan mereka akan aku manfaat untuk keuntungan diriku sendiri. Sudah mengerti?"
"Kurasa iya." Hyukjae tidak puas. "Tetapi bukankah itu terlalu jahat?"
"JIka mereka bermain angka dan kertas padaku maka aku akan bermain dengan aturan dan kekuasaanku. Itu setimpal."
"Oke, aku mengerti."
Hyukjae meletakan map itu dan matanya tertarik pada map satunya yang juga di berikan Kyuhyun. Belum sempat ia buka Donghae lebih dulu menyambarnya. Kecurigaan mulai muncul di benaknya, artinya dia memiliki kesempatan untuk menjatuhkan pria itu.
"Berkas apa itu?"
Donghae mengedikan bahunya. "Hanya data internal perusahaan lain."
"Yang Jaksa Cho bicarakan?"
"Nggg." Donghae mendengung, kemudian menaruh berkas itu di tumpukan berkas yang telah dia tanda tangani.
Gerakan pria itu sangat natural sehingga Hyukjae tidak bisa membedakan apakah itu berkas rahasia atau bukan. Bahkan, bossnya berlagak santai dan bukan perkara besar saat menjawabnya.
"Bukankah itu melanggar hukum?"
Donghae menoleh, bibirnya tersenyum lembut dan mengelus sekitar mata Hyukjae yang sedikit menghitam. "Kau tampak lelah."
Hyukjae terdiam dan kalimat itu tepat sasaran. Terlihat jelaskah?—pikirnya.
"Aku hanya kurang tidur." Sahut Hyukjae sambil menurunkan tangan Donghae dari wajahnya.
"Tidurlah di sofa sebentar. Aku tidak mau kelelahan."
Hyukjae tampak berpikir. Tawaran Donghae sangat menggiurkan. Dia memang susah tidur karena stress memikirkan rencananya dan juga kebimbangan hatinya dan itu membuat kepalanya mau meledak.
"Baik, aku akan memasang alarm, sir." Setuju Hyukjae, berdiri dan berjalan menuju sofa. Berniat tidur hanya tiga puluh menit.
Hyukjae mengeluarkan ponselnya dan tak lama kembali memasukan ke dalam sakunya setelah menyetel alarm. Merebahkan tubuh kurusnya, satu tangannya menjadi bantalan kepalanya dan satunya lagi ia taruh menutupi wajahnya, mata beningnya yang indah perlahan menutup. Dan disaat mulai terlelap tanpa sadar dia menukuk naik kaki kirinya.
Donghae menggeleng seraya tersenyum lebar. Tingkah sekertarisnya itu lucu di matanya. Hyukjae tidur membuatnya bisa lebih konsentrasi untuk bekerja dan bisa menyelesaikan kerjaannya dengan cepat.
…
Hyukjae terlonjak. Merasa tubuhnya terangkat dan jiwanya tertarik, memaksa dua matanya terbuka. Denyutan-denyutan nyeri mulai menggerayangi kepalanya ketika dia mencoba duduk, mungkin ini akibat terbangun karena terkejut.
Setelah bangun karena terkejut sekarang matanya terkejut melihat jam. Tepat setengah jam lagi sudah masuk ke jam pulang kerja. "Shit!" umpatnya hampir menyerupai seruan. Niatnya tidur tiga puluh menit malah menjadi tiga jam.
Hyukjae menoleh ke samping dan mendapati Donghae sedang bertumpu dagu menatapnya sambil menahan senyuman geli dari meja kerjanya.
"Sudah bangun sekertaris malas-ku?"
Donghae memang tampak bersahabat tetapi suaranya terdengar dingin membuat Hyukjae gugup dan terpojok. Sial, citra baiknya telah jelek dan itu karena perbuatannya sendiri.
"Sir, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melunjak setelah kebaikanmu. Aku berniat tidur tiga puluh menit dan tidak tahu bahwa aku benar-benar ketiduran." Hyukjae sadar jika penjelasannya sangat berantakan. Dia sungguh-sungguh karyawan yang mengecewakan.
Donghae bangkit dari kursi jabatannya. "Hei, sayang, aku tahu. Aku yang mematikan alarm-mu." Katanya sembari memutari meja dan menyenderkan bokongnya di tepi meja.
Hyukjae terdiam dengan bengong. "Kau melakukannya?"
"Ya."
"Kenapa?"
"Karena kau kelelahan." Donghae melipat tangannya di dada. "Anggap saja itu nilai plus dariku."
"Lalu, haruskan aku berterima kasih juga?"
"Ya. Berterima kasih dengan plus juga tentunya."
"Bagiamana caranya?"
"Kau mengerti maksudku, bae." Donghae menyeringai, matanya memandang Hyukjae dengan pandangan hanya-mereka-yang-dewasa-yang-mengerti.
Hyukjae hanya merengut, kesal. Setelah mengerjainya dan membuat imej-nya buruk boss panasnya masih berani meminta hal-hal yang tak senonoh padanya.
"Ohiya, satu hal lagi, penampilan terbaikmu selalu saat baru bangun tidur, Sekertaris Lee. Sangat seksi apalagi bibir kissable milikmu yang paling terbaik."
Hyukjae memaksa tersenyum kemudian berdiri. "Terima kasih, sir."
Donghae memiringkan kepalanya ke satu sisi, kedua bahunya terangkat naik. "Welcome, mr. Lee."
Hyukjae mendengus malas, lalu berjalan menuju pintu dengan tangan yang sibuk membenahi rambutnya yang acak-acakkan. Pada saat dia keluar dia melihat Yoona seperti biasa, sibuk menyeleksi berkas sebelum sampai ke tangan Donghae.
"Hai, Yoona."
Gadis itu hampir akan melompat dari kursinya sebelum mendongak.
"Oh, hai, Hyukjae oppa." Yoona tersenyum lebar, namun tak lama dahinya mengeryit dalam setelah menyadari penampilan Hyukjae. "Kau terlihat muka bantal."
Hyukjae mengulum bibirnya, telapak tangannya menangkup pipinya. Pasti wajah bangun tidurnya terlihat jelas. "Yeah, aku sedikit mengantuk." Bohongnya.
"Benar, kau terlihat lelah." Gadis cantik itu mengangguk menyetujui. "Kau baik-baik saja?"
"Tentu saja." Sahut Hyukjae agak melengking. "Boleh aku melihat jadwal presedir Lee?"
Teringat tujuan utamanya kemari. Memang untuk mencocokan jadwal Donghae. memang Yoona yang bekerja lebih berat darinya. Sebelum masuk ke Hyukjae dan Donghae, wanita itu yang harus lebih dulu menyaringnya dan Hyukjae sedang berusaha belajar sedikit-sedikit agar Yoona tidak terbebani.
Yoona membuka laci lalu menyodorkan sebuah tab padanya. Sungguh baik wanita itu, bahkan dia sudah menyusun lebih dulu. Hyukjae berniat berterima kasih dengan mentraktirnya minum kopi kapan-kapan.
"Terima kasih, Yoona. Maaf menyusahkanmu." Kata Hyukjae penuh penyesalan.
Pipi wanita itu memerah, dengan malu-malu menyelipkan helai panjang ke belakang telinga. "Tidak apa-apa, anggap saja itu bantuan. Ngomong-ngomong, selamat ya atas diskusi dengan Choi Grup."
Rasa simpati menghigap di hati Hyukjae. Tidak bisa ia bayangkan jika tadi Yoona yang harus berdiskusi dengan Siwon. Pasti wanita itu akan terluka bertemu kembali dengan mantan pacarnya.
Hyukjae tersenyum lembut. Tiba-tiba saja dia mau menggap jika Yoona itu adalah adiknya. "Terima kasih. Itu juga berkatmu."
"Apa ada perubahan jadwal?" Tanya Hyukjae dengan mata yang sibuk mengamati tabel-tabel jadwal atasannya dari hari ke hari. Jari-jarinya sibuk bergerak di atas layar persegi tersebut.
"Ya. Pihak Taegook Group membatalkan pertemuan lusa dan beberapa tambahan jadwal untuk minggu depan."
Hyukjae mengangguk mengerti mendengar penjelasan Yoona.
Yoona bergumam sebentar. "Hmm, oppa." Panggilnya lirih.
"Ya." Hyukjae menyahut. Matanya tetap terpaku pada tab di tangannya.
"Malam ini kau sibuk?"
Berhasil. Hyukjae mengangkat kepala, kelopak matanya berkedip saat menatap Yoona yang sedang menahan gugup.
"Mau menonton film denganku?"
Itu ajakan kencan. Hyukjae tidak bodoh untuk mengerti maksud wanita itu. Mulutnya setengah terbuka, menandakan kekagetannya.
Yoona membuang wajah sejenak sebelum kembali menatap Hyukjae. Jari cantiknya yang berkutek mengusap lehernya. "Maksudku, aku dapat dua tiket bioskop dari temanku dan aku tidak punya pasangan, jadi aku mengajakmu." Jelasnya dengan terbata-bata.
Jujur, Yoona takut dengan anggapan Hyukjae kepadanya. Dia sudah mati-matian membuang gengsi dengan dirinya lebih dulu mengajak kencan.
Hyukjae berkedip lagi. "Itu—"
"Yoona."
Sebuah suara dingin menginterupsi Hyukjae. Keduanya menoleh bersamaan. Disana, tak jauh dari mereka Donghae berdiri dengan wajah dingin tanpa senyum.
Atasan yang hampir di akui keseksiannya itu oleh seluruh pegawai wanita itu jalan mendekat dan berhenti tepat di samping Hyukjae.
"Please, bisakah kau antarkan berkas ini ke bagian perancangan?" pinta Donghae, tangannya terulur ke depan dengan tumpukan map.
Buru-buru Yoona mengambil alih map-map tersebut lalu bersuara dengan tergagap-gagap. Dia masih mengingat suasana hati bossnya yang buruk pagi tadi. "Ba-baik, Presedir."
Donghae tersenyum namun alisnya mengkerut melihat Yoona yang belum mengambil langkah satupun. "Yoona, aku mau sekarang." Pria itu masih berusaha lembut, mencoba menekan amarahnya.
Yoona nyaris menjerit mendengarnya. "Ya, sekarang. Permisi, Presedir." Yoona menyempatkan membungkuk sebelum mengambil langkah seribu menjauh, map-map itu ia peluk erat.
Ketika Yoona menghilang dari balik lift, Hyukjae langsung menghadapkan tubuh ke arah kekasihnya yang pemarah dan pencemburu. "Kenapa kau tidak menyuruhku saja?"
"Aku maunya dia. Yoona itu sekertarisku."
Sahutan enteng dari Donghae membuat kepala Hyukjae berdenging. Alarm-alarm agar dia tidak meledak berbunyi keras. "Aku juga sekertarismu." Suaranya nyaris menyerupai geraman.
Rahang Donghae mengeras, sudut bibirnya berkedut. Merasa tersinggung dengan kalimat Hyukjae yang terasa menghinanya. Donghae berusaha menstabilkan pernapasannya juga pemikirannya.
"Dan kau serius ingin berdebat denganku karena hal ini?" Donghae mendesis, tanpa membuka mulut dan gigi terkatup rapat.
Hyukjae mendesah berat. "Donghae, Yoona yang lebih sering berkerja dibandingkan aku. Dan saat ini kau mengabaikan fakta bahwa aku habis tidur dan tetap menyuruh perempuan itu yang sejak tadi sibuk setangah mati karena berkas-berkas untukmu."
"Dia berkerja untukku dan itu juga termasuk pekerjaanya."
Hyukjae diam, kakinya mundur satu langkah. "Donghae, sebenarnya ada apa denganmu?" tanya dengan rasa frustasi yang kental. Ia tidak mengerti sikap berlebihan pria itu sejak pagi.
"Aku marah, Hyuk! Aku marah karena dia berani mengajakmu berkencan!" Donghae membentak.
Hyukjae membuka mulut, terperangah. "Kau sungguh kekanak-kanakkan, sir." Kagetnya menggunakan nada menyindir.
Itu kalimat terakhirnya sebelum meninggalkan Donghae untuk kembali ke ruangan Donghae guna mangambil ponselnya. Namun, Donghae masih di tempat ketika dia keluar. Hyukjae sengaja memperlambat kakinya, ingin mendengar balasan Donghae tetapi pria itu tetap bungkam dengan mata yang menatapnya penuh emosi.
Hyukjae telah memberikan kesempatan tapi bossnya sepertinya masih tidak mau bicara. Jadi, pria androgini itu benar-benar meninggalkan Donghae di sana sendirian. Ia menekan tombol lift dan menunggu pintu beso terbuka dengan jengkel.
Sementara itu, Donghae terlihat memejamkan matanya. Mulutnya mengeluarkan erangan berat. Dengan langkah besar-besar, Donghae mengejar Hyukjae yang telah masuk ke dalam lift. Ia berhasil masuk sebelum pintu lift tertutup sempurna dan langsung menyudutkan tubuh Hyukjae ke pojokan.
Donghae menahan kedua tangan Hyukae di sisi kepala. "Kau mau mengabaikan aku lagi?"
Hyukjae masih bertahan menutup mulutnya dan itu menguji kesabaran Donghae.
"Kenapa seharian ini kita di penuhi pertengkaran." Desah Donghae frustasi.
Kesabaran Lee Donghae habis. Tanpa babibu, bibirnya menyerang bibir Hyukjae. Tidak ada kelembutan di ciuman itu. Hyukjae masih tetap pada pertahanannya. Tidak bersuara ataupun merespon bibirnya.
Donghae berhenti tanpa menjauhkan wajah. Nafasnya memburu, entah menahan emosi atau menahan hasrat gairahnya. Mata hitamnya melirik ke atas sudut lift yang terdapat CCTV, Hyukjae mengikutinya sesaat dan pandangan Donghae kembali pada mata kekasih prianya yang masih terbuka nyalang.
"Bicaralah atau aku akan memperkosamu disini."
Ancaman Donghae berhasil menggoyahkan mata Hyukjae. Pria androgini itu tampak bergetar menahan ketakuan.
Hyukjae menurunkan matanya. "Aku mau pulang." Bisiknya.
Donghae tersenyum kecil, mengecup kilat bibir pria-nya lalu merubah posisi berdiri menjadi di samping Hyukjae. Lengannya terseman di pinggul sekertaris pria-nya. "Aku akan mengantarmu."
"Dan aku tidak menerima penolakan dalam bentuk apapun." Sela Donghae sebelum mulut Hyukjae membuka protes.
…
"Oke, Kibum-ahh. Aku akan menyusul nanti. Sampai ketemu."
Donghae mematikan sambungan panggilan hampir bersamaan dengan Supir Jung menghentikan laju mobil, tepat di depan gedung apartemen Hyukjae.
"Terima kasih, supir Jung."
Donghae melirik ke samping dan melihat pacar prianya sedang membuka pintu lalu keluar. Donghae buru-buru memasukan ponselnya ke saku jas dan mengejar Hyukjae, menahan pergelangan tangan kurus itu.
"Kau masih marah padaku?"
Hyukjae tertawa mengejek. "Of course not."
Donghae menghela nafas, kakinya maju satu langkah mempersempit jarak keduanya. "Aku tahu aku keterlaluan tapi itu semua karena aku takut kehilanganmu. Jadi, mengertilah." Lirihnya dengan memohon.
Donghae mengecup dahi Hyukjae, pria dominan itu hanya tersenyum melihat keterdiaman sosok di depannya. "Good night, bae." Sekali lagi Donghae mencium dahi Hyukjae sebelum meninggalkan Hyukjae yang masih terpaku, memasuki mobil mewahnya.
Hyukjae tertegun. Tangannya mengepal erat, menolak pemikiran jika dia merasa tersentuh secara emosional dan menahan perasaanya yang bergetar karena goyah.
Hyukjae menyudahi ketidakwarasannya dan mengabaikanya, besok dia pasti kembali seperti semuala. Namun begitu ia membalikan badan, tubuh kurusnya terpaku. Tegak dan tegang.
"Sohyun-ahh." Sebut Hyukjae untuk dirinya sendiri. Terkejut melihat sosok yang muncul dari balik tiang penyangga gedung apartemennya.
Sohyun tersenyum dan Hyukjae yakini bahwa wanita itu memaksa tersenyum. Hyukjae juga hanya bisa tersenyum melihatnya sekaligus menyambut pelukan dari Sohyun.
Sohyun menjauhkan kepalanya tanpa melepaskan tangannya di pinggang Hyukjae. "Oppa, mau menonton film?"
Hyukjae ikut memluk pinggang Sohyun, bahunya terangkat naik. "Oke, aku yang bayar."
"Nice! Dengan satu popcorn jumbo." Sohyun tertawa dan Hyukjae tak tahan mengelus rambut wanita itu dengan sayang.
…
Donghae menggeram, nyaris dia mau membanting ponselnya ketika suara operator dan bukan suara Hyukjae. Ini sudah lima belas menit sejak masuk jam kantor namun sekertaris ondrogininya belum juga menampkan wajah.
Pagi tadi saat Donghae menjemputnya satpam yang berjaga disana mengatakan jika Hyukjae sudah berangkat pagi-pagi sekali namun pas dirinya sampai di kantor dan bertanya pada Yoona jika kekasih prianya belum sama sekali ada di kantor.
Donghae menggeram. "Sial!" umpatnya begitu suara operator yang kembali terdengar. Tangannya mencengkeram erat ponsel.
Donghae bangkit dari duduknya, berjalan menuju pintu ruangannya berada. Ketika dia membuka pintu Yoona berjengit dan langsung berdiri dengan ketakutan. Wanita itu pasti ketakutan melihat wajahnya dan dia sadar itu. Salahkan saja emosinya yang sudah di ujung batas kendalinya.
"Yoona, apa kau tidak tahu keberadaan Hyukjae? Dia belum menghubungimu atau memberi kabar?"
Donghae langsung mengerang begitu Yoona menggeleng kaku, satu tangannya memijat pelepisnya.
Lift berdenting, menandakan ada yang datang.
Donghae dan Yoona dengan kompak menoleh dan mendapati sosok yang sedang mereka bicarakan datang.
"Sialan! Dari mana saja kau, Lee Hyukjae?!" Donghae tak dapat mengontrol suaranya. Bentakannya menggelegar ke seluruh ruangan. Bahkan, Yoona sampai mengkerut takut.
Begitupun Hyukjae. Pria kurus itu sama takutnya dengan Yoona hanya saja dia harus melawannya.
Hyukjae membungkuk dalam. "Presedir, maaf atas keterlambatanku."
Donghae terperangah. Ia tahu bahwa pria terkasihnya tidak benar-benar menyesal, hanya nada suara yang dibuat menyesal yang artinya pura-pura menyesal. Baiklah, Hyukjae yang meminta untuk bermain peran maka dia akan menyanggupinya.
"Maaf? Kau pikir dengan kata 'maaf' bisa menarik kesalahanmu?" Donghae berkacak pinggang, memulai peran sebagai boss disini. "Dengan kata 'maaf' apa bisa menarik pandanganku tentang kau yang tidak berkompenten dalam pekerjaan ini?"
Hyukjae mengepalkan tangannya. Mata beningnya memerah dan berkaca-kaca dengan pandangan yang menusuk. Dia merasa terhina akan ucapan atasannya dan marah, entah untuk alasan apa tetapi mendengar Donghae yang memarahinya membuat hatinya sakit.
"Aku tahu dan sangat berterima kasih padamu karena suksesnya penandatanganan kontrak dengan Hyundai Group dan sekarang kau merasa besar kepala karena hal itu?"
Hyukjae terhenyak. Tertohok dengan ucapan Donghae yang seratus persen salah karena sesungguhnya karena hal pribadi. Dia akui itu salah tapi setelah mendengar kemarahan Donghae dia tidak akan mengakuinya.
Donghae mengedip, menggambarkan ketidakpercayaanya pada apa yang barusan dia katakan. Dia terbawa emosi juga perannya sampai tidak sadar akan perkataanya, bahwa kata-katanya menyakiti pria-nya.
Donghae membuka mulutnya seperti akan mengatakan sesuatu namun suaranya tidak keluar. Lalu, dering ponselnya mampu menjadikannya pengalihan sempurna.
"Lee Donghae." Sahutnya setelah ponselnya tertempel di telinga. Matanya terus menyorot Hyukjae yang telah membuang wajah, tidak mau menatapnya.
Donghae tidak berhenti mengutuk ketololannya yang bisa kelepasan dan bukan alih-alih meredakan kemarahan sekertaris androgininya malah menambah kemarahannya.
"Ya, aku akan datang." Donghae menurunkan ponselnya.
Donghae sengaja diam sebentar berharap Hyukjae memandanganya dan mengatakan sesuatu namun Hyukjae masih tetap pada pertahanannya. Dengan gigi yang bergemeletuk pria kekar tersebut berjalan menuju lift.
Hyukjae menghela nafas setelah keberadaan Donghae yang hilang. Ia tahu bahwa tidak boleh seperti ini karena bagaimanapun juga ini adalah keputusannya. Dirinya sengaja pergi saat pagi-pagi buta untuk berolahraga dan mandi di sauna. Dia melakukan itu semua agar tidak bertemu Donghae.
Hyukjae ingin membuktikan bahwa dirinya tidak lemah dan tidak di bawah kontrol pria itu. Namun, mendengar perkataan Donghae terlebih lagi sikap atasannya padanya membuat perasaanya ikut terbawa. Ini salah dan terasa lucu baginya.
Hyukjae menghela nafas. Menyempatkan tersenyum pada Yoona yang menatapnya khawatir kemudian menyusul Donghae yang sudah berada di dalam lift dan sedang menahan tombol penahan pintu. Hah, setelah berlaku kasar padanya bahkan boss pencemburunya masih menunggunya.
Keadaan masih mencengkam di dalam kotak berjalan tersebut. Dua pria itu masih menutup rapat mulut dan berdiri tegak dalam ketengangan. Donghae memang mencuri-curi pandang pada Hyukjae namun pria kurus itu masih bertahan pada ekpresi datarnya.
Dan helaan nafas lebih keras keluar dari bibir tipis Donghae melihat Hyukjae yang meninggalkannya begitu saja kerika lift terbuka. Jika tidak mengingat hubungan tersembunyinya Donghae mungkin sudah memecat Hyukjae karena berani mendahuluinya dan meninggalkannya. Tapi itu tidak mungkin Donghae lakukan.
Selama melewati loby, Donghae berpikir keras bagaimana membujuk Hyukjae dan membuatnya mau berbicara kembali padanya. Ya, rangkaian-rangkaian rencana tergambar di otaknya, ketika Hyukjae duduk di sebelahnya maka dia akan merayu dengan bisikan-bisikan lembut. Bahkan, dia mengabaikan seluruh sapaan para pegawainya karena terlalu fokus berfikir.
Supir Jung menyambutnya dengan mobil yang terparkir di pintu loby utama , menunggunya sambil membuka pintu belakang penumpang. Awalnya, Donghae pikir rencana berjalan lancar tetapi nyatanya tidak. Seiring langkahnya mendekat semakin pula matanya membesar, keherenan melihat Hyukjae yang bukannya masuk ke pintu yang telah dibukakan Supir Jung tetapi memutar ke depan mobil, ke arah samping kemudi.
"Hyukjae—"
"Jangan bicara padaku."
Donghae hanya mampu menelan suaranya dan menutup rapat mulutnya, setelahnya Hyukjae benar-benar duduk di kursi samping kemudi.
Donghae menggeram. Kedua tangannya mengepal erat dengan dahi yang mengkerut dalam. Pria kekar itu marah, sangat marah.
Jika saja supir Jung pegawai baru dia akan bergetar ketakutan tetapi pria paruh baya itu bukanlah orang yang baru berkerja pada Donghae satu atau dua hari tetapi sudah bertahun-tahun. Jadi, itu adalah hal yang biasa saat bossnya emosi.
Supir Jung mendorong pintu mobil begitu tubuh atasanya telah masuk dan duduk di dalam mobil. Supir Jung bergegas mengisi kursi kemudi lalu menjalankan mobil. Sejujurnya, ia sedikit tidak nyaman dengan suasana menyeramkan seperti ini namun sepertinya dua sosok yang ia asumsikan tengah bermasalah dan saling menutup mulut jadi hanya diam satu-satunya pilihan yang supir Jung bisa lakukan. Lagipula dirinya memang terkenal tak banyak omong, kan?
…
Pintu besar aula tersebut terbuka. Para eksekutif-eksekutif yang menghadari rapat mulai keluar dari ruangan tersebut satu persatu. Ada yang menggerutu, ada yang terlihat puas dan adapula dereksi yang tidak terlalu peduli dengan hasil rapat barusan selama dirinya aman.
Donghae mengerang sembari melemaskan punggungnya pada kursi, ibu jarinya dan telunjuk memijat pelan pelipisnya dengan mata yang tertutup. Mengistirahatkan diri sejenak dari rapat memuakan yang telah usai.
Semula, mata bening itu hanya melirik kecil sebelum pada akhirnya wajah yang bisa terlihat tampan dan cantik bersamaan menoleh sempurna. Hembusan nafas yang berat keluar dari Hyukjae yang melihat betapa kelelehan bossnya itu, seakan dirinya bisa merasakan beban Donghae.
Jelas saja Donghae sangat kelelahan dan stres. Atasannya itu harus memutar otak untuk mengeluarkan pikiran-pikirannya, membuat para dereksi yang menentang jalannya rapat tersebut harus bersependapat dengannya. Rapat barusan sangat menguras otak beserta energi.
Bibir tebal Hyukjae terbuka, akan mengatakan sesuatu namun matanya menangkap sosok lain membuatnya menutup kembali bibirnya, yang berjalan menghampiri mereka dan lebih tepatnya Donghae.
"Donghae."
Donghae sedikit terlonjak. Mata hitamnya terbuka bersamaan berdiri dari kursi dan Hyukjae ikut berdiri juga. "Oh, Kangin hyung."
"Terima kasih telah datang ke rapat ini, Lee Donghae." Pria gemuk bernama 'Kangin' itu tersenyum canggung seraya mengelus belakang lehernya. "Uhm, dan terima kasih juga sudah membantuku, berada di pihakku."
Donghae mengulas senyum kecil di wajah lelahnya. "Tidak apa-apa, hyung. Lagipula aku juga pemegang saham di sini jadi itu sudah menjadi kewajibanku dan lebihnya aku hanya di pihakmu."
"Yeah, sungguh dari hatiku yang tulus aku sangat berterimakasih padamu." Kangin agak tergagap saat mengatakannya.
"Santai sedikitlah, hyung."
"Dan maaf jika dulu aku pernah tidak suka denganmu."
"Ya, itu masa lalu dan aku sudah melupakannya." Donghae tersenyum tulus dan mau tak mau menularkan senyuman di bibir Kangin.
Hyukjae memang tidak tahu apa yang sedang mereka berdua bicarakan dan apa yang sebenarnya terjadi di masa lalu namun mendengar percakapan mereka ia bisa menebak jika hubungan mereka berdua tidak sebagus sekarang ini dahulu dan Kangin juga menyesal. Hyukjae ikut tersenyum melihat senyum Donghae yang sungguh-sungguh seperti tersenyum seperti normal lainnya.
Dan lubuk hatinya mulai meragukan dendamnya dan sikap Donghae yang terkadang berubah-berubah membuatnya bingung. Mungkinkah dia selama ini salah paham mengenai kematian sang kakak namun tidak bisa dipungkiri batinnya tetap yakin jika penyebab utama kematian Sora adalah pria yang saat ini masuk ke dalam perangkap busuknya.
Tetapi, di tempat yang lebih kecil di hatinya, di jauh lubuk hatinya yang terdalam, Hyukjae menyukai senyum Donghae. Menyukai ketika bibir tipi situ tersenyum padanya, mata hitam itu menatapnya dan tubuh kekar itu bereaksi akan tubuhnya. Hyukjae menyukai itu, di tempat yang sangat kecil di hatinya.
Hyukjae tersedak liurnya sendiri begitu Donghae menengok ke arahnya. Pria androgini tersebut harus menanggung malu karena tertangkap basah memerhatikan boss—salah, maksudnya pacarnya di saat dirinya sedang merajuk. Dan, dia lebih benci lagi melihat senyum geli terpampang di wajah yang Hyukjae akui tampan itu.
"Baiklah. Jangan lupa untuk datang makan siang nanti, Donghae."
Donghae mengalihkan matanya, kembali melihat Kangin. "Uhm, maaf, aku tidak bisa datang, hyung." Ucapnya menggunakan nada penyesalan.
Pria bertubuh gempal itu diam sejenak. "Ya. Ya, Donghae, tidak apa-apa. Kau memang membutuhkan istirahat dan kau tampak kacau. Sangat kacau kuralat."
"Thanks untuk perhatianmu. Tapi ada hal yang mambuatku kacau seperti ini." Donghae berucap sambil melirik Hyukjae diakhir kalimatnya, bermaksud menyindir.
Dan, sosok yang menjadi target sindiran hanya mencebikan bibir dengan mata yang mendelik malas.
"Oke, aku duluan." Kangin memberi pamit. Tak lupa berpelukan sebagai symbol pesahabatan. "Kalau kau butuh sesuatu panggil saja karyawanku."
Donghae tersenyum tipis. "Ya, tapi sepertinya tidak perlu. Karena aku membutuhkan hal lain."
Kangin mengerut heran, tetapi dia buru-buru menepis pemikiran anehnya dan undur diri dari aula yang kosong tersebut. Meninggalkan presedir dan sekertaris itu berdua.
Begitu Kangin pergi, atasan seksi tersebut mengubah posisinya menjadi membelakangi meja dan menyandarkan bokongnya di sana. Mata hitamnya tidak lepas dari Hyukjae yang salah tingkah berhadapan dengannya.
Donghae berdehem. Sengaja melakukannya untuk memancing kekasih laki-lakinya. Ia berharap Hyukjae akan mengulurkan lengannya, memelukanya erat dan menyodorkan bahunya untuk bersandar saat ini, karena dia sangat lelah. Namun, keinginanya hanya sebuah keinginan.
Sekertaris androgininya tetap menutup rapat mulutnya. Berdiam diri hanya sebagai batas sikap menghargainya sebagai boss, menunggu atasan.
Donghae menengadahkan kepalanya ke langit-langit aula seraya mengehela nafas keras. Emosinya kembali mendidih dan terasa mencengkiknya. Donghae mengendurkan simpul dasinya, berdiri tegak kemudian melangkah besar-besar dan tegas keluar dari ruangan, melewati lorong-lorong menuju lift berada.
Hyukjae bergegas mengikuti bossnya di belakang, kaki kurusnya sedikit berlari agar mengimbangi langkah Donghae. Ia tahu Donghae tidak berniat menunggunya jadi sebelum pintu lift tertutup Hyukjae harus berlari agar tak tertinggal. Beruntung, dia masuk lift tepat waktu berkat tubuh kurusnya. Dan, lift tertutup.
Hyukjae mengintip pria kekarnya dari pantulan pintu besi tersebut. Bossnya hanya berdiri tegak, matanya memandangi punggungnya dengan tajam.
Angka-angka merah di layar kecil di atas lift terus mengecil, menandakan lantai yang kotak besi tersebut lewati. Dan bagi Hyukjae dari lantai tiga puluh ke loby sangat lama dan menakutkan tentu saja.
Akhirnya, di lantai dua pria kurus itu menyerah. Tidak tahan dengan kebisuan suasana.
"Uhm, sir, aku merekam sepanjang rapat tadi dan aku akan menyerahkan berkas-berkas rapat besok." Suara Hyukjae melirih, nyaris berbisik dan tidak akan terdengar ke telinga Donghae jika tidak menggema di dalam rauangan kotak terbatas itu.
"Hanya itu?"
"Ng?" Hyukjae berdengung, memutar tubuhnya hingga menghadap Donghae.
"Hanya itu yang kau ucapkan?"
Lift bedentin dan pintu membelah terbuka. Belum sempat Hyukjae menjawab Donghae berjalan meninggalkan sekertarisnya yang masih mencerna ucapannya.
Pria androgini bergegas mengejar Donghae lagi yang sempat melamun. Aslinya menyatu, wajahnya yang menawan tampak bingung, masih belum mengerti maksud ucapan boss panasnya.
Donghae melepaskan dasinya begitu juga dengan jas hitamnya. Menggulung dua lengan kemeja hitamnya sebatas siku setelah membuka kancing di pergelangan tangan. Dan pemandangan itu terkesan menggairahkan di tubuh Donghae yang kekar dan sangat sempurna untuk wajah tampannya.
Hyukjae menganga melihatnya, bayangan dada telanjang Donghae yang menghalangi pandangannya ketika seks mereka berkeliaran di otaknya. Dia bisa saja melupakan segala hal jika saja tidak tidak mendengar jeritan kecil dari wanita-wanita di sana.
Tanpa sadar membuat pria kurus itu mendesis tajam melihat bagaimana para wanita mentapa liar ke arah pacar lelaki miliknya, hanya milik Hyukjae. Cukup bersyukur bossnya tidak membuka kancing teratasnya yang bisa memperlihatkan dada bidangnya pada semua wanita-wanita genit di sana.
Seperti biasa, supir Jung sudah siaga di depan loby gedung dengan kendaraan kebanggannya. Kurang dari lima langkah, supir Jung membuka pintu belakang, mempersilahkan Tuannya.
Donghae melempar jas dan dasinya yang ia lipat berantakan ke mobil. Baru sedetik pantatnya menyentuh jok kursi pria tampan itu kembali mengeluarkan diri dan menutup pintu mobil.
Donghae berkacak pinggang di depan kedua pria beda usia tersebut, yang sama-sama heran.
"Apa jadwal selanjutku?"
Hyukjae mengedip, buru-buru membuka tabnya. "Karena kau menolak undangan makan siang hari ini jadi kau bebas sampai pulang, sir."
"Great!" Ekpresi Donghae tidak menggambarkan kepuasan seperti ucapannya tadi. Dia tiba-tiba merogoh saku celana, meraik ponselnya dan ibu jarinya bermain sebentar di atas layar datar tersebut sebelum akhirnya mendekatkan di telinga.
"Halo, Yoona, ini aku Donghae." Donghae melempar matanya pada Hyukjae dan supir Jung yang masih menatapnya penuh tanda tanya.
"Aku akan mengambil libur untuk hari dan kemungkinan akan terlambat datang besok. Jadi, letakan saja berkas-berkas itu di mejaku." Donghae mengulum bibirnya sebelum tersenyum tipis. Ketika akan mematikan sambungan matanya menangkap wajah Hyukjae dan membuatnya teringat alasan pertengakarannya kemarin.
"Uhm, kau juga boleh meliburkan diri. Kau sudah bekerja dengan sangat keras, Yoona."
Batinnya bersorak girang melihat mimik tertegun Hyukjae. "Welcome, Yoona. Nikmatilah waktumu." Setelahnya, dia mematikan telpon.
"Supir Jung—" bibir tipis ia basahi dengan lidahnya. Donghae agak memiringkan tubuh ke supir Jung. "Aku minta maaf tapi bisakah kau pulang dengan taksi? Aku memberimu libur juga untuk hari ini."
"Tentu saja, Tuan." Supir Jung menyahut cepat.
"Terima kasih."
Supir Jung membungkuk dan Donghae juga ikut mebungkuk. Sehabis itu supir Jung pamit dan berjalan menjauh dari sana.
Sekarang, Donghae bisa fokus sepenuhnya pada Hyukjae. Donghae membuka pintu penumpang yang ada di depan. "Masuk." suruhnya bossy, seperti biasa.
Donghae menuntun Hyukjae masuk, tubuhnya membungkuk untuk memakainkan sabuk di tubuh Hyukjae.
"Donghae, kita mau kemana?"
Mulut Hyukjae terkatup sempurna begitu Donghae membungkamnya dengan ciuman, menghisap kuat kedua belah bibirnya. Tanpa memikirkan dimana mereka berada dan siapa yang melihat.
"Aku sudah tidak tahan lagi, Hyuk." Menggeram, pria seksi itu membanting pintu mobil hingga tertutup.
Donghae berjalan memutar ke depan kap mobil, masuk ke stir kemudi lalu menjalankan roda bermesin tersebut.
…
Hyukjae mengintip Donghae yang masih mengemudi dengan tenang. Bibirnya terbuka lalu tertutup lalu terbuka lagi, dia terlalu ragu untuk bersuara. "Kita mau kemana, Hae?"
Dahi Hyukjae mengeyit halus ketika bola matanya melihat penanda jalan menunjukan ke arah keluar Seoul.
Donghae menoleh, mengulurkan telapak tangannya untuk mengelus pipi Hyukjae. "Kau tidurlah. Perjalanan kita akan lama dan jauh dari Seoul." Sesekali matanya melirik ke depan, memastikan jarak aman dengan kendaraan lain.
Hyukjae agak ragu sejenak sebelum mengangguk lemah. Selain dia percaya pada bossnya juga mata dan tubuhnya sudah remuk rasanya. Belakangan ini ia harus bergadang karena membagi waktu dengan Sohyun dan selalu berpergian saat malam hari hingga subuh.
Donghae tersenyum puas melihat sekertarisnya menurut dan menyamankan posisi duduknya. Ia menarik tangannya dari wajah Hyukjae guna meraih ponselnya, mengotak-ngatik kontaknya sebelum menspeaker panggilan.
"Paman Seung!" Donghae berseru begitu telponnya di angkat.
"Tuan Donghae?"
"Oh, hai, Hongcheol. Ini aku Donghae."
"Ya, Tuan. Mohon maaf tetapi kakek sedang di belakang."
"Tidak apa-apa. Tolong katakan pada paman Seung bahwa aku akan datang sekarang dan dalam sedang perjalanan."
"Baik, Tuan."
"Oke, terima kasih, Cheol-ahh."
Mesipun Hyukjae terpejam telinganya tetap mendengar dengan jelas percakapan Donghae barusan. Dan ia merasa senang mendengar suara Donghae yang senang dan riang yang tanpa sadar membuatnya tersenyum.
…
Hyukjae merasa tubuhnya berguncang menyebabkan mata yang masih mnengntuk mau tak mau terbuka. Ketika penglihatannya telah sempurna ia menyadari jika mobil yang ditumpanginya telah berhenti dan terparkir di—entahlah, dari dalam tampak seperti halaman taman.
Saat kepalanya menoleh ia bisa melihat senyum indah Lee Donghae yang menatapnya dengan hangat. Kepalanya berbantalan pada tangannya yang menempel di atas kursi dan tubuhnya miring menghadap Hyukjae.
"Maaf, apa aku menganggu tidurmu?"
Hyukjae menahan senyum mendengar permintaan maaf tak tulus tersebut. "Hm, sebenarnya ya."
"Tidurlah lagi. Aku akan menikmati wajahmu dari sini."
Hyukjae tersenyum miring. "Tarif pemandangan wajahku cukup mahal, sir."
Donghae tidak menjawabnya. Lelucon yang Hyukjae lontarkan cukup membuatnya melipat bibirnya ke dalam, menahan gelak tawa.
"Kita sudah sampai?" Tanya Hyukjae begitu sadar. Matanya mengedar melihat sekitar dari dalam mobil.
"Ya, keluarlah."
Hyukjae begegas mengikuti Donghae yang telah keluar. Begitu tubuh kurusnya keluar dan menapak dia bisa dengan jelas merasakan aroma air laut dan mendengar suara deburan obak dengan samar.
Mata beningnya dengan takjub melihat pemandanngan sekitar, taman yang tidak terlalu kecil dan tidak terlalu luas, sangat pas. Pohon-pohon mungil tertanam di balik pagar kayu putih, tubuh mengikuti garis pagar dan beberapa pot bunga tersebar apik yang ikut menghias taman tersebut dan rumput hijau yang pas melapisi.
Di tengah-tengah taman ada meja lumayan besar dengan bentuk lingkaran, membayangkan moment barbeque sambil kumpul keluarga dan di pinggir-pinggir taman tersedia bangku-bangku kecil yang cocok untuk membaca buku ditemani suasana laut dan di pojok halaman ada ayunan rotan yang tergantung langsung dari pohon. Taman ini sangat indah dan terawatt.
Dan jika melihat rumah yang mendukung pemandangan taman ini sangat cocok. Rumah minimalis yang sederhana berwarna putih dengan bahan kayu yang sesuai dengan suasana laut dan pastinya akan nyaman.
"Paman! Bibi! Hongcheol!" Donghae berteriak.
Donghae menautkan jari-jarinya pada Hyukjae lalu menariknya, menaiki tiga tangga kayu dan berdiri di depan pintu yang kayu berwarna putih juga.
Tak lama pintu tersebut terbuka. Hyukjae berpendapat bahwa mereka berkeluarga, tiba-tiba keluar dan menyambut mereka.
Donghae melepaskan genggamannya agar bisa memeluk kakek yang masih terlihat segar bugar dan kuat di usia tuanya. "Halo, Paman."
"Donghae, kau datang." Balas sang kakek. Suaranya rendah, serak dan bergetar.
Donghae bergantian memeluk sosok perempun yang tidak tau tapi tidak muda. Wajahnya lembut keibuan. "Halo juga, bibi."
"Donghae, aku merindukanmu." Sosok perempuan itu mengelus kepala Donghae sangat lembut.
Donghae menjauh, bibirnya mengulas senyum lalu melemparkan pandangan pada remaja laki-laki disana.
Bodah itu membungkuk. "Selamat datang, Tuan Donghae."
Donghae mendengus malas kemudian mengusa-ngusak rambut bocar itu. "Jangan kaku padaku, Cheol-ahh. Panggil aku 'hyung'."
"Baik, hyung." Ucap bocah itu dengan kaku. Panggilan itu sangat asing di lidahnya.
Menyadari pandangan ketiga sosok yang ia anggap seperti keluargnya itu mengarah pada Hyukjae buru-buru Donghae memperkenalkannya.
"Dia Lee Hyukjae, seketaris pribadiku."
Hyukjae membungkuk. "Hai, aku Lee Hyukjae. sekertaris pribadi presedir Lee." Ujarnya dengan gummy smile yang menjadi pesonanya.
"Silahkan." Kakek atau yang Donghae panggil paman Seung tersebut mempersilahkan tuan dan tamunya.
Hyukjae mengikuti langkah Donghae, berjalan di samping pria itu. Mulutnya menganga lebar setelah melewati pintu, dinding-dinding lorong yang menghubungankan dengan ruangan utama terbuat dari kaca, warnanya biru dan didalamnya terdapat banyak ikan yang berenang indah. Gila, ini akuarium. Dan sesaat Hyukjae merasa berada di sea world.
Donghae terkekeh melihat wajah kaget pacar lelakinya. Kepalanya sengaja merendah dan mulutnya tepat di samping telinga Hyukjae. "Wajah kagetmu sangat menggemaskan, sayang."
Hyukjae agak berjengit lalu berhenti berjalan. Matanya melebar antusias melihat ikan-ikan di dalam sana. "Donghae, ini sangat menabjubkan."
Ucapan tanpa sadar Hyukjae menimbulkan kernyitan dahi bagi ketiga orang di belakang mereka. Bukankah terlalu lancang memanggil nama atasanmu sendiri?
Donghae ikut memandangi ikan-ikan tersebut. "Ayahku, sangat menyukai Sea World jadi aku berpikiran kenapa tidak membuatnya di rumah." Bibirnya tersenyum kecil saat melihat seekor nemo berenang tepat di depannya.
Hyukjae melongo mendengar jawaban Donghae. "Yeah, orang kaya memang berbeda dalam menghabiskan uang mereka." Gumamnya.
Senyuman Donghae meluntur, bibirnya berubah menjadi satu garis lurus. Kurang yakin pada apa yang telinganya dengar barusan.
Hyukjae langsung mengatupkan bibirnya. Tersadar apa yang ia katakan. Tanpa sadar dia menunjukan kebenciannya melalui ucapannya. "Kau selalu memikirkan keluargamu." Ralatnya dengan senyuman yang meyakinkan.
"Bukankah kau juga begitu?"
Hyukjae terhenyak. Memori-memori saat keluarganya masih lengkap berputar di otaknya. Saat ibunya mengomelinya setiap pagi karena terlambat bangun atau menganggu kakaknya yang sedang belajar. Saat Sora merajuk dan menangis karena ayahnya lebih sering membeli mainan laki-laki.
Dan masa-masa tersebut selalu indah bagi Hyukjae hingga sangat menyakitkan jika diingat.
"Sayang, kau baik-baik saja? Kenapa menangis?" Donghae bertanya tak sabaran. Terkejut melihat Hyukjae yang tiba-tiba menangis.
Donghae segera meraih bahu Hyukjae membuat kesadaran pria kurus itu kembali. Buru-buru mengelap air matanya yang jatuh.
Hyukjae menggeleng lalu berujar lembut. "Aku tidak apa-apa."
Donghae diam, tidak percaya sesaat sebelum melepaskan tangannya dengan helaan nafas. Ujung matanya menyadari keberadaan ketiga sosok yang mengikutinya dari tadi dan menonton kejadian barusan. Donghae yakin pasti ketiga orang itu sedang kebingungan diisi kepalanya.
"Paman, bibi, dan Hongcheol, kalian tidak perlu mengantarku karena aku akan mengawal sekertaris super penasaranku. Kalian bisa melanjutkan kegiatan kalian." Donghae berujar. Berusaha menghapus pikiran aneh dari tiga orang terkasihnya.
Meski penasaran, ketiga orang tersebut hanya bisa mengiyakan ucapan Donghae. Karena bagaimanapun juga Donghae adalah majikannya dan mereka harus menurutinya.
Paman Seung yang pertama kali bersuara, berhasil melawan kebisuannya. "Baiklah kalau begitu. Bersenang-senanglah selama disini, Donghae."
Donghae tersenyum mendengar suara penuh kasih sayang Paman Seung dan pengertiannya seperti dulu-dulu. "Baik, paman. Terima kasih semuanya."
Ketiganya langsung pamit pergi setelah uacapan Donghae. Sementara Donghae dia di tempat, menonton tiga sosok itu keluar melewati pintu dan benar-benar keluar dari rumah ini. Tidak ada maksud lain selain ia hanya tidak mau meresahkan Hyukjae dengan ketakutan hubungan mereka dan ia juga ingin Hyukjae nyaman dan menikmati waktu mereka.
"Paman?"
Donghae menoleh dan bibir Hyukjae terlukis senyuman geli. Donghae mengangkat bahu, mengerti pertanyaan pacar androginya tertuju untuk siapa. "Waktu kecil dulu Paman Seung masih muda dan aku sudah terbiasa sampai sekarang dengan memanggilnya seperti itu."
Hyukjae berkedip, tertarik mendengar cerita Donghae dan berharap bossnya dengan senang hati mau menceritakan.
Donghae mendesah. Menangkap sinyal-sinyal penasaran Hyukjae. "Knowing-every-particular-object. Kau selalu seperti itu."
"Aku sadar itu." Hyukjae merengut, tidak berusaha menyangkal.
"Paman Seung dulu adalah orang kepercayaaan ayahku dan dia mempunyai anak perempuan yaitu Bibi Seung dan istrinya sudah lama meninggal. Seung Hongcheol adalah cucu Paman Seung dan anak Bibi Seung."
"Lalu, kemana ayah Hongcheol?"
"Ayah Hongcheol seorang pelaut oleh karena itu setiap tiga bulan sekali dia baru pulang."
Hyukjae menggigit bibirnya. "Pasti Hongcheol sangat merindukan ayahnya." Gumamnya prihatin.
Donghae mengusap sayang kepala Hyukjae. Pria-nya selalu menunjukan kekhawatirannya pada siapa saja dan itu membuat Donghae semakin ingin melindunginya.
"Petualanganmu mau dilanjut?" Tawar Donghae yang membuat semnagt Hyukjae terbakar kembali.
"Tentu saja!" Hyukjae berseru, sangat bersemangat.
Donghae tersenyum lalu menggenggam tangan Hyukjae. Menariknya masuk menuju ruangan utama.
Ketakjuban Hyukjae tidak berhenti disana. Dia pikir rumah ini minimalis, sederhana dan hanya satu tingkat tapi begitu masuk pikiran itu terbantahkan semua. Begitu melewati pintu tersebut isi rumah ini begitu mewah dan elegan dengan warna putih yang mendasar.
Dan ruang keluarga dibuat menurun dua tangga dengan bentuk persegi, seakan menjelaskan bahwa disana tempat untuk berkumpul, berbincang dan bersantai. Sofa-sofa disana sangat menggiurkan untuk diduduki, terlihat sangat nyaman dan empuk.
Ketika mata Hyukjae mengedar lebih luas maka sebagian besar rumah ini di pisahkan dengan pintu kaca yang menghubungkan dengan luar. Hyukjae tertarik untuk menggeser pintu tersebut namun minatnya tertuju pada rak-rak foto yang menyambung dengan akuarium besar tadi, bedanya hanya jika di lorong berbentuk kaca datar maka disini dibuat berbentuk seperti balok persis lemari penyimpanan foto.
Bibir Hyukjae mengulas senyum melihat deretan-deretan bingkai yang diisi oleh keluarga Donghae tersebut. Orang tuanya benar-benar mengabadikan setiap moment pertumbuhan anak-anaknya. Ada foto saat mereka bayi, balita, kanak-kanak, remaja bahkan saat dewasa.
Ketertarikan Hyukjae berhenti pada pigur foto bocah kira-kira berumur tujuh tahun. Bocah itu tersenyum polos dengan lebar dan mata hitamnya seakan ikut tersenyum, menunjukan peace sign ke arah kamera.
"Ini kau?" Tanya Hyukjae, telunjuknya menunjuk ke bingkai tersebut.
"Hm, ya." Donghae mengelus lehernya sambil tersenyum malu. Bibirnya mencebik pelan. "Sesungguhnya aku tidak mau kau melihatku saat kecil."
"Kenapa? Kau lucu dan imut."
Donghae meringis kemudian menggeleng. "Kupikir tidak."
Hyukjae merengut sambil menggeleng, tidak setuju dengan pemikiran sang boss.
"Mau lihat kamarku?" Tawaran Donghae kembali mengalihkan perhatian Hyukjae.
Hyukjae mengangguk dan secepat kilat Donghae kembali menggenggam tangannya, menariknya menaiki tangga yang menuju lantai dua. Dan di pintu berwarna biru ia berhenti, membuka pintu tersebut.
Hyukjae mendahului Donghae. berjalan-jalan melihat isi kamar yang kontras berbeda dengan ruangan sebelumnya. Ini terlihat lebih sederhana.
"Aku tidak mengubah banyak kamar ini. karena di kamar ini memori kecilku tertuang." Jelas Donghae.
"Ahh, seperti itu." Hyukjae mengangguk mengerti. Ini alasan kenapa kamar ini tidak semewah di lantai bawah tadi.
Mata bening Hyukjae lagi-lagi terpaku pada foto lengkap keluarga Donghae. Mereka tampak bahagia dan harmonis, seperti keluarganya dulu. Cukup lama pria androgini itu terpaku pada gambar tersebut sebelum ujung matanya menangkap boneka nemo di sudut ranjang mungil tersebut.
"Nemo? Punyamu?" Suara Hyukjae penuh kegelian, meledek bossnya lewat pertanyaan.
Donghae melotot, kakinya berlari mendekati sekertarisnya dan akan merebut boneka tersebut namun Hyukjae lebih cepat darinya dengan menyembunyikan di belakang tubuhnya.
Donghae menghembuskan nafas, kaki kekarnya berjalan mundur. "Sayang—itu sungguh hal yang memalukan untuk aku ceritakan."
"Aku mau mendengarnya." Serobot Hyukjae.
Donghae terdiam sebentar, membuang muka ke samping. "Hadiah dari hyung-ku di umur ke-25."
"Itu terlalu tua di umur segitu mendapat hadiah boneka." Komentar pria paras menawan tersebut.
"Aku tahu, jadi, jangan tertawa." Peringat Donghae tapi telinga merahnya berbanding balik dengan suaranya. "Aku sudah cukup malu menceritakanya, oke?"
Sebagai ganti tertawa Hyukjae malah tersenyum, tak bertahan lama memang. Tiba-tiba teringat Sohyun dan membayangkan Donghae bersikap sama seperti ini. Itu cukup membuatnya murung dan dia tahu betul bahwa itu salah.
Hyukjae memeluk nemo lalu duduk di pinggir ranjang. "Apa pacarmu pernah kemari?"
Wajah Donghae berubah keruh dan mendadak gelisah. Dia sangat terganggu dengan pertanyaan Hyukjae.
"Tidak." Donghae menyahut dingin sambil duduk di sofa, berseberangan dengan Hyukjae.
"Tidak?" Hyukjae menaikan alisnya, tidak percaya dan ragu-ragu.
"Maksudku ya."
Hyukjae merasa kecewa setelah Donghae meralat ucapannya. Tentu saja jika dari sudut pandang Donghae laki-laki itu pernah mengajanya kemari karena Sohyun adalah pacarnya dan wanita yang dia cintai.
"Tapi aku tidak pernah memberikan pelayanan seperti ini—" Donghae menjeda, otaknya berfikir mencari penjelasan yang tepat. "Maksudnya, sejenis pemandu seperti ini." Donghae mencoba menghibur.
"Aku mengerti." Hyukjae tersenyum kecil. "Jadi, apa yang kalian lakukan?"
Baru sedetik yang lalu Donghae merasa lega dan sekarang dia harus menahan nafas mendengar kalimat Hyukjae yang lebih menantang. Baru ia rasakan selingkuh seperti ini dan sangat melelahkan ternyata. Lelah menghindari hal-hal tertentu, lelah mencari alasan dan lelah menjaga perasaan satu sama lain.
Donghae menarik nafas sejenak. "Kita hanya makan, mengobrol—" ada jeda sebentar, ia menjilat bibirnya kemudian melanjutkan dengan nafas yang berat. "Dan seks."
Hyukjae tertegun membisu membuat Donghae cemas dalam duduknya.
"Disini?"
"Ya." Donghae menjawab, matanya goyah sesaat. "Lebih tepatnya di atas ranjang sana." mata hitam tersebut lurus memandang ke ranjang.
Hyukjae ikut melirik ke arah mata Donghae melihat. Dia merasa tidak sehat dengan otaknya yang dengan egoisnya merasa kesal pada kenyataan tersebut.
Donghae mengerang, seakan bersalah karena kesalahannya yang merubah suasana di antara mereka. Ia bangkit dan menghampiri Hyukjae, mengembalikan boneka hasil kado ke ranjang kemudian menarik tangan Hyukjae keluar dari kamar masa kecilnya itu.
Hyukjae dengan enggan mengkuti langkah-langkah besar boss seksinya yang membawa ke sudut area lantai dua lalu berhenti. Pintu disana berbeda dengan pintu lainnya, seperti besi.
Donghae mengulurkan tangannya ke depan, telapak tangannya menempel pada besi tersebut. Teknologi sensor tubuh. Pintu besi itu bergerak ke samping, bergeser pelan terbuka.
Hyukjae kembali terkejut. Sebelumnya dia pikir besi itu adalah lift tapi setelah terbuka lebar ia bisa melihat tangga-tangga penghubung. Tubuhnya tertarik masuk dan Donghae yang menariknya, kaki kurusnya memijak tangga tersebut dengan perasaan kagum. Matanya menikmati setiap lukisan yang berjejer rapi.
Donghae terkikik, begitu sampai dia sengaja melepaskan Hyukjae mengintari ruangan kesukaanya dengan terkagum-kagum. Lagipula, dirinya menyukai wajah sekertarisnya saat ini, sangat lucu dengan matanya yang berbina-binar dan mulut terbuka. Persis dirinya ketika umur lima tahun setelah mendapat hadiah baru dari ayahnya.
Ini loteng tapi sangat indah, bahkan loteng terindah yang pernah ia lihat. Di sana ada sofa ukuran sedang dan untuk ranjang besar nan mewah berada lebih tinggi dari posisi sofa. Perlu naik tiga tangga sebelum melihat secara sempurna ranjang tersebut. Pasti akan nyaman jika tidur di sana. Setelah dipikir-pikir rumah ini mempunyai banyak tangga.
Hyukjae terlalu fokus melihat lapar ke arah ranjang hingga berjengit saat lengan kekar bossnya memeluknya dari belakang.
"Ini tempat favoritku, 'Loteng rahasia' milikku. Pertama kali kuperlihat pada seseorang dan itu kau." Bisik Donghae di telinga Hyukjae.
Hyukjae melenguh ketika bibir tipis tersebut mengecup daun telinganya. Pikirannya buyar dan Donghae berhasil memancing gairahnya. Tangannya meremas tangan Donghae yang berada di perutnya, nafasnya memberat saat bibir tipis Donghae menurun dan berhenti di perpotongan lehernya. Mengecupnya lama hingga basah.
Donghae membalikan tubuh Hyukjae. Bibirnya langsung menyerang mulut Hyukjae dengan ciumannya yang liar dan penuh nafsu, kedua tangannya menahan kepala Hyukjae.
Donghae berhenti, bibirnya masih menempel di bibir Hyukjae. "Hyuk, aku ingin dirimu sekarang." Geramnya berkabut nafsu.
"Sentuh aku, Hae." Suara hyukjae bergetar. Nafsunya sama seperti Donghae, berada di ujung tanduk.
…
Donghae merundukkan tubuhnya, menjepit Hyukjae dengan tubuh kekarnya. Sungguh, ia begitu memuja wajah Hyukjae yang terengah karena gairahnya. Matanya bergerak turun dan berhenti pada bibir penuh Hyukjae yang agak membengkak. Mengelus lembut bibir yang selalu ia puja-puja, bibir yang selalu terasa nikmat ketika ia menciumnya.
Hyukjae tidak tahu bagaimana caranya tubuhnya bisa telanjang dan terbaring pasrah di bawah Donghae. Dia hanya mengingat bagaimana bibir Donghae bergerak liar di atas bibirnya dan bagaimana tangan-tangan lincah Donghae membelai sensual tiap lekuk tubuhnya, membuatnya meliuk-liukkan tubuhnya dengan rasa kejang yang kuat di dalam perutnya. Hyukjae hanya tersandar ia polos dan Donghae masih menggunakan celana kerjanya.
Donghae mengecup lembut puting Hyukjae yang sudah mengeras karena ulahnya dan satu desahan keras lolos dari bibir seksi Hyukjae. Donghae mendongak, melihat bagaimana Hyukjae memejamkan matanya dengan kepala yang menengadah ke atas dan wajah penuh kenikmatan itu membuatnya mengukir senyum puas.
Menjilatnya sebelum memasukan puncak dada Hyukjae ke dalam mulutnya, kedua tangannya menyusup ke belakang tubuh Hyukjae dan mengelus punggung Hyukjae dengan lembut, memberikan ransangan-ransangan lainnya selagi mulutnya dan lidahnya tengah menggoda dada yang agak berisi tersebut.
Donghae sangat menikmati kegiatannya apalagi diiringi suara-suara seksi yang Hyukjae keluarkan seperti lagu pengiring seks yang panas. Sampai akhirnya ia merasa tubuh Hyukjae menegang kaku. Donghae menghentikan kegiatannya, melepaskan putting Hyukjae lalu membawa wajahnya sejajar dengan wajah Hyukjae yang memucat.
Bisa Donghae lihat bagaimana bola mata Hyukjae bergerak gelisah, seolah-olah mencari pegangan untuknya berdiri. Donghae menangkup wajah Hyukjae dan menuntun mata bening itu menatap mata hitamnya, menuntunnya kembali menuju kesadaran.
"Sayang, it's oke." Bisik Donghae, berusaha menenangkan dan itu berhasil karena tubuh Hyukjae melemas. Donghae mencium kening Hyukjae dan kembali menatap wajah kekasihnya yang mulai tenang. "Ada apa?"
Namun bukannya jawaban melainkan tangan Hyukjae yang meremat lengannya yang Donghae dapatkan. Wajah kekasihnya tampak kembali ketakutan dan Donghae merasa bersalah telah membuat kekasihnya kembali ketakutan.
"Hei, tenanglah. Tidak apa-apa, bae." Donghae kembali berbisik. Mata hitamnya memaksa mengunci tatapan Hyukjae padanya. Donghae dengan sabar menunggu Hyukjae meraih ketenangannya dan bibir tipisnya langsung mengukir senyum kala melihat Hyukjae mengangguk lemah.
"Sayang, dengar, maafkan aku tetapi aku tidak bisa berhenti." Donghae berujar lembut sembari membawa tangan Hyukjae menuju daerah selangkangannya yang sudah sekeras batu.
Hyukjae menahan nafas lalu menelan ludahnya. Jantungnya berdegup cepat ketika telapak tangannya merasakan bagaimana keras Donghae dari balik celananya.
"Sayang, dengarkan aku dan ikuti apa kataku. Pejamkan kedua matamu."
Hyukjae mengeryit namun tetap menuruti perintah Donghae untuk memejamkan matanya.
"Bagus, sayang." Donghae tersenyum lalu membasahi bibirnya dengan liur. "Sekarang, bayangkan kau membuka lebar kedua pahamu dengan kepala kejantananku yang mencoba masuk." Donghae sengaja menekan tangan Hyukjae yang masih bertengger di selangakangannya dengan matanya yang tidak lepas dari wajah Hyukjae yang mengeryit lalu meringis kecil. Kekasihnya sedang membayangkannya.
"Aku mendorong keras hingga aku benar-benar terbenam sempurna di dalam tubuh molekmu, sayang. Bayangkan, aku bergerak dan menekan spot nikmatmu. Aku bergerak, terus bergerak sangat cepat hingga kau menggila dengan semua sentuhanku." Donghae menyatukan jari-jari tangannya hingga tangan Hyukjae ikut meremas miliknya yang semakin mengeras.
Jujur, Donghae sudah sangat bergairah namun ia harus sabar dan membuat Hyukjae menikmati sentuhannya secara menyeluruh.
"Sayang, aku kuat dan keras. Seakan-akan siap meledak di dalam sana." Donghae menggeram dan setelah itu Hyukjae berteriak memanggil namanya dengan keras bersamaan menyeburnya cairan di bawah sana.
"Donghae." Panggil Hyukjae di sela-sela nafasnya yang terengah-engah.
"Ya, sayang?" Sahut Donghae dan langsung tersenyum ketika Hyukjae membuka matanya dan menatapnya heran.
"Ini aneh tapi entah mengapa terasa nyata."
Donghae terkekeh mendengar pengakuan Hyukjae. "Kau klimaks, sayang." Kemudian mencium ringan bibir Hyukjae yang tampak terkejut.
Hyukjae mengangkat kepalanya dan mengintip area tubuhnya di bawah sana. Dan benar, kejantanannya sudah basah oleh spermanya sendiri dan mengotori sebagian perut dan celana Donghae. Pipinya tersipu malu dengan dalam hati yang mengutuk tubuhnya yang cepat keluar.
"Tidak perlu malu karena kau sangat menabjubkan saat klimaks." Donghae berucap yang membuat fokus Hyukjae berhenti pada wajah tampannya namun tercetak sirat gairah yang menyakitkan di sana.
Tentu saja, Donghae harus bersabar dan menahan semua hasratnya saat ini. Dia harus lembut agar tidak membuat Hyukjae lebih ketakutan.
"Sayang, kau percaya padaku?"
Hyukjae mengangguk pelan.
"Bagus." Donghae bedecak puas. Tangannya menarik laci meja nakas dan mengeluarkan sehelai kain warna hitam dari sana. "Sekarang. pejamkan lagi matamu dan aku akan menutup matamu." Suruhnya tenang.
"Donghae—"
"Hanya percaya padaku dan lakukan."
Hyukjae menguk ludahnya sebelum menutup matanya. Dia bisa marasakan kain tersebut dan lembut membalut di atas matanya. Donghae mengikatnya erat namun tidak terlalu kuat. Otaknya berpendapat jika Donghae sangat ahli melakukan ini dan bayangan Sohyun juga di perlakukan seperti ini menghantuinya.
Sial, konsentrasinya sempat terganggu namun begitu merasakan hembusan hangat nafas Donghae yang menerpa wajahnya membuat tubuh dan seluruh gairahnya yang mengambil alih. Dengan was-was menunggu Donghae lakukan selanjutnya dengan kegelapan yang menemani.
"Hyukjae, aku pernah mengucapkan jika aku membenci blowjob ketika kita seks pertama kali bukan?"
Hyukjae hanya mengangguk. Tak mampu mengeluarkan suaranya mendengar suara Donghae yang gelap tenggelam di gairahnya. Dia bisa merasakan kegugupan Donghae yang mengambil nafas lalu melanjutkan kalimatnya.
"Namun, untuk pertama kalinya aku akan merendah untukmu. Hanya padamu."
Hyukjae belum sempurna mencerna ucapan Donghae. Bibirnya terbuka setengah dan menghembuskan nafas keras begitu bibir-bibir basah Donghae menyentuh tubuhnya dan semakin bergerak turun.
Semakin turun dan Hyukjae bisa merasakan hawa panas yang menyentuh kulit kejantanannya. Tubuh kurusnya menggelinjang dengan seluruh bulu halus di tubuhnya yang meremang.
Hyukjae meremas kuat sprei putih ketika merasakan sesuatu yang basah, kenyal dan hangat menyentuh ujung kejantananynya. Hyukjae, tahu itu Donghae. Kepala Donghae yang sedang berada di antara selangkangannya.
Hyukjae berjengit dan hampir berteriak ketika Donghae memasukan seluruh miliknya ke dalam mulutnya yang lembab dan panas, sangat panas. Kedua telapak kaki Hyukjae melengkung sempurna dengan jari-jari kaki yang menggesek kain putih sprei ketika lidah Donghae ikut bergerak memanjakan kejantanannya di dalam mulut prianya.
Hyukjae ingin sekali menarik kain yang ada di matanya dan melihat yang Donghae lakukan namun mengingat nada perintah Donghae yang menyerupai ancaman membuat nyalinya menciut. Hyukjae tidak mau kenikmatannya berubah menjadi kasar.
Jadi, ia mendiamkan Donghae menyentuh kepemilikannya dengan gerakan erotis dari mulutnya. Setiap desahan Hyukjae keluarkan atas respon kenikmatannya. Tubuhnya memanas dan seluruh menggeli sebelum ia merasakan kedutan dan meledak di dalam mulut Donghae.
Hyukjae tidak tahu apa Donghae menelannya atau tidak cairannya. Dia tidak peduli. Saat ini ia hanya fokus merasakan puncaknya yang kedua kali dan detakan jantungnya yang kembali menggila dengan rasa senang yang menggelitik lemah di perutnya. Menguras seluruh isi perutnya hingga ia merasa akan muntah dengan semua sensasi pencapaiannya.
Donghae tidak menyia-nyiakan sprema Hyukjae, sedikit memuntahkannya di atas telapak tangannya kemudian membaluri di sekeliling batangnya. Donghae melebarkan kedua paha Hyukjae, memposisikan tubuhnya dan sengaja menggesek-gesekkan kejantanannya di luar lubang Hyukjae sebagai pemberitahuan.
"Sayang, aku masuk." kata Donghae sambil menuntun kepala kejantanannya masuk kemudian satu dorongan kuat dari pinggulnya membuat batangnya tenggelam dalam di tubuh Hyukjae.
"Apa sakit?" Donghae bertanya penuh kekhawatiran.
Hyukjae menggeleng. "Sedikit. Sepertinya tubuhku sudah terbiasa dengan milikmu yang mengagumkan itu."
Tawa Donghae mengalun seksi. Hyukjae yang riang sudah kembali berarti dia tidak perlu bersabar dan menuntun Hyukjae dengan perlahan. Donghae meraih bantal lalu mengangkat bokong Hyukjae yang terhubung dengan miliknya lalu meletakkannya di bawah pinggul Hyukjae.
Donghae bergerak dengan ritme pelan namun seiring mengerasnya desahan yang Hyukjae keluarkan maka semakin cepat gerakkan pinggulnya. Bergerak maju dan mundur, menekan spot Hyukjae dan menggesek kasar dinding-dinding lubang Hyukjae.
Donghae menggeram ketika bagiamana lubang Hyukjae menjepitnya dan mengendur, memberikan pijatan-pijatan pada seluruh otot kejantanannya. sialan, Hyukjae sangat nikmat dan seperti nikotin membuatnya tidak bisa berhenti melakukan seks bersamanya.
Donghae mengerang lalu merendahkan tubuhnya, meraih bibir Hyukjae dan memagutnya liar dengan sama liarnya seperti pinggulnya bergerak. Donghae meraih tangan Hyukjae, menyelipkan jari-jarinya yang lebih besar di antara sela-sela jari Hyukjae dan membawanya di sisi kepala Hyukjae. Donghae mengigit bibir bawah Hyukjae sebelum menariknya.
Hyukjae hanya bisa mendesah dan terus mendesah ketika Donghae bekerja keras di atasnya. Sungguh, Hyukjae rasanya ingin pingsan. Ini begitu nikmat, panas, menggairahkan, menyenangkan, dan menggelikan. Hyukjae tidak tahu bagaimana menjelasknya. Fase-fase yang Donghae lakukan membuatnya menggila dengan sentuhan seks hebat dari Donghae.
Dari lembut yang penuh perhatian hingga kasar hanya nafsu yang mengendalikan mereka. Dan pergeremulan mereka tidak pernah dari hilang dari kata puas yang sama-sama di rasakan. Bahkan kenyataan mereka bersetubuh dengan jenis yang sama tidak mengurangi kesenangan itu semua.
Kejantanannya berkedut. Donghae mendesis sebelum satu hentakan terakhir ia menyentuh spot Hyukjae dan miliknya menyemburkan sprema dengan hebat di dalam tubuh Hyukjae. kemudian disusul klimaks Hyukjae yang tidak sebanyak ketika klimaks pertama dan keduanya.
Hyukjae menyenderkan kepalanya yang terasa pusing setelah klimaks yang ketiga di bahu lebar Donghae. Nafas keduanya memburu dan saling bersahutan.
Sekarang Hyukjae tahu kenapa Donghae menutup matanya. Alasannya jelas, karena pria kekar itu mau ia hanya fokus pada kenikmatan dan itu berhasil. Ini jelas-jelas pengalaman seks terhebatnya. Dia tidak pernah merasa sepuas ini.
Donghae agak mengangkat tubuhnya agar tidak terlalu menibani Hyukjae. Membuka kain hitam itu dari mata Hyukjae. Mata bening yang indah itu mengerjap beberapa kali sebelum melihat senyuman Donghae yang menghias di wajah tampannya.
Dengan lembut Donghae mengusap peluh-peluh di dahi Hyukjae lalu tersenyum. "Menyenangkan?"
Hyukjae mencoba membalas senyuman Donghae dengan senyuman tipisnya, mata memandang sayu sosok di depanya. "Ya."
"Kau menikmatinya?"
"Ya."
"Kau puas?"
"Ya."
"Kau—"
"Apapun pertanyaanmu jawaban aku adalah 'Ya' bahkan sangat untuk hari ini."
Donghae menyeringai lalu mengangkat satu alisnya. "Benarkah begitu?"
"Donghae, aku lelah. Aku mengantuk."
Donghae mengehentikan aksi jahilnya lalu menatap penuh perhatian pada Hyukjae yang memang terlhat sanagt lelah. "Ya, tidurlah." Donghae mencium ringan bibir Hyukjae sebelum dengan pelan mengeluarkan miliknya dari dalam lubang Hyukjae.
Menyingkirkan bantal dari pinggul Hyukjae, memposisikan dirinya di samping Hyukjae lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua. Donghae memejamkan matanya dan ikut mencoba tertidur bersama Hyukjae dengan lengan yang memeluk erat tubuh Hyukjae.
.
.
TBC
YEAHHHHhh! AKHIRNYA MASK CHAP 6 KELUARRRRRRRR...
Sebelum itu aku mau ngucapin HEPIBEDEY BUAT UNYUK-UNYUK TERIMUT AKUUUUU… gpp udah lewat sehari juga.
Wishnya mudah-mudahan di umur yang segini makin imut, makin unyu, makin kemayu, makin-makin deh yang cocok buat OM aku si Donghae. Dan udah ada yang liat belom di internet foto terbaru Donghae di acara kepolisian gitu deh kayanya dan si OM itu semakin fucking seksi binggouuuuuuuuuuuuuu…
Dan seketika jiwa fangirl alay Newt keluar dan terbitlah teriak-teriak rusuh. Itu bikin feel aku tentang MASK meningkat jiwaaa… Oke, cukup buat numpang curhatnya. Buat yang terganggu lewatin aja okeyyyy...
Yang terakhir, mana nih suaranya yang selalu nagih MASK buat apdet? Masih adakah yang nunggu ff berdebu ini? Pokoknya tolong keluarkan suara kalian yaaaa
Maaf kalau gak memuaskan dan gak ada dibayangan kalian. Jadi,
SELAMAT MEMBACA :*
