Melodi Kematian
By : Ishikawa Ayica
Naruto milik Masashi Kishimoto
Pair : SasuSaku, NaruHina, NejiTen, ShikaTema, SaIno, GaaMatsu
Rated : T
Genre : Horror/Mysteri/Romance/friendship
Warning : Jika anda tidak menyukainya harap jangan melanjutkan membaca, Jika anda terlanjur membaca dan masih tak suka harap tetap diam seolah-olah anda tidak pernah membacanya.
Minna, ini cerita fashbacknya keluarga Haruno. Semoga nggak ngebingungin. Thanks.
Aku bersalah padanya, sungguh aku tau hal itu. Namun semua yang terjadi tak terlepas dari salah semua orang, dan aku tak ingin jadi satu-satunya orang yang disalahkan.
/
/
Ini keluarga Haruno. Pasangan bahagia Haruno memiliki 3 orang anak. Yang pertama laki-laki bernama Haruno Sasori, dan yang kedua juga ketiga adalah anak kembar bernama Haruno Sakura, dan Haruno Cherry. Sakura dan Cherry adalah kembar identik. Mereka sama persis kecuali rambut Cherry yang lebih sedikit Soft pink dari milik Sakura. Cherry sendiri sebenarnya bukan nama sesungguhnya, Cherry di beri nama Haruno Mizuki oleh kedua orang tuanya, namun ketika Cherry berumur 5 tahun ia menolak dan tak mau di panggil Mizuki. Alasannya karena hal itu membuatnya terlihat berbeda dari Sakura, sang kakak 3 menit dari kelahiran mereka. Selain itu Cherry menyukai nama asing, sehingga ketika Sakura mengusulkan nama Cherry yang di ambilnya dari Cherry blossom atau bunga Sakura, Cherry sangat menyukainya dan tidak menolak usulan itu.
/
/
"Cherry, pagi tadi kau di cari Asuma-sensei." Ucap Sakura begitu mereka sampai di rumah mereka.
"Benarkah? Aku baru ingat aku harus mengerjakan tugas essay yang dia berikan padaku." Ucap Cherry menepuk jidatnya was-was.
"Hn itu benar, tapi sudah ku kerjakan." Ucap Sakura tersenyum pada Cherry.
"Bagaimana bisa?" tanya Cherry yang menatap Sakura tak percaya.
"Bisa saja, salah siapa satu sekolahan tak ada yang bisa membedakan kita, padahal kita sudah 2 tahun di junior High itu." Ucap Sakura mendengus menahan tawa. Cherry menyeringai menatap Sakura dan kemudian mereka tertawa bersama. Ya, kejahilan khas anak kembar identik.
"Sekali lagi kalian membodohi orang terlebih lagi para sensei, aku akan menghukum kalian." Ucap Sasori menatap kedua adiknya malas.
"Maaf Onii-chan. Sakura yang melakukannya." Kata Sakura menunjuk Cherry sambil mengedipkan sebelah mata.
"Enak saja, itu juga salah Cherry, Onii-chan, coba saja dia mengerjakan tugasnya." Kata Cherry menunjuk Sakura sambil mendengus menahan tawa. Sementara Sasori menatap keduanya dengan tatapan lebih malas.
"Hentikan sandiwara kalian, kalian mungkin bisa menipu orang lain, tapi aku tak bisa kalian tipu, sekalipun kalian kembar identik." Ucap Sasori pur-pura marah pada kedua adiknya.
"Dia tidak tertipu." Ucap Sakura memutar bola mata bosan.
"Tidak, dia tertipu." Ucap Cherry tertawa kemudian di ikuti Sakura. Keduanya kemudian tertawa karena kata-kata yang mereka bolak-balikan, sedangkan Sasori hanya menggeleng pasrah menatap kedua adik kesayangannya.
"Baiklah, kasihan kakakmu itu. Dia satu-satunya lelaki diantara kita, sudah begitu kita selalu membuatnya menatap kita dengan tatapan pasrah." Ucap Sakura terkikik geli merespon tatapan Sasori.
"Baiklah, kalau begitu ayo berjanji, untuk bersama selamanya, dan membuat satu-satunya lelaki itu tersenyum bangga pada kita. Aku juga akan berusaha membuatmu bangga padaku. Tapi kau harus janji kau tidak akan meninggalkanku, dan akupun tidak akan meninggalkanmu." Ucap Cherry tersenyum pada Sakura sambil memberikan kelingkingnya di depan Sakura.
"Janji." Ucap Sakura menyilangkan kelingkingnya dengan kelingking Cherry. Sementara Sasori menatap lembut dan sayang kepada kedua adiknya itu.
Cherry dan Sakura sangat saling menyayangi, Cherry selalu bersama sang kakak. Cherry sering memanggil Sakura dengan sebutan kakak, suatu waktu ia akan memanggilnya Sakura saja jika dia sedang mengambek pada kakaknya. Sasori sebagai kakak tertua juga merupakan bagian dari kasih sayang terbesar mereka, Sasori selalu menasehati Sakura dan Cherry jika mereka melakukan salah. Cherry dan Sakura, saling melengkapi. Cherry berani, Sakura penakut. Cherry sangat cengeng, sementara Sakura begitu tegar. Sasori merasa memiliki keluarga yang sempurna, namun semuanya berubah saat kejadian di mana kedua orang tua mereka meninggal dalam kecelakaan mobil.
Ketiga bersaudara Haruno begitu tepukul, namun Cherry adalah yang paling terpuruk dengan kejadian itu, Sakura dan Sasori berusaha untuk menstabilkan emosi Cherry namun Cherry semakin terpuruk. Melihat Sakura yang berusaha membuatnya tersenyum entah sejak kapan mulai menjadi keyakinan Cherry bahwa Sakura adalah dirinya, yang berarti bahwa dia baik-baik saja. Hal ini yang semakin membuat Cherry susah keluar dari keterpurukannya. Semakin lama semakin parah, membuat Sakura dan Sasori khawatir. Sakura dan Sasori membawa Cherry ke psikiater, dan saran dari psikiater Sakura harus di jauhkan dari Cherry untuk sementara agar Cherry bisa mengenali siapa dirinya yang sesungguhnya. Hal itu di lakukan, dan benar saja, itu berhasil. Namun hal itu membuat Sakura terasing, seolah Haruno hanya ada dua orang, Sasori dan Cherry, entah sejak kapan kasih sayang Sasori menjadi berat sebelah dan Sakura terasingkan dari ikatan sedarah ini.
/
/
"Kakak, aku telat. Kapan kau akan berangkat?" ucap Sakura gelisah menatap jam tangannya dan rumahnnya bergantian, saat ini Sakura sedang ada di halaman rumahnya, menunggu kakaknya untuk mengantarkan dirinya.
"Sakura, kau bawa mobil sendiri yah, Cherry demam, aku tak ingin meninggalkannya sendiri." Ucap Sasori panik kemudian melemparkan kunci mobil pada Sakura begitu saja dan kembali masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa.
"Aku tidak bisa bawa mobil." Ucap Sakura mengejar Sasori.
"Ya sudah, kau jalan kaki saja atau naik kereta atau apapun yang bisa mengantarmu ke sekolah." Kata Sasori tanpa berbalik dan terus menuju kamar Cherry sambil membawakan sarapan.
"Kalau kau tau tak bisa mengantarku, kenapa tak kau beritau dari awal bahwa kau tak bisa. Aku sudah sangat terlambat ke sekolah sekarang." Ucap Sakura kesal dan matanya mulai berair.
"Sudalah Sakura, kalau begitu kau bolos saja. Hanya untuk hari ini." Ucap Sasori tak peduli. Sasori memasuki kamar Cherry dimana di sana Cherry tengah menunggu Sasori sambil duduk di atas ranjangnya. Sakura masuk mengikuti Sasori.
"Ibu dan ayah melarangku untuk bolos." Ucap Sakura semakin kesal pada kakaknya yang bahkan tak menatapnya bicara.
"SAKURA! Hentikan mengeluh! Ibu dan ayah sudah tidak ada lagi. Aku tak bisa selalu menanggapi sifat manjamu dan keras kepalamu itu." Ucap Sasori marah dan berbalik menatap Sakura selepas meletakan sarapan Cherry.
"AKU TAU ITU! Aku tau ibu dan ayah sudah tidak ada lagi, tapi kakak, aku masih di sini. Dan kau bersikap seperti aku telah tiada. Aku masih adikmu, kenapa kau menganggapku bagai orang lain sementara Cherry begitu mirip denganku? Berhenti bersikap seperti itu, ini juga sulit untukku." Ucap Sakura bersedih menatap Sasori dan Cherry yang sedang menatapnya. Sasori tertohok kata-kata Sakura sedangkan Cherry hanya menunduk sedih.
"Aku berangkat." Ucap Sakura menggosok matanya agar air matanya tak menetes dan pergi meninggalkan Sasori dan Cherry yang tak dapat berkata apa-apa.
/
/
Hari demi hari terlewati dengan Sasori yang semakin dingin, dan Cherry yang selalu jatuh sakit. Sakura selalu menjadi yang terasing di rumahnya sendiri, hingga secara perlahan kebencian mulai mengakar di dalam hati Sakura. Dia juga ingin di anggap, dia juga ingin menjadi sama seperti yang lainnya, dia juga mengalami sakitnya kehilangan orang tua, namun mengapa hanya dia yang di perlakukan berbeda.
Sampai akhirnya di suatu sore, Sakura sedang menangis menunduk di bawah pohon Sakura yang sedang mekar, Cherry datang dan memeluknya.
"Maafkan aku" ucap Cherry memeluk Sakura.
"Untuk apa? Untuk meninggalkanku? Untuk memonopoli Sasori-nii atau untuk membiarkanku menangis sendiri?" tanya Sakura mengangkat wajahnya menatap refleksi dirinya yang sedang memeluknya dengan wajah yang pucat pasi.
"Untuk semuanya." Ucap Cherry yang juga perlahan menitikan air mata.
"Kita kehilangan orang tua, rasa sedih kita sama tapi kita di perlakukan berbeda. Aku sakit dan aku tau itu juga membuatmu sakit, kau mungkin lebih sedih dariku, karena kau tak hanya kehilangan orang tua, tapi juga kehilangan sahabat, adik dan juga kakak. Aku minta maaf telah memberimu rasa sakit yang lebih." Ucap Cherry semakin erat memeluk Sakura.
"Aku tak ingin kita selamanya begini. Aku ingin kita kembali seperti dulu." Ucap Sakura memeluk Cherry.
"Ya. Kita akan kembali seperti dulu." Ucap Cherry tersenyum dalam pelukan Sakura.
/
/
Tahun berganti, Cherry, Sakura, dan Sasori kembali menjadi harmonis. Namun Sakura masih sering terasing meskipun itu kadang-kadang saja di rasakan Sakura. Secara perlahan Cherry dan sasori seolah menjauh dari Sakura, bukan karena alasan yang sama seperti sebelumnya, namun untuk alasan lainnya yang membuat Sakura tercengang tak percaya.
"Aku mencintai Sasori-nii, Onee-chan." Ucap Cherry malu-malu di suatu sore saat Sakura menanyakan alasan mengapa Cherry lebih sering terlihat bersama Sasori akhir-akhir ini.
"Ap-Apa yang kau katakan? Cinta? Sebagai kakak?" tanya Sakura ragu sambil mencengkram kuat-kuat rok yang sedang ia kenakan kala itu.
"Tidak, sebagai seorang pria." Ucap Cherry yakin pada Sakura.
"Hah? Apa kau gila? Cherry dia itu kakakmu. Kalian sedarah!" ucap Sakura marah kemudian berdiri dari duduknya.
"Saso-kun juga sudah tau. Dan dia bilang dia juga mencintaiku." Ucap Cherry semakin yakin pada apa yang di ucapkannya. Sakura yang merasa gelisah dan kecewa kalut saat itu. Ia menjadi sangat marah dan tak terkendali hingga akhirnya—
PLAK
—Sakura menampar Cherry dengan keras di pipinya.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Cherry marah sambil memegang pipinya. Ia kemudian berdiri menatap Sakura benci.
"Berhenti untuk tertipu dengan perasaanmu sendiri. Perasaanmu itu tak lebih dari perasaan sayang yang berlebih untuk seorang kakak. Cherry! Hentikan tingkah konyol kalian." Ucap Sakura yang semakin marah pada Cherry.
"Kau tau apa soal perasaanku? Kau tidak tau apa-apa." Ucap Cherry balas menatap Sakura marah dan semakin benci.
"Jangan menyahutiku! Aku tau semua tentangmu karena aku juga merasakan apa yang kau rasakan, Cherry! Aku tau kau tidak akan sebodoh itu menyalah artikan kasih sayangmu untuk Sasori-nii." Ucap Sakura berteriak pada Cherry.
"Apa? Kau juga merasakannya? Kau juga mencintainya?" tanya Cherry memegang bahu Sakura kencang.
"Aku tidak mencintainya! Aku menyayanginya sebagai seorang kakak." Ucap Sakura jujur pada Cherry.
"Kau berbohong!. Katakan saja yang sebenarnya. Kau juga mencintainya, ya aku yakin benar begitu. Kita identik, dan apa yang aku rasakan kau juga pasti merasakannya. Shit! Kenapa aku harus terlahir kembar." Umpat Cherry yang di penuhi amarah kemudian lari meninggalkan Sakura yang tercengang dan bingung. Sakura berusaha memanggil Cherry namun Cherry mengabaikannya. Cherry memasuki rumah dan mengunci diri di kamar pribadinya. Sakura jatuh terduduk tak mengerti mengapa hidupnya, hidup mereka bisa sekacau ini. Berselang menit kemudian, Sasori datang menyuguhkan sebuah minuman dingin untuk Sakura yang Shock.
"Hentikan ini, Saori-nii. Kalian sedarah." Ucap Sakura frustrasi pada kakaknya yang duduk di samping Sakura.
"Aku hanya membuatnya agar dia mampu kembali sehat, Sakura. Kata Psikiater itu, jika Cherry dalam keadaan bahagia,, psikologinya akan kembali sehat seperti sedia kala." Ucap Sasori mengelus pucuk kepala Sakura. Sasori tau ia sudah keterlaluan, tapi ini di lakukannya untuk adiknya, ia juga tak mau antara Cherry, Sakura dan dirinya terpisah hanya karena Cherry selalu merasa bahwa Sakura adalah dirinya, Sasori tak ingin membuat Sakura menangis seperti di waktu yang lalu karena Sasori yang lebih menyayangi Cherry.
Sakura menepis kasar tangan Sasori. Kemudian berdiri dan berjalan meninggalkan Sasori.
"Sakura, kau mau kemana?" tanya Sasori mengernyit menatap Sakura yang berjalan dalam kesungguhan. Kedua tangan Sakura terkepal di samping tubuhnya, kebiasaan Sakura saat ia bertekad melakukan sesuatu.
"Aku ingin menyelesaikan semua ini. Aku ingin kembali seperti yang dulu." Ucap Sakura bersungguh-sungguh dan berjalan menuju rumah dan kamar Cherry.
Sesampainya di dalam rumah, Sakura menuju kamar Cherry dan mengetuk kamar Cherry kasar.
"Cherry! Buka atau ku dobrak!" ancam Sakura semakin kencang mengetuk pintu kamar Cherry.
"Pergi kau penghianat!" ucap Cherry marah dari dalam kamar. Sakura mengambil kunci cadangan kamar, kemudian membuka pintu kamar Cherry. Cherry ada di dalam dan menatap Sakura dengan semakin benci.
"Ku bilang PERGI!" ucap Cherry melempar Sakura dengan bantal. Sakura semakin mendekat dan memeluk Cherry dengan kuat. Cherry meronta dalam pelukannya namun Sakura sangat kuat.
"Kita ini kembar. Namun Kau adalah kau dan aku adalah aku." Ucap Sakura berbisik di telinga Cherry.
"Aku tak ingin mendengarmu!." Ucap Cherry semakin meronta dan menangis keras dalam pelukan Sakura.
"Sakura! Hentikan!." Ucap Sasori marah pada Sakura yang terlihat menyakiti Cherry secara mental.
"Itu yang sedang aku lakukan. Aku tak ingin kau membohonginya lagi." Ucap Sakura dengan keyakinan dan ketegaran dalam hatinya meski air matanya mengalir menatap Sasori.
"Lepaskan aku!" ucap Cherry meronta dalam pelukan Sakura.
"Tidak! Kau akan mendapatkan perawatan medis untuk psikologimu, jika perlu aku akan memasukan ke rumah sakit jiwa." Ucap Sakura kembali mengancam Cherry.
"Sakura! Kau keterlaluan." Ucap Sasori marah pada Sakura. Sasori mendekati Sakura yang memeluk Cherry namun Sakura mundur sambil terus memeluk Cherry hingga akhirnya mereka ada di balkon. Sasori memegang tangan Sakura berusaha melepaskan Cherry dari pelukan Sakura, dan Cherry yang terus meronta membuat dekapan Sakura terlepas. Cherry menghempaskan tangan Sakura, namun Cherry terpeleset dan jatuh dari atas balkon.
"CHERRY!" Teriak Sasori dan Sakura bersamaan. Sakura dan Sasori yang panik segera lari menuruni tangga dan melihat keadaan Cherry. Sasori segera menelpon ambulans dan Sakura terus berlari agar cepat sampai untuk menemui Cherry.
Sesampainya, Sakura menatap Cherry yang terbatuk-batuk darah, kepalanya terbentur batu besar dan membuat di sekitarnya menjadi sungai darah. Sakura terduduk dan tak bisa bersuara, air matanya menetes bagai hujan deras, menatap Cherry yang sedang sekarat. Sakura mendekat dan menggenggam tangan Cherry penuh rasa penyesalan.
"Maafkan aku, maafkan aku, maaf, maaf, maafkan aku Cheery!" ucap Sakura panik dan menangis sejadi-jadinya di depan Cherry.
"Tidak akan ku-ma-aaf-kan." Ucap Cherry sambil terbatuk-batuk darah dan menatap Sakura benci.
"Jangan banyak bicara dulu. Kau harus segera ke rumah sakit." Kata Sasori khawatir dan menangisi Cherry. Cherry hanya menatap sendu pad Sasori kemudian menatap Sakura benci.
"Kita akan se-sela-lu bersama, kau su-sudah ber-jan-ji." Ucap Cherry dengan penuh rasa benci. Sakura menggelengkan kepalanya dan semakin menangis tatkala Cherry berhenti berkedip dan bersuara. Saat itu Sakura tau Cherry telah meninggal dan dia melakukan sebuah kesalahan.
Sakura dan Sasori larut dalam kesedihan. Sakura benar-benar tenggelam dalam kesedihannya dan selalu berdiam diri. Sasori marah namun dia melepaskan amarahnya meledak dalam hatinya. Teringat lagi saat Cherry kembali setelah acara kelulusan, Cherry bersedih karena Sakura sedang sakit saat itu, untuk menghiburnya Sasori mengajaknya bertemu rekan-rekan akatsukinya. Dan saat itu mereka berfoto bersama. Sasori selalu teringat tentang Cherry saat menatap Sakura, dan sakit di hatinya membuat Sasori selalu menangis kala menatap Sakura. Sasori merasa menyesal tak bisa menjaga adiknya, Sasori tau itu bukan kesalahan Sakura, namun walau bagaimanapun kebenciannya harus tertuju untuk seseorang dan itu adalah Sakura.
Selepas pemakaman Sasori tak bersuara apa-apa. Sakura beberapa kali mengajaknya berbiaca namun Sasori hanya akan berlalu bagai orang bisu dan tuli. Sampai 2 minggu setelah kematian Cherry, Sasori tiba-tiba berada di ruang TV lengkap dengan barang-barang dan bajunya yang telah terkemas. Sakura yang menatap hal itu mulai takut dan gelisah, ia menghampiri Sasori, namun sebelum berkata apapun Sasori telah lebih dulu bersuara.
"Jangan mengganggu hidupku lagi. Jangan cari aku, jangan temui aku meskipun kau dapat menemukanku." Ucap Sasori dingin kemudian melangkah pergi dari rumah.
"Sasori-nii" panggil Sakura lirih.
"Adikku sudah meninggal, aku tak punya adik lagi. Jangan memanggilku dengan sebutan itu." Ucap Sasori menatap Sakura benci kemudian melanjutkan perjalanannya.
Semenjak hari itu Sakura selalu sendiri. Meski ia tak lagi menangis, namun hatinya selalu terasa perih. Kemudian hal-hal mistis mulai mengganggunya, Sakura jatuh sakit sampai hampir mati, karena Sakura hanya tinggal sendiri membuat sakitnya semakin parah karena tak ada yang mengurusinya. Beruntung para tetangga membawa Sakura ke rumah sakit. Saat itu Sakura terkena demam tinggi, ia benar-benar shock. Sakura mengalami gangguang mental selama beberapa minggu, hingga akhirnya ketika Sakura kembali sadar ia telah melupakan segala hal tentang keluarganya. Ia tak melupakan semuanya, ia hanya melupakan bahwa dia mempunyai saudara kembar yang meninggal karena kesalahannya. Kata dokter Sakura melupakan memori itu akibat dari depresi yang di alaminya. Sakura sering menyalahkan dirinya sendiri tentang kematian Cherry, hingga semakin lama semakin lama segala sesuatu tentang Cherry mulai ia lupakan begitu saja.
Secara perlahan Sakura mulai bangkit dan kembali tersenyum. Di masa-masa orientasi Senior High-nya ia bertemu dengan kawan-kawan baru yang mulai membuat hidup Sakura kembali normal.
Sakura mulai menata hidupnya dan juga mendekorasi ulang rumahnya. Beberapa foto di pilihnya dari album keluarga. Sakura menatap lekat fotonya dan Cherry, namun dalam pemikirannya foto-foto itu adalah foto dirinya yang di edit. Sakura selalu mengambil foto yang di yakininya adalah dirinya sendiri dengan warna rambut yang sedikit lebih Soft pink. Dia memajang semua foto itu yang sebenarnya adalah foto Cherry. Dia melakukannya dengan tidak sengaja, sebab saat Sakura memilih foto-foto itu, ada rasa rindu yang bergelut di dalam hatinya, meskipun ia tak mampu mengingat sosok itu.
Dalam hidupnya yang baru, Sakura sering di hantui oleh sesosok hantu wanita yang selalu mengancam akan membunuhnya, Sakura yang penakut sering kali melarikan diri dari rumahnya sendiri. Perasaan takut itu di pendamnya sendiri, tak di ceritakan olehnya pada teman-temannya, sampai suatu hari seorang pemuda yang mengaku bernama Sasuke mengatakan pernah bertemu dengannya, padahal Sakura yakin bahwa itu bukanlah dirinya.
Hingga saat ini, kisah ini masih menjadi mistery dalam perjalanan hidup Sakura.
TBC..
Tsudzuku~
Hai, minna..aku sudah meng-update lagi chap terbarunya, soal mistery yang lainnya nanti akan terungkap di chap selanjutnya. Ada yang ingin bertanya? Silahkan hubungi saya melalui kotak review.
Untuk saat ini saya akan membalas review anda sekalian.
Yang pertama Review dari
Yumi-chan : Terima kasih sudah mereview. Ini aku lanjut lagi. ^_^
Trus ada dari :
Eysha 'CherryBlossom : Oh iya ya, heheh lupa saya ^_^. Soal Cherry atau Sakura itu nanti mungkin akan terjawab di chap terakhir. ^_^ Thanks dah review. Thanks yang paling besar ku ucapkan buat kamu yang sudah mereview 2 fanfict terbaruku.
: terima Kasih sudah menunggu. Ini saya update lagi. Thanks juga sudah mereview ^_^
Alifa Cherry Blossom : Hahaha.. soal itu mungkin nanti saja di bahasnya pas chap terakhir. Aduh aduh, kamu kok malah perhatiin typo-nya yah? Kayak orang sensus penduduk aja. ^_^ *Nggak nyambung* Pokoknya, Thanks dah mereview.
Sofi asat : Tuh, si Cherry yang mati. Kalau sakura mati nantinya gimana donk? Tapi boleh jugga sih. Di buat mati aja kali ya si Sakuranya ^_^ pokoknya Thanks dah review.
Dhita82 : Hahah, udah UAS yah? Semoga dapat nilai terbaik. Amin. ^_^ Thanks dah review.
febri feven : Nggak apa-apa, saya juga sering telat update. Terima kasih telah mereview ^_^
Jellalna : Terima kasih sudah menunggu, ini saya update lagi ceritanya. ^_^ soal terinspirasi sebenarnya sih tidak. Saya hanya menyalurkan imajinasi saya saat Neng Alifa merequest fict horror, jadinya yang terpikirkan adalah seperti ini. Apa ada film yang mirip sama cerita saya ini? Film apakah?
Terima Kasih semuanya sudah mau menyaksikan dan mereview fict ini. Dan Terima kasih juga kepada semua orang termasuk silent readers. Jangan lupa untuk kembali mereview fict saya yang lainnya. My Diary, Our Destiny dan Juga My First Love Story adalah fict terbaru saya. Jika sempat saya harap anda sekalian mau berkunjung dan memberi tanggapan. Terima kasih sekali lagi.
Salam hormat saya.
Ishikawa Ayica
