I Love You, My Bestfriend

.

Author : Ami Zhang

Cast : Jeon Jungkook, Kim Taehyung, Ryu Sujeong, Kang (Jeon) Gunwoo, Park Jimin, Jung Hoseok and Other

Genre : Romance, Friendship, School life

Warning : YAOI, Typo(s), Alur sedikit kecepatan (maybe)

Disclaimer : Para pemain bukan milik saya. Mereka milik agensi, orangtua, dan Tuhan. Sedangkan untuk cerita ini adalah milik saya.

Summary : Jungkook dan Taehyung adalah sahabat. Seiring waktu mereka menjadi lebih akrab dan seperti adik dan kakak. Akan tetapi mereka sama sekali tidak menyadari jika hubungan persahabatan mereka tumbuh menjadi hubungan lebih dari persahabatan.

.

Enjoy the story!

.

Happy Reading!

.

.

.

Previous Chapter 6, "Hello, Butterfly!"

"Kau sudah mengetahuinya. Kau puas? Sekarang pergi! Keluar dari ruanganku.!" Kata Jungkook tegas dan penuh dengan penekanan.

"J-Jungkook.." Katanya pelan penuh kekhawatiran.

"KELUAR!" bentak Jungkook dengan tangannya yang menunjuk pintu keluar ruangan.

Taehyung mundur selangkah. Ia menatap Jungkook tak percaya. Ia menunduk dan mulai melangkah keluar dari ruangan Jungkook.

"Maafkan aku, Jungkook." Gumamnya pelan setelah berada diluar ruangan. Ia menyandarkan punggungnya ke pintu. Ia meremas rambutnya.

.

Sedangkan Jungkook menunduk. Badannya bergetar dengan kuat. Tangan yang masih menunjuk tadi terasa berat lalu turun dan terjatuh di samping tubuhnya.

Air mata Jungkook berlomba-lomba keluar dari matanya. Kakinya ia tekuk lalu ia menyembunyikan kepalanya dengan menelungkup menyatu dengan lututnya.

Ia mengerang dan meremas pelan rambutnya. Kepalanya terasa berdenyut. Jungkook terus menenggelamkan kepalanya seiring dengan kepalanya yang berdenyut menyakitkan.

Siang itu, Jungkook menangis dengan hebat.

.

What's so hard about that?

Why can't you think about how I feel?

.

Chapter 7, "Shattered"

.

Taehyung menggelengkan kepalanya sekali lagi. Rasa kantuk telah merasukinya. Ia melirik bangku kosong disampingnya. Ia menyerah. Ia duduk dan menyandarkan punggungnya. Ia merasa bersalah telah membentak dan memaksa Jungkook. Seharusnya ia ingat jika Jungkook adalah tipe orang yang tidak suka dibentak. Inilah akibatnya, Taehyung diabaikan dan tidak dibolehkan masuk ke ruangan tempat rawatnya. Dan ini sudah menginjak tiga hari setelah kejadian itu. Taehyung menghela nafas dan mulai menutup matanya menuju pulau mimpi. Sebelum ia benar-benar terlelap, Taehyung menggumamkan sesuatu.

"Jungkook-ah, Maafkan aku." Gumamnya dan ia jatuh terlelap.

.

.

Keesokan harinya.

Terdengar suara kicauan burung dan angin yang berhembus. Kicauan burung mengusik ketenangan Jungkook yang tengah tertidur dengan nyenyak.

"Eungh." Erang Jungkook.

Ia menggerakan badannya tapi terganggu saat melihat adiknya ada disampingnya tengah bergelayut kekanakan ditangannya.

"Astaga! Yak! Bagaimana kau bisa disini?" Tanya Jungkook terkejut dengan badan yang sedikit terjungkal ke belakang.

Sedangkan adiknya, Gunwoo, tersenyum lalu tertawa kecil.

"Hyung saja yang tidur seperti orang mati. Bahkan aku berteriak masuk ke ruang rawat mu saja kau tak bereaksi." Kata Gunwoo dengan telunjuk tangan yang menyentil pelan dahi Jungkook.

"Argh. Yak! Beraninya kau!" Geram Jungkook. Ia menahan tangan Gunwoo agar ia tidak kabur.

"Awas kau." Ingat Jungkook.

Lalu ia tersenyum menyeringai. Tangan nakalnya menggapai badan Gunwoo.

"Jeon Gunwoo~" Katanya dan menggelitik Gunwoo.

"HYUNG!" Ronta Gunwoo

Badan Gunwoo bergerak kemana-mana karena kegelian.

"Hey kalian berdua. Pagi-pagi sudah membuat keributan."

Terdengar suara wanita yang masuk ke ruangan mereka, membuat mereka terjungkal terkejut.

"EOMMA!" Teriak Gunwoo lalu berlari bersembunyi di belakang ibunya.

"Eomma. Hyung nakal." Rajuk Gunwoo.

"Jungkook." Tegur Ibu Jungkook.

Jungkook hanya terkekeh tanpa rasa bersalah.

"Oh ya. Kenapa eomma datang pagi ini?" Tanya Jungkook.

"Anakku yang manis ini sudah diperbolehkan pulang." Kata Ibu Jungkook sambil mengelus rambut halus Jungkook.

Jungkook tersenyum.

"Benarkah? Uwah. Aku sangat merindukan rumah!" Katanya bersemangat.

"Aku sudah meminta Taehyung membawakan baju gantimu sekarang." Kata Ibu Jungkook.

"Eomma! Tidak-tidak! Aku tidak mau!" Kata Jungkook menolak.

"Jungkook sayang.. Eomma tahu kamu dan Taehyung bertengkar hebat. Tetapi tidak begini juga sayang. Meski anak eomma ini marah dan cuek pada Taehyung. Lihat, Taehyung malah rela menunggumu di depan selama tiga hari dengan membolos sekolah. Tapi tenang saja, eomma sudah menasehatinya." Jelas Ibu Jungkook.

Jungkook terkejut mendengarnya.

"Tae-"

"Jungkook, cepatlah bersiap-siap nak."

Kata-katanya terpotong oleh ibunya. Akhirnya Jungkook pun hanya mengangguk malas dan mulai bersiap-siap.

.

.

Taehyung melangkahkan kakinya memasuki rumah Jungkook. Lalu ia naik ke lantai atas dan masuk ke kamar Jungkook. Taehyung mengambil tas dan baju Jungkook yang akan dipakai nanti saat ia pulang. Lalu melangkah keluar da turun namun langkahnya terhenti saat ia melihat sebuah pintu yang daridulu tidak pernah ia masuki berada disamping kamar Jungkook. Taehyung penasaran. Ia menoleh ke kiri dan kanan. Lalu membuka pintu ruangan itu.

Betapa terkejutnya saat melihat isi ruangan itu adalah lukisan-lukisan yang terlihat amat indah. Mulutnya menganga menlihatnya dan ia pun menebak pasti ini milik Jungkook. Tak lama kemudian ia mengerutkan dahinya. Ia mendapati sebuah benda di depan meja dan kursi disitu tengah ditutupi oleh kain putih. Karena rasa penasaran Taehyung yang sangat besar ia mendudukan dirinya di kursi dan membuka kain putih itu.

Ekspresi Taehyung makin menjadi. Kini matanya melebar dan rahangnya jatuh seketika.

"Om-ma!" bisiknya.

Ia menutup mulutnya sendiri.

Lukisan itu, adalah.. Seorang pria yang punggunnya terkena sebuah cahaya dan membuatnya terlihat seperti sebuah siluet pria. Namun bukan itu yang membuatnya terkejut. Wajah pria yang terlihat itulah yang membuatnya terkejut. Itu adalah wajahnya.

.

Lepas dari terkejutannya ia mendapati sebuah buku yang mirip buku diary berada dibawah lukisan itu. Ia mengambil itu dan membaca isinya.

Saat ia mencapai halaman terakhir. Ia tersenyum. Taehyung menutupnya dan memasukkan buku itu ke dalam sakunya. Lalu ia keluar dan menutup pintu itu tanpa melepaskan senyumnya.

.

.

2 hari kemudian setelah pulang dari Rumah sakit.

Jungkook menatap datar dua orang yang tengah mengumbar kemesraan mereka dengan saling menyuapi.

"Hey, kalian kesini untuk menjenguk diriku atau hanya numpang bermesraan?" tanya Jungkook dengan kesal.

Dua orang itu -Jimin dan Hoseok- tampak tak peduli. Lalu Jimin mengambil salah satu biskuit di kaleng dan membelahnya menjadi dua. Ia memberikannya setengah biskuit pada Hoseok. Jungkook menaikkan sebelah alisnya melihat aksi yang ada didepannya.

Jimin melahap biskuit itu dengan cepat sampai-

"Kalian terlihat mesra dan cocok sekali." Komentar Jungkook.

"UHUK!"

-tersedak. Dengan perlahan Hoseok menepuk punggung Jimin dengan sayang. Sekarang Jungkook mulai merasa pasti bahwa ini waktunya untuk bertanya. Saat Jimin lega dari tersedak, Hoseok memakan biskuitnya-

"Kalian pacaran ya?" Tanya Jungkook.

"UHUK!"

-kini yang tersedak bukan Jimin tetapi Hoseok.

"Hyung!" seru Jimin khawatir. Jimin mengambilkan air minum yang ada di meja dan memberikannya pada Hoseok, yang langsung diterima oleh Hoseok.

Setelah Hoseok kembali seperti semula. Jimin melambaikan tangannya pelan.

"Tidak. Kami tidak pacaran. Benarkan hyung?" Tanya Jimin.

"I-iya. Kita hanya sahabat kok." kata Hoseok dengan berat hati.

Jungkook semakin curiga.

"Lagipula sebentar lagi... Oh ini dia." Seru Jimin.

Jimin memberikan sebuah undangan pada Jungkook dan Hoseok. Jungkook membaca isi undangan tersebut. Matanya membulat saat membacanya.

'^

Pertunangan

Park Jimin & Kang Seulgi

'^

Jungkook melirik Hoseok yang tampak tengah menatap sendu undangan tersebut. Jungkook berdeham.

"Ehm. Bagaimana bisa?" Tanya Jungkook ragu.

"Itu-"

"Jimin-ah, maukah kau menemaniku ke supermarket dekat sini sekalian pulang?" Potong Hoseok yang tentu saja mengalihkan alur pembicaraan.

.

Hoseok menatap punggung Jimin yang tengah berjalan di depan. Langkah Hoseok terhenti. Hoseok meremat bagian bawah kaus yang ia pakai.

"Park Jimin." Panggil Hoseok membuat Jimin berhenti dan membalikkan badannya.

"Apa?" Tanya Jimin.

"Aku ingin mengatakan sesuatu. Aku tahu ini sudah terlambat." Kata Hoseok.

Jimin diam mendengarkan.

"Selama ini aku…"

"aku.."

"Aku mencintaimu."

Mata Jimin membola.

"Kau bercanda, hyung?" Tanya Jimin.

"Aku tidak bercanda." Kata Hoseok tegas.

Bibir Jimin terbuka namun tak ada suara yang keluar membuat Jimin terdiam.

Drrt Drrt

Jimin mengambil telepon genggamnya. Terdapat panggilan telepon dari Seulgi. Jimin tersenyum kecil lalu mengangkat telepon itu sambil melangkah pergi meninggalkan Hoseok.

"Hallo. Ada apa, Seulgi?" Sapa Jimin dengan ceria. Dan lama-lama suaranya menghilang karena jaraknya semakin jauh.

Kepala Hoseok jatuh lemas. Bahunya bergetar. Ia menangis dalam diam tanpa memperdulikan orang-orang di jalanan memperhatikannya.

.

Jungkook menatap langit kemerahan diatas.

"Semoga mereka baik-baik saja." Gumamnya.

.

10.00 P.M

Hoseok memasuki salah satu apartemen. Itu adalah apartemen miliknya dan Jimin. Hoseok melihat sekitar, terdapat foto dan barang-barangnya dan Jimin. Kosong. Ia tidak mendapati sosok lelaki bertubuh pendek itu disana. Mungkin saja, Jimin sedang kencan dengan Seulgi di suatu restoran mahal.

Hoseok menghela nafas berat. Ia sudah membuat sebuah keputusan. Kakinya melangkah menuju kamarnya. Sekitar 15 menit, ia keluar dari kamar dengan membawa koper besar berwarna hitam dan meletakannya di ruang tamu. Tangannya mengambil barang yang tersisa dan menatanya ke dalam koper dan tas miliknya.

Hoseok bangkit dan menatap foto dihadapannya. Disana ia dan Jimin tengah tersenyum dengan jari tangan berbentuk 'V' ke arah kamera. Hoseok meraih telepon genggamnya dan menelepon seseorang.

"Hallo."

Dan terdengar suara gumaman dari seberang.

Hoseok terkekeh.

"Kau sedang tidur, hyung?" Tanyanya.

"Brengsek. Kau lupa eoh, disini sudah menjelang dini hari dan kau sedang merusak waktu tidurku." Umpat seseorang dari seberang.

"Oh aku lupa, Yoongi Hyung" Jawab Hoseok dengan nada tak berdosa.

"Kenapa menelepon? Tak biasanya kau meneleponku." Tanya orang yang bernama Yoongi.

Hoseok menatap foto itu lagi dan tersenyum pahit.

"Aku akan menerimanya." Kata Hoseok pelan.

"Benarkah? Wah itu bisa menjadi berita besar disini." Gumam Yoongi.

"Ya aku tahu." Balas Hoseok.

Tiba-tiba sekelebatan ingatan menghantui pikirannya membuat raut wajahnya berubah datar.

"Tapi…."

Suara berat nan datar milik Hoseok membuat Yoongi diseberang merinding seketika.

"Apa?" Tanya Yoongi.

Rahang Hoseok mengetat. Hoseok mendesis tertahan membuat suaranya terendam, menghilang dari kendalinya. Tak tentu arah.

"Jangan memberitahukan ini pada wanita gila bernama Jiae itu."

Suara Hoseok keluar dengan datar, dingin dan penuh geraman tertahan. Sampai-sampai terdengar juga suara gemerlutuk giginya.

"Baiklah. Aku akan mengurus hal itu."

Tak beberapa lama panggilan itu terputus.

Hoseok terjatuh terduduk menatap kosong koper besar miliknya.

.

.

.

Keesokan harinya, Jungkook sudah diperbolehkan masuk sekolah.

Jungkook mengaitkan tali sepatunya dengan rapi lalu keluar rumah dan menutup pintunya. Betapa terkejutnya dirinya, saat ia mendapat sosok Taehyung dengan sepedanya berada di luar rumahnya.

Jungkook meneguk ludahnya. Ia melangkah pelan mendekati Taehyung.

"T-taehyung." cicitnya.

"Oh.. Kau sudah siap. Ayo, berangkat." Kata Taehyung.

'Taehyung tidak marah?' batin Jungkook bertanya-tanya.

"Ayo, Jungkook. Naiklah.." Kata Taehyung dengan senyum yang lebar. Tangannya menepuk tempat duduk dibelakangnya.

Jungkook merasa bersalah. Bagaimana bisa Taehyung tak marah setelah apa yang ia lakukan?

"Jung-"

"Taehyungie"

Jungkook meremas pelan bawah kemeja sekolah milik Taehyung. Taehyung menatap wajah Jungkook yang tengah menampakan ekspresi yang sama sekali tidak ia inginkan. Mata berkaca-kaca, dengan hidung merah dan juga pipi basah.

"Astaga.. Kau kenapa, Jungkookie?" Tanya Taehyung khawatir.

Tangan Taehyung menangkup pipi Jungkook. Jungkook mendongak, menatap raut wajah khawatir Taehyung. Tangis Jungkook meledak.

"Huwaa… Taehyung…"

"J-jungkook.. Ada apa?" Tanya Taehyung gelagapan.

"Maafkan aku, Tae.. hiks.." Lirih Jungkook diselingi isakan.

Taehyung menarik badan Jungkook ke dalam dekapannya. Taehyung mengelus pelan surai Jungkook.

"Iya. Aku maafkan.. Aku juga minta maaf padamu karena sudah membentakmu." Kata Taehyung.

Selang beberapa menit kemudian, Taehyung menepuk pelan kepala Jungkook dan mengusap air mata Jungkook.

"Ayo berangkat. Kita akan terlambat." Ucapnya dengan senyuman merekah.

.

.

.

Ini sudah menginjak hari ke-8 setelah dirinya berbaikan dengan Jungkook.

Kini ia sedang berada di kantin dan mendapati Jungkook tak sendiri. Jungkook tengah bersama Sujeong. Entah apa yang ia rasa melihat keakraban mereka berdua.

Matanya hanya memandang mereka dengan tatapan yang sulit diartikan.

Taehyung menjadi mengingat dimana ia bertemu dengan Sujeong di taman.

FLASHBACK

Taehyung tengah duduk sendiri di taman itu. Ia melirik jam tangannya.

6.30 PM

Sepertinya ia terlalu cepat datang 30 menit sebelum janjian. Jangan salahkan dia, karena ia tadi sangat bersemangat saat Jungkook mengatakan ingin bertemu dengannya.

Ia menepuk-nepuk pipinya saat merasakan dinginnya angin musim dingin menerpanya.

"Kim Taehyung?"

Terdengar suara perempuan memanggil namanya membuatnya mengalihkan pandangannya.

"Sujeong?"

"Hai!" Sapa Sujeong.

"Sedang apa disini?" Tanya Taehyung.

"Aku sedang berkunjung ke rumah saudara ku. Lalu kau?" Tanya balik Sujeong.

"Aku menunggu Jungkook." Jawab Taehyung.

"Oh. Ngomong-ngomong bisa kau ceritakan bagaimana itu Jungkook?" Tanya Sujeong.

Mereka membicarakan Jungkook yang manis dengan tingkah lakunya. Tak jarang Sujeong tertawa saat Taehyung menceritakan hal konyol yang dilakukan Jungkook sewaktu kecil.

"Sebenarnya aku eum bisa dikatakan menyukainya. Dia terlihat lucu dan manis." Jelas Sujeong.

Taehyung mengangguk-angguk tanda mengerti.

.

Tangan Taehyung memegang erat gelas yang ia bawa. Lalu tangannya kembali seperti biasa. Ia menghela nafas dan berjalan kearah Jungkook dan Sujeong.

.

Jungkook tengah mengaduk adonan di depannya. Rencananya ia akan membuat kue ulang tahun untuk Hoseok yang besuk berulang tahun. Jungkook bersenandung mengikuti lagu yang sedang diputar melalui mp3 miliknya, terkadang ia juga bergoyang mengikuti iramanya.

TEP

Jungkook terkejut saat penglihatannya terhalang oleh sebuah tangan. Jungkook tersenyum.

"Taehyung!"

Sang pemilik tangan –Taehyung- terkekeh.

"Sedang membuat apa?" Tanya Taehyung.

"Membuat kue untuk ulang tahun Hoseok hyung." Ucap Jungkook.

Taehyung menjawab dengan bibir yang membentuk huruf 'O'.

Tak ada percakapan lain setelahnya. Hanya ada Jungkook yang tengah mengaduk adonan dan Taehyung yang berdiri di belakang Jungkook tengah memperhatikan apa yang dilakukan orang yang ada di depannya. Tak lama Taehyung tampak tersenyum.

Taehyung meletakan kepalanya pada bahu Jungkook dan menyembunyikan wajahnya di lipatan leher Jungkook lalu menghirup aroma Jungkook yang menguar begitu menenangkan.

Jungkook terkejut, bahunya terasa berat. Ia merasakan hembusan nafas di lehernya. Dengan kaku ia menoleh.

DEG

Taehyung terkekeh saat tubuh sahabatnya ini menegang karena dirinya.

"Kau.. Hihi.. Kau sudah seperti menjadi seorang suami oh bukan, seorang istri saja." Kata Taehyung.

BLUSH

Jungkook terdiam dan menundukan kepala. Taehyung tersenyum kecil mendapati respon malu-malu Jungkook. Taehyung kembali melesakan wajahnya ke ceruk leher Jungkook dan mengusak-usaknya sampai hidungnya mengenai kulit mulus leher Jungkook.

Darah mereka berdesir saat bersentuhan seperti itu. Jungkook menggigit bibirnya yang ingin mengeluarkan sebuah desahan tertahan itu.

'Urgh Taehyung jangan membuatku seperti ini' – batin Jungkook.

.

.

Jimin tengah mencatat kembali materi smester 1 yang lalu di perpustakaan sekolah. Untung saja perpustakaan sekolah masih buka meski waktu sudah menunjukan pukul 5 sore.

Jimin merenggangkan badannya karena terasa pegal dengan posisi itu selama dua jam. Jimin melirik telepon genggamnya. Tak ada pesan maupun telepon. Biasanya Hoseok akan menelpon dirinya jika dirinya tidak memberi kabar waktu pulang, namun kini tak ada lagi setelah kejadian pernyataan cinta Hoseok.

Jimin menghela nafas. Hoseok tidak ada kabar sama sekali. Nomor teleponnya tidak aktif, di media sosial pun akunnya telah dihapus. Saat Jimin mencari keberadaan Hoseok di apartemen mereka pun hanya disambut kekosongan. Pakaian Hoseok di lemari tak ada juga. Membuat Jimin cemas dan berpikir tidak-tidak.

Ia menelungkupkan wajahnya ke dalam lipatan tangannya. Sejenak ia melupakan setumpuk buku materi di hadapannya.

Drrt Drrt

Getar panggilan telepon membuat Jimin terganggu, Ia mendongak melihat nama yang meneleponnya.

'Jiwoo Nuna'

Alis Jimin naik. Jimin tampak ragu untuk menjawab panggilan telepon dari kakak Hoseok itu.

Jimin mengambil teleponnya dan mengangkat panggilan itu.

"Halo.. Ada apa, Nuna?"

"…"

"APA?!"

"…"

"Ya.. Aku akan segera kesana."

Jimin menutup panggilan tersebut. Ia mengusap wajahnya kasar. Raut wajahnya memancarkan penyesalan dan kepanikan. Tangannya berlarian memasukkan buku ke dalam tas hitam miliknya termasuk buku dari perpustakaan tersebut dan berlari keluar perpustakaan.

Masa bodoh tak pakai kartu peminjaman. Aku harus cepat kesana. Batin Jimin.

TAP TAP

Suara ketukan kaki yang tengah diayunkan dengan keras –berlari- itu terdengar di koridor sekolah yang sudah sepi itu.

Jimin menuju parkiran dan kemudian menaiki motor birunya.

.

"Hoseok akan pergi ke Jepang. Tolong cegah dia segera, aku mohon." kata Jiwoo

.

.

Jungkook dan Taehyung tengah bercanda di taman belakang rumah Jungkook sambil menunggu matangnya kue yang dibuat.

Sesekali Taehyung mengerlingkan matanya dengan jenaka lalu menggelitiki sisi badan Jungkook dan berakhir dengan teriakan protes dari Jungkook.

Drrt Drrt

Telepon genggam Taehyung bergetar sangat lama.

Taehyung melihat jika ada panggilan masuk dari nomor telepn yang tak dikenal.

"Hallo?"

".."

"Iya, saya temannya, Kim Taehyung."

".."

"APA?"

".."

"Ya saya akan menghubungi orang tuanya."

Setelahnya Taehyung menutup teleponnya dan terburu-buru memakai jaket kulitnya. Sedangkan Jungkook menatap bingung Taehyung yang terburu-buru.

Taehyung yang merasa ditatap terus menoleh dan menatap Jungkook. Ia mendengus. Tidak ada waktu untuk menjelaskan semua yang terjadi. Karena mereka harus segera bergegas.

"Ayo. Kita harus pergi dengan cepat." Kata Taehyung.

Taehyung melangkah keluar diikuti Jungkook yang tak tau apa-apa. Ia mengingat jika mereka tengah tidak membawa apa-apa.

"Jungkook, bisakah aku meminjam mobil ibumu?" Tanya Taehyung.

"N-ne? Ah yaa. Sebentar." Jawab Jungkook lalu masuk kembali ke dalam rumah.

Jungkook keluar dengan kunci mobil dan ia serahkan kepada Taehyung. Taehyung menerima dan membuka pintu kiri mobil.

Selang beberapa menit, Ia tak merasakan pergerakan dari Jungkook. Taehyung mengalihkan pandangan, Ia mendapati Jungkook masih berdiri di tempat yang sama saat ia memberinya kunci mobil.

"Kenapa kau masih disana? Ayo cepat masuk." Tanya Taehyung tergesa.

"N-ne?"

Taehyung menghela nafas. Ia akhirnya mengatakan sdua kata dengan lirih yang membuat Jungkook mengerjapkan matanya dan membulatkan matanya kemudiannya. Jungkook kemudian masuk ke dalam mobil.

.

.

"Park Jimin mengalami kecelakaan."

.

.

To Be Continued

.

.

.

Hello… It's me.. I was wondering if after all these years you'd like to meet /eh

Halo, kembali lagi dengan saya. Ami Zhang… Sudah lama tak berjumpa karena saya sibuk. Dan saya juga bersyukur karena kesibukan saya (belajar dan belajar), saya dapat diterima di salah satu SMA favorit.. hehehe

Maafkan jika updatenya tak sesuai dengan janji kemarin, maka saya bawakan chapter dengan 2.607 words ini dengan cepat meski telat sebulan hehehe.

Oh ya..

Minal Aidzin Wal Faidzin. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H

Maafkan saya atas kesalahan dan khilafnya.. /sungkemsatusatu/

Untuk pemberitahuan kiranya ILYMB akan berakhir antara 1-2 chapter lagi.

So, tunggu saja endingnya jika kalian sudah muak dengan cerita saya ini yang sangat drama sekali hehe.

Sampai jumpa di chapter selanjutnya~

.

.

Mind to Review?

.

.

Hargai Kerja Keras Penulis!

.

Ami Zhang © MIIU Entertainment