Painkiller


Disclaimer

In this FanFic story, the casts are OOC.

Their Characters in this FanFic aren't their real characters in the real life.

WARNING

This FanFic is pure of my imagination.

Please don't copy it without my permission !

Boys Love, Typos everywhere !

Genre : Hurt/comfort !

Don't like ? Just click exit please...

Imagination is like the Universe

Stories are like the stars

We are the star finders

Let's hope for Happy Endings in Fiction World

Coz in the real world, we can't expect for Happy Endings

~Happy Reading~

.

.

.

Chapter 5

.

.

.

Previous chapter

"Makanya jangan nakal... Kalau saja kau jatuh, gigimu akan patah setengah... Hahaha..." canda Chanyeol sambil mengelus rambut coklat Baekhyun.

Harusnya ia menjambak rambut itu tetapi pelukan dan elusan di rambutnya membuatnya tenang dan sekaligus membuatnya berdebar-debar.

Sialan kau Park Chanyeol.

Chanyeol merenggangkan pelukannya untuk menatap wajah milik Baekhyun sambil tersenyum.

"Ayo pulang...".

Di gandeng tangan mungil itu dan tanpa mereka tahu ada sepasang mata yang menatap mereka, ralat... menatap Baekhyun dengan tatapan penuh kebencian.

"Kau akan hancur ditanganku, Byun Baekhyun-ssi.".

Sepasang mata itu menghilang di balik lorong itu dengan langkah penuh kebencian dan di sisi lain kedua pria itu berjalan dengan langkah penuh yang orang-orang sebut dengan cinta.

Flashback end

.

.

.

Pesta pernikahan HunHan, 22.00 pm

Suasana bahagia kedua sejoli itu sudah berakhir. Pihak keluarga HunHan sudah mengundurkan diri dari tempat pesta begitu pula dengan teman-teman Baekhyun dan Sehun. Sehun dan Luhan sudah ke hotel mereka untuk tidur bunga mereka. Baekhyun masih berada di taman balkon tempat pesta itu berlangsung. Menatap langit yang gelap dengan taburan bintang di atas sana. Teringat dengan ayah dan ibunya di London sana untuk menjalankan bisnis mereka.

Flashback

Angin malam berhembus lembut, menerpa pipi mungil anak laki-laki itu. Anak itu mengeliat kecil dan berusaha lebih masuk ke dalam pelukan ayahnya yang menghangatkan itu. Ayah itu yang sibuk menatap langit malam itu terkekeh melihat tingkah anaknya itu. Hanya beralaskan kain untuk piknik dan sebuah selimut membuat quality time antara ayah dan anak itu terasa hangat.

Anak itu mengerjapkan matanya dan menatap ayahnya seraya berkata,

"Dad, kenapa dad masih mau di luar sini ? Disini dingin dad...".

Ayah itu terkekeh mendengar ucapan anak laki-laki itu. Ia mengeratkan pelukannya dan berkata,

"Dad senang melihat langit malam. Kau lihat betapa terangnya bintang-bintang itu. Dad senang melihatnya seperti dad senang melihat kau dan juga ibumu. Kau tahu, keburukan ibu itu sebanyak bintang di langit malam seperti sekarang dan kebaikannya sedikit seperti matahari.".

Anak itu terkejut dan bertanya-tanya.

"Lah, kok daddy bilang begitu...".

Ayah itu tertawa kecil.

"Tapi daddy kan belum selesai bicara... Walaupun keburukannya sebanyak bintang di langit malam, keburukannya akan hilang karena begitu matahari terbit, semua bintang di langit akan hilang. Mengerti Baekkie ?" ucap ayah itu dengan bijak.

Anak itu menatap ayahnya dengan penuh binar. Ia membenarkan perkataan ayahnya itu.

"Nah, keharmonisan keluarga, persahabatan, dan juga percintaan memang ada sedikit kesalahan yang pernah timbul tapi hal itu akan tertutupi oleh sebesar kasih sayang itu sendiri. Mengerti Baekkie ?".

"Ngerti...".

Ayah dan anak itu berpelukan dengan erat untuk mendapat kehangatan dan juga menyalurkan pelajaran hidup yang berguna bagi sosok mungil itu.

Flashback end

Baekhyun menghela nafasnya. Ia melupakan nasihat ayahnya. Sekarang disinilah ia, dengan rasa bimbang. Menghindar dari masalah hanya karena kesalahan yang di perbuat pria tinggi itu, membuat dirinya tidak melihat kebaikan dan mungkin juga rasa cinta pria tinggi itu yang pernah timbul itu. Hanya saja ia tidak dapat membuka hatinya untuk pria itu .

Lagi...

Mungkin...

Bimbang.

Ragu.

Itu yang sedang ia rasakan.

Di sisi lain

Chanyeol duduk di kursi kayu di depan balkon lantai 2 tempat pesta pernikahan adiknya itu. Angin berhembus menerpa dirinya, mengeringkan bekas air mata di pipi tirus itu. Mencoba melepaskan rasa bersalah, rasa menyesal, rasa kecewa, segalanya. Namun, hatinya tak mampu. Hatinya merana. Rasa putus asa memenuhi relung hati itu. Dirinya sudah tidak merasa hidup, hati yang hampa, pikiran kosong, jiwanya meratapi di sudut hatinya, raganya tak terasa nyata. Rasanya dirinya sudah tenggelam dalam rasa penyesalan dan keputusasaan yang mendalam.

Ia berdiri dan menatap ke bawah sana. Matanya menatap siluet yang begitu ia rindukan dan juga ia cintai. Air matanya menetes lagi. Merasa dirinya berhalusinasi. Terjebak di fatamorgana yang amat mencekam dirinya. Ia menatap siluet yang ia sangka hanyalah halusinasinya itu dengan derai air mata yang tumpah di sekujur wajahnya. Tungkainya terasa lemas dan ia pun terjatuh duduk. Menangisi kebodohannya. Terlambat untuk mengapai pria mungil itu. Terlambat untuk meminta maaf.

Ia merasa terlambat menyadari semua itu.

Dua insan itu berada di tempat yang sama dengan perasaan berbeda.

Di satu sisi merasa bimbang.

Di sisi lain merasakan sesal yang mendalam.

.

.

.

Sudah satu jam Baekhyun berada di taman itu. Angin yang berhembus semakin dingin membuat dirinya harus mengeratkan mantelnya berulang kali. Ia beranjak dari taman itu. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara isakan yang menurutnya familiar di telinganya. Ia mencari sumber suara itu dan pada akhirnya ia mendongak ke atas dan menemukan Chanyeol terduduk di lantai balkon itu dan mencengkram kemejanya bagian dadanya dengan erat dan sekali-sekali memukul dadanya.

Di matanya terpampang sosok pria yang begitu menangisi perasaannya dan mungkin dirinya. Chanyeol tidak sadar jika Baekhyun yang sedang menatapnya itu nyata. Ia sudah terlalu larut dalam keputusasaan. Hati Baekhyun bimbang.

Haruskah ia menghampiri pria itu dan menenangkannya ?

Atau

Sebaiknya ia pergi dari tempat itu secepat mungkin ?

Pikirannya berkecamuk. Matanya menatap iba kepada pria yang pernah menempati relung hatinya itu. Telinganya mendengar ucapan penyesalan pria itu dan juga namanya yang disebut-sebut oleh pria itu.

Bukankah terlalu egois jika ia meninggalkan pria itu lagi ? Dengan situasi yang sama. Dimana pria itu menangisi dirinya.

Bukankah sudah saatnya ia melupakan masa lalu yang kelam itu ?

Ia tidak tahu, tetapi sekarang ia biarkan hatinya memilih.

Memilih menenangkan pria tinggi itu seperti seorang teman.

Karena ia tahu, seperti apa rasanya.

Ia pun masuk dan naik ke lantai dua dan mencari pria itu. Ia menghampiri Chanyeol dan mengusap punggung lebar itu. Chanyeol tersadar dan menoleh ke arah sentuhan itu. Persis seperti saat mereka pertama kai bertemu. Yang membedakan hanyalah suasana dan situasinya. Chanyeol menampik semua itu. Ia mengelengkan kepalanya untuk tidak merasakan sentuhan di punggung lebarnya. Menganggap semua itu hanyalah tipu muslihat.

Baekhyun menatapnya miris.

"Hei, tidak baik menangis di luar sini. Kau bisa sakit. Masuklah ke kamarmu." Ucap Baekhyun sambil menepuk-nepuk pundak pria bertelinga lebar itu supaya tenang.

Chanyeol menoleh dan berusaha untuk menatap Baekhyun dengan jelas. Ia mencoba menyentuh pipi Baekhyun dan Baekhyun mencoba tersenyum untuk pria itu. Chanyeol terkejut dan tangisnya semakin menjadi-jadi.

"Kau disini... Aku kira aku tak akan bisa bertemu denganmu lagi... Aku-aku..." ucap Chanyeol sambil menatap Baekhyun dengan air mata yang selalu memenuhi pelupuk matanya.

Baekhyun tersenyum dan menghapus air mata Chanyeol.

"Ya, aku sekarang di sini... Tenanglah... Janganlah menangis.".

Chanyeol terisak, meluapkan semua penyesalan yang ia timbun hari demi hari, selama hidupnya. Baekhyun meraih pundak yang harusnya kokoh itu ke dalam pelukannya. Chanyeol menangis di pelukan Baekhyun sambil meracau.

"Maafkan aku... Kumohon maafkan aku... Aku bodoh... Sangat bodoh...".

"Hei, tenanglah... Sudah berapa lama kau menangis hah ? Kau tidak capek ? Aku yang mendengarmu menangis saja capek... Sudahlah... Aku maafkan dirimu... Jadi, janganlah menangis lagi... Kumohon..." ucap Baekhyun yang sedikit panik karena tangis Chanyeol yang tak berhenti.

Baekhyun tahu kalau Chanyeol benar-benar hancur sekarang. Ia tahu bahwa Chanyeol sudah sehancur ini karenanya. Di hari itu, dimana ia berjalan meninggalkan pria tinggi itu dan di semua cerita yang diceritakan oleh Sehun. Di cerita-cerita yang menunjukkan betapa hancurnya Chanyeol.

"Kumohon jangan pergi... Kumohon... Jangan pergi karena aku mencintaimu.".

Baekhyun terdiam mendengar hal itu. Ia bimbang. Baekhyun merasa pundaknya memberat dan tangis Chanyeol menghilang. Chanyeol tertidur di pelukannya. Baekhyun menatap Chanyeol dengan tatapan bersalah dan berkata,

"Maafkan aku... Aku tidak bisa.".

.

.

.

Hotel Xixun, 08.30 am

Chanyeol terbangun. Ia bermimpi bahwa ia bertemu dengan Baekhyun. Entah kenapa mimpi itu terasa sangat nyata. Ia bisa menyentuh pipi pria mungil itu dan melihat senyumnya. Ia beranjak dari tempat tidurnya dan menatap wajahnya di cermin kamar mandi. Ia melihat betapa bengkak matanya itu.

Ia menangisi Baekhyun terlalu banyak. Sepertinya ia istirahat terlebih dahulu. Ia menelepon sekretarisnya untuk mengundurkan waktu pernerbangannya menjadi besok. Ia rasa ia perlu waktu sejenak. Memutuskan untuk tetap mencari keberadaan Baekhyun atau merelakan pria mungil itu.

Ia benar-benar perlu waktu sejenak.

.

.

.

Helsinki-Vantaa Airport

Baekhyun berjalan keluar dari gerbang kepulangannya sambil menyeret kopernya. Langkahnya terasa berat. Berat karena harus menjalankan kehidupannya yang baru, tanpa adanya teman-temannya, Sehun, dan juga tanpa Chanyeol. Ia berhenti, lalu membalikkan badannya. Ia menatap gerbang itu dengan tatapan sendu. Seharusnya ia bersyukur, bersyukur karena cobaan untuknya telah lenyap. Ia dapat melakukannya dengan baik, bisa menerjang ketakutannya dengan baik, bisa melewatinya tanpa air mata yang terus berjatuhan.

Pada akhirnya,

Ia dapat melepaskan Chanyeol.

Ia dapat melepaskan kenangan indah dan juga menyakitkan itu.

Ia dapat melepaskan pria itu dengan hati yang ringan.

Ia dapat melepaskan cintanya.

Baekhyun tersenyum dan mengumam,

"Terima kasih. Selamat tinggal, Chanyeol. Semoga kau bahagia… Maafkan aku.".

.

.

.

Hotel Xixun, kamar Sehun dan Luhan, 10.00 am

Sehun dan Luhan benar-benar mengembangkan senyum mereka dengan lebar. Mata mereka menyiratkan kebahagiaan yang tulus. Yang mereka temukan saat pagi hari, saat mereka membuka manik mereka, yang mereka temukan adalah sepasang manik yang amat mereka dambakan. Sehun dan Luhan memulai hari mereka dengan hati yang berbunga-bunga.

Ting...

1 pesan dari Baekhyun hyung

Sehun yang sedang bersiap-siap untuk turun ke ruang sarapan menatap ponselnya. Luhan yang keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap menghampiri Sehun.

"Ayo kita sarapan Hunnie..." ucap Luhan sambil merapikan pakaiannya di depan cermin kamar itu.

Sehun menatap ponsel di genggamannya dengan tatapan bingung.

"Kau turun dulu saja, sayang. Aku ada urusan sebentar..." ucap Sehun yang duduk di pinggir kasur sambil menatap layar ponselnya.

Luhan maklum, ia pikir ada pekerjaan mendadak untuk suaminya itu. Ia mengangguk dan berjalan turun ke ruang sarapan.

Sehun membuka pesan itu.

Baekhyun hyung :

Sehunie... Aku lupa memberitahumu bahwa hari ini aku pulang ke Finlandia... Maafkan aku... Semoga kau bahagia, hyung mencintaimu... Sampaikan salamku kepada Luhan dan juga Chanyeol... Sekali lagi aku mencintaimu... /emot cium/

Sehun memicingkan matanya ke layar itu seakan-akan ia dapat melaser layar itu sampai bolong.

"Hyung jahat..." ucap Sehun dengan main-main.

Mau dikata apa, ia belum melepas rindu kepada hyung tercintanya itu. Ia menghela nafas dan bergumam,

"Kau juga harus bahagia hyung, aku juga mencintaimu...".

Ting...

1 pesan dari Dokter Taemin

Sehun kembali menatap ponselnya dan mengerutkan alisnya.

'Dokter Taemin ? Apa ini berhubungan dengan jalang itu ?'.

.

.

.

Di restoran hotel, tempat sarapan, 10.30 am

Luhan menunggu Sehun dengan sabar. Ia hanya sendirian di ruang sarapan yang sudah di pesan oleh Sehun. Ruang sarapan VIP. Luhan hanya memainkan ponselnya dan melihat sekelilingnya dengan bosan. Luhan menopang dagunya dan menatap keluar kaca pembatas ruangannya dengan restoran yang sudah padat. Luhan baru saja mendapat pesan dari Baekhyun bahwa ia sudah pulang ke Finlandia. Luhan pikir ia dapat menghabiskan waktu dengan Baekhyun untuk waktu yang lama. Luhan menatap pemandangan luar ruangannya dengan bosan.

"Luhan hyung...".

Luhan menoleh ke arah pintu dan mendapati Chanyeol yang sudah rapi dengan setelan santainya hanya saja Luhan dapat melihat betapa bengkaknya mata Chanyeol itu.

"Astaga yeol ! Duduklah, dan mengapa matamu sangat bengkak ?!" tanya Luhan yang segera berdiri dan menghampiri Chanyeol.

Chanyeol menarik nafasnya yang tersengal-sengal sambil mengelap peluhnya.

"Beritahuku tentang keberadaan Baekhyun ! Kumohon hyung ~" melas Chanyeol sambil menatap Luhan dengan matanya yang bengkak itu.

"Aishhh, kau ini... Kukira kau kehilangan apa, tahu-tahunya kau malah menanyakan hal sepele itu." Ucap Luhan yang menggelengkan kepalanya sambil meminta es batu kepada pelayan.

"Ayolah hyung... Kumohon...". Chanyeol sudah memantapkan hatinya.

Ia tidak akan melepaskan Baekhyun lagi. Chanyeol bertekad untuk tidak menyerah...

"Lagakmu seperti mampu saja. Biar kutebak, semalam kau menangisi Baekhyun bukan ? Matamu seperti di tonjok gajah... Tutup matamu." ucap Luhan sambil menempelkan es batu ke mata bengkak Chanyeol.

"Dia ada di Eropa, carilah... Hitung-hitung kau bisa berlibur karena kau sudah benar-benar frustasi... Lihat, kau membengkakkan matamu. Ckck..." ucap Luhan yang masih mengurusi mata Chanyeol.

Chanyeo terdiam. Mencoba berpikir.

Eropa ?

Bagian dimana ?

"Eropa mana hyung ? Jangan bilang jika kau menyarankan untuk keliling satu Eropa." Ucap Chanyeol yang sudah bisa membuka matanya.

Luhan mengelap tangannya dan menatap Chanyeol dengan remeh.

"Uangmu bertebaran dimana-mana. Gunakan untuk kesehatan mentalmu... Berlibur bukan hal yang sulit. Baru saja aku ingin berkata begitu dan juga bukankah kau harus mengorbankan sesuatu untuk mendapat sesuatu yang berharga untukmu ?" ucap Luhan yang tersenyum mengejek kepada Chanyeol.

Chanyeol memajukan bibirnya dan menatap Luhan dengan kesal. Luhan hanya terkekeh menatap tingkah Chanyeol.

Ting...

1 pesan dari ~Hunnie~

~Hunnie~ :

Sorry honey... Aku harus ke Korea, ada yang perlu aku urus disana... Aku janji tidak akan lama. Saat pulang aku akan menceritakannya. Sorry honey, I love U... Jaga dirimu... /emot hati/

Luhan menghela nafas. Chanyeol menatap Luhan dan menepuk pundak Luhan.

"Tenanglah, Sehun tidak mungkin selingkuh. Sekarang bantu aku mencari Baekhyun." Ucap Chanyeol sambil tersenyum polos tanpa dosa.

Luhan memutar bola matanya dan memanggil pelayan untuk menghidangkan sarapannya dan juga untuk Chanyeol.

"Diam kau... Sekarang makan sarapanmu." Ucap Luhan dengan nada kesal.

Bukan itu yang ia pikirkan.

Tetapi yang ia pikirkan,

Apa ia tidak salah mengambil pijakan ?

Apa ia salah membantu Chanyeol ?

Luhan menggeleng kepalanya untuk menghilangkan pikiran negatifnya.

'Aku ingin kau juga bahagia Baek...'.


.

.

.

To be continued

.

.

.


Alooo...

Baru inget kalo hari ini harusnya update ~

Hehe...

Jadwal updatenya ganti yakkk

Jadi Selasa / Kamis

Soalnya mau nulis FF yang lain...

Tunggu aja ~

Hehe...

Maaf kalo ada typo karena aku ini hanyalah manusia biasa...

Mata dah pusing liat kalimat kalo di liat lagi malah gak keliat yang typo...

Sorry kalo ada typo...

Dah ya, sampe sini aja penyiksaan Chanyeol...

Dah nangis kejer dianya disini...

Miris aku tuh /nepuk'' pundak Chanyeol/

Udh dulu yak...

Sampai ketemu di chapter depan...

Babai ~

Lop U all ~