Sadarlah Sasuke-kun, aku berjanji akan mengubah segalanya setelah ini. Aku tidak pernah akan keberatan kalau wujud keren mu membuatku cemburu saat banyak gadis yang menyukai dan mulai mendekatimu…

Maafkan aku, Sasuke-kun…

Maaf…

Hiks…

.

.

.

==00==00==00==

Bisikkan Aku © Kitty Kuromi

Naruto © Mashashi Kishimoto

-Chapter VII-

SasuSaku/GaaraSaku NO INCEST!/AU/OOC/OC/TYPO(s)

Rush: karena rasa bersalah author telah mencampakan fic ini, mungkin chapter ini terlihat rush banget dan tidak memuaskan.

Maaf, gomen, sorry, sepurane.

==00==00==00==

.

.

.

BRAK!

"Bodoh!" bentak wanita paruh baya yang masih sangat cantik dan memiliki rambut pirang. Ia menatap sengit pemuda berambut merah di hadapannya. "Apa yang kau lakukan adalah tindak kriminal, Gaara!"

Sementara pemuda yang di panggil Gaara itu hanya mendecih dan tersenyum sinis tipis. "Dia pantas mendapatkannya!"

"Mendapat apa? Sasuke tidak punya masalah denganmu ataupun Sakura!" nada bicara Tsunade—kepala sekolah Konoha Arts Academy sekaligus istri dari walikota Jiraya—tidak turun seoktafpun.

"Aku hanya ingin melindungi Sakura-ku." Jawab Gaara tenang dan tanpa menoleh.

"Apa yang perlu kau waspadai dari murid teladan seperti Sasuke, ha?"

"Dia pengajar club karate, pemegang sabuk hitam. Dan sudah memenangkan sejumlah tournament. Dia sama berbahayanya dengan SAI!" Gaara memberi penekanan pada kata terakhir. Iris hijau lumutnya menatap lurus sang kepala sekolah tanpa rasa takut.

"A-apa? Tidak mungkin… dia kan—"

"Culun?" Gaara memberi jeda untuk mendecih. "Tidak terlihat kan? Justru itu yang membuatku semakin takut, jika ia berdekatan dengan Sakura." Cowok berambut merah itu menghela napas. "Aku hanya takut kejadian SAI terulang kembali pada Sakura. Mengertilah, Tsunade-sama… Sakura adalah hidupku. Imouto yang sangat aku cintai."

Untuk beberapa saat Tsunade terdiam mencerna kalimat yang Gaara lontarkan, Sasuke pemegang sabuk hitam sekaligus pengajar klub karate? Lantas kenapa begitu mudahnya ia terjatuh saat dikeroyok, kemarin?

"Tapi caramu menunjukan rasa sayang pada adikmu itu salah. Apa kau masih belum sadar juga, ia sudah sangat membencimu." Tsunade menghela napas membuang pandangan pada meja polos di hadapannya. "Sebelumnya, ia sangat mengasihimu, Gaara."

Gaara terkekeh meremehkan dengan pelan. "Aku tidak peduli. Aku hanya tidak ingin ia terluka. Siapa pun pantas mati, jika melukai imouto-ku. Tak terkeculai Sai, atau Sasuke."

"Kau adalah siswa cerdas. Gunakan logikamu, Gaara. Kau telah membunuh seseorang tanpa fikir panjang hanya karena emosi. Padahal Sai sangat—"

"DIA MELUKAI SAKURAKU!" bentak Gaara dengan sorot mata tajam. "TANGAN BUSUKNYA TELAH BANYAK MEMBUAT IMOUTO-KU TERLUKA! DIA PANTAS MATI!" napas cowok bertato 'Ai' itu sedikit memburu karena tersulut emosi.

Tsunade menutup mulutnya yang ternganga, ia menggeleng tidak percaya pada pemuda dihadapannya. "Kau tidak menyesal telah tinggal kelas hanya karena sempat di penjara terkait kasus pembunuhan Sai waktu itu?"

"Tidak. Aku menyesal, mengapa tidak lebih cepat membunuhnya dulu. Kelengahanku membuat imouto-ku terluka. Tidakkah kau mengerti, dia terlalu polos dan mudah buta karena cinta!"

#Flashback on#

BRUGH, BUAGH! ZRASH!

Dan serangan terakhir yang melancarkan sebilah pisau itu tertanam kuat di perut pemuda berkulit seputih kertas.

"MATI KAU! JAHANAM! BERANINYA KAU MELUKAI SAKURAKU!"

"Gaara-nii!" Sakura segera menghampiri tubuh yang terkulai lemas di tanah, air hujan yang tercurah telah memudarkan darah yang tersembur dari mulut lubang di perut pemuda bermata onyx tersebut. "Sai-kun… hiks." Tangannya mengangkat kepala pemuda yang bernama Sai tersebut kedalam rengkuhannya.

"Cih, berhenti menangisinya. Tangan kotor itu terlalu banyak menyiksamu. Dia tidak waras untuk seorang kekasih." Gaara mendecih dan memasang wajah angkuh dengan rahang yang mengeras mendapati adiknya yang tidak menggubris perkataannya.

"Sai-kun…" sekali lagi gadis itu memanggil di tengah isakan tangis yang tersamarkan oleh hujan, berharap mata sayu dalam rengkuhannya itu terbuka lebih lebar.

Onyx yang redup itu memandang intens sepasang iris hijau zambrud di hadapannya. Tatapannya sangat lembut dan tidak datar seperti biasanya. Seulas senyum tipis tergores di wajah pucatnya. Tangan dinginnya meraih tangan mungil yang menelungkup di pipinya. "A-akh!" susah payah ia bersuara di tengah deraan sakit sekujur tubuhya. "A-ai… shiter… ru, Saku—" dan helaan napas panjang terakhir itu di iringi jeritan pilu Sakura.

"TIDAAAAAKKK!"

#Flashback off#

"Tapi belum tentu Sasuke akan seperti almarhum Sai, Gaara." Kalimat Tsunade barusan berhasil menarik Gaara kembali ke dunia nyata.

"Sai dan Sasuke sejenis dan bahkan hampir serupa. Ketua Judo dan Ketua Karate. Tidak menutup kemungkinan ia bertangan kasar seperti Sai."

"KAU GILA, GAARA!"

"Terserah. Apapun untuk imouto-ku."

.

==00==00==00==

.

Sepasang kelopak mata itu terbuka perlahan, sedikit mengerjap menyesuaikan cahaya yang di terimanya, dan kemudian nampaklah dua manik berwarna viridian. Nampaknya ia agak bingung melihat ke sekitar, ini rumah sakit, lalu kenapa dia tidur di atas ranjang?

Sampai ia sadar bahwa ada tangan besar berselang infus sedang bertengger manis di kepalanya, dan sebuah kepala berhelaian hitam kebiruan sedang tertidur di samping pinggangnya.

Astaga, Sasuke-kun. Ia memegang tangan besar di atas kepalanya itu, lalu menggenggamnya.

Sakura pun bangkit dari baringannya yang kemudian sukses membuat pemuda berseragam pasien rumah sakit itu sedikit menggeliat dan terbangun. "Sudah bangun?" tanya pemuda itu seraya menguap dan mengucek mata. "Aw." Desis sang pemuda ketika ia mengucek matanya yang lebam.

"Astaga, Sasuke-kun, kenapa duduk dan tidur di situ?" tanya Sakura sambil menjuntaikan kaki kebawah. "Kenapa aku bisa tidur disini?" lanjutnya kemudian benar-benar turun dari ranjang rumah sakit. Menapakan telapak kaki telanjangnya di lantai.

Tunggu, mana sepatu sekolahku? Sakura mengedarkan dan dapat menemukan sepatu sekolahnya berada di pojok ruangan. Astaga, cowok ini benar-benar…

"Maaf, aku tidak tega melihatmu tertidur dengan posisi yang tidak nyaman." Gumam pemuda itu pelan namun terdengar jelas. "Tidurlah lagi, Sakura." Tangan besarnya meraih tangan kecil Sakura yang hendak beranjak ke pojok ruangan. "Kau terlalu banyak menangis, maafkan aku." Lanjutnya lagi sambil berdiri dan sebelah tangannya yang terinfus memegang tiang penyanggah kantung infus.

Sepasang iris hijau kemilau itu menatap sepasang iris kelam di depannya dengan mendongak. Melihat jelas tatapan datar dari hamparan kegelapan yang agaknya membuatnya tenggelam di dalam sana. "Maafkan aku." Ulang Sasuke ketika tak kunjung mendapatkan respon dari Sakura.

Sakura menatap Sasuke tak percaya. Mengapa pemuda itu begitu baik dan terlalu memikirkan perasaan Sakura, sementara pemuda itu tak pernah menujukan kalau ia juga menderita karena seikap egois dan manja dari Sakura. Hal itu membuat hati Sakura kian sakit

"Kau ini bicara apa?" ucap Sakura dengan mata yang terasa panas.

"Kau begini karena aku." Pandangannya masih jatuh pada dua iris kelam di hadapanya secara bergantian, dengan pandangan yang mulai memburam. "Mengapa kau tidak marah padaku?"

Pemuda berwajah lebam di mata kiri dan sudut bibir kanan itu menatap tak mengerti pada dua manik hijau viridian yang telah basah di hadapannya, genggaman tangannya terlepas kasar oleh gadis bersurai merah muda berantakan di depannya.

"Mengapa kau biarkan dirimu terluka?" tanya gadis itu dengan suara bergetar. Sasuke ingin menjawab, sungguh, ia ingin sekali mengatakan sesuatu setidaknya 'jangan menangis' tapi lidahnya terasa kaku melihat getaran kecil pada bibir gadis berseragam sekolah berantakan di hadapannya. "Mengapa kau membuat aku ketakutan…" suara gadis itu bergetar hebat seraya memukul kecil dada Sasuke.

Tanpa kendali sang pemilik, tangan besar itu mengurung kepala Sakura dan mendekap gadis itu seerat dan senyaman mungkin. Membiarkan selang infus terjuntai ke samping antara tiang penyanggah, dan tangannya yang sedang memeluk Sakura.

"Mengapa kau begitu bodoh, hiks…" lanjut gadis itu masih dengan suara yang bergetar. Sasuke dapat merasakan sesuatu yang hangat dan basah di bagian dadanya.

Sekali lagi, ia ingin mengatakan sesuatu—yang entah apa—agar dapat menenangkan tangisan gadis dalam dekapannya itu, tapi ia tidak tahu apa. "Ma-maafkan aku." Akhirnya hanya kata itulah yang mampu ia keluarkan, dan di jawab dengan pecahan tangisan Sakura di dalam dekapannya.

Gadis itu mulai sesunggukan dalam dekapannya, melontarkan kata-kata yang tidak terlalu jelas. Pelukannya semakin mengerat, ia terus berdoa dalam hati semoga pelukannya dapat membantu mengurangi tangisan gadis itu. Jangan menangis Sakura, jangan menangis…

"Kau membuatku takut…" gumam Sakura dalam isakan tangisnya, membuat Sasuke tak kuat lagi mendegar tangisan gadis itu. Dalam pikirannya ia sangat menyesal mengapa ia tidak melawan saat itu, membuat gadis dalam dekapannya ini menangis sekeras dan sesendu itu, membuat dirinya sendiri merasakan sesuatu yang amat menghimpit dan menyayat rongga dadanya.

"Kumohon, jangan menangis, Sakura" ucapnya serak dan parau sambil mengelus sekilas rambut merah muda itu dan melepas dekapannya, menatap wajah basah Sakura yang sedang menatapnya dengan tatapan yang membuatnya tidak tega.

"Jangan menangis. Maafkan aku." Ulang Sasuke sambil mengusap kedua pipi kemerahan Sakura yang basah dengan kedua tangannya. Sakura menangkap adanya sebuah sorot ketakutan dalam kekelaman sepasang iris di hadapannya, bukan ketakutan akan sesuatu yang menakutkan, tapi ketakutan yang entah apa namanya.

"Akan kulakukan apapun, jangan menangis." Kedua telapak besar dan agak dingin itu menelungkup di kedua pipi Sakura. Sakura merasa sangat hangat dan begitu merasa di sayangi saat menatap secara bergantian kedua iris onyx di hadapannya. Membuatnya tersenyum kecil dalam sisa-sisa tangisannya.

"Sungguh?" tanyanya memastikan dengan suara yang masih sedikit bergetar, seraya mengatur napasnya yang terperangah. Dan di jawab dengan senyuman tipis juga anggukan dari kepala berhelaian hitam kebiruan dan berantakan Sasuke. "Apapun?" suara Sakura kini mulai teratur dan memandang antusias kedua bola mata Sasuke, mencari kesungguhan di dalam sana.

"Hn." Sasuke mengangguk lagi dan merasakan sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh kedua telapak tangannya.

"Kalau begitu—" Sakura menelungkupkan kedua tangannya di kedua pipi tirus Sasuke. Ia menatap intens kedua bola mata Sasuke penuh kesungguhan. "Kau harus menjadi dirimu yang kuat."

Sasuke mengernyitkan dahinya tipis.

"Jadilah dirimu yang kuat, Sasuke. Kau istimewa, tunjukan itu." entah mantra macam apa yang Sakura lontarkan, seolah mentransfer sebuah dentuman dalam dada Sasuke. Seakan memberinya motifasi yang kuat menancap dalam dada dan fikirannya.

Ya, dirinya memang tak selemah dan tak sesepele yang orang kira, dia tak terlalu menyadari akan hal itu, sampai gadis yang juga istimewa di depannya ini mengirim sugesti positif untuk menyadarkan dirinya.

Ia memerhatikan kemilau hijau di hadapannya. Ia sungguh merasa beruntung bertemu gadis seperti ini, gadis yang menerimanya apa adanya, satu-satunya teman perempuan sekaligus teman sekelas yang baik terhadap dirinya.

Bahkan gadis itu meminta sesuatu pada Sasuke, untuk kebaikan Sasuke sendiri. Ia mengangkat kedua sudut bibirnya seraya mengangguk mantap dan meraih kedua tangan mungil Sakura. "Aku janji."

Seulas senyum dengan mata menyipit pun menjadi jawaban dari Sakura atas janji Sasuke. "Ku pegang janjimu."

.

==00==00==00==

.

"Uohh! Sasuke-nii!" suara cempreng itu menghardik kakaknya yang baru saja pulang dengan wajah pucat dan agak lebam. "BAKA! Dihajar sejumput orang saja sudah K.O, kau itu pengajar klub karate, apa sabuk hitammu itu hanya untuk pajangan?" lanjut Sasuko sambil meraih tas sang kakak untuk membantunya.

"Berisik, kau tidak tahu apa-apa." Sahut Sasuke yang tidak memerhatikan wajah Sakura di sebelahnya tengah terpaku. Ia malah berjalan menuju dapur sendiri menginggalkan Sakura yang tangannya dikait oleh tangan mungil Sasuko, membawanya duduk ke ruang tengah.

"Ke-ketua klub karate? Sabuk hitam?" tanya Sakura entah pada siapa.

"Iya, setiap minggu sore Nii-san mengajar. Yah memang tak pantas sih wajah culunnya itu. Tapi dia itu juga dulu waktu sekolah menengah pertama, sering menang tournament loh, nee-chan. Nggak nyesel deh jadi pacarnya Nii-san walau rada-rada BAKA!"

"SASUKO!" teriak suara seseorang dari dapur—yang kini masuk dengan membawa dua cangkir teh. Gadis dua belas tahun yang cantik itu terdiam mengerucutkan bibir.

"Hue? Kok cuma dua? Aku mana?" protes Sasuko saat dua cangkir teh mendarat halus di atas meja.

"Buat saja sendiri." sahut Sasuke cuek dan duduk di sebelah Sakura seraya menyeruputi tehnya.

"Hu! Pelit, giliran sama pacarnya aja!" cibir Sasuko dan melesat pergi menghilang di balik pintu.

"Uhuk!" Sasuke tersedak. "SASUKO!"

Sakura hanya menggeleng terkikik melihat kelakuan adik-kakak yang menurutnya manis itu. Membuatnya teringat dengan kakaknya. Ya, harusnya dia dan Gaara juga bisa lebih manis dari Sasuke-Sasuko. Tapi—sudahlah.

"Ah ya, tadi kata Sasuko, kau pengajar klub karate? Pemegang sabuk hitam?" tanya gadis bersurai merah muda dengan baju terusan berwarna hijau kalem membalut tubuh langsingnya.

"Hn."

"La-lalu, kenapa kau..." Sakura merasa tak tahu harus melanjutnya dengan kata apa.

"Entahlah." Sahut Sasuke menatap meja rendah polos di hadapannya, seolah tahu apa yang ada dalam fikiran Sakura. "Aku memang pengecut."

Sakura masih menatap pemuda berambut emo di sampingnya yang sedang tertunduk itu. Perlahan tangannya terulur meraih rahang kuat tersebut untuk menghadap pada wajahnya. Terlihatlah sepasang iris kelam yang tidak dapat Sakura artikan tatapannya.

"Kau kuat." Ucap Sakura jelas sambil tetap menatap intens kedua bola mata Sasuke. "Ingat itu, kau kuat." Ulangnya sambil menepuk halus kedua pipi Sasuke. "Kau adalah Sasuke-kun-ku yang kuat"

Sasuatu yang hangat menyelimuti dada dan perut Sasue. Dia bilang Sasuke-kun-ku?

"Kau tidak akan terpuruk hanya dengan hal-hal sepele dari orang lain." Ucap Sakura lagi terdengar jelas dan tegas. "Hanya dirimu sendiri yang menentukan, saat kau terpuruk atau saat kau berbahagia. Bukan orang lain."

Sasuke menelan ludah mendengar kalimat-demi kalimat Sakura yang terdengar seperti penyejuk dan penguat dari segala keraguannya selama ini. Ia menggoreskan senyuman kecil dengan mata yang sedikit menyipit, meraih kedua tangan mungil yang mendekap kedua pipinya itu.

Tatapannya melembut dan kian intens membalas tatapan Sakura, di turunkannya genggaman tangannya hingga di depan dada, mengecup tangan mungil itu sekilas. "Arigatou."

Sakura pun terkejut, sementara Sasuke belum melepaskan tatapan mereka.

"Kau selalu menjadi…" senyuman canggung Sasuke muncul dan tertunduk menatap tangannya sendiri yang menggengam kedua tangan Sakura dengan helaan napas. Ia terkekeh tak tahu akan melanjutkan kalimatnya dengan kata apa seraya menggeleng.

"Menjadi…?" Sakura mengulangi satu kata itu dengan nada seolah menunggu, ia sedikit ikut tertunduk tapi untuk memastikan ekspresi Sasuke.

Pemuda tampan yang terbalut kemeja santai itu pun mengangkat kepalanya setelah menghela napas—lagi. Ia memberanikan dirinya untuk menatap kemilau manik hijau itu.

"Aku bah—"

"Sasuke-nii gulanya—eh?" Sasuko membeku di ambang pintu. Sakura dan Sasuke reflek melepaskan tangan dan menoleh. "Aha-haha, maaf! Aku akan keluar dulu membeli gula, karena habis. Hehehe." Nada Sasuko terdengar tidak enak dan segera melesat menghilang lagi dari pandangan mereka.

"Aku pulang lebih sore, bersenang-senanglah!" teriak Sasuko dari jauh, membuat guratan samar tercoret di pipi keduanya.

"Ahn, Sasuke-kun, orang tuamu kemana?" tanya Sakura mematap sekeliling lalu meneguk tehnya dengan canggung.

Pemuda berambut belah tengah dan jabrik di bagian belakang itu menoleh. "Mereka sedang ke Oto. Sejak minggu sore. Aku sengaja tidak memberitahukan mereka tentang kondisiku, kuharap kau juga."

"O-oh, iya." Sakura tertunduk tak enak. Ia merasa bersalah, bahkan Sasuke menutupi semuanya di depan orang tua Sasuke sendiri, pasti karena tidak mau Sakura di salahkan. Hanya Sasukolah yang bisa mereka percaya.

"Maafkan aku, Sasuke-kun." lirihnya tertunduk, hingga helaian merah muda sebahunya terjuntai ke depan menutupi pipinya dari pandangan Sasuke.

.

==00==00==00==

.

Kicauan lembut burung beradu dengan siulan lembut pemuda tampan berseragam Konoha Arts Academy yang sedang mengendarai sepeda sportnya. Di depannya telah duduk manis dengan posisi menyamping memunggunginya—seorang gadis dengan seragam serupa berambut merah muda yang sedang mengulum senyum dalam rengkuhan tangan sang pemuda yang telah mengendarai sepeda itu.

Ya, pihak sekolah telah mengganti sepeda kumbang Sasuke yang dirusakan hari itu juga (saat Sasuke di keroyok) dengan sepeda sport hitam dengan corak elegan biru dongker.

Nampaknya siulan yang ia kumandangkan Sasuke adalah sebuah intro lagu, dan Sakura menggumamkan nada serupa.

"You know I can't smile without you…" Sakura yang berhasil menebak intro yang disiulkan Sasuke pun menggumamkan bait pertama lirik tersebut.

"Can't smile without you…" sambung Sasuke pelan. Mereka kini memasuki area komplek untuk memotong jalan ke sekolah, dari pada melewati jalan raya.

Sakura pun memerkan suara merdunya… "I can't laugh and I can't sing. I'm finding it hard to do anything"

"You see I feel sad when you're sad." Sela Sasuke sambil menyentuhkan dagunya di pucuk kepala Sakura sekilas, memberi isyarat agar gadis itu memberinya kesempatan. "I feel glad when you're glad."

"If you only knew what I'm going through. I just can't smile without you." Lanjut suara berat yang terdengar begitu merdu di telinga Sakura. Sakura ingin sekali menoleh, tapi posisi itu bisa membuat sepeda ini oleng. Ia pun hanya mengulum senyum memegang stang bagian dalam sepeda yang sedang Sasuke lajukan untuk mereka berdua.

"Dengarkan ini. Untukmu." Gumam Sasuke sebelum melanjutkan lirik berikutnya.

"You came along just like a song

And brighten my day

Who would have believed that you where part of a dream

Now it all seems light years away"

Ya, Sasuke rasa tak ada yang salah dengan lirik tersebut, syairnya sangatlah pas untuk menggambarkan siapa-seperti apa-bagaimana Sakura bagi Sasuke.

Sejujurnya Sakura sangat merona mendengar lantunan lagu Barry Manilow itu, tentu saja ia tidak akan mengatakan atau menunjukannya.

"Suaramu boleh juga, aktingmu saat syuting juga bagus. Kurasa kau terlahir untuk artis opera." Gadis berambut merah muda itu terkikik kecil menutupi rasa tersipunya, yang sukses mendapatkan jitakan dari dagu Sasuke. Sakura dapat merasakan napas Sasuke di pucuk kepalanya saat cowok itu mendengus untuk menjawab kalimatnya. "Hei, aku serius."

"Omong-omong, kelas dua nanti Sasuke-kun akan ambil kelas apa? Aku tertarik teater!"

CKIT.

Sepeda itu berhenti, tidak terlalu mendadak namun cukup untuk membuat suara decitan yang menggesek rem dengan roda itu. "Ada apa?" tanya Sakura saat mendapati lampu merah masih di depan sana, seharusnya sepeda yang mereka naiki itu dapat maju sepuluh meter lagi.

Lagi, Sakura dapat merasakan napas kasar pemuda itu menyentuh pucuk kepalanya. "Kau akan masuk kelas teater?" kepala dengan helaian style emo itu memiring dan sedikit tertunduk untuk mengamati wajah gadis dalam rengkuhan tangannya yang mengendarai sepeda.

Wajah mereka terlalu dekat sampai-sampai guratan tipis kemerahan tergores manis di wajah gadis bersurai merah muda itu. Tapi Sasuke terlalu serius menunggu jawaban dari pertanyaannya, hingga ia tidak merasakan hawa panas yang sama menerpa wajah.

"Ng, tentu saja." Jawab Sakura pelan saat ia menemukan dirinya terjerat dalam hamparan kelam dalam kedua bola mata itu. "Aku suka menyanyi, menarik, dan memerankan sesuatu di atas panggung." Ucap Sakura sambil tertunduk menghindari wajah yang ternyata memang sangat tampan itu.

Oh ya, perlu di ingat, seragam Sasuke yang kebesaran waktu itu sudah hancur dan tidak ada duplikatnya, mengingat ia berpredikat murid beasiswa yang miskin. Lagi, dan lagi pihak sekolah menggantinya. Tentu saja kalau Sakura yang pilihkan pasti begitu pas dan cocok.

"Kalau begitu—"

DASH!

Sepeda sport itu kembali melaju dengan tenang saat lampu hijau menyala. "—kita akan terpisah kelas." Lanjut suara baritone itu dengan nada yang terdengar aneh di pendengaran Sakura. Entah kenapa ia merasa kata 'terpisah' itu terdengar memiliki arti meluas.

"Kenapa Sasuke -kun tidak masuk kelas teater bersamaku?" tanya Sakura dengan pandangan jatuh ke aspal yang terlihat sedang bergerak itu, selagi sepeda terus melaju. Sedikit banyak ia berharap Sasuke akan mengikuti kemauannya sekali lagi—yaitu masuk kelas teater bersamanya.

"Kurasa itu tidak mungkin." Sahut Sasuke dengan nada dingin bagi Sakura, pandangan gadis itu memburam. Itu hak Sasuke, lalu mengapa ia seolah di patahkan hatinya? Nada suara itu berbeda.

Lagi pula, Sasuke tak akan pernah meninggalkannya dengan memasuki kelas yang berbeda. Hanya saja, jalan yang akan mereka pilih nampaknya tidak sama. Selanjutanya hanya keheningan menemani perjalanan mereka…

.

.

.

.

-TBC-

This chapter: 2951 words.

Maaaaaf, telah telat updaaateee Dx

Mungkin banyak yang kecewa karena kuromi rush dan GAJE banget chapter ini? Di ketik kurang dari satu jam. Biasanya aku butuh waktu yang lebih lama dari itu untuk menyelesaikan satu chapter Dx

Menjawab pertanyaan repiuer:

1. Sasuke gak ada kekuatan untuk menang saat di keroyok? Dia hanya tidak punya kepercayaan diri.

2. Gaara yang pukulin Sasuke? Sudah terjawab di chapter ini beserta alasannya.

3. Sasuke kembali cakep? Ya.

4. Sakura nggak ada interaksi sama Gaara di kelas? Nggak, sebenarnya sih di sini Gaaranya sok nggak kenal cuma tetep aja diem2 merhatiin adiknya itu. Begitu juga sebaliknya.

5. Konfliknya di chapter berapa? Hm, deteksi sendiri yah xD aku tidak bisa jelaskan.

6. Luka Sasuke tidak serius kan? Serius sebenernya, hanya saja ia cepat pulih karena sebenernya fisik dia tuh kuat.

7. Adakah kesempatan Sasuke ngebales orang-orang yang nge bully dia? Hm, terjawab di chapter yang entah berapa xD

Thanks to:

Aiko Kirisawa, Scaicards, Sslove, kikihanni, akira, uchihaonyx, karikazuka, Minight, Park Min Hwa, Uchiha Annisuke ELF, Fiyiu-chan, Hanazawa Ayumi, Uchiha Hime Is Poetry Celemoet, Akasuna no Fia, Miki-kohai, Uchiha cauddian, Chini VAN, zetta hikaru, Rannada Youichi, Nabila, Kikyo Fujikazu, NonA-key, SakuraHaruno88, Kuro Nami, WinterCherry, Michelle I. Xe, Sung Rae Ki, Sadame Anomias Evaloun, Ishikawa Cherry Blossom, uchiha kyuuna, Kurasu Uchiha, Fuyu no MiyuHana.

Thanks juga untuk KAMU yang sudah bersedia membaca chapter ini, bersediakah tinggalkan jejak mu di kolom repiu?

PS: mengingat sistem anonymous reviewer jadi guest, bagi yang ingin punya akun FFn (biar mudah repiu sana-sini pake nickname sendiri), bisa hubungin kuromi di fb (tercantum di bio), insya alloh kuromi buatin. (buruan, keburu paket modem mingguan kuromi abis xD).