A/N : I NO OWN KH (bahasa apa nih?)
IM LOVING THE ENDING OF THIS CHAPIEEEEE
SORI KALO ADA TYPOO INI JAM SETENGA 5 BRO!GUA BELON TIDUR DARI TADI
Chapter 6 : Preparation
Kediaman keluarga Cavaler tampak lebih hening pagi ini. Beberapa pelayan bahkan nyaris tidak membuat suara sama sekali saat tengah membersihkan rumah milik keluarga Cavaler ini. Benar saja, ketika Aku memasuki ruang makan,tempat itu masih kosong. Menurut Penelo, Mr dan Mrs Cavaler sedang tidak ada di tempat. Mereka ada urusaan mendadak atau apalah. Roxas dan Ventus juga entah dimana. Aku melihat kamar Roxas masih tertutup sewaktu Aku bangun tadi. Bisa saja dia juga sudah pergi. Sementara Ventus, Aku bahkan tidak tahu dia ada di bagian mana dari rumah ini. Kuputuskan untuk sarapan sendirian saja. Pagi itu menunya adalah sosis panggang , telur dan roti mentega.
"Pagi Namine" sapa Ventus padaku ketika dia masuk ke ruang makan. Ventus menggambil tempat di depanku.
"Hei Ventus" Aku tersenyum padanya dan menawarinya sepiring sosis panggang . Ventus tampak terkejut. Apa di rumah ini Kami tidak boleh menawari makanan?
"Ventus?. A-apa maksudmu Aku Roxas" sanggah Ventus dengan suara Roxas yang dia buat-buat. Kuakui Ventus dan Roxas memang sangat mirip sampai membuat orang merinding. Suara mereka bahkan sama. Tapi Aku yakin orang ini Ventus. Suara Roxas lebih rendah dari Ventus. Mata Ventus juga lebih besar. Yep. Dia Ventus.
"Ventus,kau Ventus." Kataku tegas. Apa Ventus sedang mengerjaiku?. Mata biru Ventus melebar dan senyum merekah di bibirnya. Sekarang Ventus jauh lebih mirip dengan Sora. Ventus mengambil piring sosis dari tanganku dan mengambil setengah isinya ke dalam piringnya sendiri.
Wow, bagaimana caranya dia bisa makan sebanyak itu? Sepuluh sosis , dua telur dan emapt iris roti mentega?.
"Aku bisa menipu Ibuku pagi ini. Tapi tidak bisa menipumu? Aku bahkan pakai baju Roxas. Biasanya tidak ada yang akan tahu." Ventus tampak kecewa dan mengelus kemeja bergaris hitam-biru milik Roxas."Apa ini namanya kekuatan cinta?"Ventus nyengir padaku, dan tertawa lepas saat wajahku memerah. Ventus dan Roxas cukup mudah dibedakan. Mungkin masih mengantuk pagi ini?.
Tunggu sebentar. Untuk apa Ventus menipu Mrs Cavaler ?.
"Ventus?"panggilku. Ventus mendongak dari piringnya.
"Panggil saja Ven,hitung-hitung menghemat nafas" sarannya.
"Oke Ven. Untuk apa kau menipu dan mengatakan kalau kau Roxas"
Ven tersedak mendengarnya. Seorang pelayan di depan pintu Ash ruang makan buru-buru menuangkan jus jeruk ke dalam gelas kaca Ven. Setelah tegukan ketiga, barulah Ven berhasil menelan makanannya.
"Well...Pagi ini Roxas menghilang entah kemana" kat Ven ragu-ragu,dia memutar-mutar gelasnya dan menunggu reaksiku. Aku mengangguk padanya, menyuruh Ven meneruskan ceritanya.
"Aku tidak mau Ayah dan Ibu ribut lagi soal Roxas. Soalnya,Hari ini kalian akan mengepas baju pengantin di butik Aqua. Jadi kupikir kugantikan saja Roxas, Aku pura-pura menelpon Ibuku dan bilang bahwa aku ada bersama Terra. Oh Terra itu tunangan Aqua, dia sahabat baikku."
Aku mengangkat sebelah alisku masih kurang paham soal ini.
"Tenang saja Namine! Ukuran tubuhku dan Roxas sama. Aku bisa menggantikannya hari ini" kata Ven dengan nada seolah kata-katanya bisa menyelesaikan semua masalah.
Baiklah teman-teman. Katakan padaku, apa yang lebih aneh dari mengepas baju pengantin bersama calon kakak iparmu, bukannya dengan calon suamimu?.
Setelah kami selesai sarapan. Ven tidak banyak membuang waktu,setelah menungguku ganti baju kami langsung pergi ke garasi milik Ven dan Roxas (Yeah, mereka punya garasi tepat di sebelah kebun bunga milik , karena bukan garasi utama. Jalan keluar mobil dari garasi ini tidak lewat gerbang depan tapi gerbang samping). Disana ternyata sudah ada Sora dia ia mengenakan kaus putih dengan gambar VW rusak dan jeans biru panjang . Aku senang saja dengan penampilan Sora, setidaknya dia berpakaian kasual sepertiku (aku mengenakan kaus putih berlengan panjang dengan rok waist-up hitam, Aku tidak tahu harus pakai baju apa untuk pengepasan. Hei, toh jaketku akan menyembunyikan baju yang kupakai,jadi kenapa repot-repot?.Hah!Aku memang payah ).
" Hei Namine!Ro-".
"Nah, Namine sudah tahu Aku ini Ventus" potong Ventus sambil berlari kecil masuk ke garasi mungil miliknya. Garasi itu tampak seperti garasi di bengkel-bengkel. Kotor dan penuh graffiti. Setidaknya ada 4 mobil yang terparkir di situ. Yang kukenali hanya mobil silver Roxas. Sepertinya dia memakai mobil lain hari ini.
"Yang benar saja?Namine tahu?. Ouch, kenapa menyamar menjadi Roxas susah sekali sih?. Aqua juga membongkar penyamaranku dulu" keluh Sora dia tampak kecewa,aku hanya tersenyum minta maaf padanya.
"Oh Ven apa kita bisa pakai P-Man?"Tanya Sora tiba-tiba mengalihkan pembicaraan kepada Ven. Sumpah, apa Sora bipolar? Sedetik lalu dia masih sedih.
"Jangan panggil mobilku P-Man Sora!" Ven menggerutu dia mengelus penuh saying mobil convertible bitu muda yang terparkir di tengah garasi.
"Namanya Peugeot 206 rdx. P-Man tidak pernah sekeren ini. Dan tidak mobilku tidak muat untuk bertiga jadi kita pakai Mazda" gumam Ven sambil menunjuk Wagon berwarna metal gun di sebelah P-Man er… atau p-apalah namanya.
"Eh?Yang benar saja!" dengan kecewa Sora mengajakku masuk ke Wagon Ven. Aku tidak mengerti apa yang dikeluhkan Sora, wagon ini baik-baik saja. Sepertinya Aku memang tidak akan mengerti pola pikir dari keluarga Cavaler.
Rasanya ini pertama kalinya aku benar-benar menikmati perjalananku selama ada di Twilight Town. Ven mengemudi dengan santai dan Sora terus-menerus menceritakan berbagai hal menarik tentang dirinya sendiri. Seperti dia sebenarnya berasal dari sebuah pulau Tropis bernama Destiny Island dan tentang legenda sebuah buah bernama paopu fruit.
"Paopu Fruit itu memang keliatannya enak. Tapi sumpah rasanya kecut sekali Nam"jelas Sora dengan menggebu-gebu. Yeah,perjalanan kali ini bakalan menyenangkan.
Butik Aqua ada di Redwith Street pusat kota. Nama butiknya adalah Ocean : boutique and Bridal Shop . Aku pribadi sangat menyukai butik ini karena seolah berbeda sendiri dengan gedung-gedung modern di sampingnya. Butik Aqua mempunyai kesan Fairy Tale yang sangat kuat. Dengan dasar seperti kastil mungil bercat warna-warna pastel lembut. Tapi baik Sora dan Ven sepertinya tidak suka pada konsep butik Aqua yang terlalu feminim.
"Eww. Berapa kalipun Aku kesini. Aku tidak akan terbiasa dengan tempat ini."komentar Ven sambil menyodok-nyodok rangkaian mawar pink di depan pintu masuk. Di dalam butik Aqua, menurut Sora justru lebih parah. Terlalu banyak warna pink dan pita-pita,keluh Sora. Ven tampaknya memang cukup sering kemari (untuk apa,Aku tidak tahu) karena pegawai-pegawai tempat ini menyapanya ketika Ven lewat. Ven membawaku dan Sora ke lantai dua butik atau tepatnya Bridal Shop.
Di lantai dua, nuansa pernikahan sangat terasa,mulai dari kue pengantin palsu hingga wallpaper ball room pernikahan menghiasi ruangan ini. Di sudut ruangan ada beberapa ruang ganti besar bergorden putih yang tengah kosong. Yang paling kusukai jelas ratusan rak-rak berisi gaun pengantin beraneka warna. Kotak kaca berisi tiara dan Veils juga koleksi tuxedo-tuxedo.
Aqua ternyata berada di meja kerjanya yang ada di dekat ruang ganti beserta kliennya. Seorang pria bertampang sinis dengan rambut cokelat dan wanita ramah berambut cokelat tua sepinggang. Mereka tengah sibuk membicarakan sesuatu.
"Nami!Sora!Ven!" sapa seseorang dari belakang kami.
Kairi ternyata ada di sini, dia bangkit dari bean chairnya dan berlari kea rah kami.
"giliranmu setelah Squall dan Rinoa"kata Kairi sambil menunjuk kea rah pasangan tadi."Mereka akan segera menikah juga. Awal Desember kurasa"
Tentu saja orang normal akan mencari gaun mereka setidaknya sebulan sebelum pernikahan. Bukannya Sembilan hari sebelum pernikahan.
Aku menghela nafas panjang dan mendapati Ven dan Sora bermain-main dengan gaun pernikahan terdekat dengan mereka. Sementara Kairi sudah menghilang ke tempat kakaknya.
"Oh Bella! Aku akan menjadikanmu Vampire setelah kita menikah!" ujar Ven sambil bergaya dramatis ala pemain opera.
"Edward! Umurku sudah 18 tahun! Kau harus segera merubahku menjadi vampire!. Aku takut menjadi nenek-nenek keriput!"balas Sora dalam suara melengking yang sangat aneh. Dia memegang gaun vintage putih tepat di depan tubuhnya seolah memakai gaun itu. Aku tertawa kecil melihat aksi mereka sampai Aqua dan Kairi datang.
"Ini bukan untuk mainan Sora!"Aqua merampas gaun vintagenya dan mengembalikannya ke rak asalnya.
"Dan kau Ven. Umurmu sudah 22 tahun. Sampai kapan kau mau bertingkah seperti anak umur 5 tahun" sembur Aqua. Dengan itu Aqua menarik Vend an Sora kea rah rak tuxedo yang berada jauh di pojok ruangan, sementara Kairi membawaku kea rah manekin-manekin bergaun di belakang meja Aqua.
"Ini koleksi terbaik kami. Ayo cepat pilih, waktu kita tidak banyak. Kita masih harus memilih sepatu,Veils dan tiara".
Aku tidak pernah bisa memilih sesuatu dengan cepat. Bahkan untuk memilih barang kecilpun Aku sering bingung. Kairi sudah menyibukkan dirinya dengan gaun-gaun di rak-rak sebelah manekin. Sebaiknya aku mulai memilih juga. Kenapa memilih harus sesulit ini?
Semua gaun di sini sangat indah, mulai dari yang berenda,berlayer,berbrokat,gaun pendek, panjang. Sangat modern hingga bergaya Royal. Aku suka semuanya,tapi tidak ada yang benar-benar menarik di mataku. Kairi menunjukkan beberapa gaun padaku. Tapi semuanya kutolak. Lima belas mmenit berlalu dan Aku masih kebingungan. Di ujung ruangan Aku bisa mendengar Sora dan Ven menertawakan Toxedo yang Ven gunakan.
"Er… Kairi?" panggilku pada Kairi, rasanya aku sudah menemukan gaun yang tepat. Setengah berlari. Kairi mendatangiku dan ikut memandangi sebuah gaun yang dikenakan manekin. Terletak di sudut jendela, gaun itu sangat indah menurutku. Warnanya bukan putih seperti impianku soal gaun pengantin selama ini. Warnanya putih gading dengan sentuhan warna cream kecoklatan di ujungnya. Potongan sweetheart neck dengan bordiran bunga menghiasi bagian atas gaun itu. Lalu pada bagian roknya dipisahkan dengan mawar-mawar buatan berwarna cream kecoklatan. Rok gaun itu tampak besar dan sangat halus dan sepertinya terbuat dari sutra.
"Astaga Nami!ini indah sekali!Cepat kita harus beritahu Aqua" Kairi dengan semangat membara menarikku untuk mencari Aqua di sebrang ruangan. Ternyata Ven tengah mencoba Tuxedo putih. Ven tampak bagus dalam Tuxedo itu,tapi aku tidak bisa membayangkan Roxas yang memakainya.
"Hmm. Itu bagus untukmu Ven. Tapi Roxas lebih cocok pakai warna hitam" komentar Sora sambil melambaikan Tuxedo hitam polos di tangannya.
"Sora. Ini untuk pernikahan bukan untuk pemakaman!" tegur Kairi. Aqua hanya diam saja, dia tampak menngawasi tuxedo di tangan Sora dengan ekspresi yang aneh.
"Aqua, kami sudah dapat gaunnya. Tinggal pengepasan saja!" kata Kairi pada Aqua.
"Oh,benarkah? Sebaiknya kita kesana dulu . Disini tidak ada banyak kemajuan" Aqua menghela nafas dan mengambil meteran peraknya dari lantai. Di saat bersamaan, ponselku beerbunyi.
"Maaf, permisi sebentar" dengan buru-buru Aku mengambil sedikit jarak dari mereka. Yang menelponku adalah Axel. AXEL?
"Hei Nam"sapa Axel dari balik telepon. Suara Axel terdengar lesu. Samar-samar Aku bisa mendengar suara-suara yang tengah mengerang kesakitan.
"Axel? Ada apa?" Tanyaku sedikit gugup.
"Well, apa kau bisa datang ke sini. Er Roxas,um sebenarnya sebagian besar dari kami juga, sedang dalam masalah" suara Axel berubah menjadi bisikan. Aku mendengar suara pintu dibuka dan ditutup,sepertinya Axel keluar dari ruangan apapun yang tadinya dia berada.
" Dimana kau sekarang?" aku balas berbisik pada Axel
"Rumah sakit Highwind, Jalan Fredrick east . Pakai taksi saja ke sini lebih baik kalau tidak ada yang tahu. Aku ada di UGD"
"Rumah sakit?Apa yang terjadi?...Axel?AXEL!"
Bagus sekali. Tutup saja Telponnya Axel. Aku tidak perlu tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Dan yang lebih penting : Apa Roxas baik-baik saja. Dengan helaan nafas panjang,Aku berbalik kea rah Aqua, Kairi, Sora dan Ven yang tengah memandangiku penasaran.
"Namine?kau oke?. Tampangmu lucu" Tanya , Kairi dan Ven menggumamkan hal yang sama. Hanya saja mereka tidak bilang kalau 'tampangku lucu'.
"Em.. . Aku harus pergi. Sekarang". Kairi baru akan memprotes saat Aku menyambung kata-kataku. "Maafkan Aku tapi ini sangat penting".Aku menundukkan kepalaku dalam-dalam. Semoga saja mereka mau menerima alasanku.
"Well…Pergilah kalau begitu." Kata Aqua. Aku mendongak dan memandang kea rah wanita berambut biru muda itu.
"Kau sudah dapat gaunnya. Yang kuperlukan tinggal mengepas ukurannya. Mereka tidak memanggilku desainer top untuk sia-sia" Aqua mengedip padaku. perasaanku mengatakan kalau Aqua tahu ini ada hubungannya dengan Roxas. Sebelum aku sempat berbalik, Ven memegang bahuku dan berbisik.
"Tolong jaga adikku". Aku mengangguk pada Ven dan berlari keluar butik Aqua.
Keluar dari butik Aqua aku tidak begitu tahu aku harus pergi kea rah mana. Bukan karena tempat ini terpencil, justru karena disini terlalu ramai hingga Aku tidak bisa mendapat taksi. Aku tidak mungkin naik tram atau bus. Aku bisa nyasar. Jadi Aku terus saja berjalan sampai mungkin Aku berhasil dapat taksi. Yang Aku tahu pasti butuh waktu lama...
"OUCH!"
Apa yang barusan kutabrak?.Kepalaku sakit sekali. Apapun itu pastinya keras.
"Hei oke?". Aku mendongak ke atas. Yang kutabrak adalah seorang laki-laki. Tampaknya lebih tua dariku beberapa tahun, badannya tinggi dan lumayan berotot (pantas saja kepalaku sakit) meski tersembunyi di balik pea coatnya. Yang paling menonjol dari laki-laki ini adalah rambut peraknya yang lurus panjang melewati bahu dan mata biru kehijauannya yang sangat indah.
"Um…ya. Aku baik-baik kalau kau menghitung soal nyasar"gumamku
"Oh?Aku bisa mengantarmu sebagai permintaan bawa kendaraan. Ah!Namaku Riku" laki-laki bernama Riku itu mengulurkan tangannya untuk menjabatku. Aku sedikit ragu. Bukannya sudah pengetahuan umum untuk tidak mempercayai orang asing?. Tapi Aku memang butuh tumpangan. Aku tidak tahu bagaimana kondisi Roxas sekarang!
"Aku Namine. Dan Aku harus ke Rumah sakit Highwind sekarang. Temanku…er…kecelakaan" . Riku menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Well, Aku memang mau ke sana juga"
"Kau sakit?" Aku memandang Riku dari atas ke bawah. Dia tampak sehat-sehat saja.
"Tidak. Aku mau ketemu professorku. Aku mahasiswa kedokteran" jelas Riku. Mahasiswa kedokteran? Wow. Riku menyerahkanku helm merah mengkilap dari sebuah motor besar yang di parkir di depan café tempat kami bertabrakan.
"Untung aku selalu bawa helm cadangan" komentar Riku sambil memakai helmnya sendiri. Jadi tumpanganku adalah motor?. Aku tidak pernah naik motor sebelumnya!. Ayahku bisa marah kalau dia tahu Aku naik benda beroda dua penyumbang tingginya angka kematian ini. Motor itu tidak aman. Seharusnya calon dokter tahu kan?.
"Um. Namine kau bisa naik sekarang" Riku sudah naik di atas motor hitamnya. Aku Cuma perlu naik di atasnya kan?Tidak ada yang berbahaya!Ayolah Namine!.
"Kau mungkin mau berpegangan padaku. Aku suka mengebut" saran Riku, dia tengah menjalankan mesin motornya bersiap-siap memacunya. Aku tidak mungkin berpegangan pada Riku. Itu tidak sopan. Aku bahkan tidak mengenalnya. Tapi Riku sepertinya tidak mempersalahlkan hal ini karena dia meraih tanganku dan memastikan bahwa keduanya sudah memeluk pinggangnya.
Satu hal yang kusukai dari motor adalah : Riku tidak bisa mendongak ke belakang dan melihat wajahku yang sudah sangat merah.
Riku membawaku ke ruang UGD rumah sakit yang berada di ruang paling depan rumah sakit itu. Riku mengatakan sesuatu tentang dia harus segera menemui professornya jadi dia tidak bisa menemaniku. Setelah Riku pergi Aku jadi sangat gugup. Rumah sakit bukan tempat kesukaanku. Terakhir kali Aku ke Rumah sakit adalah saat ibuku meninggal…
Bau obat-obatan dan pengharum ruangan beraroma pinus UGD itu membuat perutku mual. Biasanya Aku selalu suka warna putih,tetapi di sini nuansanya berbeda. Dengan berbagai macam peralatan kedokteran yang mengerikan bisa membuat orang sehat saja merasa sakit. Aku mengabaikan dua ranjang bertirai putih yang tengah di isi oleh pasien penyakit entah-apa dan tanpa menoleh berjalan lurus kea rah Axel yang melambai padaku di ranjang ketiga. Axel tampak parah. Matanya lebam dan bibirnya sobek,tangan kirinya juga di bebat. Tapi Axel menyuruhku untuk mengabaikannya. Alih-alih dia menunjuk pada penghuni ranjang ketiga
Aku melirik pada menghuni ranjang. Seorang pria berambut panjang dengan warna sama seperti warna rambut Aqua tengah terbaring tidak sadarkan diri. Pria itu bernama Isa,seperti yang tertulis di sebuah kwitansi pembayaran rumah sakit yang tercecer di kaki ranjangnya.
" Namanya Saix. Nomor VII di Organization. Atau Isa,itu nama aslinya. Tapi sebaiknya kau tidak usah bilang padanya kalau kau tahu nama aslinya,dia tidak suka. Kita abaikan saja dia,dia pernah lebih parah dari ini" bisik Axel. Dia menuntunku melihat ranjang ke empat yang di tempati oleh seorang pria berambut…merah muda? Ia menggunakan penyanga leher dan tengah berbicara dengan nada rendah pada seorang wanita berambut pirang pendek yang kukenali sebagai Larxene dan seorang pria tinggi dengan rambut dan jenggot tipis berwarna pirang . tak seorangpun dari mereka menyadari kehadiranku.
"Si pink adalah Marluxia no XI, kau tahu Larxene no XII dan Luxord no X"ujar Axel sambil lalu,dia mmenyingkap sedikit tirai di ranjang ke lima. Aku sedikit cemas mendapati Demyx lah yang terbaring di sana. Pembuluh mata Demyx pecah sehingga matanya merah dan kakinya di perban erat,tapi sepertinya dia baik-baik saja karena dia melambai lemah padaku. Di kaki ranjangnya duduk seorang pria kekar berambut merah pendek yang sepertinya tengah tertidur.
"Kau tahu si mullet boy, no IX. Nah, Demyx baik-baik saja. Otaknya memang sudah cedera dari lahir. Dan si Silent Hero atau tukang ngorok biasa, Lexeaus atau Aeleus no V" Axel menutup kembali tirainya
Ranjang ke enam ternyata kosong . Aku kira memang kosong. Sampai Axel menjelaskan siapa yang ada di ranjang ke enam.
"No VIII di Organization. Ace dan orang kepercayaan Superior kami Xemnas yang sayangnya tidak ada di sini karena sedang membereskan 'sesuatu'. Namanya adalah Lea. Atau lebih dikenal dengan nama Axel. The Flurry of Dancing Flames" ujar Axel dengan bangga menunjuk kea rah dirinya sendiri.
Di ranjang ketujuh Axel tidak perlu memberitahuku penghuninya. Remaja berambut pirang dengan mata sangat biru yang menatapku dengan penuh kecemasan. Di lengannya ada lebam-lebam . Tapi selebihnya dia baik-baik saja.
"Roxas Cavaler No XIII" bisik Axel mendramatisir. Roxas tidak sendirian di sana seorang dokter magang berambut indigo yang menutupi sebelah wajahnya tengah mengecek sesuatu di clipboardnya. Sementara seorang dokter berambut pirang panjang tengah mengecek tekanan darah Roxas dengan alat tensinya. Di sisi kiri ranjang Roxas ada dua orang polisi berambut hitam. Satunya adalah polisi ceking dengan eyepatch. Dan satunya lagi polisi berbadan tegap dengan rambut dikuncir.
"Aku sudah selesai mengecek Mr Caveler, dr Even . Kondisinya baik dia sudah bisa pulang"ujar si dokter magang tanpa ekspresi, dr Even mengangguk-angguk dan menyingkirkan alat tensi dan stetoskopnya.
"Tekanan darahnya juga normal, kau benar Ienzo. sudah bisa pulang. Tapi sekarang tergantung pada Opsir Braig dan Dilan,eh?" kata dr Even sambil nyegir kepada kedua polisi.
"Yeah…Yeah. Jemputan si Tiger toh ada di sini" Opsir ber-eyepatch mengedip padaku. Aku menelan ludah dan mencoba tersenyum padanya tapi gagal.
Menyadari kegugupanku Axel tertawa dan menepuk-nepuk pundakku. Kemudian dia dengan santainya
merangkul opsir ber-eyepatch.
"Opsir Braig alias Xigbar no II" Axel menganguk pada polisi berkuncir yang diam sedari tadi." Opsir Dilan alias Xaldin. No III".
Anggota kepolisian adalah anggota Organization XIII? Pantas saja mereka tidak pernah tertangkap sampai sekarang. Organisasi ini benar-benar…gila.
"Dan tentu saja"Axel menyebrang ke arah dr Even dan Ienzo. "Vexen No IV dan si emo Zexion No VI"
Dan sekarang dokter juga ikut-ikutan menjadi anggota geng?. Yang benar saja?. Xaldin yang sedari tadi diam menyerahkanku selembar kertas kuning untuk di tanda tangani.
"Ini surat bail outnya yang harus kau tanda tangani. Sisanya kami yang urus."geram Xaldin. Buru-buru aku mengambil bolpoin dan Clipboard yang di tawarkan Zexion dan menandatangani kertas itu.
"Sekalian tolong kau tanda tangani surat tanda keluar rumah sakit. Aku menyisipkannya di situ" pinta Zexion dalam suara datar. Aku mengangguk dan ikut menandatangani kertas putih di bawahnya dan menyerahkannya kembali pada Xaldin dan Zexion.
"Nah Tiger!Bangun kau!Sampai kapan kau mau bengong di situ!Bawa pulang istrimu."gelegar Xigbar sambil tertawa membahana, mengabaikan desisan marah dari Zexion yang memintanya tenang.
Di tengah kehebohan yang di sebabkan oleh Xigbar, Axel tiba-tiba mmuncul di sampingku dan memsukkan secarik kertas ke dalam saku jaketku. Sebelum Aku bisa bereaksi apa-apa, Axel sudah berpindah lagi ke arah Roxas untuk sekedar menepuk bahunya sebagai salam perpisahan.
Roxas tidak berkata apa-apa pada teman-teman Organization XIII dan langsung menarikku keluar. Aku hanya sempat mengucapkan selamat tinggal kilat pada Ael, Zexion , Xogbar, Xaldin dan Vexen.
Aku dan Roxas berjalann dalam diam di koridor rumah sakit yang gelap dan sunyi itu. Entah kenapa, tiba-tiba rasa amarah menyerangku. Apa yang Roxas lakukan sampai babak belur begitu?sampai kapan dia akan bertingkah seperti ini?.apa dia tidak tahu keluarganya sangat cemas?
"Sori Nam…Biasanya Ven yang mengurus…masalah seperti ini" suara Roxas tenang saat mengucapkan ini. Lagi-lagi Aku merasakan amarah berkecamuk di dalam dadaku. Bagaimana dia bisa setenang ini setelah tampangnya seperti habis dihajar habis-habisan?. Tanpa kusadari air mataku tumpah. Aku mencoba menahannya,namun justru membuatnya menjadi isakan-isakan.
"Nam…" Roxas berbisik dengan nada sedih. Dia kemudian memelukku,tangannya menggosok punggungku mencoba menenangkanku. Tapi hal ini justru membuatku terisak makin keras. Aku memukul-mukul dadanya,mencoba mengeluarkan amarahku.
"K-kau…bisa…mati!a-aku sangat cemas!.Kenapa kau bodoh sekali!" membenamkan wajahku di bahunya. Kubiarkan air mataku tumpah sekali itu.
"Maafkan aku Nam…"bisik Roxas di telingaku.
Roxas mengangkat daguku dengan jarinya. Mempertemukan mataku dan matanya. Aku bisa melihat senyumnya yang samar di balik mataku yang buram karena air mata. Roxas menutup jarak diantara kami. Bibirnya bertemu dengan bibirku. Aku merasakan kehangatan yang berbeda dari saat ciuman pertama kami. Kali ini Aku bisa merasakan bibirnya yang lembut menyentuhku, aroma tubuhnya jauh berbeda dari ruang UGD tadi, wanginya segar. Roxas mengakhiri ciuman kami dan memandang mataku. Sedetik kemudian bibie kami kembali bertemu. Ada sensasi aneh di tubuhku yang menyuruhku untuk mendekap Roxas dan tidak melepasnya lagi.
Apa Aku jatuh cinta pada Roxas?...
woahhhhh
AKU NULIS FLUFFFFFFF
MBEKKKK
AKU AKHIRNYA BISA MENULIS adegan RUMA SAKIT
AKHIRNYA DUNIA TAHU AKU SERING KE RUMA SAKIT (orang payah yang 2 liburan berturut2 justru di ruma sakit)
DAN ADA MISTERI BARU
AXEL NGASI APA KE NAMI?
APA NAMI N ROXAS UDA SALING SUKA?
KENAPA GUE BISA HYPER DI JAM 4.45 SUBUH?
REVIEW
DAn KALIAN AKAN TAHU JAWABANNYA
BYE
RANIZA
EH TUNGGU DULU JEK
ADA REVIEW RREPLIES!buat yang gak bisa di PM
RINKARO-CHAN : SIP LAH ROMANCE IS KOMING. THENGS BUAT SUPORT NYAH
MIIKO-CHAN DESU : HAHA emang napsu kali Roxas!EH kamu suka Hai miiko ato gimana nih?namanya kok miiko-chan
fanfict addict : beres bos updet lancar
XD numpang lewat : numpang review lagi ya
