"Rukia?!"
Gadis berambut hitam itu menoleh begitu mendengar seseorang memanggil namanya. Dan ternyata orang itu adalah Kano Ashido, putra tunggal pewaris kekayaan keluarga Kano dalam bisnis perkebunan tanaman. Keluarga Kano memang bukan termasuk dalam jajaran keluarga terkaya, namun mereka memiliki beberapa perkebunan teh yang tidak main-main. Ashido pernah menimba ilmu bersama Toushiro dan Byakuya dalam sebuah sekolah pengantar bisnis. Waktu itu papa meminta kakaknya untuk mempelajari ilmu khusus tentang bisnis perkebunan skala makro sekaligus mengajari Toushiro untuk beradaptasi dengan lingkungan kelas atas. Sekolah bisnis tersebut terbuka untuk umum, maka dari itu kakaknya bisa satu kelas dengan Toushiro dan Ashido yang mana umur mereka terpaut lumayan jauh. Papa memang selalu begitu, segala bidang yang bisa diperjual-belikan pasti akan dia rambah. Dan waktu itu, Kuchiki Soujun ingin memperluas sayap perusahaannya dalam perkebunan teh, kopi, dan cokelat.
"Ashido!" Oke, perasaan tidak nyaman mulai muncul dan membuat perut Rukia sakit. Dia ingin berdalih dan pergi dari tempat itu meski kopi pesanannya masih utuh dan mengepul panas. Ashido bukan orang yang mudah, pemuda itu sudah lama mengejar-ngejar Rukia sejak mereka masih duduk di bangku menengah atas.
"Yo, sudah berapa tahun kita tidak bertemu. Kau bahkan kabur dari acara jamuan yang diadakan oleh ayahmu sendiri," ucap Ashido. Tangannya segera menarik kursi untuk diduduki, berseberangan dengan kursi Rukia. Check mate, tidak mungkin tiba-tiba Rukia berdiri dan pergi. Tindakan itu pasti akan terlihat mencurigakan sekali, seolah-olah melarikan diri.
"Aku sibuk," jawab Rukia. Tangannya mengangkat cangkir kopi dan meminumnya perlahan, berusaha melakukan kegiatan apapun itu untuk menghindari kontak mata dengan pemuda berambut merah dihadapannya. Rukia merasa risih, pandangan Ashido berkeliaran ke mana-mana, seakan-akan mengeksplorasi seluruh tubuh Rukia setelah ditelanjangi. Gadis itu jelas terganggu, namun penyebab dari gangguan itu tidak sadar dengan tindakannya.
"Kakakmu akan menikah dengan perempuan yang telah dijodohkan dengannya, dan kau lari dari ayahmu karena tidak ingin bernasib sama seperti kakakmu. Apa aku salah?"
Rukia terhenyak mendengarnya, perkataan Ashido memang tepat sasaran. Mata sebesar lemon miliknya segera meneliti sosok yang duduk di depannya dengan cermat. Tidak ada sesuatu yang aneh yang mengindikasikan Ashido pantas sebagai mata-mata ayahnya. Namun bagaimana bisa pemuda itu mengetahui permasalahannya? Kembali menyeruput kopinya, Rukia meningkatkan kewaspadaan sembari merombak bicaranya agar tidak mengatakan sesuatu yang akan disesalinya nanti, dia tahu harus lebih berhati-hati. "Kurasa kau sudah terlalu jauh dalam berspekulasi, Ashido. Untuk ukuran orang luar, kau terlalu mencampuri masalah pribadiku."
"Kau tidak berubah, selalu dingin padaku seperti dulu." Ashido tersenyum masam, menatap gadis yang dia cintai tengah memasang wajah serius tanpa ekspresi.
"Itu sudah menjadi sifatku dan keluargaku," tegas Rukia.
"Kau semakin membuatku ingin menikahimu, Rukia." Ashido memberikan senyumnya sekali lagi, untuk kedua kalinya Rukia merasakan badannya merinding seperti tersengat aliran listrik.
"Huh," dengus Rukia mencela. "Aku bahkan tidak pernah menganggapmu sebagai kawan, akan sangat berbahaya jika kau terus bermimpi selamanya. Sekali-kali, bangunlah untuk menghadapi kehidupan nyatamu, Ashido."
Ashido menyemburkan tawa mendengar sindiran kasar dari Rukia. "Jadi kau lebih suka dijodohkan dengan pria asing? Coba pikirkan lagi Rukia, akan jauh lebih baik jika kau memilihku sebagai calon suamimu. Setidaknya kau bisa menikah dengan orang yang kau kenal," ujar pemuda berambut merah itu. Tangan besar milik Ashido segera bergerak, menangkup dua tangan mungil milik Rukia dan menggenggamnya erat.
Rukia tersentak kaget, segera ditepis tangan Ashido dengan kasar. "Kuharap kau bisa lebih mengontrol perilakumu, Kano-san." Gadis itu lantas mengambil tas jinjing miliknya dan berdiri, hendak pergi meninggalkan Ashido. Akan tetapi sayang, dia baru menyadari bahwa hujan turun dengan begitu deras ketika matanya menatap keluar jendela café. Rukia tidak membawa mobil, dia kemari jalan kaki dari stasiun.
"Kau mau mampir sebentar? Rumahku dekat dari sini. Lalu, aku punya ranjang dan anggur yang bagus untuk kita berdua."
000
Nemu menatap semangkuk bubur dalam pangkuannya. Ada kacang polong, jagung, wortel, dan potongan daging ayam. Nemu tersenyum, dia cukup yakin bahwa makanan ini pasti bukan buatan kekasihnya. Kemarin kekasihnya mencoba memasak untuknya yang sedang sakit, Toushiro mencoba membuat sesuatu yang dapat menghangatkan badan. Hasilnya dia malah membuat sup miso dengan tahu yang mekar serta wakame yang hancur karena diiris terlalu kecil dan tipis. Belum lagi rasa kuah sup miso tersebut sangat tawar dan semakin tidak enak di lidah Nemu. Dasar, pria memang tidak pintar memasak. Tetapi perempuan berponi rata tersebut sangat senang, dia bersyukur karena ternyata Toushiro begitu perhatian merawatnya.
"Sepertinya kau sudah sehat, aku mengukur suhu badanmu dan hasilnya normal."
"Ya kurasa begitu, tapi aku masih menderita sakit kepala. Terima kasih sudah mau merawatku, Toushiro." Nemu menyendok buburnya, syukurlah rasanya tidak pahit seperti hari-hari sebelumnya. Ternyata dia memang sudah merasa lebih baik.
"Sudah kubilang untuk tidak terlalu memaksakan diri, karena mana mungkin kau tidak masuk ke dalam tim inti model pilihan Senna. Dan dengan membolos karena sakit seperti ini, kau jadi tidak bisa mengikuti sesi latihan dan pemotretan untuk iklan."
Mata Nemu bergerak pelan, mengamati Toushiro yang sedang duduk di pinggiran jendela kamar mereka. Iris zamrud itu memandang keluar, menerawang jauh tanpa fokus. Apa yang tengah pemuda itu pikirkan? Nemu tidak habis pikir, beberapa hari belakangan ini Toushiro bertingkah sedikit tidak biasa. Hal itu membuat Nemu merasa janggal, mereka sudah berpacaran selama tiga tahun dan Nemu tahu betul sifat kekasihnya saat sedang dirundung masalah. Tiba-tiba Nemu teringat obrolannya dengan Senjumaru sehari sebelum dia jatuh sakit.
"Shutara-san, apa kau berniat untuk menikah setelah melahirkan anakmu?"
Senjumaru menoleh dengan tatapan menyipit. Dan saat itu Nemu sadar bahwa dia sudah bertanya sesuatu yang lancang pada seniornya. "Maafkan aku, kau tidak perlu menjawab pertanyaan barusan."
"Pacarku adalah seorang anggota dewan kota, kalau publik tahu bahwa aku mengandung anaknya, maka akan ada skandal besar bagi karir kami berdua. Meskipun kami menikah, akan tetap ada media massa ataupun orang-orang yang mengatakan bahwa pernikahan kami dilakukan untuk menutupi aib anak dalam kandunganku."
Wanita tengah baya tersebut tersenyum sendu, membuat Nemu merasa tidak enak hati karena sudah memulai obrolan tidak menyenangkan ini.
Tanpa sadar Nemu mencengkeram erat selimutnya, melupakan mangkuk yang masih penuh dengan bubur menu sarapannya. Ada rasa sakit yang mendadak muncul, membuat dadanya terasa sesak tak nyaman. Perempuan berponi rata itu tahu bahwa kekasihnya tidak pernah serius dengan hubungan mereka, namun apa daya apabila dirinya telah terlanjur jatuh cinta pada pemuda itu. Entah berapa lama lagi mereka mampu bertahan, pelan menghitung mundur sebelum waktu di mana ranjangnya akan terasa luas benar-benar tiba.
000
Byakuya mengerjapkan matanya beberapa kali, sebelum indera pengelihatannya benar-benar mampu menyesuaikan cahaya yang masuk. Tubuhnya berguling ke samping, mendapati seorang wanita yang tengah mendengkur pulas dalam tidurnya. Hisana, calon isterinya.
"Bagaimana malam panas kalian tanpaku?" Sebuah suara tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar. Yoruichi datang dengan memasang senyum remeh, wanita tua itu memang sedang menyindir kekasihnya yang baru bangun tidur.
"Jangan berisik, kalau bangun dia akan sangat merepotkan," ucap Byakuya masih setengah mengantuk. Kemarin perempuan itu bersikeras untuk menginap, padahal Byakuya akan dengan senang hati mengantarnya pulang agar tidak terganggu. Dia adalah calon nyonya pewaris pertama keluarga Kuchiki, sudah pasti Hisana merasa memiliki sedikit kuasa. Dan tampaknya hal itu membuatnya besar kepala. Byakuya terpaksa memperbolehkan Hisana menginap semalam.
"Aku terpaksa harus tidur sekamar dengan adikmu." Yoruichi menghidangkan teh untuk mereka berdua. Jam dinding menunjukkan pukul dua siang, sudah hampir memasuki waktu makan siang. Pria berparas tampan tersebut mendesah lelah, sepertinya dia tidur terlalu lama.
"Aku buat salad kentang dan ikan panggang, cukup untuk mengisi ulang tenagamu yang habis setelah bercinta."
Byakuya memejamkan mata, sedikit jengkel karena sedari tadi dia terus mendapat sindiran dari sang kekasih yang bermulut pedas. "Dia tidak sehebat kau, tidak perlu khawatir."
Hisana memang mengajaknya bercinta, mereka melakukannya dalam keadaan sadar tanpa pengaruh setetes alkohol pun. Bagaimana pun, Byakuya adalah seorang pria tulen yang tidak mungkin menolak ketika ditawari sesuatu yang menarik dari balik rok ketat Hisana.
"Yoruichi, aku akan menikah bulan depan. Setelah itu, aku terpaksa meninggalkan Jepang bersama Hisana."
Wanita berambut ungu tersebut meletakkan garpu dan pisau makannya, menghentikan aktivitas makan siangnya setelah suapan terakhir tertelan. Ketika mereka sepakat untuk memadu kasih dulu, Yoruichi tahu akan ada konsekuensi sebagai harga yang pantas untuk mengencani anak seorang pengusaha terkenal itu. Yoruichi hampir seumuran dengan adik Soujun, tidak mungkin kepala keluarga bangsawan Kuchiki tersebut akan melepaskan putra pewarisnya pada seorang janda yang sering bermain pria. "Apa aku diundang?" Sebisa mungkin wanita tua itu bertingkah biasa, mencoba untuk tidak melibatkan emosi yang akan membuatnya terlihat cengeng. Ayolah, dia sudah kepala empat sekarang.
"Tentu. Kau boleh tinggal di rumah ini bersama Rukia, tidak masalah bila ranjang kita kau gunakan untuk tidur dengan pria lain." Byakuya menatap piring makanannya yang masih belum tersentuh.
Sifat berhasrat akan kekuasaan, kedudukan, dan kekuatan. Semua itu merupakan dominasi yang mengalir dalam darah Kuchiki secara turun-temurun. Mereka menggunakan kecerdasannya untuk berdiri sebagai pemenang. Namun bukan berarti mereka bernafsu duniawi terhadap lawan jenis, terutama bagi para pewaris. Sekalipun pernikahan mereka ada karena sebuah perjodohan, seorang Kuchiki terbukti setia pada pasangannya. Pria tampan berambut hitam itu segera menepis lamunannya. "Aku pasti akan sangat sibuk dengan urusan pekerjaanku, tapi aku akan sering-sering mengunjungi kalian berdua."
Setelah itu Byakuya meninggalkan kekasihnya yang termenung, menghuni ruang makan sendirian yang terasa lebih luas sekaligus menyakitkan.
000
Hujan masih turun dengan deras, belum ada tanda-tanda akan reda dalam waktu dekat. Rukia menghela napas setelah membereskan sketsa-sketsa rancangannya, paling tidak dia bisa menyelesaikan pekerjaannya sembari menunggu cuaca kembali cerah. Cokelat panas dalam mug berbentuk kelinci itu masih tersisa banyak karena Rukia hanya minum sedikit, bahkan Ashido berbaik hati menyediakan mug khusus kesukaannya. Kelopak matanya terasa berat, akhirnya Rukia berguling di atas ranjang besar itu karena mengantuk. Tidak peduli dengan pemuda berambut merah yang sibuk mengamati kegiatannya.
"Kalau kau terus menuangkan seleramu ke dalam rancanganmu, orang-orang tidak akan sanggup membeli produkmu, Rukia." Ashido tiba-tiba berceletuk. Pemuda itu menyangga kepalanya menggunakan tangan, tiduran dalam posisi miring menghadap ke Rukia. Gadis cantik itu menoleh dengan tatapan sayu, ekspresi malasnya malah membuatnya terlihat sungguh menggemaskan.
"Kau menghinaku?"
"Kau tahu bagaimana mulutku, Rukia." Mata Ashido terus memperhatikan tingkah Rukia, gadis itu tampaknya sudah menyerah untuk mencoret-coret buku sketsanya. Memang, Rukia sedang kehabisan ide untuk melanjutkan rancangan bikininya. Apalagi dengan tekanan luar biasa dari beban pekerjaannya sekarang sebagai asisten seorang perancang senior yang terkenal.
"Seperti apa bikini selera laki-laki itu?" tanya Rukia. Ashido menaikkan sebelah alisnya, berusaha berpikir agar memberikan jawaban yang memuaskan. Selera laki-laki? Pemuda itu tersenyum miring, selera yang dimaksud mungkin lebih cocok ditujukan sebagai pertanyaan untuk perempuan. Baginya yang seorang laki-laki, selagi bisa melihat belahan dada dan bokong yang bulat dan kencang, itu sudah cukup. Kalau boleh jujur, dia lebih suka melihat perempuan telanjang langsung daripada harus dipancing-pancing dengan bikini seksi. Namun sekali lagi, itu merupakan jawaban yang akan mendatangkan pukulan atau tonjokan dari Rukia.
"Two piece. Tidak perlu terlalu terbuka karena laki-laki jauh lebih senang dengan sesuatu yang bisa membuat mereka penasaran dan berandai-andai. Yang terpenting adalah pas dengan bentuk tubuh, karena kadang ada perempuan yang menggunakan pakaian ketat agar dadanya terlihat menonjol."
"Jangan-jangan semua penjelasan itu tadi adalah selera pribadimu?!" tukas Rukia. Lawan bicaranya hanya mampu meringis, gadis itu bertanya dan jawabannya malah diolok-olok.
"Jujur aku tidak suka rancanganmu, Rukia. Bikini yang kau desain memang bagus, tapi itu terlalu highclass kau tahu. Tidak semua sasaran pasar mampu membelinya, itu yang membuat produkmu kurang diminati dan kalah saing dengan lawanmu." Ashido mencoba menahan diri karena tidak mau membuat Rukia marah. Sebetulnya produk kualitas tertentu yang sengaja dibuat untuk kalangan kelas atas banyak yang mendapatkan untung besar, tapi hal ini tidak berlaku untuk kasus Rukia. Pameran busana tahunan itu untuk apa? Ditujukan pada masyarakat terutama kalangan perempuan muda dan gadis remaja 'kan? Ayolah, seberapa banyak budget kantong mereka itu.
"Kau boleh juga ternyata," ucap Rukia sambil tersenyum begitu manis.
"Benarkah? Kalau begitu satu putaran bercinta akan membuatku senang sebagai ucapan terimakasihmu."
"Yang benar saja."
000
Ruangan seluas setengah lapangan sepak bola itu adalah aula minum teh keluarga Kuchiki, tempat menjamu para tamu khusus. Hari ini Soujun sedang kedatangan seorang tamu penting, wanita paruh baya yang kira-kira seumuran dengan mendiang isterinya. Pribadi lembut dan tergolong cantik untuk wanita seusianya, garis-garis keriputnya tersamarkan dengan baik.
"Silakan," ucap seorang pelayan dengan sopan, setelah menuangkan poci berisi teh untuk tuannya dan tamu tuannya. Pelayan tadi lantas bergerak mundur, tetap siaga dari belakang untuk menuang teh pada sesi berikutnya.
"Aku sudah membicarakan hal ini dengan suamiku, diluar dugaan, dia setuju." Wanita tadi memandang lurus ke depan, menatap taman bunga sakura yang indah dengan kolam ikan koi. Angin berhembus semilir menerbangkan selendang yang melilit bahunya, rambutnya yang panjang juga ikut bergoyang-goyang. Matanya masih terpejam membentuk lengkung bulan sabit, dengan senyum yang selalu terpasang pada wajahnya.
"Aku senang suamimu memberi sambutan baik." Soujun meneguk tehnya yang mulai menghangat, musim semi memang waktu terbaik. Taman miliknya tampak berkali lipat lebih indah karena bunga-bunga sakura bermekaran, benar-benar pemandangan yang meneduhkan hati. "Bagaimana dengan putramu? Dia adalah tokoh utamanya."
Wanita tadi menunduk, mulai membuka kelopak matanya dan memandang gelas teh dalam pangkuannya. Boleh dikata, ini adalah teh terenak yang pernah dia nikmati selama masa hidupnya sampai saat ini. "Dia yang paling gembira mendengar kabar ini. Putraku merupakan salah satu penggemar Kuchiki Rukia, aku bersyukur kau mau memberikan putrimu kepadanya, Soujun-san. Hal itu merupakan suatu kehormatan untuk keluargaku."
Soujun menarik senyum, kembali meminum tehnya dengan tenang. Pelayan kembali datang membawa nampan untuk menghidangkan sepiring kue mochi. "Tentu, sebab aku tidak mungkin menikahkan putriku dengan laki-laki yang tidak memenuhi standar kualitas penilaianku."
000
Apa ya? Rasanya situs ini semakin sepi. Tapi terima kasih atas dukungan kalian!
