Who will u choose?
Cast : Naruto Sasuke Itachi Sakura Kyuubi (Monsterhuman)
Pair : Sasunaru Itanaru Sasusaku Itakyuu
Genre : History Romance Drama
Warning : Mpreg, boys love, yaoi,alur kecepetan
Disclaimer : karakter milik masashi kishimoto cerita milik saya
Don't like don't read
Bagi penggemar sakura atau ss silahkan klik tombol back karena akan dinistakan disini
Sebelumnya minta maaf di chap 5 saya nulisnya itanaru padahal harusnya itakyuu #tepokjidat gara2 cepet2 nulis akibat suara petir yang mengiringi saya menulis hahaha #ketawaguling2
Minta maaf juga kalau ada yang tidak suka dengan hadirnya kyuubi di ff ini dan pair itakyuu. Karena tuntutan cerita dan kalau gak sama kyuubi, ntar itachi sama siapa? T^T
Sudah dulu ya cuap2nya~
Enjoy~
Chapter 6
H-6 pemberontakkan Danzo
"Kiba, panggilkan penasehat Nara dan panglima Hyuuga. Aku ingin membicarakan sesuatu pada mereka" ujar Naruto pada Kiba di luar. Naruto harus memikirkan sebuah rencana untuk mengalahkan Danzo. "Danzo pastilah mempunyai anak buah yang banyak di istana ini. Aku harus menyelidiki siapa saja anak buahnya" Naruto mengusap wajahnya lelah. Masalah demi masalah terus melanda dirinya. Namun janjinya kepada Itachi membuat dia berusaha menjalani nya.
"Yang Mulia, penasehat Nara dan panglima Hyuuga sudah tiba" Naruto berdiri dan menemui Shikamaru dan Neji. "Kita bicara di kamarku saja. Kiba siapkan teh herbal"
"Saya mengerti" Kiba undur diri dan mereka bertiga duduk di kamar Naruto yang ketiganya duduk di atas bantal duduk dengan meja cukup besar di depan mereka. Naruto memandang Shikamaru dan Neji yang ada di depannya bergantian.
"Jadi, aku memanggil kalian untuk membicarakan sesuatu yang amat penting. Aku tahu kalian orang-orang kepercayaan Yang Mulia Raja dan orang yang setia pada Uchiha. Kalian bersumpah untuk tidak mengkhianati Uchiha bukan?"
"Kami bersumpah setia pada kerajaan Uchiha dan Yang Mulia sampai akhir hidup kami" jawab Shikamaru dan Neji lantang
"Baguslah. Dari info yang kudapat, Danzo akan melakukan pemberontakkan 6 hari lagi"
"Apa? Danzo penasehat Yang Mulia Fugaku? Bagaimana bisa?" tanya Shikamaru tidak percaya. Nejipun begitu.
"Aku pun juga awalnya tidak percaya, tapi informan yang memberitahuku itu bisa dipercaya. Dia bekerja sendiri pada Danzo" jeda sedikit dan karena Kiba masuk dan meletakkan teh kepada ketiganya. Setelah Kiba keluar Naruto melanjutkan ucapannya.
"Karena itu kita harus merencanakan strategi untuk mengalahkan Danzo. Waktunya sangat singkat, kita tidak boleh menyia-nyiakan waktu lagi. Nara, aku ingin kau mencari siapa saja yang menjadi sekutu Danzo di istana ini. Dan kau Hyuuga, perketat keamanan di istana dan persiapkan prajurit untuk perang nanti. Lawan kita adalah seseorang yang licik dan kuat. Tidak boleh ada yang mengetahui hal ini selain kita bertiga. Karena kita tidak bisa mempercayai siapapun. Kita bertemu lagi 2 hari lagi"
Shikamaru dan Neji mengangguk dan menerima perintah Ratu. Setelah Shikamaru dan Neji pergi, Naruto memikirkan rencanaselanjutnya.
.
.
.
Sore ini Naruto berlatih pedang dengan model boneka terbuat dari jerami. Naruto menghirup nafas dan menghembuskannya perlahan, mencoba rileks sekaligus fokus. Naruto memakai pakaian hakama warna merah dan katana yang dihadiahkan Zabuza padanya. Naruto dengan anggun namun cepat memotong lengan kiri boneka jerami itu. Dia menaikkan pedang itu di atas kepalanya dengan kedua tangan. Berputar 360 derajat dan memotong lengan sebelah kanan boneka jerami. Menghirup oksigen dan menghembuskan nya kembali. Dengan kecepatan kilat dia mengayunkan pedangnya pada kaki kiri, kaki kanan, kepala dan terakhir badan boneka. Naruto berbalik dan menyarungkan pedangnya. Di belakangnya boneka itu terpotong berjatuhan dengan sangat rapi tanpa serbuk jerami yang tercecer.
Sasuke melihat semua itu dari jarak yang tidak terlalu dekat dan tidak terlalu jauh juga. Dia melihat bagaimana Naruto begitu pandai memainkan pedang. Gerakkannya begitu lembut namun sesekali terlihat mantap dan akurat. Saat Naruto berputar Sasuke melihat rambut Naruto yang bergoyang dan disinari cahaya mentari sore. Begitu indah sekaligus menawan. Padahal dia jelas laki-laki. Sasuke ingat saat dia menolak mentah-mentah kakaknya menikah dengan Naruto. Sekarang dia tahu kenapa kakaknya ingin sekali menikahi Naruto. Dia bagai setangkai bunga mawar. Indah namun juga mempunyai duri. Duri yang menjadikan dia kuat dan sulit untuk diraih.
"Pangeran? Anda baik-baik saja?" Sakura bertanya pada Sasuke yang asyik melamun sambil memandang Naruto yang sedang beristirahat. Sasuke dan Sakura sedang berjalan-jalan di dekat lapangan tempat latihan pedang.
"Ah, ya aku tidak apa-apa. Mari kita pergi" Sakura menyingkirkan perasaan aneh saat Sasuke memandang Naruto tadi dan berjalan di samping Sasuke. Sakura harus membuat Sasuke benar-benar jatuh cinta padanya.
"Aduh" Sakura pura-pura tersandung dan refleks Sasuke memegangi pinggangnya. Sakura berusaha memasang wajah tercantiknya dan memandangi Sasuke. Keduanya bertatapan dan Sakura memajukan wajahnya sambil menutup mata. Sasuke juga memajukan wajahnya dan sedikit lagi bersentuhan namun Sasuke yang sadar ada seseorang yang memperhatikan mereka, menjauhkan wajahnya dan menatap orang yang menyela mereka. Sakura yang tak kunjung mendapatkan ciuman Sasuke turut membuka matanya. Sakura menatap jengkel Naruto, orang yang menginterupsi kegiatan mereka.
"Maaf, jika aku mengganggu. Tapi jembatan ini bukan dibuat untuk bermesraan" Naruto menatap datar keduanya. Pelayan dan Kiba yang ada di belakangnya hanya bisa menunduk tidak berani menatap ketiganya. Sasuke menatap datar Naruto namun matanya memancarkan tidak suka. Sakura menjauh dari Sasuke dan menunduk pada Naruto. Naruto berjalan dan melewati keduanya diikuti pelayan-pelayannya.
Sasuke terus menatap Naruto hingga Naruto menghilang. Sakura hanya mendengus. Gagal sudah rencananya.
H-5 pemberontakkan Danzo
"Jadi, Kyuubi-san. Kau tahu tentang latar belakangku? Maksudku aku tidak tahu apa-apa kecuali namaku" Itachi tengah memperhatikan Kyuubi yang menangkap ikan salmon di sungai. Berebut dengan beruang coklat. Keduanya sempat adu deathglare namun sang beruang kalah dan langsung lari ke dalam hutan. Itachi sempat sweatdrop melihatnya.
"Aku tidak tahu. Aku cuma menyelamatkanmu dan tidak tahu kau itu siapa" Kyuubi berhasil menangkap 2 ikan salmon sekaligus dan membawanya ke tempat Itachi untuk dibakar. Walaupun dia monster, namun dia bisa menahan lapar dengan hanya memakan satu ikan salmon saja.
Itachi menerima ikan salmon itu dan hendak membakarnya. "Hei tunggu, yang satu jangan dibakar. Dipotong kecil-kecil saja" interupsi Kyuubi. Itachi mengernyit heran. "Kau mau makan salmon mentah? Dasar aneh" Itachi menusuk satu salmon untuk nya dengan ranting dan menancapkannya di tanah dengan api unggun di depannya. Sementara menunggu ikannya matang dia memotong kecil-kecil salmon milik Kyuubi.
"Kau tidak tahu, di masa depan orang-orang akan suka sekali memakan itu dan sangat terkenal di penjuru dunia" seolah-olah dia bisa membaca masa depan. Padahal memang benar yang dikatakan Kyuubi.
"Terserah saja" Itachi mendengus dan meletakkan potongan salmon itu di atas daun yang cukup lebar dan menyerahkannya ke Kyuubi.
"Hmm enak" Kyuubi memakan salmonnya sambil menutup mata dan tersenyum. Itachi melihatnya dengan tatapan tidak biasa.
"Hei, ikanmu gosong tuh" ujar Kyuubi cuek. Itachi terbelalak dan buru-buru mengambil ikan tadi seraya meniup-niupnya. Kyuubi tertawa mengejek Itachi sambil mengucapkan kata bodoh. Itachi mendengus kembali dan memakan ikannya yang terasa pahit karena gosong. Ckckck.
.
.
.
Di istana terlihat Naruto yang tengah memakan makan siangnya bersama Mikoto dan Fugaku. Tumben sekali Naruto ingin makan siang dengan mertuanya itu. Tentu saja keinginan Naruto disambut dengan senang hati oleh Mikoto begitu juga Fugaku mesti tidak terlalu dia perlihatkan.
Saat menyendok sup sapi dan menyuapkan ke dalam mulutnya, perut Naruto tiba-tiba mual dan dia buru-buru berlari ke balik semak-semak untuk memuntahkan makanannya. Mikoto, Fugaku dan Kiba yang melihatnya ikut berlari mengejar Naruto.
"Naru, kau baik-baik saja? Apa makanannya tidak enak?" Mikoto mengurut leher Naruto membiarkan Naruto menyelesaikan muntahannya.
"Tidak ibu, aku hanya mual saja. Mungkin karena aku kurang tidur dan kecapekan" Naruto mengusap bibirnya dengan sapu tangan pemberian Kiba. Fugaku yang berdiri di belakang mereka menatap Naruto khawatir. "Sebaiknya kau periksa kesehatanmu ke tabib Tsunade, Naruto" ujarnya
"Tidak apa-apa ayah. Aku baik-baik saja. Ayah dan ibu tidak usah khawatir. Kiba, kau juga tidak usah bersedih seperti itu" Naruto tersenyum menenangkan ketiga orang itu. Meski begitu Naruto mempunyai perasaan tidak enak alasan dia muntah tadi. Padahal dia baik-baik saja saat makan sup sapi kemarin. Semoga tidak terjadi hal yang buruk, doanya.
H-4 pemberontakkan Danzo
Naruto, Shikamaru dan Neji tengah berkumpul di ruangan bawah tanah istana. Tempat rahasia yang hanya diketahui keluarga Uchiha. "Jadi, apa laporanmu Nara?"
"Saya sudah menyelidiki siapa saja anak buah Danzo. Dan..hasilnya sangat mengejutkan Yang Mulia" ujar Shikamaru pelan. Seolah tidak sanggup membayangkan hasil pertempuran mereka dengan Danzo
"Berapa? Katakan yang jelas Nara Shikamaru" ujar Naruto dengan suara keras. Dia juga gugup tidak sanggup membayangkan berapa jumlah anak buah Danzo itu.
"300 orang. Lebih dari separuh pasukan kita" Neji menggeram, kenapa bisa sebanyak itu?
Naruto menggebrak meja. "Sial, kenapa aku bisa tidak tahu dia menghimpun orang sebanyak itu?" Ketiganya hening sejenak dan Naruto mengeluarkan sebuah gulungan kertas dari dalam lengan bajunya.
"Aku sudah membuat sebuah rencana. Entah ini berhasil atau tidak. Kita hanya bisa berharap kerajaan Uchiha tidak jatuh ke dalam tangan Danzo" Naruto menerangkan rencana nya dan sesekali Shikamaru dan Neji mengangguk. Shikamaru yang jenius juga menambahi strategi yang diterima oleh Naruto dengan puas.
.
.
.
Mikoto tengah membuka-buka buku di perpustakaan istana. Dia ingin mencari sebuah buku tentang ramuan obat untuk Naruto saat dia tidak sengaja melihat sebuah buku yang hampir jatuh dari rak buku. Dia hendak mengembalikan buku itu, namun dia tertarik untuk melihat sebentar buku itu.
"Hmm aturan pernikahan istana?" Mikoto membaca judul buku itu lalu membaca isinya. Mata Mikoto terbelalak. Dia harus segera memberitahu suaminya.
H-3 pemberontakkan Danzo
Aula istana kembali ramai, dipenuhi oleh keluarga istana dan pejabat istana. Naruto duduk gelisah di kursinya. Dia sedang mempersiapkan perang yang sebentar lagi terjadi, tapi dia malah disuruh berkumpul di aula ini oleh ayah dan ibu mertuanya. 'Ada apa lagi ini?' pikirnya
Sadar jika anggota rapat terlalu lama menunggu, Fugaku berdehem sejenak dan berkata dengan suara yang masih lantang walau umurnya sudah kepala 6.
"Aku mengumpulkan kalian semua disini untuk membahas sesuatu mengenai pengganti Raja Uchiha setelah anakku Itachi meninggal. Aku tahu masih terlalu cepat untuk mencari penggantinya, tapi keadaan kerajaan yang sedang tidak stabil membutuhkan seorang Raja. Walaupun Ratu mampu memimpin kerajaan ini, tapi tidaklah cukup dan melanggar aturan jika seorang Ratu yang memimpin kerajaan. Oleh karena itu sesuai aturan istana, aku menunjuk anakku yang kedua yaitu Uchiha Sasuke untuk menggantikan anakku Itachi sebagai Raja Uchiha"
Sasuke sudah menebak maksud ayahnya, jadi dia tidak terlalu kaget. Namun perkataan ibunya selanjutnya membuat dia kaget dan tidak menyangka.
"Sesuai tradisi dan aturan istana, bahwa untuk melanjutkan keturunan Raja, Sang Ratu harus menikahi saudara dari Yang mulia Raja yang dengan kata lain adalah pangeran Sasuke"ujar Mikoto kali ini.
"A-apa?" Naruto berkata tidak percaya. Danzo yang ikut rapat itu menyela pembicaraan.
"Maaf, Yang Mulia. Tapi setahu hamba, tidak ada aturan seperti itu sebelumnya. Aturan istana menyebutkan jikaRaja yang baru berhak menentukan siapa yang ingin dia nikahi. Bukan ratu sebelumnya"
"Aku juga beranggapan seperti itu sebelumnya, tapi dari buku yang aku baca di perpustakaan istana menyebutkan seperti itu. Buku itu sudah usang dan berdebu, pasti disembunyikan agar tidak ada yang tahu aturan itu" ujar Mikoto lagi. Mikoto kemudian menatap Naruto dan Sasuke bergantian.
"Pernikahan kalian akan diadakan 5 hari lagi, Ratu, Pangeran"
"Aku keberatan, ibunda, ayahanda" sela Sasuke. Semuanya memandang Sasuke meminta penjelasan.
"Kenapa pangeran?"
"Karena aku sudah bertunangan dengan seseorang"
"Apa? Kau sudah bertunangan? Berani sekali kau bertunangan tanpa memberitahu orangtuamu!" Fugaku bangkit berdiri dan hendak memukul Sasuke namun Mikoto mencegahnya. Naruto juga sama terkejutnya dengan mereka semua.
"Dengan siapa kau bertunangan pangeran?"tanya Mikoto. Dirinya kecewa anaknya tidak bercerita padanya.
"Dengan Haruno Sakura, keponakan penasehat Danzo" Naruto sudah menduga keduanya memiliki hubungan. Tapi mendengar bahwa Sakura adalah keponakan Danzo, Naruto menduga ada sesuatu yang tidak beres. Apalagi melihat Danzo begitu tidak suka mendengar aturan jika Sasuke harus menikahinya. Dia harus menyelidikinya.
"Tapi kau tetap harus menikahi Ratu, pengeran" bujuk Mikoto agar memutuskan pertunangannya.
"Kalau begitu, aku tidak mau menjadi Raja"
"Sasuke! Jaga bicaramu!" Fugaku kembali murka. Dia tidak menyangka anaknya begitu kekanakan.
"Ayahanda, ibunda, ijinkan aku memutuskannya. Bolehkan?" Naruto menatap ayah dan ibu nya itu. Fugaku bergumam apa boleh buat dan mengangguk. Mikoto juga mengangguk mengikuti suaminya.
"Pangeran, kau boleh tetap bersama nona Haruno. Tapi kau hanya boleh menjadikannya selir dan tetap menikahiku. Dengan begitu kau tetap menjadi Raja, dan hanya itu yang bisa kau lakukan" ujar Naruto angkuh. Persetan dengan dirinya yang sok berkuasa atau apa.
Sasuke menatap tajam Naruto. Dan berpikir sejenak. "Baiklah" Setelah itu rapat dibubarkan dan tinggalah Sasuke dan Naruto sendirian.
"Aku tidak menyangka kita akan menikah. Walaupun kau akan menjadi seorang raja, aku tidak akan menghormati orang yang tidak menyayangi rakyatnya sepertimu" ujar Naruto dingin. Dia berjalan melewati Sasuke dan berhenti saat Sasuke berkata tak kalah dinginnya.
"Aku sudah mempunyai orang yang aku cintai. Jadi meskipun kau menjadi istriku aku tidak akan pernah mencintaimu"
Naruto terkekeh dan berbalik. "Sampai matipun aku tidak akan pernah mencintaimu. Yang aku cintai hanyalah Itachi-sama" Naruto kembali berbalik dan pergi darisana. Dia harus segera menyiapkan segala sesuatu untuk perang melawan Danzo. Tidak akan dia biarkan masalah pernikahan ini menganggu rencananya. Ada hal yang jauh lebih penting daripada itu.
H-2 pemberontakkan Danzo
Angin musim gugur bertiup kencang. Menggugurkan daun-daun kering yang semakin membuat jalanan semakin kotor. Naruto yang tengah dari rumah orangtuanya mengeratkan jubah tebalnya. Pakaian musim gugurnya hanya sedikit membantunya dari cuaca dingin hari ini. Tapi meski begitu dia bahagia bisa menjenguk orangtuanya dan melihat kehidupan rakyatnya di depan matanya tanpa mendengar dari laporan pejabat yang mungkin saja berbohong padanya.
Naruto melihat seorang anak kecil yang duduk berjongkok sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya, menciptakan kehangat yang kecil.
"Berapa harga boneka ini, gadis manis?" tanya Naruto sambil tersenyum ramah. Anak kecil itu berdiri dan tersenyum ceria pada Naruto. "Harganya 40 ryo kakak. Boneka ini aku sendiri yang membuatnya" Naruto mengisyaratkan Kiba agar memberi anak itu uang.
"Ah, kembaliannya" anak itu mencari uang kembalian di keranjang tempat bonekanya. Naruto memegang tangan anak itu dan menggeleng. "Tidak usah. Itu untukmu saja. Cepat pulang ya. Oh ya ini ada kue hangat untukmu" Naruto menyerahkan kue hangat itu pada anak kecil tadi dan pergi setelah melambaikan tangan padanya. Anak kecil tadi balas melambaikan tangannya pada Naruto seraya berteriak terima kasih kakak.
Naruto tersenyum seraya memejamkan mata. Tidak akan dia biarkan Danzo menguasai kerajaan dan menyengsarakan rakyatnya.
H-1 pemberontakkan Danzo
Naruto pagi ini kembali mual dan muntah. Kiba panik melihat tuannya tergeletak lemas dekat kamar mandi dan segera memanggil tabib Tsunade. Naruto dibaringkannya di atas futonnya dan tak lama Tsunade datang.
"Permisi Yang Mulia, saya akan memeriksa Yang Mulia" Naruto mengangguk lemah dan Tsunade mulai memeriksa kondisi Naruto. Dia membuka kelopak mata Naruto lebar-lebar dan memeriksa nadi di tangan Naruto. Wajah Tsunade berkerut. Lantas dia meminta ijin membuka pakaian Naruto. Naruto hanya menurut dan membuka kimono luar Naruto dan dalamnya yang berwarna putih. Namun obinya masih terpasang.
Tsunade menekan-nekan perut Naruto dengan jari telunjuk dan tengahnya. Sesekali dia mengernyit dan memasang wajah kaget.
Beberapa menit kemudian Tsunade selesai memeriksa Naruto. "Bagaimana Tsunade-san? Yang Mulia sakit apa?" tanya Kiba khawatir seraya memasang kembali baju Naruto.
Tsunade tersenyum dan menatap Naruto. "Selamat Yang Mulia Ratu, Anda hamil 3minggu"
"A-apa?"
TBC ^^
Yosh, update kilat dan gomen kalo lebih pendek dari chap kemarin u,u karena diburu waktu. Minggu depan saya sudah sibuk membuat bab 4 skripsi jadi maaf kalo updatenya lebih lama #bow
Dan ff sasunaru di wattpad saya besok saya update. Kalo yang ingin membaca silahkan kunjungi dengan penname blacksmile0907 judulnya We met on your wedding.
Terima kasih sudah membaca, mereview, memfavoritkan, memfollow ff ini #smile
Maaf tidak membalas review, tapi saya baca kok. Saya menantikan review teman-teman sekalian. Sampai ketemu chap selanjutnya ~
Review again?
