Dia kira, pergi ke kota adalah suatu keputusan yang tepat. Mendapatkan uang dengan mudah dan mampu menaikkan derajatnya.

Hidup sendiri di desa, kadang menjadi bullyan teman-teman sebaya ketika kanak-kanak. Minato membulatkan tekad untuk merubah hidupnya.

Dan di sinilah dia. Hidup dalam sudut kota yang kumuh. Tak ada satu pekerjaan yang mampu ia kerjakan dengan baik. ah, tidak.. lebih tepatnya pekerjaan yang menghasilkan uang banyak tak mampu ia dapatkan, yang dilakukannya hanya mengerjakan pekerjaan serabutan asal bisa mendapatkan uang untuk dirinya makan.

Minato berlari kecil menghindari hujaman hujan menuju sebuah kedai. Tubuhnya mengigil. Dia ingin memakan ramen namun niatnya itu tak ditunjang dengan uang yang cukup. Di sakunya hanya ada beberapa logam saja. Jika tidak hujan Minato enggan untuk masuk ke sini lalu menatap orang-orang berperut buncit bercakap-cakap dengan kepulan asap hangat di atas meja.

"Sial, tahu begini aku tidak akan meninggalkan rumah itu." Minato bersungut. Mendapat panggilan untuk membenarkan pipa di salah satu rumah yang rupanya hanya mengalami kerusakan kecil, itu akhir kenapa di sakunya hanya ada beberapa uang saja. Tenggorokannya sudah berapa kali meneguk ludah.

Di sampingnya ada pemuda sedari tadi memandangi air jatuh, kendati rambut orang yang ada di sampingnya ini terurai panjang, tak lantas menghilangkan aura maskulin yang terpancar jelas. Lihat saja tenggorokannya. Tunggu, Minato menatap tenggorokan pemuda itu, sepertinya keadaan pemuda tersebut tak jauh beda dengan dirinya.

"Apa kau tidak memesan ramen?" Minato mencoba menawarkan.

Hiashi—pemuda itu menoleh kemudian mengalihkan pandangannya kembali. "Aku hanya berteduh, apa harus memesan?" balasnya sedikit dingin.

"Kalau begitu sama denganku—"

Kryuukk..

Belum selesai Minato berbicara, indra pendengarnya menangkap suara tabuh dari perut. Wajahnya memerah, dengan cepat tangannya memeluk perutnya sendiri berusaha agar tak berbunyi lagi.

Tapi..

Hal yang sama pun dilakukan Hiashi. Dia memegangi perutnya. Suara tadi terdengar sangat nyaring sampai-sampai tidak diketahui asalnya dari mana—siapa. Keduanya merasa lapar, dan mereka merasa asal suara tersebut dari perutnya.

Keadaan kikuk menyelimuti, tak kuasa untuk melirik, Hiashi dan Minato saling membuang muka. Sayangnya suara aneh itu berbunyi kembali.

"Ah.. sebaiknya kau memesan, aku yakin itu suara perutmu," tuding Minato.

"Enak saja, itu suara perutmu.." wajah Hiashi memerah. Dia benar-benar merasa terhina.

"Ti-tidak, aku yakin itu suara perutmu." Minato mencoba menyangkal, dia menatap Hiashi lurus-lurus.

"Enak saja menuduh, aku yakin itu suara perutmu—"

Kryuukk..

Oke, keduanya memang lapar.

"A-a, baiklah, aku mengaku, aku lapar tapi uangku tidak cukup." Hiashi menutup wajahnya. Memalukan sekali mengatakan hal itu di depan orang yang baru ditemunya.

"Hahaha.. kebetulan sekali aku juga sama." Minato tergelak. Entah kebetulan atau tidak, keduanya hanya memegang uang yang sedikit.

Kebetulan yang tidak lucu ini berhasil membuat mereka menertawai diri sendiri. Setelahnya Minato dan Hiashi menyatukan uang mereka untuk membeli semangkuk ramen kemudian dimakan berdua.

Keadaan memalukan yang bisa membuat orang tak tahu malu. Seperti, awalnya malu-malu kemudian tak tahu malu. Mungkin kata orang, itu yang dinamakan sahabat.


Our Bolt

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Author: Via Ni (Ganti penname)


Naruto menatap pantulannya di cermin, wajahnya tak semengerikan semalam. Tentu masih membekas cacian yang dilontarkan Minato padanya, Naruto menangis di pelukan Hinata. Istrinya itu tak bertanya 'Kenapa?' tapi berucap, 'Tolong, jangan menangis.'

Kata-kata dari Hinata sukses membuatnya tersadar untuk menghentikan tangis yang tak berguna itu. Lalu kemudian semua hening. Naruto tak berkata apapun karena tak mau Hinata mengetahui apa yang sudah terjadi padanya. Naruto hanya tahu diri, jika bebannya dibagi dengan Hinata hanya akan mengganggu kehamilannya.

"Hari ini Naruto-kun pergi kuliah, kan?" Hinata membereskan menyusun mangkuk-mangkuk lauk di atas meja sedemikian rupa.

"Uhm, mungkin aku akan memikirkan pekerjaan dengan perlahan," jawab Naruto, menghampiri Hinata kemudian mengusap pucuk rambut sang istri, "maaf ya sudah membuatmu khawatir soal semalam." Naruto tersenyum lebar, memaparkan deretan gigi putihnya.

Hinata meraih tangan yang tersemat di kepalanya untuk kemudian diusap perlahan, "Naruto-kun bisa menceritakannya jika Naruto-kun mau." Hanya ungkapan sederha yang seharusnya dia ucapkan semalam. Hinata menuntun suaminya untuk sarapan.

~oOo~

Seperti mimpi rasanya kembali ke kampus setelah apa yang dia lalui belakangan hari ini. Namun berbeda dengan hari-hari biasanya. Banyak pasang mata yang menatapnya aneh, kasihan, dan entahlah, Naruto tidak tahu arti tatapan-tatapan mengerikan itu. yang jelas semua membuat Naruto terlihat seperti murid baru.

"Hoy, Sasuke?"

Masa bodoh. Naruto tak mau memikirkan lebih jauh lagi. Yang ingi ia lakukan saat ini adalah...

"Apa kau bersekongkol dengan ayahku?" cecarnya setelah berhasil menghadang Sasuke.

Lelaki berwajah datar itu berjalan lurus menuju kelas, tanpa mengetahui keberadaan Naruto sebelumnya. Namun saat ini, dirinya bingung dengan pertanyaan yang dilontarkan Naruto.

"Maksudmu?"

"Jangan sok tidak tahu. Kau menjebakku, kan? Aku kira kita sahabat—"

"Tu-tunggu.. aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan. Menjebakmu?" Sasuke mengerutkan keningnya, dia masih tak mengerti meski sebisa mungkin ia menatap lurus-lurus iris sahabatnya untuk menemukan jawaban.

"Tempat itu... bangunan tempatku bekerja, yang kau tunjukan kemarin adalah proyek milik ayahku. Apa kau bekerja sama dengan dia? Kenapa kau setega itu—"

"Tidak." sela Sasuke. "Aku tidak mungkin melakukan hal itu."

"Kenyataannya dia datang ke sana dan merendahkanku di depan umum." Amarah Naruto kembali mencuat ketika mengatakan hal itu. hanya mengingatnya saja sudah membuatnya naik pitam.

"Tidak." Sasuke masih menyangkal dengan pandangan kosong. Setelahnya dia berbalik, memandang keramik putih tempatnya berpijak sambil berpikir untuk beberapa saat. "Seharusnya itu bukan proyeknya.. aku sudah memastikannya sebelumnya."

~oOo~

Kushina duduk diam memangku tangan di kamarnya. Semalaman menunggu Minato, sayangnya lelakinya itu tak kunjung pulang. Tak ada telepon, dan Kushina tidak berniat untuk menelepon. Sudah lama dia mendiami Minato.

Sayangnya ... tak berjalan lancar.

Rumah tangga dan bisnis seperti sudah tercampur aduk. Kushina harus pandai-pandai berakting ketika ada pertemuan dengan rekan bisnis Minato, atau acara lain yang masih mencangkup tentang bisnis.

Seperti kemarin misalnya. Kushina menemani istri-istri dari rekan bisnis Minato, kendati terkadang menyebalkan karena sesekali mereka mengungkit tentang putranya, Kushina harus tetap berwajah tenang.

Namun, semua menjadi tak terkendali ketika bertemu dengan Hinata kemarin. Ada banyak hal yang Kushina pikirkan, sampai-sampai mengabaikan semua teman-temannya.

Indra pendengaran Kushina menangkap suara langkah kaki kemudian pintu kamarnya terbuka. Tanpa perlu menoleh, Kushina dapat melihat seluet orang itu dari pantulan cermin di kamar.

"Baru pulang?" datar Kushina.

Minato mengabaikannya, dia memilih melempar jas lalu mengendurkan dasinya untuk kemudian berbaring di ranjang. Jemarinya memijit pelipis kasar, tampak guratan letih dari wajahnya.

Ini bukan kali pertama Minato pulang terlambat bahkan tak pulang tanpa kabar. Kushina sudah terbiasa akan hal itu. suaminya memang gila kerja sampai dirinya diduakan dengan pekerjaan. Jika Kushina memerotes, Minato berkilah, ini demi keluarga kita. Astaga, bukan hanya Naruto yang kesal dengan sikap Minato, tapi juga Kushina. Sayangnya Kushina sudah telanjur jatuh hati pada lelaki yang kini jarang memerhatikannya ini.

"Aku mendengar kau menemui Uchiha Fugaku, sudah lama kalian tidak saling bekerja sama. Apa sebenarnya yang sedang kau kerjakan?"

Minato mengerling, masih dengan posisinya berbaring. "Mau sampai kapan kau berbicara dingin seperti itu pada suamimu?" bukannya menjawab, Minato malah mengalihkan topik.

Rasanya kesal ketika mendengar penuturan Minato. Pertanyaan itu sudah Kushina dengar puluhan kali. Dirinya muak sampai tanpa terasa sudut bibirnya terulas senyum tak suka. "Jangan mengalihkan pembicaraan."

"Tidak sedikit pun aku berniat mengalihkan pembicaraan, sayang." Pada akhirnya Minato mengeluh, dia bangkit dari posisi tidur, menatapi wajah samping Kushina yang berkedut tak suka. Oke, dia memang mengalihkan topik, tapi sejujurnya dia hanya ingin obrolan mereka menghangat. "Aku ingin kau menyambutku, seperti sebelum-sebelumnya, bukannya malah bertanya dengan nada curiga begitu."

Kushina bergeming. Dia masih kesal atas tindakan suaminya yang semena, membuang anak sematawayang mereka. Lalu berharap tidak ada yang terjadi? Kushina mana mungkin mengabaikan sedikit pun tentang putranya. Dia tidak berniat menjawab sepatah pun, alih-alih membuang muka.

"Kushina..."

"Jika kau tidak bertindak kejam seperti itu, aku tidak akan bersikap seperti ini!" Kushina memekik, matanya mendelik, memerah dengan rembesan air mata yang menggantung di kelopak.

"Naruto lagi? Tidak bisakah kau melupakan anak sialan itu?!" intonasi Minato tak kalah tinggi. Wajahnya mengeras juga dadanya.

"Dia anakmu!"

Keduanya beradu pandang cukup lama, sama-sama menolak untuk melembutkan sedikit saja tatapan tajam mereka. Keduanya memang keras kepala. Jadi wajar saja jika Naruto pun cukup keras kepala ketika berdebat dengan Minato.

Hingga akhirnya Minato yang mengalah dengan menyunggingkan seringai. Dia beralih menatap lantai, menunduk untuk kemudian terpingkal. Kushina bertanya-tanya atas perubahan sikap Minato.

"Kau bertanya kenapa aku menemui Fugaku?" Minato bertanya masih diselingi tawa mengejek, selanjutnya dia mengerling. "Akhirnya pada tahun ini dia bekerja sama dengan Senju dalam audisi pencarian arsitek muda berbakat. Tentu aku tidak akan menyiakan kesempatan ini, mengingat aku dan Fugaku adalah teman meski sudah lama kita tak bekerja sama. Dan untuk tahun ini aku tidak akan kalah dengan Hyuuga." Nada suara Minato menggebu.

Kushina berdecih.. dia muak dengan permainan kata yang tengah suaminya mainkan. Ekor matanya mendelik. Bagaimana bisa Minato memutar arah dan mengendalikan topik pembicaraan sesukanya.

"Apa sebenarnya yang kau bicarakan. Hal ini tidak ada kaitannya dengan Naruto—"

"Saat berada di sana ..." Minato mengeras, memotong ucapan Kushina, kemudian melangkah mendekati Kushina.

Wanita Namikaze itu cukup terkejut lantas dia mendongak mengimbangi tatapan mata Minato.

"Ketika aku sedang berbincang dengan Fugaku. Aku melihat putramu, dia terlihat bahagia dengan kehidupannya. Tidak bisakah kau melupakannya? Itu keinginannya."

Sontak Kushina terperanjat turut berdiri. Alisnya bertaut dengan tatapan nanar, "Kau bertemu dengannya? Apa saja yang sudah kau katakan pada Naruto?"

Untuk detik selanjutnya ujung bibir Minato tersenyum puas, dia merasa menang. "Fugaku memintaku untuk menilai bangunan setengah jadi yang menjadi salah satu proyeknya, dia begitu bersemangat bekerja di antara batu dan kayu."

Kushina tak mampu menilai penyataan yang diucapkan suaminya. Apakah sebuah kebanggaan atau sebuah cacian. Tapi tunggu dulu, Kushina memilah kata yang barusan didengarnya. Batu dan kayu?

"Jangan katakan dia bekerja sebagai kuli?" tanya Kushina bernada putus asa.

"Ya! Putramu akhirnya tahu seperti apa rasanya bekerja berat. Ch, jika saja dia mendengarkanku, dia tidak akan menderita seperti itu." gelak tawa mengiringi langkah kaki Minato yang berjalan keluar kamar untuk mencari udara segar. Cukup menguras mood ketika membahas tentang anak yang sudah menentangnya mati-matian hanya karena seorang wanita Hyuuga.

Selepas kepergian Minato, Kushina kembali terduduk, namun kali ini dia tiak lagi mengenyak pada busa berlapis bludru merah di kursi bundar tempatnya duduk beberapa saat lalu. Kushina, istri dari Minato itu terduduk di lantai, tampak shok atas akuan sang suami.

Naruto—putra tunggalnya, yang selalu berlimpah kasih dan sayang darinya. Yang selalu dia bahagiakan dengan memberi apapun keinginan sang putra, pastinya Naruto tak pernah kekurangan uang sedikit pun kendati anak sematawayangnya itu memilih tinggal terpisah di apartemen. Kushina dapat menjamin kesejahteraan Naruto walau sang ayah tak punya waktu barang sedetik untuk menelepon sekadar menanyakan kabar.

Tapi sekarang... Kushina tak bisa membayangkan seperti apa beratnya kehidupan anaknya. Wanita itu menitikan airmata. Dia mengiba lantaran menutup mata atas penderitaan sang putra.

Sebenarnya Kushina sudah meminta seseorang untuk mengamati Naruto lalu mengabarkannya padanya. Hanya saja wanita baya yang keras di luar namun memiliki hati layaknya setitik embun itu tak berani mengambil risiko mendengar kehidupan gelap anaknya. Sebisa mungkin Kushina menolak mendengar kabar tidak mengenakan mengenai Naruto.

Tidak ada ibu yang menginginkan anaknya menderita. Sasuke tahu itu. Dia cukup tahu seperti apa ikatan Naruto dan Kushina, rasa sayang mereka dan kepedulian satu sama lain. Sasuke—seseorang yang bertanggung jawab untuk melapor pada Kushina memilih bungkam dan berkata. "Naruto bahagia dengan jalan yang dia pilih."

~oOo~

Langkah kaki lebar tergesa menuju satu ruangan. Di sana terlihat Hyuuga Hiashi terpekur pada layar laptop di meja kerjanya. Beberapa dokument menumpuk tak dihiraukan, atensinya hanya menatap sebuah informasi yang baru didapatnya melalui email.

"Ji-san, aku sudah berada di sini. Apa yang kau butuhkan dariku?" Neji bersuara menyabangkan fokus dari sang paman. Lelaki bermanik pucat itu bertanya dalam hati tentang gerangan yang dipikirkan pamannya.

"Aku punya tugas untukmu. Apa kau mengenal Uchiha Sasuke?" Hyuuga Hiashi menautkan jemarinya untuk menyangga dagu. Menatap lurus-lurus atas reaksi Neji.

"Uchiha Sasuke? Uchiha? Aku tidak mengenalnya, tapi akan aku usahakan untuk mencaritahunya." Meski Neji tidak mengerti tujuan Hiashi bertanya mengenai anak laki-laki yang tak dikenalinya, tapi Neji dapat mengerti mengenai situasi ini saat mendengar nama Uchiha. Pasti tentang event tahunan yang selalu menarik anemo dari dunia arsitek.

"Kau tidak perlu repot-repot mencaritahunya." Hiashi melempar selembar foto yang menampilkan gambar Sasuke. "Aku berniat menjodohkannya dengan Hinata sebelum si keparat itu mengambil putri kesayanganku. Akibatnya semua rencanaku berantakan. Pastinya Minato sedang tertawa saat ini lantaran putranya berteman baik dengan Uchiha Sasuke, mereka juga pernah bekerja sama merampungkan proyek toserba. Cukup sulit untuk mendekati Uchiha Fugaku di saat seperti ini." Hiashi menggantungkan kalimatnya, dia beralih menatap Neji menerawang keponakan yang seharusnya seumuran dengan Sasuke.

Ya, seharusnya Neji seumuran dengan Sasuke dan Naruto, tentu mereka juga akan berada di tahun yang sama di kampus. Sayangnya Neji lebih beruntung memiliki kepintaran di atas rata-rata, hingga lulus lebih awal ketimbang yang lainnya. Beruntung, huh? Ujung bibir Hiashi tertarik ke atas.

"Dekati dia. Aku ingin kau mengikuti audisinya—"

"Tunggu dulu. Aku? Tidak bisa, kau tahu persyaratannya, bukan? Pendaftarannya harus disertai surat pengantar dari universitas. Sedangkan aku sudah bukan mahasiswa lagi. Ji-san jangan main-main soal ini." Neji benar-benar terkejut atas keputusan yang diambil pamannya. "Kita bisa bekerja sama dengan salah satu investor untuk ikut andil dalam prekrutan pemenang, bukan? Perusahaan kita tidak harus mengikuti audisi ini. Astaga, Ji-san, jika semua orang tahu akan hal ini prusahaan kita akan hancur."

Seulas senyum mengejek bertengger di wajah Hiashi. "Aku cukup berani mengambil risiko ini. Kau tahu aku memiliki investasi di universitas Konoha. Aku akan membuatmu bisa mengikuti audisi ini, dan kau harus memenangkannya," datar Hiashi penuh keyakinan. Iris pucatnya menatap foto Sasuke, "Tugas pertamamu, mendekati Sasuke untuk mengetahui siapa saja yang menjadi juri di sana. Aku yakin sekali Fugaku akan menjadi salah satu juri dalam ajang itu. kau cukup mencaritahu tiga dari lima diantaranya."

"Tapi—"

"Jangan buat aku melakukan hal yang sama seperti aku lakukan pada Hinata. Gadis itu harusnya berada di posisimu saat ini, kau harus menggantikan peran Hinata untuk menebus permintaan maaf lantaran sudah membantu Naruto kala itu. kau kira aku tidak tahu? Hah.. Lakukan yang aku minta sebelum aku bersikap kejam juga terhadapmu."

~oOo~

Otak Naruto benar-benar bekerja keras. Baru kembali ke kampus, tapi sudah dijejali tugas yang begitu banyak. Sumpah serapah dia tujukan pada tumpukan buku yang kini berada di dekapannya. Astaga, kalau seperti ini Naruto tidak akan memiliki waktu untuk mencari kerja paruh waktu.

"Naruto?"

Kepala pirang itu menoleh menatap lelaki berambut emo yang sudah berdiri di sampingnya dengan napas tersenggal. Naruto tampak acuh.

"Aku sedang tidak ingin berbicara denganmu," balas Naruto berjalan cepat sambil mendekap tumpukan buku yang ia pinjam dari perpustakaan agar tak terjatuh.

Sasuke berhasil mengimbangi langkah Naruto. Lelaki berwajah datar itu menarik pundak Naruto kasar agar mau mendengarnya barang sejenak saja. Buku-buku yang didekap Naruto berhamburan, hal itu sukses membuat Naruto berhenti berjalan menjauh.

"Aku tidak memiliki waktu untuk mendengar ucapan maafmu. Kau tahu seperti apa hidupku sekarang." Naruto memunguti buku-bukunya.

"Aku tidak berniat meminta maaf," tandas Sasuke. Dia memerhatikan seksama sahabat yang kini berjongkok di hadapannya guna memunguti buku yang berhamburan akibat ulahnya. Tak sedikit pun ada niat di hati Sasuke untuk membantu. "Aku tidak pernah melakukan hal yang kau tudingkan padaku. Jadi aku tidak akan pernah meminta maaf."

"Lantas untuk apa kau berada di sini? Ingin menertawakanku?" sebelah alis Naruto berkedut tak suka. "Ya, ya. Aku tahu hidupku seperti ini. Sangat menyedihkan, bukan? Aku bukan lagi sahabat yang bisa kau banggakan. Seorang Uchiha elit sepertimu tidak seharusnya bersamaku. Pergi sana, urusi urusanmu. Jangan menggangguku."

Sasuke membiarkan saja sahabatnya berceloteh tentang persepsinya mengenai pandangan hidup. Anggapan yang dibicarakan Naruto benar-benar berbeda dengan anggapan Sasuke. "Bicaramu seperti remaja saja," cibir Sasuke.

"Aku memang masih remaja, usiaku saja belum genap kepala dua. Wekk.." Naruto menjulurkan lidahnya kepalang kesal dengan Sasuke. Naruto berdiri setelah memungut semua bukunya.

"Ya, aku tahu. Kau masih bocah." Sasuke menimpali dengan cibiran atas ucapan yang Naruto lontarkan. Sudahlah, jika seperti ini tidak akan ada habisnya, pasti Naruto akan menimpali kembali lalu berakhir dengan makian dari keduanya. Sasuke memilih mengakhiri dengan menunjukan sebuah kertas ke hadapan Naruto.

"Apa itu?" Naruto mengangkat sebelah alisnya, membaca sebaris kata yang terlihat lebih besar dari paragraf setelahnya. Naruto berlonjak kaget, irisnya beralih beradu pada Sasuke. "Untuk apa kau menunjukannya padaku?" tanya Naruto.

"Kau tahu, bukan? Ini kesempatanmu untuk menunjukan pada ayahmu bahwa kau cukup kompeten."

Naruto tergelak. "Kau memintaku untuk turut dalam permainan kotor ini? Jangan bercanda. Aku tidak memiliki dukungan untuk berada di sana. Dan aku yakin semua orang sudah tahu mengenai skandalku dengan Hinata." Naruto mengibaskan tangannya. "Lupakan saja. Aku tidak akan mengikuti audisi itu. Jika pun aku mengikutinya, sudah pasti aku didepak dalam babak pertama." Naruto cukup yakin akan hal itu. "Lagi pula, aku mengatakan pada Tou-san akan mendalami bidang property—"

"Lalu apa bedanya? Ahli dalam bidang property, tapi tak bisa mengerjakan design bangunan, apa kau menyebut dirimu sebagai arsitek?" Sasuke memotong ucapan Naruto, lelaki itu tampak berpikir.

"Bukankah tahun lalu kau mengatakannya akan mengikutinya di tahun ini? Di mana hilangnya tingkat kepercayaan dirimu?" sudut bibir Sasuke terangkat. Tersenyum mengejek.

"Sudah hilang ditelan rasa cintaku pada Hinata." Naruto menyambar kertas yang ada di tangan Sasuke. Naruto sedikit kesal dengan ucapan Sasuke, namun dia tak bisa membalasnya. "jika aku tidak mengambil ini kau akan tetap bersikukuh memaksaku untuk ikut, bukan? Sekarang jangan halangi jalanku." Naruto berjalan cepat tak lupa menabrakkan pundaknya dengan pundak Sasuke kasar, langkahnya dibarengi dengan grutuan tak jelas dari mulutnya.

"Astaga, aku rasa akal sehatnya benar-benar menghilang. Dia bertingkah seperti gadis yang sedang pms saja."

~oOo~

Naruto pulang ke rumah sedikit terlambat. Dia memilih berkeliaran di luar sebelum kembali, barang kali bisa menemukan satu pekerjaan mudah seperti menunggu sebuah toko. Lelaki itu menggantungkan tas selempangnya di gantungan jaket, kemudian disusul dengan membuka jaket untuk di gantungkan ke tempat yang sama. Langkah teraturnya mencari-cari keberadaan wanita yang selalu menyambutnya di depan pintu.

Kemana perginya Hinata? kenapa terlihat lengang?

"Hinata?" rumah mungilnya tentu tak terlalu rumit untuk menemukan sang istri yang tengah duduk di tepi ranjang sambil memainkan sesuatu.

Ketika mendengar suara Naruto menyapa telinganya, sontak membuat Hinata terkejut lalu cepat-cepat dia menyembunyikan sesuatu yang tidak boleh Naruto ketahui. Sebuah benang—yang baru ia rajut beberapa centi saja. Hinata meletakkannya di sebuah kotak bekas sepatu, kemudian ia taruh di bawah ranjang.

"Na-naruto-kun? Kapan kau pulang?"

"Sudah dari tadi, aku mencarimu di mana-mana aku kira kau keluar malam-malam begini. Memangnya kau sedang mengerjakan apa sampai tidak mendengar kedatanganku?" Naruto mendekat, duduk di samping Hinata.

Tatapan Naruto tepat di mata Hinata, membuat jantungnya berpacu lebih cepat. Astaga, ini namanya serangan mendadak. Hinata memalingkan wajahnya, menolak kontak langsung dari Naruto. "E-eto, aku sedang tidak melakukan apa-apa."

Naruto cukup tertohok ketika Hinata menghindari tatapannya. Apa begitu buruk bertatapan dengannya? Padahal Naruto mati-matian menahan debarannya untuk hal ini.

"Na-naruto-kun sudah makan? Ji-jika belum aku akan menghangatkan lauknya—"

"Bagaiman denganmu? Kau tidak sedang menungguku, kan?" Naruto menaikkan sebelah alisnya. Dia tahu betul kebiasaan Hinata baru-baru ini. Menunggu Naruto pulang untuk makan malam bersama.

Apa yang dilakukan Hinata memang membuatnya senang. Naruto merasa dihargai sebagai seorang suami. Tapi, dia juga menghawatirkan istrinya jika kejadian kemarin terulang lagi. Mereka berdua kehilangan napsu makan lalu memilih tidur dari pada mengisi asupan tubuh mereka. Astaga, Naruto benar-benar merasa bersalah akan hal itu.

"A-aku? Te-tentu saja sudah—"

Naruto meraih tangan Hinata. Menuntun sang istri untuk duduk kembali di atas ranjang. Naruto menyelipkan anak rambut di telinga wanita yang sangat dicintainya. Wanita ini... terlihat begitu kesepian. Sama sepertinya. Rasa sepi ini harusnya dibagi, bukan?

"Tunggu di sini.. jangan coba-coba untuk berdiri atau memberontak atas apa yang akan aku lakukan."

Hinata membulatkan matanya. Bayangan aneh mulai menyusup di otakknya, membuat debaran di jantungnya semakin menjadi. Wanita itu menutup matanya rapat-rapat. Apa ini saatnya mereka menjalani pernikahan wajar?

Tapi tunggu dulu, Hinata merasakan tubuh Naruto menjauh. Kemudian lehernya merasakan sebuah benda lembut melilitnya. Perlahan Hinata membuka mata. Naruto tengah melilitkan sebuah syal di lehernya. Setelahnya lelaki berkulit tan itu mencoba mengenakan jaket pada tubuh Hinata.

Wanita yang kini menyandang gelar sebagai istrinya tersebut hanya diam di tempat. Iris keperakan milik Hinata mengikuti setiap gerakan dari Naruto. Bingung apa yang akan mereka lakukan malam-malam begini.

"Mau ke mana?"

Senyum Naruto mengembang. "Aku ingin makan ramen." Kini lelaki pirang itu mencari-cari jaket pasangan yang dikenakan Hinata, tentu untuk dirinya. Agar mereka berdua terlihat seperti pasangan kekasih. "Kau tahu masa ngidam? Aku membacanya tadi di perpus. Ternyata bukan hanya wanita yang mengalami masa ngidam, lelaki juga bisa merasakan hal itu." Naruto terkekeh lantaran malu untuk mengatakannya. "Sebenenarnya aku menunggumu untuk berkata, 'Naruto-kun, aku ingin ini, aku ingin itu, aku ingin makan ini dan bla bla bla.' Tapi sampai saat ini kau tidak berkata hal itu. Dan aku rasa, saat ini aku ingin sekali memakan ramen di kedai, berdua saja denganmu."

Hinata mengerucutkan bibirnya lalu tertawa kecil. "Aku yakin Naruto-kun hanya ingin makan ramen saja."

"Tidak.." sanggah Naruto mengelak. "Aku ngidam."

"Aku tidak yakin akan hal itu. Seorang maniak ramen, sudah jarang memakan ramen, lalu sekarang berkilah hanya untuk memakan ramen. Aku tidak memercayai alasanmu."

Naruto sudah mengenakan jaketnya, kini dia berhadapan dengan sang istri yang masih menolak untuk diajak pergi. Mungkin istrinya ini sudah dihasut oleh ibunya.

"Aku sungguh-sunggu Hinata. Aku sedang ngidam, sebaiknya kau memercayai hal itu."

"Aku tidak percaya, memangnya siapa yang sedang hamil di sini?"

"Memangnya siapa ayahnya? Darahku mengalir di sana, tentu saja aku bisa membedakan mana keinginanku dan mana keinginan anak kita." Naruto menggedikkan bahu polos. Dia belum menyadari efek dari ucapannya.

Sementara Hinata sudah semerah tomat.

~oOo~

"Ini tempatnya, Hinata. Aku yakin kau akan menyukainya." Naruto menuntun Hinata duduk, lalu lelaki itu menyapa paman Teuchi.

Pria baya itu membalas lalu irisnya menatap Hinata beberapa saat, kemudian beralih menatap Naruto tanya.

"Dia istriku, Hyuuga Hinata."

Paman Teuchi mengangguk-ngangguk sambil mengingat memori tempo hari ketika bertemu dengan Naruto dan tanpa sengaja bercerita tentang ayah-ayah mereka—Minato dan Hiashi.

Ternyata dia tidak berbohong mengenai kawin lari kala itu. "Mau pesan apa?" senyum ramah bertengger di bibir Teuchi. Tangannya bergerak refleks memberikan minuman pada pasangan yang sudah datang di menit-menit akhir sebelum kedainya tutup.

"Seperti biasa, Paman.. tapi untuk Hinata, berikan dia ramen yang sama sekali tidak pedas, oke." Naruto memasang ekspresi tak sabar. Pertama kali datang ke sini, Naruto sudah merasa nyaman berada di sini, dia tidak tahu hal apa yang membuatnya betah berlama-lama menatap sekeliling hingga mengabaikan Hinata sesaat. Um, mungkin ada kaitannya dengan masa lalu ayahnya.

Sebelum akhirnya tersadar dan tersentak, ketika mata mereka bertatapan. "Ah, Hinata.. apa kau menyukai tempat ini?"

Hinata tak langsung menjawab, wanita itu kembali mengedarkan irisnya. "Sepertinya begitu.. aku tidak tahu kenapa, berada di sini mengingatkanku dengan kehangatan keluarga kala aku masih kecil. Rasanya tidak asing."

Paman Teuchi menghidangkan dua mangkuk ramen di atas meja. Lelaki baya itu turut mengedarkan visualnya. "Tidak ada yang spesial, kedai ini sudah seperti ini sejak..." Teuchi menggentungkan kalimatnya. Dia beralih menatap Naruto dan Hinata.

Dua anak ini adalah anak dari pelanggangannya dulu. Meski kini dia sudah tua, ingatannya tak sepenuhnya berpaling dari otaknya. Dia ingat.

"Aku ingat, orangtuamu pernah membawamu makan di sini." Tatapan Teuchi tertuju pada Hinata.

Lavendernya membulat, "Orangtuaku? Benarkah? Aku rasa itu tidak mungkin." Hinata mencoba menganggap omongan itu sebagai angin lalu. Dia tidak mengingat pernah di ajak ke sini sebelumnya. Hinata hanya menganggap, perasaan ini sebagai deja vu.

"Hyuuga Hiashi, itu nama ayahmu, kan?" Teuchi menyela, dan itu sukses membuat Hinata memfokuskan diri pada Teuchi. "Aku mengenal orangtua kalian ketika masih muda.. sebelum hubungan mereka memburuk."

"Tou-san? Pernah berada di sini?" Hinata melirik Naruto. Lelaki berkulit tan itu mengangguk, membenarkan apa yang diucapkan paman Teuchi.

"Ya, mereka bertemu, ketika sama-sama sedang kelaparan."

"Heh?"

"Apa kalian tidak ingin mendengar kisahnya?"


TBC—


Aku nulis ini pas lagi kena flu, kepala pening dan begitulah jadinya.. kemudian aku post ketika lagi bad mood. Humm.. jadi no coment ajalah.. lihat saja nanti perkembangan ceritanya.

Chapter depan flash back cerita Minato dan Hiashi. Lalu chapter ini aku bikin gak nangis-nangis lagi.. puas kalian *giliran aku yang nangis* soalnya ceritanya nambah gak jelas kalo gak nangis-nangis ehehe..

Oh ya, banyak review yang gak suka dengan kata-kata 'Tangisan-tangisan anak yang mendurhakai orangtua.' Tapi menurutku pribadi.. kata-kata itu sangat cocok. Pandangan orang tentu beda untuk persoalan masalah keluarga, entah itu orangtua yang salah atau anak yang salah. Menuruku kata itu tetap mewakili tangisan Naruto dan Hinata di chapter kemarin.

Ceritanya tambah gak jelas.. semoga masih ada yang suka..

Terima Kasih Sudah Membaca—