"Hinata, aku tidak akan mengatakan ini untuk kedua kalinya, jadi dengarkan aku baik-baik."

Sasuke menelan ludahnya kuat-kuat, sementara wanita yang ia panggil Hinata itu menatapnya lamat-lamat lewat sepasang bola mata unik berwarna perak-lavender, begitu intens hingga Sasuke merasakan gendang telinganya bergemuruh, begitu intens hingga ia tak mampu melesetkan sederajat pun kontak mata di antara mereka, utuh. Tapi takdir sepertinya bermain di belakang wajahnya, sebab apa yang ingin ia ucapkan tak kunjung terlontar, seolah, setiap kata yang telah ia persiapkan terjebak, tercekat di lehernya dan tak mau lepas.

"Sa-Sasuke?"

Tidak, ini bukan saatnya bagi wanita itu untuk memperdengarkan suaranya.

Belum saatnya.

"Diamlah dulu, Hinata."

Ia tidak bermaksud mendesis.

Ia tidak bermaksud membuat perempuan di hadapannya menundukkan kepala diiringi tatapan sayu dan kuncup aura yang layu.

"Aku..."

Sialnya, kata-kata itu masih tak ingin keluar.

"Hinata..."

Seperti sebuah kesengajaan, seperti ada yang menekannya agar ia tak terlepas ke udara, agar ia tak perlu diperdengarkan kepada dunia.

Mungkin hantu.

Mungkin sihir.

Atau mungkin dirinya sendiri.

"Aku..."

Mungkin memang dirinya sendiri yang telah melarang deretan huruf-huruf itu untuk lahir. Mungkin ada bagian jahat di dalam dirinya yang tak ingin hal itu terjadi. Mungkin sekedar egonya yang berlebihan, yang telah menelan keinginan batinnya sendiri.

"Aku me..."

Tapi ia lantas terjaga.

Tapi begitu Sasuke tersadar, sayang sekali (atau malah, beruntung sekali), ini hanya mimpi.

Ini hanya mimpi.


Saihate

by: Aya Kohaku

I just own the story, the original Naruto only belongs to Kishimoto-sensei.


Chapter 7: Weird Feelings

"Hah, semua laki-laki memang sama saja."

Sakura menumpu dagunya dengan malas, sementara pandangannya tertuju pada sepasang kekasih yang tengah bertengkar tak jauh darinya—bola mata milik wanita berambut pink itu tak sekali pun lepas dari kejadian yang ada di hadapannya. Sepasang kekasih itu memang telah menyomot perhatian Sakura semenjak ia dan teman-temannya pertama kali menjejakkan kaki di restoran ini. Bagaimana tidak, sekali lirik saja, Sakura dapat melihat terang-terangan bahwa si laki-laki tengah mencuri pandang ke arah pramusaji wanita yang mencatat pesanannya dan kekasihnya. Maksudnya, betapa beraninya laki-laki itu, mencuri pandang pada wanita lain di hadapan kekasihnya sendiri hanya karena wanita lain itu, yah, harus Sakura akui, lebih imut dan lebih menarik secara fisik. Tetapi, tetap saja, itu bukanlah hal yang sepatutnya dilakukan, apalagi di hadapan kekasihmu sendiri! Parahnya lagi, pandangan kekasihnya pun tak luput dari kejadian itu, hingga akhirnya, well, kau dapat menebak sendiri, mereka akhirnya bertengkar di hadapan umum. Dan sekarang—oh, oh, keadaan menjadi semakin seru—si wanita berlari keluar restoran setelah sebelumnya menampar pipi kanan kekasihnya yang bengal dengan sekuat tenaga hingga seisi restoran terdiam dan sunyi sontak mengambang di udara.

Dan Sakura tak kuasa menahan decakannya ketika laki-laki itu akhirnya menyusul kekasihnya keluar restoran dengan kepala yang ditundukkan, seakan tak ingin dunia mengetahui identitasnya, tak ingin mengetahui perbuatan bodohnya.

"Wow," ia mendengar Ino terpana, "aku serasa baru saja melihat adegan dalam sebuah drama sinetron."

Lalu semua orang yang ada di mejanya tertawa.

"Tapi aku serius, semua laki-laki memang sama saja," Sakura mengulang statement-nya.

"Kenapa, Sakura? Memangnya kau sedang ada masalah dengan Naruto?" Ino lagi-lagi terpana, tak percaya dengan apa yang dikatakan sahabatnya.

Di sisi lain, Sakura tak segera menjawab pertanyaan Ino dikarenakan pesanan mereka sudah datang. Yap, sebenarnya alasan mengapa Sakura, Ino, Hinata, dan Tenten bertemu hari ini adalah karena Hinata dan Sakura sama-sama sedang ngidam makanan Korea. Okay, sebenarnya, semua berawal ketika... Ah, tidak, tidak, jadi begini: wanita hamil memang mempunyai mood yang gampang berubah-ubah. Contohnya saja, Hinata yang awalnya sudah terbiasa ditinggal pergi Sasuke ke kantor, sekarang merasa gampang sekali kesepian—bahkan, belakangan ini, ia sering menghubungi suaminya setiap setengah jam hanya untuk menanyakan kapan ia pulang. Karenanya, Sasuke dan Naruto membuat sebuah rencana. Dikarenakan istri mereka sama-sama sedang hamil muda (meski usia kehamilan Sakura lebih tua dua minggu dibanding Hinata), ada baiknya jika Hinata dan Sakura lebih sering melewati hari bersama agar masing-masing tak merasa kesepian. Terlebih, meskipun Sakura merupakan seorang dokter, demi menjaga kesehatan janinnya, selama kehamilannya Sakura hanya membuka klinik kesehatan di rumah, namun kenyataan bahwa suaminya bekerja hingga pukul tujuh malam membuatnya amat sangat kebosanan, meskipun sudah ada tiga orang suster yang membantu pekerjaannya.

Beruntungnya, semenjak Sasuke 'menitipkan' Hinata padanya, Sakura tak lagi merasakan kesepian, begitu pun halnya Hinata. Setiap pagi, sebelum berangkat ke kantor, Sasuke akan mengantarkan Hinata ke rumah kedua sahabatnya itu, lalu ia dan Naruto berangkat bersama ke kantor, lalu seusai pekerjaannya, ia lantas menjemput Hinata dan membawa istrinya itu kembali ke rumah mereka yang mungil nan hangat, begitu terus selama seminggu belakangan ini. Biasanya, Hinata dan Sakura menghabiskan waktu bersama dengan berbincang, memasak, dan menonton drama-drama Korea lalu berbarengan meneteskan air mata melihat adegan sedih yang terus bermunculan dan menyenggol perasaan mereka. Tak jarang juga, Hinata turut membantu Sakura di klinik ketika pasien sedang penuh. Lucunya, selama masa-masa ini, tak terbesit sama sekali di pikiran mereka bahwa mereka sebenarnya telah menikahi laki-laki yang berkebalikan dari apa yang mereka inginkan selama ini—Sakura menikahi Naruto yang dulu pernah lama menjadi laki-laki yang Hinata sukai, sementara Hinata menikahi Sasuke yang notabene adalah idola Sakura semenjak sekolah dasar.

Namun, rupanya, efek menonton drama Korea mempengaruhi jiwa Hinata dan Sakura. Tak pelak, di hari Minggu yang cerah ini, mereka tiba-tiba kompak ingin mencicipi masakan Korea dalam jumlah besar. Sayangnya, kedua suami mereka masih harus bekerja hari ini, sehingga mereka mengajak Ino turut serta. Kebetulan, Tenten yang hari ini sedang free karena Toma, putranya, sedang 'diculik' oleh Hiashi dan Hanabi, bersedia ikut serta sekaligus menawarkan tumpangan kepada tiga ibu muda tersebut. Dan akhirnya, setelah puas berbelanja dan mengitari sudut-sudut Shinju-ku yang hiruk pikuk seperti biasa, di sinilah mereka, di sebuah rumah makan Korea berukuran cukup besar bernama Ondoru, menghabiskan waktu senggang mereka layaknya sekelompok wanita single yang belum menikah.

"Hei, Hinata, Sakura, kalian benar-benar kelaparan atau bagaimana?" Tenten tergelak menyaksikan kedua ibu hamil yang duduk di seberangnya. Tak seperti Hinata dan Sakura, Tenten justru belum menyentuh pesanannya sama sekali—ia sibuk menggendong Inari, puteri Ino dan Shikamaru yang baru saja berusia satu setengah bulan. Tampaknya, semenjak melahirkan Toma, Tenten menjadi ahli dalam menangani bayi.

"Yah, dulu pun kita seperti itu," Ino ikut tertawa, menerawang saat-saat di mana ia gampang sekali merasa kelaparan saat mengandung Inari. "Ah iya, Sakura," lanjutnya sembari membalik bulgogi yang sudah hampir matang, "soal yang tadi kau katakan itu, apa benar kau tengah bertengkar dengan Naruto?"

Mendengar pertanyaan Ino, Sakura buru-buru menelan Ojingo Bokum-nya.

"A-ah? Aku tak pernah tahu bahwa kau sedang ada masalah dengan Naruto-kun, Sakura-chan," ujar Hinata yang akhirnya memperdengarkan suaranya, "ku-kukira selama ini kalian harmonis-harmonis saja."

Sampai di sini, Sakura tak dapat lagi menyembunyikan perasaannya.

Perlahan, Sakura meletakkan sumpitnya, sepasang bola mata hijaunya memandang jauh ke luar jendela. "Hei, apakah wanita hamil terlihat tidak menarik lagi bagi suami mereka?" tanyanya pelan. Sebelum sempat ketiga wanita yang duduk semeja dengannya ini memberi tanggapan, ia cepat berkata lagi, "Ada seorang wanita di kantor yang mendekati Naruto, aku agak lupa namanya. Shina, Shiron, Shi—"

"Shion?"

Tiga pasang mata di meja itu langsung menatap Hinata.

"E-eh," Hinata berhenti menikmati nasi goreng kimchi-nya, sadar bahwa celetukannya telah menarik perhatian Sakura, Ino, dan Tenten, "Sa-Sasuke pernah memberitahuku bahwa ada pegawai baru bernama Shion di kantor, ta-tapi ia tidak pernah bercerita soal kedekatan pegawai baru itu dengan Naruto."

Perhatian kini kembali kepada Sakura.

"Apa kau yakin dengan hal ini, Sakura?" Tenten menautkan alisnya. "Wanita itu mungkin memang memiliki perasaan terhadap Naruto—meski aku tak tahu apa yang membuatmu berpikir demikian—tapi bukan berarti Naruto juga memiliki perasaan terhadapnya, kan?"

"Tapi, gadis itu cantik sekali, aku pernah bertemu dengannya secara tak sengaja sewaktu Naruto mengajakku pergi makan malam," Sakura menekuk bibirnya, merasa kalah. "Semenjak hamil, berat badanku berangsur naik, aku pun menjadi malas merawat diri. Sedangkan gadis itu, ia memiliki badan yang ramping, rambut yang halus, kulit yang terawat, dan dari sisi mana pun, aku dapat melihat bahwa ia menyukai Naruto."

"Wah, wah, aku tidak tahu kau bisa cemburu seperti ini menyangkut Naruto, Sakura," sahut Ino, berusaha mencairkan suasana yang rupanya berhasil, sebab Sakura akhirnya menyunggingkan senyum malu-malunya. "Aku percaya, Naruto tidak akan mungkin semudah itu tertarik dengan wanita lain. Kau tahu, kan, bagaimana ia selama ini selalu mengejarmu meskipun ia juga terbilang cukup populer di kalangan wanita?"

Ya, dan selama aku menyukainya, ia tak pernah sekalipun melepaskan pandangan darimu, Sakura—Hinata ingin menambahkan kalimat ini, tapi ia mengurungkan niatnya.

"Karena Shikamaru bukanlah tipe yang mudah menarik perhatian orang lain dan juga bukan tipe yang mudah tertarik dengan orang lain, maka saat aku mengandung Inari, aku tidak khawatir kalau—"

"Kau lupa bagaimana kau cemburu saat kau tahu bahwa Temari, mantan kekasih Shikamaru, bekerja di kantor yang sama dengannya, lantas kau mengancam akan kembali ke rumah orang tuamu?" serobot Tenten, mengundang gelak tawa dari Hinata dan Sakura.

Sekonyong-konyong, Ino merasakan wajahnya memerah.

"He-hei, ja-jangan ungkit masa laluku seperti itu!"

Tawa Hinata dan Sakura semakin keras.

"Tapi, kurasa, tak ada salahnya jika kau menjaga penampilanmu, Sakura, begitu juga denganmu, Hinata."

"Yap, aku setuju dengan Ino," Tenten menganggukkan kepalanya. "Tidak usah muluk-muluk, paling tidak, sewaktu mereka pulang bekerja, kalian menyambutnya dengan senyuman. Kau tahu, bagaimana rasanya seorang lelaki ketika istrinya yang tengah hamil menyambutnya dengan senyuman lembut dan pelukan lebar..."

Tanpa dikomando, pipi Hinata memanas membayangkan adegan ini.

"Apalagi, kau sudah tahu kan Hinata, bahwa sekretaris Sasuke yang bernama Karin itu merupakan mantan kekasihnya?" tambah Tenten. "Bukannya aku bermaksud menakut-nakuti kalian, tapi bagaimanapun, suami tetaplah seorang laki-laki. Bila suasana di rumah memang sudah menyenangkan, aku jamin, lelaki waras mana pun tak akan mencari kesenangan di luar. Dengan begitu, kedua pihak akan diuntungkan. Suami kalian akan merasa nyaman dan disayang, dan kalian pun tak perlu khawatir akan kemungkinan-kemungkinan buruk di luar."

Sampai di sini, Hinata dan Sakura saling melempar pandang.

"La-lalu, apa yang hauas kami lakukan, Sensei?" tanya Hinata, tanpa sadar telah menambahkan kata "sensei" untuk memanggil gadis berambut cokelat di depannya.

Kali ini, giliran Tenten dan Ino yang bertatapan.

"Well, seperti apa yang sudah Tenten katakan tadi, kalian harus... mengambil hati suami kalian!"

"Huh?"

"Apa kalimatku barusan kurang jelas?" Ino menekan-nekan keningnya dengan gemas. "Maksudku adalah, ambil hati suami kalian dan buat ia tak mampu lagi berpaling pada wanita lain!"

"Yap! Kalian tahu, seperti yang tertulis di artikel majalah langgananku, somehow, wanita hamil terlihat lebih cantik dan lebih seksi di mata suaminya," Tenten memanas-manasi. "Akan lebih baik jika nanti malam, kalian memakai lingerie terbaik kalian ketika menyambut Naruto atau Sasuke!"

Brak!

"Ja-jangan bercanda!" wajah Sakura sempurna memerah. "A-aku tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu!" dan semakin memerah. "Ki-kita tidak akan mungkin melakukan hal seperti itu, i-iya kan, Hinata?'

Sayangnya, yang diajak bicara sama sekali tak menanggapi.

Sebab pikiran Hinata rupanya sudah menyangkut entah di mana, entah di lapisan langit ke berapa.

"A-aku.. Sa-Sasuke..." perempuan bermata perak-lavender itu berceracau lirih. "Da-dan li-lingerie..."

"Hinata-chan? Hey, Hinata-chan, aku hanya bercanda!" Tenten menjentikkan jarinya, berharap Hinata kembali dari alam bawah sadarnya. Tetapi, apa yang dikatakan istri Sasuke itu selanjutnya ternyata jatuh dari dugaan mereka. Baik Tenten, Ino, maupun Sakura sama sekali tak mengira, tak menyangka, dan tak mengantisipasi bahwa Hinata dengan gayanya yang malu-malu dan pipinya yang membias merah akan berkata...

"Ku-kurasa i-itu bu-bukan ide yang buruk..."

Entah apa yang sudah Sasuke ajarkan kepada gadis polos ini, entah apa, entah apa.


oOoOo


Segalanya terjadi begitu cepat.

Sasuke diam terpaku di tempatnya, di depan pintu utama rumahnya—sepasang mata hitam tintanya menancap pada Hinata. Pada detik-detik pertama, Sasuke tidak mengerti mesti berkata apa. Ia tentu saja ingin tahu mengapa tiba-tiba sekali Hinata menyambutnya di depan pintu dengan senyum lebar dan wajah yang tersipu malu. Di luar itu, lebih-lebih, Sasuke ingin sekali bertanya mengapa Hinata hanya mengenakan gaun tipis transparan sebatas dengkul dengan renda-renda yang membuatnya terlihat seperti sedang melakukan cosplay—Sasuke bahkan dapat melihat jelas bikini warna biru muda tercetak di balik gaun malam Hinata. Perlu Sasuke akui bahwa Hinata terlihat... menarik dengan balutan gaun tipis berwarna merah marun itu, sebab bagaimana pun juga, Sasuke adalah seorang laki-laki. Namun, ia sama sekali tak dapat membayangkan bahwa Hinata dapat melakukan hal-hal semacam ini, setidaknya tidak dengan Hinata yang selalu ia bayangkan sebagai gadis tegas yang polos dan malu-malu. Maka jangan salahkan Sasuke ketika ia hanya terdiam selama dua hingga tiga menit di hadapan istrinya, tak berkomentar apa-apa, lantas berceletuk datar:

"Hinata, kau sakit?"

Dan adegan selanjutnya berlangsung di luar perkiraan Sasuke.

"Hey, Naruto, boleh aku menginap di rumahmu malam ini?"

"Hah? Kenapa memangnya, Teme?" ia dengar suara di seberang telepon sana berbisik diikuti suara feminin Sakura yang tengah merengek sayup-sayup. Barangkali Naruto sendiri juga tengah terlibat pertengkaran dengan istrinya, batin Sasuke.

"Kau sedang bertengkar dengan Sakura?"

Suara Sakura terdengar lagi, kali ini lebih lembut dan sedikit gemetar meski masih saja melengking. Yah, tipikal gadis tsundere, Sasuke membatin lagi.

"Ah, tidak, justru kebalikannya, ia sedang kumat manja," Naruto tertawa, sementara Sakura terdengar memprotes di belakang. "Ah, ya, kenapa kau mendadak ingin menginap di rumahku sekarang, heh, Teme? Memang kau ada di mana? Belum pulang? Bagaimana dengan Hinata? Kalian bertengkar?"

"Tekan pertanyaanmu, Dobe, jangan memberondong begitu," Sasuke menghela napas. "Aku sedang berada di halaman rumahku sendiri. Dan ya, kami sedang bertengkar, sepertinya."

Sepertinya, ulang Sasuke lagi, tanpa suara.

"Heeeh?' sesuai dugaannya, reaksi pertama Naruto pasti histeris begini. "Dasar laki-laki bodoh, apa lagi yang kau lakukan kepada Hinata?"

"Aku tidak melakukan apa-apa," jawab Sasuke apa adanya, "atau dalam pikiranku, aku sama sekali tidak melakukan perbuatan salah."

Sunyi sejenak di seberang sana. Kelihatannya Naruto tengah beranjak ke tempat yang lebih sepi agar Sakura tak mendengar percakapannya dengan Sasuke.

"Hei, Teme, kau masih di sana?"

Tak ada tanggapan dari Sasuke, namun bagi Naruto, itu sudah cukup menandakan bahwa sahabatnya masih belum beranjak ke mana-mana. Sampai beberapa menit kemudian, Naruto tidak tahu mesti berkata apa. Tidak salah jika dikatakan Uchiha Sasuke adalah seorang genius—ia sudah mengenalnya semenjak balita, dan tak dapat Naruto pungkiri bahwa laki-laki itu memang cerdas. Sayangnya, untuk hal-hal semacam ini, Naruto tidak pernah menanyangka bahwa Sasuke benar-benar seorang amatir.

"Dengar, Sasuke," Naruto berhenti sejenak, menarik napasnya dalam-dalam, "wanita itu memang rumit—"

"Sangat rumit," potong Sasuke cepat.

"—ah, yah, sangat rumit, baiklah. Tapi tidak ada salahnya, kan, jika kau mengalah sekali-kali—"

"Ini bukan soal kalah-mengalah, Naruto," ia memotong lagi.

"Lantas apa?"

Tak ada sahutan.

Naruto mendengus kesal.

"Teme, kenapa kau menikahi Hinata?"

Oh, tidak, tolong, jangan pertanyaan ini lagi.

"Kau sudah menanyakan hal yang sama dua minggu lalu, Dobe," Sasuke mengerang, "kau, Neji, dan yang lainnya."

"Ya, ya, ya, tapi kau tidak menjawabnya—kau belum menjawabnya," serang Naruto.

"Aku tidak memiliki alasan untuk menjawabnya."

"Dan aku pun tak memiliki alasan untuk tidak menanyakannya lagi, kan?"

"Aku sedang tak ingin bercanda denganmu, Naruto."

"Oooh ayolah Sasuke, apa kau pikir aku pun sedang ingin bercanda saat ini?"

Sunyi melanda.

Dan masih sunyi.

Dan masih tetap sunyi.

Dan...

"Jadi malam ini aku bisa menginap di tempatmu atau tidak? Kalau tidak, aku akan menghubungi Gaara atau Sai."

Angin penghujung musim gugur bertiup pelan, lembab dan dingin.

Naruto masih belum membuka suara.

"Sasuke, kurasa kau perlu meminta maaf kepada Hinata."

Ah, jadi emosi laki-laki berambut pirang itu sudah turun, rupanya.

"Aku sudah melakukannya, tapi ia tak kunjung membukakan pintu. Terkunci mati, aku terdampar di halaman rumahku sendiri."

Tak pelak, Naruto tertawa kecil mendengar pilihan kata sahabatnya yang ia pikir cukup berlebihan dan begitu-tidak-mirip-Sasuke.

"Mungkin kau belum terlalu berusaha?"

"Bisa jadi iya, bisa jadi tidak."

"Heh, kau mabuk?"

"Bisa jadi iya, bisa jadi tidak."

"Haaah, jangan bilang kau mulai stress hanya karena pertengkaran semalam dengan istrimu ini, Sasuke!"

Setidaknya kali ini Sasuke dapat tertawa.

Tak lama.

Sebab tiba-tiba, Naruto bertanya:

"Nee, Sasuke, apa kau menyukai Hinata?"

Tentu saja Sasuke menyukainya!

Kalau tidak, kalau tidak, mana mungkin ia mau menikahi wanita gugup berambut lavender lembut itu.

"Tentu—"

"Tidak, maksudku bukan seperti itu," Naruto buru-buru mengklarifikasi. "Sasuke, kau—apa kau mencintai Hinata?"

Bang!

"Ah, ah, maksudku, kau menikahinya pasti karena kau mencintainya, kan? Yah, yah, semacam itu. Aku hanya—aku hanya ingin memastikan."

Karena kau mencintainya, kan?

"Huh?"

Tapi hanya itu yang mampu Sasuke lontarkan, hanya itu tiga petik huruf pertama yang mampu keluar dari bibirnya setelah ia memilih berpikir sekian detik.

Hinata adalah wanita yang menyenangkan, sekaligus menyebalkan. Kadang ia begitu manis dan manja, kadang ia termakan oleh ego dan sifat keras kepalanya hingga Sasuke bingung harus berbuat apa. Dari yang pernah ia dengar, mendiang ibunya adalah seorang perempuan yang begitu lemah lembut serta pengertian, dan kebetulan, Hinata mewarisi sebagian besar sifatnya. Tapi bagaimanapun juga, Hinata adalah seorang Hyuuga. Ia masih memiliki darah dan watak Hiashi yang keras dan tegas—terlebih ketika emosinya tersulut, bagai membangunkan singa betina yang tengah tidur siang.

Namun tak ada yang dapat mengubah keadaan bahwa, dua minggu yang lalu, Hinata sempat mengatakan bahwa ia, seorang Hinata Hyuuga yang tersohor akan kelembutan dan rasa cintanya kepada Naruto selama bertahun-tahun, telah menetapkan hatinya kepada Sasuke.

Mulanya, Sasuke merasa... senang? Lebih kurang begitu. Sewaktu Hinata pertama kali mengungkapkan bahwa ia... mencintai Sasuke, jujur saja, Sasuke agak kehilangan kendali. Semacam perasaan menang sebab ia telah berhasil membuat wanita itu tidak hanya memerhatikan dirinya, namun sekaligus emnaruh hati padanya, dan semacam perasaan puas sebab ia seolah telah sampai pada satu tujuan yang tak dapat ia jelaskan. Ya, barangkali. Bisa jadi. Yang pasti, ia ingat betul, malam itu, jantungnya berdebar kencang.

Jantungnya berdebar kencang, dan sepasang lengannya melingkar di pinggang Hinata, erat.

Tapi pertanyaan Naruto perlahan merasuk ke setiap celah sarafnya.

"Apakah kau mencintai Hinata?"

Apakah aku mencintai Hinata?

Apakah Sasuke sendiri tahu jawabannya?

"Aku..."

Barangkali.

Bisa jadi.


oOoOo


"Hinata, bagaimana kalau kita pergi berlibur?"

Kalau tidak karena rasa gengsi yang masih sedikit menyelimuti emosinya, Hinata tanpa pikir panjang akan mengangguk kencang.

"Kenapa tiba-tiba?" tanyanya, bersikap sok ketus, tangan kanannya sibuk memainkan fruit pancake yang tak kunjung juga ia telan. "U-usia kehamilanku sudah memasuki empat bulan, ja-jadi akan rawan jika kita pergi berlibur sekarang."

Sasuke terdiam, menyesapi kopinya.

Adalah sebuah keajaiban bagaimana Hinata, tadi malam, mendadak membukakan pintu untuknya dengan wajah kemerahan, mata sembab, dan mulut cemberut. Terus terang, Sasuke tak dapat menyembunyikan senyumnya kala itu. Bukan saja karena Hinata telah membiarkan Sasuke masuk ke dalam rumah—meski pada akhirnya Hinata bersikeras tak ingin tidur si kamar yang sama—tapi karena Hinata yang seperti ini lah yang lebih Sasuke sukai: Hinata-nya yang manis, rentan, dan seakan mengeluarkan radar untuk dilindungi...

Matte, apa yang barusan Sasuke katakan dalam pikirannya sendiri?

Hinata-nya?

"Sasuke?"

Yay, speak of the devil.

"Aku berencana mengajakmu ke Hinohara, tempat kelahiran orangtuaku," ujar Sasuke setelah mendapatkan kuasa atas sikapnya sendiri, "tapi kalau kau tidak bisa—"

"A-aku tidak pernah mengatakan aku tidak bisa!"

Sasuke tercenung.

"Tapi, kau baru saja—"

"A-aku hanya—aku hanya mengatakan ba-bahwa usia kandunganku sudah mencapai empat bulan, ja-jadi kita mesti berhati-hati," Hinata segera mencari alasan. "La-lagipula, Hinohara hanya satu jam dari Tokyo, ku-kurasa tidak akan menjadi masalah besar."

Senyum tipis Sasuke sontak mengembang.

Wanita memang susah sekali dimengerti.

"Tapi di sana udaranya cukup dingin, kau tidak apa-apa?"

Istrinya tak menjawab, namun kepalanya menggeleng cepat.

"Ja-jangan salah sangka! A-aku memang su-sudah lama ingin berkunjung ke tempat asal o-orangtuamu," akunya malu-malu.

"Berarti tidak masalah jika di sana kau tidak usah melihat foto-foto masa kecilku?"

Hinata memang tak bergeming, tetapi Sasuke tahu, dari raut wajahnya, wanita itu mengatakan ingin.

"Keluargaku memiliki rumah singgah di Hinohara, tidak terlalu besar memang, tapi cukup nyaman untuk ditempati—ibuku yang mendesainnya. Kita bisa menggunakan rumah itu untuk menginap selama di sana, jika kau tidak keberatan."

"Tentu saja aku tidak keberatan," ia menangkap Hinata bergumam lirih. "Tapi kenapa tiba-tiba?" suaranya mengeras kali ini. "Apa karena kejadian tadi malam?"

Salah satunya memang iya, tapi Sasuke tak mengatakan hal ini kepada Hinata.

"Aku pikir, belakangan aku sudah terlalu sibuk bekerja, jadi tidak ada salahnya jika aku mengambil cuti dua sampai tiga hari dan menghabiskan waktu bersama istriku, kan?"

Aku bahkan baru sadar bahwa kau ternyata mengubah desain interior ruang makan ini.

"Selain itu, aku pernah membaca bahwa ibu hamil perlu menghirup udara segar, jadi kurasa, Hinohara merupakan tujuan yang tepat," tambahnya. "Lagipula, dokumen dan urusan untuk seminggu ke depan sudah kuselesaikan. Urusan mendadak di kantor akan kuserahkan kepada Naruto dan Karin."

Begitu mendengar nama Karin, perasaan Hinata seakan mencelos.

Parahnya, Sasuke menyadari kejadian ini.

"Kau cemburu," candanya, berusaha membuat Hinata tertawa.

Sayangnya, Hinata justru semakin mengerucutkan bibirnya seraya sepasang matanya melirik jauh, menghindari pandangan Sasuke.

"La-lantas kenapa kalau aku memang ce-cemburu?"

Seringai di wajah Sasuke tercetak jelas.

"Tidak apa-apa, kau terlihat manis."

"Ja-jangan menggodaku," protes Hinata. "Kau hanya akan menanyakan apakah aku sakit lagi pada ujungnya, seperti tadi malam."

Seringainya masih tertinggal, tapi ia tak lagi berujar.

Sebab sekonyong-konyong, ia bagaikan terjebak, larut ke dalam pusaran angin transparan yang membawakan wangi terakhir musim gugur bercampur tetes pertama salju musim dingin.

Ada sesuatu yang indah, Sasuke tidak paham harus mulai dari mana untuk mendeskripsikannya.

Entah itu berawal dari wallpaper baru warna krem dengan motif a la negara Perancis yang Hinata pasang di ruangan ini, entah itu berawal dari sinar matahari yang lolos melewati lubang udara dan jatuh di rambut violet lebat milik Hinata, entah itu berawal dari wangi pancake buah yang menjadi sarapan mereka, entah itu berawal dari piyama kotak-kotak Hinata yang satu kancingnya terbuka, menyediakan akses pandangan lebih bagi bola mata Sasuke, dan entah itu berawal dari segala aspek kecil yang sedang ada di hadapannya, segala partikel kecil yang menjadikan pagi ini begitu berembun dan sempurna, Sasuke tidak tahu pasti.

Yang Sasuke tahu hanya, jantungnya berdebar kencang tanpa alasan, dan sejurus kemudian, ia dan Hinata berciuman.


oOoOo


To be continued

A/N:

Yaiy, akhirnya saya update lagi :') maaf sebelumnya bagi yang sudah menunggu lama. Kegiatan di kampus benar-benar hectic, ditambah laporan dan materi yang semakin susah (otak saya memang nggak begitu cocok di teknik, sepertinya) sehingga saya harus menahan diri untuk tak melanjutkan fanfic ini untuk sementara. Tetapi, belakangan saya sudah mulai bisa mengatur waktu, dan insya Allah, setiap satu atau dua minggu sekali, fanfic karangan saya akan diupdate. Yosh, tinggal 2 sampai 3 chapter lagi Saihate daan tamat, lalu ganti ide selanjutnya :')

Chapter ini mungkin nggak maksima, pendek, dan banyak typo karena ditulis terburu-buru. Sekali lagi saya minta maaf, hanya ini yang dapat saya lakukan sejauh ini. Terimakasih atas kesetiaan, penantian, dan dukungannya ^_^

Arigatou

Aya Kohaku

2012