3/1/18 & 05.36

All characters' name of Naruto belong to Masashi Kishimoto

"SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING"

By Kohan44


Teater terbuka merupakan tempat strategis untuk acara-acara sekolah, khususnya yang berkaitan dengan penampilan siswa. Sebab, teater terbuka berada di tengah-tengah antara gedung sekolah, dikelilingi koridor utama, dan bisa dilihat dari lantai manapun dan gedung kelas tahun berapapun. Tidak semua orang bisa menggunakan teater terbuka, karena teater terbuka ditutupi rumput alami. Segala kegiatan di atasnya dibatasi.

Hari ini, klub pemandu sorak diberi wewenang untuk menggunakan teater terbuka. Meskipun para anggota pemandu sorak itu tidak sedang mengenakan kostum, penonton tetap nampak ramai. Sebagian siswa nampak duduk di pinggiran koridor, dan sebagian lain menonton dari balik jendela kelas. Alasannya bukan hanya karena yang berada di sana adalah pemandu sorak yang cantik-cantik, tetapi juga di sana ada murid tahun pertama yang sejak masuk sekolah ini langsung populer.

Orang-orang bilang, anak itu terkenal karena marganya. Sebagian lain bahkan tak mempedulikan marganya. Anak itu, kehadirannya sendiri, sudah membuat dunia terasa berbeda. Daya pikat seorang anak lelaki, ketampanan yang tak terbendung, dan semua itu menciptakan kharisma.

Anak itu dimintai bantuan untuk menilai gerakan baru para pemandu sorak, kata seseorang. Tapi sebagian orang mungkin lebih percaya itu hanya akal-akalan para anggota pemandu sorak supaya mereka bisa dekat-dekat dengannya atau Cuma mencari ketenaran absolut.

"Rambut Geledek, Muka Maho, turun! Turun!"

Tapi tidak ada yang sempurna di dunia ini tanpa ketidaksempurnaan. Jika ada penggemar, pasti ada pembenci, para anti. Tentu saja mereka didominasi kaum laki-laki yang terang-terangan menunjukkan rasa tidak sukanya. Berseru, meneriaki ejekan-ejekan kecil kekanak-kanakan, dan hal-hal sepele lainnya. Tak jarang pula kata-kata yang menyinggung homo mereka lontarkan. Mereka berkumpul, berdiri di satu titik, dan Naruto berada di antara mereka.

"Pantat ayam! Pantat ayam!" Naruto berseru lantang, membuat para anti menoleh ke arahnya. Mereka tidak begitu paham kenapa Naruto memilih ejekan itu, dan sebagian di antara mereka yang mengenal Naruto agaknya dibingungkan.

"Naruto, bukannya kamu teman Sasuke?" tanya salah satu di antara mereka.

"Iya."

"Terus kenapa kamu di sini?"

"Ya karena aku gk suka Sasuke. Pantat ayam! Pantat ayam! Turun! Turun!"

Iya, Naruto berkata dan bertindak begitu dengan spontan sesuai apa yang sedang dirasakannya. Dia tak pernah memikirkan bahwa di kesempatan lain Sasuke bakal mendatanginya dan bertanya, "kenapa kamu bersama mereka?"

Meskipun Naruto berpura-pura tidak mengerti, Naruto tak memiliki jalan pintas untuk melarikan diri, dan Sasuke semakin mendesaknya.

"Soalnya… Sasuke, terlalu banyak yang suka sama kamu."

"Apa gara-gara Sakura?"

"Oh, Sakura," Naruto mendesis dengan suara yang dikecilkan. Sekarang Sasuke berani memanggil Haruno Sakura dengan nama belakangnya dan tanpa menggunakan embel-embel kakak. "Gimana bisa gara-gara Sakura?" kata Naruto, dan memberi penekanan rasa sebal saat menyebut nama Haruno Sakura.

"Kamu ngambek tiap kali tahu aku SMS-an sama Sakura."

"Siapa yang ngambek?"

Dan di tiap pertikaian kecil mereka, selalu ada Shikamaru yang menengahi.

"Kalian bisa bersaing secara sehat, kan?" kata Shikamaru. "Naruto, menurutku kamu ketinggalan beberapa poin. Kamu harus buru-buru dapetin nomer telepon Kak Haruno sebelum Kak Haruno kecantol Sasuke dan si Sasuke nembak duluan."

"Heh! Memangnya siapa yang ingin nomer Sakura?" Naruto menyahut. Sasuke melirik Shikamaru yang duduk di sebelahnya.

"Buktinya kamu ngambek tiap kali Sasuke nge-SMS Kak Haruno."

"Nggk!"

"Aku lihat dengan mata kepalaku sendiri."

Sasuke mengangguk-angguk mendukung pernyataan Shikamaru.

"Pertama, aku nggk ngambek dan aku gk peduli Sasuke mau nge-SMS siapapun. Kedua, aku bebas mau gabung dan berteman dengan siapapun. Ketiga, aku sering kok ngatain Sasuke ini-itu, dan kamu juga, Sasuke, kamu suka ngatain aku balik. Terus apa? Biasa-biasa aja, kan?"

"Aku gk maksud mihak Sasuke, tapi kamu kan gk perlu gabung sama anak-anak anti."

"Kalau kalian ngajak aku ke kantin Cuma buat debat, aku pergi aja." Kata Naruto mengakhiri percakapan lalu beringsut meninggalkan meja. Shikamaru hendak mengejarnya, tetapi Sasuke menahan.

Naruto terburu-buru melangkah sampai tak sengaja menabrak seorang anak perempuan berambut gelap panjang. Tak banyak basi-basi, Naruto meminta maaf dan meninggalkan gadis itu. Di sisi lain, Shikamaru dan Sasuke duduk berdampingan dengan atmosfer canggung. Keduanya tidak pernah benar-benar akrab, tapi Sasuke tahu selama ini Shikamaru selalu berdiri di pihaknya, sekalipun Sasuke sempat menyimpan rasa tidak suka kepada Shikamaru.

"Aduh, anak itu bikin khawatir saja."

"Tidak usah dikejar, Shika." Kata Sasuke canggung. "Nanti dia juga bakal baik sendiri."

"Sasuke," kata Shikamaru mengawali hal lain.

"Apa?"

"Kamu denger kan tadi dia bilang 'gk peduli kamu nge-SMS siapapun,' dan bukan 'gk peduli Sakura nge-SMS siapapun.'"

Keduanya saling bertukar tatap. Tidak ada yang berpendapat, tapi sorot keduanya amat jelas memendam banyak pikiran.

"Kita harus bicara. Ini serius." Kata Shikamaru pada akhirnya.


.

.

SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING

.

.


Naruto bermalas-malasan di sofa sambil mengenakan piyama favoritnya dan tangannya sibuk bermain ponsel.

"Nge-SMS Sasuke?" tanyaku yang datang mendatangi ruang bersantai lalu duduk di salah satu ujung sofa menyalakan tv.

"Gk pernah SMS-an tuh." Jawabnya acuh tak acuh.

"Ohh…"jawabku panjang-panjang, padahal dalam hati aku tahu benar. Naruto mudah sekali dibaca. Pasti mereka berdua sedang marahan. "Terus, kamu lagi nge-SMS siapa?"

"Di SMS perempuan."

Eh? Naruto bisa berteman dengan perempuan juga, ya? "Siapa?"

"Katanya Hyuuga Hinata."

"Lho? Katanya? Adik Neji?"

"Nggk tahu. Aku sendiri gk tahu orangnya yang mana."

"Ciee.. ciee.. keponakan Tante terkenal nih, sampai-sampai di-SMS cewek gk kenal."

"Ah, biasa aja. Sasuke lebih sering."

Nah, sudah kubilang, Naruto itu mudah sekali dibaca. Belum lima menit, aku tahu permasalahannya di sebelah mana dan bagaimana perasaan Naruto sekarang. Daripada mengkhawatirkan konflik di antara mereka berdua, aku lebih cemas perasaan yang mungkin sedang berkembang dan diam-diam akarnya merayap, menyusup di antara tiap serat hati Naruto untuk meraih bagian terdalam supaya bisa tumbuh dengan kokoh.

Profesiku seorang guru, tapi pada waktu-waktu tertentu aku berharap aku ini seorang ilmuwan, supaya aku bisa menerawang apa yang sedang terjadi di dalam hatinya, apa yang disimpan hatinya, apa yang dirahasiakan hatinya, dan mengakhiri misteri yang membuatku penasaran setengah mati. Jika tidak menjadi ilmuwan, barangkali aku bisa menyewa pegawai NASA yang sudah terbukti mampu mengungkap misteri jagad raya, atau mereka yang mampu menyelami dalamnya samudera, tapi… apakah hati manusia lebih dalam dari jagad raya dan dasar samudera? Aku tak pernah dengar seseorang menjadi Ahli Hati Manusia dan mengungkap segala misteri-misterinya.


.

.

SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING

.

.


"Kamu kenal Hyuuga Hinata?"

Shikamaru menjeda suapan sejenak mendengar pertanyaan Naruto. Lalu dia mengingat-ingat kapan terakhir kali Naruto membahas perempuan. Hmm, tidak ingat, katanya dalam hati begitu cepat. Terakhir kali yang dibicarakan Naruto perihal percintaan yaitu sewaktu mereka masih SMP tentang teman yang berciuman, tapi itupun Shikamaru tidak yakin apakah pasangannya perempuan.

"Hinata kakak Hanabi? Kenapa?" kata Shikamaru pelan-pelan.

"Oh, Hanabi yang pernah kamu taksir? Masih keluarga Neji ya?"

Sudah SMA pun gosip itu masih melekat di kepala Naruto, membuat Shikamaru menggeleng-gelengkan kepala. "Katanya sih mereka sepupuan. Kenapa?" Shikamaru meneguk jus jeruk di samping mangkuk baksonya.

"Dia nge-SMS aku."

Shikamaru terbatuk. Tersedak. Jusnya keluar dari hidung.

"Astaga, Shikamaru!" Naruto terhentak antara kaget dan jijik melihat cairan jingga keluar dari hidung Shikamaru.

"Yang benar?!" sembur Shikamaru masih terbatuk-batuk dan hidungnya nampak merah berantakan.

"Kamu tersedak gara-gara gk percaya aku di-SMS perempuan, ya? TEGA!"

Shikamaru mengerlingkan mata, membuangnya jauh dari Naruto. Dia mengambil selembar tisu di meja. "Nggk gitu juga. Dia bilang apa?"

"Cuma bilang ingin berteman. Beberapa hari lalu, katanya aku gk sengaja nabrak dia. Tapi aku sih gk inget yang aku tabrak itu dia."

"Kamu naksir dia?"

Naruto tak langsung menjawab. Ada jeda yang membuatnya tertegun lama. "Cantik sih.. tapi…" Kepala Naruto bergerak miring. "Gimana bisa kita tahu kita suka sama seseorang atau nggk?"

Shikamaru menampar keningnya sendiri di dalam hati. Nafas berhembus cepat dari mulutnya. "Naruto... Naruto..." katanya sembari menggeleng-gelengkan kepala.

"Apa? Kenapa? Oh, iya! Kamu kan belum pernah jatuh cinta. Yahh.. aku bertanya pada orang yang salah."

"Terserah. Eh, kamu lagi nunggu Sasuke, ya?"

"Lho? Tahu darimana?"

Shikamaru mengerlingkan matanya lagi. "Nebak aja."


.

.

SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING

.

.


Naruto mengganti kakinya berdiri sambil bersandar ke pintu gerbang sekolah. Sesekali dia mengeluarkan ponsel. Dengan cemas matanya melirik angka jam yang tertera di layar. Baru dua menit berlalu sejak terakhir dia melihat jam. Dua menit berlalu selama lima kali. Naruto terus berulang-ulang memasukkan dan mengeluarkan ponsel dari saku. Dia mulai mendesis, tapi memasang muka ramah karena orang-orang yang dia kenal mulai saling berdatangan melewati gerbang sekolah dan menyapanya.

"Ayo, pulang bareng, Naruto!"

"Oke, oke, aku lagi nunggu temen." Jawab Naruto. Jawaban yang sama dia lontarkan kepada siapapun yang mengajaknya jalan bareng, atau menawari tumpangan sepeda.

Sampai gerbang mulai sepi, akhirnya yang ditunggu muncul juga.

"Lama banget! Habis darimana?" kata Naruto dari jauh-jauh.

"Ketemu Sakura." Kata Sasuke setelah mereka cukup dekat.

"Ha? Katanya kamu gk pernah SMS dia lagi."

"Emang gk pernah, tapi kalau bertemu… bagaimana lagi? Kan satu sekolah."

"Oh, yaudah aku pergi dulu." Naruto menggenggam ponselnya erat-erat sembari berlalu melewati Sasuke.

"Mau pergi kemana?"

"Ketemu Hinata."

"Hinata? Siapa?"

"Bukan urusan kamu."

"Gk akan pulang bareng?"

"Duluan aja."

"Naruto!"

Bersama kebohongan, Naruto mengambil langkah lebar-lebar menuju kemana pun yang bisa menjauhkannya dari Sasuke. Apakah ini namanya? Dilema? Galau? Resah? Apapun itu, ini perasaan yang membingungkan. Ada rasa tidak suka tiap kali Naruto tak mendapat perhatian penuh. Ada sepercik rasa iri tiap kali Sasuke menomor duakan Naruto dalam prioritas, dan apakah pertemanan ini masih sehat dengan semua yang terjadi? Naruto masih memposisikan Sasuke di tempat yang sama, bahkan Naruto rela melewatkan banyak orang dan membuang banyak waktu demi menunggu Sasuke, tapi dia malah asyik-asyikan dengan Sakura.

InI PENGKHIANATAN! Naruto berkata tegas pada dirinya sendiri.

Oh, matahari dan hujan, hatiku pun tak menentu tentang peran yang kumainkan. Anak itu berada di ujung jurang. Apa yang harus kulakukan gerangan?


.

.

SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING

.

.


Sasuke tergopoh-gopoh mengejar, tapi tak terkejar. Akhirnya dia berlari kesana-kemari mencari kemana perginya Naruto. Ketika bertemu, Sasuke menemukannya sedang bersama anak pustakawan pendiam yang sering dicibir anak-anak pemandu sorak, dan juga perempuan yang sering ditemuinya ketika bermain ke rumah Neji dulu.

Menonton bagaimana keduanya saling berbicara kikuk dan malu-malu, tiba-tiba tergambar bagaimana awal mula mereka berkenalan. Sasuke tak menyangka, Naruto bakal didekati perempuan juga, tapi yang lebih sebalnya lagi, Naruto membuat janji bersama perempuan itu sepulang sekolah tanpa memberi tahu Sasuke, membuat Sasuke mendesis. Padahal jika Sasuke tahu, mereka berdua hanya kebetulan berpapasan. Tanpa basa-basi, Sasuke mendatangi mereka dan menyela di tengah-tengah, "maaf, ya. Naruto sudah ada janji lebih dulu denganku." Lalu menarik Naruto pergi.

"Hey!"

Sasuke tak mendengar protesan itu, dan terus menarik Naruto menuju gerbang sekolah.

"Apa-apaan sih?! Aku lagi ngobrol sama Hinata!"

Tak tahan dengan protesan Naruto, Sasuke berbalik mencampakkan tangan Naruto. "Sejak kapan kamu dekat sama Hinata?"

"Bukan urusan kamu!"

Sasuke menahan geraman sembari menonton wajah acuh tak acuh Naruto. Padahal Sasuke melihat persis dari lantai dua bagaimana raut Naruto selagi menunggu di pintu gerbang tadi, harap-harap cemas setengah kesal. Sasuke terjebak bersama Sakura di lantai dua. Perempuan itu benar-benar membuat risih saja meskipun sudah jelas-jelas Sasuke lebih fokus menonton seseorang di pintu gerbang daripada menyahut perkataannya. Jika bisa, Sasuke ingin melompat dari lantai dua dan langsung berlari meninggalkan sekolah bersama Naruto tiap kali mendengar suara lantang Naruto terdengar, "aku sedang menunggu teman!" Bayangkan, berapa lama Sasuke membuat Naruto menunggu, dan semua itu gara-gara perempuan ini.

"Ya.. bukan. Tapi kamu bisa bercerita."

"Buat apa? Kamu sendiri gk pernah cerita soal Sakura."

"Karena aku emang gk ada apa-apa sama Sakura."

"Bilang gitu seudah jalan sana-sini sama dia. Sekalian aja pacarin tuh cewek."

Sasuke tertegun sebelum menjawab, "Serius?"

"Aku gk tertarik sama Sakura."

"Oh, yaudah…"

"Apa?"

"Mulai besok aku pacaran sama Sakura."


.

.

SOMEWHERE THE WIND IS BLOWING

.

.


Halo!
Kohan yang ngetik di sini, bukan Naruto ^^
Apa kabar semuanya? semoga tetap sehat dan bisa berbahagia meskipun tanpa pasangan.

Tidak terasa STWIB (disingkat lebih gampang ya? haha) sudah mencapai 7 chapter dan sebentar lagi akan tamat~

(yeaayy~~~)