"Si Tengik itu," Hiashi Hyuuga berkecak pinggang. Sorot matanya dipenuhi rasa jengkel saat menatap lurus pada sesosok pemuda jangkung berambut merah muda jabrik yang tengah asik memantulkan bola tak jauh dari hadapannya. "Oi! Sialan!" Hiashi menyalak. "Bolamu berisik sekali, Sialan!"

"Aduh, aduh,"sahutan terdengar dari belakang. Hiashi menoleh dan mendapati sahabatnya, Fugaku Uchiha, yang rambut hitam gelapnya ditata menyerupai rambut penyanyi ternama dunia, Elvis Presley, tengah mentapnya dengan mata yang disipitkan. Disebelah Fugaku duduk manis Shibi Aburame yang juga menatap Hiashi dengan pandangan tidak percaya.

"Apa?!" Hiashi memelototkan matanya, tangannya masih bertengger di pinggang. "Kalian berdua lihat apa?!"

Fugaku mengembuskan napasnya. Membuat tusuk gigi yang sedari tadi ia gigit bergerak-gerak di sisi bibirnya. "Bocah gila," cibirnya. "Kalau ada yang mendengar putera mahkota mengumpat seperti tadi, mau ditaruh di mana mukamu?"

Hiashi mendengus menyadari perkataan Fugaku barusan. Lalu setelahnya ia mengerang dan berjongkok mengacak-ngacak rambutnya sendiri.

"Lihat betapa frustasinya dia," Shibi terkekeh. Kepala pemuda Aburame itu kemudian menoleh, melempar pandangannya ke sekitar—mencari-cari kalau saja ada orang yang tengah memerhatikan mereka secara diam-diam. Yah, siapa tahu, kan.

Sepuluh menit yang lalu keempat pemuda yang merupakan siswa sekolah menengah atas kerajaan ini melarikan diri dari dalam kelas. Nah, siapa juga yang mau pusing-pusing belajar filsafat bla-bla-bla dan pantun-pantun kuno yang bahasanya berbelit-belit itu? Mengapa orang-orang yang mengaku bangsawan seringkali menyusahkan dirinya sendiri ? Ain't nobody got time for that.

Meski awalnya acara kabur ini bermula dari Shibi Aburame yang meminta izin ke ketua kelas untuk pergi ke toilet—padahal sebenarnya ia sedang ingin mengetes mini tape keluaran terbaru pemberian ayahnya yang baru pulang dari penelitian di Uni Soviet—ketiga temannya, Fugaku Uchiha yang nyentrik dan tampan, Kizashi Haruno yang kemana-mana selalu membawa bola basket, bahkan Hiashi Hyuuga yang notabene putera mahkota, pewaris tahta kekaisaran Hyuuga, mengendap-endap di sepanjang gedung sekolah yang bermodel bangunan Jepang kuno ini sambil menahan tawa. Mereka cepat-cepat menuju ke bagian belakang gedung sekolah, memanjat pagar tinggi yang terdiri dari susunan batu-batu super besar, lalu berhenti di sebuah lapangan kosong yang mengarah langsung pada kawasan perbukitan.

Sama sekali tidak memikirkan konsekuensi apa yang akan mereka dapatkan apabila tertangkap basah kabur dari kelas.

Dasar anak muda, hn.

Hiashi baru saja hendak membalas cibiran Fugaku, ketika terdengar suara berdebum dari arah dinding pagar. Seseorang baru saja melompat turun dari sana. Minato Namikaze, bocah pirang yang seragamnya tidak pernah rapi berlari mendekat ke arah mereka. "Yo, yo, yo," Minato berseru menyapa.

Kizashi yang sejak tadi sibuk dengan bola basketnya langsung berhenti. Cowok bertubuh paling tinggi di antara mereka itu nyengir senang dan langsung berlari menghampiri. "Dari mana kau tahu kami ada di sini?" tanyanya ketika ia sudah berjongkok di sebelah Minato.

Minato terkekeh dan mengibaskan tangannya. "Kau lupa julukanku, eh? Minato si Rubah. Aku bisa tahu di mana kalian berada hanya dengan sekali endusan."

Fugaku mendesis, Shibi melemparkan cibiran sedangkan Kizashi memutar bola matanya bosan.

"Ya, ya, terserah kau saja," Shibi mengibaskan tangannya. "Kau bawa pesananku?"

Minato menyeringai. "Album terbaru Rolling Stones? Hehe, tenang, tenang," jeda, pemuda itu mengeluarkan sebuah kaset dari balik seragam sekolahnya. Shibi merebutnya paksa dan hendak langsung memasukkan kaset itu ke dalam mini tape miliknya, tapi Minato menghalangi. "Oi, oi, kau harus menggulung pita kasetnya dulu—aissh. Ini teknologi terbaru. Zaman piringan hitam akan segera berakhir, man."

Fugaku menggelengkan kepala sambil memijat pelipisnya. "Dasar anak band. Pikiran kalian ini hanya dipenuhi musik saja," gerutunya. Namun karena tak ada seorang pun yang mendengar—Minato dan Shibi sudah sibuk menempelkan telinga pada mini tape milik Shibi, Fugaku mengalihkan pandang pada Kizashi yang tengah membolak-balik sebuah majalah. Wah, si Merah Jambu ini pesan barang juga pada Minato?

"Oi, bagi liat." Fugaku beringsut mendekati Kizashi. Matanya memerhatikan lekat-lekat majalah yang tengah dibaca sahabatnya. Keningnya berkerut saat mengetahui bahwa isi majalah itu adalah profile aktor dan aktris kabuki yang saat ini tengah naik daun. HAHA. Menyedihkan. Jika selama ini Fugaku mengira bahwa hidup Kizashi hanya berkutat pada belajar dan bola basket saja, maka Uchiha itu rupanya salah.

"Kami-sama…" Minato terdengar melenguh. "Aku tidak habis pikir bagaimana cara pemuda-pemuda generasi sebelum kita bersenang-senang. Tidak ada tape, televisi, radio—" monolog Minato terhenti saat ia menemukan bahwa sedari tadi ada sosok yang tidak ia abaikan. Hiashi yang entah sejak kapan terduduk di tanah dengan tampang depresi membuat alisnya terangkat. "Wei, kau kenapa?"

Karena Hiashi tak merespon sama sekali, Shibi buka suara mewakilkannya. "Dia stres. Minggu depan saudara kembarnya akan menikah dan didepak dari istana."

Minato mengerutkan kening. "Hizashi?" tanyanya bingung. Shibi mengangguk dan mulai menceritakan masalah Hiashi. Bahwa sebagai pewaris tahta resmi, satu-satunya yang akan menjadi ancaman bagi sang putera mahkota adalah suadara kembarnya sendiri, Hizashi Hyuuga. Oleh sebab tetua tidak ingin mengambil resiko—karena apabila posisi sang putera mahkota goyah, maka posisi pemerintahan dan dewan pemerintahan juga akan goyah. Untuk itulah tidak ada cara lain selain menjodohkan Hizashi dengan seorang puteri bangsawan. Karena sesuai dengan peraturan kitab kuno yang selama ini dipegang teguh oleh kerajaan, apabila seorang pangeran menikah, maka ia harus meninggalkan istana.

Itulah yang selama beberapa minggu ini mengganggu pikiran Hiashi. Hal terakhir di dunia ini yang ingin dia lakukan adalah meyakiti saudara kembarnya sendiri. Ia tidak ingin Hizashi disingkirkan dengan cara seperti ini. Ia sudah berkali mengajukan protes namun ditolak.

Begitulah istana, begitulah politik. Bahkan bila perlu, kau harus membuhuh saudaramu sendiri untuk mendapatkan tahta. Kejam, eh?

Minato meneguk ludahnya seraya menggaruk pipi. "Hoh, lalu bagaimana perjodohanmu dengan Mebuki Utatane? Apakah ditunda?"

Hiashi menarik napas panjang dan mengembuskannya dengan berat. "Entahlah. Aku tidak yakin…"

"Mebuki Utatane?" Kizashi yang kali ini buka suara. "Anak wartawan senior Koharu Utatane itu?"

"Kudengar dia dan kakaknya adalah anak angkat," Fugaku menimpali. Ia merebut majalah dari tangan Kizashi dan mulai membolak-baliknya. "Wah… Sakurada cantik sekali," gumamnya sambil memandangi foto yang ada di majalah.

Kizashi menelengkan kepalanya, tidak mengabaikan perkataan Fugaku yang terakhir. "Dia punya kakak?"

"Ho-oh," Hiashi mengangguk ogah-ogahan. "Itu, kau masih ingat mahasiswa jurusan matematika yang minggu lalu menggantikan Madara-sensei di kelas kita?"

Berpikir sejenak sebelum akhirnya mata Kizashi membulat. Ia memandang Hiashi ngeri. "Orochimaru? Si Pucat yang mukanya mirip ular itu? Kakaknya—maksudku, kakak angkatnya? Yang benar saja?!"

Shibi tertawa. "Kalau begitu kau kabur saja saat pertemuan keluarga," usulnya pada Hiashi.

"Ide yang bagus," celetuk Minato. "Tapi esoknya Hiashi langsung tak bisa melihat mentari pagi."

Semua orang mendengus menahan tawa kecuali Hiashi yang mendelik-delik jengkel, dan Fugaku yang fokus pada majalah. Kizashi yang mendapati sang sahabat tengah menikmati bahan bacaan miliknya, kemudian turut memerhatikan figure seorang gadis Jepang asli bernama Sakurada yang terpampang fotonya satu halaman penuh.

"Astaga, cantik sekali," Kizashi mengelus-elus dadanya sendiri. "Kalau aku punya anak perempuan, akan kuberi nama Sakura."

Fugaku mendengus. Ia melempar pandang tidak suka pada Kizashi, "Omong kosong. Akulah yang akan memberi nama anak perempuanku Sakura."

"Apa kau bilang?" Kizashi tertawa mengejek. "Sudahlah. Orang tinggi hati sepertimu tidak akan punya anak perempuan, Fugaku. Semua anakmu nanti adalah laki-laki, dan arogan sepertim—ADOH!" Kizashi memandang Fugaku dengan sorot mata benci. Pemuda Uchiha itu baru saja melayangkan pukulan tepat di belakang kepalanya. "Dan kasar. Kasar sepertimu."

"Diam kau. Kita lihat saja siapa yang akan punya anak perempuan duluan. Cih," balas Fugaku. "Dan, anakmu, akan sama merah jambunya sepertimu, konyol, dan tergila-gila pada anakku yang kau bilang arogan!"

Kizashi mendengus. "Hei, jaga mulutmu—"

"—oi, oi, oi, hentikan," Minato menyela. Tangannya terlipat di depan dada, kepalanya menggeleng-geleng tak habis pikir. Bagaimana bisa kedua orang yang mengaku sahabat itu saling pukul dan memaki hanya untuk membela (bakal calon) anak mereka? Menggelikan.

"Anakmu," Shibi menunjuk Kizashi setelah menyimpan terlebih dahulu mini tape-nya, "Akan tergila-gila pada anaknya," Shibi memindahkan telunjuknya pada Fugaku. "Dan anakmu," telunjuk Shibi masih mengarah pada Fugaku, lalu kembali pada Kizashi lagi, "Akan sangat kecanduan dan tidak bisa hidup tanpa anaknya."

Tawa Minato meledak setelah itu. Kizashi dan Fugaku berseru memerotes bersamaan. Kata-kata 'Aku tidak mau berbesan dengannya!' mengaung memenuhi lapangan kosong itu. Hiashi yang masih duduk di atas tanah hanya bisa menghela napas berat. Ayolah, daripada membual tentang masa depan ada baiknya teman-temannya itu menghibur ia yang sedang frustasi saja… hh.

Pemuda Hyuuga itu mengalihkan pandangnya ke arah lain. Sedetik kemudian ia mendapati sesosok lelaki yang berdiri di balik pohon tak jauh dari mereka. Hiashi menegang dan ia segera bangkit berdiri mencoba waspada. Ia hendak memberi isyarat pada teman-temannya bahwa ada orang yang mengintip mereka, namun tiba-tiba niat itu diurungkannya ketika mendapati bahwa sosok orang itu sudah menghilang entah kemana.

Hah? Hiashi mengucek-ngucek matanya. Apa tadi ia hanya berhalusinasi? Tidak. Tidak, tidak mungkin. Hiashi merasa bahwa ia tidak mungkin salah lihat.

Yang barusan itu benar-benar Kinoe Shimura, kan?

.


Saat orang-orang dari masa lalu kembali, saat itulah luka-luka lama akan terkuak

.

Tujuh


.

KEDUA TELAPAK TANGAN GADIS itu terasa kebas.

Beku, dingin. Bibirnya mengatup rapat sementara rahangnya terasa amat sakit akibat mengeras. Matanya masih membulat tidak percaya. Napasnya jadi menyesakkan dada meski temponya cukuplah beraturan.

"Sasuke-kun…"

Kin Tsuchi merasakan tubuhnya mendadak dingin hingga merosot duduk di atas sofa lobi penginapan. Ponsel yang sedari tadi berada di dalam genggamannya ia lemparkan dengan lemas ke sisi tubuhnya. Sungguh, ia masih merasa tidak percaya atas apa yang baru saja dialaminya.

Semenjak tadi sore perasaan Kin sama sekali tidak baik. Tiba-tiba saja ia menjadi gusar dan khawatir akan sesuatu—dan ia sama sekali tidak tahu apa itu gerangan. Maka ketika hari telah beranjak malam, gadis Tsuchi itu memutuskan untuk duduk di teras belakang penginapan. Mencari udara segar, pikirnya. Dan saat hendak kembali ke dalam kamar, ia menemukan sosok Sasuke Uchiha yang berjalan tergesa menjauhi Hinata Hyuuga di koridor.

Awalnya Kin hendak menyapa namun diurungkannya. Ia cepat-cepat bersembunyi di balik dinding hingga sosok Sasuke berlalu. Tapi ia tidak membiarkan semua berakhir di situ saja. Kin mengikuti Sasuke turun ke lantai satu dan kembali bersembunyi saat ia mendengar suara Shino Aburame berada tak jauh dari mereka.

Dan apa yang selanjutnya terjadi sama sekali di luar penalaran seorang Kin Tsuchi.

Sasuke pergi mencari Sakura? Apa dia bercanda? Seharusnya masa bodoh dengan gadis itu!

"Kau baik-baik saja?" suara Shino terdengar penuh kecemasan.

Kin mengangkat kepalanya dan memicing pada Shino. "Apa aku terlihat baik-baik saja?" suaranya terdengar sengau. Mata gadis itu memanas seiring dengan perasaan—entahlah, iri atau mungkin cemburu—menelusup menusuk-nusuk dadanya.

Shino melengoskan pandangnya. Kemudian dengan setengah lesu pemuda itu mendudukkan diri di sisi Kin yang nampak begitu tegang dan cemas. O, baiklah. Gadis itu sudah berkali-kali mencoba menghubungi ponsel Sasuke, namun sayangnya tidak diangkat.

"Ini semua salahmu," Kin bergumam. "Seharusnya kau membiarkan aku menyusul Sasuke-kun."

Selama beberapa detik Shino hanya diam saja. Ia memang terkejut saat gadis itu tiba-tiba saja muncul dari balik tangga dengan ekspresi muka penuh tanya dan ketidakpercayaan. Apalagi dengan lantangnya Kin memutuskan untuk menyusul Sasuke—sebelum hal yang tidak-tidak terjadi pada pemuda Uchiha itu.

Sayangnya, membiarkan seorang gadis seperti Kin menyusul Sasuke adalah hal yang tidak mungkin bisa dilakukan oleh Shino. Bukan hanya akan merepotkan, tapi membuat bencana sebab Sasuke pastilah akan merecokinya nanti.

Perlahan-lahan Shino membuang napas. Ia menggaruk tengkuknya tanpa alasan yang jelas. Matanya melirik ke arah Kin sejenak, sebelum akhirnya sebuah pemikiran yang ia khawatirkan muncul begitu saja di dalam benaknya.

"Kin," panggil Shino tertahan. "Kau tidak akan melaporkan masalah ini kepada Iruka-sensei, bukan?"

.

Hal pertama yang dilihat oleh Sasuke ketika ia membuka mata adalah sosok Sakura Haruno yang nampak begitu cemas. Gadis itu tengah duduk menghadapnya dengan kepala sedikit tertunduk. Bibirnya digigit dan alisnya turun saking khawatirnya.

Sasuke berkali-kali mencoba mengerjapkan mata—menyesuaikan indera pengelihatannya dengan cahaya lampu yang sedikit gelap. Entah berada di mana dirinya kini, namun satu hal yang bisa ia pastikan bahwa kini Sakura baik-baik saja.

Ah. Apakah semuanya telah selesai?

"Apakah kau baik-baik saja?" Sakura bertanya dengan suara yang sedikit bergetar.

Sasuke tidak langsung menjawab. Ia terlebih dahulu memilih untuk mendudukkan dirinya—namun tiba-tiba saja seluruh tulang di dalam tubuhnya seolah berderak secara bersamaan hingga ia mengerang sakit. Dan sepertinya itu cukup untuk menjawab pertanyaan Sakura bahwa ia sedang tidak baik-baik saja.

"Di mana ini?" tanya Sasuke. Suaranya terdengar sedikit serak dan menyedihkan, namun Sasuke tidak peduli. Pandangannya hendak mengedar ke sekeliling penjuru ruangan tapi bagian belakang kepalanya terasa begitu sakit hingga ia menunduk dan mendapati bahwa sedari tadi ia tertidur di atas futon.

"Kita berada di tempat yang aman," jawab Sakura. Gadis itu sedikit menundukkan kepalanya agar bisa mengamati wajah Sasuke yang tengah menahan sakit. Dalam hati gadis itu mengutuk dirinya sendiri. Kalau bukan karna ingin melindunginya, nasib buruk tidak mungkin akan menimpa Sasuke. "Apa itu benar-benar sakit, Sasuke?"

Sasuke tidak menjawab. Namun ia melemparkan sebuah pertayaan lain, "Bagaimana dengan penjarah tadi?"

Meski pun merasa sebal sebab Sasuke seolah tidak mengabaikan pertanyaannya, detik berikutnya Sakura menjelaskan. Ketika Sasuke jatuh pingsan, tiba-tiba saja penjarah yang menghajar Sasuke itu ambruk juga ke tanah diiringi dengan bunyi berdebam yang lebih keras. Lalu sekonyong-konyongnya muncul sesosok pria bertubuh tinggi tegap yang langsung menarik Sakura dari pejarah yang tengah mencekikinya.

Raiga Kurosuki, namanya. Seorang petugas patroli yang tengah berkeliling desa rupanya. Ia tidak sengaja mendengar keributan hingga akhirnya menemukan Sasuke dan Sakura yang tengah berada di dalam masalah bersama dengan dua orang penjarah bodoh di dekat pelabuhan.

"Penjarah bodoh?" Sasuke mengangkat sebelah alisnya tidak mengerti. Ia menatap lekat-lekat wajah Sakura yang telihat sedikit pucat di hadapannya.

Sakura mengangguk lesu. Pipinya mengembung, "Iya. Kurosuki-san bilang mereka memang bodoh. Mereka adalah penjarah kakak adik yang menjadi buronan karena kabur dari penjara sejak dua hari yang lalu."

Menurut penjelasan Raiga Kurosuki, duo kakak beradik Raijin dan Fuujin—atau yang lebih dikenal dengan Genjin dan Fuujin adalah penjahat lokal yang seharusnya bisa dikalahkan dengan mudah. Tidak ada hal yang lebih mereka sukai daripada makanan di dunia ini. (Alasan mengapa keduanya dijebloskan ke dalam tahanan tidak lain dan tidak bukan adalah karena pencurian makanan.) Jadi, bisa dengan mudah diberi ancaman bahwa mereka akan dijebloskan ke penjara dan tidak diberi makanan apabila melakukan kejahatan.

Sayang sekali karena lengahnya pengawasan, mereka berhasil meloloskan diri dari penjara. Entah Sakura yang sedang bernasib sial, atau kedua penjarah itu yang mengalami kelaparan dengan amat sangat sehingga menganggap Sakura yang bertubuh kecil sebagai ancaman, entahlah. Yang jelas peristiwa pemukulan itu sudah terjadi dan baik Genjin maupun Fuujin, keduanya sudah pasti akan kembali ke dalam sel.

Lama Sasuke terdiam setelah mendengar penjelasan Sakura. Kepalanya terasa berdenyut-denyut hingga sesekali mendengar suara berdenging dari telinganya. Di sisi kanan pelipisnya Sasuke bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang menempel, mungkin plester luka—pemuda itu sudah mencoba mengedarkan pandang ke seluruh isi ruangan dan berharap menemukan cermin untuk melihat kondisinya, namun nihil.

Ini benar-benar menyedihkan.

Sasuke baru saja akan membuka mulutnya—hendak mengatakan bahwa mereka harus segera kembali ke penginapan, namun Sakura sudah mendahului.

"Maafkan aku," Sakura menundukkan kepalanya dalam-dalam. Suaranya mulai terdengar aneh dan punggungnya sedikit bergetar. Sasuke menahan napasnya. O, ayolah. Ia sangat tidak ingin melihat seseorang menangis di depannya sekarang—terlebih lagi seorang gadis. "Kalau bukan karena aku menghilangkan kameramu, hal ini tidak akan ter—"

"—kameraku tidak hilang," sela Sasuke cepat ketika ia baru mengingat sesuatu. Ya. Tujuannya pergi dari penginapan adalah untuk mencari Sakura yang ternyata benar-benar masih berada di pelabuhan dan mencari kameranya. Secara tidak langsung, ini adalah salah Sasuke juga yang dengan begitu mudah terpancing dan membiarkan Sakura melakukan hal bodoh padahal ini sama sekali bukan kesalahan gadis itu.

Sakura mengangkat kepalanya bingung. Bibirnya mengerucut dan Sasuke bisa melihat dengan jelas jejak-jejak air mata di sekitar kelopak gadis itu. "Maksudnya?"

Sasuke berdecak sekali—dan langsung mengatup mulutnya rapat ketika punggungnya terasa nyeri. Pemuda itu menghela napas dan menyodorkan sebelah tangannya pada Sakura.

"Ha?" Sakura menatap Sasuke tidak mengerti.

"Ponselmu," ujar Sasuke. "Berikan ponselmu."

Sakura masih akan mengangkat alisnya bingung kalau saja otaknya tidak langsung mencerna perkataan Sasuke. Benar juga, mereka harus menghubungi seseorang. Siapa tahu saja di penginapan telah terjadi kehebohan sebab keberadaan Sasuke dan Sakura yang tak jelas di mana.

Gadis itu terlihat berbalik dan menyambar ranselnya. Sasuke memerhatikan dengan seksama saat Sakura mulai mengaduk-ngaduk isi tasnya—mencari-cari apakah ada bagian dari tubuh gadis itu yang diplester juga. Sasuke bahkan mencuri-curi pandang pada bagian leher Sakura yang menjadi bekas cekikan penjarah. Namun syukurlah tidak ada. Atau mungkin pencahayaan kamar yang sedikit remang membuat luka dan memar di tubuh gadis itu jadi tersamarkan. Pemuda itu hanya menyadari bahwa Sakura—dan dirinya juga—sudah mengenakan pakaian berbeda. Hanya kaus dan celana pendek selutut—sementara Sakura mengenakan rok lipat hingga betisnya. Mungkin seseorang menggantinya saat Sasuke tak sadarkan diri tadi.

"Ini," Sakura beringsut maju dan menyerahkan ponselnya yang langsung disambut oleh Sasuke. "Mau menghubungi siapa?" gadis itu bertanya.

"Shino," Sasuke menjawab seadanya. Ponsel Sakura terasa kasar dan banyak sekali bekas goresan di sana—mungkin terbanting saat mereka diserang tadi. Sasuke lantas memasukkan nomor Shino dan langsung menekan perintah panggil sebelum akhirnya terdengar suara pintu yang digeser dan seruan seorang wanita tua yang belum pernah Sasuke lihat sebelumnya.

"Wah, dia sudah bangun!"

.

Keluarga Kurosuki hanya terdiri dari empat orang saja. Raiga merupakan anak tertua, seorang polisi lokal di daerah pelabuhan ini. Disusul oleh Karashi yang ternyata seumuran dengan Sasuke dan Sakura, kemudian adik perempuan mereka yang masih sekolah dasar bernama Ranmaru.

Sakura kini tengah berada di dapur rumah keluarga itu bersama Sansho—kepala keluarga, sekaligus ibu dari ketiga Kurosuki yang lainnya. Sansho merupakan wanita tua pemilik rumah makan kari yang sangat ramah dan baik. Saat Raiga membawa Sasuke dan Sakura ke rumahnya, wanita itu dengan sigap segera menyiapkan kamar agar Sasuke bisa dibaringkan sekaligus menyediakan pakaian ganti bagi keduanya.

Sansho bahkan menyediakan air panas agar kedua tamunya itu bisa segera mandi dan mengobati luka-lukanya. Berhubung Sasuke tak kunjung sadarkan diri, maka Sakura-lah yang terlebih dahulu mandi. (Dan kau tahu betapa menderitanya Sakura saat tubuhnya yang serasa remuk disentuh air? Hah!) Sedangkan Karashi-lah yang membersihkan dan menggantikan pakaian Sasuke.

"Baunya sangat enak," Sakura sedikit menggumam. Ia menjulurkan kepala pada sebuah panci besar berisi larutan kari kental yang tengah diaduk oleh Sasho. Wanita itu dengan senang hati membuatkan makan malam bagi keduanya setelah mengetahui bahwa baik Sakura maupun Sasuke belum makan sama sekali sejak tadi sore. Lagipula, putra sulungnya baru saja pulang dari patroli dan belum makan juga, kan.

"Benarkah begitu?" tanya Sansho. Rupanya ia mendengar gumaman Sakura.

Sang gadis Haruno mengerjapkan matanya sekali, lalu tersenyum seraya mengangguk. "Iya, baunya enak sekali," ujar Sakura. "Aku sudah sering mencium bau masakan lezat tapi untuk yang se-khas ini sepertinya baru pertama kali."

Sansho mengangguk-angguk mengerti. Entah apa yang berada di dalam pikirannya, Sakura bisa melihat wanita itu seakan tersenyum senang sebab sudut matanya menyipit mengulas bentuk bulan sabit. Diam-diam Sakura jadi tersenyum juga. Sambil menemani wanita itu memasak, Sakura melemparkan pandangannya ke arah ruang tengah dari rumah kecil keluarga itu. Nampak kedua anak laki-laki Kurosuki tengah duduk di depan meja rendah di sana—minus Ranmaru karna sepertinya gadis kecil itu sudah tidur. Sedangkan Sasuke mungkin saat ini tengah menjalani ritual mandinya.

"Nah, selesai."

Suara Sansho mengembalikan perhatian si gadis merah muda kembali ke dapur. Sementara wanita tua itu mempersiapkan nasi untuk dibawa bersama sepanci kuah kari, Sakura menyusun beberapa tumpuk mangkuk dan sumpit serta apa pun yang ia bisa.

"Wanginya…"

Sakura bisa melihat dengan jelas ekspresi berbinar yang ditunjukkan oleh kedua anak lelaki Sansho. Meski pun Sansho berkata bahwa hampir setiap hari mereka menyantap kari, namun setelah melihat betapa senangnya kedua anak laki-laki wanita itu, Sakura jadi yakin bahwa masakan Sansho memang benar-benar enak.

Sakura baru saja duduk manis di depan meja ketika tiba-tiba terdengar suara pintu digeser. Tak lama setelahnya sosok Sasuke dengan rambut setengah kering berjalan perhalan mendekatinya. Walau seolah tidak apa-apa, Sakura bisa melihat pemuda Uchiha itu menahan ringisan sakit. Terlebih ketika ia mulai mengambil posisi duduk di sisi Sakura. Sasuke terdengar beberapa kali melenguh kecil seraya memejamkan matanya.

"Bagaimana keadaanmu?" Raiga bertanya penuh rasa ingin tahu pada Sasuke.

Sasuke terlihat mengangkat kepalanya. Lalu menyunggingkan senyuman yang amat sangat tipis. "Aku baik-baik saja. Terima kasih karena sudah menolong kami," Sasuke sedikit membungkukkan tubuhnya—dan Sakura cepat-cepat mengikuti.

"Ah, syukurlah kalau begitu," Raiga tersenyum pada Sasuke.

Sasuke mengangguk.

"Belakangan ini kegiatan penjarah semakin menjadi-jadi saja, Onii-san," Karashi menoleh pada Raiga. Pemuda itu kemudian memandang Sakura, lalu tersenyum, "Tapi syukurlah kalian tidak apa-apa. Dan beruntungnya hanya Genjin dan Fuujin, ya."

Beruntung apanya, pikir Sakura dalam hati. Namun gadis itu hanya mengeluarkan sebuah senyuman canggung sambil membungkukkan tubuhnya sopan. "Aha, iya."

"Bagaimana lukamu, Haruno-chan?" tanya Karashi pada Sakura, dan dengan sukses menarik perhatian Sasuke. Luka? Luka di mana? Sasuke memandangi tubuh Sakura yang terbalut kaus.

"Oh?" Sakura tersentak. Gadis itu kemudian tersenyum kecil sambil membuat bentuk V pada jemari tangan kanannya, "Sudah tidak sakit lagi." Kemudian ketika menyadari bahwa ada seseorang yang tengah memandangi dirinya intens, Sakura menolehkan kepalanya dan langsung bertemu pandang dengan sepasang mata gelap Sasuke. "Kenapa?"

"Kau luka?" Sasuke bertanya, suaranya agak sedikit berat.

Sakura mengangguk sungkan. Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin memberitahukan pada Sasuke bahwa sekujur tubuhnya membiru karena memar, tapi karena Karashi sudah terlanjur bilang… "Bukan luka, sih. Hanya memar biasa."

Sasuke menatap Sakura tak percaya. Bukan luka? Hanya memar biasa? Oh, bagaimana memar bisa dikatakan sebagai hal yang biasa, Haruno bodoh?! Dan sebelum Sasuke sempat membuka mulutnya lagi untuk merecoki Sakura, Karashi buru-buru menyela.

"Tidak usah khawatir, Uchiha-san. Aku sudah mengobati Haruno-chan, jadi dia pasti akan baik-baik saja," katanya sambil tersenyum. (Tidak usah khawatir kepalamu?! –Sasuke membatin untuk itu.) Lalu pemuda itu melemparkan pandangan pada Sakura seraya memangku dagunya dengan sebelah tangan. "Bukan begitu, Haruno-chan?"

Sakura mengangguk. Namun saat ia ingin melempar tatapan meyakinkan pada Sasuke, ternyata pemuda Uchiha itu tengah memerhatikan Karashi dengan mata yang disipitkan. Entahlah maksudnya apa, tapi Sakura yakin sepertinya Sasuke tidak menyukai pemuda itu. Sepertinya.

"Sudah, sudah," potong Sansho. Wanita itu menyerahkan semangkuk nasi penuh pada Sasuke dan Sakura. "Sekarang kalian makan saja dulu."

Sakura tersenyum dan menyambut uluran mangkuk itu dengan perasaan bahagia. Di dalam hatinya ia merasa bersyukur bisa bertemu dengan keluarga Kurosuki yang sangat baik hati. Ia bahkan sudah berencana dan menyusun runtut kronologi kejadian hari ini untuk diceritakan pada ibu dan ayahnya. O, pada Ino, Tenten, Karin, dan Sai juga tentunya.

Bau kuah kari yang menggoda langsung memenuhi indera penciuman Sakura saat gadis itu menyendoknya langsung dari dalam panci. Tanpa banyak memperhitungkan soal—kecuali meniup-niupnya sejenak sebab kari itu masih amat panas—Sakura segera memasukkannya ke dalam mulut.

Dan detik berikutnya gadis itu terdiam dengan air mata yang tiba-tiba jatuh melewati pipinya.

Rasanya pedas sampai ke ubun-ubun.

.

Sudah pukul satu malam ketika Sasuke menutup telepon dari Shino. Temannya itu mengabarkan bahwa situasi aman terkendali—tidak ada yang curiga dan tahu di mana keberadaan Sasuke dan Sakura saat ini, bahkan Hinata yang tadi kebingungan pun tak bertanya apa-apa lagi. Meski demikian Sasuke sempat terkejut juga saat Shino menyebut-nyebut soal Kin. Tapi syukurlah, gadis itu akhirnya memilih untuk tutup mulut demi kebaikan Sasuke.

Sasuke meletakkan ponsel Sakura yang sejak tadi berada dalam genggamannya di atas futon yang akan ditiduri oleh gadis itu. Dalam diam ia menarik napas, mengebuskannya dengan amat berat kemudian mengembalikan pandangnya pada futon Sakura yang masih kosong. Jadi… Malam ini ia akan sekamar dengan Sakura? Ha-ha. Kau bercanda? Yang benar saja.

"Apa kau ini bodoh?" Sasuke mengatai Sakura sengit saat mendengar penuturan gadis itu perihal tidur satu kamar. Matanya meyipit sinis dan lurus memandang Sakura. Bagaimana pun, Sasuke masih menganggap Sakura sebagai fangirl -nya. Siapa tahu gadis ini hanya mencari kesempatan, kan? Sial.

Sakura mengucek matanya yang berair—efek rasa pedas kuah kari yang membuat gadis itu histeris saat makan malam rupanya masih terasa. Hidung dan bibirnya masih sangat merah. Padahaal Sasuke sudah dua kali membuatkannya susu hangat untuk menetralisir rasa pedasnya. Benar-benar… Gadis sok berani dan penggertak ini ternyata lemah terhadap cabai.

"Apa kau pikir kau sebegitu pintarnya?" Sakura balas mengatai Sasuke. Ia memandang sang lawan bicara yang duduk bersila di atas futon tepat di depannya. Tangan gadis itu terlipat di depan dadanya. "Kau benar-benar tidak tahu bagaimana caranya berterima kasih pada orang lain?"

Sasuke mendengus jengkel. Hahh, lihat, gadis ini sedang mengguruinya. Menyebalkan. Bagaimana mungkin seorang gadis jelata memberikan penghinaan pada sang bungsu Uchiha yang jelas-jelas masih berdarah biru ini, hah? Bagaimana mungkin? Ck. "Jangan bicara omong kosong."

"Omong kosong apanya," Sakura berdecak. Gadis itu melotot dan detik berikutnya, kata-kata dari bibir Sakura sama sekali tidak bisa Sasuke cerna. Sakura berbicara menggunakan bahasa asing yang Sasuke amat yakin sama seperti yang digunakan gadis itu saat menerima telepon di dalam bus. Terdengar seperti gadis itu tengah berkumur asadyk%alk10akhdksy $&(8slagdatwat4kayaa, padahal sebenarnya Sakura tengah memaki Sasuke habis-habisan.

"Kau sedang menghinaku?" sela Sasuke tak lama kemudian. Rahangnya mengeras dan ia memandang Sakura dengan tatapan tersinggung. Tapi apa yang dilakukan Sakura selanjutnya sama sekali membuat Sasuke merasa tak lebih baik. Gadis itu tertawa. Hah, menertawakannya?

"Menghinamu? Yang benar saja?" dusta Sakura. "Aku bilang, kau benar-benar tidak bisa menghargai orang lain. Kau tahu ini kamar siapa?"

Sasuke menyipitkan matanya memandang Sakura. Tadi ia sudah mengobservasi kamar ini dengan matanya, dan dari semua barang yang Sasuke lihat, sepertinya penghuni kamar ini adalah perempuan.

Karena setelah detik berlalu Sasuke tak menjawab apa pun juga, Sakura menarik napas pasrah dan ia akhirnya menjelaskan. "Rumah ini hanya ada dua kamar. Satu kamar ini—kamarnya bibi Sansho, kamar terbaik di rumah ini. Dan satunya lagi kamar milik Raiga Onii-san dan Karashi. Mereka mempersilakan kita beristirahat di sini sementara mereka berempat sempit-sempitan di kamar satunya. Terdengar tidak baik, sebetulnya, tapi mereka sangat menghargai tamu—tamu yang terluka. Jadi kalau kau berpikiran bahwa tidur sekamar denganku adalah ide yang gila, kau harus bertanya pada dirimu sendiri apa aku tidak menganggap ini sebagai ide yang gila? Aku hanya ingin menghargai tuan rumah."

Sasuke mendengus memandang Sakura. Tapi belum sempat bibirnya bergerak untuk mengeluarkan kata, Sakura sudah lebih dahulu menyelanya. "Meski pun malam ini kau menyelamatkan nyawaku," Sakura kali ini memandang Sasuke dengan tatapan datar dan tak berminat. Membuat Sasuke merasa bahwa gadis itu tengah mengintimidasinya habis-habisan. (Aha, bukankah selama ini Sasuke-lah yang seringkali mengeluarkan tatapan semacam itu pada orang-orang? Apakah kini Sakura tengah membalasnya? Karma? Ah-ha.) "Dan meski pun aku ini adalah mantan fangirl-mu," Sasuke sempat menangkap dengusan halus Sakura saat mengatakan itu. Kemudian tangan si gadis berpindah ke dadanya—tepat di bagian jantung, "Kau tidak usah khawatir. Ini, (Sakura menepuk-nepuk dadanya, jantungnya), tidak akan berdebar-debar walau kita akan tidur sekamar. Dan aku bisa pastikan bahwa otakku tidak akan merajalela memikirkanmu," Sakura mengangguk-angguk yakin. Ia menatap Sasuke lurus. "Kau bisa pegang kata-kataku."

Dalam hati Sasuke menyumpah. Sial. Gadis ini benar-benar… Mempermalukannya. Hasrat ingin lari benar-benar menggebu di dalam diri Sasuke, seandainya tubuh Uchiha ini cukup kuat untuk itu, tentu saja. Dan, oh, mata bulat besar Sakura benar-benar menyiksanya. Sasuke bahkan tak habis pikir mengapa selama ia tak sadarkan diri tadi ia terus saja melihat Sakura di dalam mimpinya, ia bahkan meneriakkan nama gadis itu—tunggu, kenapa pikirannya jadi melenceng seperti ini? Sial.

Sasuke baru saja hendak bangkit berdiri dan meninggalkan Sakura sendirian di dalam kamar ketika akhirnya ponsel gadis itu berbunyi. Sakura langsung menyodorkannya pada Sasuke saat tahu bahwa itu adalah telepon dari Shino. Sementara Sasuke menerima teleponnya, Sakura-lah yang kini bangkit berdiri. Sasuke memerhatikan gadis itu dari sudut matanya—Sakura yang menggeser pintu, lalu punggungnya menghilang ketika pintu ditutup. Mungkin gadis itu duduk-duduk di teras kamar.

Dan sekali lagi, Sasuke memandangi futon dan ponsel Sakura di depannya. Jadi, mereka benar-benar akan tidur satu kamar, ne? Ha-ha. Tangan Sasuke bergerak naik dan ia menyentuh dadanya sendiri. Ah, sial. Mengapa sekarang dia jadi merasa aneh?

Apa-apaan.

"Baka," umpat Sasuke pada dirinya sendiri. Setelahnya pemuda itu memutuskan untuk tidur—tubuhnya benar-benar terasa remuk setelah kejadian malam ini. Ia baru saja hendak menarik selimutnya, ketika matanya kini tertuju pada pintu geser di dekat ujung kakinya. Sakura yang berada di luar sama sekali tak bersuara. Apa yang sedang gadis itu lakukan?

Dengan membuat gerakan pelan, Sasuke merangkak mendekati pintu. Tangannya terulur untuk menggeser pintu, lalu sedetik setelahnya ia menemukan Sakura duduk bersandar pada dinding. Sebelah alis Sasuke naik dan ia menatap Sakura dengan dengusan. Gadis itu mau mati kedinginan, eh? Dasar bodoh.

"Aku akan menutup pintu," ujar Sasuke datar. Namun detik setelahnya, Sakura sama sekali tidak merespon. Sasuke mengembuskan napas malas. Ia mengulurkan tangannya, menepuk bahu Sakura singkat, tapi gadis itu tetap saja bergeming. Sial. Sepertinya Sakura tertidur.

"Oi," panggil Sasuke lagi. Kali ini tangannya bergerak menggoyang-goyangkan bahu Sakura. "Kalau kau tidak bangun aku akan menguncimu di luar," ancam Sasuke. Satu, dua, tiga, empat, lima, sepuluh, dua belas detik berlalu Sakura masih diam. Terdengar erangan kecil dari bibir gadis itu. Sasuke mendenguskan napasnya keras dan dengan cepat membanting pintu geser agar menutup. Tapi dua detik setelahnya, pintu kembali terbuka cepat dan Sasuke menghentakkan kakinya mendekati Sakura.

"Dengar, kalau kau tidak bangun juga, aku akan menyeretmu ke dalam," kata Sasuke. "Benar-benar menyeretmu," ulangnya. Tapi sesaat setelahnya Sasuke memutar bola matanya bosan. Nah, sialan. Ia sudah seperti orang gila sekarang. Berbicara sendiri… Ah. Gadis menyebalkan. Bagaimana mungkin gadis ini sama sekali tidak merespon? Ingatan Sasuke kemudian terlempar saat dirinya secara tak sengaja membuat kepala Sakura tersantuk di kaca bus beberapa hari yang lalu. Saat itu Sakura juga sama sekali tidak bereaksi. Ck, kerbau. Sasuke menendang-nendang ujung kaki Sakura dengan ujung kakinya, "Bangun, kerbau, kau tahu kau tidur seperti kerbau? Bangun."

Sakura kemudian mengerang. Kepalanya bergerak sedikit gelisah namun matanya masih terpejam rapat. Tangan gadis itu naik dan memeluk tubuhnya sendiri—kedinginan. Sasuke mendesah pasrah. Kalau begini caranya ia sama sekali tidak akan bisa beristirahat. Udara di luar yang sanggup membuat siapa saja hipotermia ini akhirnya meruntuhkan ego sang pesohor Uchiha.

Sasuke berjongkok di depan Sakura. Mengamati sejenak wajah gadis yang bersumpah akan membuat hidupnya menderita itu. Hah, samar Sasuke rasakan sudut bibirnya berkedut dan ia mengluas senyum geli yang teramat tipis. "Benar-benar ingin membuatku menderita?" Sasuke menggumam. Sorot matanya tenang memandang wajah Sakura yang sedikit tertutupi oleh rambutnya. "Try me, Sakura," bisik Sasuke, sebelum akhirnya kedua tangan pemuda itu menelusup di bawah lengan Sakura, membawa gadis itu ke dalam pelukannya. Sasuke merasakan napas Sakura yang hangat menyerang lehernya kala kepala gadis itu bersandar pada bahunya, tapi Sasuke mencoba untuk tidak ambil pusing. Ia mengangkat tubuh Sakura, membawanya masuk kemudian membaringkannya di atas futon.

Setelah bangkit dan menutup pintu, Sasuke kembali ke sisi Sakura. Ia menyelimuti gadis itu hingga sebatas dagu, kemudian mulai membaringkan dirinya sendiri. Sasuke menolehkan kepalanya memandang Sakura. Gadis itu terlihat damai di dalam tidurnya. Dan untuk pertama kalinya, Sasuke menyadari bahwa Sakura mempunyai wajah yang tidak bisa dibilang biasa. Alis, hidung, bibir… Tanpa sadar Sasuke memiringkan posisi berbaringnya menghadap Sakura. Matanya dengan bebas mengamati wajah gadis itu tanpa cela. Sepuasnya. Bahkan secara tak terkendali tangan Sasuke bergerak naik menyentuh helaian rambut yang menempel di pipi Sakura, menyingkirkannya ke belakang telinga si gadis.

"Gadis bodoh," Sasuke bergumam. Sampai akhirnya kantuk berhasil menguasai dirinya, Sasuke kemudian tertidur dengan posisi masih menghadap Sakura.

.

Pagi-pagi sekali Sakura terbangun dan merasakan sekujur tubuhnya remuk redam. Ia berusaha mengangkat tangannya tinggi-tinggi, meregangkan kakinya, hingga berguling-guling supaya semua bagian tubuhnya bergerak. Saat Sakura sedikit demi sedikit berhasil menghilangkan kekakuan pada tubuhnya, gadis itu bangkit duduk dan mendapati bahwa Sasuke tidak ada di tempat tidurnya.

Ne? Sudah bangun?

Sakura menyingkirkan selimutnya cepat. Gadis itu buru-buru membersihkan bekas tidurnya dan Sasuke—menggulung selimut dan futon, serta menyimpannya kembali ke dalam lemari. Sakura baru saja menepuk-nepukkan tangannya menandakan bahwa pekerjaannya telah selesai, ketika ia kembali menyadari bahwa semalam ia tidur satu kamar dengan Sasuke. Hah. Refleks Sakura memegangi tubuhnya sendiri. Matanya membelalak dan secara curiga ia memerhatikan pakaian yang dikenakannya. Masih utuh, tidak ada kancing yang terbuka, roknya pun—heh, apa-apaan?!

Sakura memukul-mukul kepalanya sendiri. Mengapa ia mendadak memikirkan hal-hal erotis padahal tentu saja Sasuke tidak satu inci pun berniat menyentuhnya. Semalam ia sudah terang-terangan berkata bahwa ia tidak akan berdebar meski bernapas di dalam ruangan yang sama dengan Sasuke. Benar, kan? Benar? Ia memang tidak merasakan apa pun, kan. Nah, jadi mengapa sekarang Sakura mendadak kecewa? Karena ternyata dirinya sama sekali tidak menarik sebagai seorang wanita? Loh, jadi sebenarnya Sakura mengharapkan apa? Ha?

"Sakura."

Mata Sakura membulat besar dan ia nyaris menjerit sejadi-jadinya kalau saja tidak segera menemukan Sasuke yang berdiri di depan pintu. Pemuda itu menatapnya dengan sorot mata datar seperti biasa. Tubuh pemuda itu dibalut pakaiannya yang semula. Rambutnya sedikit basah dan ada sehelai handuk kecil tersampir di sisi bahunya.

"Sasuke?" Sakura mengerjap-ngerjapkan mata. Demi Tuhan, kalau saja Sasuke berada dalam jarak yang lebih dekat, Sakura yakin pemuda itu mampu mendengar detak jantungnya yang menggila.

"Bersiaplah. Kita harus segera kembali ke penginapan," kata Sasuke.

Sakura hanya mengangguk kaku mengiyakan.

.

Karashi bersikeras ingin mengatar Sasuke dan Sakura kembali ke penginapan. Awalnya Sakura menyetujui itu. Paling tidak, ia tidak akan mati gaya selama perjalanan berduaan dengan Sasuke yang sudah pasti tidak akan mengacuhkannya. Namun ketika mendapati ekspresi wajah Sasuke yang seolah siap menelannya bulat-bulat, Sakura buru-buru menggelengkan kepala dan menolak tawaran Karashi.

Pemuda Kurosuki itu terlihat kecewa, tapi ia mencoba menerima. Membungkukkan tubuhnya berkali-kali seraya berpesan pada Sakura untuk jaga diri, dan mampir sekali-kali jika ada kesempatan. Sakura tersenyum-senyum saja menanggapinya. Sedangkan Sasuke yang entah karena apa mood-nya memburuk, hanya mendengus seraya berdecak-decak jengkel.

Raiga menepuk bahu Sasuke, "Hati-hati di jalan."

"Aa," Sasuke mengangguk. Kemudian bungsu Uchiha itu melemparkan padangannya pada seluruh Kurosuki; Shanso, Raiga yang menggendong Ranmaru, lalu Karashi. Sasuke membungkukkan tubuhnya—diikuti oleh Sakura—ketika mengucapkan terima kasih. Setelahnya ia berpamitan.

"Sampai bertemu lagi," Sakura berseru. Tangannya melambai-lambai pada keempat orang yang kini sudah cukup jauh dari jarak pandangnya. Gadis itu mengulas senyum penuh rasa terima kasih sekaligus sedih. Meski pun baru bertemu semalam dengan keluarga itu, Sakura merasa amat menyukai mereka.

Setelah puas melambai, Sakura segera berbalik. Mendapati bahwa kini Sasuke sudah amat jauh di depannya. Gadis itu mendengus, kemudian memacu langkahnya untuk menyusul Sasuke.

Sasuke sama sekali menghiraukan Sakura. Pandangannya lurus menatap ke jalan setapak yang mereka lalui. Kedua tangannya tersembunyi di balik kantung celana panjangnya. Sakura mendengus pelan. Tangannya menggenggam erat kedua tali ranselnya di sisi tubuh. Kemudian berjalan mengikuti irama kaki Sasuke dalam diam.

Suasana pagi yang tenang di desa pelabuhan. Sakura mendongakkan kepalanya mencari burung-burung kecil yang berkicau di atas pohon-pohon besar, menoleh ke sana-ke sini mengamati rumah-rumah penduduk yang masih bergaya tradisional, suara debur ombak dan air laut yang beriak. Ahh… Tanpa sadar Sakura merentangkan kedua tangannya sambil melompat-lompat kecil. Kemudian ketika rasa ngilu menyerang kakinya—bagaimana pun Sakura mempunyai memar di sekujur tubuhnya saat ini—gadis itu segera berjongkok, mengerang seraya memegangi kakinya.

Sasuke melirik dari sudut matanya. "Bodoh," desisnya. Kemudian pandangannya bertemu dengan mata Sakura yang menatapnya sebal. Sebelah alis Sasuke terangkat, "Apa?"

Sakura berdecak lalu menggeleng. Gadis itu kembali berdiri dan menyejajarkan langkahnya dengan Sasuke. "Sasuke," panggilnya.

"Hmm," gumam Sasuke sebagai tanda bahwa ia mendengarkan Sakura.

"Saat sampai nanti, bagaimana jika," Sakura menggantung kalimatnya, ia menolehkan kepala dan memandang wajah Sasuke yang lebih tinggi daripada ia, "Ada orang yang tahu tentang kita?"

Sasuke tak langsung menjawab. Ia menarik napasnya sejenak, kemudian keningnya berkerut pertanda berpikir. Sakura sudah was-was menanti jawaban Sasuke, tapi apa yang selanjutnya keluar dari bibir pemuda itu sama sekali tak memuaskan sang Haruno muda. "Apa boleh buat."

"Hah?" Sakura memandang Sasuke sebal. "Apa boleh buat?"

Sasuke tak menjawab.

"Tunggu dulu," Sakura memotong langkah Sasuke. Gadis itu kemudian merentangkan kedua tangannya di hadapan lawan bicaranya. "Maksudmu, kita akan pasrah saja? Tidak perlu mengarang kebohongan seperti kita sebenarnya keluar pagi-pagi sekali untuk jogging? Apa yang harus kukatakan jika sensei tahu masalah ini?"

"Berisik," Sasuke memandang Sakura datar. Kalau tidak tahu siapa Sasuke sebenarnya, mungkin saat ini Sakura tengah menganggap dirinya sedang berhadapan dengan mayat hidup tanpa ekspresi. Benar-benar, deh.

"Jadi kita harus mengatakan yang sebenarnya?" tanya Sakura tak percaya. Sasuke sudah mengambil langkah menjauhi Sakura. Tapi gadis itu mengejarnya. "Eh, Sasuke!"

"Terserah kau saja."

Hah. Sakura mendengus tak percaya. Terserah kau saja? Terserah bagaimana? Hah? Mengapa pemuda itu seolah menganggap bahwa ini adalah sesuatu yang sepele? HAH? Sakura menghentakkan kakinya sebal. Sekarang ia harus bagaimana jika tertangkap basah tidak berada di penginapan semalam? berbohong? Bagaimana jika ketahuan? Kalau sampai ia mendapat hukuman atau skorsing, bisa habis nama baik ayahnya. Haaaaah.

Sakura masih akan terus memikirkan hal itu, kalau saja tidak secara sengaja ia teringat pada hal lain. Ponselnya. Saat mereka tengah berada di dalam situasi genting semalam, Sasuke sempat menyebut-nyebut soal ponselnya yang sudah ditemukan, bukan? Itu artinya, secara tidak langsung Sasuke mengetahui bahwa ponsel Sakura pernah hilang. Dan yang menjadi masalahnya adalah, Sakura sama sekali tidak memberitahukan perihal ponselnya yang hilang pada siapa pun kecuali pada Ino, Tenten, dan Karin. Apa mungkin Sasuke-lah yang menemukan ponselnya?

"Ung, Sasuke," panggil Sakura saat mereka melewati jalan aspal di sekitar tebing. "Semalam, bagaimana kau tahu bahwa ponselku sudah ditemukan? Apa kau yang menemukannya?"

Untuk sesaat, Sasuke merasakan dirinya menegang. Jika saja Sasuke tidak berada dalam posisi sedikit lebih jauh di depan Sakura, gadis itu mungkin bisa menangkap basah ekspresi terkejut Sasuke. Ah, sial. Semalam tanpa sadar ia sudah kelepasan rupanya. Sasuke memejamkan matanya seraya menarik napasnya berat. Sepertinya ia benar-benar harus mengaku. Maka dari itu sang pemuda Uchiha akhirnya memutuskan untuk berbalik menghadap Sakura, namun apa yang didapatinya adalah Sakura yang ternyata sama sekali tak memerhatikan ia.

Kepala gadis itu tertoleh ke kanan, tepatnya pada bagian bawah tebing tempat mereka berdiri sekarang. Pantai.

Sasuke langsung melemparkan pandangannya cepat pada Sakura, "Jangan pernah—" dan kata-katanya berhenti sampai di situ. Karena selanjtunya Sakura sudah menatap Sasuke dengan mata bonekanya yang berbinar.

.

"HUAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA, ini menyenangkan sekaaaaaaliiiiii!"

Sasuke memijat pelipisnya, pening. Sakura berteriak-teriak di pagi buta seperti orang gila. Gadis itu sudah lebih dahulu melemparkan sepatu, jaket, beserta ranselnya sembarangan ke atas pasir kemudian menggulung celananya dan bermain-main air di sekitar pantai. Mau mati beku, eh? Air sedingin itu bagaimana mungkin ia bisa tahan.

Sasuke memeluk tubuhnya sendiri kala merasakan angin dari laut meniup-niup ke arahnya. Embusan yang dingin membuat pemuda itu terpaksa harus mengusap-usap tengkuknya sendiri. Romanya naik, dan tulangnya jadi lebih ngilu daripada sebelumnya. Uchiha itu mendengus kesal saat menemukan kini Sakura tengah berlari-lari di sekitar pantai sambil memunguti cangkang kerang entah untuk dijadikan apa.

"Sasukeeeeeee!" panggil Sakura yang mau tak mau membuat Sasuke mengerutkan kening. "Kau mau main, tidaaaaaakkk?!"

Dengusan kesal sebelum akhirnya Sasuke berjalan mundur perlahan. Ia memandang Sakura jengkel. "Tidaaaak!" balas Sasuke dengan teriakan yang sama.

Tapi dari ujung sana Sasuke bisa melihat Sakura tertawa. Gadis itu melambaikan tangan ke arahnya sambil nyengir-nyengir. Membuat Sasuke berkali-kali harus berdecak sebal. Sebelum akhirnya menyadari bahwa langkah kakinya menuntun pemuda itu untuk berjalan mendekat pada si gadis. Sasuke kemudian mendapati dirinya telah berada tak jauh dari Sakura. Angin laut membuatnya mengumpat pelan.

"Kau bilang tidak mau main?" Sakura memandang Sasuke dengan mata yang disipitkan. Telapak tangan gadis itu sudah penuh oleh kulit kerang bercampur pasir. Sasuke jadi bergidik karenanya.

"Memang tidak," ketus Sasuke. Ia mendegus keras-keras sebelum akhirnya berbalik. Tapi Sakura sudah lebih dulu membuang seluruh tangkapannya dan berlari seraya mengamit lengan Sasuke. Mata Sasuke membulat dan ia memelototi Sakura. Apa-apaan gadis itu seenaknya dengan tangan yang basah mengamit lengannya? Namun seakan sama sekali tidak menyadari perubahan ekspresi Sasuke, Sakura menggiring pemuda itu agar berdiri di tepi pantai bersamanya.

"Sebentar lagi sunrise," ujar Sakura. Sasuke mengeluarkan tampang jengkel, tapi Sakura tak memerhatikannya. "Kita lihat sunrise dulu, ya? Baru setelah itu kembali ke penginapan."

Sasuke berdecak. Ia hendak menolak usulan Sakura, tapi gadis itu mendadak nyengir lebar ke arahnya. Membuat Sasuke merasakan sesuatu yang lain, yang menjadikannya tidak dapat menolak permintaan Sakura. Bahkan sentuhan Saku—ah, Sasuke baru sadar bahwa lengan mereka masih bergandeng. Cepat-cepat Sasuke menyentak tangan Sakura dan melepaskan lengannya.

Sakura mendengus dan memasang wajah menyebalkan. "Oops, sorri," katanya. Setelahnya wajah gadis itu kembali ceria. Ia mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi ke udara. Kemudian saat selarik oranye mulai terlihat membentang di hadapannya, Sakura bersorak sambil melompat-lompat gembira.

"Waaaaaahhh indah sekali, indah sekali!"

Sasuke yang berdiri di samping Sakura hanya bisa menahan dengusan gelinya. Sakura tidak hanya bisa terlihat seperti orang gila, namun anak kecil yang kelewat antusias. Benar-benar aneh, konyol, menggelikan. "Huh," tanpa sadar Sasuke mendengus juga. Ia lantas menundukkan kepalanya dan memandang kakinya dan kaki Sakura yang sama-sama menjejak di atas pasir yang digenangi air. Kemudian ketika kepalanya kembali terangkat, perlahan-lahan siluet matahari nan indah merangkak naik meninggalkan peraduan.

"Waaahh," Sakura mendesah senang. "Lihatlah dengan siapa aku menyaksikan matahari terbit secantik ini!"

Otomatis Sasuke menoleh. Alisnya naik memandang Sakura yang masih menatap lurus pada pemandangan indah di depannya. Apa mau gadis ini?

"Sasuke Loveeeeeerrrrr," Sakura berseru ke arah laut. Tangannya berada di sisi mulut agar suara teriakannya lebih jelas terdengar. "Lihatlah penghianat ini sedang berduaan dengan pangeran kaliaaaaaaaannn!"

Setelahnya Sakura tertawa-tawa. Lalu kepalanya tertoleh mendapati Sasuke yang entah sejak kapan tengah memerhatikannya sedalam itu. Sakura mengangkat sebelah alisnya tinggi-tinggi, lalu tertawa renyah. "Kenapa?"

Sasuke memicingkan matanya pada Sakura. "Penghianat?"

Kedua alis Sakura terangkat. "Hm? Ooh, itu sebutan untuk orang yang keluar dari grup Sasuke Lover," tukas Sakura cuek.

Sasuke masih tak mengalihkan pandangnya dari Sakura. "Kau keluar?"

"Kau tidak tahu?" sela Sakura enteng tanpa memandang Sasuke. Gadis itu kini kembali sibuk dengan matahari terbitnya. Bersorak-sorak, tertawa, hingga rinai suaranya sama-sama tertelan debur obak pantai. Sedang Sasuke masih dalam posisi semula, berdiri memandangi gadis yang ada di sisinya itu. Tawanya yang cerah, mata hijaunya yang bulat, indah, yang akan menyipit kala ia tergelak atau mengulas senyuman, hidungnya yang kecil, bibirnya yang tipis, rambut pendeknya yang diikat di belakang kepala, rambut si sisi telinganya yang halus dan tertiup angin, pipi putihnya, pipi dengan lesung itu, bahkan lehernya, seluruh tubuhnya. Sasuke menjelajah tanpa ampun dengan matanya. Sama sekali tanpa jeda.

Maka ketika Sakura kembali memandangnya dengan senyuman dan diakhiri tawa, Sasuke merasakan sebelah tangannya naik menyentuh dada. Memukul perlahan tempat di mana jantungnya berdiam. Sungguh. Gadis ini, gadis ini…

Sepertinya benar-benar akan membuat Sasuke menderita. []


.

A/N: Halo, masih ada yang ingat dengan fanfic ini? Haha… Maafkan saya karena mengupdatenya terlalu lama (sudah satu tahunkah? Haha). Maafkan saya juga karena tidak bisa membalas review-nya satu-satu. Untuk chapter kali ini, semoga reader sekalian puas dengan momen SasuSaku-nya, ya. Terima kasih ^^

Kritik, masukan, dan saran selalu saya terima, kok. Jaa ~