~From Far Away~
.
Author : Kiela Yue
Genre : Boys love. Romance, Fantasy
Cast : Luhan, Sehun, Kai, Chanyeol, Baekhyun, and EXO members.
Plus~ 2min, Daezel dan Henry Lau…
Rating : T
Length : 7/?
Disclaimer : Semua cast milik Tuhan YME, kecuali OC. Cerita ini benar – benar murni dari otak saya yang selalu di penuhi oleh makhluk planet EXO. NO PLAGIAT! Thanks.
Yang plagiat semoga jadi amnesia.. Amiin.
.
Fantasy
.
Summary
Setiap generasi, negeri Oberon selalu kedatangan manusia dari dunia Lain yang memiliki kekuatan. Manusia itu akan menikah dengan raja yang sedang berkuasa agar keturunannya tetap memiliki kekuatan magis. Tapi bagaimana jika manusia dari dunia lain itu ternyata namja dan rajanya juga namja? HunHan/Kailu/Baekyeol another pairs.
.
.
.
Chapter 7
Beberapa hari kemudian Luhan sudah sembuh namun ia masih malas keluar karena Baekhyun pasti akan memintanya untuk main kerumahnya meski mereka sekarang jarang melakukan berbagai macam perawatan karena jemari Luhan sudah sama lembutnya dengan milik Baekhyun. Karena merasa bosan, Luhan meminta Taeyeon membawakannya buku, dan ia menghabiskan waktunya untuk membaca. Taeyeon memberinya berbagai macam buku, mulai dari sejarah kisah raja – raja terdahulu mereka, buku yang menurut Luhan seperti novel dan berbagai macam buku tebal lainnya. Kesenangan Luhan terganggu saat Tiffany muncul dikamarnya dengan sebuah keranjang rotan yang penuh dengan buku – buku tebal berbagai macam ukuran.
Luhan menautkan alisnya, "Apa itu?"
"Oh ini… Taeyeon eonnie bilang kamu ingin buku, jadi aku dengan senang hati membawakanmu buku tentang berbagai macam pengobatan. Siapa tahu kamu berbakat jadi dokter meski menurutku kamu sedikit o-on."
"Yaakkkk! Bisa tidak kamu jangan selalu menggangguku?" bentak Luhan.
"Tidak," jawab Tiffany jujur. "Aku senang dan bahagia kalau melihatmu kesal. Beneran loh. Lagipula kami belum tahu apa kekuatanmu. Jadi menurutku kamu perlu mempelajari pengobatan, setidaknya kamu jadi berguna."
Tubuh Luhan menegang saat Tiffany menyinggung kekuatan. Ia merahasiakannya karena ia tidak ingin ada yang tahu. Ternyata mereka semua justru menunggu kekuatan apa yang ia punya.
"Kamu kenapa Luhan? Kok wajahmu jadi macam Sehun begitu? Tegang?"
"Ti-tidak ada. Terima kasih atas kebaikan hatimu."
Tiffany mengerutkan keningnya karena Luhan benar – benar penurut dan tidak membantah. Sepertinya Sehun memang mengatakan sesuatu pada Luhan dimalam itu. "Kenapa kamu berubah Luhan? Apa Sehun mengatakan sesuatu padamu?"
Tepat sekali. Namun Luhan mengatakannya dalam hati. Kalau yang sebenarnya ia menggeleng dan Tiffany pun keluar karena menurutnya Luhan sudah ga asyik lagi. Apa mungkin anak itu ketularan Sehun? Aish, berarti virus wajah tegang Sehun memang menular dan ia berharap menemukan obat penangkalnya meski rasanya mustahil.
Luhan baru ingin bernafas lega karena Tiffany keluar, namun Baekhyun masuk dan mengatakan kalau ia sangat mengkhawatirkan keadaan Luhan. Ia juga meminta maaf karena katanya Luhan jadi seperti karena kesalahannya mengadu pada Chanyeol. Luhan sampai merasa sakit kepala saat harus menjelaskan berkali – kali pada Baekhyun kalau sekarang ia tidak apa –apa dan tidak perlu menyesali yang sudah terjadi.
Untuk mengusir Tiffany, Luhan sudah menggunakan jurus pura – pura patuh. Sedangkan untuk Baekhyun jurus itu tidak mempan. Yang ada yeoja itu malah semakin betah dikamar Luhan dan mengobrol berbagai macam hal yang menurut Luhan tidak penting untuk ia ketahui. Namun karena Luhan sedang tidak berminat untuk bicara dengan siapapun, ia pun pura – pura mengantuk. Seperti yang diduganya, Baekhyun langsung berpamitan dan begitu Baekhyun keluar, Luhan langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan kearah balkon kamarnya.
Luhan menyeret kursi yang ada didalam kamarnya keluar dan ia duduk dikursi itu sambil menidurkan kepalanya dipagar balkon kamarnya. Tangannya ia lipat dan dijadikan bantalan. Rasanya ia benar – benar jadi putri yang dipingit sekarang. Kalau mamanya melihat penampilannya sekarang, Luhan yakin yeoja tua itu akan berteriak – teriak karena kesenangan. Mamanya pernah bercerita kalau dulu mamanya sangat menginginkan anak perempuan, namun yang lahir justru laki – laki dan katanya ia sudah malas untuk melahirkan lagi karena rasanya sangat sakit. Papanya pernah meminta untuk melahirkan anak lagi karena katanya satu anak terlalu sepi, namun ommanya malah berkata tidak masalah kalau appanya yang melahirkan. Appanya pun tersenyum maklum dan sejak saat itu tidak pernah memintanya lagi. =_=
Air mata Luhan mengalir begitu saja, ia begitu merindukan mamanya sekarang. Apa mereka memang sudah tidak bisa lagi bertemu? Meski usil, mamanya sangat baik dan selalu memenuhi permintaan Luhan.
Saat ulang tahunnya yang kesepuluh, dirumah Luhan diadakan pesta yang meriah dan semua teman –temannya diundang. Begitu juga dengan semua kolega bisnis papanya. Saat itu Luhan berganti baju dikamarnya sambil menonton televise yang sedang menayangkan seorang artis yang pergi ke panti asuhan dan merayakan ulang tahunnya bersama anak – anak yatim disana. Artis itu berkata, lebih baik aku menghabiskan uangku untuk berbagi dengan mereka yang kurang beruntung daripada mengadakan pesta yang tidak berguna. Luhan yang merasa kalau perkataan artis itu benar, tiba – tiba menangis kencang hingga mamanya berlari kedalam kamarnya.
"Kamu kenapa sayang? Kok malah menangis?" mamanya menghapus air mata Luhan dan memeluknya.
"Mama~ Luhan ingin seperti itu," ujar Luhan sambil menunjuk televise. Mamanya mengikuti arah telunjuk Luhan dan kemudian ia mengangguk pelan.
"Luhan ingin berbagi seperti mereka juga, sayang?"
Luhan mengangguk imut sambil mengerjapkan matanya imut.
"Tapi papa dan mama sudah menyiapkan pesta untukmu dan undangan juga sudah mulai berdatangan."
"Pokoknya Luhan tidak mau pesta yang tidak berguna." Luhan mulai berteriak.
Mamanya menghela nafas pelan, sejujurnya ia senang karena anaknya memiliki kepedulian yang besar. Ia pun memanggil suaminya dan mendiskusikan hal itu. diluar dugaan, suaminya mengangguk setuju.
"Memang lebih bagus seperti itu. Kalau masalah pesta, bisa dibatalkan bukan? Cepat suruh orang agar menyiapkan semuanya. Besok kita pergi ke panti asuhan untuk merayakan ulang tahun Luhan."
"Tapi, bukankah besok papa ada kerja?" Tanya Luhan. "Kalau papa sibuk, papa tidak usah ikut."
Papanya tertawa dan mengangkat tubuh Luhan tinggi – tinggi. Ia begitu senang memiliki anak seperti Luhan.
"Kalau untuk anak papa yang tampan ini, papa bisa libur."
"Benarkah?" mata Luhan berbinar jenaka.
"Benar!"
"Waaaa~~~~" Luhan langsung meloncat – loncat kegirangan. "Makasih mama, makasih papa.." Luhan menciumi pipi kedua orang tuanya bergantian.
"Luhan harus kasi tahu sama Henry." Luhan langsung berlari keluar untuk mencari teman dekatnya sekaligus sepupunya. Henry berteriak senang karena jujur saja lama – lama didalam ruangan seperti ini terasa membosankan.
Keesokan harinya, Luhan terlihat begitu bersemangat dan tidak mempedulikan keringatnya yang mulai mengucur deras. Ia bersikeras agar ia sendiri yang membagikan makanan untuk anak – anak malang itu. Orang tuanya tidak melarang dan ikutan membantu.
Saat acara makan selesai, Luhan heran melihat Henry yang muncul dengan memakai kostum pangeran seperti dalam film. "Kenapa kamu memakai pakaian begitu?"
"Entahlah, tante yang menyuruhku," jawab Henry dengan nada cuek seperti biasanya. Tidak berapa lama, mama Luhan muncuk dengan membawa baju 'aneh' ditangannya.
"Itu apa mama?" entah kenapa Luhan merasa saat ini bulu kuduknya merinding. Sepertinya mama-nya punya rencana lain.
"Begini, mama mau membuat pertunjukan drama sleeping beauty untuk menghibur anak – anak itu. Henry akan jadi pangerannya, dan Luhan akan jadi putrinya. Bagaimana? Kamu mau kan sayang?"
"Tidak!" Luhan menjawab dengan cepat. Ia kan laki – laki, kok malah disuruh pakai gaun sih? "Kalaupun ada drama, kenapa bukan Henry saja yang jadi putrinya, aku jadi pangerannya?"
"Dia tidak cocok," Henry tersenyum meremehkan mendengar perkataan mama Luhan barusan.
Awalnya Luhan menolak dengan berteriak, namun setelah mamanya bilang anak – anak panti menunggu penampilannya, Luhan pun pasrah saja. Luhan sangat marah saat tahu Henry mencium bibirnya saat membangukannya dan bukannya seperti yang ia minta agar ciumannya di pipi saja. Namun Henry cuma nyengir dan dengan santai ia melenggang pergi meninggalkan Luhan yang dikelilingi anak panti karena kagum pada kecantikannya.
Cepat – cepat Luhan menghapus air matanya. Sekarang ia cuma bisa berdoa agar ia memang bisa pergi dari sini secepat mungkin sebelum perasaannya pada Sehun makin besar. Ia takut seperti kata Taeyeon, manusia asing yang tidak ingin kembali keduninya karena terlalu mencintai raja disini.
Luhan menoleh kearah pintu saat seseorang mengetuk pintu kamarnya dari luar. "Siapa?" tanyanya.
"Saya pelayan yang disuruh nona Taeyeon untuk mengantarkan kue ke kamar anda, agasshi."
Sebenarnya Luhan merasa aneh kenapa Taeyeon menyuruh orang lain, padahal biasanya ia sendiri yang mengantarkannya. Tapi sudahlah, mungkin Taeyeon sibuk. Luhan pun membuka pintu dan mempersilakan orang itu masuk lalu kembali duduk di balkon kamarnya.
"Saya letakkan diatas meja, ya agasshi."
"Hmm.." Luhan cuma bergumam karena sekarang ia fokus untuk melihat Sehun, Chanyeol, dan penasehat angelic-nya itu. Sepertinya ketiga orang itu mempunyai kesenangan bicara dihalaman. Meski ada begitu banyak yang bisa Luhan lihat, namun semuanya tampak blur dan yang terlihat dengan jelas hanya Sehun. Agak aneh sih, serasa melihat dari lensa kamera.
"Agasshi…"
"Eoh?" Luhan terkejut saat mendapati kalau ternyata pelayan itu masih ada di dalam kamarnya. Ia menyipitkan matanya saat menyadari kalau wajah pelayan itu tidak lagi terlihat manis seperti saat pertama kali datang, ekspresinya sekarang terlihat seperti orang yang hendak membunuh. Luhan ketakutan sekarang. Apalagi saat orang itu mulai mendekati Luhan dengan langkahnya yang berdiri dari duduknya dan berpegangan erat pada pagar balkon kamarnya. "K-kamu mau apa?" Menyebalkan sekali, kenapa suaranya terdengar bergetar.
"Aku menginginkan apa? Tidak ada selain dirimu, agasshi. Pemimpinku bilang kamu bisa dijadikan untuk memancing emosi Sehun. Jadi ikutlah dengan tenang kalau kamu tidak ingin terluka."
Sehun? Luhan berpikir betapa jahatnya orang ini yang bahkan memanggil Sehun dengan namanya tanpa embel – embel Yang Mulia. Pelayan itu mulai mengeluarkan pisau dari balik lengan bajunya yang panjang. Tidak! Luhan berteriak dalam hati. Kalau ia mati sekarang, berarti hilang sudah kemungkinannya untuk bertemu kembali dengan mamanya, padahal ia baru saja mengingat kenangan indah.
Luhan memejamkan matanya dan mulai fokus untuk mengendalikan pikiran pembunuh di depannya. Ia membuat orang itu berbalik, lalu berlari ketengah lapangan dan mengadu pada Sehun kalau ia adalah mata – mata yang ditugaskan untuk membunuh Sehun, atau memancingnya keluar dengan menyandera seorang yeoja yang sepertinya menarik perhatian Sehun. Luhan merasa kepalanya sedikit sakit karena mengendalikan tindakan orang ternyata susah, apalagi orang ini melakukan perlawanan.
Dengan cepat Chanyeol langsung mengunci pergerakan orang itu dan Suho membantunya untuk menggeledah pakaiannya. Ternyata didalam gaunnya ditemukan pisau berbagai macam ukuran, belum lagi serbuk – serbuk aneh yang diduga mungkin racun. Untuk sesaat pelayan gadungan itu tidak memberontak, namun tiba – tiba saja ia meludahi wajah Sehun dan mendapat balasan tamparan yang sangat keras dipipinya dari Suho hingga darah segar mengalir dari sudut bibirnya. Luhan bernafas lega setelah mata – mata sekaligus pembunuh itu diikat, iapun menghentikan tindakannya untuk mengendalikannya karena Luhan sudah berkeringat kecapekan.
"Siapa perempuan jalang itu!?" yeoja itu berteriak. "Apa yang sudah ia lakukan padaku hingga aku mengakui perbuatanku begini?"
Mereka bertiga saling memandang. Chanyeol menunduk dan mengamati wajah yeoja itu. "Siapa maksudmu?"
Yeoja itu memamerkan smirk nya, "Yeoja jalang yang ada disana!"
Otomatis mereka melihat kerah yang ditunjuk, mereka terkejut saat melihat Luhan yang sedang memandangi mereka dari balkon kamarnya seperti biasa.
"Ada apa dengannya?" Tanya Chanyeol lagi.
"Tanyakan saja padanya, BODOH!" darah kembali keluar dari bibir yeoja itu begitu selesai bicara karena ia lagi – lagi mendapat tamparan keras dipipinya, kali ini yang menamparnya adalah Chanyeol. Tanpa perlu basa – basi lagi, Chanyeol langsung mengiring yeoja itu ke penjara untuk ditanyai, diikuti Sehun dan Suho dibelakangnya. Berbahaya kalau ia melakukan interogasi disini.
Luhan berpura – pura memandang heran kearah mereka meski ia sangat ketakutan jika ketahuan ia memiliki kekuatan yang hebat. Kekuatan mengendalikan orang melalui pikiran, telekinesis. Luhan pernah membaca cerita ada kekuatan seperti ini didalam cerita, namun sama sekali tidak menyangka ia memilikinya. Mungkin pertimbangan Sehun untuk memberikannya kepada orang yang seharusnya memang tepat. Rasanya kalau tetap disini ia hanya akan menjadi beban bagi Sehun, seperti sekarang. Meski ia mencintai Sehun dan tidak ingin jauh dari orang itu, meski Luhan takut terhadap sang raja yang belum ia kenal, tapi sekarang Luhan memutuskan untuk pergi saja menghadiri pesta itu. Kalau memang perlu, ia akan mengaku sebagai manusia asing. Tidak masalah jika harus menikah dengan namja selagi itu untuk keselamaan Sehun. Apapun akan Luhan lakukan.
Untuk beberapa saat suasana kembali sunyi seperti biasa. Namun beberapa saat Luhan merasa jantungnya hampir copot karena pintu kamarnya dibuka dengan kasar oleh Chanyeol.
"Ada apa Chanyeol? Kenapa wajahmu terlihat panik begitu?"
Chanyeol tidak menjawab, tapi ia langsung mencengkeram kedua bahu Luhan dengan tangan besarnya. "Jawab yang jujur, Luhan. Kamu memilki 'kekuatan' kan?"
Luhan tidak tampak terkejut dengan pertanyaan Chanyeol barusan, ia sudah memperkirakan hal seperti ini pasti terjadi. "Apa maksudmu, Chanyeol?" tanyanya dengan nada se innocent mungkin.
Chanyeol tampak bingung dengan ekspresi Luhan yang biasa saja. "Jangan mengelabuiku Luhan. Kemarin itu tiba - tiba saja ulat bulu membesar saat aku menunjukkannya padamu, padahal itu ulat biasa. Lalu mata – mata tadi mengatakan ia hendak mencelakakanmu namun tiba – tiba saja ia berubah pikiran. Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Aku tidak tahu apa – apa, sungguh!"
"Aku tidak percaya!"
Cengkeraman tangan Chanyeol makin kuat dan itu membuat Luhan harus menggigit bibirnya menahan rasa sakit dibahunya. Wajah Chanyeol juga sangat dekat dan entah kenapa Luhan merasa wajahnya memerah.
"Jangan main – main, Luhan. Aku tahu dengan jelas. Katakan pada kami, atau setidaknya padaku apa kekuatanmu." Chanyeol menatap jauh kedalam mata Luhan, namun Luhan mengalihkan pandangannya. "Tatap mataku Luhan, dan jujurlah padaku."
Chanyeol mendorong tubuh kurus Luhan hingga membentur dinding kamar, wajah Luhan yang kesakitan tidak ia pedulikan.
"Chanyeol! Apa yang kau lakukan?" Tiffany yang baru muncul langsung menghentikan kekasaran Chanyeol. "Kamu kenapa sih? Masih marah karena Luhan mengerjai Baekhyun? Itu kan sudah beberapa hari yang lalu dan kamu masih dendam?"
"Tidak, tidak, bukan begitu. Ma'af Luhan, aku salah sangka." Chanyeol langsung berlalu meninggalkan Tiffany yang masih menggerutu dibelakangnya.
"Kamu tidak apa – apa?" Tiffany khawatir melihat Luhan yang memegang bahunya dengan tangan yang bergetar. Namun tangannya diterpis Luhan dengan kasar.
"Aku tidak apa – apa, Tiffany…"
"Tapi bahumu….."
"Kubilang aku tidak apa – apa!" bentak Luhan. Lalu ia langsung berlari keluar. Namun Tiffany yang bingung dengan kelakuannya masih sempat melihat kalau Luhan menangis.
.
.
.
Luhan tidak melakukan apapun selain duduk dikursi panjang tempat ia bertemu dengan Sehun dimalam itu. Ia memandangi kupu – kupu warna – warni yang hinggap dari satu bunga ke bunga lain dengan pandangan kosong. Sepertinya menyenangkan jika bisa bebas terbang seperti mereka. Lega tanpa beban apapun. Tidak seperti dirinya yang sedang memikirkan berbagai hal, ia yang biasanya adalah orang yang ooptimis dan tidak terlalu banyak berpikir. Tapi sekarang tidak mungkin ia tetap santai, apalagi setelah kejadian barusan, hampir saja ia dibunuh dan ini bukan pertama kalinya orang menginginkan nyawanya. Sebegitu banyaknya orang yang tidak menginginkannya didunia ini. Belum lagi bahunya yang terasa sakit. Luhan merasa menyesal karena tadi mengabaikan Tiffany, seharusnya ia meminta yeoja itu untuk mengobati bahunya.
Dengan langkah pelan dan sesekali menendang kerikil kecil, Luhan berjalan kembali kedalam istana. Ia sudah memutuskan untuk menyembuhkan bahunya. Kan menyakitkan kalau ia banyak berpikir sedangkan bahunya sakit. Sesekali ia menghembuskan nafasnya dengan berat dan berharap semua ini hanya mimpi walau itu amat sangat tidak mungkin.
.
.
.
.
.
.
Semenjak melukai bahu Luhan, Chanyeol tidak pernah lagi muncul. Lagipula Luhan memang sudah tidak ingin bertemu dengannya. Bukan karena benci, tapi karena ia takut akan semakin berat untuk meninggalkan tempat ini. Istana yang dipenuhi orang – orang berhati mulia. Luhan lebih banyak menyendiri selama seminggu terakhir sebelum ia diberangkatkan ke pestanya Kai. Taeyeon dan Tiffany sibuk mempersiapkan segala sesuatunya, seperti gaunnya, hiasan ramput, sepatu dan berbagai macam hal yang tidak menarik perhatian Luhan sama sekali. Tapi biarlah, dengan begitu ia tidak perlu lagi bertemu dengan banyak orang.
Luhan hampir tidak tidur semalaman karena ia terus saja terbangun hampir setiap jam. Alhasil ia bisa bangun sendiri tanpa harus dibangunkan Tiffany dengan berbagai cara uniknya. Seperti mencubit pipinya, menampar butt-nya dengan sangat keras, mencabut rambutnya, mengolesi cairan panas seperti mint dibawah matanya, meniup telinga dan tengkuknya dengan sexy dan sengaja menggoda Luhan, bahkan Tiffany pernah membangunkannya dengan membuka seluruh bajunya dan hanya menyisakan boxer saja. Dan Luhan terbangun saat udara dingin menyentuh kulitnya karena Tiffany membangunkannya beberapa jam sebelum matahari terbit!
Saat suasana masih gelap, Luhan keluar kamarnya dan duduk di balkon kesayangannya. Ternyata pemandangan dari sini bisa juga indah meski masih gelap. Bulan sabit yang terlihat sedikit besar dari yang ada di dunia awal Luhan melengkung indah membentuk senyuman. Sangat cantik. Bahkan tanpa sadar Luhan ikutan tersenyum melihatnya. Dinginnya angin malam yang berhembus sama sekali tidak terasa mengganggu. Luhan malah merasa desiran angin yang lembut itu seolah menemaninya, seperti Sehun yang tengah membelai rambutnya dengan kekuatan angin yang dimilikinya. Surai coklatnya yang mulai panjang karena tidak pernah dipotong berkibar ditiup angin. Suasana yang tenang seperti ini membuat perasaan Luhan melayang entah kemana. Rasanya seperti terbang meski tanpa sayap.
Selang beberapa saat, matahari mulai keluar dari peraduannya dan memancarkan kehangatannya. Luhan tertidur dengan nyenyak dibalkon kamarnya dengan sedikit air mata yang mengalir dari sudut matanya. Jujur saja hati Tiffany tersentuh. Sebenarnya ia tidak tega membangunkan Luhan, tapi ia harus cepat kalau tidak ingin terlambat. Dengan gerakan lembut, Tiffany menggoyangkan bahu Luhan. "Luhaan~ kamu harus bangun."
Luhan menggeliat perlahan, tapi ia sama sekali tidak membuka matanya.
"Luhan…cepat bangun Luhan. Nanti Yang Mulia Sehun marah kalau kamu sampai terlambat berangkat."
Mendengar nama Sehun, Luhan langsung terbangun dan matanya melotot seketika. "Ini sudah jam berapa?" tanyanya dengan suara yang berat, khas orang baru bangun tidur.
Sebenarnya Tiffany masih ingin mengganggu Luhan seperti biasa. Masa mata Luhan yang masih terpejam terbuka secepat itu saat mendengar nama Sehun? Sepertinya dulu ia lupa melakukan cara ini. Tapi ia mengurungkan niatnya karena sepertinya sekarang bukan saat yang tepat untuk bercanda.
"Masih pagi. Tapi kita harus cepat bersiap – siap. Hari ini kamu pergi bukan?"
Luhan mengangguk lemah. Tanpa diminta, ia pun langsung melangkah keluar pergi untuk mandi dan membersihkan badannya. Tidak lama kemudian Taeyeon datang dengan membawa gaun yang menurut Luhan sangat cantik jika bukan ia yang memakainya. Namun juga sedikit menjijikkan karena memang ia yang harus mengenakannya. Tiffany bertugas untuk memakaikan bajunya, sedangkan Taeyeon sibuk merias wignya. Seperti biasa, wig-nya sengaja diberi jepitan – jepitan kecil agar tidak terlepas. Luhan memperhatikan dengan seksama bagaimana mereka melakukannya karena saat di istana Kai nanti ia yang harus merias dirinya sendiri. Taeyeon dan Tiffany tidak boleh ikut karena pelayan di istana sudah disiapkan untuk menyambut dan melayani setiap putri yang datang.
"Nah, selesai…" ujar Taeyeon setelah ia memolesi bibir Luhan dengan cairan berwarna pink lembut. Luhan berdiri di depan cermin dengan lama untuk pertama kalinya. Biasanya ia selalu menolak untuk berdiri di depan benda yang selalu bersikap jujur itu. Luhan bisa melihat dengan jelas bagaimana cantiknya ia sekarang. Jauh lebih cantik daripada saat Taemin mendandaninya dulu. Dulu? Luhan merasa semakin sedih. Kalau menggunakan kata dulu, berarti ia sudah lama disini. Apakah ia masih lama disini? Kalau iya, untuk berapa lama ia berada disini? Luhan tidak tahu itu.
"Kamu sangat cantik, Luhan… aku yakin kamu jauh lebih cantik daripada putri – putri yang muncul nanti," Taeyeon berkata dengan jujur karena ia memang selalu menyayangkan kenapa Luhan itu namja.
Luhan hanya memberikan senyuman manisnya untuk menjawab Taeyeon. "Ayo kita keluar, nanti yang Mulia terlalu lama menunggu." Luhan langsung berjalan keluar diikuti oleh Taeyeon dan Tiffany yang berjalan sejajar dibelakangnya.
Saat mereka tiba di halaman depan istana yang luas, mereka melihat disitu sudah ada Sehun dan Chanyeol. Hanya mereka berdua saja. Sedangkan Baekhyun dan Suho tidak terlihat. Padahal Luhan masih ingin berterima kasih pada Baekhyun yang sudah selalu baik padanya. Kereta kuda dan dua orang prajurit pengawal yang akan menjaga Luhan selama perjalanan terlihat menunggu diluar gerbang. Luhan sebenarnya tidak ingin bertanya, tapi karena sudah tidak tahan lagi, ia pun bertanya. "Baekhyun mana, Chanyeol?"
Chanyeol menampilkan senyuman bodohnya seperti biasa. "Dia tidak tahu kamu siapa, Luhan. Jadi kami membohonginya lagi dan bilang kalau kamu pergi untuk mencari orang tuamu. Jadi ia tidak bisa mengantarmu."
"O-oh, begitu ya.. kalau begitu, sampaikan salamku padanya. Tolong ya, Chanyeol.."
"Sipp.." Chanyeol mengangkat jempolnya.
Luhan pun beralih kearah Sehun, "Terima kasih atas kebaikan anda selama ini dan sudah menyelamatkan hidup saya dari monster – monster itu. dan juga telah membiarkan saya hidup disini selama beberapa bulan ini. Terima kasih, Yang Mulia…" ujar Luhan sambil membungkuk.
"Ne." hanya itu yang keluar dari bibir tipis Sehun.
Saat Luhan hendak bicara pada Tiffany, yeoja itu cepat – cepat memotong. "Sudahlah Luhan, kamu ingin berterima kasih pada 'kebaikan' hatiku kan? Tidak apa – apa. Semua kulakukan dengan ikhlas. Jujur saja, aku senang dengan kedatanganmu. Kadang aku cukup bosan bicara dengan Taeyeon yang tidak selalu bisa bercanda sepertimu. Kalaupun Chanyeol menyenangkan, ia terlalu sibuk dengan urusannya hingga jarang datang ke istana. Lagipula aku tidak bisa terlalu dekat dengannya karena aku takut Baekhyun akan mengira aku mencintai kekasihnya dan ingin merebutnya. Karena itulah Luhan, aku tidak ingin mendengar kata- kata perpisahan apapun darimu. Aku yakin kamu pasti akan kembali kemari karena Yang Mulia Kai itu pasti tidak akan mengenalimu. Percayalah."
"Siapa bilang aku mau mengucapkan terima kasih padamu?" Tanya Luhan dengan nada aneh. Rasanya ia tidak perlu terlalu bersedih. "Aku hanya ingin mengingatkanmu jangan terlalu lama berada diluar saat malam kalau kamu tidak ingin masuk angin dan mengeluarkan 'kekuatan angin'mu dimana saja seperti hari itu."
Hmffppt, Chanyeol menutup mulutnya berusaha menawan tawa, Sehun tersenyum simpul mengingat kejadian lucu itu (Chapter 5) sedangkan Taeyeon hanya diam saja karena setelah Sehun, ialah yang paling bersedih berpisah dengan Luhan.
Tiffany menutup mukanya karena malu dan ia langsung berlindung dibelakang Taeyeon karena tidak sanggup melihat Sehun dan Chanyeol. Luhan sialan! Padahal aku sudah berbaik hati, tapi dia malah mempermalukanku. Kalau nanti kamu kemari lagi, aku akan menyiapkan siksaan yang lebih hebat lagi. Lihat saja nanti! Tiffany menghujat dalam hati karena ia kesal pada Luhan.
"Taeyeon eonnie…"
"Luhan!" Taeyeon langsung memeluk Luhan. Chanyeol membulatkan matanya karena tidak menyangka Taeyeon melakukan itu. "Jangan ucapkan yang aneh – aneh, adikku. Aku tahu kamu pasti kembali kemari. Percayalah. Segala sesuatu bisa menjadi nyata kalau kita mempercayainya. Berhati – hatilah di..jalan.." Suara Taeyeon jadi aneh karena ia menangis dan Luhan berusaha sekuat tenaga agar ia tidak eksis menangis dengan Taeyeon. Malu, ada Chanyeol dan Sehun. -_-
Luhan pun melepas pelukannya dan berjalan mundur. Ia membungkuk dalam didepan mereka berempat. "Aku pergi…" ujarnya lalu berbalik. Sehun melihat gerakan Luhan seperti di slow motion. Semua gerakan Luhan terlihat lambat dimatanya. Luhan semakin menjauh dan hatinya juga semakin sakit. Ia mengepalkan tangannya dan berusaha untuk tetap terlihat seolah tidak terjadi apa – apa.
Sekarang ini Luhan tidak lagi mengharapkan apapun dari seorang Oh Sehun yang telah memutuskan untuk mengirimnya pergi. Ia sudah semakin bisa menguasai kekuatannya. Bahkan kerikil – kerikil kecil yang ada didepannya bisa ia singkirkan dengan gerakan lembut hingga tidak ada yang menyadarinya. Luhan berjalan dengan langkah yang pasti dan sama sekali tidak menoleh kebelakang. Ia takut ia akan menangis seperti anak kecil yang cengeng. Kalau namja bernama Kai itu mengenalinya sebagai manusia asing, tidak apa – apa karena masih ada yang meu menampungnya. Tapi kalau tidak, bukankah ia bisa kembali lagi kemari?
Tangisan Taeyeon pecah saat Luhan sudah masuk kedalam kereta kuda dan tidak sekalipun menoleh kearah mereka.
"Ish, sempat – sempatnya ia mempermalukanku. Wajahnya memang sekeras kulit badak atau kuda nil. Aku yakin itu!" omel Tiffany.
Taeyeon tidak mempedulikan Tiffany yang berusaha menghiburnya dengan berbagai lelucon konyolnya. Ia tahu dengan jelas, Luhan pasti menangis karena berpisah dengan Sehun. Ia tahu kalau mereka berdua saling mencintai. Tapi sepertinya ia tidak bisa melakukan apapun dan itu yang membuatnya kesal. Taeyeon dan Tiffany berjalan kekamar Taeyeon, sedangkan Chanyeol dan Sehun tetap berada di halaman istana. Sebenarnya Sehun ingin masuk juga, tapi karena ditahan Chanyeol, iapun ikutan berdiam diri disana.
"Anda melakukan kesalahan, Yang Mulia."
Sehun menghela nafas. Kalau Chanyeol memanggilnya dengan formal seperti ini, berarti temannya itu sedang serius. "Maksudmu?"
"Anda salah besar menyuruhnya memakai pakaian yeoja selama ia disini. Kalau memang anda berniat menyembunyikannya dengan benar, berarti anda harus membiarkannya sebagai namja. Bukankah tidak seorangpun yang tahu kalau manusia asing itu sudah muncul? Atau kalaupun ada yang tahu, mereka akan mengira manusia itu yeoja. Tidak ada yang mengira ia namja, Yang Mulia. Dan lagi, sepertinya ia menyimpan perasaan pada anda."
"Tentu saja. Ia pasti berterima kasih padaku bukan? Buktinya ia mau saja kusuruh memakai pakaian yeoja walau seperti katamu tadi aku melakukan kesalahan."
"Heh,," Chanyeol menyeringai mendengar perkatan Sehun barusan. Ia tahu betul kalau Sehun itu keras kepala dan selalu menutupi perasaannya yang sebenarnya. "Jadi, anda tidak menghadiri pesta Yang Mulia Kai?"
"Menurutmu?"
"Awalnya anda pasti akan berkata tidak akan mengunjunginya dengan berbagai alasan. Pertama, anda takut menjadi korban pembunuhan lagi saat kembali dari sana karena itulah yang selalu terjadi selama ini. Yang kedua, karena Luhan sudah pergi kesana, aku jadi tidak ingin pergi. Sedangkan alasan yang lainnya aku tidak bisa menebak. Tapi yang pasti anda memiliki berbagai alasan. Aku percaya, apapun yang terjadi, anda pasti menyusul kesana."
Kali ini Sehun yang menyeringai. "Kamu tidak terlalu bisa membaca pikiranku, Chanyeol. Taeyeon masih lebih hebat. Tapi aku berterima kasih telah mengingatkanku karena aku melakukan kesalahan seperti yang kamu katakan tadi. Sekarang aku menyuruhmu untuk terus melatih prajurit yang ada di pegunungan, seperti yang dilakukan Kris."
Chanyeol menghela nafas pasrah. Selalu seperti ini. Sehun akan menyuruhnya untuk pergi jauh – jauh jika ia hendak menyadarkan temannya itu, seperti dulu saat mereka masih remaja dan pertama kalinya mengenal cinta. Saat ia tahu Sehun menyukai Seohyun, salah satu dari tiga pelayannya yang ternyata mata – mata. Sehun menolak untuk mendengarkan sarannya agar menjauhi Seohyun, namun akhirnya memang tidak terjadi apa – apa karena Seohyun tidak tega membunuh Sehun dan akhirnya jasadnya menghilang begitu saja setelah ia bunuh diri dengan racun yang hendak ia berikan pada Sehun.
Sekarang juga tidak seharusnya Sehun menyuruh Luhan memakai pakaian yeoja. Tapi sudahlah, toh semuanya sudah terjadi dan ia tidak punya kekuatan untuk membalikkan waktu. Semoga saja Kai tidak mengenali Luhan, maka semuanya akan selesai.
"Apa lagi yang kamu tunggu, Chanyeol?" Tanya Sehun. Ia mengerti kenapa Chanyeol terdiam cukup lama. Sangat aneh untuk ukuran manusia ceria sepertinya.
"Ma'af Yang Mulia, saya pergi sekarang." Chanyeol langsung berlari keluar dengan langkah tercepat yang ia bisa. Mereka memang harus lebih rajin untuk melatih para prajurit untuk menghindari kemungkinan terburuk, Kris memberontak dan memanfaatkan Sehun.
Saat pertama kali menaikkan kakinya di kereta kuda, Luhan memantapkan hatinya untuk melupakan semua yang terjadi di istana Sehun. Semuanya adalah mimpi indah! Luhan bermonolog ria. Semuanya! Termasuk ciuman pertamanya dengan Sehun saat Sehun mencurinya ketika ia tidur pulas hingga ia terbangun, bukan tapi ciuman keduanya karena ciuman pertamanya sudah dicuri Henry waktu ia masih kecil. Luhan tidak menyadari ciumannya dikursi dengan Sehun karena saat itu ia memang beneran tidur. Tidak akan ada lagi kepikiran Sehun, cintanya yang sepertinya termasuk dalam cinta terlarang. Bukan hanya karena gender yang sama, tapi karena ia yang ditakdirkan terlempar kemari bukan untuk Sehun!
Te Be Ce
is back
.
.
.
Hi hi hi~ Long time no see readers ku tercintaaaahh
*ahem…*batukkakekkakek
Arggh… chapter ne Less humor banget. ma'af yoo.
TTT_TTT
.
Namanya udah mau masuk(?) pertempuran cinta.
.
.
Pertanyaan *kepoakut : Readersku tercintah ada yang suka memelihara binatang ga? Kalo ada, binatang apa dan namanya siapa?
.
Kiela lg memelihara seekor kucing jantan bertubuh besar montok. Karena itu Kiela kasi nama Chanyeol. . Tubuhnya mirip Chanyeol siiih… ketamvanannya juga sebanding sama Chanyeol.
.
.
Buat yang menunggu FF ne, (kalo ada), Kiela minta maaf karena apdetnya lama. (u_u)
.
THANK YOU SOOOOO MUCH banget buat yg udah ngereview. Apalagi mem-follow dan mem-favorit-kan FF ne. #KECHUPBASYAH
.
Balasan review.
Jennychan,,,Yes,, mereka lagi falling in love. #ikutanLirikHunHan
Kyungiie92,, Ini Kie kasi kelanjutannya.
PriidSteeLL..Ini udah di pos.. AAA….. KAI sama authoooor. *digilas
Faaza,azmy,, Okeh, ni dilanjuuut
Queen DheVils94,, Okeh… Kiela ne pemaaf kok saaay. *pengaruhWinkSehun.
MeeChan Hikaru,, makasih bilang keren. *blushingRia. Hmm, karena ini FF dengan dominan bahasa formal, makanya kata gantinya pakai 'aku kamu'. Hehehee… Makasih buat sarannya.
Gloomy monday, Ini udah dilanjut dear…. Makasih udah bersedia menunggu.
Lian Park, Sehun lg Segan mungkin, makanya ga nyatain perasaan. Kie juga seneng sama karakternya tipaneeeh.
Lisnana1, Makasih udah menjawab pertanyaan *kepoakut. . Kalo mereka ngelakuin yg 'lebih', nanti ratingnya berubah dong? Wkwkwkwkk. Makasih udah ngasi semangat.
ajib4ff, Okey, ga papa. . Suka yg magnae2 ya? o.O Yg GS emg BaekTao. Untuk yg Lain belon tau. Tapi saran kamu Kiela dengerin kok. Tunggu dapet ilham(?) dulu. Ahhh,, Kiela seneng kok baca komen panjang.
Lola, wajar aja pernah denger. Soalnya Oberon tuh kalo ga salah nama satelit planet Uranus. Untuk lebih jelasnya silakan googling ajah karena Kie ga tau detailnya (TT_TT). Hehehee~
Kimmy,, Makasih bgt bilang DAEBAKK. Kie seneng kalo Kimmy sampe ketawa. Hehehee~
fujoshi,, makasih blg KEREN. Ne Kiela lanjuuuuut.
kyu, makasih blg DAEBAKK. Ne dilanjut.
Kyeoptaegyeo, okey, sarannya bakalan Kie pertimbangkan.
, bayangin ajah baekie cantik, makanya dia cocok jadi yeoja.
, aaa,,, HunHan emg sooo sweeeeet.
Dini Kusuma, mungkin kita sehati makanya bisa sama? O.o
Lol, UB emang menyeramkan! Ne dilanjuuut
Riyoung Kim, ne dilanjuuut
Wu Sha Na, gyaaaaaaa… Kiela ga mungkin nendang reader. ;).. Biarpun ketinggalan masih ditunggu kook. Makasih jg ngejawab pertanyaan Kie. :* Salam kenal juga. Ga sok akrab kok. Kiela malah seneng nambah temen.
baekhan,,, makasih udah kooomen semua chap. Ne Kiela lanjuuut.
ohristi95, kalo Sehun grepein Luhan, apa ratingnya ga nambah?
Azura Lynn Gee,, beneran. Ntar kosahnya jadi cinta bersudut mungkin? Hehehe. Makasih udah ngejawab pertanyaan Kie.
0312luLuEXOticS, Iyaa Liyaaaaaaa momentnya terpampaang jelaaaaaaaaaaaaas. Siapa sih yg ga pengen nyium lulu pas dia tidur di dekat kita? Kiela juga keanya bakalan ngelakuin hal yg sama kea Sehun. *smirk. Hahaaaa,, bias kita sama. Mungkin ini namanya berbagi suami? *abaikan.
Jenn2797,, Cinta segitiga bikin greget? Kiela setuju banget!
rinie hun, di FF ne yg boleh liat punya Luhan emg cuma Sehun. Tapi kalo dunia nyata? Kiela juga dikasih tunjuk kooook. #ketawaSetan
Oh Hyunsung, ternyata emg bnyk yg ga suka sma ulat bulu ya? kapan sih Thehun ga nakal dek?
Chyshinji0204, hehe, kemaren emg apdet cepet. Kie jg agak kesel knp tiffany yg duluan liat dedenya Luhan. U-uh. Makasih udah jawap pertanyaan kepoakut. Jadi suka juga Luhan yg jadi uke?
MyJonggie, Ngakak ya? hehee.. ne dilanjuuut.
Shizuluhan.,, Yes, Kiela emg terharu. :'). Yg pervert mungkin authornya, tapi Thehunnya juga ada bakat pelpet. Kkkk~~~ Bias kita sama ternyata. Ne dilanjuuuuuut
park min ra,,, pengen ubah rating? Hyahahahaaa,,,, liat kedepan aja ntar. Hohohohohohooo
Oncean Fox,,, Moment Kaihan? Segera~~~
putriii,, Kalo ga nanggung, nanti rating berubah. -_- kita emg sering bingung kadang kalo terlalu suka sama dua orang idol.
Ternyata banyak yg pengen liat HunHan ahem aheman (?) ya? hahaha. Kiela kalo mau buat adegan begitu harus dapet wejangan(?) dulu. Kkkk~
Okeh,
.Sekian.
.
.
RnR lagi readersku tercintaaaah?
.
.
YUHUUU~
