Disclaimer: Kuroko no Basuke was created by Tadatoshi Fujimaki
Pair: GoM + Kagami x Reader
Warning: AU, OC, OOC, Typo, tak sesuai EYD, jalan cerita ngawur bin amburadul, dsb
Summary: Bagaimana jadinya jika tujuh pemuda tampan ini yang berasal dari Miracle Rainbow World berubah menjadi binatang lucu nan menggemaskan demi mendapatkan gadis di Bumi yang mereka inginkan? GoM + Kagami x Reader. Enjoy! (Pet 6: Murasakibara The Bear)
A/N: Yuhuu~! Hai, minna-san. Rizuki here... ^o^)/
Sebelumnya, Author mengucapkan selamat Hari Raya Idul Fitri 1437 H. Mohon maaf lahir dan batin... (Maaf, telat.)
Nah, bagaimana kabar kalian? Adakah di antara kalian yang sudah lama menunggu lanjutan FF ini? Hehe. Gomen ne, sudah membuat kalian lama menunggu. Habis, ini karena aku harus berkunjung ke rumah Kakek-Nenek dulu. Terus ke rumah saudara yang lain... :'3
OK, sekarang aku akan menentukan siapa chara yang mendapatkan vote terbanyak. Pemenangnya kali ini adalah: Atsushi Murasakibara!
Wow, tak kusangka kalau Mukkun yang terpilih. Kupikir si Aomine. Tapi, tak apa. Bagi yang sudah memilih Aomine, jangan kecewa, ya. Kan chara-nya cuma dia saja (Emang siapa lagi?). Insya Allah aku akan memunculkannya di chapter terakhir... ;)
Di chapter ini, Mukkun akan berubah menjadi beruang! Wah, bisa dibayangkan nggak, ya kalau cowok raksasa seperti dia jadi beruang? Pasti lucu! X3
Kurasa Mukkun memang cocok jadi beruang. Kenapa begitu? Ya, karena Mukkun itu badannya besar dan tukang makan. Kayak beruang, kan? Tapi aku sendiri pernah berpikir begini, "Lebih besaran Mukkun atau beruang, ya?" Hahaha... :v
Baiklah, tanpa basa-basi lagi, Author akan mempersembahkan cerita ini buat kalian. Semoga kalian menikmatinya. Enjoy the story!
Pet 6
*Murasakibara The Bear*
Suatu hari, ada cahaya berwarna ungu muncul di salah satu sudut kota Tokyo. Mula-mula cahaya itu bersinar terang, namun perlahan memudar. Bersamaan dengan itu, di baliknya ada sosok makhluk berbentuk seperti beruang. Semakin cahayanya memudar, semakin jelas sosok hewan itu.
Cahaya ungu itu menghilang dan terlihatlah seekor beruang berukuran mungil seperti boneka atau maskot. Bulunya berwarna ungu. Mata dan hidungnya juga berwarna ungu. Sisanya bagian wajah dan perut berwarna putih. Ekornya pendek. Di lehernya terpasang dog tag ungu dengan batu kristal ungu.
"Ara... Sudah sampai, ya?" ucap beruang itu sambil celingukan, memperhatikan sekitarnya. "Inikah yang namanya Dunia Manusia? Hmm... Tak terasa aku sudah sampai ke sini."
"Ng?" Beruang itu menyadari ada yang janggal dalam dirinya. Dia memperhatikan dirinya dengan seksama. Mulai dari kepala, badan hingga kaki.
"Aku menjadi kecil dan berbulu? Astaga... Aku akhirnya berubah jadi beruang," katanya. "Tapi, kenapa aku harus berubah jadi hewan kecil begini? Bukankah lebih baik aku ke sini dengan wujud asliku?"
Beruang itu terdiam sesaat sambil melahap coklatnya. Setelah itu, dia teringat sesuatu. "Oh, ya... Aku ingat. Sebelum aku pergi, Raja Niji-chin berpesan kalau sebelum tiba di Dunia Manusia, aku harus berubah jadi binatang. Nyam..."
"Dan aku berubah jadi seekor beruang... Ah, merepotkan," sambungnya dengan nada malas. Dia lalu menggigit coklatnya lagi. "Misi yang begitu sulit bagiku... Nyam, nyam... Berubah jadi binatang dengan tujuan mencari cinta. Tapi apa boleh buat. Aku tak bisa mengelak dari misi ini... Nyam... Mau tak mau aku harus melakukannya."
Namun beruang itu belum mau beranjak dari tempatnya. "Aku masih lapar... Kuhabiskan coklatku dulu, ah... Nyam, nyam..." katanya dengan mulut yang tak bisa berhenti mengunyah. Dia terus memakan coklatnya sampai ludes.
Seusai makan, beruang itu pergi dengan melangkahkan keempat kakinya. Memasuki tengah kota dimana manusia bertebaran di sana. Sungguh ramai. Ditambah dengan kendaraan yang menyusuri jalan.
"Luar biasa..." gumam beruang itu sambil memperhatikan suasana kota itu. Dia terus melangkahkan kakinya sambil memandangi pemandangan sekitarnya. Namun, tiba-tiba dia menabrak kaki seseorang di depannya sampai jatuh terduduk.
"Aw!" jeritnya. Lalu dia mendongak ke atas. "Ara, ara... Apa sih yang kutabrak, nih?"
Ternyata kaki yang tak sengaja ditabraknya itu adalah kaki milik seorang gadis. Si gadis yang merasakan ada seseorang menabrak kakinya, menoleh ke bawah. Dia melihat ada seekor beruang sedang duduk seraya menatapnya.
"Wah, sugoku kawaii!" pekik gadis itu gemas.
"Kawaii?" Si beruang ungu kelihatan bingung melihat reaksi si gadis. Apakah dia menyukai wujudku? batinnya.
"Aduh, lucunya beruang ini," ucap si gadis lagi sambil menggendong beruang itu. "Warnanya ungu pula. Manis, deh."
Blush!
Mendadak wajah beruang itu memerah seperti apel. Pe, pertama kalinya aku dipuji, pikirnya. Dia tak dapat menyangkal dirinya sangat senang mendengar pujian dari gadis itu. Sepertinya dia menyukaiku. Lebih baik aku memintanya untuk memeliharaku supaya aku bisa menjadikannya cinta sejati untukku...
"Sankyu. Kamu mau memeliharaku?" tanya si beruang. Tapi begitu gadis itu melihat si beruang berbicara padanya, raut wajahnya berubah menjadi tidak senang.
"Eh? Ka, kamu bisa bicara? Kamu bukan boneka beruang?" tanya si gadis dengan suara bergetar.
"Bukan," jawab beruang itu polos.
"KYAAA!" Spontan si gadis melempar beruang itu sampai terguling-guling di tanah. "Mengerikan! Ada beruang bisa bicara! Aku takut!" serunya ketakutan sambil berlari meninggalkan beruang itu yang sudah terbaring.
"Aduh..." Si beruang bangkit perlahan. Dia lalu menatap kepergian gadis itu dengan heran. "Kenapa dia takut padaku? Aku, kan cuma memintanya memeliharaku saja," gumamnya.
Si beruang menghela napas. "Hufft... Ya sudah, deh. Aku pergi saja..." katanya sambil pergi meninggalkan tempat itu.
Beruang itu akhirnya sampai di sebuah halte bus. Di sana, ada tiga orang gadis berpakaian seifuku sedang duduk di sana sembari mengobrol.
"Hmm... Ada tiga gadis di sana. Kalau begini, aku bisa memilih di antara mereka," gumam beruang itu dengan wajah cerah. "Baiklah, aku coba mendekati mereka. Semoga saja mereka tidak takut padaku."
Si beruang mendekati salah satu gadis yang sedang memegang popsicle rasa blueberry di tangan kanannya. Sontak saja beruang itu mendadak jadi ingin menjilat es loli itu. Tanpa dia sadari, air liurnya mulai menetes. Maka, dia mendekatkan dirinya ke gadis itu dan menepuk kakinya.
"Ng? Siapa yang menepuk kakiku?" tanya gadis itu heran seraya menoleh ke bawah.
"Ada apa?" Salah seorang temannya bertanya pada gadis itu. Sedangkan teman yang lain jadi menoleh ke arahnya, heran.
Begitu gadis itu melihat siapa yang barusan menepuk kakinya, matanya langsung berbinar-binar. Dia gemas melihat kelucuan beruang ungu itu yang menatapnya. "Kyaa! Kawaii!" serunya.
"Eh?" Sontak teman-temannya bingung melihat tingkah gadis itu.
"Apanya yang 'kawaii'?"
Sebagai jawaban, si gadis menggendong beruang itu dan menunjukkannya pada kedua temannya itu. "Ini nih. Coba lihat! Ada beruang lucu," ujarnya.
Kedua teman gadis itu memperhatikan beruang itu. Reaksi mereka juga sama seperti gadis itu tadi. Gemas sekali dengan beruang itu.
"Wah, dia lucu banget!"
"Kyaaa! Aku belum pernah melihat beruang seperti itu. Dia mirip boneka beruang kesayanganku!"
Gadis itu tertawa geli. "Hehe... Mungkin daripada dia dibiarkan di sini, sebaiknya aku... Eh?" Raut wajahnya berubah heran karena beruang itu menjilat popsicle-nya dengan nikmat.
"Hei, lihat! Dia menjilati popsicle-mu," seru temannya.
"Lho? Dia beruang hidup, ya?" tutur teman yang lain.
"Oh, benarkah dia beruang asli?" kata gadis itu kaget. "Sepertinya dia kelaparan..."
"Kasih saja popsicle-nya. Kayaknya dia suka tuh," saran temannya.
"Oh, OK..." Gadis itu mengangguk sambil menurunkan beruang itu dari gendongannya ke bangku halte. Lalu dia memberikan popsicle kepada beruang itu. "Nih, untukmu. Habiskan saja."
Begitu melihat es loli yang merangsang selera itu, si beruang langsung menyambarnya dan menjilat es loli itu dengan cepat.
Wah, gadis ini baik sekali. Aku dapat popsicle darinya... pikir si beruang. Hatinya senang sekali. Dia tak menyangka kalau dia diberi makanan enak olehnya. Saking senangnya, dia berhasil menghabiskan popsicle itu tanpa tersisa sedikitpun.
"Sankyu. Ini sudah kuhabiskan... Are?" Si beruang kebingungan sembari celingukan. Mencari sosok gadis itu yang sudah memberinya popsicle. Namun, dia tak berhasil menemukan keberadaan gadis itu. Si gadis beserta kedua temannya pun sudah pergi meninggalkan dirinya, yang masih duduk di bangku halte.
*Murasakibara POV*
Kemana gadis itu, ya? tanyaku dalam hati. Yah... Padahal aku belum sempat mengucapkan terima kasih sekaligus memintanya untuk merawatku. Aku benar-benar kecewa pada diriku. Kenapa aku nggak melakukannya tadi?
Hmm... Ya sudah, deh. Lebih baik aku cari yang lain. Toh masih banyak gadis di Bumi yang bisa kudapatkan. Asalkan mereka berbaik hati padaku dengan memberikanku makanan enak.
Aku melangkahkan keempat kakiku, meneruskan perjalanan untuk menyelesaikan misiku. Berharap bisa menemukan gadis yang kuinginkan. Sampai akhirnya, aku bertemu dengan seorang gadis yang baru saja keluar dari minimarket. Dia membawa satu kantong plastik di tangan kanannya. Ah! Aku bertaruh pasti ada makanan di dalamnya. Maka, aku mengikutinya diam-diam.
Setelah tiba di pertigaan, gadis itu menghentikan langkahnya. Sepertinya dia sedang menunggu lampu merah agar dia bisa menyeberang. Hmm... Ini kesempatanku. Aku akan mendekatinya...
Lalu aku berjalan ke samping gadis itu. Setelah itu, aku menarik-narik celana panjangnya agar dia bisa menoleh ke arahku. Akhirnya usahaku berhasil. Gadis itu menoleh ke arahku.
"Wah, lucunya!" seru gadis itu dengan mata berbinar-binar begitu menatapku. Hehe... Wajahku yang berwujud beruang ini memang lucu, ya. Itu tak masalah bagiku. Aku cuma berharap dia mau memeliharaku.
"Kamu mau apa, beruang kecil?" tanyanya padaku sambil berjongkok di depanku.
Aku hanya diam saja. Aku tak dapat menjawab pertanyaannya. Bukan apa-apa, aku tak mau dia takut padaku. Tapi kalau aku diam terus, dia akan...
"Beruang kecil?"
Tuh, kan. Kalau aku diam, dia akan mendesakku untuk menjawab. Akh! Jangan! Jangan lakukan itu... Aku berusaha menggelengkan kepalaku. Tak mau mikir yang bukan-bukan. Bisa-bisa aku akan melakukan hal yang salah. Hmm... Begini saja, deh. Aku akan menjawabnya pakai bahasa isyarat. Maka, aku menunjuk ke kantong plastik yang dipegangnya sebagai jawabanku padanya.
"Ng? Kamu mau makanan?"
Hufft... Akhirnya... Dia tahu apa yang kumaksud. Gadis itu mengarahkan pandangannya ke kantong plastiknya, lalu dia mengambil sesuatu di dalamnya.
"Nih, buat kamu deh," ucapnya sambil memberikan sebuah bungkus biskuit coklat padaku. "Ambillah..."
Wah, kayaknya biskuit itu enak sekali... Jadi ngiler. Tanpa ragu, aku menyambar bungkusan itu, membukanya dan... Astaga! Biskuitnya banyak sekali... Aku mengambil satu dan memakannya.
Nyam! Hmm... Oishii!
"Wah, kamu makan biskuitnya lahap sekali. Kamu suka, ya?" ujar gadis itu padaku yang masih memakan biskuitnya. Aku hanya mengangguk. Seolah-olah aku menjawab, "Suka! Suka sekali..."
"Hehe..." Gadis itu tertawa geli melihat cara makanku. Ara, ara... Tapi aku tak peduli. Aku hanya terus melahap biskuit pemberiannya.
"Oh, astaga! Tak terasa sudah mau lampu hijau! Aku harus menyeberang..." pekiknya begitu melihat lampu lalu lintas sudah mau menunjukkan warna hijau. Eh? Bagaimana denganku? Kamu nggak mau memeliharaku?
Aku mau ngomong padanya, tapi...
"Sudah ya, beruang kecil. Aku harus pergi!" Dia sudah pergi menyeberang jalan, meninggalkanku sendirian di sini. Lampu sudah hijau dan kendaraan sudah bergegas untuk menggerakkan mesinnya. Aku... Tak bisa menyusulnya...
Aku menunduk kecewa. Sekarang aku sudah melakukan kesalahan lagi. Ini sudah yang kedua kalinya, eh ketiga kalinya... Pertama, aku membuat dia takut. Kedua, aku menghabiskan popsicle-nya dan mengabaikannya sampai dia pergi tanpa memberitahuku. Ketiga... Ini yang lebih membuatku sakit...
Dia pergi meninggalkanku dan tidak peka akan perasaanku... Aku memang ingin makanan, tapi aku ingin yang lebih dari itu. Aku ingin ada salah satu gadis yang kutemui mau memeliharaku...
Ternyata misi ini begitu sulit dari yang kubayangkan. Tidak ada satu pun dari mereka yang mau memeliharaku. Ini bukan bagian dari rencanaku. Bukan ini yang aku inginkan. Aku ingin... Cinta sejati yang manis...
Aku menatap kosong ke arah biskuit terakhir di tanganku. Perlahan aku memakannya. Begitu aku menggigit biskuit itu, tak ada rasa manis terasa di lidahku. Rasanya hambar...
Aku tidak ingin makan... Aku ingin menangis...
Tapi kutahan air mataku kuat-kuat. Aku tidak boleh menangis. Nanti semua orang akan memperhatikanku dan menganggap aku ini lemah. Aku harus kuat. Harus menjadi lebih kuat menghadapi ini.
Aku melanjutkan jalanku tanpa menghabiskan biskuit terakhir yang kutinggalkan di jalan. Sungguh... Gara-gara diriku sedang patah hati, nafsu makanku jadi hilang. Lebih baik, aku teruskan saja misiku ini. Tapi...
Entah kenapa aku jadi tidak bersemangat untuk melakukannya. Bahkan bertemu lagi dengan gadis manusia lain pun tidak. Kenapa? Kenapa aku jadi begini? Apakah ini tandanya aku sedang putus asa? Atau diriku merasa gagal melakukan misi ini? Benarkah begitu?
Aku tak tahu. Tapi baru pertama kalinya aku merasakan perasaan yang menyakitkan seperti ini...
Ah, mungkin lebih baik aku tidak ikut bersama yang lain untuk menjalankan misi dari Raja Niji-chin. Kenapa aku harus mematuhi perintahnya? Kenapa aku harus berubah menjadi seekor beruang? Kalau seandainya aku manusia, mungkin ini terasa lebih mudah...
Aku menghela napas berat. "Hufft... Susah sekali misinya. Aku tak mendapat satu gadis pun di sini," keluhku.
Tes!
Are? Ada tetes air mengenai kepalaku...
Aku melihat ke atas langit. Ternyata langit sudah mendung dan tetes air sudah berjatuhan. Tetes air itu semakin lama semakin banyak. Oh, ya ampun... Deras sekali...
Sebenarnya aku malas sekali mencari tempat berteduh. Tapi kalau dibiarkan, aku bisa basah dan kedinginan. Huh! Terpaksa aku cari tempat yang aman untuk berteduh. Aku memperhatikan sekitarku apakah ada tempat di dekat sini yang bisa kujadikan tempat berlindung.
Ah! Ada sebuah toko di dekat sana. Kelihatannya tempat yang cocok untuk berteduh. Aku berlari ke toko itu dengan perasaan gembira. Lalu aku duduk di sana dan menunggu hujan reda. Tepat di bawah kanopi jendela toko.
Ara, ara... Di sini rasanya nyaman... Jadi sulit untuk meninggalkan tempat ini.
Satu jam sudah berlalu... Tapi hujan tak juga berhenti. Malah makin deras. Aku merengut sambil menggembungkan pipi. Nih, hujan kok lama banget. Kapan berhentinya, ya?
Tak lama kemudian, aku merasakan tubuhku mulai terasa dingin menggigit. Ara... Meskipun bulu-bulu di badanku sedikit menghangatkan, tetap saja tak mampu mengenyahkan udara dingin ini. Kalau kuperhatikan badanku baik-baik, ada benarnya juga, sih. Sebagian tubuhku basah terkena hujan. Makanya aku tetap merasa kedinginan. Tak ada sesuatu yang bisa menghangatkanku.
Kruyuuk!
Bunyi perut keroncongan terdengar di telingaku. Huh, ini yang paling menyebalkan... Aku lapar.
Dingin... Lapar... Itulah yang kurasakan saat ini...
Adakah manusia yang menemukanku di sini? Kumohon, aku butuh bantuan kalian. Tolong... Aku kelaparan dan kedinginan. Jadi manusia jangan egois, dong... Bawalah aku ke rumah kalian dan jadikanlah aku peliharaan kalian...
Aku mohon...
"Eh? Kamu siapa? Sedang apa kamu di situ?"
Tiba-tiba terdengar sahutan. Aku menoleh ke arahnya.
Di balik pintu toko, ada seorang gadis manusia dengan rambut dirty blonde bergelombang dengan bando putih di kepalanya. Mata coklatnya memandangku yang masih duduk di depan toko. Kami saling bertatapan dalam diam. Sampai...
"Sampai kapan kamu terus di luar?" tanyanya sembari menghampiriku. "Kamu bisa sakit, lho!"
"Ng?" Aku tersentak ketika dia mengangkat tubuhku dan menatapku dalam. Membuatku merinding, tapi aku berusaha untuk tetap tenang. Dalam hatiku, aku bertanya-tanya. Sedang apa dia di sini? Bagaimana dia bisa tahu dan menemukanku di sini? Apakah dia... Mengkhawatirkanku?
"Hmm... Bulumu agak basah. Tapi bisa kukeringkan, kok," ucapnya kemudian sambil membelai bulu kepalaku. Ups... Tiba-tiba aku merasakan ada debaran di dadaku. Belaiannya itu... Oh, rasanya membuatku seakan melayang...
"Daripada terus di sini, aku akan membawamu ke dalam," ujarnya. Eh? Ke dalam mana? Rumahnya? Kalau begitu, rumahnya dimana?
Aku membuka mulutku untuk bertanya, tapi gadis itu sudah masuk ke toko dengan diriku yang sudah berada di gendongannya. Yah, sial... Padahal aku mau berbicara dengannya. Aku pun belum menanyakan namanya. Ara... Sudahlah. Yang penting aku takkan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mengenalnya lebih jauh. Akan kulakukan nanti...
*Normal POV*
"Yosh, selesai!" seru gadis berambut ikal itu. Dia segera melepaskan handuknya dari beruang itu. Seluruh bulu di badan beruang itu sudah kering sepenuhnya.
"Aduh, kamu beruang yang lucu banget! Mirip boneka," pekik gadis itu gemas sambil mendekatkan wajahnya ke wajah beruang itu dan menggesek-gesek hidungnya. Tingkahnya itu membuat si beruang merona.
"A, ano..." Suara beruang itu akhirnya keluar dari mulutnya. Membuat si gadis terkejut sambil menjauhkan wajahnya.
"Lho?" Dia mengerjapkan kedua matanya. Kemudian menggosok-gosoknya dengan tangan kanannya untuk memastikan dirinya tak salah lihat. "A, apakah tadi beruang itu berbicara padaku?" tanyanya bingung.
Si beruang juga bingung melihat reaksi gadis itu ketika dia melihatnya bicara. Mau diam, nanti malah gadis itu makin penasaran. Hatinya bimbang. Apakah dia harus berbicara pada gadis itu?
Ara, ara... Ini membingungkan, pikir si beruang. Aku khawatir gadis itu akan membuangku kalau dia takut padaku... Tapi kalau kubiarkan, aku malah memperburuk keadaan. Kalau begitu, lebih baik aku berbicara padanya, tekadnya dalam hati.
"Nona." Beruang itu memanggil si gadis, yang masih menatapnya. "Maaf, aku mau berbicara padamu..."
"Eh? Kamu bisa bicara, beruang kecil?" tanya gadis itu terpana.
Beruang itu mengangguk. "Ya, aku bisa bicara. Dari tadi aku mau mengatakan sesuatu padamu... Tapi aku tak mau kamu takut padaku."
"Hebat..." Gadis itu seketika mengagumi beruang itu. Wah, dia makin imut saja kalau dia bisa bicara padaku seperti itu, pikirnya. "Oh, kamu salah. Aku justru nggak takut. Aku malah senang," katanya sambil tersenyum. "Kamu mau bilang apa padaku? Katakan saja."
Syukurlah... Dia mau mendengarkanku, batin si beruang senang. "Ehm, begini... Aku sangat berterima kasih... Terima kasih karena kamu sudah membawaku ke sini. Waktu itu, aku kelaparan dan kedinginan. Tidak ada orang yang mau merawatku..."
Kruyuk!
Lagi, bunyi perut keroncongan terdengar jelas di telinga. Aduh, ini perut kayaknya sedang demo, menuntut hak untuk minta diisi. Beruang itu menggembungkan pipinya kesal sambil memegangi perutnya. Kontan saja si gadis tertawa geli.
"Kalau begitu, aku akan mengajakmu ke tokoku. Ada banyak kue di sana. Kamu bisa mencicipinya satu per satu. Hehe..." tawar si gadis.
"Hah? Kue?" Si beruang terkejut. Mendadak dia ngiler, membayangkan kue-kue lezat yang sudah melayang di kepalanya. Tapi, tunggu dulu... Ekspresi beruang itu berubah. Ada yang lebih mengejutkan daripada ini...
"Tokomu?!"
Begitu si gadis membawa beruang itu ke dalam ruang depan, mata ungu beruang itu melebar. Benar apa yang dikatakan si gadis. Ruang depan itu ternyata adalah tempat toko kue dan roti! Buktinya, hampir di setiap etalase berisikan banyak macam kue-kue dan roti-roti yang menggugah selera. Mulai dari roti melon sampai kue pernikahan! Melihat itu semua membuat beruang itu sampai meneteskan air liur. Kelihatannya dia sudah tak sabar untuk bisa memakan semua itu. Habisnya, dia lapar banget.
"Apa aku boleh menghabiskan semuanya?" tanya si beruang polos.
Si gadis menggeleng. "Tentu saja tidak. Nanti orangtuaku marah kalau kamu menghabiskan semuanya. Kamu cukup memakan satu atau dua saja, ya," sarannya.
"Yah, tak apa deh. Yang penting aku mau makan. Kue ataupun roti apa saja aku mau, kok," ujar beruang itu.
"Hmm..." Si gadis memperhatikan sekeliling tokonya. Mencari kue apa yang enak untuk beruang itu.
"Aha! Kamu mau yang ini?" Si gadis berjalan menuju ke suatu etalase dan mengambil satu kue mangkok dengan buah blueberry di atasnya.
"Wah, kayaknya enak..." kata beruang itu.
"Nih, makanlah," tawar gadis itu sambil memberikan cupcake itu pada si beruang. Tanpa ragu-ragu, si beruang langsung menyambar cupcake itu dan memakannya.
"Hmm... Enak sekali... Nyam, nyam..." gumamnya sambil mengunyah. Kue dengan krim lembut ditambah dengan buah blueberry itu terasa manis di lidahnya.
"Hehe..." Gadis itu tertawa geli melihat cara makan beruang itu.
"Oh ya. Ngomong-ngomong, nyam..." Tiba-tiba beruang itu teringat sesuatu. "Aku mau bertanya sesuatu padamu, Nona. Bolehkah?"
"Hm? Boleh saja, beruang kecil," jawab gadis itu. "Apa yang ingin kamu tanyakan?"
"Begini... Bagaimana kamu bisa menemukanku di depan toko?"
"Oh, itu..." Si gadis terdiam sejenak. "Itu karena... Ketika aku sedang menjaga tokoku, aku menemukanmu tepat di depan toko. Tadinya, pertama kali aku melihatmu, kukira kamu hanya boneka beruang yang baru saja dibuang. Pas aku berniat mau membawamu masuk, aku terkejut sekali. Ternyata kamu beruang beneran. Itu karena kulihat kamu sedang menggigil kedinginan. Karena kasihan, aku membawamu ke sini," jelasnya panjang lebar.
Si beruang manggut-manggut. Pantas saja kenapa dia bisa tahu aku di sini. Tak kusangka kalau toko dimana aku berteduh ini rumahnya, pikirnya.
"Nyam, nyam... Terus, kenapa kamu sendirian? Dimana orangtuamu?" tanya beruang itu, masih sibuk memakan cupcake-nya.
"Mereka sedang keluar sebentar. Tak akan lama, kok," jawab gadis itu tenang.
"Begitu, ya... Nyam..."
Mereka terdiam beberapa saat. Lalu...
"Ehm, beruang kecil..." panggil gadis itu.
"Ya, ada apa?" Si beruang menoleh ke arahnya.
"Ngomong-ngomong, kenapa kamu bisa berada di depan tokoku?" tanya si gadis penasaran. "Apa tujuanmu datang ke mari?"
Sesudah beruang itu menghabiskan cupcake-nya, dia mengusap mulutnya dengan kaki depannya. Kemudian, dia menjawab, "Aku datang ke mari karena... Aku mengalami banyak kesulitan di sini."
"Eh? Kesulitan apa?"
"Kamu mau tahu tujuanku ke sini, Nona?" ujar beruang itu. "Aku ingin mencari seseorang yang mau memeliharaku. Tapi mereka malah mengabaikanku. Jadi, aku merasa kesulitan untuk mencari orang yang tepat untukku. Oleh karena itulah, aku merasa putus asa... Pas hujan tadi, aku datang ke tokomu untuk berteduh. Itulah sebabnya, kenapa aku bisa ke sini..."
Kasihan... batin gadis itu sedih.
"Tapi, begitu kamu datang... Kamu bagaikan malaikat penolong bagiku..." Beruang itu melanjutkan ceritanya. "Kamu telah membawaku ke rumahmu, mengeringkan buluku dan memberi makan untukku. Karena itulah, aku sangat berterima kasih padamu..."
Begitu mendengar cerita beruang itu, seulas senyum tersungging di bibir si gadis. "Sama-sama, beruang kecil. Aku senang bisa merawatmu. Ehm... Aku punya permintaan untukmu," pintanya.
"Hm? Apa itu?"
"Kamu mau kujadikan peliharaanku?"
Iris amethyst milik beruang itu melebar. Terkejut begitu mendengar permintaan si gadis. "Hontou ni?"
"Tentu saja, beruang kecil! Kamu begitu imut sampai aku gemas dan membuatku ingin sekali memeliharamu..." jawab gadis itu sambil mencubit pipi beruang itu. "Kamu itu seperti boneka beruang di kamarku. Tapi kamu berbeda. Kamu bisa bicara, makan dan... Apapun kamu bisa melakukannya! Apalagi warna bulumu itu ungu. Aku suka sekali warna ungu. Boleh, kan aku memeliharamu?"
Beruang itu terdiam. Sedang memikirkan apakah dia harus menerima permintaan gadis itu.
"Ng, apa kamu keberatan, ya?" tanya gadis itu sekali lagi. Raut wajahnya berubah memelas. Khawatir kalau beruang itu menolaknya.
Beruang itu tersentak kaget. "Oh, nggak, kok. Aku nggak keberatan..." jawabnya gelagapan. "A, aku senang kamu memintaku seperti itu. Tentu saja aku mau..." sambungnya sambil tersenyum kecil.
Mata gadis itu berbinar-binar. Dia terlihat senang sekali karena beruang itu mau dijadikan peliharaannya. "Wah, arigato! Arigato!" serunya riang sembari memeluk erat beruang itu. "Hore! Akhirnya aku punya peliharaan seekor beruang! Kyaaa!"
"Hmmmph..." Beruang ungu itu merasa sesak karena pelukan erat gadis itu. "To... Tolong... Lepaskan... Aku... Ehmm..."
"Oh, maaf..." Si gadis segera melonggarkan pelukannya sampai beruang itu bisa bernapas lagi. "Hmm... Aku akan memberimu nama. Apa, ya nama yang bagus untukmu?" tanya gadis itu sambil berpikir. Dia memutar bola matanya, mengira-ngira nama apa yang cocok untuk peliharaan barunya itu.
"Murasakibara..." jawab beruang itu, menyebut namanya sendiri. Sebetulnya beruang itu adalah wujud binatangnya pengawal Raja Pelangi yang mewakili warna ungu, Atsushi Murasakibara. Karena tak ingin nama aslinya diketahui, dia menggunakan nama belakangnya.
"Murasaki... Bara?" Gadis itu mengejanya perlahan. "Murasakibara... Ah, nama yang cocok untukmu! Nah, beruang berbulu ungu sepertimu akan kuberi nama Murasakibara," ujarnya.
"Ya, namaku Murasakibara... Namamu siapa?" Murasakibara menanyakan nama gadis itu.
"Namaku Yukina Sato. Yoroshiku ne."
"Yuki-chin..."
"Eh? Yuki-chin?" Gadis yang bernama Yukina itu merasa heran dengan panggilan yang diberikan Murasakibara padanya.
"Begitulah... Aku memanggilmu Yuki-chin," balas Murasakibara santai.
"Ehm, begitu, ya." Yukina manggut-manggut. "Oh ya, kamu mau roti? Ada roti croissant rasa coklat, lho! Pasti kamu suka, Murasakibara," tawarnya kemudian sambil menunjuk sebuah etalase yang berisikan roti yang lezat. Membuat Murasakibara ngiler begitu melihatnya.
"Tentu saja aku mau, Yuki-chin..."
*OC/Reader POV*
Yeay! Kini aku punya hewan peliharaan. Dia seekor beruang ungu yang kuberi nama Murasakibara. Hihi... Dia begitu menggemaskan membuatku suka sekali menjadi peliharaannya. Kamu tahu? Dia lucu seperti boneka beruang yang kupajang di kamarku.
Aku memberikan roti croissant coklat itu pada beruangku yang kukeluarkan dari etalase toko kueku. Murasakibara langsung senang hati menerimanya, lalu memakannya dengan lahap. Duh, kalau dia lagi makan seperti itu, entah kenapa aku jadi ingin mencubit pipinya.
"Yukina, tadaima!"
Tiba-tiba ada suara yang menyahutiku. Oh, tidak! Aku tahu suara itu. Itu suara orangtuaku! Gawat! Mereka pasti sudah pulang. Aku seharusnya senang menyambut mereka, tetapi... Masalahnya Murasakibara masih di pangkuanku! Aduh, kalau orangtuaku tahu aku memelihara binatang tanpa ijin, apa yang harus aku lakukan? Ayo, Yukina... Berpikir, berpikir!
Aha! Itu dia! Aku harus menggunakan cara ini. Semoga berhasil. Dengan begini, orangtuaku tak akan curiga.
"Mu, Murasakibara!" panggilku pada beruangku yang masih memakan rotinya. "Cepat habiskan rotimu. Orangtuaku datang! Mereka sudah pulang!"
"Awhre...?" Murasakibara terperangah dengan roti di mulutnya. "Kewhnapawh, Yuwhki-chwin?" tanyanya dengan suara yang tak begitu jelas.
"Pokoknya, cepat habiskan!" perintahku tegas. "Kalau orangtuaku melihatmu, bisa bahaya! Nanti mereka mengira aku membawa seekor anak beruang kabur dari kebun binatang!" sambungku panik.
"Nyam..." Murasakibara menggigit rotinya dengan mata membulat. Maka dia segera memakan rotinya sampai habis, kemudian menelannya perlahan.
"OK, Murasakibara, aku ini pemilikmu dan juga majikanmu. Mulai saat ini, kamu harus menuruti apa yang kuperintahkan," ujarku. "Kamu harus berpura-pura jadi boneka beruang biasa. Oh, kalau boleh, jadi beruang yang bisa jalan maupun berbicara. Supaya orangtuaku berpikir kalau kamu boneka. Mengerti, kan?"
"Hmm, begitu, ya... Merepotkan sekali. Masa aku harus berpura-pura menjadi boneka..." jawab Murasakibara malas.
"Kamu harus melakukannya, Murasakibara! Harus!"
"Iya, deh..." Akhirnya dia mengangguk mengiyakan. Hufft... Youkatta... Lega rasanya. Murasakibara mau melakukannya...
Aku bergegas mengambil tisu dan membersihkan mulut Murasakibara dari remah-remah roti yang masih menempel. Setelah aku membersihkannya, wajah beruangku itu memerah. Membuatku bingung.
"Ng, Murasakibara? Kamu kenapa?" tanyaku.
"Oh, bukan apa-apa..." Murasakibara malah memalingkan mukanya ke arah lain. Aku ingin bertanya lagi, tapi...
"Yukina, kamu ada di dalam, kan? Ayo, buka pintunya, Nak."
Ya, ampun. Sahutan itu terdengar lagi. Pasti itu suara Ayah. Dia pasti sudah menungguku membuka pintu bersama dengan Ibu. Aku nggak boleh membuat mereka terlalu lama menungguku. Karena itulah, aku bergegas melangkahkan kakiku menuju pintu dan membukanya. Begitu pintu dibuka, aku melihat orangtuaku berdiri di hadapanku dengan jas hujan dan payung karena di luar, hujan belum berhenti.
"Okaeri, Tou-san, Kaa-san..." sambutku sambil tersenyum. "Sumimasen, sudah membuat kalian menunggu lama..." lanjutku sambil membungkukkan badanku tanda maaf.
"Ah, daijoubu, Yukina... Lagipula, kami menunggumu tak lebih dari 5 menit, kok," sahut Ibu. Sedangkan Ayah membalas senyumanku.
"Syukurlah kalau begitu. Ayo, masuklah." Aku mengajak mereka masuk ke dalam rumah. Setelah berada di dalam, Ayah dan Ibu melepas jas hujan mereka dan meletakkan payungnya ke tabung tempat penyimpanan payung.
"Yuki, bagaimana toko kita? Apa ada pelanggan yang datang?" tanya Ayah padaku.
"Ya, baik-baik saja, Tou-san. Seperti biasa. Pelanggannya tidak terlalu banyak yang datang. Sekitar 24 orang," jawabku sambil menggantungkan jas hujan yang sudah basah kuyup.
"Hmm, Yukina..." Ibu memanggilku sembari menunjuk sesuatu di pangkuanku. "Apa itu yang kamu bawa? Dari tadi Kaa-san melihat sesuatu di pangkuanmu. Sepertinya itu boneka..."
Ah, ini dia. Jangan panik. Aku harus bersikap tenang... Biasa saja, pikirku. "Oh, ini..." kataku sambil menunjukkan Murasakibara yang terlihat diam dan tak bersuara sedikitpun. Dia sedang berpura-pura jadi boneka, sesuai keinginanku. "Ini boneka beruang baruku, Kaa-san. Kawaii deshou?"
"Ha'i. Sugoku kawaii ne... Boneka beruangnya imut sekali," puji Ibu sambil menyentuh kepala Murasakibara.
"Darimana kamu mendapatkannya, Nak?" tanya Ayah sambil melepas sandal coklatnya. "Apa kamu beli sendiri atau dikasih seseorang?"
"Ya, aku beli sendiri, Tou-san," jawabku agak gugup. "Etto... Aku membelinya di toko boneka setelah kalian pergi tadi..."
"Tunggu. Sebelum kamu pergi, kamu sudah mengunci toko kuenya, kan?" tanya Ayah menginterogasi sambil menatapku tajam. Duh, Tou-san... Tou-san seram, deh... Namun aku tak akan mengatakannya langsung padanya atau beliau akan marah sekali.
"Te, tentu saja..." jawabku gelagapan. Oh, maafkan aku karena sudah membohongimu, Tou-san... Memang dari awal aku sudah bohong. Waktu Ayah pergi bareng Ibu, aku tidak pergi ke mana-mana dan menjaga toko saja.
"Bagus, deh. Kamu anak gadisku yang pintar," puji Ayah sambil mengelus rambutku. Aku hanya tersenyum yang terkesan kupaksakan dengan sweatdrop mengalir di kepalaku.
"Oh, ya. Ngomong-ngomong, Murasakibara ingin berkenalan dengan kalian," sahutku kemudian.
"Murasakibara?" Ayah dan Ibu heran mendengar nama beruangku.
Aku mengangguk. "Hn! Murasakibara itu nama yang kuberikan untuk boneka ini. Sesuai dengan warna bulunya. Dia bisa berjalan bahkan berbicara, lho!"
"Benarkah?" Ayah tercengang begitu mendengar penjelasanku.
"Kalau begitu, tunjukkan saja. Kaa-san mau lihat," tawar Ibu.
"OK," kataku sambil mengedipkan sebelah mataku, lalu menurunkan Murasakibara ke lantai. Setelah itu, dia berjalan pelan-pelan ke arah orangtuaku dengan dua kakinya.
"Namaku Murasakibara. Aku beruang yang akan menemani Yuki-chin," kata Murasakibara pada mereka.
"Wah..." Akhirnya, mereka berdecak kagum melihat beruang kecilku. Yes, berhasil! Kamu hebat, Murasakibara!
"Luar biasa, Yukina! Boneka beruangmu itu hebat sekali. Kaa-san jadi kagum melihatnya berjalan dan berbicara seperti itu! Dia bahkan memanggilmu dengan panggilan yang lucu," komentar Ibu dengan mata berbinar-binar.
"Hoo, dia benar-benar bisa melakukannya. Semoga dia bisa menjadi teman yang akan menemanimu, Yuki..." ujar Ayah.
Yatta! Mereka mau menerima beruang peliharaanku tinggal di rumahku! batinku senang. Aku lalu menggendong Murasakibara dan tersenyum manis padanya. Murasakibara hanya membalas senyumanku walaupun dengan senyuman kecil menghiasi bibirnya. Kelihatannya dia juga senang orangtuaku menerima kedatangannya.
Arigato, Murasakibara... Sekarang kamu sudah bisa tinggal denganku.
5 hari kemudian...
Tak terasa, hari sudah berlalu, Murasakibara sudah terbiasa tinggal di rumahku. Walaupun dia hanya berpura-pura jadi boneka, setidaknya dia masih bersikap layaknya beruang hidup. Aku merawatnya dengan baik dan selalu memperhatikan jadwal makannya. Tak lupa aku memberinya roti, kue, snack dan makanan kecil lainnya supaya dia tak bosan. Ah, Murasakibara memang suka makan. Gara-gara itu, dia pernah keluar dari kamar untuk pergi ke dapur dan mengambil sesuatu di kulkas atau ke toko kueku. Astaga, ayah dan ibuku sampai bengong melihatnya. Bahkan Ayah sempat memarahinya karena telah mencuri kue dan roti jualannya. Jadi begitulah, aku harus super ketat menjaganya. Aku nggak mau karena dia, makanan di rumahku sampai ludes dibuatnya.
Meskipun begitu, Murasakibara itu beruang yang santai. Sifatnya memang kekanakan dan pemalas, namun setidaknya itulah yang membuatnya lucu di mataku. Dia pernah mengambil sisa biskuit coklat di toples sampai kepalanya masuk ke dalamnya. Bukannya panik, aku malah terkikik melihatnya sambil membantunya melepaskan toples dari kepalanya. Aku juga senang bermain dengannya sampai tertidur di kamar. Hehe... Pokoknya bagiku, beruang kecilku itu bisa membuatku terhibur akan tingkah lucunya.
Suatu hari, setelah makan malam, aku membawa dua piring puding vanila dengan saus vla coklat di atasnya ke kamarku. Aku sengaja membawa dua karena yang satunya lagi untuk Murasakibara. Kuharap dia suka dengan pudingku ini. Soalnya aku yang buat.
"Murasakibara! Aku datang," seruku ceria sambil mendorong pintu kamar.
Murasakibara yang sedang duduk di meja belajarku, menoleh ke arahku. "Ah, Yuki-chin... Are? Kamu bawa puding, ya?" sambutnya dengan mata melebar. Hihi... Pasti dia ngiler melihat pudingku.
Aku mengangguk. "Ya, yang satunya lagi untukmu..."
"Untukku? Wah... Sankyu, Yuki-chin," ucap Murasakibara dengan raut wajah cerah.
Aku duduk di kursi dan meletakkan satu puding ke atas meja. Tepat di depanku. Kemudian, aku meletakkan puding yang satunya ke arah Murasakibara.
"Kelihatannya enak..." gumamnya sambil mengambil sendoknya.
"Coba makan saja. Aku yakin kamu pasti suka," ujarku sambil menyendok pudingku dan memakannya. "Nyam... Hmm... Enak! Cobalah, Murasakibara."
Begitu mendengar tawaranku, beruang kecilku segera menyendok pudingnya sedikit. Setelah itu, memasukkannya ke mulut. Tak lama, ekspresi mukanya berubah begitu dia menyantap pudingnya.
"Ah... Ini enak sekali... Nyam... Jadi, pengen makan lagi... Nyam..." katanya di sela-sela kunyahan.
Kyaaa! Aku senang sekali kalau beruang peliharaanku itu suka dengan puding buatanku! Bahagianya...
"Habiskan saja," kataku sambil tersenyum. Murasakibara mengangguk sambil melanjutkan makan pudingnya.
"Nyam, nyam... Ne, Yuki-chin... Siapa yang membuat puding ini? Sungguh, ini enak sekali," tanya Murasakibara penasaran.
Setelah aku memakan pudingku, aku menjawab, "Aku yang membuatnya..."
"Eh? Hontou?" Murasakibara terlihat sedang menatapku tak percaya. "Kamu yang membuatnya?"
"Benar, hontou desu," balasku sambil mengangguk.
"Tak kusangka kalau kamu bisa membuatnya, Yuki-chin..."
Aku tertawa geli, menahan malu. "Hehe... Kamu tahu, nggak? Aku tidak hanya bisa membuat puding. Membuat panganan lain kayak roti dan kue itu aku juga bisa, lho. Walaupun aku dibantu sama Tou-san dan Kaa-san," jelasku bangga.
"Ara, sugoii ne... Kamu ternyata pintar memasak, ya. Nyam..." puji Murasakibara.
"Dari dulu aku suka memasak. Bahkan Kaa-san mengajariku cara memasak dan membuat kue. Itulah sebabnya kenapa aku bisa memasak, Murasakibara..."
"Hmm..." Murasakibara manggut-manggut. Dia kembali menghabiskan pudingnya yang sudah tinggal setengah. "Nyam... Aku ingin melihat cara Yuki-chin memasak. Boleh, kan?" pintanya padaku.
Aku terkejut. "Hah? Ta, tapi-"
"Sekali ini saja, kok... Onegai..." sela Murasakibara penuh harap. Mata ungunya berbinar-binar menatapku. Wajahnya memelas seperti anak kecil yang minta dibelikan permen. Ukh, kalau dia bersikap begini, bagaimana aku bisa menolaknya? Hmm... Apa aku harus bersedia memperlihatkan cara memasakku padanya? Mungkin ini ide yang bagus. Sekalian saja aku mengajarinya memasak.
"Baiklah. Tapi besok saja, ya," kataku.
"Ara, kenapa besok?" Pipi Murasakibara menggembung, terlihat sedang merengut.
"Besok, kan hari Minggu. Orangtuaku akan pergi ke restoran karena diundang teman Tou-san. Aku tidak bisa ikut karena aku harus jaga toko," tandasku. "Setelah orangtuaku nggak ada di rumah, kita bisa membuat kue bersama. Jadi gimana? Mau, kan?"
"Oh, souka. Wakatta..." Murasakibara mengangguk mengerti. "Kalau begitu, besok kita akan membuat kue. Setelah itu, aku akan memakannya sepuasnya..."
Aku tersenyum mendengarnya. Dalam hatiku, aku sudah tak sabar menunggu hari esok untuk bisa membuat kue bersama beruang kecilku.
Hari Minggu, hari yang ditunggu-tunggu pun tiba! Setelah orangtuaku pergi dengan mobil mereka, aku segera berlari kecil menghampiri Murasakibara yang sudah menungguku di dapur.
"Gomen, Murasakibara!" teriakku sembari membuka pintu. "Aku sudah membuatmu menunggu lama..."
"Huh, kamu lama sekali, Yuki-chin... Darimana saja, sih?" keluh Murasakibara.
Aku mengambil celemek unguku di gantungan dan mengenakannya. "Maaf, ya. Habis, aku harus membimbing mereka sampai mereka masuk ke mobil dan mengucapkan 'hati-hati di jalan'. Aku nggak mau mereka melihat kita sedang memasak kue bersama."
"Kok, begitu? Apa kamu malu?"
Wajahku seketika merona. "Ng, nggak, kok! Aku hanya... Ah, sudahlah. Ayo, kita siapkan bahan-bahannya. Kita akan membuat kue chiffon."
"Ah, kue chiffon..." gumam Murasakibara. "Sepertinya enak, tuh."
Aku berjalan menuju ke lemari dan membukanya untuk melihat apa saja bahan yang ada. "Murasakibara, kamu siapkan buku resep dan alat-alatnya, ya. Biar aku saja yang menyiapkan bahan-bahannya."
"Are? Malas, ah..." kata Murasakibara ogah.
"Ayolah, aku akan mengajarimu memasak kalau kamu mau membantuku," bujukku. "Hmm... Kalau kamu mau membantuku, aku akan memberi hadiah kue chiffon yang lebih banyak dari bagianku," sambungku sambil mengedipkan sebelah mataku.
Telinga Murasakibara langsung melebar begitu mendengar tawaranku. Maka secepat kilat, dia melompat turun dari meja dan menyiapkan buku resep dan alat-alat untuk membuat kue. Hihi... Dengan ini, Murasakibara tidak akan malas-malasan.
Setelah semua siap di atas meja dapur, aku membuka buku resepku. Dengan cermat, aku memperhatikan bahan apa saja yang kumasukkan ke dalam mangkok. "Hmm... Pertama-tama, masukkan tepung terigu 75 gram... Terus diayak... Lalu campurkan 40 ml minyak sayur atau minyak zaitun, 70 ml susu dan vanili secukupnya."
Lalu aku menoleh ke arah Murasakibara setelah membaca resep itu. "Murasakibara, kamu masukkan tepung terigunya ke mangkok. Biar aku saja yang mengayaknya. Sebelum itu, aku campurkan dulu bahan lainnya di mangkok yang lain."
"OK," jawab Murasakibara singkat.
Setelah Murasakibara memasukkan tepung ke mangkok dan aku selesai mencampurkan bahan di mangkok lain, aku mengayak tepung itu. Murasakibara memperhatikan gerak-gerikku.
"Setelah itu..." Aku melihat resep lagi. "Pisahkan putih dan kuning telur. Nah, kali ini biar aku saja yang melakukannya..." kataku sambil mengambil 4 butir telur. Lalu masing-masing keempat telur itu kupecahkan dan kupisahkan di mangkok terpisah.
"Lalu? Apa lagi, Yuki-chin?" tanya Murasakibara sambil menyomot gula.
"Sekarang putih telurnya kucampur dengan 50 gram gula..." jawabku sambil memasukkan gula ke putih telur, kemudian mengaduknya dengan sendok pengocok. "Oh, ya, Murasakibara, kamu mengocok kuning telurnya. Jangan lupa tambahkan gula," ujarku.
Murasakibara mengangguk, lalu dia memasukkan gula ke mangkok berisi kuning telur. Setelah itu, dia mengocoknya.
"Ah, beres!" Aku mengelap keringatku setelah mengocok putih telur. Lalu aku berpaling ke arah Murasakibara. "Kamu sudah siap?" tanyaku padanya.
"Hampir..." jawab Murasakibara, masih mengocok. Lho, tunggu... Kuning telurnya, kan sudah memucat!
"Hei, berhenti saja mengocoknya! Itu warna kuningnya sudah memucat," sahutku memperingatkan.
"Oh, baik..." Dia akhirnya berhenti mengocok telurnya.
Setelah kami selesai mengocok telur, aku menuangkan campuran minyak, susu dan vanili ke campuran kuning telur. Kemudian aku mengaduknya.
"Apa ada lagi yang harus dicampur?" tanya Murasakibara lagi.
"Ah, ini dia... Etto..." Aku kembali memperhatikan buku resepku. "Tambahkan tepung. Tapi secara bertahap, ya."
"Tepung itu?" Murasakibara menunjuk ke bungkus tepung terigu. Eit, bukan yang itu!
"Bukan! Tapi tepung yang sudah kuayak tadi."
"Oh, yang itu... Ara, aku lupa..." Murasakibara menggaruk kepalanya canggung. "Tunggu sebentar, Yuki-chin. Akan kuambilkan dulu biar bisa kumasukkan tepungnya..." ucapnya sambil bergegas ke arah mangkok berisi tepung dan membawanya ke sisiku.
"OK, sekarang tuangkan," perintahku sambil mengaduk adonan.
Murasakibara langsung menuangkan tepung ke dalam adonan secara pelan-pelan, sedangkan aku terus mengaduk. Begitu terus sampai tepung sudah habis. Ah, membuat kue bersama beruang kecilku ini rasanya menyenangkan. Bagiku, ini pengalaman yang tak pernah kulupakan. Biasanya aku selalu membuat kue bersama Ayah dan Ibu. Tapi, kali ini berbeda. Murasakibara, beruang peliharaanku yang bersamaku dalam membuat kue.
"Sekarang apa lagi, Yuki-chin?" Lamunanku mendadak buyar ketika Murasakibara memanggilku.
Sontak aku kaget. "Eh? Etto... Apa lagi, ya? Chotto matte, Murasakibara..." jawabku agak gugup seraya memperhatikan kembali buku resepku. "Ah, ya. Tinggal satu campuran lagi. Sekarang kamu tinggal masukkan campuran putih telurnya, ya."
"OK lah." Murasakibara berjalan ke arah mangkok berisi campuran putih telur dan mengambilnya. Kemudian dia bergegas menghampiriku dengan campuran di pegangannya.
Tuk!
"U, uwaah..." Tiba-tiba kaki Murasakibara tersandung sendok hingga dia jatuh. Aku yang melihatnya refleks menjerit tertahan. Oh, tidak! Campuran putih telurnya tumpah ke meja dan...
Cprot!
"Mu, Murasakibara...!" pekikku. Betapa terkejutnya aku melihat beruang kecilku terkena adonan kue hingga melumuri badannya. Untunglah, aku sudah pakai celemek, jadi adonannya terciprat ke celemekku. Hanya saja masalahnya... Murasakibara sudah kotor karena badannya mengenai adonan kue...
"A, apa yang terjadi, Yuki-chin? Kenapa pandanganku jadi gelap? Apa sudah malam, ya?" Murasakibara malah berjalan mondar-mandir dengan mangkok yang masih di kepalanya. "Hmm... Ada adonan kue di sini... Slep! Rasanya enak..."
Aku yang tadinya panik, sekarang malah terkikik geli melihat tingkah lucu beruang kecil kesayanganku itu. Aduh, Murasakibara... Kamu masih saja bertingkah kekanak-kanakan seperti itu. Aku menghampirinya dan mengeluarkan mangkok dari kepalanya.
"Ah, pagi. Eh, Yuki-chin..." sapa Murasakibara begitu melihatku. Lidahnya menyapu adonan dari pipinya. "Slep! Adonannya enak, tapi sayang sudah mengenai badanku. Ini gara-gara aku..." tuturnya menyesal sambil menunduk.
"Hihi... Nggak apa-apa, kok. Nanti kita buat lagi," ujarku, masih menahan tawa.
"Yuki-chin nggak marah padaku, kan?" tanya Murasakibara dengan wajah sedih.
Aku menggeleng. "Nggak, kok. Aku malah khawatir kamu kenapa-kenapa."
"Yuki-chin..."
"Nah, kita akan membuat ulang adonan kue chiffon-nya. Tapi sebelum itu... Kamu harus membersihkan badanmu dulu," kataku.
Setelah selesai memandikan Murasakibara, aku mengeringkan bulunya dengan handuk. Ditambah dengan hairdryer agar cepat kering.
"Yosh, sudah kering..." ucapku setelah mematikan hairdryer dan melepas colokannya.
"Makasih, Yuki-chin," balas Murasakibara padaku.
Aku tersenyum lembut. "Sama-sama. Ayo, kita bikin kue lagi," ajakku sambil mulai menggendong badan Murasakibara.
"Tunggu dulu, Yuki-chin..." Tiba-tiba dia menghentikanku. "Aku mau mengatakan sesuatu padamu..."
"Eh? Ada apa?" tanyaku heran sambil duduk di hadapannya. "Kamu mau mengatakan apa padaku?"
"Begini... Uhm..." Murasakibara menggaruk kepalanya gugup dengan wajah yang mulai memerah. Lho? Kenapa dia bersikap seperti itu? Persis seperti saat dia memalingkan muka padaku dengan wajah memerahnya. Namun kali ini... Rasanya berbeda. Beruang kecilku kembali menatapku serius dan tidak berpaling dariku.
"Katakan saja, Murasakibara..." ucapku perlahan.
"Ehm, baiklah..." Murasakibara mengangguk pelan. "A, Aku mau bilang padamu kalau aku..."
Hening. Murasakibara kembali terdiam. Aku yang menunggu dia mau bilang apa jadi semakin penasaran. Sebenarnya, dia mau bilang apa padaku?
"Aku suka kamu, Yuki-chin..."
Deg!
Jantungku berdegup kencang begitu Murasakibara mengungkapkan rasa sukanya padaku. Eh, tunggu! Perasaan ini... Ah, dia suka aku sebagai apa? Aku bingung.
"Su, suka aku? Ka, kamu menyukaiku?" tanyaku tergagap untuk memastikan.
"Ya, Yuki-chin... Aku suka kamu..."
"Ehm, iya... Aku... Aku juga menyukaimu," jawabku sambil mengelus kepala Murasakibara. "Dari dulu aku memang suka kamu, lho. Kalau aku nggak menyukaimu, mana mungkin aku mau memeliharamu..."
"Hmph..." Murasakibara merengut sembari menggembungkan pipinya. "Kamu nggak ngerti maksudku, Yuki-chin... Aku suka kamu sebagai kekasih. Bukan sebagai peliharaan pada majikannya..." jelasnya ngambek.
"Eh, benarkah itu?" Mataku terbelalak mendengarnya. "Se, sejak kapan?"
"Uhm, itu..." Murasakibara terdiam sejenak. "Sebelum itu, sejak saat kita bertemu pertama kali, kamu perhatian sekali padaku sampai kamu mau membawaku ke rumahmu... Lalu, kamu mau memeliharaku dan kamu merawatku dengan baik... Kemudian... Kamu juga memahami sifat kekanakanku dan bersedia memakluminya walaupun itu merepotkanmu..." jelasnya panjang lebar.
"Murasakibara..." Aku tak bisa ngomong apa-apa lagi. Sungguh, dia mengungkapkan perasaannya dengan tulus. Dan ini membuat dadaku berdebar... Kusentuh dadaku. Debaran ini kian terasa di tanganku. Oh, Tuhan... Apakah ini pertanda aku juga menyukainya? Aku juga merasakan wajahku merona.
"Karena itulah... Aku menyukaimu... Jadi, Yuki-chin... Uhm... Apa itu mengejutkanmu? Maaf kalau aku baru mengatakannya sekarang..." sesalnya sambil menunduk.
"Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?" tanyaku tiba-tiba.
"Are? Apa maksudmu?"
"Seharusnya kamu bilang padaku dulu!" pekikku. "Sebetulnya... Aku juga menyukaimu. Tapi, karena kamu binatang dan kamu adalah seekor beruang... Aku ragu akan perasaan ini. Kamu tahu? Aku menyukaimu karena kamu itu istimewa bagiku. Kamu itu beruang yang bisa menemaniku bahkan membuatku tertawa akan tingkahmu," ungkapku dengan air mata menggenang di pelupuk mataku. "Karena, aku itu selalu merasa kesepian karena aku tak punya saudara. Yang bersamaku hanyalah orangtuaku. Tapi, sejak kamu hadir di kehidupanku, kamu telah membuat hari-hariku menjadi berwarna berkat dirimu, Murasakibara..."
Beruang kecilku itu terpana begitu mendengar ceritaku. Aku menghapus air mataku dan berkata, "Aku bisa saja menyukaimu sebagai kekasih... Tapi... Seandainya saja kalau kamu itu manusia..."
"Aku bisa berubah jadi manusia, kok..."
"Eh?" Aku tersentak. "Hontou ni?"
Murasakibara mengangguk. "Hontou dayo... Wujud beruangku ini bukan wujud asliku... Sebenarnya, aku adalah manusia yang seorang pengawal Raja Pelangi yang mewakili warna ungu, Atsushi Murasakibara. Asalku dari Miracle Rainbow World... Dunia lain yang melindungi Bumi dari kehampaan warna..."
"A, Apa katamu? Kamu... Seorang manusia?" tanyaku dengan tatapan tak percaya. Benarkah Murasakibara bisa berubah menjadi manusia?
"Hn... Kamu mau aku menunjukkannya padamu, Yuki-chin?" Murasakibara balas bertanya.
Aku terdiam sebentar, berpikir. "Etto... Agar aku bisa mempercayai ucapanmu... Tunjukkan saja padaku wujud manusiamu. Aku ingin melihatnya..." pintaku.
"Tapi... Aku takkan berpura-pura lagi menjadi boneka beruang biasa seperti permintaanmu..."
Aku tertawa. "Hehe... Yah, nggak mungkin, dong."
"Sekarang... Sudah saatnya aku menunjukkan sosok asliku. Terima kasih, Yuki-chin... Karena kamu sudah mau menerima cintaku," kata Murasakibara sambil tersenyum.
Sesudah dia mengatakan itu, muncul cahaya ungu menyinari badannya yang mungil. Karena cahayanya yang menyilaukan, aku menutup mataku. Tak tahan melihatnya lebih lama lagi. Tak lama setelah itu, cahaya itu menghilang. Kubuka mataku perlahan, ingin melihat apa yang terjadi dengan Murasakibara. Begitu melihat sosoknya, aku terkejut.
Mataku terbelalak lebar melihat seorang pemuda tampan dengan rambut ungu sebahu dan mata ungu yang indah. Tubuhnya tinggi besar hampir mencapai 2 meter. Membuat seolah-olah diriku merasa kecil dan tak sanggup menggapai tubuhnya. Habis, dia besar sekali seperti raksasa!
Tapi, jantungku tak berhenti berdebar ketika aku memandangi cowok itu. Meskipun dia besar, dia terlihat memesona. Apakah dia... Murasakibara?
*Normal POV*
Yukina tak menyangka kalau Murasakibara, si beruang yang dia rawat selama ini bisa berubah menjadi manusia. Itu karena cinta Murasakibara padanya berhasil terbalas.
"Mu, Murasakibara? Itu benar-benar kamu, Murasakibara?" tanya Yukina perlahan.
Murasakibara mengangguk. Dia lalu duduk di hadapan Yukina, sengaja agar dia bisa merendahkan tubuh besarnya. Namun bagi Yukina, tetap saja tubuhnya terlihat menjulang tinggi walaupun cowok bongsor itu sedang duduk sekalipun.
"Ini memang aku, Yuki-chin..." katanya santai. "Inilah wujud manusiaku. Bagaimana?"
"Ehm... Bagaimana, ya..." Yukina jadi bingung sendiri. Perlahan dia merasakan wajahnya merona merah. Dia berpaling ke arah lain sambil memainkan rambut ikalnya. Yah, dia mengakui kalau dia tak tahan kalau pemuda bersurai ungu itu menatap matanya. Bisa-bisa dirinya terbuai. "Tak kusangka... Kamu ternyata bisa berubah jadi cowok tinggi dan tampan... Ya, begitulah..."
"Eh... Ternyata Yuki-chin mengagumi wujud asliku, ya..." goda Murasakibara sambil mengacak-acak rambut Yukina dengan tangan besarnya.
"Aduh, jangan! Kamu membuat rambutku berantakan, Murasakibara!" pekik Yukina kesal sambil berusaha menepis tangan Murasakibara dengan tangan mungilnya. Namun dia tak dapat mengimbanginya.
"Ah, maaf deh..." Akhirnya Murasakibara melepaskan tangannya dari kepala Yukina.
"Huh, dasar..." gerutunya sambil merapikan rambutnya. Dia lalu menghela napas. "Hufft... Ne, Murasakibara... Aku..."
"Hm? Apa, Yuki-chin?" Murasakibara kembali menatap Yukina.
"Aku... Aku sekarang percaya padamu. Tadinya aku ragu kalau kamu bisa berubah jadi manusia. Tapi sejak kamu memperlihatkan wujud manusiamu padaku, aku jadi yakin. Aku yakin sekali kalau perasaanku ini tak salah. Aku jatuh hati pada beruang kesayanganku yang akhirnya berubah jadi manusia. Yaitu, kamu..." jelas Yukina sambil menunjuk Murasakibara.
Manik amethyst milik Murasakibara membulat sempurna. Dia tak menduga kalau gadis yang disukainya itu jujur dengan perasaannya. Itu berarti Yukina juga menyukainya. Begitu melihat Yukina menunjuk dirinya, dia tersenyum.
"Ne, Yuki-chin..." panggilnya.
"Ya?"
"Kamu masih mau memelukku?" pinta Murasakibara. "Dulu, kamu sering melakukannya, lho..."
"Are?" Yukina tak menyangka kalau Murasakibara masih mengingat momen itu. Dimana dia sering memeluk Murasakibara dalam wujud beruang tempo dulu. Tapi masalahnya... Yukina ragu melakukannya lagi karena sekarang Murasakibara sudah menjadi manusia. "Eh, etto... Aku tak bisa..."
"Yu-Ki-Chin..." Murasakibara merengut seraya mengeja. "Aku tak mau tahu. Kamu harus memelukku atau aku yang akan memelukmu duluan..."
"Mu, Murasakibara! Jangan kamu... Oh!" Yukina terkejut ketika pemuda bongsor itu memeluknya. Perlahan dia merasakan ada kehangatan menjalari tubuhnya. Jantungnya berdebar tak menentu. Namun dia tidak mengindahkannya maupun meronta untuk melepaskan diri. Dia malah membalas pelukan Murasakibara. Tak lama kemudian, mereka saling bertatapan.
"Murasakibara... Aku menyukaimu..." bisik Yukina lembut.
"Yuki-chin... Kamu mau aku menciummu? Kelihatannya bibirmu itu manis..." kata Murasakibara sambil mendekatkan wajahnya.
"Eh? Apa katamu-" Ucapan Yukina terputus begitu Murasakibara mengecup bibirnya. Di sela-sela ciuman itu, Yukina merasakan ada rasa manis di bibirnya. Pasti rasa sisa adonan kue tadi. Pelan-pelan dia menutup matanya, meneruskan ciuman itu sambil memeluk Murasakibara erat.
Ketika mereka berciuman, muncullah cahaya ungu menyelimuti mereka. Cahaya itu melesat ke atas langit, lalu menghilang dari pandangan.
Sementara itu, di Miracle Rainbow World...
"Wah, Shuuzo-sama sayang! Lihat itu!" seru Ratu Aya pada suaminya, Raja Shuuzo sambil menunjuk sesuatu di ruang batu kristal milik tujuh pengawal mereka.
"Ah, itu..." Mata kecil sang Raja melebar begitu melihat apa yang ditunjuk permaisurinya. "Batu kristal ungu milik Murasakibara bersinar terang!"
"Cantik sekali, ya! Aduh, cahaya ungunya itu..." Mata Ratu Aya berbinar-binar melihat kecantikan yang terpancar dari batu kristal itu.
"Persis seperti dugaanku... Misinya berhasil," kata Raja Shuuzo sambil tersenyum.
"Iya, Sayang. Sekarang tinggal Aomine-kun... Semoga dia berhasil menyusul Murasakibara-kun dan yang lain. Dengan begini, misimu akan sukses!" ujar Ratu antusias.
"Ya, kamu benar."
Ketika mereka berdua memandangi batu kristal itu, tiba-tiba sang Ratu menunduk malu dengan semburat merah di pipinya. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu pada suaminya, namun dia tak punya keberanian untuk mengutarakannya.
Raja Shuuzo menyadari ada yang aneh dengan permaisurinya. Dia menoleh ke arahnya dan bertanya, "Aya-sama, ada apa?"
"Ehm, Shuuzo-sama... Aku..."
"Katakan saja, Sayang. Tak usah malu," pinta sang Raja sambil tersenyum dan memegangi bahu Ratu Aya.
"Ba, baiklah..." Sang Ratu mengangguk. Lalu dia berkata, "Aku hamil, Shuuzo-sama..."
Sang Raja terkejut mendengar pemberitahuan istrinya itu. Tak lama kemudian wajahnya berubah cerah. "Ah, Aya-sama... Aku senang sekali mendengarnya! Sebentar lagi aku akan punya pewaris kerajaanku ini!" serunya bahagia sambil memeluk Ratu Aya.
"Oh, Shuuzo-sama..." Ratu Aya membalas pelukan sang Raja. "Kalau kamu senang, aku pun juga senang. Kita akan segera punya anak untuk meneruskan kerajaan ini."
"Ya, inilah yang aku tunggu-tunggu. Aku sudah tak sabar menjadi ayah," ucap Raja Shuuzo sambil mengelus wajah permaisurinya. "Terima kasih, Aya-sama. Karena kamu mau menjadi ratuku di sisiku."
"Ah, aku juga berterima kasih karena kamu telah menerimaku menjadi permaisuri untukmu. Aku mencintaimu..." balas sang Ratu lembut.
Akhirnya pasangan raja dan ratu itu berciuman mesra. Merasakan kebahagiaan yang tiada tara dalam diri mereka. Mereka berdua bahagia karena mereka akan dianugerahi anak.
Pet 6: Murasakibara The Bear End
*to be continued*
Akhirnya cerita Murasakibara selesai! Yatta~! XD *berjingkrak kegirangan*
Hufft... Perjuangan panjangku untuk menyelesaikan FF ini nggak sia-sia. Ini karena kalian yang mau menyemangatiku. Terima kasih karena kalian masih setia menunggui cerita ini walaupun update-nya nggak cepat seperti yang kalian harapkan... :'3
Aku tahu kok, kalau aku yang sebagai Author ini harus memikirkan ide cerita yang menarik dan menghibur buat kalian sebelum menuangkannya ke dalam bentuk Fanfic. Dan itu rasanya nggak mudah karena Author punya kesibukan lain kayak tugas kuliah. That's tiring. Jadi aku tak sempat kepikiran untuk melanjutkannya...
Sekali lagi aku mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya dan juga mohon maaf kalau cerita ini lebih lama update dari sebelumnya. Semoga menghibur buat kalian...
Oh ya, sekarang vote sudah resmi kututup di chapter ini. Karena sisanya tinggal chara satu lagi nih, yaitu Daiki Aomine! Asyik, tinggal dia yang belum muncul di sini. Hehe... Jadi kalian tinggal tebak saja Aomine jadi hewan apa. Siapa yang benar menebaknya, dapat dua juta rupiah! :v (Ini bukan kuis, woi!)
Apa kalian menikmati ceritanya? Sorry, ya kalau ceritanya panjang banget dan Murasakibara-nya OOC. Aku sudah berusaha membuatnya se-IC mungkin. Kuharap kalian suka... Kalau kalian mau memberi komentar, silakan saja.
Ada Review juga! Yosh, aku akan menjawabnya di sini:
artika: Hai, artika-san! ^^
Oh, begitu. Ah, aku juga suka Kagami. Dia karakter favoritku nomor 3, lho! Hehe...
Hmm... Yang jadi beruang bukan Aomine, tapi Murasakibara. Apa menurutmu dia cocok jadi beruang di sini? :3
OK, sama-sama. Terima kasih atas Review-mu!
Kamiku: Hai, Kamiku-san! Senang bisa bertemu lagi... :)
Hehe... Aku jadi malu. Terima kasih karena kamu suka ceritanya. Kuharap kamu juga suka yang bagian Murasakibara, seperti yang kamu inginkan. Silakan dibaca kalau mau...
Thanks for your Review! ^^
Kurasa itu saja balasan Review dariku...
Ah, hampir saja aku lupa. Ini ada Omake buat kalian. OK, sudah saatnya aku keluar dari sini. Selamat menikmati hari sekolah kalian dan sampai jumpa di cerita berikutnya! ^o^)/
Omake
Murasakibara dan Yukina masih meneruskan aksi ciuman mereka. Namun ketika Murasakibara menjilati bibir Yukina, spontan Yukina kaget bukan main. Refleks dia mendorong pelan bahu Murasakibara.
"Murasakibara! Kumohon lepaskan aku..." katanya.
"Eh, maaf..." Buru-buru Murasakibara melepaskan ciumannya dari bibir gadis itu. Dia menutup mulutnya dengan punggung tangannya. "Maaf... Aku terbawa suasana, jadi lupa diri..."
"Uhm..." Yukina hanya terdiam dengan wajahnya yang memerah sejak mengingat ciuman itu. Ditambah dengan jilatan dari Murasakibara. Ya, ciuman tadi itu adalah ciuman pertamanya. Debaran jantungnya semakin terasa di dadanya. "Kamu telah mencuri ciuman pertamaku..." ucapnya pelan.
Murasakibara malah tertawa kecil. "Hehe... Habis, bibir Yuki-chin rasanya manis. Makanya aku jadi pengen menciummu..." ujarnya polos.
"Huh, dasar! Memangnya aku ini permen?" sahut Yukina geregetan sambil memukul bahu bidang pemuda bongsor itu.
"Aduh! Yuki-chin... Kenapa aku dipukul? Sakit..." keluh Murasakibara. "Tolong jangan memukulku, dong..."
"Murasaki-Baka! Baka!" jerit Yukina. Tak peduli dengan permintaan Murasakibara untuk berhenti memukulnya. "Gara-gara kamu, aku jadi malu!"
"Ayolah... Kita, kan sudah jadi pacar. Apa aku tak boleh melakukannya padamu?" Murasakibara membela diri.
"Eh?" Yukina segera menghentikan pukulannya. "Sumimasen... Soalnya, aku... Pertama kali dicium oleh cowok sepertimu..."
"Ara, souka..." Murasakibara manggut-manggut. "Yah... Aku juga pertama kali mendapat ciuman darimu... Tapi maaf, ya. Aku tak bermaksud berbuat macam-macam padamu... Aku hanya..."
"Tak apa-apa," sela Yukina sambil tersenyum. "Seharusnya aku yang minta maaf karena reaksiku terlalu berlebihan. Lain kali, kita akan melakukannya lagi..."
"Eh, benarkah? Kamu mau aku menciummu lagi sekarang?"
"He, hei! Jangan sekarang juga kali!"
"Yukina-chan!"
Sayup-sayup terdengar suara seseorang memanggil nama Yukina. Sontak Murasakibara dan Yukina kaget begitu mendengar suara itu.
"Kamu dengar itu, Yuki-chin?" bisik Murasakibara. "Sepertinya ada orang memanggilmu..."
Yukina tidak menjawab. Dia berusaha mempertajam indera pendengarannya. Memastikan kalau dia tak salah dengar.
"Yukina-chan! Kamu ada di dalam?"
Astaga! Mata coklat Yukina terbelalak begitu mengetahui siapa yang memanggilnya tadi. "Ini gawat! Itu suara temanku! Dia akan ke sini!" pekiknya panik.
"Terus?" Murasakibara tak mengerti begitu melihat kepanikan Yukina.
"Aku takut dia akan melihatmu! Dia akan berpikir macam-macam kalau dia tahu kalau ada cowok sepertimu di rumahku ini," tutur Yukina sambil berdiri dari duduknya. "Ayo, kamu harus cepat sembunyi, Murasakibara!"
"Eh? Kenapa aku harus sembunyi? Kan dia..."
"Itu lebih baik daripada menampakkan dirimu!" potong Yukina keras.
"Ara, ara... Baiklah," sahut Murasakibara sambil bangkit untuk berdiri, walaupun terpaksa.
Aduh, menyembunyikannya dimana, ya? batin Yukina bingung. Dia celingak-celinguk mencari tempat sembunyi yang cocok untuk Murasakibara.
"Yuki-chin..."
"Ah, ya... Apa?" Yukina menoleh.
"Apa aku harus sembunyi di sana?" tanya Murasakibara sambil menunjuk sebuah lemari pakaian.
"Oh, ya! Kamu pintar, Murasakibara," puji Yukina sambil menarik tangan Murasakibara dan bergerak menuju lemari. Namun begitu Murasakibara masuk ke dalamnya, justru tak muat karena tubuh besarnya.
"Ukh! Sungguh ini membuatku stres," gumam Yukina sambil menepuk keningnya.
"Yukina-chan!" Suara panggilan itu tertangkap lagi di telinga Yukina. Yukina jadi semakin panik.
"Murasakibara! Kalau tak muat, jangan paksakan dirimu," kata Yukina sambil menarik Murasakibara keluar dari lemarinya.
"Jadi aku harus sembunyi dimana?" tanya Murasakibara.
"Dimana, ya... Eh?" Pandangan Yukina tertuju pada kolong meja belajarnya. Tiba-tiba saja dia dapat ide. "Murasakibara, kamu sembunyi saja ke kolong mejaku. Di situ muat, kok," ujarnya.
"Yakin?"
"Ya, aku yakin. Sembunyi saja ke dalam!"
"OK." Murasakibara merangkak ke bawah kolong meja dan duduk diam di sana. Setelah itu, Yukina menatap Murasakibara sambil meletakkan jari telunjuknya di bibirnya tanda diam. Murasakibara mengangguk sambil mengikuti gerakan Yukina tadi.
Setelah berhasil menyembunyikan pemuda tinggi itu, Yukina bergegas berlari keluar dari kamar. Menuruni setiap anak tangga untuk ke lantai satu, lalu melangkahkan kedua kakinya menuju ke arah pintu tokonya. Ketika sampai di sana dan membuka pintunya, ternyata salah satu teman sekolahnya yang mengenakan pakaian kasual, sudah berdiri di depan pintu. Raut wajahnya terlihat kesal karena sudah menunggu kedatangannya terlalu lama.
"Kamu kok, lama sekali sih? Kakiku sudah capek berdiri terus!" omelnya.
"Sumimasen, aku tadi dengar musik di kamar. Makanya, aku tak mendengarmu..." cetus Yukina sambil meminta maaf. Tentu saja dia bohong. Aslinya, kan dia menyembunyikan Murasakibara di kamarnya.
"Huh, udah tahu orangtuamu nggak ada di rumah, kamu malah mendengarkan musik. Nanti kalau ada orang datang ke rumahmu, bisa-bisa kamu dimarahi!" kata temannya ketus. Setelah itu dia menghela napas.
"Hufft... Yukina-chan, aku ke sini mau mengembalikan buku resepmu," katanya lagi sambil memberikan sebuah buku resep yang dia pegang pada Yukina.
Yukina menerimanya. "Te, terima kasih. Tak kusangka kalau kamu mengembalikannya secepat ini."
Temannya itu tertawa geli. "Hehe... Terima kasih, ya sudah meminjamkan aku buku resepmu. Berkat kamu, aku jadi tahu bagaimana cara membuat cupcake dengan mudah."
"Hehe... Ya, sama-sama," ujar Yukina sambil ikut tertawa.
"Sudah, ya. Aku pulang, Yukina-chan," kata teman Yukina sambil melambaikan tangannya dan berjalan pulang.
"Hati-hati, ya," balasnya sambil melambaikan tangan.
Setelah temannya pulang, Yukina menghela napas lega sambil menutup pintu tokonya. Kemudian dia bergerak menuju kamarnya untuk menemui Murasakibara yang masih bersembunyi di sana.
"Murasakibara, keluarlah. Temanku sudah pulang," cetusnya sambil masuk ke kamar.
"Ah, baguslah... Aku udah bisa keluar..." kata Murasakibara lega sambil bangkit. Namun...
Duk!
"Aduh!" Tiba-tiba dia menjerit kesakitan sambil memegang kepalanya yang sakit. Astaga, ternyata itu karena kepalanya terbentur meja. Murasakibara lupa kalau dia masih berada di kolong meja.
"Ah, Murasakibara!" jerit Yukina sambil menghampirinya. "Kamu nggak apa-apa, kan?"
"Sakit... Kepalaku sakit, Yuki-chin..." Murasakibara meringis kesakitan.
"Hihi... Kamu lupa, ya? Kamu itu masih di bawah meja..." tutur Yukina sambil menahan tawa. Dia lalu membantu Murasakibara keluar dari kolong mejanya. "Atau mungkin karena badan besarmu itu hingga kesulitan bergerak? Jadi orang tinggi susah juga, ya."
"Ukh, ya begitulah..." sahut Murasakibara sambil mengusap kepalanya. "Tapi aku nggak apa-apa, kok... Lagipula, kepalaku tak berdarah. Cuma sedikit benjol..."
"Hehe... Ehm, kita buat kue lagi, yuk?"
"Ara, hampir saja aku lupa lagi... Ayo, kita buat kue lagi. Aku sudah tak sabar ingin makan kue chiffon-nya, Yuki-chin..."
