"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAHHHHHHHHHHHHH JANGAN BOBOIBOY!"
Fang
"Kau tak apa Fang?" Ochobot berusaha mengguncang tubuhku dengan kencang. Aku mencoba bangun. Namun lengan sebelah kiriku begitu sakit dan sulit digerakkan.
"Aku... kenapa?" Tanyaku sedikit belum sadar. "Kau mengigaulah, Fang? "Gopal menjawab pertanyaanku yang tidak begitu jelas. Mengigau? Untung saja semua ini hanya mimpi. Aku masih belum bisa bangkit sepenuhnya. Tanganku benar – benar tidak berguna.
"Ma- mana Boboiboy?" Tanyaku terbata – bata pada Ochobot. "Dia sedang bertarung dengan Adu Du lah. Ini gara – gara korang." Gopal menimpal. "Aih kalian sudahlah." Ochobot melerai kami.
Aku mencari sosok Boboiboy dari sudut mataku.
Taufan membuat angin puyuh yang mengelilingi Probe, sedang Halilintar mencoba menghindar dari tembakan Mega Probe.
"Mau kemana kau Fang?" Tanya Ochobot menghalangi aku berdiri. "Membantu Boboiboy tentu saja." Jawabku.
"Kau belum pulih benar."
Boboiboy
Ada yang aneh dari Adu Du, dia jauh lebih kuat daripada sebelumnya. Gempa telah mengunci pergerakannya. Sedang halilintar berkali – kali melemparkan petir padanya.
Sesosok ungu berlari tertatih sambil memegang lengan sebelah kirinya.
FANG!
"KEMBALILAH FANG KAU BELUM PULIH BENAR!" Teriak Gempa mulai terkacau konsentrasinya. Probe mulai dapat meloloskan diri dari kuncian tanah Gempa. Dengan cepat Probe melumpuhkan Taufan dan Halilintar.
"AKAN KU PENYEKKAN KAUBOBOIBOY! HABISLAH KORANG!" Teriakkan Adu Du menggelegar. Habislah aku.
"Jari bayang!"
Dengan terengah – engah Fang membuat jari bayang. Ia menggunakan tangan kanannya yang keadaannya lebih baik daripada tangan kirinya. Mengunci Probe agar tidak bergerak.
"Ce- cepatlah Boboiboy." Ia mengerang. Taufan segera membuat gerakan combo dengan Halilintar
"GOLEM TANAH!" Gempa membuat tandingan Probe. Dengan cepat kami langsung menyerang Probe yang sama sekali tidak bisa bergerak.
Sampai akhirnya, golem tanah dapat memukul Probe, disertai serangan kombo dari Halilintar dan Taufan yang semakin menambah kemenangan kami. Adu Du dan Probe kalah dan terlempar.
Aku segera kembali menjadi satu. Berlari ke arah Fang yang menahan kesakitan. Ia pingsan lagi. Aku menagkapnya, sebelum ia mencapai tanah. "Terbaiklah kau Fang."
Gopal
Aku menatap segalanya penuh kekaguman. Setelah pertarungan yang panjang ini akhirnya kami dapat merebut kemenangan. Itu semua berkat Boboiboy.
"Hoi Gopal, bantulah Yaya dan Ying." Boboiboy memerintahku yang sedari tadi bersembunyi.
"Iyelah." Jawabku malas. "Mana Boboiboy? Adu Du sudah kalah kah?" Tanya Yaya kelihatan begitu lelah. "Sudahlah, makanya kau jangan hanya tidur je." Jawabku sekenanya.
"APA KORANG BILANG?!" Sial! Aku membangunkan amarah singa betina! Matilah aku! TOLONGGGG!
Boboiboy
Aku mendekap Fang dalam – dalam. Senyumnya tersungging dari bibirnya yang tipis. Nafasnya mulai teratur perlahan. Lengannya terluka cukup parah, namun kurasa masih bisa diobati. Aku memeluk dia erat- erat. Sambil membelainya.
...
Aku dimarahi Tok Aba karena membuat lengan Fang terluka. Untunglah Ying dan Yaya tidak terluka serius. Setelah istirahat sebentar, mereka sudah dapat beraktivitas lagi. Terutama Yaya, bahkan dia hari ini sudah menawarkan biskuitnya. Egh, lebih tepatnya memaksa kami memakannya.
"Ayolah cobalah. Satu je." Mimik Yaya mengisyaratkan kami harus memakan biskuitnya. "Eh, aku sudah kenyang... ng- makan angin tadi. He he he." Aku menolak dengan halus.
Ying dan Gopal menyeruput Ice Chocolate di Kedai Tok Aba. Tapi tidak ada Fang disini.
"Manalah budak sombong tu?" Tanya Gopal sambil menyeruput Ice Chocolatenya. Ying kelihatannya tidak begitu peduli dengan keadaan Fang. Tapi aku peduli.
"Entahlah. Kurasa lengannya masih agak sakit." Jawab sepengetahuanku. Aku tertunduk pelan. Tiba – tiba terlintas Fang di kepalaku. Senyumnya yang begitu tipis setelah kemenangan kami membuatku sedikit berdebar. Sudah kuduga, dia memang lebih baik kalau tersenyum.
"Apalah yang cucu Atok nih pikirkan?" Tanya Tok Aba membuyarkan lamunanku. "Ah, tak de apa – apa lah, tok."
"Kau tak tengok kawan kau tu?" Tanya Tok Aba yang kelihatannya melupakan nama Fang.
"Fang maksud Atok?" Tanyaku yakin. "Iyelah. Pergilah tengok dia. kau kan kawannya, pastilah dia senang lihat kau datang." Aku menghela nafas. Entah kenapa, aku merasa begitu bersalah pada Fang. Aku masih belum tahu apakah aku siap melihatnya lagi.
"Haih apalah kau diam ni. Pergilah tengok dia. Jangan lupa kau bawakan Special Hot Chocolate ini." Tok Aba memaksaku pergi menjenguk Fang.
"Aih Atok ni. Hoi Kalian mau ikut tak?" Tanyaku pada Gopal, Yaya, dan Ying.
"Tak maulah aku sedang sibuk berduaan dengan spesial Ice Chocolate Tok Aba ini." Jawab Gopal.
"Tak maulah, Fang tu orang jahat, saya tak suka." Ying menimpal lagi.
"Aku mau titipkan biskuitku pada Fang. Boleh tak?" Tanya Yaya menyodorkan Biskuit nerakanya. "Ayolah satu bungkus je." Aku tak dapat menolaknya lagi. "Iyelah. Tok Boboiboy nak pergi dulu."
Fang
Sudah dua hari setelah kejadian itu. Lenganku sudah agak membaik, namun badanku masih cukup lemas. Kurasa, aku terlalu banyak mengeluarkan tenaga.
Tok Tok Tok
Aih, siapalah itu. Mengganggu saja. Dengan malas aku berjalan keluar membuka pintu dengan malas.
"Ha- hai Fang. He he he." Sesosok anak laki – laki dengan topi jingga bertanduk dan berpola polkadot kuning berdiri di depan pintuku. Dia membawa Hot Chocolate Tok Aba dan... er... sebungkus biskuit... Yaya.
"Mau apa korang kemari?" Tanyaku seadanya. Aku sebal mengapa disaat penampilanku benar – benar tidak keren, dia datang. Rambutku yang biasanya tertata rapi dan sedikit jabrik, kali ini benar – benar berantakan dan bentuknya tidak karuan. Wajahku masih pucat dan lesu. Baju yang kukenakanpun baju yang seadanya. Benar – benar si Boboiboy ini!
"Aku nak mengantarkan ini dari Tok Aba. Dan... ya ... ini... eng, ya ini." Sambil menunjuk ke arah biskuit Yaya. Aku diam sejenak. Terasa aura canggung di antara kami berdua. Apalagi setelah Boboiboy menunjukkan biskuit Yaya.
"Kau tak minta aku masuk?" Tanya Boboiboy membuyarkan lamunanku.
"Oh, ye. Masuklah." Jawabku datar. Mempersilahkan Boboiboy masuk.
...
"Spesial Hot Chocolate Tok Aba sudah siap!" Boboiboy masuk kamarku sambil membawa secangkir Hot Chocolate kreasinya. "Minumlah, agar badanmu segar kembali."
Aku meminumnya dengan perlahan. Memang Boboiboy ini cucu Tok Aba, enak benar Hot Chocolate buatannya. Tak berbeda jauh dari buatan Tok Aba.
Keheningan kembali menyergap aku dan Boboiboy. Dia terlihat meremas – remas biskuit Yaya yang tak mungkin kumakan. Sedangkan aku mengalihkan pandanganku dengan meminum hot chocolate.
"Ada yang mau kau bicarakan?" Kalimat itu terjun bebas dari mulutku. Akupun tak menyangka. Boboiboy kelihatan begitu terkejut dengan pertanyaanku.
"Eng, ya sebenarnya aku cemas pada kau." Boboiboy memulainya dengan lirih. "Kau cukup hebat. Kau masih dapat gunakan kuasa kau saat lengan kau sakit." Boboiboy membuat telingaku terusik.
"Iyelah, aku memang terhe- " Boboiboy memelukku pelan, tidak terlalu erat. Ia tahu lenganku masih sakit. Tindakkan Boboiboy begitu tiba – tiba. Membuatku tak dapat menyelesaikan kalimatku.
"Kau selalu bikin aku cemas je."
Boboiboy
Aku tak sanggup melihat Fang. Aku sangat ingin merangkulnya. Membiarkan ia bersandar pada bahuku. Menumpahkan lagi air matanya ke bajuku. Tanpa sadar, aku meraih tubuh Fang. Melingkarkan tanganku di tubuhnya yang masih lemas. Aku tidak memeluknya erat. Aku tahu lengannya masih sakit.
"Kau selalu bikin aku cemas je."
"Terimakasih, Boboi...boy." Tiba – tiba Fang menyandarkan kepalanya di bahuku. Perlahan dengan satu lengannya yang masih baik, ia membalas pelukkanku. Mengunciku dalam pelukkan yang begitu hangat. Nafasnya terasa saat melewati leherku.
"Maaf Boboiboy." Satu kalimat singkat lagi. Aku sedikit tak kuat mendengarnya. Dia masih mendekapku. Dan kurasa pakaianku mulai basah lagi. Tak apalah, lebih baik seperti ini.
Aku menyentuh pipinya yang begitu hangat dan pucat. Ia menoleh menatapku pasrah.
"Sudahlah, wajah kau tak hensem nanti. Kalau mereka tahu, kepopuleran kau akan ku kalahkan." Fang langsung melepaskan pelukannya, menyeka air matanya.
"APA KORANG KATA?! TAK MUNGKIN LAH KAU LEBIH HEBAT DARIKU!" Aku menyeka air mata yang tertinggal di mata oriental Fang yang sembab karena mengeluarkan air hangat itu. "Iyelah, terserah korang saja."
Fang lalu terdiam sejenak,"Aku tak tahu, tapi aku takut kehilangan kau." Dia diam lagi. Tiba – tiba wajahnya merah. "Maksudku ... Kalau korang tak de, aku nanti tak punya saingan lagi. Tak de yang menyebalkan macam kau."
"Halah, alasan je lah kau ni." Gurauku sambil mengacak – acak rambut Navy Blue Fang. "Korang mau tak jadi kawanku?" Tanyaku sambil menertawakan Fang yang geram karena rambunya ku obrak – abrikkan.
"Terserah korang sajalah." Fang membuang mukanya lalu meminum hot chocolate. Terlihat semburat merah dari wajahnya yang pucat.
"Hmm, macamana kalau lebih dari sekedar kawan? Kau mau tak?" Tanyaku iseng. Fang diam wajahnya semakin merah seperti sehabis di rebus. Ia kelihatannya sedikit tersedak. Aku masih tertawa melihat reaksinya yang lucu. "Ahahahahaha ha."
"JANGAN MACAM – MACAM KAU,BOBOIBOYYYYYY!"
-Fin-
AKHIRNYA SAYA MENYELESAIKANNYA DENGAN SENTAUSA.
Akhir yang menggantung :") semoga kalian bahagia /Eh
Terima kasih atas semua reviewnya, dukungannya yang membuat saya tetap bersemangat berkarya dan meng update dengan cepat :" (ini berasa grammy award)
Sebenarnya tangan saya begitu gatal ingin membuat adegan panas (?) Boboiboy dan Fang hanya sayangnya kepentok rate :"
Saya juga sedang berencana membuat doujin Boboiboy X Fang untuk meramaikan khasanah perpairingan ini XD
Mungkin untuk selanjutnya saya akan mencoba membuat fic Boboiboy x Gopal, Boboiboy x Adu Du, Adu Du x Probe (?), Ejo jo X Adu Du (?), Cikgu Papa x Tok Aba(?!) /difentungmamazila XD
Sebenarnya rencananya saya mau membuat bonus chapter adegan panas boyfang tapi ga panas – panas (?) banget~ saya belum se ahli itu tenang saja :" membuat ini aja kokoro saya ga kuat XD
Sekali lagi saya minta maaf jika ada kesalahan penulisan, bahasa yang kurang tepat atau diksi yang kurang nyambung, OOC atau mungkin Plot yang sulit dimengerti.
Sampai bertemu di Fic saya yang selanjutnya :"D sebagai pemula, saya butuh kritik dan juga saran agar ke depannya lebih baik lagi. Sekali lagi terimakasih ^^
Disclaimer: Animonsta Studio
