Who Are You Mr Oh?

Author : LarasAfrilia1771

Genre : Romance, Tragedy, Yaoi

Cast : Oh Sehun ( 28 tahun )

Lu Han ( 19 tahun )

Other Cast : Kim Jinhwan iKON ( 18 tahun )

Mark Tuan Yien Got7 ( 22 tahun )

And other cast

.

.

Summary

Luhan hanya remaja biasa yang menjalani hidup sebagaimana mestinya. Hingga entah karena apa ia terjebak di bangunan bersama Oh Sehun yang memiliki dua istri.

.

.

.

.

.

_Sebelumnya_

"PERGII JANGAN DEKATI AKU, DASAR BAJINGANNN" Luhan murka mendorong tubuh Sehun untuk menjauh darinya. Ini semua karena Sehun yang telah menidurinya tanpa Luhan bisa mengelak. Kali ini ia berteriak dihadapan namja arogan itu, Luhan tak peduli ia merasa kotor telah dihamili oleh pria yang memiliki dua istri dihadapannya.

"Luhan kau ini kenapa. Jangan buat aku takut"

Berusaha untuk memeluk tubuh kecil itu. Namun Luhan segera menepis, lelehan air mata telah membanjiri wajahnya membuat Sehun semakin bertanya akan apa yang tengah Luhan lakukan sekarang.

"GARA – GARA KAU AKU HAMIL"

Sehun terdiam menatap Luhan yang kalut dengan emosi sekarang. Ia tak salah dengarkan apa yang baru saja dikatakan Luhan tadi. Luhan hamil?Tunggu—

"Kau hamil?"

.

.

.

_WAY_

Untuk sekian kalinya Luhan menangis dihadapan Sehun. Ia tak peduli dengan harga dirinya sekarang, yang jelas ia merasa hidup ini tak adil baginya. Sebelumnya Sehun telah memaksa Luhan untuk memeriksanya dengan alat tes kehamilan. Namja cantik itu mengelak habis – habisan, namun rasa penasaran membuat ia mau tak mau untuk melakukan itu dan hasilnya adalah positif . Luhan mengandung anak dari seorang Oh Sehun.

Namja tampan yang masih setia berjongkok dihadapannya hanya bisa menatap dalam sosok yang kini telah memeluk kedua lututnya, seakan sosok Sehun digambarkan seperti serigala yang ingin menerkan mangsanya perlahan.

"Aku benci padamu.. hiks..hiks" Tangisan Luhan tak bisa dihentikan. Namja cantik itu rela dinilai lemah oleh namja arogan tersebut, karena sejatinya ia sudah lemah sekarang.

"Eomma..hiks..hikss" Sosok eommanyalah yang kini terbayang dibenarknya. Sudah lama ia tak melihat eommanya dan Luhan sangat merindukan sosok itu. Ia tak mau lebih lama lagi berada di bangunan ini, ia ingin pulang dan mendekap kembali eommanya.

Sehun tak akan berbicara untuk sekarang, ia membiarkan Luhan menangis sepuasnya karena ia tahu rasanya terjebak dalam situasi membingungkan di umur yang masih belia.

Tangan kekarnya perlahan membawa tubuh yang lebih kecil itu kedalam dekapannya. Ia kira Luhan akan menolak mentah – mentah sentuhannya, tapi ternyata tidak sesuai dugaan. Dibawanya tubuh itu kedalam pelukan, mencoba untuk membawa tubuh Luhan untuk keluar dari sini menuju ranjang dengan gendongan kuala.

Hingga kini mereka saling berhadan dengan Luhan yang tengah terduduk disisi ranjang dan Sehun yang berjongkok tepat dihadapannya, memegang kedua tangan Luhan. Isakan masih terdengar, sebam juga memerah itulah keadaan Luhan sekarang yang semakin membuat Sehun bersalah.

Ia hapus lelehan air mata itu, mencium setiap inci wajah cantik milik namja ketiganya. Sehun sama sekali tak bermaksud jahat untuk ini. Ia hanya mencoba memenuhi wasiat sang appa, hanya itu saja namun parahnya ia mulai terjebak pesona Luhan namja terakhir baginya.

"Jangan buat aku takut Lu, Kumohon"

"Hiks.. tapi aku hamil Sehun bodoh..hiks ..hiks.. aku tidak mau asal kau " Luhan mengatakannya dengan isakan yang masih setia ia keluarkan. Sehun memakluminya karena usia Luhan yang belum matang juga namja cantik itu kaget dengan kenyataan yang terjadi.

"Ini anak kita Lu, ingat aku mencintaimu dan berjanji akan menikahimu secepatnya kau jangan khawatir" ucap Sehun penuh penegasan. Sejujurnya ia bahagia mendengar bahwa Luhan hamil, namun lain halnya dengan Luhan.

"Tapi kenapa kau tak menceraikan kedua namjamu jika kau mencintaiku Sehun. Aku lelah dengan situasi aneh ini, aku tak mau dicintai oleh namja yang jelas telah memiliki istri apalagi lebih dari satu" Entah dorongan apa ia berbicara seperti itu, namun yang jelas Luhan hanya mencurahkan seluruh argumennya sekarang. Entah Sehun akan menganggapnya apa telah meminta untuk menceraikan namjanya yang lain untuk hanya mencintainya. Bukan untuk meminta pertanggung jawaban, hanya saja belakangan ini hatinya menghangat jika berada di dekat sosok tampan yang jelas telah ia cap brengsek.

Sehun disana terdiam, mencoba mencerna apa yang Luhan katakan barusan. Jelas Sehun senang, karena menurutnya Luhan mencoba untuk menyatakan perasaannya meski dengan cara yang berbeda, dan Sehun paham akan hal itu.

"Aku akan melakukan itu, tapi nanti. Kumohon kau bersabar untuk ini semua karena sekarang yang terpenting adalah janin didalam perutmu ini. Anak kita Lu"

Luhan menggeleng masih terus menangis dihadapan Sehun "Lebih baik aku menggugurkan ini daripada harus menanggung semua resiko yang akan terjadi di rumah ini. Kau tau Sehun, istri – istrimu itu tak menyukaiku dan telah selingkuh dibelakangmu diam - diam" Emosinya memuncak dengan meninggikan nada bicara,membuatnya berbicara seenaknya hingga membongkar keburukan Mark juga Jinhwan dihdapan Sehun. Luhan tak sadar saat mengucapkan itu dan berakhir dengan dirinya yang hanya bisa bungkam saat Sehun terdiam disana menatap kearah mata dengan pandangan bertanya.

"Apa yang kau bicarakan Lu?" tanya Sehun.

Luhan hanya bisa diam. Sejujurnya ia takut saat ini, mengingat semua kejadian yang telah terjadi membuatnya harus berhati – hati dengan kelakuan kedua namja Sehun.

"-Ternyata dugaanku benar" suara pelan yang dikeluarkan Sehun masih bisa terdengar olehnya. Nada kesedihan Sehunlah yang ia tangkap sekarang, membuat Luhan bungkam saat kini Sehun telah duduk di lantai dengan kedua lengan yang memegang kepala.

"-Cihh.. rupanya dugaanku selama ini benar. Aku kira hanya omong kosong para maid saja untuk membuatku kesal tapi kenyataannya benar mereka bermain dibelakangku karena keegoisan yang aku lakukan" Sehun mendecih kala itu, menatap nanar kearah lantai. Semua hal yang telah ia lakukan hanya akan memperburuk keadaan. Tapi ini jelas bukan salah Sehun sepenuhnya, ia hanya melakukan perintah sang appa untuk melindungi namja – namja yang telah dipilihkan dengan cara memperistri mereka. Jelas ia penuh paksaan meski mereka berusaha menerima dengan topeng andalannya. Mark juga Jinhwan adalah korban keegoisannya yang berujung kekangan yang membuat mereka berontak dan berakhir dibelakangnya.

"Sehun, kau menangis" Luhan yang semula berada diatas seketika turun, menatap Sehun yang kini terduduk di lantai dengan air mata yang membendung di mata elangnya.

"Nyatanya aku lemah Lu, aku tak bisa menjaga mereka dengan baik, aku tersiksa dengan ini semua" Hal pertama dilakukan Sehun pada seseorang, berbicara tentang kesedihannya kepada seseorang dan itu jelas tak pernah ia lakukan sebelumnya.

Sehun yang dilihat oleh Luhan adalah sosok yang sebenarnya tengah mencari perlindungan seseorang. Namja tampan itu mencoba menjadi arogan hanya untuk menutupi kelemahannya.

Tangan ramping tersebut terulur untuk memeluk tubuh yang nyatanya lebih besar itu. Luhan menyusupkan kepalanya di leher Sehun, mencoba membuat posisi senyaman mungkin. Mengusap bahu tegapnya perlahan untuk menenangkan karena mereka berdua sama – sama mempunyai masalahnya masing – masing.

"Maafkan aku Sehun"

.

.

.

"Tak pernahkah kau membayangkan untuk keluar dari bangunan ini?"

"Jelas aku selalu membayangkan itu terjadi, namun rasanya sulit kau pasti tahu"

"Mencoba bermain dibelakang Sehun untuk membuatnya melepaskan kita"

"Ide bagus dan aku telah melakukannya, namun Sehun belum melihat itu semua"

Percakapan kedua namja itu di sebuah balkon pagi ini. Angin yang menerpa kulit membuat rambut keduanya berhembus sesuai arah angin. Mark menatap pemandangan deburan ombak dari arah balkon. Rasanya ingin sekali untuk sekedar bermain air disana, namun rasanya mustahil karena sekeras apapun ia meminta seseorang itu tak akan mengizinkannya.

"Apakah kita baru menyadari jika kita terkekang disini" tanya Mark pada Jinhwan yang kini merasanya hatinya berdenyut sakit dengan kenyataan.

"Aku terkekang dan ingin kembali seperti dahulu, namun sayangnya aku sulit untuk melupakan Sehun" Mark menyeringai, menoleh pada Jinhwan yang kini menatap sendu kedepan. Nasib yang jelas sama seperti dirinya.

"-Aku merasa senang saat bertemu dengan Hanbin yang mengajakku untuk pergi dari sini, namun setelahnya aku merasa bersalah pada Sehun"

"Kenapa?" tanya Mark masih menatap kearah namja mungil tersebut.

"Entahlah, itulah yang aku bingungkan"

"Kau mencintai Sehun?"

Jinhwan hanya membalas dengan dehaman dan kembali deburan ombak disanalah yang menemani mereka. Terkurung dalam bangunan megah dengan semua pemandangan yang indah dari luar, dan sayangnya mereka tak pernah sekalipun merasakan itu semua.

"Perlahan kita akan menemukan kehidupan yang dicari bersama dengan Sehun nantinya. Sekarang kita hanya mengikuti alur kemana kita pergi dimana nanti Sehun akan menjadi bagian masa lalu kita"

.

.

.

_WAY_

Kai menatap pantulan dirinya di cermin besar aparthement ini ia akan pergi ke rumah sang hyung untuk menghadiri acara pernikahannya bersama Luhan. Kai tak habis pikir dengan jalan pikir sang hyung yang merasa belum cukup dengan satu pendamping saja. Menbuatnya menghela napas berat sebari memasang arloji pada pergelangan tangan sebelum ia benar – benar pergi.

Kai mengambil kunci mobilnya di atas nakas. Berjalan dengan gagah di koridor tersebut dengan langkah yang teratur namun pasti. Sifat mendiam sang appa rupanya menurun kepada mereka, meski hyungnya lebih mendominasi dalam segala hal.

Sebari berkendara ia mencoba meraih ponsel disaku untuk menghubungi seseorang disana. ia menghubungi suster Dio untuk sekedar menanyakan keadaan yeoja yang telah dianggapnya sebagai eomma.

"Hallo, ada apa Kai?" Ucap seseorang diseberang sana.

"Hanya ingin menanyakan keadaannya saja, apakah baik?" tanya Kai masih fokus pada jalan.

"Benar – benar baik, aku harap ia segera pulih"

"Aku akan datang agak malam, karena ada urusan keluarga. Jadi jika beliau menanyakanku kau bilang aku sedang ada keperluan . Sudah ya aku tutup"

"Baiklah, hati – hati Kai"

Akhirnya sambunganpun terputus. Membuat Kai lebih fokus dalam menyetir. Hingga tak terasa ia telah tiba di tempat tujuan. Saat ia mulai melangkah rangkaian bunga menyambutnya seiring dengan langkah yang semakin masuk kedalam.

Kai menatap Jinhwan juga Mark disana yang nampak tengah berbicara dengan beberapa tamu undangan. Ia melangkah kearahnya, mencoba untuk bergabung.

"Hay Kai" Seru Jinhwan saat tak sengaja ia menatap Kai disana. Mereka bergabung untuk berbincang tentang sesuatu disana. Suasana ini nampak meriah dan ia tak merasakan ini di pesta pernikahan Jinhwan hyung juga Mark hyung yang terkesan sederhana.

"Sehun hyung dimana?" tanya Kai menengok kearah penjuru halaman belakang yang sangat luas.

"Sedang bersiap – siap mungkin" ucap Jinhwan.

Kai mengangguk, hingga ia berpamitan sejenak untuk pergi dari kumpulan tersebut. Acara inti memang belum dimulai namun tamu yang datang telah memenuhi tempat acara saat ini.

.

Langkahnya ia tuntun menuju kamar yang pernah ia datangi waktu itu. Kamar besar yang berada di lantai dua bangunan mewah tersebut. Kai sedikit menimang – nimang apakah ia harus membuka pintu ini atau tidak, ia penasaran untuk melihat bagaimana kondisi Luhan sekarang.

CKLEK

Pintu itu dibukanya hingga sontak pemandangannya terarah ke meja rias disana. Dimana sosok cantik yang telah memakai jas putih lengkap tengah menatap kearah cermin. Ia semakin masuk kedalam ketika Luhan menoleh kearahnya. Sudah lama ia tak menatap lekat sosok cantik ini, namja yang ia sukai.

"Kai, kenapa kau.."

Luhan bungkam saat bibirnya dibungkam oleh seseorang yang baru datang itu. Kai mencium Luhan disana, membuang sesaat semua status yang akan disanding Luhan sebagai istri ketiga hyungnya. Kai mohon untuk saat ini saja ia melakukan ini sebelum ia benar – benar harus merelakan Luhan.

Ciuman itu ia lepas, membuat Luhan menatap Kai penuh tanya. "Kau gila Kai" ujar Luhan kala itu, mendorong sedikit bahu namja tan tersebut agar menjauh darinya. Kai terdiam disana, menatap lekat sikap Luhan yang masih sama seperti dahulu.

"Kenapa kau mau dinikahi oleh hyungku?"

Luhan hanya terdiam saat pertanyaan itu dilontarkan kearahnya. Ia tak punya banyak alasan untuk menjawab itu, cukup dirinya yang tahu bukan orang lain.

"-Kau mencintainya?" Lagi Kai bertanya, menatap keseluruhan tubuh yang tengah terduduk itu hingga matanya tak sengaja menatap tangan Luhan yang tengah memegangi perutnya.

"-Kau hamil?"

Luhan terperangah, berusaha menampik namun nyatanya ia tak bisa. Kai sudah tahu ini, dan ia tak bisa untuk sekedar berucap padanya. Jujur Luhan malu akan hal ini, namun ia bisa berbuat apa dengan semua ini.

"Benar, aku hamil anak Sehun"

Kai terdiam disana, menatap lekat namja cantik yang kini terduduk dengan tangan yang meremas ujung kemejanya. Ia tersenyum tipis, meski senyuman ini sungguh menyayat hatinya. Namja tan itu kesal dengan kenyataan yang terjadi, selalu hyungnya yang mendapatkan apa yang ia inginkan sedangkan dirinya..

"Nyonya Heechul sangat mengkhawatirkanmu"

Entah keberanian dari mana ia mengucapkan itu, Kai akan membuka semua rahasia yang sudah ia pendam lama ini demi Luhan. Namja yang tengah terduduk itu segera menoleh, menatap Kai yang masih berdiri disana.

"-Eommamu dirawat di rumah sakit, jantunganya mengalami pembengkakkan" Kai menghembuskan napasnya sekejap sebelum melanjutkan, membuat Luhan disana terpaku dengan bendungan air mata yang berada di peluk mata rusanya. "-Ia ingin bertemu denganmu, tapi rasanya tak mungkin melihat bagaimana kondisimu sekarang" Luhan sontak bangkit, memegang kedua bahu namja yang lebih tinggi itu kuat. "Katakan dimana eommaku!" Kai menatap Luhan yang telah menangis dihadapannya, memerintah dirinya untuk memberitahu keberadaan sang eomma.

"Katakan Kai, kumohon!" Luhan terisak dalam ucapannya, membuat Kai semakin tak tega.

"-Aku ingin pergi dari bangunan ini, kumohon bantu aku Kai"

Tubuhnya merosot kebawahnya, Kai berusaha menenangkan Luhan yang nampak sangat terpukul sekarang. Kai meruntuki kebodohannya yang memberitahu Luhan akan hal ini. Ia sendiri tak yakin awalnya, namun mengingat sikap hyungnya yang terlalu egois ia melakukannya dan berencana membawa Luhan kabur dari bangunan ini dengan konsekwensi yang akan ia tanggung nanti.

"Bawa aku keluar dari sini Kai"

.

.

Sehun nampak sangat gagah dengan setelan jasnya yang ia kenakan sekarang. Namja arogan itu memang selalu tampil menawan kapanpun dan dimanapun, entah acara resmi maupun tidak Sehun selalu nampak menawan.

"Baby kau tampan sekali" Ujar namja mungil yang tiba – tiba datang ke ruangan besar milik Sehun. Menghampirinya disana dan seketika mencium sekilas bibir menggiurkan milik Oh Sehun.

"-Kau selalu saja tampan baby, aku semakin mencintaimu"

Sehun tersenyum atas pujian tersebut. Menatap kedua lengan mungil Jinhwan yang mulai membenarkan tatanan dasi kupu – jika namja keduanya itu mengatakan jika ia mencintainya, Sehun tahu hati Jinhwan hanyalah milik Hanbin seorang. Tunggu saja nanti, jika ia benar – benar melihat Jinhwan maupun Mark tengah bermain dibelakangnya Sehun akan segera menceraikan kedua namja tersebut.

"Kau juga semakin cantik baby, berikan bibirmu padaku sekarang. Aku sudah lama tak menciumu"

Jinhwan dengan senang hati memberikan bibirnya pada Sehun. Sedikit berjinjit hingga kedua belah bibir itu bertemu. Sehun melumatnya cukup kasar dan menuntut membuat Jinhwan sedikit kualahan namun ia sangat suka Sehun yang sangat agresif.

Beberapa saat mereka melakukan itu, seseorang masuk ke dalam ruangan dan membuat ciuman itu terlepas. Mark masuk dengan terburu - buru, wajah namja pertamanya nampak sangat panik dan membuat Sehun bertanya.

"Luhan tak ada di kamarnya"

.

.

.

"Kau bisa berlari kan?"

"Hmmm.."

Kini mereka telah berada di pekarangan depan bangunan mewah itu. Berjalan mengendap – ngendap untuk bisa keluar dari tempat ini. Kai membawa Luhan lewat pintu utama karena ia tahu pintu belakang tengah penuh oleh banyak tamu juga disana pasti ada Jinhwan juga Mark. Acara ini ditempatkan di halaman belakang, membuat semuanya teralihkan ke sana hingga halaman depan sangat kosong tanpa penjagaan yang ketat.

Luhan dituntun Kai untuk lebih cepat berjalan menuju tempat dimana mobilnya berada. Sesekali bersembunyi jika ada salah seorang penjaga yang berlalu lalang disana.

"Kau masih kuat tidak, biar aku gendong. Aku khawatir dengan kandunganmu" Kai berucap, menatap lekat Luhan yang nampak mengatur sedikit napasnya akibat berlari cukup jauh. Kai baru menyadari jika bangunan ini sangat luas sekali begitu juga dengan pekarangannya.

"Tidak, aku masih—

Ucapannya terpotong karena dengan cepat Kai berjongkok memunggunginya, meminta Luhan untuk segera naik ke pundaknya.

"Cepat kita tak punya banyak waktu"

Luhan melakukannya, memeluk leher Kai disana dan terus menatap ke sekitar takut – takut ada yang memergokinya.

Mereka terus berlari menuju tempat tujuan, tak meyadari jika seseorang dari arah balkon tengah menatapnya dengan pandangan mengancam.

.

.

Sehun terus mencari Luhan di semua penjuru ruangan besar itu. Memanggil – manggil nama tersebut hingga Sehun pusing harus mencari dimana lagi. Para petugas telah mencari di seluruh bangunan dan tak mendapati keberadaan namja ketiganya tersebut.

Pintu balkon yang dibuka lebar membawanya untuk melangkah ke arah sana. Sehun mencurigai jika namja cantik itu kembali berusaha kabur darinya. Sehun mengedarkan padangannya kebawah hingga ia sedikit menyeringai saat melihat siapa yang tengah berjalan di bawah sana. Dan tanpa tunggu lama Sehun menyuruh semua petugas yang berada di sana termasuk gerbang depan untuk menghalangi mobil Kai yang akan keluar dari pekarangan tersebut.

"Tahan dulu mobil yang akan keluar"

.

.

Luhan dan Kai sudah sampai di mobil. Ia bernapas lega sesekali mengusap perutnya yang mulai membuncit, ia takut kandungannya mengalami guncangan. Mereka tak menunggu lama untuk itu. Kai segera menyalakan mesin mobil dan berusaha untuk keluar dari tempat tersebut.

Namun saat mobilnya telah sampai di depan gerbang, Kai mengeryit mendapati ada empat orang penjaga yang menghalangi gerbang tempatnya keluar. Kai keluar dari mobilnya meninggalkan Luhan didalam, menyuruh para petugas untuk tak menghalangi gerbang didepannya.

Luhan yang berada di dalam hanya bisa menatap Kai disana. Hingga pintu mobil dibuka oleh seseorang dan dirinya ditarik paksa keluar dari mobil tersebut.

"Kau berusaha kabur lagi?"

Luhan terkejut menatap siapa yang kini memegang lengannya dengan keras. Itu Sehun dengan raut wajah yang menggambarkan jika ia sedang marah. Ia sangat takut saat tatapan itu menatap tajam ke arah matanya, membuat Luhan tak bisa berkutik sedikitpun.

Sehun menarik pergelangan tangannya cukup keras untuk kembali ke bangunan, tak memperdulikan kandungan Luhan yang bisa kapan saja terguncang karena gerakan yang cukup keras dan meninggalkan Kai yang nampak tengah ditahan oleh para petugas berbadan kekar disana.

.

.

Sehun membanting Luhan ke ranjang. Menggeram kesal dengan kelakuan Luhan yang sangat membuatnya kualahan. Hari ini adalah hari dimana Sehun akan benar – bena rmenjadikan Luhan istri syah nya, tapi kenapa namja cantik itu mencoba kabur dari acara ini.

"Dengar, aku tak mau untuk berdebat denganmu sekarang. Berhenti menangis dan bergegaslah, banyak tamu yang sudah datang, aku tak mau acara ini gagal total"

Luhan terdiam tak mau untuk berkutik sedikitpun dan menyetujui semua perintah Sehun tanpa pengecualian. Ia segera bangkit, kembali bercermin dan sedikit mengelus perut membuncitnya.

Sehun yang menatap pergerakan Luhan perlahan melunak. Ia lupa jika Luhan sedang mengandung anaknya sekarang.

"Aku tak akan membicarakan usahamu untuk kabur dengan Kai sekarang, namun setelah acara ini berakhir kau harus menjelaskannya. Kau berhutang penjelasan padaku"

.

.

_WAY_

Acara nampak sangat meriah setelah pengucapan janji pernikahan mereka yang disaksikan oleh banyak tamu termasuk kedua istrinya yang lain. Para tamu yang datang memberi ucapan terhadap mereka berdua untuk penikahan ini. Sehun hanya tersenyum tipis begitu juga Luhan.

Para rekan bisnis Sehun telah mengetahui jika sang pengusaha ini telah memiliki dua istri dan sekarang ditambah satu namja lagi. Jika orang – orang bertanya akan hal itu Sehun hanya membalas dengan seadanya, mengatakan jika ia berniat untuk memiliki istri banyak dan itu sudah bisa menjelaskan jika ia mampu untuk membiayai semua kebutuhan ketiga istrinya, meski itu bukan alasan yang sebenarnya.

Jika orang – orang menanyakan perihal tersebut, Sehun selalu tak mau untuk membahasnya lebih lanjut, lagipula ini masalah pribadi yang semua orang tak perlu mengetahuinya.

Sehun sedari tadi tak melihat Jinhwan juga Mark, saat masih di altar ia melihat mereka berdua namun sekarang Sehun tak mendapati keduanya.

Sepanjang acara berlangsung Luhan hanya bisa memasang wajah tak bergairahnya. Melirik ke arah samping saat Sehun menerima ucapan dari para tamu undangan. Luhan mengeluh jika kakinya terasa sangat pegal karena terlalu lama berdiri dan Sehun memaklumi itu, hingga acara berakhir dan mereka kini berada di kamar milik Sehun yang lebih mewah dari kamar miliknya.

"Cepat mandi lalu ganti bajumu, aku butuh penjelasan"

Saat Luhan mulai memasuki kamar mandi di ruangan itu, Sehun dengan acuh melenggang melewatinya. Duduk di sofa kamar tersebut seraya menyalakan televisi disana. Luhan mengerti akan sikap Sehun sekarang, namja angkuh itu pasti sangat marah karena kelakuannya. Luhan takut kejadian saat dirinya mencoba kabur untuk pertama kalinya terulang kembali, dimana Sehun memarahinya dan berucap dengan nada keras yang membuatnya ketakutan.

Tanpa berpikir lama lagi, ia segera masuk kedalam. Menyalankan mesin air disana dan mulai membersihkan diri.

.

.

Sehun menunggu Luhan beberapa menit sambil menyaksikan acara yang sebenarnya tidak terlalu ia sukai. Hingga beberapa saat kemudian Luhan keluar dari kamar mandi, mengenakan kemeja putih yang setahunya telah digunakan untuk acara tadi tanpa bawahan sedikitpun.

Berkali – kali Sehun menelan salivanya dengan kasar, tak berkedip sedikitpun saat menatap sosok tersebut yang mulai berjalan mendekat ke arahnya. Luhan meruntuki kebodohannya untuk mengenakan kemeja yang nampak trasparant ini, habisnya setelah acara selesai Sehun langsung membawanya kedalam kamar, sedangkan semua bajunya tertinggal di kamar di lantai dua miliknya.

"Duduklah"

Sehun menepuk – nepuk sofa disebelahnya, memerintah agar Luhan duduk disebelahnya. Luhan menuruti itu meski hatinya harap – harap cemas.

"Apa urusanmu dengan Kai?" Tanya Sehun masih fokus pada layar pipih didepan.

Luhan nampak berpikir sebelum menjawab. Jika ia mengatakan jika Kai mengajaknya pergi itu sungguh tidak mungkin, Kai akan dalam bahaya jika ia menjawab seperti itu. Luhan menghela napasnya sesaat, ia harus mengatakan keinginannya sekarang. Luhan hanya ingin menemui eommanya.

"Aku..aku hanya ingin menemui eommaku. Sudah beberapa bulan dan aku sangat merindukannya. Kai hanya membantuku untuk keluar dari sini"

Sehun menatap Luhan yang terduduk dengan kepala yang menunduk, ia sangat tahu jika Luhan sedang menahan tangisannya sekarang.

"-Hanya sekali Sehun, aku benar – benar merindukannya ..hiks..Kumohon"

Luhan tak bisa untuk menahan tangisnya, bersingkut kebawah dan memohon pada Sehun diatasnya. Luhan kini berada dihadapan Sehun dengan posisi bersingkut dihadapan Sehun seraya memegang kedua lutut kokot tersebut.

"Aku tetap tak mengizinkannya. Kai memberi tahumu bukan? Dasar anak itu"

Sifat yang benar – benar diwarisi oleh sang appa memang melekat kuat padanya. Sehun tak mau untuk mengizinkan Luhan pergi keluar barang sedikitpun dari bangunan ini. Sehun memang benar –benar sangat egois juga sekehendaknya. Mengatakan iya atau tidak dengan pasti tanpa kebimbangan.

"Sehun" Luhan mendongkak menatap paras angkuh milik Sehun kembali. Ini yang dibencinya dari sosok itu dan Luhan merasa ingin memberontak sekarang.

Sehun membawa Luhan untuk bangkit, mencoba menggendongnya ala kuala menuju ranjang. Luhan digendongannya hanya bisa menatap Sehun dari dekat. Terdiam menatapi paras rupawan tersebut dan terasa bibir itu mulai di ciumi oleh Sehun sendiri. Ia tak berontak ataupun memaki namja yang telah resmi menjadi suaminya ini. Sembilan tahun perbedaan usia mereka dan Luhan menganggap dirinya bagaikan anak kecil yang terjebak dilingkaran hitam seorang namja dewasa dengan segala keegoisannya.

Dan setelah itu Sehun kembali membalut Luhan dengan ciuman panas juga pelukan penuh kesih sayang. Mencoba untuk menikmati malam pertama mereka setelah pernikahan berlangsung. Luhan merasakan kelembutan Sehun diatasnya yang sebelumnya pernah ia rasakan namun sedikit kasar. Sehun mengecupi perut yang mulai membuncitnya, berbisik ke arah telinga untuk mengatakan beberapa kata yang membuat Luhan merona. Dibalik sifat yang sedikit keras, Sehun adalah namja romantis yang membuat siapa saja bertekuk lutut terhadapnya. Pantas saja kedua namjanya yang lain betah berlam – lama bersama Sehun karena selain paras yang tampan Sehun sebenarnya sosok yang penuh kasih juga sensual.

.

.

"Akhh..Akhh.. ..aku..egnhh..Lelaahh"

"Sebentar..lagikhh..baby"

Jinhwan terus saja terhentak seiring dengan genjotan yang diberikan Hanbin diatasnya. Malam ini Hanbin kembali datang ke kamarnya dan mengajaknya untuk bercinta. Jinhwan benar – benar sudah merindukan semua sentuhan Hanbin terhadapnya, termasuk dengan ini.

"Hanbinahhh...akuh..Keluarr..enghh"

"Bersama..Baby..Akhh"

CROTT

CROTT

Hanbin ambruk diatasnya, mengatur napas yang memburu setelah melakukan itu. Jinhwan hanya bisa pasrah saat bibir itu kembali dilumat oleh Hanbin diatasnya. Malam ini sungguh hebat pikirnya, lagipula sudah agak lama juga Sehun jarang datang ke kamarnya untuk sekedar melakukan sex.

"Sehun pasti sering melakukan sex bersamamu"

"Yaa, tapi akhir – akhir ini ini ia jarang melakukannya. Luhan menjadi nomer satu diatara Mark dan aku"

"Itu sungguh bagus baby, ayo kita pergi dari sini. Kita menikah dan aku akan selalu melayanimu dengan baik. Bagaimana?"

"Aku bukan si haus sex, Hanbin. Tunggu sampai Sehun benar – benar benci padaku"

"Sehun tak akan pernah membencimu, aku jamin. Kita lakukan sex didepannya, dan aku menjamin Sehun akan benar – benar menceraikanmu"

"Kau gila baby. Oh ya, kita melakukannya tanpa menggunakan pengaman apapun aishh aku takut hamil"

"Lagipula kau hamil anakku, tapi kenapa sudah lama kau melakukan itu dengan Sehun kenapa belum juga hamil Jinan?"

"Sehun selalu memakai pengaman jika melakukannya, atas perintahnya sendiri"

Hanbin hanya bisa mengangkat bahunya acuh. Kembali mengecupi leher si namja mungil dibawahnya. Jinhwan yakin jika Sehun dan Luhan tengah melakukan hal yang sama seperti mereka disana. Jadi untuk malam ini biarkan keduanya menghabiskan waktu mereka sekarang. Tak memperdulikan statusnya saat ini dan hanya bisa mendesah kalut dengan kenikmatan yang diberikan Hanbin kepadanya.

.

.

Pagi harinya setelah Luhan benar – benar bangun dari tidur, ia tak mendapati Sehun disebelahnya. Luhan menguap beberapa saat sebelum tangannya kembali mengusap perut yang nampak buncit itu kembali. Ini sudah menjadi kebiasaannya semenjak mengandung, dan Luhan tak tahu kenapa ingin saja mengelus calon bayi di diperutnya. Ia mengambil kemeja yang tergeletak dibawahnya, memakai kemeja tersebut tanpa dalaman yang tergeletak di lantai dengan tidak sopannya.

"Pagi sayang"

Itu suara Sehun yang baru keluar dari kamar mandi, dengan handuk yang melingkar di pinggang hingga sebatas lutut. Luhan tersenyum sesaat sebelum ia bangkit dari posisi untuk pergi ke kamarnya sendiri.

"Mau kemana?" tanya Sehun yang nampak memilih baju di lemari besar tersebut.

"Aku ingin mandi dan mengganti bajuku"

Sehun mengangguk paham dan setelahnya mengajak Luhan untuk menerima pelukan hangatnya pagi ini. Luhan yang menatap lengan terbuka Sehun segera memeluk tubuh itu. Merasakan wangi maskulin sang suami dan ia belum ingin untuk sekedar lepas dari pelukan itu.

Namja tampan tersebut sedikit menghiraukan kejadian kemarin disaat Luhan berusaha kembali kabur. Ia memang kesal saat itu, namun Sehun mencoba memaklumi Luhan meski ia tak mengizinkannya untuk menemui sang eomma.

"Jangan kabur lagi"

Luhan segera mendongkak menatap lekat mata tajam Sehun yang seolah menguncinya. Sehun menatapnya tajam dengan wajah dingin yang membuatnya tak bisa berkutik sedikitpun.

"Maaf Sehun"

"Berhenti meminta maaf sayang. Jika waktunya tepat aku akan mengizinkan itu semua, tapi tidak sekarang"

Saling melepaskan pelukan, Luhan hanya bisa terdiam saat mendengar ucapan tadi. Untuk masalah hutang pihutang yang tidak dimengerti olehnya juga permasalahan antar sang eomma dengan Sehun. Luhan tak tahu pasti itu semua, hingga Sehun benar – benar membenci eommanya juga menghalangi dirinya untuk menemui sang eomma. Luhan tak percaya seratus persen ucapan Sehun jika oemmanya terlilit hutang perusahaan hingga terpaksa menjualnya karena Kai datang kedalam kehidupan barunya sekarang. Mencoba membantu Luhan untuk keluar dari bangunan ini dan menemui eommanya meski mereka harus berusaha lebih penguasa bangunan ini membuat siapapun yang berusaha lari darinya akan terkendalikan untuk kembali masuk kebangunan bak istana ini.

.

.

.

TUBIKONTINYUEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEEE~~~~~~

Ada yang masih ingat dengan ff gaje ini?

Setelah lama hiatus beberapa abad lamanya dan pada akhirnya saya kembali update dengan ff buluk (?) ini. Perlu ekstra pikir yang keras buat bikin chap lanjutan ini ff karena saya benar – benar nge blank amit2 belakangan ini.

Yang masih minat silahkan baca, yang baru ayoo buruan follow dan favs juga review sebelum kehabisan wkwkkwkw. Ya intinya saya berharap review aja sih gak yang lain.

.

.

.

WANNA REVIEW