selamat datang di chapter 7 mudah2an kalian suka

Aku ucapkan terima kasih kepada semua readers, trutama kepada Minyak Tanah, JihanFitrina-chan, Bala-san Dewa Hikikomori, dan Gaijin karena sudah mereview chapter sebelumnya ^_^

.

.

.

disclaimer: Masashi Kishimoto

Pairing: NaruHina

Warning: Typo, OOC, alur ngebut, tidak membashing chara apapun

.

.

.


Normal POV

"Sa-sakura?" ujarnya kaget. Terang saja ia kaget, karena siapa yang menyangka akan bertemu dengan orang yang paling tidak mau ia temui di tempat seperti ini, dan dalam suasana seperti ini pula.

Sakura 'pun seperti salah tingkah, hanya menundukan wajahnya dan tidak berani menatap lekat Naruto. Sepertinya ia masih malu karena masalah waktu itu, begitupun Hinata, ia masih merasa trauma jika bertemu dengan Sakura. Keadaan saat itu sangat tegang sepertinya, sementara Gaara yang tidak mengetahui apapun memilih ikut diam.

Tidak lupa Hanabi yang menatap sinis kearah Sakura, dengan memicingkan matanya kerahnya seakan merendahkannya. Dan Sakura memberanikan diri untuk bicara, "Na-naruto? sedang apa disini?" tanyanya dengan nada agak sedikit takut.

"Aku sedang berkencan dengan Hinata! memangnya kenapa?" jawab Naruto mantap seraya menggenggam tangan Hinata. Hinata yang diperlakukan seperti itupun menjadi sedikit kaku, dan terlihat gurat merah menyembul di pipinya.

"Su-sudahlah, hari sudah malam. Bagaimana kalau kita semua pulang saja?" ucap Temari menenangkan.

"I-itu benar, hari sudah gelap. Lebih baik kita pulang Naruto-kun." ajak Hinata.

"Aku akan pulang bersama Naruto dan Hinata." ujar Gaara.

"Tapi Gaara..." cegah Temari, Namun Sakura memegang bahu Temari sambil berkata, "sudahlah Temari, lebih baik kita juga pulang bersama mereka."

Dan Temari hanya menatap pasrah kearah Sakura, dan kembali mengejar Gaara, dan meminta izin kepada mereka untuk pulang bersama, setelah diizinkan oleh mereka Temari 'pun memanggil Sakura, sontak membuat Naruto kaget.

"Kenapa Sakura juga ikut bersama kita?" Naruto mengungkapkan kekecewaannya. Dan Hinata menenangkannya dengan menepuk lembut pundaknya seraya berkata, "tenanglah Naruto-kun, Sakura-san juga teman kita, apakah kau tidak peduli padanya?"

Naruto tersadar, dan menganggap bahwa ucapan Hinata ada benarnya, karena sebenarnya Naruto juga masih memiliki "sedikit" rasa terhadap Sakura. Bagaimanapun juga kenangannya selama ini saat masih bersama Sakura tak bisa dihilangkan begitu saja, namun ia bimbang karena melihat Hinata yang begitu perhatian terhadapnya membuat perasaannya terhadap Sakura sedikit goyah.

Akhirnya Naruto menghembuskan nafas pasrah dan lebih memilih untuk melanjukan perjalanan pulang bersama Hinata, Hanabi, Gaara, Temari, dan Sakura. Dan menuju Stasiun untuk menaiki kereta shinkansen, sambil menunggu kereta tiba mereka hanya berdiam diri tanpa bicara sepatah katapun. Kebisuan menyelimuti mereka semua, tanpa tahu kapan keheningan itu akan berakhir.

Akhirnya kereta tiba, dan mereka semua naik kereta tersebut, setelah duduk di bangku kereta yang posisinya saling berhadapan dan Naruto memilih duduk berhadapan dengan Hinata, sedang Gaara duduk dengan Temari, sementara Sakura duduk berhadapan dengan Hanabi adik dari Hinata.

...

Akhirnya mereka telah sampai di stasiun tujuan, Gaara dan Temari sudah pulang duluan. Kini hanya tersisa mereka berempat yang sedang menunggu bus yang melewati rumah mereka masing-masing. Ada bus bewarna biru yang berhenti di halte tempat mereka menunggu, ternyata itu adalah bus yang Hinata tunggu, "Naruto-kun, Sakura-san, aku duluan jaa ne." ujar Hinata tersenyum sambil menuntun tangan Hanabi dan naik ke dalam bus itu.

Kini hanya tersisa mereka berdua, suasana yang sangat tak diinginkan oleh Naruto yang saat ini sedang kesal pada gadis di sebelahnya ini. Sunyi, bak angin yang menyongsong pergi, mereka benar-benar terjebak dalam diam. Tak bisa dipungkiri, kini Sakura agak tercengang dengan pesona Naruto yang makin tampan dan gagah semenjak putus dengannya. Sedih, itu yang dirasakan Sakura karena kini mereka bagai orang yang tak saling mengenal, tak seperti dulu.

"Lebih baik aku jalan saja, kebetulan rumahku tak jauh dari sini." ujar Naruto mengacuhkan Sakura dan langsung berjalan meninggalkannya sambil melipat kedua tangannya di belakang kepala.

"Tunggu Naruto... rumahku juga searah dengan rumahmu!" seru Sakura sambil berlari kearah Naruto.

"Kau jalan sendiri saja! kenapa harus denganku?" ujar Naruto sembari jalan.

"KAU MEMBIARKAN SEORANG WANITA SENDIRIAN DI MALAM HARII?" pekik Sakura.

"KENAPA TIDAK KAU PANGGIL SAJA SASUKE?" Naruto membalas teriakan Sakura. Membuat Sakura tertegun dan membulatkan kedua matanya. Dia pejamkan kedua matanya untuk sejenak dan menarik napas dalam-dalam sebelum akhirnya ia mulai berjalan kearah samping Naruto.

"Bukankah seperti ini lebih baik?" Sakura mencoba melontarkan ucapan dengan nada bersahabat. Sementara Naruto hanya mendengus dan berjalan seperti biasa. "Naruto, apakah kau sudah menyelesaikan pekerjaan rumah yang diberikan Orochimaru-sensei?" tanya Sakura.

"Belum, memangnya kenapa?" tanya Naruto tidak peduli.

"Haaah... seperti biasa kau pasti lupa." ujar Sakura sweatdrop mendengar ucapan Naruto yang belum mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru paling killer di sekolahnya. Sementara Naruto hanya mendengus kesal mendengar ucapan dari 'mantan' kekasihnya itu.

Dan sampailah Sakura di depan rumahnya, "Akhirnya sampai juga, Naruto terimakasih yaa... jaa ne." ucap Sakura sambil melambaikan tangannya, sementara Naruto tak membalas apapun, mungkin masih marah padanya. Setelah masuk ke dalam kamarnya, Sakura tak langsung mengganti pakaian seperti yang ia niatkan saat hendak masuk kamar, melainkan duduk membelakangi pintu sambil memikirkan Naruto.

Sementara Naruto juga sudah pulang ke rumahnya, "tadaima..." ucap Naruto dengan malas. "Okaeri Naruto." jawab seorang lelaki yang sangat mirip dengan Naruto.

"Tou-san! kau sudah pulang dari dinas?" ucap Naruto yang tidak tahu bagaimana mengekspresikan rasa bahagianya ketika ia tahu bahwa ayahnya telah pulang. "Kau kira tou-san kesayanganmu itu akan membiarkanmu menunggu sampai bosan?" tanya seorang wanita berambut merah yang tak lain adalah ibu dari Naruto.

"Ayo makan malam Naruto, kaa-san memasak ramen khusus untukmu malam ini." ujar Kushina.

"Whooaa... benarkah?" Naruto masih tak percaya.

"Ya... sebagai perayaan kepulangan tou-san hari ini." jawab ibunya itu.

Dan pada malam itu mereka sekeluarga makan dengan tenang, sementara Naruto melupakan sejenak kemarahannya.

.

.

.

xXx

Keesokan Harinya

Naruto datang ke kelasnya dengan semangat dan sesekali diiringi oleh siulan riang, tak biasanya Naruto berangkat sekolah sepagi ini, dan di koridor sekolah dia menyapa setiap guru yang lewat. Dan ketika memasuki kelas dia melihat teman-temannya ada yang asyik mengerjakan tugas, ada yang asyik mengobrol, bahkan ada pula yang asyik tidur nyenyak, seperti sahabatnya sekaligus ketua di kelas ini yaitu Shikamaru nara.

"Heeei bangun dasar pemalas!" ucap Naruto di depan telinga temannya itu.

"Nggg ada apa sih?" tanya Shikamaru dengan nada malasnya.

"Kau sudah mengerjakan tugas yang diberikan Orochimaru-sensei belum? kalau sudah aku pinjam dong, soalnya aku sama sekali tidak mengerti." jawab Naruto dengan wajah polosnya.

"Dasar nekad. Ambil saja buku berwarna biru ditasku." ucap Shikamaru dan akhirnya ia melanjutkan tidurnya lagi.

Dan akhirnya ia mengambil buku milik Shikamaru, setelah itu ia menyalin semua jawaban yang tertera di dalamnya. Ia mengerjakan dengan penuh semangat, sampai-sampai tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedari tadi memperhatikannya. Hinata yang dari tadi pandangan matanya selalu tertuju ke satu sosok yang sedang asyik mencontek tugas milik temannya. Ya, Hinata fokus melihat Naruto dengan sebuah senyum kecil yang menambah kesan manis pada diri Hinata.

"Kau sedang melihat siapa, Hinata?" tanya Tenten yang tiba-tiba datang ke meja Hinata.

"E-eh... e-e-eto, bu-bukan siapa-siapa kok." jawab Hinata malu-malu.

"Benarkah? kulihat kau sedang memperhatikan seseorang." balas Tenten memancing.

Dan akhirnya Hinata hanya bisa menunduk malu akibat ulah sahabatnya itu.

'KRIIIING'

Bel tanda dimulainya pelajaran berbunyi nyaring, semua siswa 'pun telah duduk di kursi masing-masing. Terlihat juga Naruto yang duduk sambil menyiapkan buku pelajaran.

Terdengar suara derap langkah kaki, yang tak lain milik Orochimaru-sensei, guru yang terkenal mengerikan di Konoha Internasional Highschool. Semua siswa kini diam, tak menunjukan gerak-gerik yang dapat membuat sang guru marah. Mereka tahu, bahwa guru ini tak main-main dalam memberikan hukuman, dia pernah menyuruh satu kelas untuk mengelilingi lapangan sebanyak seratus putaran.

Kini terlihat sang guru sedang memberikan materi pelajaran kepada seluruh siswa di kelas. Siswa-siwa mendengarkan dengan seius, karena takut tidak bisa menjawab pertanyaan yang akan diberikan olehnya, termasuk Naruto diantara para siswa yang serius mendengarkan penjelasan guru berambut panjang ini.

...

Saat jam Istirahat

Sekelompok pria berada di satu meja yang sama, mereka bersama-sama menikmati makanan yang mereka beli. "ITADAKIMASU!" ucap mereka secara bersamaan, dan mereka makan dengan lahap apa yang ada di depan mereka.

Setelah menghabiskan makanan mereka, dan dengan perut yang masih kenyang, mereka dengan dengan niat bercanda saling mengejek satu sama lain.

"Dasar Chouji rakus, kau yang paling duluan habis." ejek Kiba. Sejujurnya Chouji sendiri tidak marah diejek seperti itu oleh sobat karibnya, malah menurut mereka, saling ejek seperti itu bisa memperkuat ikatan persahabatan yang mereka miliki.

"Dasar kau maniak anjing." kali ini Naruto yang membalas Kiba.

"Hei siapa orang bodoh yang tadi pagi meminjam bukuku." Shikamaru ikut menimbrung.

"Hahaha... dasar pemalas akut." Kankuro 'pun mulai ikut-ikutan.

"Kankuro si pecinta boneka dan manekin." Chouji juga ikut meledek teman-temannya.

Begitulah mereka, saling mengejek sampai mereka semua lelah. Dan akhirnya mereka mengalihkan pembicaraan, "lau, bagaimana kencanmu dengan gadis Hyuuga itu kemarin?" tanya Kiba sambil menatap kearah Naruto yang sedang melamun.

Naruto yang dikejutkan oleh pertanyaan dari temannya itu hanya bisa diam tak berkutik. Dan sambil menggaruk bagian belakang kepalanya, dia tertawa renyah, dengan maksud memberi tahu teman-temannya.

Tanpa diberitahupun mereka semua, Shikamaru khususnya sudah tahu bahwa kencan Naruto dengan Hinata tidak berjalan dengan lancar. Dan Shikamaru 'pun bertanya, "apa yang mengganggu kencanmu kemarin?" Naruto gugup untuk meceritakannya, tapi apa boleh buat, karena mereka sahabat baiknya maka mau tidak mau dia harus menceritakan masalahnya kepada mereka.

"Kemarin kami bertemu Gaara." Naruto mulai menceritakan masalahnya.

"Lalu?" tanya Kankuro penasaran, mendengar nama adiknya disebut.

"Yaaahh... karena tidak enak, maka aku mengajaknya bersama kami, tapi itulah masalahnya." lanjut Naruto.

"Apa masalahnya?" tanya Chouji yang masih tidak mengerti.

"Dia terlihat sangat dekat dengan Hinata, membuatku sedikit iri." jawab Naruto.

Terlihat Kankuro yang menahan tawanya sedari tadi, kini melepaskan seluruh perasaan gelinya.

"Bwahahahaha... kau benar-benar lucu Naruto.." ujar Kankuro yang masih tertawa terbahak-bahak.

"He-hei, apanya yang lucu? bodoh." tanya Naruto, yang agak malu ditertawai seperti itu.

"Masa kau cemburu dengan Gaara, dia orang yang paling dingin selain pemuda Uchiha itu, kalau sampai kau kalah dengan adikku, kau benar-benar memalukan di dunia ini, Naruto." jawab Kankuro yang masih terpingkal.

Naruto hanya menggelengkan kepala ketika mendengar ucapan temannya itu. Lalu mereka melihatada seseorang yang masuk ke kelas, Sakura ternyata, dia datang dan langsung menuju meja dimana Naruto dan kawan-kawannya berkumpul.

Naruto bingung, apa yang Sakura mau? kenapa dia mendatangi dirinya? maka dia sendiri langsung bertanya pada gadis bersurai merah muda itu. "Mau apa kau?" Naruto yang muak melihat muka Gadis itu memalingkan wajahnya kearah lain. Teman-teman Naruto yang mengertipun memilih keluar dan membiarkan Naruto bersama Sakura dikelas yang sepi dan masih belum ada siswa yang masuk.

"Ada yang ingin kujelaskan, kumohon dengarkan." pinta Sakura kepada Naruto. Naruto yang tidak tega pun memilih untuk mendengarkan, "aku minta maaf jika telah membuatmu marah, a-aku menyadari kesalahanku selama ini." Sakura berhenti sejenak.

"Memang tadinya aku ingin menjadi kekasihmu hanya untuk pelampiasan, dan aku mengakui bahwa dulu aku sangat membencimu, tetapi kini semua berbeda dan berbalik. Kini aku merasa menyesal atas semua yang terjadi, karena ternyata aku benar-benar mencintaimu." itulah kalimat terpanjang yang keluar dari mulut gadis bersurai merah muda itu di hari ini.

"Begitukah? baru sekarangkah kau menyadarinya? sayangnya itu semua sudah basi! salahkan teman-temanmu yang tidak bisa menjaga rahasia terkutukmu itu!" ujar Naruto dengan mata berapi-api.

"Lebih baik aku pergi." ujarnya pada diri sendiri. Dan akhirnya Naruto keluar dari kelas meninggalkan Sakura yang diam membisu karena kaget akan ucapan Naruto tadi. Naruto bingung karena tidak melihat kawan-kawannya, dan akhirnya ia berjalan asal, entah menuju kemana.

...

Iris birunya tertuju pada pintu yang bertuliskan PERPUSTAKAAN. 'Sudah kucari, tetapi mereka masih belum ketemu, lebih baik aku ke perpustakaan saja, siapa tahu ada buku yang menarik.' ujar Naruto dalam hatinya.

'Kreet'

Peerlahan dia membuka pintu perpustakaan, terlihat Shizune-san sang penjaga perpustakaan mengangkat jari telunjuk di depan mulutnya yang mengartikan dilarang berisik, dan Naruto tahu itu.

Naruto beralih ke rak buku yang bertajuk Seni Dan Hiburan dan mengambil salah satu buku dari rak tersebut, dan dari sela-sela buku yang kosong, dia bisa melihat ada dua orang yang saling berpelukan.

Karena penasaran maka dia mendatangi mereka dengan maksud menegur, namun Naruto tercengang ketika yang dia lihat adalah Hinata dan Gaara.

Ya, Naruto tercengang.

Bersambung...


Author note

Hai fic ini kembali update, sorry lama updatenya soalnya sibuk sama pelajaran, tapi fic ini mudah2an gak hiatus ya ^^ bagian terakhirnya kayak novel misteri ya? hahaha mudah2an kalian terhibur yaa...

-Uchiha Azaka-