ATHEOS (What a . . .)
Title : ATHEOS
Author : Fina
Main Casts : Xi Luhan, Oh Sehun, KAI, Park Chanyeol
Other Casts : EXO members
Genre : Trangender/Genderswitch, Fantasy, Romance
WARNING : Typo(s), alur berantakan, GJ , OC bertebaran di Chapter 1&2 .
Rated : T
Latar : Atheos
Author ?
Ini chapter enamnya. Mohon maaf kalau lama sekali lanjutannya TT karena saya lagi galau berat sama Oh Sehun. Jadi kemaren-kemaren masih nggak srek nulisnya, aku sempet kaget ternyata ada yang nungguhin FF murah kayak gini :D terima kasih sekali ^^ seneng banget, tapi juga merasa bersalah TT. Mohon maaf readersdeul TT#bowbowbow. Dan chapter ini panjang ya, maaf kalu di tengah cerita kalian ngantuk atau bosen sama ceritanya yang makin absurd. Ini sumpah, GJ banget. Jadi mohon maaf sebesar-besarnya kalau nggak nge feel dan jelek banget. Di chapter depan, semoga saya bisa menulis dengan lebih baik lagi. Kamsahamnida ^_^ so, enjoy ^_^ #BowBIGBow
What a . . . begins …
Aku terbangun dengan rasa bibir Lord Sehun yang masih melekat di seluruh mulutku. Ini bukan kali pertama, dan (maaf jika aku mengatakan ini) aku sudah terbiasa dengan ciuman Lord Master itu. Mungkin sebelumnya aku membencinya, tapi kejadian semalam membuatku berfikir ulang untuk memiliki kebencian padanya.
Selagi aku merenungkan semua kejadian yang membuatku semakin menyukai Lord Sehun. Aku mengumpat sial karena aku harus pergi ke akademi hari ini.
Sempurna, sekarang aku harus pergi ke sekolah itu dengan identitas –tidak berguna-ku. Kenapa seseorang yang tidak memiliki kekuatan harus belajar mengendalikan kekuatannya ? terkadang aku ingin menusukkan garpu di setiap bantalan pantat para Master itu. Dan pisau ke pantat Lord Sehun.
Kurasa aku terlalu malas untuk hanya menghadiri absensi sekolah yang tidak masuk akal ini, pemikiran itu membuatku melupakan semua perawatan yang dibutuhkan tubuhku. Aku hanya mengikat asal rambutku ddan menggigit sebuah roti yang ada di meja makan (pemberian Diyo semalam) dan keluar dari rumah pohon nyamanku.
Semua akan lebih baik jika aku tidak menemukan Diyo yang sudah berkacak pinggang di depan pintu rumahku. Dia yang melihatku keluar tiba-tiba memelukku, mencubit pipiku, memeriksa kedua bola mataku dan melihat dengan seksama leherku. Aku sempat memberontak namun Diyo memperlihatkan seringaian menakutkannya padaku. Oh Tuhan, apa lagi.
"apa yang kau lakukan dengan Lord Master Sehun semalam ?"
Gadis di telepon itu. Ya, kenapa aku tidak sadar sebelumnya. Tidak ada yang mengetahui nomor rumahku kecuali Diyo dan Baekhyun. Karena Baekhyun adalah laki-laki jadi itu pasti Diyo.
"dia datang lalu menciumku dengan paksaan yang tidak kusuka"
"tapi Lord mengatakan kau tidur di sampingnya. Tenang saja Lu, aku tidak akan menyebarkannya. Kau bisa menceritakannya padaku"
Sekali lagi, aku ingin membunuh Lord Sehun.
"dan kau mempercayainya ? jika dia mengatakan dia telah memakan sekawanan domba seperti serigala kelaparan dengan darah di gusi dan giginya apa kau juga akan mempercayainya ?"
Diyo tampak terdiam melihat emosiku yang sempat meledak. Dengan langkah cepat aku menuruni anak tangga di pohon besar. Dan memulai hari keduaku di Eternia Academy, tentu dengan Diyo yang mengekor di belakangku.
Aku sempat terkejut dengan kecepatannya dia berhasil menyusul langkah kakiku. Dia berada di depanku sambil menunjukkan senyuman permintaan maafnya yang hanya kubalas dengan anggukan kepala yang tidak berarti. Lalu dia kembali mengekoriku sepanjang koridor. Sampai, aku kebingungan akan pergi ke mana setelah itu.
"di mana koridor yang akan membawaku menuju kelas Pengendalian Naga ?"
"belok kanan, pintu berwarna hitam nomor tiga"
Aku mengucapkan terima kasih singkatku pada Diyo lalu kembali menyibukkan kakiku menuju kelas dengan informasi yang diberikan oleh Diyo. Terkadang, gadis kecil itu sangat membantuku. Namun pagi ini kami berada di kelas yang berbeda. Jadi kurasa aku tidak akan mendapat cukup bantuan di kelas pertamaku nanti. Yang berarti . . . aku harus menghadapi sekumpulan anak aneh sendirian.
Kelasku tampak cukup menyeramkan, ditambah dengan segerombolan anak yang melihatku dengan tatapan yang tidak kusuka. Kelasku tampak seperti ruang kelas biasa dengan bangku dan meja berwarna hitam dan disusun sebanyak enam buah ke belakang dan empat ke samping.
Deretan pertama dipenuhi oleh gadis-gadis Mitera Foudre dengan jas hijau mereka, jangan terkecoh, hanya karena aku bertemu dengan si baik Diyo tidak semua anak-anak Mitera Foudre seperti itu. Hampir tujuh puluh persen dari mereka adalah anak kulit hitam dengan tatapan judes dan mematikan yang dilempar ke arahku. Mungkin aku tampak sangat berani atau terlalu bodoh, tapi aku memutar bola mataku malas saat tidak sengaja bertatapan dengan mereka. Tapi aku terlalu sibuk untuk melihat reaksi mereka.
Deretan kedua, tampak tidak peduli dengan kedatanganku, dan saat aku melihat urutan ketiga dari belakang bangku itu. Sialnya, aku harus berbagi kelas dengan Jina di pelajaran ini, tangannya tampak sibuk mencari sesuatu dalam tasnya. Di sekelilingnya, anak-anak Iliyana (laki-laki maupun perempuan) tampak membicarakan berita terbaru yang ada di academy dengan gesture yang tidak kusuka. Sedangkan para lelakinya, mereka tampak sibuk memperhatikan sang bidadari –Jina- yang mengeluarkan sisir dari tasnya dan kemudian menyisir rambut merah kehitamannya penuh kasih sayang (aku menahan dengan baik emosiku untuk tidak menjambaknya).
Deretan ketiga, kau pasti bisa menebak siapa yang ada di sana. Segerombol anak laki-laki Rover, tampan dan sepertinya sangat larut dalam candaan mereka, saling melempar tas, duduk di atas meja, dan memainkan beberapa teknik pengendalian udara mereka untuk menggoda anak-anak Iliyana, yang direspon dengan teriakan memuakkan oleh mereka. Beberapa dari mereka tampak berciuman dengan beberapa anak Iliyana, tapi yang lainnya terlihat tidak apa-apa dengan pemandangan yang cukup menjijikkan itu (aku tahu, aku berciuman dengan Lord Sehun, tapi tidak di tempat seperti ini). Dan di deretan paling belakang, Kris. Satu-satunya anak Rover yang menenggelamkan kepalanya dalam tas dan sepertinya dia tertidur di sana.
Sebenarnya, aku tidak tahu kenapa, tapi seolah aku mempunyai magnet special dengan anak-anak lelaki Rover Skia. Kapanpun aku berada di dekat mereka, selalu ada yang tampak menangkap perhatianku. Deretan kedua dari belakang, berambut coklat, dengan gaya rambut beratakan seksi, memiliki wajah U.S.A dan juga unsur Asia pada komposisinya. Senyumnya yang mengembang sangat menawan di mataku. Hingga kami terperangkap dalam sebuah tatapan yang …. Hentikan, itu menjijikkan.
Intinya, aku mengambil tempat duduk di deretan keempat, tempat yang terlihat seperti Asosiasi Perkumpulan Perdamaian Leluhur yang tampak terisolasi oleh geng-geng besar di sampingnya. Yeah, dari penampilannya, mereka tampak seperti kutu buku yang berambisius dalam mencapai tujuannya yang delapan puluh persen gagal diraihnya. Tapi aku tidak punya pilihan, selain mereka, kurasa tidak ada yang mau menerimaku. Atau mungkin Kris, jika saja kursi di sampingnya kosong.
Aku mengambil tempat duduk yang berhimpit dengan tembok di sebelah kiriku. Dengan jarak satu bangku di depan lelaki dengan senyum menawan itu, jika saja tidak terpisah dengan deretannya, aku pasti sudah duduk tepat di depannya.
Seorang anak laki-laki kemudian mengambil tempat duduk di sampingku. Wajah seorang anak jenius, pikirku. Rambutnya berwarna coklat tua dan terlihat sangat halus. Dari wajahnya yang tidak tersenyum padaku, kurasa kepribadiannya cukup menyebalkan. Dan jas biru yang ia kenakan, anak Rover. Aku tidak mau berurusan lagi dengan mereka. Cukup Lord Sehun dan Kris, atau mungkin satu lagi.
"kau pintar memilih teman sebangku, Junmyeon"
Bukan aku yang mendahului percakapan menjengkelkan itu, aku bahkan tidak mengenal siapa Junmyeon. Laki-laki di sebelahkupun diam, saat aku menoleh, aku melihat lelaki dengan senyum menawan itu duduk di belakangku.
Sejauh ini, hanya dia yang menampakkan kebajikan yang memuakkan dalam auranya di antara anak Rover lainnya.
Anak laki-laki di sebelahku tampak terganggu dengan kehadirannya. Aku menebak, laki-laki di sebelahkulah yang bernama Junmyeon. Satu lagi nama khas Korea ? kenapa tidak ? mereka bisa saja memberiku satu planet penuh berisi orang Korea, dan aku tidak akan meminta jatah lebih untuk itu.
Lelaki bernama Junmyeon itu melihatku dengan tatapan tajamnya. Sebenarnya, wajahnya tidak begitu menyebalkan. Hanya saja, bagaimana mengatakannya ? dia tampak seperti seorang kutu buku dengan orang tua kaya raya yang selalu memanjakannya. Tampak sudah terbiasa dengan gangguan seperti itu, anak laki-laki bernama Junmyeon itu menanggapinya dengan tetap membaca buku yang ada di tangannya.
"ingin berada di posisiku ?"
Anak Rover lain yang mendengar tanggapan Junmyeon mengeluarkan seringaiannya. Sedangkan laki-laki tampan yang ada di belakangku mendengus pelan seakan menyerah atas jawaban Junmyeon. Tapi sangat terlihat bahwa itu hanya kamuflase.
"tidak, terima kasih. Kurasa aku sudah cukup nyaman, tapi tuan putri itu tetap menjadi milikku"
Laki-laki tampan itu mengusap kasar rambut Junmyeon dan sedikit mendorong kepalanya. Lalu dengan langkah bossy dia kembali ke tempat duduknya. Dan ya, aku tidak terkejut sama sekali. Dia itu anak Rover, apa lagi yang kau harapkan ?
Junmyeon menghirup nafasnya dalam-dalam setelah mendapat perlakuan yang cukup memalukan itu. Ketika pengajar kami datang, seperti siswa di bumi pada umumnya, semua anak terlihat terburu-buru menempati tempat duduknya yang ditinggalnya.
Pengajar pertamaku, berbadan besar (maksudku lebar) memakai pakaian abad pertengahan berwarna cokelat caramel dengan renda di sekeliling lehernya. Rambut berwarna merah terang dan digelung dengan motif yang memusingkan di belakang kepalanya. Dia memakai make up yang sangat berantakan dengan blush on yang sangat terlihat di kedua pipi tebal berkerutnya, dan lipstick yang berwarna seperti darah. Wajahnya hampir seperti Dolores Umbridge tapi tentu saja Dolores jelas jauh lebih cantik ketimbang wanita lebar ini. Hanya saja, kurasa mereka memiliki problematika yang sama dalam hal kepribadian.
Wanita itu membawa sebuah buku panjang dan meletakkannya di atas meja guru. Seluruh kelas tidak mengeluarkan secuil suarapun. Bahkan Jina meletakkan sisirnya kembali ke dalam tas. Jadi sudah jelas, wanita ini menyeramkan.
"Xi Luhan ?"
Aku ingin terbang ke Bumi saat itu juga. Mungkin kau sudah tahu hal ini, setiap namamu dipanggil oleh seorang guru, atau professor, atau madame. Itu berarti kabar buruk akan menimpamu.
Aku mengangkat tanganku sesopan mungkin, seluruh kelas tampak menatap membunuh padaku. Kecuali anak Rover, mereka terlihat seperti sigung yang tidak bisa mengeluarkan gasnya. Sedangkan wanita lebar itu, dia memicingkan matanya. Sangat jelas bahwa wanita itu tidak menyukai keberadaanku di sini.
"setelah kelas ini selesai, Lord Sehun ingin bertemu denganmu di ruangannya"
Semua siswa berbisik, kelas yang hening seketika bersuara seperti sekumpulan lebah. Wah, lihat apa yang terjadi karena skandalku dan Lord Brengsek itu.
Aku tidak bisa hanya mengatakan iya atau tidak. Karena aku anak yang cukup aktif, jadi aku bertanya pada wanita lebar itu. Yang mana berakibat sangat buruk padaku.
"apa yang ingin dibicarakannya ? bu ?"
Tanyaku penuh kehati-hatian. Tapi aku Xi Luhan, aku tidak pernah bisa menjaga sopan santunku.
"Gadis Ethamos memang memiliki harga diri yang cukup tinggi rupanya. Sekarang, lebih baik kau menyusun kata-kata permohonan maafmu atas ketidak sopananmu dalam membolos di hari pertamamu di academy ini. Asal kau tahu, duniamu sangat berbeda dengan Atheos, aku tahu sangat sulit untuk beradaptasi dengan dunia yang lebih berkelas, tapi aku akan mendukungmu untuk mengubah sikapmu itu"
Penuturan panjang lebar itu tidak menjawab pertanyaanku. Sama sekali tidak. Sedikit menyayat hatiku ? sedikit, tapi aku sudah terbiasa.
Tapi perkataan itu mampu membuat seisi ruangan menatap penuh kemenangan padaku. Kecuali Junmyeon dan Kris, dan anak tampan itu dan juga anak Rover lainnya. Si wanita lebar kemudian memulai pelajarannya dengan meminta kami membuka buku halaman 789. Aku tidak tahu kalau mengontrol naga sama sulitnya dengan mengurus anak-anak kelinci yang tengah berlari di ladang gandum.
Aku mendengarkan penjelasan Madam Lebar itu dengan memaksa kedua mataku untuk tetap terbuka. Tapi setiap aku mencobanya, kedua mataku seolah menolak perintah otakku.
Anak laki-laki bernama Junmyeon yang ada di sebelahku menggeser sebungku s permen dengan bungkusan berwarna coklat. Di bawahnya terlihat tulisan tangannya, obat untuk matamu ? aku menatap heran pada Junmyeon yang masih terlihat focus pada pelajaran yang masih berlangsung. Namun tangannya bergerak lagi untuk menulis di secarik kertas kecil dan kemudian ia berikan padaku, makanlah, kau membutuhkannya.
Karena sepertinya anak itu memaksaku, jadi aku membuka bungkus permen itu dan –
"Madame Ynstu"
Lord Sehun datang. Dan dialah yang memanggil wanita lebar ini dengan nama itu.
Aku hampir tersedak saat memasukkan permen itu ke dalam mulutku karena kedatangannya. Rasa lemon, atau paling tidak itu yang kurasakan. Terasa sedikit … tidak … maksudku sangat asam dan membuat mataku membelalak tajam.
"Xi Luhan ? jangan keluarkan permen itu dari mulutmu, ikut aku"
Seluruh kelas, terlebih Jina. Menatapku dengan tajam hingga aku takut aku akan mati karena tatapan itu. Dan bisakah Lord Brengsek itu membaca pikiranku atau mecermati apapun yang kulakukan ? aku tidak menyukainya.
Mataku terlalu pedas untuk sekedar menjawab 'Ya' pada Lord Sehun. Jadi aku melewati badan Junmyeon dengan mendorongnya sedikit kasar dan mengikutinya keluar kelas. Aku masih tidak bisa mengontrol wajahku karena rasa permen yang sangat mematikan ini. Aku memang tidak mengantuk, tapi aku tidak yakin rasa ini akan membantuku dalam mengerti pelajaran wanita lebar tadi.
Lord Sehun mengajakku ke suatu tempat. Lebih tepatnya, perpustakaan besar tempatku bertemu dengan Kris pertama kalinya. Kami berdua memberi salam pada Madam Fu (dengan wajahku yang masih terlalu memalukan untuk kudeskripsikan) dan terus berjalan hingga rak terakhir di belakang perpustakaan itu.
Lord Sehun duduk dengan santainya di salah satu kursi yang ada di antara kedua rak raksasa yang berada di urutan terakhir perpustakaan itu. Dengan masih tersiksa dengan rasa permen ini, aku duduk di depannya, dan membenturkan dahiku di atas meja.
Kuharap dia tahu kalau ak—
"jangan dikeluarkan"
Mataku mengerjap lemah padanya, masih tersiksa dengan rasa asam permen yang ada di lidahku. Junmyeon, laki-laki itu pasti ingin membunuhku. Mungkin bukan membunuh, tapi bisa dibilang seperti itu.
Lord Sehun memangku dagunya di atas kedua tangan yang ia kepalkan. Matanya tampak mencermati raut wajahku yang kian memburuk setiap lelehan permen asam di lidahku menjadi. Dia tidak tersenyum atau menyeringai seperti biasanya. Hanya diam sambil menatapku dengan mata tajamnya. Atau setidaknya itu yang kulihat. Karena aku terlalu banyak memejamkan mataku daripada membukanya.
Ya, walaupun begitu, tetap saja. Tatapan tajam itu sangat menggangguku.
Saat aku membuka mataku untuk kesekian kalinya, aku melihat Lord Sehun telah berada di depanku. Menatapku lebih dekat dengan duduk di atas meja. (maaf jika aku terlihat dangkal) Tapi aku beranjak menciumnya dan mencoba memaksanya untuk merasakan rasa asam yang semakin menjadi di dalam mulutku. Dan ya, aku membuka mulutku. Anehnya, atau mungkin memang dia menginginkan ciuman ini. Dia membuka bibirnya dan mengambil permen yang ada di dalam mulutku dengan lidah lenturnya. Sesekali terdengar suaranya yang menyesap habis bibir bawahku sekaligus merasakan rasa asam yang membuat raut wajahnya terkadang mengkerut tidak suka.
Awalnya, aku ingin memberikan permen dengan rasa yang sangat memuakkan itu pada Lord Sehun. Tapi sepertinya ciuman ini membuat kami memperebutkannya dengan cara yang sedikit liar.
Lord Sehun memindah tubuhku ke atas meja sedangkan ia merubah posisinya menjadi berdiri di depanku. Dengan memegang pinggangku (dan sedikit meremasnya) dia memaksa kedua bibirnya untuk mendominasi ciuman yang kumulai. Permen yang kami pertahankan selama beberapa menit itu jatuh. Aku tidak tahu bagaimana, tapi itu tidak menghentikan permainan bibir kami yang semakin menjadi. Sangat sulit untuk mengendalikan nafsuku agar tidak meletakkan kedua tanganku di atas kepala Lord Sehun sambil meremas rambutnya untuk memperdalam ciumannya yang kurang memuaskan.
Bodohnya aku, dia bisa membaca pikiranku. Dan dia membantuku, sebenarnya itu bukan bantuan yang aku suka. Karena dia seakan memaksa kedua tanganku untuk melingkar di sekitar lehernya. Saat aku kehilangan semua pemikiran rasionalku untuk tidak melakukan hal yang akan membuatnya semakin menjadi, jari-jariku mulai bekerja untuk meremas rambut Lord Sehun dan memaksanya untuk memperdalam ciumannya padaku. Tapi dia meninggalkan bibirku, melepas ciumannya dan bibirnya beralih menuju leherku. Kupikir ciuman pada leher itu akan menghabiskan waktu lama hingga Madam Fu pergi dari kursinya dan mengecek kami berdua. Tapi Lord Sehun hanya mengecup sekeliling leherku dengan kecupan ringannya. Tidak ada sesapan yang membuatku mengeluarkan suara desahan. Tapi ciuman di leher itu cukup memabukkan.
Lord Sehun menghentikan ciuman itu lalu menatap mataku dengan tatapan dinginnya. Nafasku masih terengah-engah dan wajahku masih terasa panas karena -apa yang sudah kami lakukan-
Tangannya meraih dagu dan rahangku mengecup bibirku sekali lagi, menyesapnya pelan, lalu kembali menatapku dengan tajam. Dan (maaf) aku sangat menyukainya.
"menikahlah denganku Luhan"
Dengan nafas yang terengah-engah aku membuka lebar mataku dan melihat tatapan yang diberikan Lord Sehun padaku. Dia pasti bercanda, menikah ? tidak … tidak … tidak …
Aku terlalu muda untuk menghabiskan hidupku bersama laki-laki mesum di hadapanku ini.
"kau yang memulainya. Dan jangan memanggilku mesum"
Ah iya, dia suka membaca pikiranku.
"ah …. Kau ingin? Aku ? me-ni-kah ? dengan …"
Lord Sehun mengangguk yakin sebelum aku meneruskan kalimatku. Dia tampak serius, dan itu bukan berita bagus. Kita berbicara tentang laki-laki yang selalu tergoda dengan bibirku. Aku berani bertaruh dia sudah pernah bermimpi bercinta denganku. Aku tidak apa-apa jika sosokku hanyalah bayangan ketika melakukan sesuatu dengannya. Tapi menikah ? mempunyai anak ? bercinta dengannya setiap hari ? mungkin tidak setiap hari, tapi itu mungkin juga. Tidak, aku tidak datang ke Atheos untuk menikahi laki-laki berlidah panjang sepertinya di usia yang sangat dini. Apa tidak ada pengetahuan biologi yang memadai di sini ? di usia sepertiku hormon masih belum bekerja secara sempurna. Aku bisa saja mati ketika melahirkan anakku atau bahkan ketika melayani suamiku (kecil kemungkinan, tapi bisa saja). Walaupun aku sangat menyukai ciumannya, aku … tidak …
Lord Sehun kembali melumat bibirku dengan lembut. Menyesapnya pelan dan dengan hati-hati ia menggigit bibir bawahku yang masih membengkak. Saat melepas ciumannya, dia tersenyum padaku.
"jadi, kau menerimanya ?"
Tatapan mata itu membuat tubuhku kaku untuk beberapa saat. Kami baru bertemu, dan menikah bukanlah ajakan yang pantas untuk pertemuan yang sangat singkat dan fulgar ini.
"kau bisa membaca pikiranku kan ? kenapa kau tidak menyimpulkan sendiri saja jawabanku ?"
Emosiku memuncak, dadaku bergemuruh kalut dalam perasaan marah, malu dan juga bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana dengan lelaki di hadapanku ini.
Jadi aku menuruni meja dan berjalan menjauh dari Lord Sehun, dengan sedikit menghentakkan kakiku. Tapi, aku tidak berhasil meninggalkannya karena lagi-lagi dia memakai mantra bayangan dan tiba-tiba berada di depanku.
Dari kilatan matanya, aku menemuka kekecewaan yang tertahan di sana. Meskipun wajahnya tetap datar seperti biasa, aku berpikir bahwa Lord Sehun tengah berada di saat terseulitnya.
"aku membacanya, tapi kau berbicara tanpa henti hingga membuatku bingung. Aku hanya ingin kau menjadi istriku, tapi jika kau tidak bisa menjawabnya, atau kau bingung dengan semua ini. Temui aku di ruanganku besok sore. Aku mengiginkan jawabanmu, segera"
Lalu POOF. Dia menghilang, sedangkan aku terdiam seperti orang bodoh dengan kemarahanku yang sudah mencapai batasnya.
Dia yang memintaku untuk menjadi istrinya (dengan cara memaksa) tapi dia menyuruhku untuk datang ke ruangannya sambil membawa jawaban. Laki-laki macam apa itu. Aku membencinya, aku tidak akan datang. Kalaupun aku memutuskan akan datang, aku mungkin masih belum memberikan jawaban yang tepat. Ralat, tidak ada yang benar-benar tepat dalam masalah ini.
Aku mengehembuskan nafasku panjang. Masih terdiam sambil menundukkan wajahku dalam-dalam. Hingga aku mendengar sebuah buku yang terjatuh dari rak di sebelah kiriku. Lalu aku berlari pada seseorang yang ada di samping rak itu. Baekhyun melihatku dengan tatapan yang sulit dipercayainya, sedangkan aku masih memeluknya erat dengan menangis tersedu-sedu di sana.
"aku membencinya"
Ucapku sambil tetap terisak dalam pelukannya.
Mengerti akan kondisiku, laki-laki itu memelukku sambil mengelus punggungku lembut. Tidak mengatakan apa-apa. Aku tahu, situasi ini memang terlalu menakjubkan sekligus memuakkan.
What a . . . ends here.
Gimana ? GJ kan ? absurd kan ? panjang kan ? ngantuk kan ? (IYA THOR) . Saya tahu TT. Ini chapter emang seharusnya nggak dipost dulu, tapi karena pikiran udah mentok di sini, kayaknya saya nyerah trus dengan kepedean yang nggak banget ngepost ini TT. Mohon maaf ya readers kalo nggak memuaskan TT Review Juseyo … #bowBIGbow
