Jeon Jungkook duduk di pojok kelasnya. Sepasang mata sekelam malamnya sibuk mengamati layar ponsel yang menunjukkan tampilan sebuah aplikasi. Ia menutupnya dengan bosan, lalu membukanya lagi. Begitu terus hingga sesosok makhluk berbibir tebal menyembulkan kepalanya di depan mata, membuatnya terlonjak hingga hampir memekik degan suaranya yang menggoda.
"Kau dari tadi melamun."
Komentar manusia bertubuh ramping itu membuat radar di dalam kepala pemuda kelinci menangkap sinyal tanda bahaya. Bukan apa-apa, hanya saja setiap kali makhluk di hadapannya mengajak bicara, pasti ada satu topik yang selalu ditanyakannya.
"Apa kakakmu yang tampan itu sudah memiliki kekasih?"
Jeon muda mengerucutkan bibir. Wajahnya nampak cemberut saat ia berusaha melayangkan tatapan nyalang kepada pemuda bersurai abu-abu silver yang malah balas menunjukkan binar penuh harapan.
"Ayolah, Kook. Berikan aku nomor ponselnya. Kau jangan pelit begitu."
"Tidak boleh." sahut pemuda kelinci cepat. Ia sedikit banyak menyalahkan dosennya yang telat masuk ke kelas sehingga Bambam sibuk menanyainya banyak hal mengenai kakaknya yang tampan. "Nanti nii-nii bisa mengamuk kalau aku menyebarkan nomor ponselnya. Uang sakuku bisa dipotong."
Ia tidak yakin soal ini, tapi si penggerutu Kim pasti akan mengomel kalau ada orang asing yang genit-genit mengiriminya pesan.
"Whoaaa… kakakmu pandai mengatur uang! Calon suami idaman." pemuda yang mengenakan ripped jeans dan kemeja santai berwarna hitam itu berteriak girang. Ia bertepuk tangan seakan baru saja menyaksikan sebuah pertunjukan yang menawan.
Sesungguhnya, ia kegirangan karena sebuah fakta mengejutkan mengenai sang pria tampan berhasil didapatnya dalam genggaman.
Ingin rasanya Jungkook memberitahukan bahwa Kim Taehyung merupakan calon suami idaman miliknya, namun ia mengurungkan niat yang sempat terlintas di kepala. Bukannya karena takut melukai temannya, hanya saja, status dirinya saat ini memang bagaikan UFO, a.k.a. unidentified fling occurrence, yang berarti masa bebas dimana seseorang belum memiliki tanggung jawab terhadap sesuatu sehingga hubungan yang dimiliki tidak bisa diidentifikasi.
Lebih gampangnya, HTS alias hubungan tanpa status.
Tch! Jikalau hubungan mereka diibaratkan UFO, Kim Taehyung pastilah si alien, alias makhluk yang mengendalikan UFO.
Jeon Jungkook dan Kim Taehyung memang tinggal seatap, seapartemen, sekamar, bahkan sekasur. Namun keduanya tidak memiliki hubungan yang jelas.
Sepasang kekasih? Tentu bukan. Tidak ada satupun diantara kedua makhluk keras kepala yang menyatakan perasaan dan meminta yang lain untuk menjadi sandaran hati.
Bertunangan? Tidak ada cincin yang mengikat, tidak ada pembicaraan serius antara kedua keluarga. Walau memang keluarga Park dan keluarga Kim telah saling mendeklarasikan bahwa kedua keluarga akan menjadi besan, acara pertunangan sama sekali tidak pernah dilaksanakan.
Tom and Jerry zone? Memang kelinci Jeon dan alien Kim sering bertengkar, tapi Jeon Jungkook tidak sudi disamakan seperti kucing yang dengan gampang menganggap siapapun yang memberinya makan sebagai sang tuan. Maaf saja, Jeon Jungkook merupakan tipe setia. Ia juga ogah diposisikan sebagai tikus meski tikus dan kelinci boleh dibilang sama-sama binatang pengerat.
Aniki-outoto zone? Sepertinya ini yang peling tepat.
Jeon Jungkook menghela nafas lelah. Sejujurnya ia sering kali menanyakan kepada dirinya sendiri perihal status dirinya di mata seorang Kim Taehyung.
Dan jawabnya ada di ujung langit…
Ini sudah lima hari sejak rangkulan mendebarkan yang didapatkannya ketika Cultural Day, dan ia beserta nii-nii masih saja sering bertengkar karena hal-hal sepele. Misalnya saja, pagi tadi pria Kim memarahinya gara-gara ia menemukan celana dalam hitam yang bolong di bagian tengah. Itu memang milik si manis Jeon, tapi Kim Taehyung tidak sudi benda seperti itu ada di rumahnya.
Pertengkaran memang tidak terjadi sesering yang sebelumnya karena mereka hanya melakukannya jika bertemu.
Ya, jika bertemu.
Karena pria Kim tengah disibukkan dengan pekerjaannya. Bahkan, dua hari kemarin ia berada di Daegu dan baru pulang tadi pagi.
Rasanya menyebalkan walau Juiy tidak tahu kenapa.
Rasanya kesal jika tidak bisa beradu mulut dengan si mesum Reo.
Padahal hatinya sempat bergetar saat Taehyung melarangnya bertukar pesan dengan Yugyeom. Namun hanya sekali itu saja ia diperingatkan. Setelahnya, Kim muda tak pernah lagi menanyakan apa yang dipantenginya walau Jungkook menatap layar ponsel terlalu lama sambil menunjukkan senyum bahagia atau tawa menggemaskannya.
Tambahan informasi paling menggairahkan abad ini, Baby Juiy jarang sekali mendapatkan pesan dari pria yang menjadi kawan seranjangnya itu. Jika bukan urusan kelewat penting seperti hal-hal yang bersangkutan dengan kuliah Jeon Jungkook dan pekerjaan yang mempengaruhi perubahan waktu pulangnya, Kim Taehyung tidak akan mengiriminya kabar.
Jungkook sadar juga jika pesan itu didapatkannya demi kepentingan sarapan dan makan malam.
Ia menghela nafas kasar.
"Menyebalkan."
"Apa?" sahut temannya yang sedari tadi mengoceh. Ia melebarkan bola matanya, menatap kesal Jungkook yang nampak lesu sekaligus kesal. "Kau bilang aku menyebalkan?"
Penyandang marga Jeon kelabakan juga. Ia sadar betul Bambam sering membuatnya kesal karena pertanyaan-pertanyaan konyol mengenai calon suaminya. Namun bukan berarti ia ingin mengakhiri hubungan pertemanan mereka. Bagaimanapun, pemuda bersurai silver adalah teman pertamanya.
"Eh… bukan begitu. Ma -maksudku, dosennya menyebalkan karena lama."
Yang ini Jungkook tidak bohong. Kalau dipikir-pikir, ini memang sudah lewat setengah jam dari waktu yang ditentukan untuk memulai kelas. Mahasiswa yang sudah siap untuk belajar menjadi ribut sendiri dan heboh bersama teman-temannya. Dari luar kelas, mungkin suara mereka terdengar bagaikan keributan yang timbul di pusat perbelanjaan saat seluruh produk banting harga.
"Kau benar. Apa kelas hari ini kosong?"
Jungkook hanya menggedikkan bahu.
Baru saja Bambam ingin mengatakan sesuatu, seseorang masuk ke kelas dan memberikan berita kepada kawan-kawan sepenanggungannya.
Kelas hari ini kosong. Sebagai gantinya, mahasiswa diberi tugas yang harus dikerjakan secara berpasang-pasangan untuk selanjutnya dipresentasikan minggu depan. Tentu saja Jeon Jungkook berjodoh dengan pemuda yang memiliki nama asli Kunpimook Bhuwakul.
"Mau mengerjakan di cafe depan kampus? Aku malas ke perpustakaan. Kita bisa cari source-nya dari journal atau men-download buku. Aku bawa laptop."
Jeon Jungkook mengangguk. Ia juga sedang malas berada di perpustakaan fakultas. Perpustakaan pusat pun bukan merupakan tempat yang ingin disambanginya karena tempat itu merupakan tempat laknat yang membuatnya mengingat seorang pria yang biasa bertengkar dengannya. Sayangnya, beberapa hari ini mereka tidak saling melepas rindu.
Well, sebenarnya tadi pagi mereka sempat bertemu tetapi si menyebalkan Kim Taehyung langsung mandi. Ia sempat marah-marah gara-gara celana bolong Jungkook, namun segera memutuskan untuk merebahkan diri di kasur cinta mereka.
Terlalu lelah, katanya.
Padahal si kelinci montok ingin mereka saling bicara walau sekedar bertukar laporan mengenai kegiatan apa saja yang dilakoni keduanya selama mereka tidak berjumpa.
Sayang, keinginan tersebut hanya terpendam di dalam hatinya.
.
Disclaimer: I own nothing except the story line and unrequited-love feelings toward Kim Taehyung
Genre: Romance, Humor
Pair : Kim Taehyung x Jeon Jungkook
Rated: Not sure about the rate, but let's say it's M for the language and some progress later
Warning:Ambigu, typo tak tertahankan, mention of m-preg (?)
Hyperbolic sentences, and more (probably makes you wanna puke)
mention of some brands (I'm not paid for this, *sobs)
.
.
"Sorry, Not Sorry"
Part VII: How to Piss Him Off
"Kau tidak cerewet. Aku tidak suka." Bambam berkomentar. Sudah sekitar satu jam dirinya dan Jungkook mengerjakan tugas di cafe. Memang keduanya bekerja dengan lancar, kelewat lancar malah. Hal itu disebabkan oleh Jeon Jungkook yang terlalu fokus pada materi yang mereka bahas. Sejujurnya, Bambam tidak suka. "Kalau ada masalah, ceritalah padaku. Begini-begini, aku juga bisa menjadi teman yang baik."
Jungkook langsung menolehkan kepalanya. Ditatapnya lekat pemuda ramping yang terlihat fokus mengetik di laptop yang ada di depannya. Rambut abu-abunya dikuncir di bagian poni, memperlihatkan keningnya yang lebar dan mulus bagaikan landasan helikopter. Sesekali tangan Bhuwakul akan terulur untuk menyambar Thai tea kesukaannya.
Kalau boleh jujur, Jeon Jungkook sedikit merasa bersalah. Selama ini Bambam dianggapnya sebagai sosok cerewet yang selalu seenaknya menanyakan ini itu soal calon suaminya. Ia memiliki hipotesa bahwa Bambam hanyalah pemuda genit yang bernafsu menggaet Kim Taehyung. Nyatanya, teman pertamanya di kampus itu memperhatikan dirinya.
Merasa ditatap, pemilik surai gray langsung menekan tombol Ctrl dan S bersamaan. Setelahnya, ia menghadap ke arah Jungkook. "Kita bisa beristirahat sebentar, dan kau bisa bercerita padaku kalau mau."
Pemuda bersurai tembaga dengan highlight merah muda terdiam sejenak. Ia juga tidak tahu apa masalah yang tengah terjadi padanya. Hanya saja, memang ada sesuatu yang membuatnya tidak bersikap seperti biasanya. Rasanya begitu mengganjal dan sedikit menyesakkan.
"Nii-nii." gumamnya tanpa sadar. Ia bahkan sedikit terlonjak saat mendengar kata itu lolos dari bibirnya. Biarkan saja. Mungkin ia memang harus bercerita.
"Kenapa kakakmu?"
Juiy menyadarinya, sorot mata Bambam yang berbeda dari biasanya. Ia selalu berbinar setiap kali membicarakan Taehyung. Namun kali ini, hanya sorot kepedulian yang dapat ia temukan dari sepasang netra temannya.
"Beberapa hari ini nii-nii pergi ke Daegu untuk bekerja. Tadi pagi, nii-nii baru pulang. Tapi.."
"Tapi?" pemuda berbibir penuh membeo, tanda bahwa ia ingin Jungkook melanjutkan kalimatnya yang menggantung.
"Aku menemukan noda make up di kaos yang dipakainya. Sepertinya bedak atau semacamnya. Nii-nii memang biasa memakai BB cream atau sunblock jika siang hari. tapi nii-nii baru pulang dari Daegu menggunakan kereta malam…"
Masih menggantung.
Bambam berasumsi bahwa Jeon Jungkook adalah adik menggemaskan yang manja kepada kakaknya. Ia belum siap jika sang kakak memiliki seorang kekasih. Ia merasa khawatir kalau-kalau make up tersebut berasal dari kekasih kakaknya.
"Mungkin saja itu kaos yang sama dengan yang dipakainya kemarin siang, makanya ada noda itu di sana."
Si kelinci nampak diam. Ia mengerucutkan bibirnya. "Tapi warnanya berbeda dengan yang biasa dipakai nii-nii. Kau tahu nii-nii memiliki kulit eksotis yang menawan, sedangkan noda yang ada di kaosnya berwarna lebih cerah. Ada sedikit lipstick yang tertempel juga di kaosnya. Sepertinya warna nude."
Yang diajak bicara hanya bisa diam, mengabaikan fakta bahwa Jungkook sangat jeli mengenali shade bedak atau sejenisnya, juga warna lipstick. Ia belum terlalu mengenal kakaknya Jungkook, rasa sukanya pun belum sedalam samudera, sehingga ia tak merasa sakit hati atas berita yang baru saja didengarnya. Tapi Jungkook jelas berbeda. Bocah itu tidak mau diduakan oleh kakaknya.
"Daripada seperti ini, mungkin lebih baik kau tanyakan saja." gumam Bambam. Dengan sangat kasual tangan kanannya terulur untuk mengusap kepala Jungkook, diam-diam menghilangkan lengket-lengket yang ia rasakan di telapak tangan yang kemungkinan besar disebabkan oleh susu kental manis yang menempel di gelasnya.
"Uhh…" si kelinci mengangguk. Meski ragu apakah akan menanyakan hal itu, tapi saran Bambam jelas bisa dipertimbangkan.
"Hei, ponselmu berbunyi." ucap Bambam memecah keheningan. Ia menunjuk sebuah benda persegi yang tergeletak di atas meja, di samping cookies and cream yang sweeter than sweet, serta dicampuri dengan chocolate, cheese, and chocolate milk milik pemuda Jeon.
Jungkook berwajah sumringah, mengira Kim Taehyung adalah tersangka yang menyebabkan getar-getar yang dialami ponsel pintar miliknya.
Sayangnya, nama Yumi Gyeomie-lah yang tertera di sana.
Bhuwakul melirik layar ponsel Jungkook saat pemuda itu membuka pesannya, dan ia langsung tersenyum lebar sambil mencolek-colek dagu teman kelincinya. Tak puas dengan itu, Bambam menaik-turunkan alisnya dengan gaya yang jenaka.
"Pacarmu mengajakmu berkencan?"
Bunny Juiy memasang wajah malasnya. Ia memutar bola matanya sambil menepis perlahan tangan kurus Bambam. "Jangan bercanda. Dia hanya temanku."
"Teman yang ingin mengantarkanmu pulang, hm?" pemuda berpakaian hitam terkekeh. Ia kembali fokus pada laptop yang sempat didiamkannya. "Kalau begitu, ayo selesaikan simpulan untuk tugas ini. Setelah itu kau bisa pulang dan kencan dengan kekasihmu."
Jungkook mengerang protes, tapi ia menuruti kawan seperjuangannya untuk menyelesaikan tugas mereka. Bagaimanapun, ia tak mau terus menerus memikirkan tugas yang belum selesai.
Oh, jangan lupakan fakta bahwa ia menerima tawaran Kim Yugyeom untuk mengantarnya pulang. Lagipula cuaca hari ini panas sekali, Jeon muda jelas malas jika harus naik transportasi umum dan berdesak-desakan.
Setengah jam berlalu, dan tugas yang dikerjakan dirinya bersama Bhuwakul telah selesai. Bambam terlebih dahulu pulang karena ia lupa memberi makan marmut peliharaannya. Sedangkan Jungkook saat ini tengah berdiri di luar untuk menunggu temannya yang, katanya, akan menjemputnya di cafe. Tangan kanannya membawa kantong plastik bening berisi satu cup happy soda.
Sebuah mobil berwarna merah berhenti beberapa meter di depan pemuda bersurai copper.
Merah, warna kesukaannya.
Sejujurnya ia memiliki kecurigaan bahwa mobil tersebut mengandung unsur Yumi di dalamnya. Namun ini adalah pertama kalinya mereka bertemu setelah meet up pada hari minggu lalu. Jadi Jeon Jungkook tidak mau terlihat agresif.
Lagipula dirinya sedang tidak mengenakan kostum dan make up karakter, jadi lebih baik diam dan menunggu untuk dikenali.
Benar saja, selang beberapa detik, sosok bertubuh tinggi dengan surai kecoklatan yang bergelombang turun mengenakan kaos stripes hitam-putih yang ditumpuk jaket berwarna putih. Kaki jenjangnya dibalut black jeans. Ia juga mengenakan sepatu berwarna hitam sebagai tambahan.
"Bunny Juiy?" sapanya dengan senyuman setibanya ia di hadapan Jungkook. Ia tertawa canggung sebelum meralat ucapannya. "Ma -maksudku, Jeon Jungkook."
Juiy ikut tertawa. Kim Yugyeom yang menggaruk tengkuknya, salah tingkah, terlihat begitu menggemaskan. Ia segera mengulurkan tangannya, formalitas. "Kim Yugyeom?"
Lalu mereka bersalaman.
Ada sengatan aneh yang menjalar ke seluruh tubuh pemuda yang lebih tinggi saat kulit tangannya menyentuh telapak mulus Jeon Jungkook. Padahal mereka sudah pernah berkenalan sebelumnya, namun bertemu tanpa kostum ternyata cukup menegangkan.
Mereka sedikit berbincang sebelum pada akhirnya Yugyeom mempersilakan pemuda ber-highlight merah muda masuk ke dalam mobilnya. Tentu sebagai gentleman, ia membukakan pintu untuk si manis Jeon.
"Pakaian kita sama. Sepertinya kita berjodoh." Kim Yugyeom berujar santai saat ia mulai menyalakan mesin mobilnya.
Jungkook yang baru saja memindahkan tas punggung ke pangkuannya langsung mengamati dirinya sendiri.
Benar saja.
Ia mengenakan sweatshirt warna putih dan celana denim. Lumayan senada dengan pakaian yang dikenakan penyandang marga Kim. Ia hanya menanggapinya dengan tawa renyah sebelum meletakkan cup minuman yang dibawanya di tempat yang telah tersedia di belakang tuas rem tangan.
"Aku membelikanmu ini. Kau pasti haus." ucap Jungkook. "Aku tidak tahu apa kau menyukainya, tapi kata temanku, rasanya enak."
Kim Yugyeom tersenyum lebar. Ia mengucapkan terima kasih sambil memuji di dalam hati betapa Jeon Jungkook bersikap seperti calon istri idaman yang begitu manis.
Kelinci Juiy tersenyum. Ia berbinar senang saat mereka berhenti di lampu merah. Yumi mengambil minuman yang dibelinya, lalu menancapkan sedotan dengan sekuat tenaga sehingga substansi berwarna putih sedikit muncrat ke wajahnya. Lebih tepatnya, ke sudut bibirnya. Selagi ia mengaduk minumannya perlahan, lidah Yugyeom terjulur untuk menjilat manis-manis di sudut bibirnya dengan gerakan seduktif.
Sialnya, Jungkook menolehkan wajah dan lebih memilih untuk menatap jalanan di depannya saat adegan penjilatan itu terjadi.
Kim Yumi merutuk dalam hati.
Lampu hijau menyala, sayang sekali, bukan lampu hijau dari Jeon Bunny yang menyala.
Ia langsung menjalankan mobilnya tanpa halangan, bukan menjalankan aksi pendekatan yang mulus tanpa hambatan.
Dari perbincangan ringan yang mereka lakukan, pemuda bersurai coklat mengetahui bahwa si manis incarannya merupakan mahasiswa tahun pertama di kampus yang cukup ternama. Ia sendiri menjabarkan bahwa dirinya adalah mahasiswa tingkat akhir di kampus tetangga. Keduanya saling bergurau bersama, saling membagi informasi tentang dirinya masing-masing agar merasa tak asing.
"Kau bisa mampir dulu kalau mau." calon istri Kim Taehyung menawari ketika mereka hampir sampai di gedung apartemen tempatnya tinggal. Tentu setelah dirinya memberitahu arah jalan pulang kepada Kim Yugyeom.
Yang diajak bicara, yang sebenarnya sejak tadi menahan getar di hati akibat dirinya tak berani mengajak Bunny Juiy untuk mampir makan di restoran atau bersenang-senang di kawasan perbelanjaan, langsung mengangguk tanpa bisa ditahan.
Ia tersenyum lebar hingga tahi lalat di wajahnya seakan tertelan lipatan kulitnya sendiri.
.
.
"Aku belum membereskan tempat ini karena ada kelas pagi." ucap Jungkook seraya membuka pintu tempat tinggalnya. Ia masuk diikuti Yumi yang langsung tersenyum lebar karena menganggap dirinya sukses masuk ke teritori sang pujaan hati.
Mengikuti Jeon Jungkook melepas sepatu dan meletakkannya di rak, ia mengeryitkan dahi kala menemukan dua pasang sepatu dengan gambar macan loncat yang memiliki design dan warna yang sama persis. Bisa jadi ukurannya sama persis juga.
Yugyeom ber-positive thinking bahwa sepatu kembar tersebut mungkin didapat dari penggemar yang memberi Juiy hadiah, dan karena Juiy merupakan kelinci semok baik hati, ia dengan senang hati mengenakan pemberian fans walau nyatanya sudah punya yang sama.
"Duduklah dulu, aku akan ganti baju sebentar, lalu mengambilkan camilan." Jungkook memberikan gesture kepada tamunya supaya duduk di sofa yang ada di depan televisi. Ia menekan tombol power di remote untuk menyalakan televisi, dan terpampanglah salah satu episode Super Lovers. "Kau boleh memilih anime sesukamu. Ada banyak koleksi anime di sana."
"Tidak usah repot dengan camilan." Yugyeom tersenyum lebar. Bukan karena tawaran camilan, namun karena anime shonen ai yang terpampang di layar televisi.
Simpulan yang ia ambil, Jeon Jungkook adalah seorang fudanshi. Walau menjadi fudanshi tidak menjamin bahwa seseorang juga merupakan pelaku yaoi, setidaknya Jeon kelinci dijamin tidak akan membenci pendekatan yang dilaksanakan Yugyeomie.
Ia melepas jaketnya seraya mengamati pemilik apartemen yang berjalan memasuki sebuah kamar. Dari belakang, tubuh itu terlihat begitu montok. Apalagi bokong sintalnya yang bergerak-gerak menggemaskan.
Sungguh kode untuk minta disodok.
Lima menit Yumi menunggu, dan kelinci menggemaskan Jeon keluar dari kamarnya hanya dengan mengenakan kaos putih kebesaran dan ripped jeans selutut.
"Kuharap kau suka soda. Aku hanya punya ini." ucap Jungkook seraya mengambil dua kaleng milkis dan beberapa bungkus makanan ringan.
Ia meletakkannya di meja pendek yang ada di depan sofa, lalu duduk di sisi sofa lainnya sebelum membuka kripik kentang rasa karamel.
Tidak apa bagi Yugyeom. Untungnya ia duduk di sudut sehingga dirinya bisa dikatakan menempel dengan Jungkook walau tidak dalam satu sofa yang sama. Tangannya terulur mengambil kaleng minuman bersoda, lalu membukanya dengan gaya yang dibuat menggoda.
Sedih, Jeon muda malah sibuk memindah channel di telivisinya dan memilih acara musik.
Mereka berdua terdiam selama beberapa saat.
Jeon Jungkook sebagai tuan rumah merasa sudah memberikan suguhan. Namun jika disuruh memulai obrolan, ia memilih untuk angkat tangan.
Sementara Yugyeom tengah menggali pikirannya supaya menemukan topik pembicaraan yang tidak membosankan. Walau pada kenyataannya ia menikmati kegiatan menatap pipi pemuda bergigi kelinci yang mergerak-gerak ketika terisi keripik, ia tetap ingin menggunakan kesempatan berduaan ini sebaik-baiknya.
Jika beruntung, ciuman di pipi boleh di dapatnya.
"Jadi, kau suka lagu hip-hop?" penyandang marga Kim tersenyum ramah. Pertanyaan itu muncul begitu saja saat sebuah lagu hip-hop era milenial ditayangkan di televisi, dan Jungkook nampak bersenandung sambil mengangguk-anggukkan kepalanya, hampir headbang.
Yang ditanya menolehkan kepalanya. Ia membuka mulut, hendak menjawab pertanyaan yang terlontar, namun sebuah suara bernada rendah menginterupsi.
"Jungkook, kau sudah pulang?"
Nada bicaranya datar, namun sarat akan rasa penasaran.
Sesaat setelah suara menggetarkan itu menyapa gendang telinga, sesosok pria dengan surai sewarna tembaga yang masih acak-acakan menyembul dari sebuah pintu.
Kim Yugyeom membatu, pria yang diingatnya memiliki marga yang sama dengan dirinya, yang kata orang-orang merupakan calon suami dari pemuda incarannya, keluar dari pintu yang sama dengan pintu yang tadi digunakan si menggemaskan Juiy. Ia mencurigai bahwa pintu tersebut mengarah ke kamar tidur Jungkook.
Tapi kenapa Kim Taehyung keluar dari ruangan yang sama?
Apa mereka tidur di kamar yang sama?
Bagaimana bisa ia tidak tahu bahwa keduanya tinggal bersama?
Pertanyaan-pertanyaan itu tersimpan di dalam dada dan tak mampu terucap. Bibirnya ternganga kala Jeon muda menyambutnya dengan senyum super lebar sambil memanggil si rambut acak-acakan dengan suara kelewat girang.
"Taetae nii-nii sudah bangun?"
Yang ditanya tidak menjawab.
Pria yang hanya mengenakan kaos abu-abu yang bagian lehernya digunting dan celana longgar selutut berwarna hitam itu berjalan dengan mata setengah tertutup.
Kim Yugyeom mendeklarasikan sumpah bahwa ia melihat sosok acak-acakan yang sepertinya baru bangun tidur itu sempat meliriknya sekilas, lalu mendengus dengan pergerakan yang kelewat jelas.
Taehyung lalu berjalan menuju calon istrinya, membanting tubuhnya sendiri di atas sofa dan menggunakan paha empuk si kelinci sebagai bantal untuknya. Ia kembali menutup mata sambil menggunakan kepala bagian belakangnya untuk ndusel-ndusel di perut rata Jungkook. Ia menghadap ke arah meja dengan kedua tangan dilipat di depan dada.
Pemilik nama panggung Yumi merutuki posisi Kim Taehyung saat ini nampak begitu nyaman.
"Nii-nii masih mengantuk? Kenapa tidak melanjutkan tidur di kamar kita?"
Kamar kita.
Kamar milik kita.
Kamar adalah tempat untuk tidur dan beristirahat, dan mungkin melakukan kegiatan lain yang bermaanfaat.
Lupakan soal kamar.
Makhluk paling tinggi di ruanga itu mengutuk dalam diam. Ia mendengar dari neneknya bahwa jika sepasang manusia berdua-duaan di tempat sepi, maka yang ketiga datang adalah setan. Seharusnya, bujang 29 menjadi setan yang membuat dirinya dan Jeon semok khilaf dan melakukan hal-hal menyenangkan.
Namun yang terjadi kini malah si setan mencuri pasangan Yugyeom.
Kalau begini caranya, sama saja Yumi menjadi yang ketiga datang dan membuat sepasang manusia melakukan hal-hal menyerangkan.
"Kau tidak makan teratur selama kutinggal?" masih terlelap, calon suami Jungkook bergumam malas. Ia lalu menggeser posisi kepalanya sebanyak dua kali. Setelahnya, ia kembali bicara. "Kau kurus. Aku lebih suka bunny-ku yang padat berisi seperti biasanya."
Terpelatuk.
Bagaikan sekoci rapuh yang terkena peluru timah, Yugyeom merasa dirinya langsung tenggelam dalam lautan luka dalam. Mungkin setelah ini, ia akan tersesat dan tak tahu arah jalan pulang.
Kim Taehyung dengan sangat kasual tidur terlentang, masih dengan paha Jeon sebagai bantal. Tangan kanannya terulur, menyentuh pipi gembil yang dituduhnya kurus.
"Lihat. Ini tidak semenggemaskan dulu. Walau aku masih menyukainya, aku tidak ingin kau menjadi seperti ini karena diet atau semacamnya."
Bunuh Kim Yugyeom sekarang juga!
Jeon Jungkook tersipu. Ia sedikit menggigit bibir bagian bawahnya yang merekah, membuat sepasang gigi kelinci menggemaskan yang ia miliki menyembul lucu.
Lucu, namun menyakitkan bagi Yumi.
Juiy incarannya terlihat malu-malu saat menepis lembut tangan calon suaminya.
Lalu kekehan bernada rendah itu menggema di rongga telinga sang tamu, membuat ucapan bernada mengancam yang dilontarkan Kim Taehyung ketika pertama mereka bertemu kembali terngiang di telinga Yugyeom.
Ia masuk ke kediaman Jungkook atas ajakannya. Bahasa halusnya, dengan undangan.
Yugyeom tak percaya, tapi ini terjadi.
Jungkook duduk di sofa, memang tak bersanding seperti yang terjadi di pelaminan, namun paha montoknya dijadikan bantal oleh seorang pria.
Yugyeom menahan air mata supaya tak jatuh berguguran.
Yugyeom merasa cintanya yang masih seumur bayi dikhianati.
Dengan undangan, Kim Yugyeom dilupakan.
Dengan utusan, Kim Yugyeom ditinggalkan.
Berbincang dengan calon suaminya, Jeon Jungkook buat Kim Yugyeom kecewa.
Tanpa berdosa, Jeon Jungkook buat Kim Yugyeom merana.
Kim Yugyeom tak percaya, Jeon Jungkook tega.
Nodai cinta, khianati cinta
Kalau begini, pulangkan saja Yugyeom pada ibunya, atau ayahnya.
"Gyeom… Yumi Yugyeom!"
Pekikan Jeon Jungkook membuat Yugyeom terbangun dari lamunannya. Ia menoleh hanya untuk mendapati Juiy montok yang tengah menatapnya penuh curiga. Calon suami sialannya sudah tak lagi tiduran di paha kencang Jungkook. Sekarang sosok yang dicapnya sebagai pria bersuara om-om itu sudah duduk di samping Jungkook, menyilangkan kakinya angkuh, lalu dengan tatapan meremehkan, melayangkan sorot malas kepadanya.
"Ada apa, Kook? Hehe… maaf aku tadi terlalu terpaku pada wajahmu yang manis."
Yang diajak bicara terdiam untuk beberapa saat sebelum menunjukkan senyum tipis.
Jeon Jungkook tersipu.
Walau nampak tak terlalu jelas, tapi gurat kemerahan super tipis di pipinya begitu nyata.
Masih ada harapan baginya. Kim Yugyeom tidak akan menyerah.
"Umm.. kau mau makan bersama di sini? Nii-nii belum makan, aku akan memasak nasi goreng kimchi. Mukin rasanya tidak terlalu enak, tapi apa kau ma -"
"Aku mau!" potong penyandang stage name Yumi. Matanya berbinar bagai anak kecil yang ditawari permen. "Aku ingin mencoba makananmu, Kook. Pasti enak sekali."
Sekali lagi, Kim Yugyeom berhasil membuat pemuda Jeon tersenyum malu-malu.
Dan ahli fotografi yang sempat membidiknya melalui lensa kamera langsung mendecakkan lidah kesal begitu Jungkook beranjak ke dapur. Pria bermata elang itu langsung menatap nyalang pemilik marga Kim lainnya. Bibirnya bergerak tanpa ragu ketika bicara. "Jangan coba-coba mendekatinya. Kim Jungkook adalah calon istriku."
"Whoaaa… terima kasih telah mengganti marga jodohku dengan margaku."
"Bangsat." gumam Taehyung cepat. Ia merasa terhina karena bocah ingusan yang duduk di sofa miliknya berubah menjadi lebih berani padahal ketika pertama kali mereka bertemu, makhluk yang waktu itu cosplay menjadi Jean langsung ciut pasca mendengar geramannya yang terdengar seperti singa yang kelaparan.
Mereka saling melempar tatapan sengit. Kalau saja kedua Kim itu berada di dalam dunia anime, pasti sudah mucul cahaya laser yang memancar dari masing-masing mata mereka, lalu berbenturan di tengah-tengah jarak keduanya sehingga menimbulkan percikan api yang membakar jiwa.
"Dengar, Kaa-san Jungkook yang galak seperti banteng itu memanggilku penuh kasih sayang, sedangkan Tou-san-nya memperlakukanku seolah aku adalah putra kesayangannya. Walaupun kau, atau siapaun juga ingin mencuri baby Juiy dariku, aku tidak akan membiarkannya. Temukan orang lain untuk dirimu karena Jeon Jungkook adalah milikku."
Sejatinya, Yugyeom merinding mendengar ancaman yang dilontarkan rival-nya. Ia sudah kalah start, namun bukan berarti itu membuatnya menyerah. "Itu hanya karena mereka bertemu denganmu terlebih dahulu. Nanti saat orangtua Jungkook bertemu denganku, mereka akan langsung mencoret namamu dan langsung menggantinya dengan namaku."
Pria bercelana pendek terkekeh renyah. Ia menggelengken kepalanya seakan menganggap remeh apa yang Yumi katakan walau sejujurnya ancaman barusan membuatnya cukup was-was.
"Nii-nii, Gyeomie… nasi gorengnya sudah siap." ucap Jungkook setengah berteriak.
Kedua pria yang dipanggilnya langsung beranjak. Mereka berlomba untuk duduk di samping Jeon Jungkook. Entah beruntung, entah sebuah kesengajaan, satu-satunya Jeon di sana duduk di ujung kiri, otomaris yang berkesempatan dempet-dempetan dengan Bunny Juiy hanya seorang saja.
Dan pria yang beruntung untuk duduk di sisi kanan Jeon Jungkook adalah Kim Taehyung.
Sosok yang masih membiarkan rambutnya berantakan itu menarik salah satu sudut bibirnya. Ia menyeringai, mendeklarasikan kemenangannya.
Anggap saja Kim Yugyeom setengah gila, atau bisa jadi ia menang dari sisi yang berbeda. Memang dirinya tak bisa bersisihan dengan pemuda yang diklaim sebagai jodohnya. Akan tetapi, posisinya yang terpaksa duduk di hadapan Jeon muda membuatnya bisa puas memandang paras rupawan sang pujaan.
Dan senyuman lebar di bibir Yugyeom membuat bujang dua puluh sembilan tahun sadar bahwa dirinya tidak sepenuhnya menang.
Makan bersama dimulai dengan obrolan ringan. Tentu hanya Jeon Jungkook yang menganggap topik pembicaraan mereka ringan karena kedua orang lainnya menganggap meja makan sebagai ajang perang.
Kim yang lebih muda tertawa renyah saat Jungkook memberitahukan bahwa usia nii-nii kesayangannya adalah 29. Itu membuatnya bahagia karena ternyata bukan hanya suara Taehyung saja yang seperti om-om, namun usianya ternyata sudah tidak semuda dirinya yang masih 24.
Jungkook yang baru menginjak 21 tentu lebih serasi jika disandingkan dengan dirinya. Setidaknya, itu yang ada di dalam pikiran Kim Yugyeom.
Sementara itu, sang ahli fotografi yang merasa dirinya tengah dihujat dalam hati langsung melayangkan tatapan mematikan yang lumayan membuat bulu kuduk pemuda dengan rambut bergelombang menari-nari.
Perang dingin terus terjadi selama makan nasi goreng kimchi berlangsung. Yugyeom dengan bersemangat melontarkan pujian mengenai betapa lezatnya masakan Jeon Jungkook. Ia merasa menang karena Kim lainnya sama sekali tidak berkutik.
Pikirnya, si bujang tua bukan pujangga yang pandai merangkai kata untuk memuji calon istrinya.
Namun kesombongannya berhasil dihantam dengan ungkapan santai Taehyung yang diucapkan ketika ketiganya selesai menyantap makanan.
"Kook, kau akan sering memasak makanan untukku. Yang barusan itu terlalu pedas bagiku. Untuk yang selanjutnya, kurangi level pedasnya. Dan masakanmu akan menjadi satu-satunya hidangan terlezat."
Yumi sebenarnya ingin menertawakan level pedas si bujang yang seperti balita berumur empat tahun. Hanya saja, follow up yang terjadi setelah pujian berantakan itu membuatnya membeku di tengah panasnya hati yang cemburu.
Tangan kiri Kim Taehyung dengan lancang terulur untuk mengusap puncak kepala si montok Jeon.
Setelahnya, Jungkook mengangguk malu-malu sambil mengulum senyum.
Kalau dipikir-pikir, kau akan sering memasak makanan untukku yang dilontarkan si rambut berantakan bisa merupakan sebuah kode yang mengarah pada harapan bahwa keduanya akan bersama-sama menjalani hari ini, esok, dan seterusnya.
Perih.
Kim Yugyeom kalah telak.
.
.
.
Pukul enam petang.
Kelinci montok Jeon tengah berbaring di atas ranjangnya setelah memberesi sisa-sisa camilan dan piring kotor. Tamu kurang ajar sudah pulang beberapa saat lalu setelah sedikit berbincang dengan Juiy, membicarakan acara Jejepangan yang akan diadakan di kampus tempat Yugyeom menempuh pendidikan.
Jungkook terlihat menggulingkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan sambil memeluk Nyanko-sensei kesayangan. Wajah senangnya terlihat rupawan. Ia terlihat bagai anak perawan yang diperbolehkan untuk berpacaran.
Pria Kim yang duduk di meja kesayangannya yang ada di sudut ruangan melirik si semok sekilas. Ia tidak bohong ketika mengatakan bahwa calon istrinya terasa lebih kurus dari yang terakhir kali di ingatnya. Ia lebih jujur lagi ketika mengungkapkan bahwa dirinya lebih suka jika Jeon Jungkook memiliki tubuh yang berisi.
Empuk.
Kenyal.
Montok.
Menggemaskan.
Human pillow idaman.
Lupakan sejenak soal itu. Ada hal lebih penting yang kudu dirinya bicarakan dengan Jeon Jungkook.
Maka pria yang kini rambutnya sudah sedikit rapi langsung memanggil sang calon istri. "Kook, kemarilah. Ada yang ingin kubicarakan."
Baby Juiy bergerak gesit. Ia segera menggelindingkan tubuhnya hingga ke ujung ranjang. Lalu dengan tangan dan kaki yang siap siaga menyelamatkan tubuh montoknya, Jeon Jungkook dengan sukses melakukan superhero landing.
Kim Taehyung melongo.
Ingin rasanya ia tertawa melihat buntalan kelinci yang menggelinding bagaikan kue mochi sebelum akhirnya memasang pose keren khas pahlawan super yang ia lihat di televisi. Hanya saja, bayang-bayang jika pemuda Jeon gagal melakukan pendaratan sehingga tubuh padatnya mental di lantai membuatnya bergidik ngeri.
Jungkook tersenyum antusias saat dirinya duduk di hadapan calon suaminya yang mulai berdehem demi mendapatkan kembali kesadarannya. Sepasang mata bulatnya berkedip-kedip lucu. Tanpa disadarinya, pria yang tengah ditatatapnya menahan gugup sambil menggerutu.
"Yang barusan itu." gumam pria Kim setelah lepas dari pesona kelinci manis Jeon. Ia berusaha memberikan tatapan yang menurutnya biasa-biasa saja ketika dirinya bicara. "Sudah berapa lama kau mengenalnya?"
Jeon muda tampak berpikir selama beberapa saat sebelum akhirnya menyebut sebuah nama. "Kim Yugyeom?"
Yang lebih tua mengangguk. Ia ingat nama itu adalah tersangka yang disinyalir melakukan pendekatan terhadap calon istrinya. Ia memiliki nama panggung Yumi, makhluk yang ber-cosplay sebagai Jean saat pertama kali mereka bertemu.
Tak sulit bagi Kim Taehyung untuk mengenalinya.
"Hmm… sejak aku ikut nii-nii ke Cultural Day. Kami jadi sering bertukar pesan setelahnya."
Taehyung bersumpah, Jeon muda yang memiringkan kepalanya saat ini terlihat begitu menawan hati. Tapi jawaban Jungkook barusan bukanlah yang ia harapkan.
"Maksudku, sejak kapan kalian saling mengenal secara langsung? Saling bertemu?"
"Ohh… aku baru bertemu dengannya tadi."
Kim Taehyung melotot. Ia memijit pelipisnya sendiri, mengeluh dalam hati karena tidak bisa membayangkan pola pikir Jeon muda.
"Bagaimana bisa kau mengajak orang yang baru kau kenal masuk ke dalam rumah?"
Sungguh, yang dilakukan Jeon Jungkook sangat berbahaya. Lagipula ini adalah apartemen Kim Taehyung, rumah idaman miliknya. Kalau ada barang yang hilang, dirinyalah yang akan menderita.
Terlebih, sikap si tamu sialan yang jelas sekali ingin mencuri kelincinya membuat si pemilik rumah bersikap ekstra waspada dan melakukan hal-hal yang diluar kebiasaannya.
"Tapi aku sudah mengenalnya hampir seminggu." Juiy membela diri. Ia tidak menyangkal bahwa hari ini adalah pertama kalinya ia bertemu dengan Yugyeom sebagai dirinya sendiri. Dan dirinya merasa sudah cukup mengenal sosok temannya.
"Kook, kalian hanya berbalas pesan. Bagaimana kalau ternyata si sialan itu orang jahat? Bagaimana kalau ia berniat mencuri di rumah kita?"
Ada perasaan hangat saat Kim Taehyung mengatakan rumah kita. Namun kalimat setelahnya membuat hati Jeon Jungkook terluka.
"Kook, kau terlalu naif. Jangan mudah percaya pada orang. Sampai perjodohan bodoh ini benar-benar gagal, kau menjadi tanggung jawabku. Jangan mentang-mentang kau merasa mengenalnya, lalu kau percaya semua yang dikatakannya."
Dan Jungkook tidak bisa menahan amarahnya. Mungkin bagi pria Kim, yang diucapkannya barusan adalah hal biasa, tapi Jungkook benar-benar merasa sakit karenanya.
Rasanya seperti Kim Taehyung baru saja mengatakan bahwa Jeon Jungkook adalah sosok yang merepotkan.
"Yugyeom bukan orang yang seperti itu!" nada bicara Jungkook naik. Nafasnya memburu karena ia merasa benar-benar marah.
"Tahu dari mana?" namun pria yang lebih tua tidak mau mengalah. Ia tetap pada pendirian bahwa Jungkook tak seharusnya bersikap kelewat santai kepada orang yang baru dikenalnya.
"Yugyeom temanku."
"Hanya karena ia temanmu, kau menganggapnya orang baik?"
"Kenapa nii-nii bersikap menyebalkan begitu? Memangnya tidak boleh aku mengajak temanku main ke rumah? Hobi hyung yang merupakan teman nii-nii saja boleh, kenapa Yugyeom yang temanku tidak boleh?"
"Jeon Jungkook!" dan Kim Taehyung membentak.
Jungkook merasa jantungnya hampir melompat dari rongga dadanya.
Nyeri itu menusuk hingga ke ulu hati, membuat matanya terasa panas saat itu juga. Ia tidak tahu kenapa putra kesayangan paman Namjoon bisa bersikap arogan kepadanya.
Taehyung saja boleh memiliki banyak teman, bahkan melakukan interaksi yang sangat intim sampai-sampai make up yang dipakai temannya menempel di baju pria Kim, kenapa dirinya yang ingin berteman biasa-biasa saja tidak diperbolehkan?
"Nii-nii bisa seenaknya berdekatan dengan orang lain, sementara aku tidak boleh memiliki teman. Kau bahkan berdekat-dekatan dengan wanita sampai make up mereka menempel di bajumu. Sedangkan aku, mengajak Yugyeom main ke rumah saja tidak diizinkan. Kau egois!"
"Aku tidak egois. Aku hanya memperingatkanmu karena kau adalah tanggung jawabku. Statusmu masih sebagai calon istriku. Kita sepakat untuk menyudahi perjodohan sialan ini secara baik-baik. Sebelum ini beres, kau tidak boleh berpacaran dengan siapapun atau kita berdua dalam masalah besar."
Tetap saja, bagi Jeon Jungkook, Kim Taehyung bersikap sangat egois.
Ia lebih memilih untuk beranjak dari hadapan calon suaminya, menyambar Nyanko-sensei, sebuah bantal dan sebuah selimut, lalu keluar dari kamar dan membanting pintu kuat-kuat.
Taehyung mengumpat.
Ia bahkan hampir memukul laptop yang sedari tadi diam di mejanya, namun urung karena merasa bahwa hal yang akan dilakukannya hanya akan menimbulkan kerugian semata.
"Jungkook…" bujang berusia dua puluh sembilan berbisik frustasi. Ia menyandarkan punggungnya lemas, mengerang kesal karena mengingat hal yang baru saja terjadi.
Mungkin ia memang sedikit kelewatan ketika berusaha memperingatkan Jungkook.
Mungkin juga pertengkaran serius barusan terjadi karena Jungkook yang masih labil dan tidak bisa menerima nasihatnya dengan pikiran terbuka.
Yang manapun itu, sebagai yang lebih tua dan sebagai pria dewasa yang mendapat mandat untuk menjaga calon istrinya, Kim Taehyung merasa dirinya harus meminta maaf dan menjelaskan semuanya dengan lebih berhati-hati.
Tapi ia butuh waktu untuk menenangkan diri. Agar Taehyung tak lagi menaikkan nada bicaranya, agar Taehyung lebih bijak dalam memilih kata-kata…
.
Merasa lebih tenang, pria Kim memutuskan untuk keluar dari kamarnya. Ia langsung menoleh ke arah sofa karena mengira Juiy-nya berada di sana.
Secara logika, Jeon Jungkook yang membawa selimut, bantal, beserta bonekanya akan meringkuk di atas sofa.
Nihil.
Bahkan Taehyung setengah berlari hanya untuk mendekati sofanya. Ia mengucek mata sampai tiga kali, namun tiada siapa yang ada di atas sofanya.
Jantungnya berdetak cepat, nafasnya terasa sesak saat sosok bermata bulat itu tak ditemukannya dimana-mana.
"Jungkook!" panggilnya dengan nada naik. Kali ini bukan emosi yang terselip di sana, melainkan rasa khawatir yang menggila.
Sepasang mata elangnya mengamati ke seluruh sudut ruangan yang mampu dijangkaunya, namun si gendut yang tak segendut semula tak ada dimanapun juga.
Pikiran-pikiran mengenai Jeon muda yang memutuskan untuk kabur dari rumah melintas di dalam kepala.
Kim Taehyung berlari menuju pintu keluar. Ia bergerak segesit mungkin, namun ketergesaannya membuatnya tak mampu menghindari sudut meja makan yang dengan kurang ajar menghantam pinggang sebelah kiri.
Persetan.
Sakitnya bisa ditahan, tapi Jungkook yang pergi tanpa ponsel dan dompetnya benar-benar mengkhawatirkan.
Seharusnya, Taehyung langsung membuka pintu dan berlari keluar seperti orang kesetanan, namun yang menyapa sudut penglihatannya membuat ia memberhentikan lajunya bak pembalap Formula One tepat ketika tangannya hendak menarik gagang pintu.
Perlahan-lahan bujang 29 melangkahkan kakinya mundur.
Begitu pelan, lalu ia menolehkan kepalanya dengan gerakan patah-patah ketika dirinya sampai di depan dapur tanpa pintu yang menjadi tempat favorit eomma-nya.
Dan ia dapat melihat sebuah gundukan mencurigakan di lantai, menempel pada pintu kulkas dengan surai copper yang memiliki highlight merah muda menyembul di bagian yang dicurigai sebagai kepala.
Kim Taehyung bernafas lega.
Ia berjalan mendekat, sementara gundukan itu terlihat semakin membulat.
"Kenapa kau berada di sini, hm?"
Kalau boleh jujur, pria Kim merasa kaget saat tangan kanannya terulur, lalu menyibak selimut yang menutupi bagian kepala.
Dan ia bisa melihat wajah manis pemuda Jeon yang memerah.
Tidak, Jungkook tidak menangis. Ia hanya menunjukkan raut super kesal dengan mata yang memerah.
"Nii-nii minta maaf karena membentakmu."
Sungguh, Kim Taehyung berucap tulus. Ia bahkan tersenyum manis sambil mengusap lembut wajah bayi kelincinya yang masih belum mau menatapnya.
"Nii-nii hanya tidak mau ada orang yang memanfaatkan kebaikanmu. Kau sangat baik, Kook. Nii-nii takut kau terluka."
Putra kesayangan Kim Seokjin bungkam.
Ia bahkan tidak mengerti dengan apa yang dirinya sendiri ucapkan. Kata-kata itu meluncur begitu saja dari bibirnya, dan ia tidak tahu kenapa.
Dan ia lebih tidak tahu lagi mengapa mulutnya tidak mau berhenti mengoceh seperti orang gila.
"Maaf karena nii-nii egois. Nii-nii akan berusaha untuk tidak melakukannya lagi. Kau mau membantu nii-nii, hm?"
Katakanlah Kim Taehyung memang sudah tidak waras.
Karena yang selanjutnya dilakukannya adalah merengkuh tubuh pemuda Jeon dan menggendongnya masuk ke dalam kamar karena ia sama sekali tidak mendapatkan perlawanan.
"Kau pasti lelah, nii-nii juga lelah. Mari kita tidur bersama."
.
.
.
Tbc
.
.
Istilah UFO adalah singkatan yang dibuat-buat. Jangan gunakan dimanapun atau kemungkinan, Anda akan ditertawakan. Trims… eheheh
.
.
Review please
With love, Tiger
Line: kimtaemvan
Ig: kim_taemvan
Twitter: kim_taemvan
