Mister Naruto
By : 12 senpai 12
Disclaimer : Saya tidak memiliki apapun dari fict ini
Summary : Dia sudah lelah akan keberadaannya, segala cara telah dia lakukan untuk mendapatkan rasa damai itu. Tapi semuanya gagal, sekarang dia datang membawanya ke dunia baru dan bertemu mereka. Saat itu dia sadar bahwa akhir dari dunia itu adalah akhir darinya, tapi bagaimana dengan mereka?
Warning : AU, OOC, Typo, dan lain – lain, chara death (perhatian tokoh dalam fic ini dapat berubah wataknya seiring dengan kejadian yang dialami tokoh)
Pairing : issei x harem, Naruto x ?
….
Naruto kini tengah berdiri di padang rumput yang luas, hanya padang rumput dan langit biru sejauh mata memandang. Naruto menutup matanya menikmati perasaan itu, perasaan yang selama ini dia cari. Meskipun dirinya bingung dimana dia sekarang, dia lebih memilih menikmati perasaan itu lebih dari apapun.
Naruto membuka matanya melihat ke cakrawala. Matanya menyipit melihat sebuah sosok di ujung sana. Naruto dengan perlahan mendekati sosok itu, sosok itu terkikik dan mulai berlari meninggalkan Naruto.
Dengan masih penasaran Naruto mengejar sosok wanita itu. Seakan berjam – jam ia mengejar sosok itu akhirnya sosok itu berhenti dan menunggu di bawah sebuah pohon. Naruto memandang sekeliling dan memastikan kalau pohon itu adalah satu – satunya pohon yang ada di padang rumput ini.
Naruto merasakan perasaan yang berbeda, perasaan yang seakan menerimanya, menyambutnya pulang. Entah kenapa Naruto memandang wanita itu dengan senyum lembut. Wanita itu mengulurkan tangannya mengundang Naruto. Dengan perlahan Naruto mendekati perempuan itu, angin yang berhembus membelai mereka berdua dan menerbangkan daun di pohon itu.
Naruto menutup matanya saat daun pohon itu mengenai matanya. Saat ia membuka mata, langit – langit berwarna putih lah yang menyambut penglihatannya. Naruto bangun mengusap mukanya dengan tangan lalu mendesah.
'…. Apa itu tadi?' Entah kenapa ada rasa rindu dan penyesalan masuk ke hatinya. ' Mimpi kah? Bukan... itu ingatan.' Naruto bangun dan mulai melakukan ritual paginya. Tapi didalam hatinya sebuah bisikan itu masih terdengar, meskipun dirinya menghiraukan bisikan itu.
"Apapun yang terjadi, kami akan selalu menunggumu."
.
.
.
Naruto turun dari lantai atas lalu ke kamar mandi. Setelah itu dia keluar dan menuju lemari. Naruto lalu menuju gudang, kemudian ke dapur lagi. Dirinya mendesah sambil mencoba mencari sesuatu di kantongnya.
"Kira – kira, di mana kutaruh dompetku ya?" Naruto kembali menghela nafas lalu membuat sarapan untuk mereka semua. Ya mereka, karena Asia sudah di putuskan akan tinggal dirumah ini. "Sebaiknya aku membawa bento hari ini." Ucap Naruto di tengah acara masaknya.
Naruto melihat jam yang ada ditangannya lalu menaruh memo di atas meja makan. Dirinya menghitung mundur, lima, empat, tiga, dua, dan suara benda jatuh dengan keras di dengar dari kamar atas. Naruto mengangguk senang melangkahkan kakinya menuju pintu dan segera berangkat.
.
.
.
Rias Gremory. Apa yang ada dipikiranmu setelah mendengar nama itu? Seorang gadis berambut merah yang seksi? Atau seorang iblis bangsawan yang cantik? Atau seorang gadis remaja biasa?. Gadis itu menghela nafas, sudah sering kali dai melakukan itu. Jika di bilang dia gadis yang seksi, ia tidak malu akan tubuhnya. Jika dibilang iblis bangsawan yang cantik, dia akan mengucapkan terimakasih dengan elegan. Ya, sebiasa – biasanya seorang gadis remaja yang memiliki seorang siscon sebagai kakak dan pelayan yang bukan manusia.
Bicara tentang pelayan, Rias menghela nafas. Dirinya masing bimbang akan rencana yang akan di lakukan nanti. Dilihat dari satu sisi rencana ini memang sangat menguntungkan kedua pihak. Tapi jika pelaksanaannya terjadi kesalahan kecil saja dapat berubah menjadi bumerang bagi Rias. Rias mengetukkan jarinya di meja sebagai kegiatan menghilangkan kebosanan. Kali ini Rias sudah berada di dalam kelas menunggu Mr. Colbert untuk datang, ini merupakan hal yang tidak biasa untuk beliau datang selambat ini. Lonceng pelajaran pertama sudah di mulai lima belas menit yang lalu.
Srekk!
Rias dan seluruh murid di kelas itu mengangkat kepalanya melihat pintu yang dibuka. Mereka memperhatikan sosok pemuda yang kemudian menuliskan namanya di papan tulis.
"Ohayou gozaimasu Minna – san!" Pemuda menyapa mereka dengan semangat. Para murid termasuk Rias menjawab sapaan itu secara reflek. Pemuda itu kemudian mengangguk dan tersenyum mendengar jawaban para murid, ia lalu menunjuk nama yang ada dibelakangnya. "Perkenalkan, nama saya Naruto Uzumaki. Saya akan menjadi guru kalian selama sisa waktu kalian di sekolah ini menggantikan Mr. Colbert yang pensiun. Kalian bisa memanggil saya Naruto – sensei atau Uzumaki – sensei, itu semua terserah kalian. Jadi ada pertanyaan?"
Semua murid memandang Naruto dengan intens. Keringat dingin mulai keluar saat seluruh kelas memandangnya begitu. Naruto terhenyak saat seluruh kelas mengangkat tangannya. Rias masih memandang Naruto yang makin berkeringat dingin. Entah kenapa dirinya merasa familiar dengan nama itu.
Tunggu….
… Apa tadi dia bilang Uzumaki?
.
.
.
Naruto sekarang tengah membereskan mejanya, para murid sudah keluar saat bel istirahat berbunyi. Dirinya terkekeh saat seluruh murid memandangnya tak percaya kalau dirinya merupakan kakak dari Isse Uzumaki. Naruto kembali terkekeh dan sedikit sweatdrop saat para murid memasang wajah lega mendengar kalau dirinya hanya kakak angkat dari Isse.
Naruto berdiri dan mulai melangkahkan kakinya keruang guru untuk menikmati waktu istirahat ini. Pertanyaan yang di lontarkan para siswa benar – benar sangat beragam. Dari hobi, kesukaan, ke - tidaksukaan, bahkan sampai menanyakan berapa kali dia sudah menstrubasi.
…
…
…
Tidak…
Dia tidak menjawab pertanyaan itu.
Semoga saja dirinya bisa mengajarkan kepada siswa kelas ini batas tipis antara siang dan malam. Naruto menatap keluar jendela memperhatikan para siswa melakukan aktivitasnya. Yah, jika para siswa itu menyukai malam, dirinya tak berhak menghentikan mereka. Naruto kembali menatap surat kabar yang dibawanya tadi , pikirannya kembali melayang akan pembicaraannya tadi malam dengan Ms. Eight.
Flashback
Naruto kini tengah duduk di kedainya sambil memegang sebuah dokumen. Didepannya Charlote tengah menuangkan minuman dari sebuah botol. Asia dan Isse sudah tertidur karena kelelahan. Naruto meletakan dokumen itu lalu menghela nafas, ia angkat botol tersebut lalu membaca kemasannya.
"Bukannya aku memintamu membawa air…"Naruto meletakan botol itu kemudian memandang wajah polos Charlote. "….. Lalu kenapa kau bawa vodka?" Charlote tersenyum kemudian menjangkau botol vodka itu dan menuangkan isinya ke dua buah gelas, satu di berikan ke Naruto.
"Vodka berarti air dalam bahasa Rusia." Ucap enteng Charlote, ia terkekeh saat melihat ekspresi Naruto yang menandang datar dirinya. Charlote kembali menenggak vodkanya." Kenapa tidak minum?" Naruto menghela nafas.
"Tidak. Terimakasih." Naruto menggeleng menolak permintaan Charlote. "Apakah ada kesulitan saat mengambil sampel itu?" Tanya Naruto kembali membaca dokumen hasil lab yang di berikan Charlote.
"Tidak ada yang berarti. Tapi…." Charlote menaruh gelasnya kemudian menatap serius Naruto yang kini memusatkan perhatiannya ke Ms. Eight." Hipotesamu benar. Saat aku ingin pulang dari fasilitas yang kususupi. Aku bertemu seekor Hell Hound. Tentu saja bisa kutangani dengan mudah. Namun disinilah keanehannya, saat aku menghancurkan kepala Hell Hound itu, kepala anjing itu dengan cepat beregenerasi. Yang jadi masalah adalah kepala itu dilengkapi semacam sisik yang sangat kuat hingga mampu memantulkan semua peluru yang kutembakkan." Jelas Charlote kemudian kembali menenggak vodkanya.
"Jadi dia bisa beradaptasi atas masalah yang dihadapinya…." Naruto mengurut keningnya. Tak disangka Simmon memiliki ide segila ini untuk menyuntikan virus itu ke mahkluk supranatural. Naruto menghela nafas lalu kembali memandang Charlote yang gelisah." Itu belum semuanya kan?" Charlote mengangguk ragu – ragu. Naruto kembali menghela nafas.
"Ya, mereka juga kehilangan kemampuan menggunakan sihir." Wajah Naruto sedikit lega mendengar jawaban itu. Tapi tidak lama." Tapi mereka benar – benar kebal terhadap serangan sihir." Naruto berhenti begitu juga Charlote. Wajah mereka berdua meringis. Naruto meremas dokumen yang dipegangnya.
Di dunia supranatural kekuatan sihir hampir menjadi segalanya. Bahkan jika dalam suatu keluarga ada yang tidak bisa menggunakan kemampuan sihir tertentu, maka anggota keluarga itu akan di buang dan tidak di anggap lagi. Tapi jika ada mahkluk yang benar – benar kebal terhadap sihir, maka sudah di pastikan keberadaan mahkluk supranatural akan terancam. Dan mahkluk seperti berada di tangan Simmons. Naruto menggelengkan kepalanya.
"Charlote." Panggil Naruto yang berdiri lalu membelakangi wanita pirang itu. " Kau jangan kemana – mana malam ini." Perintah Naruto tegas. Charlote memandang pemuda itu, bukan sebagai Naruto Uzumaki melainkan sebagai Mr. Nine, sosok yang sangat di takuti dan di kenal diseluruh dunia.
"Memangnya kenapa?" Tanya Charlote dengan nada sedikit main – main. Charlote memainkan gelas yang di pegangnya sambil memandang lelaki itu dengan tatapan menarik.
"Kita akan berburu."
End Flashback
Naruto kini sudah dalam perjalanan menuju 3 – A untuk mengajar. Dia punya jadwal mengajar dua kali di kelas itu. Para siswa atau siswi menyapanya sambil menutup mulut, terkadang ada kikikan yang keluar dari para mulut siswa atau pun siswi. Dirinya tidak ambil pusing akan hal itu. Naruto membuka pintu kelas lalu masuk.
"Riritsu, rei."
Naruto kemudian duduk lalu mulai mengabsen para murid, mata Naruto menangkap dua buah nama yang tidak berada di kelas.
" Ada yang tau kenapa Himejima – kun dan Gremory – kun absen?" Tanya Naruto ke seluruh kelas. Seorang siswi berdiri kemudian berjalan mendekati Naruto. Naruto memandang siswi itu dengan tatapan menarik. Siswi itu mempunyai potongan rambut tipe bob berwarna hitam dan memakai kacamata untuk melindungi matanya yang berwarna ungu. Dia adalah ketua Osis sekolah ini yang bernama Sona Sitri. Sona menaruh sebuah surat di atas meja Naruto kemudian menaikkan posisi kacamatanya.
"Himejima – san dan Gremory – san ada kegiatan klub sensei. Dan ini adalah surat izin mereka." Ucap Sona tenang dan memandang Naruto datar. Naruto menatap siswi didepannya dengan tatapan tertarik. Naruto membuka surat itu lalu mengangguk – angguk dan bergumam saat membacanya.
"Hmm, jadi begitu." Ucap Naruto melipat kembali surat itu. " Untuk diberikan surat izin langsung oleh ketua Osis. Mereka pasti memiliki hubungan yang dekat denganmu kan?" Tanya Naruto pelan yang hanya di dengar oleh Sona. Bahu Sona sempat menengang namun kembali rileks. Sona menaikkan kacamatanya.
"Itu tidak benar sensei. Saya hanya melakukan tugas saya sebagai ketua Osis." Ucap Sona datar, ada nada bangga tersirat di katanya. Ujung bibir Naruto sedikit terangkat. '….. Nona ini bisa berakting.' Batin Naruto. Ingin bermain lebih lama lagi, Naruto memasang wajah terkejut." Lagi pula kami merupakan teman akrab sensei." Naruto menarik nafas cepat mendengar itu, sedangkan Sona menyembunyikan senyuman kemenangannya.
"Kalau begitu maafkan sensei sudah salah sangka. Kau bisa duduk Sitri – kun dan terimakasih." Ucap Naruto dengan wajah bersalah. Sona mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju tempat duduknya.
"Baiklah!" Seru Naruto membangunkan beberapa siswi yang mulai mengantuk. " Mari kita mulai pelajaran kali ini." Ucap Naruto kemudian membuka sebuah buku. Sona memandang Naruto sebentar kemudian di alihkannya ke arah jendela. Meskipun tau kalau sahabatnya bisa menjaga diri, tapi dari apa yang di bicarakan mereka tadi membuatnya khawatir. Seorang siswa SMA yang di kenal dengan kemesumannya dapat membantai puluhan pendeta tanpa ada rasa bersalah, itu merupakan kabar yang membuat merinding. Sona menghela nafas, semoga temannya tidak membangunkan monster yang tertidur.
'Semoga kau memilih pilihan yang bijak Rias.'
.
.
.
Di sebuah kedai milik seorang yang telah berubah dari Chef menjadi seorang guru terlihat seorang gadis manis berambut pirang mengenakan apron tengah membersihkan meja. Setelah insiden di gereja semalam Asia disambut hangat oleh Charlote dan Naruto. Mengetahui apa yang sudah mereka lalui, Naruto memaksa mereka membersihkan diri dan segera tidur untuk istirahat.
Naruto dan Isse sudah berbaik hati memperbolehkan dia tinggal disini. Jadi hanya ini yang bisa dia lakukan untuk membalas mereka berdua. Kini hanya ada dia sendiri di kedai itu, Naruto pergi berkerja, sedangkan Charlote pergi entah kemana, dan Isse…. Entah kenapa dirinya terbayang pemuda berambut coklat itu. Dirinya masih ingat pemuda itu dengan setengah sadar memaksanya tidur bersama, bagaimana dirinya semakin merapatkan tubuhnya di dekapan pemuda itu. Asia menggemgam erat kain yang digunakannya untuk mengelap meja itu. Pipinya memanas, Oh Tuhan apa ini?... Perasaan ini membuat hatinya berdegup kencang, sama persis saat Isse dengan gagah berani menantang para pendeta itu dan Reynare – sama. Tapi dirinya menyukai perasaan ini.
Tring~ Tring~
Lamunan Asia berakhir saat bel di kedai itu berbunyi. Charlote tadi sudah memesan kalau kedai Naruto ini tidak akan buka. Saat dirinya menanyakan kenapa, Charlote hanya tersenyum lalu mengelus kepalanya pelan.
"Maaf. Kedai ini masih tutup." Asia menoleh dan memandang terkejut sosok yang kini sudah duduk di meja yang di bersihkannya. "Anda….. Orang yang dipanggil Buchou oleh Isse – san." Gumam Asia. Rias sosok itu tersenyum ramah ke Asia.
"Ah itu benar. Perkenalkan namaku Rias Gremory. Atasan dari Isse." Ujar Rias mengulurkan tangan.
"Ah! Uhm… Asia Argento." Ucap Asia malu – malu dan gugup lalu menjabat tangan Rias. Melepas tanganya Rias menopang dagunya menggunakan tangannya di atas meja.
"Tak perlu tegang seperti itu. Aku hanya seorang atasan yang mengawasi bawahanya saja." Ucap Rias mencoba menenangkan suster pirang itu. "Jadi bagaimana Isse menurutmu?" Tanya Rias asal. Asia tersentak kemudian menutup mulutnya dengan tangan.
"Umm… Isse – san adalah orang yang baik begitu juga Naruto – san dan Charlote – san, mereka telah mau menolongku."Ucap Asia tersenyum lembut terutama kepada mengingat pemuda berambut coklat itu. Rias mengangguk kepalanya puas. " Ini merupakan sebuah berkah dari – Nya." Lanjut Asia. Gadis berambut merah itu harus menekan nafsu iblisnya saat mendengar perkataan Asia tadi. Jika hanya seorang suster yang taat, hal ini sangat tidak mungkin dilakukan. Tapi setelah mendengar perkataan gadis pirang di depannya. Rias mengeluarkan senyuman yang sangat cerah untuk menutupi ujung bibirnya yang mulai membentuk seringaian licik.
"Ne, Asia – chan." Panggil Rias masih dengan senyumannya.
"Ya?" Tanya Asia sedikit bingung dengan senyuman atasan Isse.
"Bisa kita berbicara sebentar?"
.
.
.
.
Di sebuah ruangan dengan sebuah singgasana terdapat seorang lelaki yang berumur ratusan bahkan ribuan tahun namun masih memiliki fisik sekitar tiga puluhan. Lelaki itu berambut putih mengenakan baju bangsawan yang dapat digunakan untuk bertarung. Lelaki itu tengah memandang bosan kedepan. Menggunakan tangannya untuk menopang dagunya lelaki itu kembali memikirkan tentang pemuda itu.
Blaar!
Lelaki di singasana itu melompat dan mengeluarkan sayap iblisnya saat ada sebuah proyektil melesat ke arah singgasananya. Lelaki itu memandang terkejut sosok yang terbaring tak sadarkan diri di puing – puing singgasananya. Lelaki itu menoleh saat mendengar suara derap kaki yang banyak dari arah pintu.
Lelaki itu memandang bingung mahkluk yang berbaris di depan pintu itu kemudian membuka jalan untuk sesuatu. Mahkluk itu memakai pakaian bewarna merah gelap dengan hitam dan sebuah helm yang digunakan untuk melindungi diri dari gas beracun, mereka juga membawa berbagai macam senjata otomatis. Lelaki itu mengalihkan perhatiannya ke arah derap kaki yang berat, ia melihat mahkluk yang besar berotot tangan kanannya terbuat dari besi yang membentuk cakar.
Dari belakang mahkluk itu keluar seorang pria yang BENAR – BENAR berusia di tengah tiga puluhan. Pria itu mempunyai rambut pirang pucat hampir coklat dengan mata yang berwarna coklat dan kumis diwajahnya. Pria itu mengenakan jas dan celana berwarna abu – abu serta kaos berwarna putih sebagai dalamannya.
"Istana yang bagus yang kau punya disini Rivezim."
Ucap pria itu sambil menengok sekeliling. Oh Rivezim tau kalau pria di depannya hanya manusia biasa. Tapi, Rivezim melihat sosok yang tak sadarkan diri yang mengenakan baju zirah berwarna merah di singgasanannya.
"Siapa dan mau apa kau?" Tanya Rivezim mulus tanpa bergetar. Pria itu terkekeh dengan angkuh.
"Ah, perkenalkan namaku Derek C. Simmons. Untuk membuatnya cepat….. Aku ingin membuat persekutuan denganmu." Lanjutnya. Rivezim langsung tertawa mendengar hal itu. Para bawahan Simmons mengangkat senjatanya untuk menembak jatuh Rivezim. Tapi dengan sekali hentakan tangan Simmons menghentikan mereka.
"Nfufufufufuahahaha….! Lucu sekali!" Simmons hanya tersenyum santai mendengar tawaan cemoh dari Rivezim. " Menurutmu kenapa Iblis super sepertiku mau berkerjama dengan manusia sepertimu?" Ekspresi wajah Rivezim tidak berubah, masih angkuh dan sombong tapi tatapannya berubah dingin. Simmons terkekeh sambil menggelengkan kepala.
"Rivezim, Rivezim. Kita berdua memiliki ambisi. Aku tau itu, tapi kau sadar bukan? Bagaimana orang itu akan menjadi penghalang bukan?" Walaupun ekspresi Rivezim masih sama, tapi di dalam hati dia menggeram. Oh bagaimana dia bisa lupa pria itu membuat seluruh rencananya berada di belakan jadwal. Dirinya pun masih tidak mau mengakui kalau hanya dengan keburuntunganlah dia bisa selamat dari pemuda itu. "Lagipula dua kepala lebih baik dari satu kan?" Rivezim turun kemudian kembali tertawa aneh. Di dekatinya Simmons.
"Bahkan ambisi untuk menghancurkan dunia?" Tanya Rivezim sembari mendekati Simmons. Simmons mengangkat bahu.
"Tidak masalah. Aku sendiri juga punya ambisi yang lebih gila." Jawab Simmons dengan tenang.
"Nfufufufufu. Aku suka sekali sifatmu." Ucap Rivezim dengan gembira. Simmons mengulurkan tangannya dan disambut oleh Rivezim." Kalau begitu…."
.
.
.
.
.
.
"….. Selamat datang di Qlippoth."
.
.
.
.
.
.
Bersambung.
Yup itu dia chapter 7. Maaf saya membuat chap kali ini cukup pendeka karena…. Yah… kalian tau lah kesibukan dunia nyata. Dan saya dengan mohon maaf sebesar – besarnya sedalam – dalamnya mengatakan kalau kecepatan update fic ini terhambat. Karena pada besok 3 agustus saya harus mengikuti prakerin selama 4 bulan.
Tenang, jangan ngasah golok. Fic ini hanya terhambat up nya bukan berarti saya hiatus.
Seperti yang kalian tebak Naruto menjadi guru di Kuoh Akademi dan wali kelas 3 – A. Ada juga sosok wanita misterius di kenangan Naruto. Kira – kira siapa dia?
Dan untuk Rias, kalian lihat sendiri bukan kalau ada yang membebani Rias sehingga memaksanya melakukan itu.
Dan Simmons dan Rivezim berkerja sama! Kira – kira apa tujuan Simmon untuk membuat kerja sama dengan Rivezim? Dan kalian pasti tau siapa sosok tak sadarkan diri berjirah merah di puing – puing singgasana Rivezim kan?
Yap sekarang menuju Review
Namikaze Rejha: Maafkan aku Rejha dengan Rias sangat presisten. Aku rasa aku tidak bisa mengabulkan permintaanmu. Tapi semua sudah ada di alur, jadi ya maaf ya.
Dhika: Yosh ini sudah lanjut. Terimakasih udah review.
RyoRamantara617: Wah sudah punya akun rupanya. Bagus, bagus. Jadi masih kurang ya dramanya. Huft baiklah saya akan tingkatkan lagi dramanya. Dan untuk yang terakhir saya L dan berumur 16 tahun. Terimakasih udah review.
hyoudousorayasha: Kalau pair Naruto masih bebas. Kalian bisa menyarankan chara apapun untuk pair Naruto. Tapi buat alasan yang menarik kenapa kalian memilih chara itu ya. Dan terimakasih udah review.
samsul. hutamara: Salam kenal juga sam! thanks ya udah review.
Zaldy844: wah terimakasih. Ini udah lanjut.
Name esd: Ini udah lanjut.
nine fox of darkness: Ini udah lanjut.
Z irawan: ye bilang aja malas lu. Begitu kah, tak disangka bisa membingungkan. Lah bukannya sudah saya kasih tau, tapi akan saya segarkan ingatan anda. Salah satu kekuatan shinobi Naruto adalah Academy Trinity. Makanya bacanya yang teliti.
yup itu sudah semua, saya harap kalian mau meninggalkan kritik atau saran agar saya dapat menjadi lebih baik
Quote hari ini.
" Kecantikan bunga mawar tidak terletak saat mekar."
