Six Adversary

author : norenship23

.

Cast : Renjun || Jeno || Mark || Jaemin || Haechan || Jungwoo || Yukhei

Lenght : Chaptered

Genre : Romance, School life, Friendship, AU

Rate : T

Desclaimer : Cast milik tuhan, agensi, dan orang tua masing-masing. Sedangkan komposisi cerita milik saya.

Warning : BxB, BoysLove, alur cepat, typo's

Big thanks to : adaml8770, crybaby0331, tryss, CherryBomb127, BlueBerry Jung, Park RinHyun-Uchiha, KM-FARA, kimdy, nichi, Ka Cira, kyungie love, Byunnie puppy, It's YuanRenkai, Cheon yi, Byunki, ParkYuu, YoonCha, natns88, dan yang sudah favs dan follow ff ini :)

.

.

Jemari itu bergerak perlahan, menandakan Jeno telah sadar dari pingsannya yang hampir memakan waktu satu setengah jam. Seberkas cahaya terang berhasil menerobos kedalam sela matanya yang kecil, membuatnya harus mengerjap beberapa kali guna beradaptasi dengan keadaan. Rasa pening dan nyeri kembali merayapi tubuhnya saat kesadarannya telah kembali sempurna.

"Errgh," erangnya menahan pening yang semakin menjadi di kepalanya. Tangan kanannya bergerak lemah menuju pelipisnya, memijitnya pelan untuk mengurangi pening itu. Matanya memandang langit-langit ruangan ini yang terlihat asing baginya. Sejak kapan ia punya ruangan dengan kondisi langit-langit bercat hijau cerah seperti ini? Jeno menyapukan pandangannya kearah kanan ruangan, dan ia hanya mendapati rak-rak besar berisi buku yang entah berapa jumlahnya. Jelas ini bukan kamarnya. Jeno tidak suka warna hijau dan tidak suka buku. Lalu ini kamar siapa?

Jeno menoleh kearah kiri ruangan, dan betapa terkejutnya ia saat melihat seorang laki-laki berambut oranye yang begitu familiar di matanya sedang tertidur. Laki-laki itu adalah Huang Renjun, musuhnya yang punya tubuh sekecil kacang. Wajahnya terlihat begitu pulas walau ia tidur dengan posisi duduk di lantai dan hanya berbantalkan kedua tangan yang terletak di atas ranjang. Fokusnya teralih pada sebuah kotak putih transparan yang tergeletak di nakas samping ranjang yang berisi obat, kapas, kasa, plester, dan sejenisnya.

Tangan Jeno mengambil sebuah cermin kecil di atas nakas, lalu menggunakannya untuk mengamati kondisi wajahnya yang ia yakini pasti akan parah. Tapi setelah melihatnya, ternyata lukanya sudah bersih. Tidak ada lagi darah yang menghias. Yang ada hanya sebuah luka yang telah diobati dengan begitu tekun. Dan Jeno tau siapa yang telah mengobati semua lukanya.

Siapa lagi kalau bukan Huang Renjun?

Jeno meletakkan kembali cermin itu ketempat asalnya, lalu dengan gerakan sepelan mungkin, ia memposisikan dirinya untuk duduk dan menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang. Matanya menatap Renjun lamat-lamat. Sebuah senyum tipis terlukis di wajahnya. Tangan kirinya terulur kearah Renjun, membelai surai oranye itu pelan, meminimalkan gerakan yang bisa saja membuat Renjun terbangun dari tidurnya yang nyenyak.

"Terima kasih." ucap Jeno lirih sambil tetap menyunggingkan senyum. Dalam hati, ia tidak menyangka kalau Renjun akan membantunya. Ia tidak menyangka kalau suara terakhir yang ia dengar sebelum ia pingsan adalah suara Renjun. Ia tidak menyangka Renjun akan membawanya pulang dan merawat lukanya di malam yang larut hingga rela tertidur di lantai yang dingin. Jeno sungguh tidak pernah berpikir kalau Renjun bisa sebaik ini padanya.

Tangan Jeno terus membelai surai itu yang begitu lembut. Matanya menyusuri setiap detail wajah Renjun yang terlelap. Cantik, pikirnya. Tanpa sengaja, ujung jemari Jeno menyentuh bagian belakang telinga Renjun, membuat laki-laki kecil itu sedikit terusik karena titik sensitifnya dijamah walau tidak disengaja.

Dengan lancang, Jeno kembali menyentuh bagian belakang telinga itu, tak menghiraukan Renjun yang mungkin saja bisa terbangun karena ulahnya. Melihat Renjun dengan ekspresi yang sulit dijelaskan seperti itu membuatnya senang.

Jeno segera menarik tangannya saat Renjun terbangun dari tidurnya. Ia langsung memasang wajah datarnya guna melindungi gengsinya yang sebesar planet jupiter. Renjun mengucek kedua matanya yang masih setengah terbuka, setelah itu ia memandang Jeno dengan pandangan terkejut.

"Sejak kapan kau sadar?" tanyanya bingung.

"Baru saja!"

Renjun hanya menggumamkan 'oh' pelan, bingung mau berucap apa lagi untuk menimpali. Dengan canggung, Renjun berdiri dan membereskan kotak obat itu tanpa melontarkan kata sedikit pun. Suasana hening telah mengambil alih keadaan antara keduanya. Jeno juga diam, tidak ada niatan untuk mengajak bicara duluan.

"Kau mau teh dengan madu?" tanya Renjun akhirnya, memberanikan diri untuk bertanya dan membuang jauh-jauh keheningan yang terjadi. Jeno mendongak, alisnya terpaut bingung. "Teh dengan madu cukup bagus untuk memulihkan kondisi tubuh yang lemah." lanjutnya.

"Memangnya aku terlihat lemah?"

Nah, mulai menyebalkan lagi kan?

Renjun memutar bola matanya malas. "Kurasa begitu, kau baru saja pingsan dengan kondisi yang mengerikan." balas Renjun datar. Tanpa mendengar balasan dari Jeno lagi, Renjun langsung beranjak keluar dari kamar. Namun dua detik kemudian, Renjun kembali berdiri di ambang pintu sambil memasang wajah kesal. "Jangan pernah menyentuh telingaku tanpa izin, sialan!"

Jeno melongo mendengarnya. Apa katanya tadi? Menyentuh telinga tanpa izin? Apa jangan-jangan? Jeno membuang nafasnya panjang, merasa malu karena ketahuan. Astaga, setelah ini wajahnya mau ditaruh dimana? Apa Renjun juga sadar kalau Jeno sudah membelai rambutnya tadi? Oh tidak, jangan sampai!

Sekitar sepuluh menit kemudian, Renjun telah kembali dengan sebuah gelas kaca berukuran besar berisi teh hangat dengan tambahan madu. Ia mengulurkannya pada Jeno, menyuruhnya untuk langsung meminumnya. "Minumlah, aku ikhlas membuatkannya." ujar Renjun datar tanpa ada nada bersahabat sama sekali.

Jeno yang masih merasa malu karena sudah ketahuan, hanya menerimanya tanpa membalas. Ia menatap air berwarna coklat itu sebentar, lalu menghirup aroma melati yang menguar bersama kepulan asap yang menenangkan.

"Ini tidak ada racunnya kan?"

"Memangnya aku mau membunuhmu?"

"Mungkin saja kan? Apa aku salah berpikir kalau musuhku bisa saja membunuhku dengan cara kasat mata seperti ini?" balas Jeno santai, namun cukup membuat Renjun tersinggung.

"Terserah!" akhirnya Renjun mengalah. Untuk apa juga ia membalas argumen tidak penting seperti itu, malah membuat perdebatan tidak akan selesai.

Jeno menyesap teh bercampur madu itu perlahan, merasakan sensani manis yang berhasil dikecap oleh lidahnya. Kerongkongan dan juga perutnya terasa hangat saat air itu tertelan dan membuatnya merasa nyaman.

"Enak, kan?" tanya Renjun sengaja. Sebenarnya ia sudah bisa melihat ekspresi Jeno yang merasa senang dengan minuman buatannya, tapi sepertinya akan lebih menyenangkan kalau Jeno yang mengatakannya langsung.

"Biasa saja. Seperti minuman yang dijual di pinggir jalan."

Renjun mendengus. "Sepertinya gengsimu itu besar sekali ya?"

"Aku tidak gengsi. Rasanya memang biasa saja."

"Terserah!" Renjun mengalah untuk yang kedua kalinya, enggan untuk berdebat lebih panjang lagi. Jeno meletakkan gelas itu pada nakas, lalu dengan perlahan ia turun dari ranjang. Renjun menatap Jeno dalam diam, bingung kenapa Jeno tiba-tiba turun.

"Tidurlah!"

"Hah?"

Jeno menunjuk jam dinding bergambar karakter moomin dengan dagunya, memaksa Renjun ikut mengalihkan pandangan kesana. Pukul sebelas lebih tujuh belas menit.

"Sudah larut, lebih baik kau tidur."

"Lalu kau?"

"Tentu saja pulang. Memangnya aku harus tidur bersamamu begitu? Yang benar saja!"

Lagi-lagi Renjun harus menghela nafas, mencoba mencari kesabaran akan Jeno yang sedari tadi sangat menyebalkan. Kalau saja Jeno tidak dalam kondisi setelah dipukuli entah oleh siapa, Renjun pasti sudah menjitak kepala batu itu berkali-kali. Lagipula Renjun heran kenapa bisa Jeno sebegitu menyebalkan walau tadinya ia sudah sekarat dan hampir mati.

Akhirnya Renjun mengantar Jeno hingga ambang pintu rumahnya, menatap laki-laki bermata kecil itu yang masih mengikat tali sepatunya. Setelah selesai mengikat dengan rapat, Jeno segera berdiri menghadap Renjun dengan ekspresi datar seperti biasa.

"Aku mau bertanya satu hal." ucapnya pelan.

"Apa?"

"Kenapa kau mau menolongku?"

Hening. Renjun bingung mau menjawab pertanyaan mendadak itu dengan jawaban apa. Ia tidak berhasil menemukan jawaban yang sekiranya cocok dan wajar untuk dilontarkan. Otaknya terasa benar-benar kosong.

"Karena...aku orang baik."

"Hanya itu?"

"Ya."

"Lain kali jangan menolongku lagi!"

Renjun mendongak seketika, merasa terkejut dengan kalimat itu. "Maksudmu?"

"Aku tidak mau berhutang budi dengan musuhku sendiri!" entah karena alasan apa, sisi Jeno yang tajam, sinis, dan ber-aura suram kembali hadir. Kening Renjun berkerut bingung, tidak paham dengan situasi aneh ini.

Tanpa berkata apa-apa lagi, Jeno langsung berbalik dan beranjak pulang. Ia bahkan tidak mengucapkan terima kasih sama sekali. Tubuhnya hilang saat pintu pagar rumahnya kembali tertutup, menyisakan Renjun dengan segala pertanyaan di pikirannya.

"Sebenarnya dia kenapa sih? Apa jangan-jangan Jeno itu bipolar? Atau Jeno punya alter ego? Atau dia baru saja puber hingga begitu labil? Aissh, entahlah!"

.

.

.

.

Ada yang tidak beres.

Setelah kelas mengalami kehebohan akibat pindahnya Yukhei dari deret bangku kekuasaan Jeno, kali ini kelas 2-J kembali dibuat heboh karena hal serupa. Kim Jungwoo, sang tentara terdepan dalam geng populer itu juga mendadak pindah bangku dari deret krusial itu. Entah apa sebabnya, pagi-pagi sekali ia datang dan mengklaim bangku Sanha sebagai bangku miliknya. Dengan santai tanpa dosa, ia menyuruh Sanha duduk di bangkunya yang dahulu. Tak ia pedulikan Sanha yang terus protes tidak terima, yang penting ia bisa pindah dan tidak melihat si pangeran Jeno sok dalam segala hal itu.

"Kenapa hyung pindah bangku?" tanya Yukhei dengan kening terpaut. Bangku Sanha terletak tepat di depan bangku Yukhei, membuat Jungwoo bernafas lega karena bisa kembali dekat dengan pujaan hati.

"Mataku bosan melihat pemandangan yang sama disana." balasnya santai.

Kehebohan dalam kelas tak berhenti begitu saja. Seluruh murid selain Jungwoo dan Renjun dibuat terkejut saat melihat Jeno datang dengan kondisi wajah memar dan lebam di beberapa bagian. Seketika desas-desus kembali bertebaran mengenai sebab kepindahan Jungwoo dan juga luka di wajah Jeno. Banyak yang beranggapan kalau dua laki-laki itu mengalami masalah pribadi hingga akhirnya bertengkar.

Tidak seperti Yukhei yang cuek dan memilih mengabaikan semua itu, Jungwoo malah semakin memperkeruh keadaan dan membuat semua murid dalam kelas membenarkan opini mereka.

"Wajahmu keren! Habis berkelahi dengan siapa, Jen?" tanya Jungwoo sambil terkekeh, terkesan menantang dan tanpa takut. Jangan lupakan kalau Jungwoo adalah seorang bad boy yang enggan menjadi bawahan siapapun. Harga dirinya sudah cukup terinjak karena mau menjadi babu Jeno selama setahun ini, dan sekarang Jungwoo telah sadar sepenuhnya.

Renjun menggigit bibir was-was. Meskipun ia tidak tau siapa pelaku yang sudah memukuli Jeno hingga sekarat seperti kemarin, tapi setelah melihat kepindahan Jungwoo dan kalimat ejekannya barusan, Renjun yakin kalau Jungwoo lah pelakunya. Jungwoo yang sudah membuat Jeno babak belur hingga nyaris mati kemarin malam.

Dalam otaknya terbesit pertanyaan, sebenarnya apa yang telah terjadi antara mereka? Yukhei keluar, Jungwoo juga, lalu setelah ini apa lagi?

"Mark! Jaemin! Haechan! Kalian tidak mau pindah kesini juga?" seru Jungwoo sekali lagi. Bagai menabur minyak dalam api. "Biarkan si Jeno duduk di deret sucinya itu sendirian!"

BRAK

Seluruh pasang mata kini mengarah kearah Jeno yang baru saja menggebrak mejanya dengan keras. Tangannya mengepal kuat, sorot matanya menatap Jungwoo setajam samurai. Atmosfer dalam kelas langsung berubah menegangkan, menyelubungi kedua laki-laki yang saling menatap tajam satu sama lain.

"Wae? Kau mau kupukuli lagi?"

Ucapan itu cukup membuat rasa penasaran seluruh murid tentang luka lebam di wajah Jeno terungkap. Apa yang diduga Renjun benar adanya, kalau Jungwoo yang sudah memukuli Jeno kemarin.

"Kau mau kubuat sekarat seperti kemarin lagi?" imbuh Jungwoo tanpa ampun.

Jeno tidak tahan lagi. Telinganya panas mendengar semua itu. Harga dirinya yang berharga dan juga egonya yang tinggi telah diinjak dengan tak seharusnya. Ia hendak menghampiri Jungwoo saat ini juga untuk menyumpal mulut besar itu, namun lengannya berhasil dicegah Mark dari arah belakang.

"Tahan emosimu!" cegah Mark khawatir. Ia sebenarnya juga tidak tau sama sekali masalah apa yang sebenarnya terjadi antara kedua sahabatnya. Mark juga sama terkejutnya dengan murid lain saat tau kalau Jungwoo yang sudah membuat lebam di wajah Jeno.

"Lihat saja apa yang bisa kulakukan padamu, Kim!" desis Jeno tajam. Ia lalu melirik kearah Yukhei. "Dan kau juga pengkhianat!"

Tatapan Jeno kini beralih pada Renjun yang menduduk, ikut menyeretnya dalam masalah pertemanan rumit mereka. "Dan kau Huang!" Renjun bersumpah dapat melihat kilatan kemarahan di kedua mata Jeno saat ia memberanikan diri untuk mendongak. Ia merinding, merasa ngeri kenapa sekarang namanya yang disebut. "Ini semua karenamu!"

Dan untuk yang kesekian kalinya, nama Renjun yang menjadi bahan kesalahan dari semua masalah Jeno. Memangnya apa yang sudah Renjun lakukan sehingga Jeno melimpahkan semua kesalahan padanya? Renjun bahkan tidak tau masalahnya sama sekali. Lalu kenapa ia terus yang disalahkan?

Jeno menepis tangan Mark yang masih menahan tangannya, lalu berjalan dengan langkah lebar meninggalkan kelas. Ia muak. Meskipun jam pelajaran pertama akan segera berlangsung, tapi Jeno tak peduli. Ia sudah terlanjur emosi.

Yukhei mengerling sejenak kearah Renjun yang duduk disebelahnya dengan raut cemas. Renjun pasti gelisah karena masalah runyam yang terjadi sekarang. Kedua netranya beralih pada Jungwoo, sang tersangka dibalik konflik pagi ini. Dengan kesal, Yukhei memukul kepala itu dengan buku Bahasa Korea miliknya yang lumayan tebal.

"Aw..." Jungwoo mengaduh seraya mengusap kepalanya secara reflek. Ia menengok kebelakang, mendapati Yukhei yang menatap kesal kearahnya. Kalau saja yang memukul kepalanya barusan bukan Yukhei, mungkin saja ia sudah memberikan bogem penuh kasih sayangnya sedari tadi.

"Kenapa sih?"

"Kau yang kenapa?" balas Yukhei kesal. "Kenapa kau memukuli Jeno? Dan kenapa kau malah membuat keadaan jadi makin rumit?"

"Lah, kenapa jadi marah? Aku melakukan ini karena dia semena-mena terhadapmu. Seharusnya kau berterima kasih, bukannya memukul kepalaku." komentar Jungwoo ikut sebal.

"Masalahnya bukan begitu, hyung."

"Lalu apa?"

Yukhei melirik Renjun yang kini sedang berkutat dengan ponselnya. Telinganya tersumpal earphone putih yang mengalunkan lagu bervolume keras. Yukhei menoleh lagi kearah Jungwoo, lalu mencondongkan tubuhnya dan kemudian berbisik, "Aku khawatir pada Renjun."

Hati Jungwoo mencelos. Kenapa Yukhei malah mengkhawatirkan orang lain dibanding dirinya yang sudah berjuang mati-matian seperti ini? Ia memukuli Jeno bukan tanpa alasan. Semua itu ia lakukan demi Yukhei. Hanya demi Yukhei. Tapi sekarang Yukhei malah memarahinya karena sikapnya dapat membuat Renjun dalam bahaya? Yang benar saja!

Perasaan kecewa menjalari tubuhnya. Moodnya langsung memburuk seketika. Jungwoo melirik sinis kearah Renjun, menyumpahi dalam hati laki-laki berambut oranye menyebalkan yang selalu saja mendapat perhatian Yukhei yang selama ini diinginkannya.

.

.

.

Renjun memasukkan sebuah kunci kedalam lubangnya guna membuka loker miliknya yang terletak di bagian paling ujung. Ia memutarnya dua kali, lalu membuka daun pintunya. Renjun meletakkan tiga buah buku matematika kedalam sana, menatanya dengan rapih sebelum menutupnya kembali. Namun baru saja ia hendak mengunci kembali lokernya, tiba-tiba Jungwoo datang menghampirinya dengan pandangan yang tidak mengenakkan.

"Aku perlu bicara denganmu, oranye!" desisnya tajam.

Renjun menelan ludahnya dengan susah payah. Melihat kedatangan Jungwoo saja sudah membuatnya resah, apalagi harus bicara dengan berandal itu. Belum lagi tatapan mematikan Jungwoo membuatnya bergidik. Ia takut nasibnya sama seperti Jeno kemarin malam.

"Bicara apa?" cicit Renjun memberanikan diri menatap Jungwoo.

Bukannya menjawab, Jungwoo malah memasang wajah aneh. Lalu ia mengedarkan pandangannya melihat keadaan sekitar dengan tatapan mencurigakan. Renjun makin dibuat kaget saat Jungwoo melangkahkan kakinya maju dua langkah mendekat, membuat Renjun ikut mundur secara reflek.

Jungwoo menarik dasi Renjun dengan gerakan tidak terlalu cepat, namun berhasil membuat Renjun tersentak bukan main. Nyawanya dalam bahaya sekarang. Dalam hati, Renjun terus memanjatkan doa semoga ada orang yang akan menyelamatkannya.

"Kenapa kau menutup matamu huh?" tanya Jungwoo ketus.

"A..aniya." jawab Renjun seraya membuka matanya cepat, dan sialnya netranya malah bertemu tatap dengan manik kembar Jungwoo yang menyiratkan rasa kesal yang begitu kentara.

"Jauhi Yukhei!"

"Eh?"

"Kaupikir aku tidak tau? Kau mau merebut Yukhei dariku kan?"

Hening.

"Merebut Yukhei darimu?"

"Hmm!"

Oh, Renjun paham sekarang. "Kau menyukai Yukhei ya?"

Jungwoo tidak menjawab. Wajahnya tetap datar tanpa ekspresi. Keterdiaman Jungwoo sudah cukup menjawab kalau Jungwoo memang menyukai Yukhei. "Aku tidak berniat merebut Yukhei darimu. Aku dan dia hanya berteman, sungguh!"

"Kaupikir aku percaya?"

"Aku tidak bohong. Aku dan Yukhei tidak punya hubungan apapun selain teman. Kau harus percaya padaku! Lagipula aku juga tidak ada perasaan apa-apa dengan Yukhei, jadi kau tidak perlu khawatir!"

"Kau benar-benar tidak suka padanya?" tanya Jungwoo ragu.

Renjun menggeleng cepat. Bukan karena takut, tapi karena memang ia tidak punya perasaan apapun pada Yukhei. Selama ini Yukhei memang sangat baik padanya, tapi Renjun hanya menganggap Yukhei sebagai teman, tidak lebih.

"Kau bisa percaya padaku! Aku tidak akan merebutnya darimu!" jawab Renjun meyakinkan.

Jungwoo terdiam, terlihat berpikir. "Aku tidak butuh omong kosong. Bagaimana kalau kau buktikan padaku?"

"Bukti apa maksudmu?"

Jungwoo mengeratkan cengkeramannya pada dasi Renjun, menariknya kuat hingga membuat Renjun sedikit kesulitan untuk bernafas. "Kau harus membantuku supaya dekat dengan Yukhei!"

Renjun mengerjapkan mata beberapa kali, mencoba mencerna kalimat yang dilontarkan Jungwoo barusan. "Bukannya kalian sudah dekat sebelumnya?"

"Memang! Tapi sejak kau datang, hubungan ku dan dia jadi renggang. Bagaimana? Kau bisa buktikan itu padaku?"

"Ehm, ya. Aku akan coba." jawab Renjun pelan.

"Bagus!" Jungwoo tersenyum penuh kemenangan. "Dan ingat, aku akan menghajarmu kalau sampai kau menunjukkan tanda-tanda berkhianat. Kau mengerti?"

"Ya, aku sangat mengerti. Aku tidak akan mengkhianatimu."

Jungwoo melepaskan dasi Renjun dari tangannya, lalu bergerak mundur seraya memasang wajah polos tanpa dosa. Renjun menghela nafas lega karena akhirnya ia bisa lepas dari Jungwoo, meski sekarang ia punya tanggungan untuk membuat Yukhei dan Jungwoo kembali dekat seperti semula.

"Sekarang aku boleh pergi kan?"

"Pergi saja! Memangnya siapa juga yang mau bersamamu disini?"

Renjun mendengus. Kalau saja Jungwoo bukan berandal yang bisa membuat sekarat siapa saja, mungkin Renjun sudah menendangnya dengan penuh kekesalan. Tanpa bicara lagi, Renjun langsung bergegas meninggalkan ruang loker dan kembali ke kelasnya.

.

.

.

"Jaem?"

Jaemin yang awalnya sedang meringsuk di ruang studio sambil mencoret-coret buku dengan coretan tidak jelas langsung mendongak. Manik kembarnya menangkap sosok Mark yang sedang berdiri tak jauh dari tempatnya duduk. Laki-laki berambut pirang itu mendudukkan diri disamping Jaemin, menyandarkan punggungnya dengan kasar di sandaran sofa ruang studio.

"Kau baik-baik saja?" tanya Mark sambil melirik Jaemin yang kini kembali melanjutkan aktivitasnya mencoret-coret buku. Dimata Mark, Jaemin terlihat cukup aneh hari ini. Biasanya Jaemin akan selalu berisik dan banyak bicara, tapi hari ini telinganya bahkan tak mendengar suara Jaemin sama sekali.

"Hmm," jawab Jaemin sekenanya.

Mark menegakkan tubuhnya, lalu mengeluarkan permen karet berperisa anggur dari dalam saku almamaternya. Ia mengulurkan permen karet itu kearah Jaemin, membuat yang lebih muda terdiam sejenak dari aktivitasnya.

"Kata ayahku, permen karet baik untuk menghilangkan stres. Cobalah!"

Jaemin menerima permen karet itu sembari menyunggingkan senyum yang dipaksakan. Ia membuka bungkus permen karet itu dan memakan isinya dengan pelan, terkesan tak bersemangat.

"Kita harus pilih siapa?" itulah kalimat pertama yang keluar dari belah bibir Jaemin hari ini yang Mark dengar. Lirih dan terdengar putus asa. Tangannya terus bergerak tanpa arah diatas buku yang telah penuh dengan coretan. Matanya mengisyaratkan kesedihan yang jarang sekali diperlihatkan oleh seorang Jaemin yang ceria.

"Apa maksudnya harus pilih siapa?"

"Jeno atau Yukhei?" balas Jaemin cepat. "Jungwoo hyung sudah memilih Yukhei. Lalu kita akan pilih siapa? Kita tidak mungkin memilih keduanya kan?"

"Jaem..."

"Firasatku waktu itu benar kan, hyung? Aku sudah menduga kalau jadinya akan seperti ini."

Mark tidak membalas lagi. Kalaupun mau membalas, ia juga bingung harus membalas dengan ucapan apa. Ia mengerti kesedihan Jaemin, karena bagaimanapun ia juga bagian dari mereka. Ia juga sedih karena persahabatan mereka lambat laun makin pudar.

"Kalau memang harus memilih, aku akan pilih Jeno." ucap Jaemin yang sontak membuat Mark menoleh kearahnya.

"Kenapa?"

"Karena aku ingin mempertahankan persahabatan kita. Aku tidak mau berkhianat." jawab Jaemin lirih. "Kau juga akan memilih Jeno kan, hyung?"

Mark terdiam, mengalihkan pandang ke sembarang arah asal tidak bertemu tatap dengan Jaemin. Hatinya merasa ragu dengan keputusan Jaemin. Sejujurnya ia juga ingin memilih Jeno dan mempertahankan persahabatan mereka, ia juga ingin semuanya kembali seperti semula. Tapi entah kenapa hatinya menolak.

"Kenapa diam? Jangan bilang kalau kau memilih Yukhei."

Dengan bimbang, Mark menggeleng. "Aku tidak akan memilih siapa-siapa. Aku mencintai semua sahabatku dan aku tidak mau berpihak pada siapapun." jawabnya tegas.

"Lalu apa kau akan terus terombang-ambing diantara dua kubu? Kau harus pilih satu hyung, Jeno atau Yukhei?!" paksa Jaemin geram.

Suasana menjadi hening tanpa ada yang berbicara lagi. Mark masih terdiam selagi otaknya berperang untuk menemukan keputusan yang tepat. Kenapa ia harus dihadapkan dalam situasi seperti ini? Dibanding dengan Yukhei, Mark memang lebih dekat dengan Jeno. Tapi, untuk yang kesekian kalinya, hatinya terus saja bimbang. Hatinya seakan menolak untuk bertahan dalam geng itu.

Akhirnya setelah beberapa menit dalam keheningan, Mark menghela nafas panjang,, mencoba mengumpulkan kekuatan. "Baiklah." ujarnya pasrah.

"Aku juga pilih Jeno."

.

.

.

.

Aku sudah terlanjur basah, lalu kenapa tidak menyelam sekalian? Lagipula besok bisa kering lagi.

Itulah sederet kalimat yang selalu Jeno ingat tanpa pernah sekalipun melupakannya. Ia sudah terlanjur masuk kedalam jalan yang salah, lalu kenapa ia harus takut dan berniat kembali? Teruskan saja perjalananmu hingga menemukan jalan baru, dan kau bisa memilih jalan yang lebih baik setelahnya. Ya, setidaknya seperti itulah yang selalu Jeno pikirkan.

Jeno sudah memilih untuk balas dendam pada Jaehyun lewat perantara Renjun. Ia sudah terlanjur menabur benih permusuhan antara mereka berdua. Ia tau ini salah, karena sebenarnya Renjun tidak mempunyai salah apapun terhadapnya. Tapi, ia sudah terlanjur. Jeno sudah masuk kedalam jalan itu terlalu dalam, dan kesempatan untuk kembali kejalan awal sangat sedikit. Tidak ada pilihan lain selain meneruskan perjalanan hingga akhir. Entah akan ada jalan baru yang lebih baik atau tidak, Jeno tetap harus meneruskan perjalanannya. Sekali lagi, ia tau kalau keputusan yang ia ambil salah. Tapi sekali lagi, ia sudah terlanjur.

Kalaupun Jeno ingin lepas dari semua ini, pasti tidak akan semudah yang dibayangkan. Masalah yang ditimbulkan dari jalan yang salah itu sudah terlalu banyak, dan ia tidak mau meninggalkan semua masalah itu tanpa solusi. Ia ingin berlari sebenarnya, tapi ia yakin takdir akan tetap menyeretnya kembali lagi. Jadi, yang Jeno pikirkan sekarang adalah, lakukan seperti biasanya, balas dendam seperti biasanya, acuh dan tidak peduli seperti biasanya, dan semua akan baik-baik saja.

Ya, Jeno tidak peduli dengan ucapan Jungwoo soal pembalasan yang akan menimpanya entah dalam bentuk apa. Ia takut, tentu saja. Tapi sebisa mungkin ia membuang jauh-jauh pikiran itu. Lagipula Jeno mengambil jalan yang salah dan melakukan balas dendam ini bukan tanpa alasan. Jeno melakukannya demi Taeyong, kakaknya yang tersiksa akibat ulah orang lain. Jeno yakin yang ia lakukan benar. Ia hanya mau kakaknya tenang dan manusia jahat yang sudah membuat kakaknya seperti ini merasakan balasannya.

"Apa yang kau lakukan disini, Lee haksaeng?"

Lamunan Jeno seketika buyar saat sebuah suara cempreng menyeruak masuk kedalam gendang telinganya. Sontak Jeno menoleh, mendapati Yuri saem yang sedang menatapnya penuh tanda tanya. "Kurasa membolos pelajaran dapat membuat poinmu dikurangi. Jadi lebih baik kau kembali ke kelasmu sekarang!" ujarnya tegas.

Jeno mendengus sebelum akhirnya berdiri dari posisi duduknya yang nyaman di atap sekolah. Sebenarnya Jeno bingung kenapa Yuri saem bisa sampai di atap sekolah dan memergokinya membolos. Tanpa bicara lagi, Jeno langsung membungkuk sembilan puluh derajat, lalu bergegas pergi meninggalkan atap sekolah.

Langkahnya yang lebar berjalan menuruni tangga menuju lantai dua. Kelas 2-J sebenarnya terletak di lantai tiga, tapi ia terlalu malas untuk kembali kedalam kelas dan bertemu dengan musuhnya yang jumlahnya sekarang bertambah dua orang. Ia memutuskan untuk membolos lagi di tempat yang berbeda. Tempat yang sekiranya sepi dan tidak akan ada guru yang memergokinya.

Ruang musik.

Jeno berhenti sejenak di depan pintu ruang musik, memeriksa keadaan sekitar yang memang cukup sepi. Sebenarnya ia sudah bersumpah pada diri sendiri kalau ia tidak akan pernah menginjakkan kakinya kesini lagi setelah kejadian beberapa waktu lalu bersama Renjun, tapi tempat ini terlalu menarik untuk dilupakan begitu saja. Apalagi sekarang ia butuh tempat untuk menyendiri, dan ruang musik sangat cocok untuknya. Jangan lupakan juga fakta kalau sedari dulu ruangan ini memang ruangan favorit Jeno di sekolah.

Akhirnya, Jeno menapakkan kakinya masuk kedalam ruang musik. Meskipun sudah beberapa minggu ia tidak kemari, namun suasananya tidak jauh berbeda. Tetap menenangkan seperti dulu. Jeno menghempaskan tubuhnya di sofa coklat yang terletak di pinggir ruangan, membaringkan tubuhnya disana senyaman mungkin. Yah, setidaknya disini Jeno bisa merasakan ketenangan sebentar.

Ya, hanya sebentar.

Karena sekarang telinganya mendengar bunyi pintu ruang musik kembali terbuka. Sial, jangan sampai ada guru yang memergoki Jeno lagi. Dengan sigap, Jeno merubah posisinya menjadi duduk, mengawasi pintu itu yang semakin terbuka lebar dan menampilkan orang yang dengan lancangnya mengganggu waktu berharganya.

Entah takdir atau apa, orang itu adalah Huang Renjun.

Dari banyaknya manusia di sekolah ini, kenapa harus musuhnya yang masuk kedalam ruang musik ini? Memang bagus sih, karena itu artinya Jeno tidak perlu khawatir ketahuan guru. Tapi tetap saja, ia merasa terganggu dengan kedatangan orang lain.

"Je...Jeno?" Renjun terkesiap saat bola matanya menangkap sosok Jeno sedang duduk di sofa ruang musik sambil menatapnya tidak suka. Sejak kapan Jeno ada disitu? Kenapa Renjun baru sadar?

"Apa yang kau lakukan disini?" lima kata sedingin es itu meluncur tanpa nada ramah sedikitpun dari mulut Jeno.

"Aku mau meletakkan beberapa berkas klub musik. Lalu kau sendiri? Apa yang kau lakukan disini? Seingatku kau pernah bilang kalau kau tidak akan kembali ke ruangan kampungan ini lagi."

"Membolos!" Singkat, padat, dan terlalu jelas.

"Bukannya waktu itu sudah kubilang jangan gunakan ruangan klub musik sebagai tempat tidak berguna? Kalau mau membolos, pakai saja ruanganmu sen..."

"Cerewet sekali sih?" potong Jeno cepat. "Ayahku satu-satunya pemilik yayasan di sekolah ini, jadi aku berhak menggunakan semua tempat yang kumau. Tidak ada yang bisa mencegahku, termasuk kau!"

"Aku memang tidak bisa mencegahmu, tapi kurasa Yuri saem bisa. Aku baru saja melihatnya didekat sini, dan aku akan melaporkanmu padanya." ancam Renjun sembari menyunggingkan senyum sinis.

Jeno mengumpat dalam hati saat tubuh kecil Renjun berbalik kearah pintu dan bersiap membukanya. Ia tidak bisa membiarkan musuhnya itu melaporkan keberadaannya disini. Ia tidak mau diceramahi panjang lebar oleh Yuri saem yang terkenal banyak bicara.

Renjun membuka pintu itu dan berniat langsung keluar. Namun belum sampai itu terjadi, tiba-tiba dari arah belakang, Jeno menarik pergelangan tangannya dan berhasil menutup kembali pintu ruang musik. Renjun berusaha melepaskan tangan Jeno dari pergelangan tangannya, tapi Jeno malah mencengkeramnya makin kuat.

"Sakit!" Renjun nyaris mengumpat akibat pergelangan tangannya yang semakin sakit. Tapi sepertinya Jeno tidak peduli. Sekarang Jeno malah tersenyum penuh kemenangan.

"Mood ku hari ini sedang buruk, dan aku membutuhkan seseorang untuk kujadikan pelampiasan. Untung saja kau kemari, jadi aku tidak perlu repot-repot mencari orang lagi." tutur Jeno seraya menyeringai.

"Aku bersumpah aku akan melaporkanmu ke Yuri saem setelah ini."

"Laporkan saja, aku juga tidak peduli. Aku akan tetap naik kelas walau poinku habis sekalipun."

Melihat kegelisahan di wajah Renjun membuat Jeno senang. Membuat musuhnya ketakutan adalah salah satu bagian favoritnya. Lakukan seperti biasanya, ganggu dan musuhi dia seperti biasanya, balas dendam padanya seperti biasanya, biarkan semua normal seperti biasanya.

"Menurutmu bentuk pelampiasan yang seperti apa yang akan kulakukan padamu?" tanya Jeno mencoba membuat Renjun semakin cemas. Dan berhasil. Wajah Renjun semakin terlihat resah dan ketakutan. Tangannya bahkan sudah berkeringat dingin.

"Lepas!"

"Kalau saja kau tidak menggangguku tadi, aku pasti dengan senang hati melepaskan tangan kotormu ini."

Renjun mendengus kasar, merasa tersinggung dengan ucapan itu. "Cih, kau tidak ingat siapa yang sudah menolongmu saat kau sekarat kemarin huh? Inikah balasannya?"

"Jadi kau tidak ikhlas menolongku kemarin? Lagipula aku tidak pernah memintamu untuk menolongku kan? Lalu sekarang siapa yang salah?" balas Jeno sarkastik.

"Aku menyesal sudah menolongmu. Seharusnya aku membiarkanmu mati saja disana!"

"Seharusnya memang begitu. Biarkan aku mati dan kau tidak akan punya musuh lagi. Benar kan?"

Renjun kembali memberontak. Ia berusaha sekuat tenaga melepaskan cengkeraman Jeno di pergelangan tangannya. Tapi gagal. Salahkan saja tubuhnya yang kecil dan kurus, sehingga tidak mampu menandingi kekuatan Jeno.

"Aku benar-benar menyesal sudah menolongmu kemarin!"

"Aku tau, Huang! Maka dari itu kau harus berpikir dua kali untuk menyelamatkan musuhmu sendiri!"

Semakin didominasi rasa marah, dengan sekuat tenaga Renjun memberontak dan akhirnya dapat lepas dari cengkraman Jeno. Ia mendorong Jeno hingga mundur beberapa langkah. Tanpa banyak berpikir, Renjun langsung membuka pintu ruang musik untuk segera keluar dari sana. Tapi, belum sempat ia keluar, untuk kedua kalinya Jeno berhasil menarik tangan Renjun dan menutup kembali pintunya.

"Sial!" umpat Renjun tidak tahan. Ia tidak peduli dengan image teladan yang ia sandang, ia terlanjur marah. Pergelangan tangannya sudah memerah akibat cengkraman Jeno yang kelewat kuat.

"Kenapa? Takut, Huang?" tanya Jeno sembari terkekeh.

"Aku membencimu!" desis Renjun tajam. Matanya memicing penuh permusuhan kearah manik kembar Jeno. Yang ditatap hanya tersenyum santai, seperti sudah biasa mendengarnya.

"Aku lebih membencimu!"

Mata Renjun goyah saat melihat sepasang onyx Jeno berubah gelap. Senyuman sinis yang terpasang diwajahnya kini berganti dengan wajah datar yang sarat akan kebencian. Jeno mendorong Renjun hingga tubuh kecil itu membentur dinding dengan cukup keras. Renjun merasakan nyeri di punggungnya, namun nyeri itu seakan hilang saat tiba-tiba Jeno maju dan kembali mencengkram kedua tangannya.

"Sakit!" Renjun meringis kesakitan. Sungguh, Renjun benar-benar menyesal telah datang kesini dan berniat melaporkannya pada Yuri saem kalau tau akhirnya akan begini. Ia takut, tapi sebisa mungkin Renjun tak memperlihatkannya pada Jeno. Ia tidak mau Jeno merasakan ketakutannya.

"Kau itu parasit!"

Renjun sontak mendongak, bertemu tatap dengan Jeno yang baru saja melontarkan tiga kata tajam itu. Renjun dapat melihat kilatan kemarahan bercampur kesedihan di mata Jeno yang semakin gelap.

"Kau dan kakakmu selalu membuat hidupku susah!"

Apa? Kakak? Renjun teringat sekelebat memori ucapan Jeno tentang kakaknya, Jaehyun. Ia ingat kalau Jeno mengatakan bahwa Jaehyun telah melakukan hal keji pada kakaknya. Waktu banyak berlalu, tapi kenapa Renjun baru ingat sekarang.

"Kalian berdua pembawa sial! Kau dan kakakmu itu penghancur kehidupanku!"

"Berhenti!" desis Renjun naik darah. "Kakakku bukan orang yang seperti itu! Kakakku orang baik!"

"Oh ya? Wajah memang bisa menipu, Huang!"

"Kakakku tidak mungkin melakukan hal yang keji. Kakakku bukan orang yang jahat!"

"Sayangnya kenyataan tidak sesuai yang kau harapkan, Huang. Kakakmu itu parasit!"

Wajah Renjun merah akibat amarah yang makin menjadi. Ia tidak masalah diganggu atau diejek setiap saat, tapi ia tidak suka kalau Jaehyun dilibatkan dalam semua ini. Ia percaya pada kakaknya. Jaehyun bukan orang yang keji seperti apa yang dibicarakan Jeno.

"Jangan pernah menghina kakakku!" desis Renjun dengan nafas memburu.

"Kenapa? Apa aku salah? Kakakmu sudah melukai kakakku. Apa lagi namanya kalau bukan parasit?" balas Jeno geram. "Kau dan kakakmu tidak ada bedanya. Sama-sama parasit, pembawa sial!"

"Berkacalah sebelum bicara!" bentak Renjun tak kalah emosi. "Kau itu jahat! Mungkin kakakmu juga sama."

Jeno mengertakkan gigi. Rahangnya mengeras mendengar Renjun bicara seperti itu. "Berani sekali kau..."

"Kenapa? Kau tidak terima?" tanya Renjun sinis. "Seharusnya tadi kau berpikir sebelum menghina kakakku, Lee!"

Ini adalah pertama kalinya, Renjun menyebut Jeno dengan panggilan Lee. Setidak suka apapun Renjun pada Jeno, ia akan tetap memanggil Jeno dengan sebutan Jeno. Tapi sekarang tidak. Karena terlalu emosi, Renjun bahkan tak peduli menyebut Jeno dengan marganya.

"Aku akan membuatmu menyesal karena sudah menghina kakakku, Huang!"

"Memangnya apa yang bisa kau lakukan huh? Aku tidak takut sama sekali!"

"Begitukah?"

Tanpa aba-aba, Jeno menghimpit tubuh Renjun hingga terdesak ke dinding ruang musik yang terbalut karpet peredam suara. Renjun tersentak bukan main. Matanya membulat lebar karena tindakan Jeno yang diluar akal sehat. Semuanya terjadi begitu cepat, hingga Renjun tak bisa berbuat apa-apa.

Jeno menciumnya.

.

.

.

TBC

.

.

.

Annyeonghaseyo chingudeul /lambai-lambai bareng Jungwoo/

Chapter 6 updet uyyehh... maaf kalau updetnya lama wkwk. Sebenernya otak lagi blank karena biasanya ngetik sambil nyemil, tapi karena puasa jadi rada susah mikirnya. Oh ya maaf kalau cerita ini makin membingungkan, aneh, gak jelas, gak sesuai ekspetasi, jelek, dan lainnya. Maaf banget.

Oh ya buat noren shipper, akhirnya ada moment juga di chap ini wkwk. Aku gak kepikiran bikin mereka kiss sih, Cuma yauda deh mungkin udah waktunya /apasih/. Aku gak terlalu bisa bikin nuansa romance, jadi kalo radak aneh maafkeun ya.

Sebenarnya aku bingung kasih Haechan kopel siapa, soalnya kan kopelnya udah ngepas. Kalau ada yang ngasih saran si Haechan nasibnya gimana bisa isi di kolom review ya huehhe.

Aku mau ngucapin banyak-banyak terima kasih buat semua yang udah mau mampir baca, kasih favs, follow,, dan review berharga kalian. Sungguh, aku bahagia sekali. Terima kasih karena aku jadi semangat melanjutkan cerita ini.

Kalau ada kritik, saran, pendapat bisa diisi di kolom review kok, aku bakal senang nerimanya. Gak usah sungkan-sungkan gapapa kok.

Dan aku mau minta maaf sama CherryBomb127 dan wafertango yang review kalian di chap lima belum sempat terbalas. Maaf sekali. Mata saya radak sableng emang sampe kelewatan gitu. Maaf sekali lagi.

Sudah kepanjangan, cukup sekian aja ya hueheh.

.

Monggo Review nya

.

Balasan Review :

adaml8770 = gak lama kok, ini uda dilanjut hueheh. Makasi yaa

crybaby0331 = hehe iya gapapa kok, makasi lo uda ngerivew di chap 5 ini hueheh. Makasi udah sukain ff ini ya hueheh. Ini uda kulanjut. Makasi yaa

tryss = iya nyerah aja, tapi sayangnya kayaknya dia gak nyerah deh huhuhu. Makasi yaa

CherryBomb127 = masuk kok, tapi masuk nya bukan di chap 5. Maaf ya gak sempet kebales, maaf banget. Mata aku emang rada sableng hueheh. Makasi ya udah mau review terus. Makasih yaa

Blueberry Jung = iyaa kasian sama semuanya huhu. Emang sih banyak yang bikin baper wkwk. Makasih yaa

Park RinHyun-Uchiha = pengkhianat nya siapa ya hueheh. Terus lanjut aja ya biar tau hueheh. Makasih yaa

KM-FARA = hubungan jaeyong bakal terungkap di chap lanjutan kok, jadi gaperlu khawatir ya huehehe. Iya yang nolong jeno si njun. Makasi yaa

kimdy = iyaa bener seratus persen kalau njun yang nolong jeno wkwk. Penasaran? Baca terus lanjutannya ya hueheh. Sudah ku next. Makasi yaa

nichi = gengnya si uda mulai retak gitu huhu. Iya bener njun yang nolong jeno hueheh, so sweet kan wkwk. Jungwoo emang kujadiin pindah deket pujaan hatinya kok wkwk, jadi tontonan lagi hueheh. Makasi yaa

Ka Cira = Yukhei emang bikin baper huhu. Tapi sayangnya yukhei gaboleh deket njun lagi soalnya ntar si jungwoo marah wkwk. Makasi yaa

kyungie love = yang dating njun kok wkwk. Makasi yaa

Byunnie puppy = iyaa jeno kejem emang. Tapi untung ada jungwoo hueheh. Makasi yaa

It's YuanRenKai = setuju emang kalo jungwoo gak terima. Yang dating si njun, dia kan baik wkwk. Makasi yaa

Cheon yi = iyaa sama-sama. Sebenrnya rada susah mikir sih tapi tetap kuusahain kok hueheh. Yang nolongin njun kok wkwk. Makasi yaa

Byunki = jeno cocok jadi bad boy yagak sih wkwk. Uda kulanjut nih. Makasi yaa

ParkYuu = retak retak gitudeh mulainya huhu. Iyaa jungwoo beraksi buat ngelindungin lucas wkwk. Ini udah kulanjut kok wkwk. Makasi yaa

YoonCha = hehe gapapa kok. Yang nolong jeno si oranye njun wkwk. Iya gapapa makasi loh udah review hueheh. Makasi yaa

natns88 = penasaran sama masalahnya ya? Baca kelanjutannya ya hueheh. Ini uda kulanjut. Makasi yaa

.

Terima kasih bagi semua yang sudah mendukung ff ini. Terima kasih banyak.

.

norenship23, 09062017