I'M 28
An EXO fanfiction
HunKai
Rating: T-M
Pairing: Sehun X Kai, Choi Minho X Kai
Warning: BL, YAOI, M-preg
Halo ini chapter tujuh selamat membaca dan maaf atas segala kesalahan. Happy reading all and enjoy.
Cast: Kris Wu, Oh Sehun, Kim Jongin, Park Chanyeol, Byun Baekhyun, Choi Minho, Kim Jummyeon, Luhan, Krystal Jung, Lee Sungmin
Previous
Sehun duduk di samping Jongin mengetik sesuatu di layar ponselnya kemudian menikmati kue beras pedasnya. "Banyak sekali kau membeli kue beras pedas."
"Ya, aku suka makanan pedas akhir-akhir ini."
"Hmmm." Gumam Jongin.
"Aku juga mual di pagi hari dan tiba-tiba tidak menyukai makanan yang biasanya sangat aku sukai. Kurasa karena aku terlalu menyayangi bayi kita Jongin hyung." Jongin memilih diam tak menanggapi. "Taksinya sampai." Ucap Sehun dengan ceria, ia menggenggam tangan kanan Jongin menariknya lembut menuju taksi.
"Kau memesan taksi?"
"Ya, untuk Jongin hyung setiap hari Jongin hyung tidak boleh mengendarai mobil saat bekerja. Maaf Jongin hyung aku belum memiliki izin mengemudi mobil." Jongin tak menjawab dia memilih untuk masuk ke dalam taksi terlebih dahulu. Di dalam taksi Sehun menggenggam tangan kanan Jongin lembut. "Bisakah Hyung mencintaiku sedikit saja mulai hari ini?"
BAB TUJUH
Alis Jongin berkedut kala membaca isi pesan Sehun yang lebih mirip terror atau iklan layanan masyarakat dibanding pesan singkat.
Jongin hyung selamat pagi, sebelum berangkat sekolah aku ingin mengingatkan makan yang benar, jangan lupa minum susu, taksi akan datang tepat pukul delapan, istirahat yang cukup, jangan stres, jangan mengangkat sesuatu yang berat, kita bertemu di klinik pukul tiga sore aku mencintaimu dan bayi kita Jongin hyung.
Jongin mencampakkan ponselnya di atas meja sedangkan dirinya duduk menikmati semangkuk sereal dengan susu sapi yang sudah di sterilkan atau di pasteurisasi. Oh, jangan lupakan segelas susu khusus masa kehamilan rasa cokelat dalam gelas besar di samping mangkuk. "Lama-lama aku mabuk susu." Gerutu Jongin. Setalah acara sarapan selesai Jongin bergegas keluar tanpa membersihkan piring dan gelas kotornya toh dirinya tinggal seorang diri sekarang.
Jongin tak ingin membuat pengemudi taksi yang diperintah Sehun menunggunya. Seperti yang dikatakan Sehun taksi berwarna hitam itu sudah berada di depan pagar tepat pukul delapan pagi. Jongin berjalan pelan melintasi halaman rumahnya, ia tidak akan menurut begitu saja kepada Sehun tapi melihat pengorbanan Sehun rasanya tidak baik untuk menolak.
"Sehun, ternyata kau benar-benar bocah tengil yang licik dan cerdas," gerutu Jongin sembari mendorong pintu pagar, menguncinya kembali kemudian masuk ke dalam taksi.
"Selamat pagi Tuan Kim Jongin, mulai hari ini saya Hangeng akan mengantar jemput Anda."
"Terimakasih banyak." Jongin menjawab ramah, ia tak akan menunjukkan sikap menyebalkan kepada semua orang meski di dalam hatinya ia benar-benar menekan amarah sekarang.
Jongin benar-benar tidak tahan berada di dalam taksi, terlalu lama biasanya ia bisa sampai di kantor sepuluh atau paling lama lima belas menit tapi sekarang bahkan hampir setengah jam. Pantatnya terpaksa duduk di atas kursi berlapis kulit sintetis yang tidak nyaman. "Bisakah lebih cepat?" Jongin tak bisa menahan diri untuk tidak bertanya dan sedikit mengeluh.
"Saya tidak boleh mengemudi di atas empat puluh kilometer per jam."
"Astaga!" Jongin memekik pelan, benar-benar membuat frustasi. Dan Hangeng hanya bisa tersenyum meminta maaf, yang tak terlihat oleh Jongin karena dia bahkan tak berminat untuk melirik spion.
Sesampainya di kantor Jongin membuka pintu taksi dengan tergesa, menutupnya dengan sedikit tambahan tenaga karena kesal, dan ia tak mengucapkan terimakasih semua sopan santun itu menguap entah kemana. Dan kekesalannya bertambah saat ponselnya berdering. "Astaga, apa kau tidak sedang belajar sekarang?!"
"Tidak, aku sudah menyelesaikan semua tugas dan aku ijin ke toilet. Apa Jongin hyung sudah sampai di kantor?"
"Ya."
"Semuanya berjalan dengan baik?"
"Ya."
"Jongin….,"
"Kau kirim pesan saja kita bertemu di klinik. Aku sibuk." Jongin memotong kalimat Sehun dan mengakhiri panggilan Sehun. Jongin menarik napas dalam-dalam menghembuskannya perlahan. "Seharusnya aku tidak marah-marah." Ucap Jongin kepada dirinya sendiri.
"Halo Jongin."
"Ya." Jongin membalas singkat sapaan ramah Chanyeol. Chanyeol yang selalu penasaran lantas mengikuti Jongin ke ruangannya.
"Ada masalah?"
"Tidak ada." Jongin duduk di belakang meja kerja menyalakan komputer dan membuka file pekerjaan yang belum ia selesaikan.
"Semua harus selesai sebelum lusa."
"Aku tahu Hyung, akan aku lakukan sebaik mungkin."
"Jangan terlalu stres nikmati saja. Ah ya, Baekhyun ingin tahu kenapa kau tidak bisa dihubungi dan kau sengaja mengabaikan panggilan Baekhyun?"
"Aku sibuk, banyak pikiran akhir-akhir ini. Biasakah Chanyeol hyung pergi? Maaf aku tidak bermaksud mengusir, aku butuh ketenangan untuk mengerjakan semua ini."
"Tentu Jongin, jika butuh sesuatu jangan segan memanggilku." Chanyeol melihat Jongin mengangguk cepat dengan kedua mata yang telah sibuk menatap layar komputer. Chanyeol memilih keluar karena Jongin terlihat jelas sedang tak ingin diganggu.
.
.
.
"Oh Sehun."
"Ya, Kyungsoo hyung."
"Guru memanggilmu untuk kembali ke kelas."
"Ah sudah selama itukah aku pergi?" Kyungsoo mengangguk cepat. "Baiklah kalau begitu."
"Ada masalah?" Kyungsoo bertanya sambil melirik ponsel di tangan kanan Sehun.
"Tidak ada, ah kecuali satau hal Taemin akan marah karena aku akan mengganti jadwal latihan menjadi malam."
"Kau punya acara di sore hari?"
"Hmm, ada acara pemotretan dan hal lainnya."
"Akan aku sampaikan pada Taemin tapi kemarahan Taemin kau sendiri yang menanggung."
"Aku tahu." Balas Sehun, keduanya keluar dari toilet bersama dan berjalan pelan menyusuri lorong kelas.
Kyungsoo mengetuk pelan pintu kelas. "Masuk." Suara lembut seorang perempuan dewasa menyambut kedatangan keduanya.
"Sehun apa semuanya baik-baik saja?"
"Ya, Jessica saem." Balas Sehun sambil sedikit menundukkan tubuhnya. Ia berjalan cepat menuju bangkunya yang tepat berada di samping kiri bangku Kyungsoo.
"Sehun." Perhatian Sehun yang tadi berada pada buku matematikanya terpecah saat Taemin yang duduk di belakangnya memanggil dirinya. "Kau tahu, Luhan hyung bertanya padaku banyak hal tentangmu."
"Bertanya apa?"
"Tempat tinggal dan nomor ponselmu."
"Kau memberinya?"
"Kau pikir aku bisa menolak senior?"
"Terserahlah."
"Bukan hanya Luhan hyung tapi adik Jessica saem juga, Krystal."
"Krystal?"
"Oh Sehun dan Lee Taemin, kalian berdua murid cerdas tapi Ibu tidak akan tebang pilih untuk memberi hukuman." Jessica memberi peringatan.
"Maaf." Ucap Sehun dan Taemin bersamaan, Sehun lantas meneggakkan tubuhnya kembali sedangkan Taemin berusaha keras untuk tidak memberitahukan semuanya kepada Sehun.
Informasi dari Taemin membuat Sehun kehilangan konsentrasinya, ia mulai berpikir untuk apa dua seniornya itu mencari tahu tempat tinggal serta nomor telponnya. Sehun merasakan kemeja bagian belakangnya ditarik pelan, Sehun menoleh cepat ke belakang dan Taemin mengoperkan secarik kertas.
Kau tahu Luhan hyung dan Krystal Jung model, jangan sampai kalian bekerjasama, berpose mesra, jangan sampai Jongin hyung tercintamu cemburu.
Taemin benar-benar menyebalkan, dan jangan lupakan emoticon yang dia gunakan berupa wajah dengan lidah terjulur. Sehun meremas kertas kecil itu kemudian melesakkan sobekan kertas di bawah laci meja. "Aku setia dengan Jongin hyung terserah mereka mau melakukan apa," gerutu Sehun pelan.
.
.
.
Sehun menarik ranselnya dengan kasar menyandangnya pada bahu kanan dengan tergesa bahkan sebelum bel tanda berakhirnya sekolah benar-benar berhenti. "Sehun." Taemin menarik tali ransel Sehun.
"Kita latihan malam ya pukul delapan bagaimana? Aku ada urusan."
"Apa?"
"Ke suatu tempat dan pemotretan tapi aku janji sudah selesai pukul delapan malam, aku langsung ke rumahmu."
Taemin mengerutkan kening, ia lantas menarik lengan kanan Sehun dan memojokkan Sehun ke tempat yang aman tak terlihat oleh siapapun di samping deretan loker. "Kau merahasiakan sesuatu dariku, dari yang lain, dari sahabat-sahabatmu?"
Sehun menggeleng pelan, ia menundukkan kepalanya dan berbisik di telinga kiri Taemin. "Aku harus bekerja untuk bayiku dan pergi mengantarkan Jongin hyung periksa." Sehun berbisik sangat pelan namun Taemin mendengarnya dengan jelas.
Taemin menarik tubuhnya, mendongak menatap kedua mata tajam Sehun dengan tatapan terkejut. "Wah…," gumamnya. "Aku akan jadi paman di usia muda. Itu hebat sekali." Sambung Taemin kemudian tersenyum lebar. "Baiklah kau bisa pergi tapi datanglah pukul delapan malam jangan terlambat atau aku akan mengutukmu."
Sehun menggeleng cepat, ia takut dengan kutukan Taemin yang sering mengatakan siapapun yang mengingkari janji dengannya akan sakit perut alias diare dan itu berhasil. "Tidak! Tidak! Jangan mengutukku aku akan datang pukul delapan malam tepat, bahkan lebih cepat. Tapi jika aku telat tolong kutuk hal lain jangan sakit perut."
"Ah ketampananmu hilang, bagaimana?"
"Kurasa itu terlalu kejam."
"Lalu apa?"
"Aku menemukan uang milyaran Won."
"Itu bukan kutukan bodoh!" Taemin berteriak kesal dan hampir mendaratkan pukulannya pada kepala Sehun namun Sehun lebih cepat menghindar.
"Aku pasti datang! Aku pergi dulu ya!" Pekik Sehun disela kegiatan menyelamatkan dirinya dari pukulan Taemin yang lumayan sakit, lebih sakit dibanding Jongin.
Hal pertama di dalam pikiran Sehun adalah pergi ke kantor Jongin menemui Jongin, mengobrol, kemudian mengantar Jongin periksa, pemotretan karena dirinya harus bekerja sekarang, dan masalah Taemin ada di urutan terakhir. Sungguh, Sehun akan meminta maaf kepada Taemin disaat yang tepat.
.
.
.
Jongin sudah menyelesaikan hampir seluruh pekerjaannya, ia istirahat dan memakan bekal yang dibawa dari rumah. Baiklah, ini sedikit menyebalkan karena dirinya harus membawa bekal dari rumah meski bekal itu sudah dia pesan bukan dimasak sendiri. Tetap saja merepotkan biasanya ia tak makan sebanyak ini.
"Jongin!"
Jongin hampir tersedak roti gandum melihat kedatangan Baekhyun yang heboh. Ia cepat-cepat meraih botol air minum yang diisi jus apel, meminum isinya dengan kalap. "Bisakah datang dengan tenang?!"
Baekhyun mendudukkan pantatnya ke atas kursi di hadapan Jongin, mengabaikan protes Jongin. "Kau tidak mengabariku, kau sengaja mengabaikan panggilanku, Minho bilang kau belum memberi kejelasan." Baekhyu mengucapkan semuanya dengan cepat.
"Apakah Minho harus mengatakan semuanya padamu Hyung?"
"Ya, kami sangat dekat seperti saudara kandung jadi dia selalu bercerita apapun." Baekhyun menatap wajah Jongin lekat-lekat.
"Aku belum memikirkan apa-apa."
"Kau bilang kau mencintai Minho jadi apa yang kau pikirkan Jongin!" Jengkel Baekhyun. "Dan sejak kapan kau membawa bekal sehat?!"
Jongin mengabaikan semua kicauan Baekhyun dan memilih untuk memuaskan perutnya. Baekhyun melipat kedua tangannya di depan dada sambil menyilangkan kakinya. "Aku tidak akan pergi sebelum kau membuka mulut Kim Jongin." Jongin hanya menaikkan sebelah alisnya dengan acuh. "Kenapa kau bersikap menyebalkan padaku Jongin."
"Aku tidak bersikap menyebalkan Baekhyun hyung, Hyung saja yang terlalu berlebihan memikirkan urusan sepele ini."
"Sepele? Kau katakan ini sepele Kim Jongin?!" Pekik Baekhyun histeris. "Ini menyangkut masa depanmu."
Jongin menggaruk pelipis kanannya. "Baekhyun hyung pikirkan saja tentang pernikahan hyung apa temanya, tanggal berapa, tahun berapa, ingin punya anak berapa, ya, hal-hal seperti itu."
"Kenapa kau tidak sadar jika aku mencemaskanmu Jongin."
"Aku akan mengatakannya jika sudah siap."
"Kapan itu? Kapan kau siap?!"
"Aku sendiri juga belum tahu."
"Hari ini." Kalimat Baekhyun membuat Jongin tak bisa mengucapkan kalimat balasan. "Minho akan datang ke sini dan kau katakan apa keputusanmu!"
"Jangan seperti itu Baekhyun hyung, inikan hidupku jangan mengaturku seperti itu." Jongin menelan ludahnya kasar, tatapan Baekhyun terlihat mengerikan. "Maaf Hyung bukan maksudku seperti itu." Baekhyun memutar tubuhnya cepat kemudian melangkah keluar. "Salah lagi," gerutu Jongin menatap kepergian Baekhyun dengan tatapan sebal bercampur penyesalan. "Tapi jika Baekhyun hyung menghubungi Minho bagaimana?!" Tiba-tiba Jongin panik dan bergegas pergi, keluar dari kantor.
Jongin melihat Baekhyun menuju ruangan Chanyeol. "Aduh bagaimana ya, mengganggu atau tidak tapi kalau Baek hyung menghubungi Minho bisa kacau." Jongin menggaruk tengkuknya berulang kali, mungkin ujung-ujung kukunya sudah menggores kulit tengkuknya sekarang. "Ah aku tahu." Jongin langsung menghubungi Chanyeol meski jarak ruangan Chanyeol hanya beberapa langkah dari tempatnya berdiri sekarang.
"Halo Jongin." Pada nada sambung kedua Chanyeol menjawab panggilan Jongin.
"Hyung tolong cegah Baekhyun hyung menghubungi Minho hyung."
"Kau tahu sendiri aku tidak bisa melakukan apa-apa Jongin."
"Ya! Pilih aku atau Baekhyun hyung!" Jongin berteriak keras tak peduli dengan tatapan para stafnya.
BRAK! Pintu ruangan Chanyeol terbuka dengan kasar. "Jongin apa maksudmu dengan memilih?!" Baekhyun berteriak keras, Jongin memutar tubuhnya cepat dan melarikan diri ke dalam ruangan kerjanya. Tak lupa mengunci pintu.
"Sungguh mengerikan," bisik Jongin dengan punggung menempel pada daun pintu ruangannya.
"Jongin keluar kau!" Jongin menjauh dari pintu ia tak ingin telinganya terganggu akibat teriakkan Baekhyun. Mengabaikan teriakkan penuh amarah Baekhyun, kini perhatian Jongin tertuju pada layar ponselnya yang berkedip-kedip tanpa suara. Panggilan dari Sehun.
"Halo." Jawab Jongin setengah hati.
"Jongin hyung aku pulang lebih awal, aku akan ke kantormu."
"Apa?!" Demi apapun Jongin tak ingin Sehun dilihat oleh seorangpun yang ada di kantornya.
"Aku sudah ada di depan kantor Jongin hyung."
Napas Jongin tercekat, ia harus berpikir cepat sebelum si anak badung itu melangkah memasuki kantornya. "Aku lapar! Bagaimana jika kita makan bersama?! Tunggu aku di luar gedung."
"Ah baiklah kalau begitu…," Jongin mengakhiri panggilan Sehun tanpa menunggu si lawan bicara menyelesaikan kalimatnya. Jongin bergegas mematikan komputer menarik ransel dan membuka pintu yang tadinya dia kunci.
"Jongin!" Wajah marah Baekhyun menyambut Jongin.
"Maaf Baek hyung, itu bukan apa-apa aku tidak memiliki hubungan dengan Chanyeol hyung di luar hubungan kakak-adik." Jongin memasang wajah memelas. "Aku tidak enak badan Baek hyung."
"Ah benarkah?!" seketika raut kesal Baekhyun berganti dengan raut kecemasan, ia mencoba meraba dahi Jongin, namun Jongin melangkah mundur.
Jongin tersenyum tipis. "Aku pulang sekarang, sampaikan pada Chanyeol semua pekerjaanku sudah selesai dan aku kirimkan ke emailnya."
"Akan aku sampaikan."
"Terimakasih Baek hyung." Baekhyun mengangguk cepat tatapannya tertuju pada Jongin, Jongin cepat-cepat melarikan diri sebelum Baekhyun curiga dan bertanya banyak hal. Sebelum Baekhyun tahu jika dirinya sedang berbohong.
Jongin berjalan cepat menuju lantai dasar, kantornya hanya terdiri dari dua lantai. Bangunannya juga tidak besar lebih mirip rumah toko sebenarnya. Namun, seluruh staf menyebut tempat ini sebagai kantor. "Sehun." Sehun yang tadinya sedang berdiri menyandarkan dirinya pada dinding langsung menegakkan tubuhnya, menatap Jongin dengan tersenyum.
"Jongin hyung ingin makan apa?"
"Kau pasti menyuruhku makan makanan yang sehat." Sehun mengangguk cepat. "Sebenarnya aku belum terlalu lapar." Jongin melihat alis Sehun bertaut. "Bagaimana jika kita pergi ke klinik sekarang, baru pergi membeli makanan setelahnya?"
"Hmmm, kurasa ide bagus. Kita cari taksi dulu."
"Ya." Jongin menjawab singkat sambil sesekali melihat ke belakang memastikan tidak ada seorangpun yang melihatnya sedang berbicara dengan Sehun.
"Jongin hyung."
"Hmm?"
"Satu minggu lagi aku ikut kompetisi menari, apa Jongin hyung bisa datang?"
"Hari apa?"
"Minggu, Jongin hyung seharusnya libur kan?"
"Aku belum tahu." Balas Jongin mengabaikan tatapan kecewa dari Sehun.
"Jongin hyung…," Sehun tak bisa melanjutkan kalimatnya saat Jongin menghentikan taksi. Sehun terpaksa menelan kalimat yang ingin ia ucapkan. Di dalam taksi Jongin memakai earphone, sengaja agar Sehun tak mencoba untuk berbicara dengan dirinya. Sehun melirik Jongin sebal namun ia tak mengatakan apa-apa dan lebih memilih untuk memperhatikan jalanan yang mereka lewati.
Sesampainya di depan bangunan rumah sakit khusus ibu dan anak milik kakek Sehun, Jongin keluar dari taksi terlebih dahulu, mengacuhkan kehadiran Sehun. "Aku sudah membuat janji dengan Kakek." Ucap Sehun, Jongin yang sudah menurunkan volume musiknya bisa mendengar ucapan Sehun cukup jelas namun Jongin hanya mengangguk pelan.
Sehun bergegas menjajari Jongin mengabaikan tatapan tidak setuju dari Jongin, mereka memasuki ruangan yang sama seperti dulu. Ruangan yang rencanannya Jongin gunakan untuk menggugurkan janinnya. Jongin menelan ludahnya kasar, ia tidak terlalu suka dengan kenangan buruk di masa lalu. "Ayo." Ucap Sehun sambil mendorong pintu ruangan ke dalam.
"Sehun, Jongin." Hyunseong menyambut keduanya dengan ramah. Jongin mencoba tersenyum sedangkan Sehun menampilkan senyuman lebar terbaiknya. "Kau sudah siap untuk pemeriksaan?" Jongin mengangguk pelan.
Sehun berniat untuk duduk ketika Jongin mencegahnya. "Bisakah kau keluar Sehun? Aku ingin melakukannya seorang diri." Sehun mengangguk lemah tidak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Dan Hyunseong hanya bisa menatap penuh iba punggung cucunya.
Sehun duduk di depan ruangan. Ia menarik ransel dan mengambil botol air minuman isotonik. Sudah seminggu ini dirinya hampir tak bisa makan sama sekali karena semua jenis makanan yang ia makan akan dimuntahkan kembali. Sehun tak memberitahu siapapun ia tak ingin merepotkan Kris dan membuat cemas kedua orangtuanya. Sehun yakin semua yang ia alami akibat kehamilan Jongin, jadi Sehun dengan senang hati menerima penderitaan kecil ini.
Berulang kali Sehun melirik ponselnya, kemudian melirik pintu ruangan tempat Jongin berada. Jantungnya berdetak cepat, ia ingin tahu namun sayang Jongin melarangnya untuk tetap berada di dalam ruangan. Pintu ruangan terbuka setelah satu jam Sehun menunggu. "Apa hasilnya Jongin hyung?"
"Semuanya baik-baik saja, kakekmu meminta aku datang akhir bulan ini, berarti dua minggu lagi."
"Apa Jongin hyung juga menceritakan soal kondisi tubuh Hyung yang lemah dengan udara dingin?"
"Ya."
"Lalu saran Kakek?"
"Aku harus makan makanan yang sehat, memperbanyak konsumsi buah dan air putih, lalu tidak lagi mengkonsumi pil vitamin."
"Hmmm." Sehun menganggukkan kepalanya mengerti.
"Apa kita akan pergi makan?" Kening Sehun langsung berkerut, sejujurnya saat Jongin membatalkan rencana untuk makan bersama Sehun meras sangat lega.
"Maaf Jongin hyung, aku ada pemotretan Jongin hyung tidak apa-apa kan makan seorang diri?" Sehun bertanya dengan menyembunyikan setengah kebenarannya.
"Baiklah, lalu kau akan langsung pergi ke tempat pemotretanmu?"
"Aku akan pulang untuk berganti pakaian."
"Aku juga pulang, kita bisa pergi bersama." Jongin yakin di hari biasa ia tak akan menawarkan diri dengan ramah kepada Sehun, kali ini ia tetap menyalahkan kehamilannya yang membuat dirinya merasa nyaman berada dekat dengan Sehun.
"Tentu." Sehun membalas singkat namun senyuman di wajahnya terlihat begitu lebar. Jongin harus memalingkan wajah agar dirinya tak tersenyum juga. "Aku bahagia semuanya baik-baik saja." Jongin memilih bungkam, keduanya berjalan bersama meninggalkan rumah sakit ibu dan anak. "Jongin hyung apa sebaiknya aku mulai mencari nama untuk bayi kita?" Sehun melempar tatapan antusias kepada Jongin.
"Terserah kau saja." Keduanya berdiri di trotoar menunggu taksi datang, taksi yang sudah Sehun pesan. Jongi memperhatikan Sehun baik-baik. "Kau baik-baik saja?"
"Tentu saja Jongin hyung, ada apa?"
"Kau—terlihat pucat, maksudku kulitmu memang sangat putih tapi sekarang terlihat berbeda."
"Aku baik-baik saja kurasa itu hanya pengaruh dari sinar matahari, karena itu kulitku tampak berbeda."
"Ya, kurasa karena itu." Balas Jongin memilih untuk percaya. "Setelah pemotretan kau langsung pulang?"
"Tidak, aku harus berlatih dengan Taemin, dia salah satu sahabatku kami akan mengikuti kompetisi menari bersama."
"Ah begitu, jangan terlalu lelah jaga kesehatanmu baik-baik kau berada di tingkat akhir bukan?"
"Ya." Sehun menjawab singkat ia terlalu terpesona dengan perhatian Jongin yang tak biasa terhadap dirinya.
"Taksi datang." Kalimat Jongin menghancurkan momen indah yang ingin Sehun nikmati lebih lama, momen saat harapan agar Jongin memperhatikannya terwujud meski hanya sebentar.
"Jongin hyung tidak memakai earphone untuk mengacuhkan aku kan?"
"Tidak, aku sedang mempertimbangkan musik yang cocok untuk game terbaru yang akan kami keluarkan."
"Ah rupanya itu!" Sehun memekik bahagia. "Aku membaca semua komik dari perusahaan Jongin hyung, aku juga memainkan semua game yang perusahaan Hyung keluarkan."
"Te—terimakasih." Jongin membalas canggung terlalu terkejut dengan reaksi Sehun, atau lebih tepatnya merasa takut sebab ia merasa Sehun mengetahui dirinya lebih baik dibandingkan dirinya sendiri. "Sehun!" Jongin memekik pelan kala Sehun memeluk pinggangnya menarik tubuhnya mendekat. Tubuh Jongin benar-benar tegang sekarang.
"Masuk saja Paman!" pekik Sehun kala taksi menurunkan kecepatan di depan gerbang masuk perumahan.
"Tapi ada plakat larangan?" si sopir taksi menoleh singkat ke bangku belakang dengan raut wajah bingung.
"Tidak apa-apa masuk saja. Aku yang bertanggungjawab penuh jika terjadi sesuatu." Si sopir taksi mengangguk cepat kemudian menjalankan taksi melewati gerbang perumahan.
Kedua mata Jongin membola kala melihat mobil siapa yang terparkir di depan pagar rumahnya ia bergegas keluar mengambil kesempatan saat Sehun membayar ongkos taksi. "Jongin." Sapa Minho diiringi senyuman lebar.
"Halo, Minho hyung."
"Kau darimana?"
"Aku…," Jongin tidak tahu harus memberi jawaban apa.
"Periksa kehamilan." Sehun menjawab tegas sambil memeluk pinggang Jongin erat.
TBC
Terimakasih untuk para pembaca sekalian, terimakasih kepada saya sayya, Wiwitdyas1, NishiMala, Agin, alv, hunhun, htyoung, kimkai88, ariska, ade park, Hun94Kai88, miyuk, cheryy, elferani, Nonu, thal, Aloha, 1234, typo's hickeys, KJ, cute, elshii, Addelia Yoma823, yuvikimm97, elidamia98, 1004baekie, raphlesia1, tchandra07tc, MooN48, Kamong Jjong, ParkJitta, VampireDPS, jungdongah, geash, vipbigbang74, Kim Jongin Kai, fitrysukma39, saniathbbbv, Anna-Love 17Carats, jjong86, KimRyeona19, Athiyyah417, ucinaze, Veraseptian, askasufa, Wendyblu, Devia494, RHLH17, cokelat, Baegy0408, chanzhr, park28sooyah, milkylove0000170000, WyfZooey, exoldkspcybxcs1, ulfah cuittybeams , Waniey318, xx1031, ohkim9488, sayakanoicinoe, tokisaki, sejin kimkai, novisaputri09. Terimakasih untuk review kalian sampai jumpa di chapter berikutnya.
