-3-
tryss proudly present
©2016
.
Aphrodite's Son
.
Jeon Jungkook X Kim Taehyung
(and others BTS pairing)
.
Summary
Jeon Jungkook menyembunyikan fakta penting dari kekasihnya—Kim Taehyung. Dan Taehyung sendiri tidak pernah mengerti kenapa Jungkook bisa memikatnya hanya karena sebuah tatapan singkat nan polosnya. Kemudian sebuah fakta memukul Taehyung kuat, bahwa Jungkook berbeda dengannya.
.
WARNING!
Typo(s). Bromance.
Story
Hari semakin malam dan Taehyung masih berkutat dengan ponselnya didepan televisi. Tangan kanannya memegang sticky note dari Jungkook dengan erat. Matanya merah dan berkaca-kaca dengan daerah yang menghitam dibawah matanya, wajahnya pucat karena seharian belum mendapatkan asupan gizi apapun kecuali makan di Rumah Sakit tadi pagi. Sejujurnya, ia lapar, tapi ketakutan akan kehilangan Jungkook membuatnya mengesampingkan rasa laparnya.
Sudah lebih dari limapuluh kali, Taehyung berusaha untuk menghubungi ataupun mengirim pesan, tapi tetap saja tidak ada jawaban dari pihak seberang. Pesannya terkirim dengan baik, hanya saja saat ia berusaha untuk menelpon, operator wanitamengesalkan—menurut Taehyung—yang selalu menjawab panggilannya.
Tadi sore, ia berniat mendatangi rumah Jungkook, sialnya ditengah jalan, kepalanya kembali berdenyut kuat, jadi ia memutuskan untuk kembali saja daripada ambruk dijalan dan kembali menginap di Rumah Sakit.
Taehyung berjingat kaget ketika ponselnya bordering singkat bersamaan dengan layarnya yang menyala karena pop-up pesan. Harapannya sudah sangat besar. Mungkin saja Jungkook melupakan ponselnya disuatu tempat dan menghubungi Taehyung setelah melihat banyak pesan dan panggilan tak terjawab.
Namun, itu hanya pesan dari ibunya yang bilang kalau sebentar lagi sampai rumah.
Bukan waktunya lagi untuk mencurigai Jungkook sekalipun kekasihnya itu suka sekali datang dan pergi seenak jidat. Yang jelas, Taehyung akan tetap mencintainya. Hanya saja, semuanya terlampau aneh untuk ia terima.
Hal pertama yang Taehyung curigai adalah tangisan Jungkook saat pertama kali ia menyatakan cinta.
Kedua, Jungkook yang babak belur setelah hilang seminggu.
Ketiga, senyum dan tawa palsu Jungkook.
Bohong jika Taehyung tidak tahu kekasihnya itu menyembunyikan sesuatu. Berkat kejeliannya dalam menganalisa foto potret, tidak sulit untuk membaca ekspresi seseorang. Jangan kira kemampuan fotografinya tidak berguna selama ini, Taehyung saja yang malas cari objek. Saking malasnya, sampai ia tidak punya satupun foto Jungkook.
Parah, bukan?
Hanya satu kesempatannya untuk bertemu Jungkook setelah semua usahanya gagal yaitu berangkat sekolah. Yang jelas, malam ini ia akan minta dimasakkan sesuatu dan segera tidur. Besok, Jungkook harus ditemukan.
:
Pagi-pagi sekali, pemuda bersurai dark-brown itu bangun setelah tujuh jam tidur kurang nyenyak. Pikirannya masih kalut akan hilangnya sang kekasih secara tiba-tiba dan hanya meninggalkan sebuah sticky note. Ia melirik jam wekernya, pukul setengah enam lewat lima menit. Masih ada waktu sekitar dua jam lagi untuk berangkat sekolah tapi ia sudah bangkit dari ranjangnya dan melangkah pelan kearah kamar mandi.
Semuanya dijalani Taehyung seperti biasa. Mandi, memakai seragam, sarapan, berangkat sekolah naik bus, kemudian duduk di bangkunya, menunggu Jungkook untuk datang.
"Wow, kau barangkat pagi?" pekikan Jimin menggema dalam kelas yang baru diisi beberapa orang, termasuk ia dan Jimin. Pemuda bantet dengan kemampuan dance diatas rata-rata itu meletakkan bokongnya di kursi milik Jungkook.
Taehyung menanggapinya malas, tapi ia juga tidak kuat untuk tidak menjawab ocehan Jimin. Jiminkan sahabat sejatinya, masa diacuhkan begitu saja.
"Jim, Jungkook sering pindah-pindah sekolah, ya?"
Jimin menatapnya aneh sebelum menjawab.
"Kudengar begitu. Sebelum kami satu sekolah, dia sudah pindah tiga kali. Jungkook juga tidak dekat dengan siapa-siapa, jadi tidak ada yang berani untuk tanya-tanya. Aku juga hanya bertemu dia di klub menari, beruntung kalau papasan di luar klub. Dia suka mendekam di kelas dan cukup pendiam." Jimin melirik Taehyung sesaat,"Yah, hanya itu yang kutahu."
"Lalu, apa dia juga sering absen?"
Jimin memicingkan matanya, menerawang sesuatu di hadapannya,"Tidak tahu. Tapi setiap klub mengadakan pertemuan dadakan, Jungkook selalu hadir. Mungkin dia masuk tiap hari. Mungkin."
Taehyung menghela nafasnya keras, sejak tadi ia tidak menemukan suatu hal yang dapat membahagiakannya,"Menurutmu, apa aku pantas jadi pacar Jungkook? Dia bahkan tidak memberitahuku rahasia-rahasianya dan aku cukup sulit untuk mengerti dia."
"Kau tidak perlu sedih seperti itu, Jungkook pasti punya alasan. Dia bahkan tidak berkomentar apapun tentangmu, itu tandanya dia menerimamu apa adanya. Maka dari itu, kau juga harus begitu."
Dan sampai bel pulang sekolah berbunyi, bangku Jungkook tetap kosong.
:
Hoseok sibuk dengan lokernya ketika Namjoon datang dan merangkulnya tiba-tiba. Pemuda yang lebih tua beberapa bulan itu berjengit kaget namun segera tersenyum setelah mengetahui siapa pelaku yang merangkulnya tiba-tiba.
"Kau mengagetiku." Ujarnya kesal.
"Maaf." Kemudian mendaratkan kecupan di pipi Hoseok,"Pulang sekolah ada waktu?"
"Ada."
Namjoon melepaskan rangkulan pada bahu kekasihnya kemudian bersandar di loker orang lain,"Taehyung ingin pergi ke rumah Jungkook."
Hoseok menutup pintu lokernya kemudian menatap Namjoong bingung,"Kenapa harus aku?"
"Karena kau pacarku." Jawab Namjoon.
Baiklah, mungkin kalian pikir Hoseok akan merona. Hell, dia bukan uke feminin yang suka merona hanya karena gombalan cheesy Kim Namjoon. Memang Hoseok merasa senang, tapi tidak sesenang ketika ia memenangkan semangkuk besar jajangmyeon di kedai langganannya.
"Terserah." kemudian ia berlalu ke kelasnya.
Namjoon tersenyum lebar, membiarkan kekasihnya itu untuk melangkah sendirian. Merekakan sudah besar, kenapa harus diantar sana sini kalau bisa sendiri? Setidaknya itulah yang ada di otak manusia ber-IQ 148 seperti Kim Namjoon.
:
"Jadi ini rumah Jungkook?"
Hoseok menatap ketiga pemuda yang ada di kedua sisinya bergantian dengan raut wajah bertanya-tanya. Taehyung hanya menatapnya datar sebelum mengangguk pelan. Sekalipun hanya sepersekian detik Taehyung dan Hoseok saling menatap, pemuda kelahiran tahun sembilanpuluh lima itu tahu Hoseok sedang ketakutan. Jadi, dari mana Taehyung tahu? Matanya ataukah bibirnya yang bergetar?
Keduanya.
Jimin menyenggol pelan tubuhnya dengan siku,"Untuk apa membawa kami?"
"Aku hampir pingsan kemarin."
Taehyung mendekat ke pagar rumah Jungkook, dua senti lagi jarinya akan menyentuh bel sebelum Hoseok menghentikannya dengan tidak elite.
"Jangan!"
Pekikan Hoseok diiringi Namjoon dan Jimin yang terperanjat kaget. Bagaimana dengan Taehyung? Ia masih dalam posisinya.
Taehyung menoleh,"Kenapa?"
Matahari semakin condong ke barat dan burung-burung mulai pulang ke sarangnya masing-masing. Udara semakin dingin ditambah tubuh tanpa mantel adalah keadaan yang buruk. Sangat buruk. Sungguh, Taehyung hanya berharap pagar akan terbuka sendiri karena keributan mereka dan menampakkan Jeon Jungkook dalam keadaan sehat. Hanya itu harapannya, doanya, keinginannya.
Tapi kenapa?
Melihat Hoseok ketakutan setengah mati dengan bibir bergetar dan mencegahnya menekan bel rumah Jungkook adalah sebuah pertanda buruk. Ia tidak ingin tahu, bahkan sekedar membayangkanpun tidak mau, tapi ia harus tahu jawaban atas kecurigaannya pada Hoseok.
Kenapa Hoseok ketakutan?
Kenapa Hoseok mencegahnya?
Dan, kenapa Hoseok mau datang bersama mereka?
Demi Tuhan, Hoseok bahkan belum kenal langsung dengan Jungkook. Mungkin Namjoon pernah menceritakannya tapi tetap saja tidak logis ketakutan pada hal yang bahkan belum sempat dipastikan. Seadainya mereka pernah bertemu, setidaknya sekali saja. Hoseok punya alasan kuat untuk takut. Tapi dia hanyalah pacar Namjoon yang tidak sengaja ikut ke rumah Jungkook.
"Rumahnya gelap." Hoseok asal menjawab,"Dia pasti tidak dirumah. Ayo pulang, sekarang sudah malam."
"Iya, lebih baik kita pulang saja."
Dan kalimat Namjoon menjadi panutan seluruh umat.
:
Hari minggu yang lambat bagi seorang Kim Taehyung.
Ia masih bergelung di dalam selimutnya walaupun jam wekernya sudah menunjukkan pukul sepuluh sebih seperempat. Bukannya ia malas. Ia sudah mencoba untuk izin keluar pada sang Ibu, namun hasilnya nihil. Jadi Taehyung lebih memilih untuk kembali ke kamar, bergulung di dalam selimut dan tidur.
Omong-omong, Taehyung rindu Jungkook.
Sejak kemarin ia tidak bisa tidur nyenyak dan itu menyiksanya.
Ibuku adalah Aphrodite.
Ibuku adalah Aphrodite.
Ibuku adalah Aphrodite. Pengakuan Jungkook dua hari kemarin kembali terputar, menggema dalam kepalanya, menggelitik isi otaknya agresif, membisikkan seluruh dugaan yang diinginkannya.
Apa Jungkook marah karena ia tidak percaya?
Demi Tuhan, ia tidak bermaksud untuk menyakiti Jungkook. Lagian orang gila mana yang bisa mempunyai anak dengan Dewa ataupun Dewi? Ia memang pernah mendengarnya, tapi memang ada sungguhan?
Pintu kamarnya terketuk dari luar, diikuti suara ibunya,"Nak, temanmu berkunjung."
"Siapa?"
"Jung Hoseok."
Oh, sungguh waktu yang sangat tepat.
:
Taehyung mengajak Hoseok ke halaman rumahnya, menjauhkan diri dari ibunya yang mungkin saja masuk kamar tiba-tiba dan memotong obrolan mereka. Sebenarnya bukan obrolan, lebih menjorok sebagai mengintrogasi Jung Hoseok. Ia harus mendapatkan jawaban dari Hoseok. Dan ketika Hoseok datang kerumahnya, kecurigaannya pada Hoseok semakin menggunung.
Hoseok menghela nafasnya kasar sebelum duduk di sebuah bangku batu yang ada di halaman Taehyung dengan wajah muram. Entah ia terlalu banyak pikiran atau bagaimana, yang jelas Taehyung harus percaya dengan semua ucapannya.
"Kukira Jungkook sudah memberitahumu."
Taehyung menatapnya datar. Jika Hoseok yang datang dengan cuma-cuma, maka hak Taehyung sekarang adalah mendengarkan dan bicara seperlunya; tidak boleh bertanya ataupun menyela.
Well, sebenarnya ia rada tidak mengerti Hoseok ingin bilang apa,"Bisa hyung jelaskan? Aku agak bingung."
"Dia keturunan asli Aphrodite, lahir secara langsung dari rahim sang Dewi Cinta."
Oke, Taehyung cukup sulit untuk mencernanya. Dan Hoseok cukup tahu apa arti dari tatapan blank adik kelasnya ini.
"Kupikir dia bohong." Cicit Taehyung.
Hoseok mendengus geli,"Bohong? Setelah kalian saling mencintai? Mati saja kau!" kemudian menggelengkan kepalanya pelan, menggigit bibir bawahnya untuk tidak tertawa. Btw, menahan tawa itu sulit, bung. Coba saja.
Hoseok melanjutkan,"Dengar. Mungkin kau pikir Jungkook selama ini datang dan pergi seenaknya karena dia bosan padamu atau marah padamu, tapi jawabannya tidak. Jungkook mencoba melindungimu. Bodohnya, dia tidak tahu ramalannya sendiri."
Hoseok diam sejenak untuk mengambil nafas sekalian membiarkan Taehyung mencerna kalimatnya.
"Keturunan Aphrodite sudah diramalkan sejak ratusan tahun lalu, bahwa kebangkitan Kronos akan semakin cepat datang apabila keturunan Aphrodite jatuh cinta pada manusia. Tidak ada yang tahu bagaimana cara kerjanya, tapi yang jelas, jika kau mau menunggu Jungkook untuk beberapa tahun kedepan, kau akan bahagia.
Aku dapat laporan dari Jimin kalau kau habis begituan dengan Jungkook, dan itu sudah sepertiga jalan. Kalau sampai Jungkook hamil dan melahirkan anakmu—woah, aku mau mati saja hari itu. Aku sangat tidak ingin berhadapan dengan Kronos.
Hidup anak-anak Aphrodite sudah terlalu berat. Jangan kau buat Jungkook menyesal sudah dilahirkan oleh ibunya."
Hoseok melirik jam tangannya kemudian tersenyum masam,"Sepertinya sampai disini saja. Aku pulang."
Pacar Namjoon itu menghentikan langkahnya ketika Taehyung terus memasang wajah blank, ia berujar,"Kuberitahu satu rahasia. Aku anak dewi Kebijaksanaan, Athena."
Kemudian Hoseok lenyap, termakan cahaya kuning menyilaukan bersamaan udara yang bercampur dengan aroma vanilla.
.
.
TBC
A/N
Yuhuu, adakah yang kangen sama aku? /gaada/
Adakah yang nungguin ini ff update? /gaada/
Duh, maafkan author-gila yang mulai menyeleweng dari plot awal di chap ini. Ceritanya aku ganti alur, maapkeun, yahh. Abisnya aku suka begitu sih, nanti kalo kerasa ga cocok sama plot awal, tiba-tiba ganti sendiri.
oh iya, mulai besok, panggil 'tryss' aja ya. Kan aneh kalo manggilnya thor/author.
Hm, saya mau mengucapkan terimakasih kepada para reader (yang lama ataupun baru) yang sudah mau repot-repot review dan menggunakan kuota yang ada untuk baca ff saya ini. Begitu juga kepada para pemilik akun yang menekan tombol follow dan favorite. Sayang kalian.
Dibawah ini ada balasan buat yang review di chap6. Silahkan cari nama masing-masing.
cookiesnyamphi : hmm, percaya ngga ya? Rahasia.
adelialyssa : jadi makhluk darah campuran itu demigod. Makasih udah review yahh.
Hantu Just In : maklum, aku juga masih polos /eh?/ jadi NCnya ga usah yang hot-hot. kamu reviewnya ambigu, kkk.
Vookie : hmm, sudah dipastikan kalo ff ini happy end. Tenang saja.
kookie97 : demi celana jungkook yg dipinjem rapmon ampe bolong. Mungkin tuhan udah takdirin kamu ga bisa tidur terus nemu ini ff laknat ini, kkk. Maklum, aku kan belum pengalaman, ga usah hot-hot dulu.
diannurmayasari15 : karena—rahasia!
Linkz account : wah kamu menanyakan isi next chap. Bahaya ini, kkk.
peachpetals : ramalannya yang muncul di tv rumah tae. Soalnya aku pengen sesuatu yang ga mainstream, jadi dibuat begitu, kkkk.
Yoonginugget : seandainya aku misahin mereka, mereka nanti bakal bareng lagi kok.
definn : wah, NCnya dibilang hot coba. Mungkin karena kita masih polos—dalam tanda kutip.
Anunya Bangtan : sepertinya kookie memang menghilang /ketawa-evil/
JeonJeonzKim : ahahhaa, tae mah sukanya gitu, nyiksa kookie. Mungkin karena aku masih polos, jadi gak hot, ya? Makasih semangatnya, kkkk. /peluk JeonJeonzKim/
kyuminrawr : yah, begitulah. Tapi akhirnya nanti beda kok, ditunggu saja.
hsandra : semua jawaban yang kamu tanyain, jawabannya adalah RAHASIA, kkkk.
Strawbaekberry : maafkan aku, kalo ceritanya mulus, nanti kalian gamau baca, hehehh. Nanti vkook pasti bersatu kok. Tenang saja.
octakyuu : kan emg dari awal kookie sukanya kayak jelangkung.
blueewild951230 : iyap teman, ini sudah dilanjut.
gbrlchnerklhn : hmm, jadi kamu cuma nunggu adegan itu yah? Hayoo, ngaku, kkkk.
YM424 : makasih udah bilang NCnya hot, semoga puas, kkkk. /apanyayangpuas?/
rizqiqaharini : elah, tae mah dari dulu emang nakal. Sepertinya dia cuma nganggep kookie bercanda deh.
maknaehehso : sepertinya kookie memang udah ga polos dari dulu deh, kkk. Gak ilang selamanya kok, tenang saja.
Rookie : iya gpp kok. Wah, bilangin makasih sama temenmu yah. Seperti yang sudah dijelaskan, kookie memang anak mamih Aphrodite.
syunan : hmm, sepertinya permintaan kamu tergantung plotnya yah. Nanti kalo ada waktu yg pas, mungkin bisa aku tambahin. Tapi jangan terlalu berharap sama aku, soalnya aku suka php /eh?/
KimTaeChim95 : oke, chingu. Ini udah dilanjut.
utsukushii02 : hm, mungkin kookie lelah, makanya tae ditinggal bentar dulu.
Pokoknya aku banyak berterimakasih sama kalian semua. Bahkan sama reader yg sepertinya lupa untuk review, follow or favorite. Yang jelas aku menunggu jejak kalian, kkkk. Semoga kalian suka sama chap ini dan mengharapkan chap selanjutnya. Jangan bosen-bosen sama aku yah?
XOXO, tryss.
