BAKTERI CINTA KONOHA
Cklek.
Suara pintu terbuka perlahan membuat Hinata sedikit memundurkan tubuhnya. Saat pintu terbuka lebar, seorang pemuda jabrik tersenyum hangat padanya.
"Ohayou, Hinata."
"Ohayou, Naruto-kun."
Sang mentari pagi mengintip malu-malu di ufuk timur menatap dua sosok manusia yang memberikan senyuman hangat satu sama lain.
"Masuklah."
Agresi Hinata, Hinata's Kiss! – Bagian 2 -
Hinata mengekor di belakang Naruto yang menuntunnya secara tidak langsung menuju ruang tamu Naruto.
"Hmm," Naruto menggaruk-garuk belakang kepala jabriknya kikuk. Seingatnya ini adalah pertama kali Hinata berkunjung ke rumahnya.
"Aku akan mengganti baju tidurku sebentar, Hinata." Pamit Naruto yang dijawab anggukan kepala pelan oleh Hinata yang tersipu.
Naruto segera melangkahkan kaki jenjangnya meninggalkan Hinata menuju kamar pribadinya yang sudah seperti kapal pecah saja. Naruto akhirnya memutuskan untuk membersihkan kilat kamarnya, siapa tahu Hinata secara tak sengaja tersesat di kamarnya.
Hinata berdiri dalam diam karena Naruto lupa mempersilahkan Hinata duduk. Mata bulannya kini mulai menyusuri pemandangan ruang tamu Naruto yang jauh lebih sederhana jika dibandingkan dengan ruang tamu keluarganya. Ruangan yang berwarna orange ini terlihat begitu sepi penghuni, Hinata berfikir pasti karena satu-satunya penghuni adalah Uzumaki Naruto.
Tangan Hinata saling menggenggam erat di depan dada. Karena kegagalan agresinya kemarin, Sakura dan Ino memaksa Hinata untuk mulai bermain kasar. Sakura berhasil membuat sendiri obat tidur dimana bahkan seorang Jinchuuriki tak akan lolos dari efeknya. Jadi Hinata tak akan merasa takut mencium Naruto dalam keadaan sadar, dan memperbesar kemungkinan berhasilnya agresi Hinata kali ini.
'Apa aku harus benar-benar melakukannya untuk sekedar mendapatkan kata cinta dari Naruto-kun?' Pikir Hinata ragu.
'Apa nanti aku akan benar-benar bahagia jika Naruto-kun tak sadar melakukannya?'
'Bagaimana jika dia marah setelah kesadarannya kembali?'
"Naruto…" Hinata menekan erat genggaman tangannya pada dadanya sendiri, berharap dapat menyingkirkan rasa bimbang yang bergejolak hebat di dalamnya. Wajah ayu Hinata ditundukkan sedikit dalam.
"Ya, Hinata?" Suara khas laki-laki kesukaannya tiba-tiba terdengar begitu jelas di belakang telinga Hinata.
Hinata berbalik cepat dan segera saja tersentak kaget saat wajahnya terasa dekat sekali dengan wajah Naruto yang sedikit direndahkan pemiliknya. Saking dekatnya jarak diantara mereka jika salah satu bergerak maju sedikit saja, bibir keduanya akan saling bersentuhan.
Keduanya saling bertatapan dalam diam, tak ada satu kata pun yang dikeluarkan bahkan untuk sekedar menghempaskan udara yang tertahan di dada mereka.
Blush!
Wajah Hinata tiba-tiba berubah merah padam. Matanya terasa berkunang-kunang.
"HUWAAAA!"
PLAK. BRUG.
"Ittaaaaiii!" Naruto mengelus-elus pipi berkumisnya yang tercetak jelas bekas telapak tangan merah Hinata. Hinata tersentak kaget. Bukan maksudnya menampar Naruto sampai jatuh terduduk seperti sekarang. Namun semua terjadi begitu cepat dan diluar kendali pikirannya.
"Sejak kapan kau hobi menampar orang, Hinata?!" Protes Naruto yang mengelus-elus pipi kirinya yang perih.
"Da-daijobu, Naruto-kun?" Tanya Hinata khawatir.
"Tentu saja tidak, ttebayou!" Jawab Naruto dengan nada kesal.
Ini kedua kalinya dia ditampar Hinata di tempat yang sama. Pipi kirinya. Kali pertama saat tengah berada dalam medan perang dunia ninja keempat. Dan kedua kalinya, sekarang Hinata memukulnya karena kaget dengan kehadiran Naruto yang tanpa perigatan lebih dulu. Jika Hinata pernah memukul dahi Naruto dengan dahinya sendiri sampai keduanya jatuh pingsan, kali ini korban tunggal adalah Naruto.
"I-itu karena Naruto-kun, mengagetkanku." Hinata coba membela diri.
"Lalu kenapa kau memanggil namaku, ttebayou?!" Protes Naruto tak terima.
"…" Hinata tak mungkin mengatakan apa yang sedang dipikirkannya pada Naruto dan membongkar semua rahasianya bersama ketiga teman kunoichinya.
'Benar kata Shikamaru, wanita itu menyeramkan.' Batin Naruto masih mengelus-elus pipi kirinya.
'Kenapa hari ini aku sial sekali, ttebayou!' Gerutu Naruto dalam hati.
"Gomen ne, Naruto-kun." Pinta Hinata penuh sesal.
.
.
"Apakah masih sakit, Naruto-kun?" Hinata duduk di samping Naruto yang masih saja mengelus pipinya walau cap tangan Hinata sudah tidak ada di sana lagi.
"Tentu saja, ttebayou!" Rajuk Naruto. Hinata menggigit bibir bawahnya berfikir apa Naruto hanya menggodanya atau bersungguh-sungguh, karena Sakura bilang Naruto suka sekali menggodanya.
Kryuuuuuk….
Bunyi perut keduanya sontak saja membuat wajah mereka merona karena malu. Malu ketahuan menahan lapar.
"Hahahahahaha," Tawa Naruto menggema keras sekali memenuhi ruang tamunya setelah terdiam untuk beberapa detik.
"Hihihihi," Hinata hanya tertawa geli yang tak berlebihan. Hey, ingat. Hinata seorang gadis yang anggun, jika dia tertawa seperti Naruto, jangan-jangan Naruto segera memberinya oodama rasengan karena curiga dirinya adalah sisa Zetsu Putih yang masih hidup.
"Kau lapar?" Tanya Naruto di sisa tawanya yang sudah merendah. Hinata mengangguk pelan.
"Ah, aku baru ingat. Bukankah kemarin malam kau bilang ingin memasak sarapan untukku, Hinata?" Tanya Naruto heran.
"I-iya, Naruto-kun." Jawab Hinata gugup seperti menutupi sesuatu.
"Tadi aku bangun kesiangan, karena aku takut kau menunggu lama aku segera pergi kemari tanpa membeli bahan masakan lebih dulu." Jelas Hinata.
'Haha, dia tidak tahu jika aku suka bangun kesiangan.' Naruto sweatdrop untuk dirinya sendiri dalam hati.
"Kalau begitu, mau makan di Ichiraku lagi?" Tawar Naruto. Hinata terdiam sesaat sebelum memilih menggelengkan kepala.
"Semalam kita sudah makan ramen, Naruto-kun." Hinata mencoba mengingatkan Naruto yang dalam pikiran Hinata lupa jika semalam pemuda jabrik itu sudah mengajaknya makan ramen.
'Ah, aku lupa dia pasti tidak biasa makan makanan tidak sehat, ttebayou.' Naruto merutuk dalam hati.
'Hey, kenapa ceritanya hampir mirip dengan mimpiku?' Pikir Naruto yang tiba-tiba ingat baris demi baris surat Hinata dalam mimpinya.
"Bolehkah aku memasak bahan makanan yang kau punya, Naruto-kun?" Tanya Hinata mengembalikan kesadaran Naruto.
"Eh?" Naruto memiringkan bibirnya, berfikir.
"Boleh sih, Hinata." Katanya kemudian.
"Tapi aku tidak tahu apa aku masih punya sesuatu yang bisa kau masak." Jelas Naruto.
"Kita bisa melihat bahan yang ada dulu, Naruto-kun." Usul Hinata.
"Hmm," Naruto sepertinya masih belum rela untuk mengiyakan permintaan Hinata.
"Baiklah. Kita lihat apa yang aku punya." Naruto kembali membawa Hinata berjalan di belakangnya, kali ini menuju dapur Naruto.
.
.
"Hehe, maaf Hinata. Ternyata aku tak punya apa-apa." Naruto meringis.
Hinata menatap isi kulkas Naruto yang juga terlihat sangat sepi penghuni dengan kening sedikit berkerut. Tangan Hinata terulur mengambil sebuah kotak susu yang sudah tinggal separoh isinya. Dilihatnya tanggal kadaluarsa yang tertera jelas di bungkus luarnya.
'Ini sudah basi satu bulan yang lalu,' Hinata membuang susu basi itu ke tempat sampah tanpa beban.
"Heh?! Kenapa dibuang?!" Pekik Naruto tak rela.
"Eh?" Hinata terlonjak.
"Susunya sudah basi, Naruto-kun." Jawab Hinata setelah mengatasi rasa terkejutnya.
"Sungguh?" Naruto seperti tak mempercayai kata-kata Hinata. Hinata mengangguk.
"Padahal aku baru saja membelinya, ttebayou." Gerutu Naruto.
Hinata menghiraukan Naruto. Tangannya kembali terulur untuk memeriksa sebuah botol yang berisi jus jeruk. Naruto memandang tangan Hinata dengan perasaan was-was. Iris safirnya tak berkedip sedikitpun mengawasi pergerakan sang gadis Hyuuga.
'Masih aman.' Hinata kembali meletakkan botol jus di tempat sebelumnya.
'Huft. Masih bisa terselamatkan.' Naruto menghela nafas lega. Walaupun isi dalam botol jus hanya tinggal beberapa teguk, tapi tetap sesuatu yang berharga bagi Naruto.
Tak ada lagi yang bisa di periksa oleh Hinata. Ditutupnya pintu kulkas Naruto setelah sebelumnya mengambil butir terakhir telur ayam dan sebatang daun bawang di pojok kulkas Naruto.
"A-aku masih punya ramen di lemari." Naruto bergegas membuka lemari dapur tempat menyimpan semua persediaan ramennya, lupa jika Hinata sudah menolak untuk makan ramen. Naruto menatap 5 cup ramen yang baru semalam di pamerkannya pada Paman Teuchi di depan Hinata.
"Maaf, Hinata. Aku hanya punya ini untuk dimasak. Uangku dari misi sudah habis untuk membayar banyak tagihan." Naruto menghindari tatapan mata indigo Hinata, rasanya Naruto malu sekali Hinata mulai mengetahui rahasia keuangannya.
Hinata mengukir senyum hangat walau Naruto tak melihatnya.
'Naruto-kun hebat sekali bisa hidup seorang diri dan mengatur segala keperluannya sendiri selama ini.' Puji Hinata.
'Aku semakin kagum padanya.'
'Dan semakin jatuh cinta padanya,'
"Aku akan memasak ramen ini untukmu, Naruto-kun." Kata Hinata setelah beberapa saat tenggelam dalam diam.
Naruto menyeret iris safirnya untuk memandang mata ametyhs Hinata yang menurut Naruto selalu menyiratkan kehangatan hati pemiliknya.
"Arigatou, Hinata." Naruto tersenyum tipis.
"Lalu bagaimana denganmu?" Tanya Naruto. Hinata mengerutkan keningnya, berfikir.
"Apa kau ingin aku pergi keluar rumah membeli sesuatu untukmu?" Tawar Naruto. Hinata tak segera menjawab.
'Bagaimana ini? Jika Tou-sama tahu aku terlalu banyak makan ramen, beliau pasti marah. Tapi, Naruto-kun bilang dia tak punya uang untuk membeli sesuatu saat ini.' Pikir Hinata.
"A-aku akan membuat ramen juga, Naruto-kun" Putus Hinata. Naruto tersenyum lega gadis indigo di depannya begitu mengerti keadaan Naruto yang sedang sulit.
"A-ano, Naruto-kun." Panggil Hinata.
"Ya, Hinata?" Tanya Naruto lembut.
"Sepertinya pipimu sudah tidak sakit lagi." Jawab Hinata polos. Naruto segera sweatdrop dengan kepolosan gadis indigonya.
.
.
Tak. Tak. Tak. Tak. Tak. Tak.
Suara benturan pisau dan telenan menggema di seluruh ruang dapur Naruto. Seorang gadis bersurai biru gelap membungkus dirinya dengan celemek orange, satu-satunya yang Naruto punya, yang terikat kuat pada tubuh moleknya. Rambutnya yang biasa tergerai, dikuncir kuda oleh pemiliknya, meninggalkan juntaian rambut di masing-masing sisi wajahnya. Melipatgandakan nilai tambah pada wajah yang sebenarnya memang sudah terlihat cantik tanpa perlu usaha lebih.
Sementara seorang laki-laki jabrik memilih untuk duduk diam memperhatikan gerakan sang gadis beberapa saat, sebelum tiba-tiba ingatan tentang mimpi anehnya berputar cepat di dalam otaknya. Naruto beranjak dari duduknya dan berdiri disamping Hinata yang sibuk mengiris sebatang daun bawang yang ditemukannya bersembunyi di sudut kulkas Naruto.
Hinata menghentikan sejenak kegiatannya, menatap Naruto yang berdiri di sampingnya dengan senyum aneh.
"A-ada apa, Naruto-kun?" Tanya Hinata bingung.
"Apa ada yang bisa aku bantu?" Tawar Naruto. Hinata bergeming, bingung harus menjawab apa.
'Jika Naruto-kun disini, aku tak akan punya kesempatan untuk memberinya obat tidur,' Pikir Hinata.
"Bagaimana, Hinata?" Tanya Naruto kembali.
"Tidak ada, Naruto-kun." Jawab Hinata.
"Kau bisa menunggu di meja makan saja." Usul Hinata.
"Hmm," Naruto terlihat enggan beranjak dari samping Hinata.
"Aku lebih baik disini saja, Hinata." Tolak Naruto.
"Rasanya sangat mengesalkan hanya memandangmu dari belakang."
"Demo…" Hinata terdengar keberatan.
"Ah, airnya sudah mendidih, Hinata." Naruto mencoba mengalihkan perhatian Hinata pada air yang mendidih dalam situasi tepat.
"Ayo, aku akan membantumu. Aku adalah pembuat ramen terenak nomor 2 setelah Paman Teuchi, ttebayou." Pamer Naruto. Hinata tersenyum geli walau tak menatap iris safir Naruto langsung karena sibuk mengurus air yang mendidih.
'Yasudahlah.' Pasrah Hinata dalam hati.
Detik selanjutnya, Hinata dan Naruto sibuk membuat ramen berdua. Hinata terlihat mulai terbiasa dengan kebersamaan mereka. Rona merah muda mungkin masih bisa terlihat di pipi porselennya, hanya saja sikap Hinata tak sekaku sebelum-sebelumnya.
"Heeey! Jangan kau masukkan bumbunya ke dalam air dulu, Hinata!"
.
.
Slruuuup…
Naruto mengangkat mangkok hijaunya tinggi-tinggi, menyeruput kuah ramen buatannya bersama Hinata hingga tetes terakhir.
"Ah…. Ramennya enak sekali, Hinata." Puji Naruto.
"Hmm, jika kita membuka warung ramen mungkin kita bisa menyaingi Paman Teuchi dan jadi orang terkaya di Konoha, ttebayou. Hahahahaha," Hayal Naruto. Hinata tertawa kecil mendengar khayalan Naruto.
"Lalu setelah menjadi kaya, apa yang akan kau lakukan, Naruto-kun?" Tanggap Hinata.
"Hmm?" Naruto memasang wajah serius.
"Entahlah, Hinata. Aku tidak pernah memikirkan hal itu sebelumnya." Naruto menggosok-gosok dagunya bingung.
"Mungkin aku bisa mengajakmu pergi ke tempat yang kau suka?" Usul Naruto.
"Benarkah, Naruto-kun?" Tanya Hinata sedikit bersemangat karena terbawa suasana.
"Apa aku boleh memintamu membawaku ke perbatasan?" Tanya Hinata.
"Hah? Apa yang ingin kau lakukan di perbatasan?" Tanya Naruto tak mengerti keinginan aneh gadis indigo ini.
"Tenten-san bilang padaku jika Neji Nii-san membawanya ke tempat indah penuh bunga di daerah perbatasan Konoha." Jelas Hinata.
"Neji?" Naruto meragukan pendengarannya pagi ini.
"Iya, Naruto-kun." Hinata menganggukkan kepala.
"Neji Nii-san melamar Tenten-san di sana." Jelas Hinata.
"Hmm," Naruto yang tak terkejut dengan penjelasan Hinata, terlihat mempertimbangkan sesuatu.
"Jadi kau ingin aku melamarmu disana seperti Neji dan Tenten?" Tanya Naruto. Ditatapnya mata amethys Hinata yang terlihat bersinar bahagia mendengar pertanyaan Naruto sedetik lalu.
"Iya, Naruto-kun." Hinata tersenyum lebar. Naruto pun tersenyum tak kalah lebar.
"Hm?" Mata Hinata dan Naruto sedikit membulat.
Blush!
Tiba-tiba wajah keduanya merona saat menyadari kejanggalan topik yang mereka berdua bicarakan. Hey, siapapun yang memulainya kenapa yang lain harus terbawa suasana? Mereka jadi terlihat seperti saling menyukai satu sama lain, bukan?
"Haha," Naruto tertawa canggung. Sementara Hinata menyibukkan diri untuk menghitung detak jantungnya yang tak beraturan.
.
.
"Kau sakit, Hinata?" Tanya Naruto mencoba mencairkan kecanggungan yang menyelimuti dirinya dan gadis indigo di sampingnya yang sibuk mencuci mangkok bekas makan Hinata sendiri.
Hinata menatap sejenak Naruto sebelum menggulirkan iris lavedernya ke bawah kembali dan menjawab pertanyaan Naruto dengan sebuah gelengan kepala.
"Wajahmu merah sekali, Hinata." Jujur Naruto yang sukses membuat Hinata semakin merona. Naruto memang lemah dalam hal memahami suasana hati wanita.
Hinata mencoba mengalihkan pikirannya dengan mangkok kotor yang sedang di cucinya, sekarang bekas makan Naruto. Mangkoknya sendiri saat ini sudah berada di tangan Naruto untuk dikeringkan dengan serbet.
Bagaimana bisa Hinata tidak merona dengan semua yang baru saja terjadi? Hinata bahkan sempat berfikir apa sebenarnya Naruto sudah terkena efek bakteri pemberian Shizune? Hanya saja karena Naruto seorang Jinchuuriki Kyuubi, mungkin efek yang terjadi tak sejelas seperti yang terjadi pada Neji, Shikamaru, Sai, ataupun Sasuke. Mungkin baru sekarang efeknya terjadi pada Naruto. Dimulai dari ketidaksadarannya membicarakan khayalan yang bukan Naruto sekali.
'Berhenti menebak-nebak sesuatu, Hinata!' Hinata tanpa sadar menggelengkan kepala birunya.
"Hey, Hinata…" Panggil Naruto tak tahan dengan keheningan yang kembali tercipta diantara mereka.
"I-iya, Naruto-kun?" Hinata menjawab panggilan Naruto.
"Ada yang mengganjal dalam pikiranku sejak tadi." Jawab Naruto.
"Hn?" Hinata yang sudah berani menatap Naruto kembali, mengerutkan keningnya bingung.
"Rambutmu." Jelas Naruto memahami kebingungan Hinata.
"Rambutku?" Ulang Hinata. Naruto mengangguk sembari meletakkan mangkok Hinata yang sudah kering di sebuah rak piring di depannya.
"Mengingatkan ku pada seseorang." Naruto tiba-tiba tersenyum begitu hangat.
"Kenapa kau menguncirnya seperti itu?" Tanya Naruto kemudian.
"A-aku selalu melakukannya jika aku mulai melakukan sesuatu yang sedikit rumit sekarang, Naruto-kun." Jawab Hinata.
"Hn," Naruto manggut-manggut.
"Siapa yang kau ingat, Naruto-kun?" Hinata yang penasaran mencoba membahas kembali pernyataan Naruto yang belum jelas. Naruto memandang Hinata sejenak.
"Kaa-chan." Jawab Naruto dalam senyum rubahnya.
KLONTANG! KLONTANG! KLONTANG!
Untung saja mangkok Naruto terbuat dari bahan plastik, jadi Naruto tak perlu bingung memikirkan uang untuk membeli mangkok lain karena Hinata baru saja membiarkan mangkoknya terjun bebas ke atas lantai.
"HUAAAH!" Hinata menutup seluruh wajahnya dengan tangannya yang masih basah dan terdapat banyak busa sabun cuci. Mungkin Hinata terlalu kaget sampai tujuan awalnya hanya menutup mulutnya yang menganga tak percaya, melenceng jauh menuju mata bulannya.
"EKH?!" Naruto terpekik kaget.
"Kau sembrono sekali, Hinata!" Omel Naruto.
"Lihat! Busanya masuk matamu kan?!" Naruto mulai membersihkan busa sabun yang banyak menempel pada wajah tembem Hinata.
Blush!
Naruto tiba-tiba kembali teringat adegan dalam mimpinya sebelum berciuman dengan Hinata.
"Hinata, buka matamu!" Perintah Naruto panik.
"A-aku tidak bisa. Masih perih, Naruto-kun." Jawab Hinata.
"Ka-kalau begitu aku akan pergi keluar sampai kau bisa membuka matamu."
Naruto segera pergi keluar rumah meninggalkan Hinata yang sibuk meraba-raba dalam gelap mencari air untuk membasuh busa di wajahnya.
.
.
"Huah… Sialan! Gara-gara mimpi itu, aku tak bisa bersikap normal, ttebayou!" Gerutu Naruto.
"Apa Hinata baik-baik saja di dalam?" Naruto baru menyadari kebodohannya meninggalkan Hinata yang matanya tak bisa terbuka.
"Bodoh sekali aku meninggalkannya begitu saja!" Sesal Naruto.
Tap.
Naruto menatap heran seorang shinobi dengan pakaian jounin lengkap yang tiba-tiba berdiri di depannya.
"Ada apa?" Tanya Naruto.
"Hinata, dia merencanakan sesuatu padamu."
"Hn?"
"Akan aku ceritakan semua padamu," Shinobi tersebut mulai menceritakan semua yang terjadi di rumah Kakashi Sensei malam kemarin.
Naruto bergeming. Tak satupun komentar dikeluarkannya berkenaan dengan cerita dari shinobi tersebut.
"Aku sudah tak tahan lagi. Bagaimana jika kita mengatakan yang sebenarnya tentang rahasia kita?" Usul Naruto.
"Ada apa? Apa gadis Hyuuga itu mengganggu pikiranmu?"
"Tidak. Bukan itu masalahnya." Naruto menghindari tatapan tajam shinobi di depannya.
"Aku hanya tak ingin berbohong lagi tentang rahasia kita." Tambah Naruto.
"Bersabarlah sebentar lagi, Naruto." Sosok misterius tersebut tiba-tiba menatap pintu masuk di belakang punggung Naruto.
"Sampai kapan kau ingin aku berbohong?!"
Cklek.
Pintu masuk rumah Naruto terbuka perlahan membuat sang Jinchuuriki yang sedikit kehilangan keseimbangan segera melompat ke depan menjauhi pintu.
"Naruto-kun, mataku sudah…" Hinata sedikit terlonjak kaget melihat seorang pemuda tampan yang memiliki iris onyx menatapnya tajam.
"Sasuke-kun?" Heran Hinata.
"Hn," Jawaban Sasuke untuk sapaan Hinata.
"Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Sasuke.
"A-aku…" Hinata jadi salah tingkah dengan pandangan penuh selidik Sasuke, dadanya berdetak cepat berharap Sasuke tak memergokinya sedang merencanakan sesuatu untuk Naruto. Tak kunjung mendapat jawaban dari Hinata, Sasuke menggulirkan iris onyxnya pada iris safir Naruto.
"Dia hanya berkunjung ke rumah, Sasuke." Naruto mewakili Hinata menjawab pertanyaan Sasuke.
"Naruto, ikutlah denganku. Rokudaime memberi kita misi. Aku akan menunggumu di depan gedung Hokage."
Pofft.
Tanpa menunggu jawaban Naruto, Sasuke yang ternyata hanya seorang bushin menghilang dari hadapan Naruto dan Hinata yang cukup kaget dengan berita yang dibawa pemuda emo itu.
"Sialan, Sasuke! Selalu seenak kepalanya sendiri!" Gerutu Naruto.
Naruto menatap bingung Hinata.
"Bagaimana ini, Hinata?" Tanya Naruto tidak enak hati pada Hinata
Hinata mengepalkan tangannya erat. Sekali lagi usahanya gagal bahkan sebelum Hinata sempat memulainya. Hinata sampai berfikir apa sebenarnya semua yang dialaminya adalah pertanda dari Kami-sama agar Hinata kembali ke jalan yang benar.
"Aku akan membantumu bersiap-siap, Naruto-kun." Hinata memutuskan untuk melupakan ambisi egoisnya dan memilih untuk kembali berjuang dengan kemampuannya sendiri.
'Kami-sama, beritahu aku cara untuk menggapai hati Naruto.' Doa Hinata dalam hati.
oOo oOo oOo
"Daaa-Daaa, Ino-Sensei, Hinata-Sensei" Beberapa anak perempuan melambaikan tangannya penuh semangat pada seorang gadis beriris aquamarine, dan seorang lagi gadis beriris amethys yang karena kegagalannya berkencan dengan sang jinchuuriki, memilih untuk membantu Ino mengajar di akademi ninja.
"Hati-hati di jalan, anak-anak." Ino membalas lambaian tangan murid-murid akademinya. Hinata pun melambaikan tangannya dengan sebuah senyuman hangat terukir di wajahnya.
"Jadi, rencanamu kali ini gagal karena Sasuke?" Ino tak menurunkan sedikitpun tangannya yang melambai bebas demi membalas pamitan murid-muridnya yang berjalan bergerombol dan saling bergandengan tangan. Sungguh dunia yang terasa sangat damai.
"Sasuke-kun hanya menyampaikan misi untuk Naruto-kun, Ino-san." Hinata mencoba membenarkan tuduhan Ino.
"Hahh… Tetap saja itu karena Sasuke, Hinata!" Kesal Ino. Hinata bergeming.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Ino tanpa menolehkan kepala pirangnya.
"A-aku ingin berjuang dengan caraku sendiri untuk mendapatkan cinta Naruto-kun." Hinata tersenyum penuh keyakinan. Kali ini ganti Ino tak bersuara.
Ino terpaku beberapa detik saat iris aquamarinennya menatap beberapa anak perempuan yang tertawa ceria dalam lindungan dekapan ayah mereka. Mata laut Ino tanpa bisa di cegah mulai nampak berkaca-kaca.
"Tou-san," Lirih Ino dengan suara bergetar. Hinata menatap Ino khawatir.
"Daijobou, Ino-san?" Tanya Hinata memastikan.
Hinata tahu bagaimana sedihnya kehilangan keluarga yang disayang karena Hinata pernah berfikir Neji meninggal untuk melindunginya dalam perang dunia keempat. Untunglah Neji tak jadi meninggal karena Tsunade. Karena itulah saat Hinata diminta Tsunade untuk mengorbankan dirinya menjadi miko seorang Jinchuuriki, Hinata tak menolak sedikitpun. Lagipula Jinchuuriki yang akan dia lindungi tak lain adalah Uzumaki Naruto, pemuda yang sangat dicintainya.
Namun keputusan menjadikan Hinata seorang miko penjaga Jinchuuriki adalah sebuah rahasia besar yang hanya diketahui oleh Sakura, Ino, Tsunade, Hiashi, Shizune dan Kakashi. Uzumaki Naruto, sang Jinchuuriki, tak sedikitpun mengetahuinya. Bahkan seorang Uchiha Sasuke dan Hyuuga Neji pun tak tahu apapun tentang rahasia ini. Karena jika Naruto tahu, Naruto pasti akan menolaknya mentah-mentah.
"Apa kau merindukan ayahmu, Sensei?"
Ino dan Hinata sedikit terperanjat kaget saat disamping bawah mereka tiba-tiba terdengar suara cempreng seorang anak laki-laki bermata obsidian.
"Akira-kun?" Ino merendahkan tubuhnya menatap mata tajam seorang anak laki-laki yang bernama Akira.
"Kenapa kau masih disini? Teman-temanmu sudah pulang semua." Tanya Ino. Anak laki-laki yang bernama Akira tersenyum padanya.
"Aku ingin pulang bersamamu, Sensei." Jawab Akira yang masih mempertahankan senyuman yang nampak tak asing lagi bagi Ino.
Ino bergeming membuat suatu deduksi dalam pikirannya sementara Hinata hanya menatap Ino dan Akira dalam diam.
oOo oOo oOo
Cklek.
Kelima orang yang ada di dalam ruang Hokage menoleh bersamaan menatap pintu masuk ruang Hokage, mencari tahu siapa orang yang berani masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Seorang wanita setengah abad lebih yang beriris coklat menatap kelima pasang iris berbeda yang menatapnya dengan ekspresi wajah masing-masing.
"Lanjutkan obrolan kalian." Tsunade berjalan mendekati jendela Hokage yang menghadap rumah warga Konoha tanpa berkata apapun selain kalimat pertamanya.
"Ehem." Kakashi berdehem.
"Jadi untuk menanggulangi segala sesuatu yang tak diinginkan, aku akan menugaskan tim 7, tim 8, tim 10, dan tim Gai bergantian menjaga daerah perbatasan. Tentu saja shinobi-shinobi senior akan membantu."
"Dua minggu lagi festival bunga akan diadakan pertama kalinya setelah perang di Konoha."
"Shikamaru, kau yang mengurus semua keperluan para kage dan asisten mereka."
"Ha'i," Shikamaru mengangguk patuh.
"Sasuke, sampaikan pada masing-masing tim titahku hari ini,"
"Ha'i," Sasuke mengangguk patuh.
"Naruto, kau bantu Sasuke membagi jadwal yang sudah disusun Shikamaru."
"Baik, ttebayou!" Naruto menghormat pada Kakashi dengan penuh semangat.
"Kazekage-sama, terima kasih untuk kesediaannya ikut terlibat dalam festival bunga Konoha," Kakashi tersenyum lembut pada Kazekage muda Suna.
"Ya." Gaara dengan semua kewibawaannya mengangguk.
"Baiklah, aku ingin berbicara berdua dengan Tsunade-sama." Kakashi secara tersirat mengusir keempat pemuda di hadapannya.
"Ha'i, Hokage-sama," Sasuke, Shikamaru, dan Naruto menundukkan kepala sebelum berjalan keluar ruang Hokage bersama Gaara yang hanya menganggukkan kepala sedikit.
Blum.
Bunyi pintu Hokage yang tertutup membuat Tsunade refleks memutar tubuhnya membelakangi kaca.
"Ada apa, Tsunade-sama?" Tanya Kakashi yang berjalan mendekati Tsunade.
"Anak-anak itu, tak terasa sudah tumbuh dewasa." Gumam Tsunade.
"Apa itu yang ingin Anda bicarakan,Tsunade-sama?" Tanya Kakashi yang sedikit sweatdrop.
"Hinata. Gadis itu sudah hampir mencapai batas cakra." Iris caramel Tsunade menerawang.
"Darimana Anda tahu, Tsunade-sama?" Tanya Kakashi tak mengerti.
"Dia gadis yang suka memendam kesusahannya seorang diri, Kakashi. Walau aku belum pernah menikah, aku banyak belajar dari pengalaman hidup."
"Aku tidak mengerti, Tsunade-sama." Kakashi menatap Tsunade bingung.
"Hinata terlihat baik-baik saja." Kakashi berpendapat.
"Mata lahir tak akan mampu melihat sesuatu yang tersembunyi di dalam hati." Jawab Tsunade penuh misteri.
"Jadi, apa kita hentikan saja?" Tanya Kakashi yang masih belum memahami maksud Tsunade.
"Dan menyia-nyiakan latihan keras yang dilakukannya selama 2 tahun ini?" Tanya Tsunade tanpa menjawab pertanyaan Kakashi.
"Wanita bisa lebih kuat dari laki-laki, Kakashi." Tsunade kembali membalikkan tubuhnya untuk menatap pemandangan damai Konoha yang sangat dicintainya.
"Hahh…" Kakashi mendesahkan nafas berat benar-benar tak paham dengan apa yang dibicarakan dengan Tsunade dari awal.
'Mungkin Tsunade-sama sedang banyak pikiran.' Pikir Kakashi dalam hati.
"Jadi apa yang harus kita lakukan, Tsunade-sama?" Tanya Kakashi mencoba bersabar.
"Kakashi, aku lapar." Jawaban Tsunade sukses membuat Kakashi jatuh terjengkang dengan tidak elitnya.
oOo oOo oOo
"Hahh.." Naruto mendesahkan nafas keras-keras membuat Shikamaru, Gaara dan Sasuke meliriknya.
"Kau seperti kakek-kakek saja," Komentar Shikamaru yang mendapat tatapan kematian dari Naruto.
"Kau kenapa, Naruto?" Tanya Gaara.
"Tak ada, Gaara." Jawab Naruto kembali terlihat lemas.
"Dia hanya kecewa tak bisa melakukan sesuatu yang mesum dengan Hyuuga." Sasuke menjawab pertanyaan Gaara asal.
"APA?" Mata Naruto memutih kesal. Urat di kepala Naruto menebal. Sasuke benar-benar keterlaluan. Sudah seenaknya merusak acara Naruto, sekarang mulut berbisanya menuduh Naruto yang bukan-bukan.
"Sialan kau, Sasuke!" Naruto hendak menerjang Sasuke yang segera di peluk erat oleh Shikamaru.
"Naruto! Kau sudah dewasa! Berhentilah bertengkar dengan Sasuke!" Shikamaru masih memeluk Naruto erat.
"Lepaskan aku, Shikamaru! Aku ku robek wajah datarnya itu!" Naruto memberontak.
"Gaara! Cepat lakukan sesuatu dengan pasirmu!" Perintah Shikamaru. Gaara menatap Shikamaru kesal karena seenaknya main perintah.
"Aku tidak mau!" Rajuk Gaara.
"Ya, ampun! Mendokusai!"
"Hey, Sasuke! Jangan melarikan diri!" Naruto melepas pelukan Shikamaru kasar dan segera melompat menyusul Sasuke.
"Hahh…!" Shikamaru mendesah kesal.
"Jadi, apa kita harus mengejarnya, Onii-san?" Sindiran Gaara membuat Shikamaru tersedak udara.
oOo oOo oOo
Tap. Brug.
"Ittai!" Naruto menggosok-gosok hidungnya yang menabrak tubuh Sasuke.
"Kenapa berhenti tiba-tiba, Sasuke?!" Bentak Naruto.
"Aku menyelamatkanmu dari gadis Hyuuga," Lagi-lagi Sasuke menjawab asal. Sasuke menatap Naruto yang masih sibuk menggosok hidungnya yang sedikit memerah.
"Hinata?" Tanya Naruto tak yakin.
"Hn." Jawab Sasuke. Naruto berdiri.
"Memangnya kenapa kau begitu ketakutan dengan Hinata, Sasuke?!" Tanya Naruto tak mengerti.
"Gadis itu, punya cakra yang tak biasa." Jawab Sasuke juga tak yakin.
"Hah?" Naruto tak mengerti maksud Sasuke.
"Hahh.." Sasuke menghela nafas.
"Lupakan. Aku jelaskan kau juga tak akan mengerti." Kata Sasuke sarkastik.
"Sialan kau, Sasuke!" Umpat Naruto.
"Aku tak ingin berbohong lagi, Sasuke!" Naruto kembali mengingatkan Sasuke kata hatinya seperti saat berada di rumah Naruto.
"Bersabarlah. Baru 4 hari kita lalui, Naruto." Sasuke mulai berjalan kembali.
"Aku ingin mengatakannya." Lirih Naruto. Sasuke melirik Naruto yang berjalan disampingnya dan membuat sebuah seringai.
"Jadi, kau sudah yakin dengan perasaanmu sekarang?" Tanya Sasuke.
"Ya."
"Kau yakin suaramu tak akan tercekat lagi untuk mengatakan rasa sayangmu?" Sindir Sasuke.
"Urusai!" Teriak Naruto malu.
"Kau masih ingin bilang rencanaku ini konyol?" Sindir Sasuke.
"Baiklah-baiklah. Kau menang dengan bakteri cinta konyolmu itu."
'Apa maksud mereka?!'
'Apa mungin selama ini?!'
'Hm?'
'Aku harus segera pergi dari sini!'
Naruto mendelik kaget saat tiba-tiba Sasuke melompat di depan sebuah gang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
"Ada apa?" Tanya Naruto. Sasuke menggelengkan kepala.
"Sepertinya hanya perasaanku."
oOo oOo oOo
"Sensei," Panggil Akira. Ino menundukkan kepala menatap mata obsidian Akira.
"Maaf aku membuatmu tak bisa pulang bersama Hinata-Sensei." Sesal Akira. Ino tersenyum.
"Tak apa," Jawab Ino singkat.
"Sensei!" Sekali lagi Akira memanggil Ino.
"Ya, ada apa?" Tanya Ino.
"Kita baru saja selesai makan malam dan ini sudah sangat malam."
"Ya, lalu?" Tanya Ino tak mengerti.
"Bukankah sewajarnya jika seorang guru memarahi muridnya yang masih berkeliaran di jalanan semalam ini?" Tanya Akira yang kembali mengukir sebuah senyuman.
"Ki-kita sedang berjalan menuju rumahmu." Jawab Ino segera mengalihkan pandangannya dari senyum Akira.
Ino dan Akira kemudian berjalan beberapa lama dalam diam.
"Sensei," Panggil Akira untuk ketiga kalinya.
"Ya?" Ino kembali menundukkan kepala menatap kesal pria kecil di samping bawahnya.
"Bukankah sewajarnya jika orang dewasa menggandeng tangan anak kecil yang berjalan di sampingnya." Akira kembali membuat lagi sebuah senyuman.
"Eh?" Kaget Ino, wajah Ino mulai menunjukkan gejala tersipu.
"Ka-kau sudah besar! Aku tak harus menggandengmu!" Jawab Ino dengan nada yang dibuat kesal, namun tak mampu menyembunyikan rasa gugup mendengar pertanyaan Akira.
"Begitu?" Akira menatap Ino dengan wajah innocentnya.
"Ikutlah denganku, Sensei."
Akira kecil menggenggam tangan Ino dengan sangat erat. Ino harus berjalan di belakang Akira dengan langkah sedikit terseret dan badan yang sedikit tertunduk untuk mengimbangi jarak tinggi badan mereka berdua yang memiliki perbedaan begitu besar.
"Kita mau kemana?" Protes Ino yang tak mendapat tanggapan dari si kecil Akira.
.
.
"Jadi, sejak kapan kau menyadarinya?" Tanya Akira kecil yang mendongakkan kepalanya demi menatap iris aquamarine Ino.
"Sejak kau tersenyum padaku." Jawab Ino kesal.
"Ah, hanya karena senyumanku?" Tanya Akira tak mengerti.
"Tentu saja aku tahu! Hanya kau yang memiliki senyum seperti itu, Sai-kun!" Kesal Ino.
Pofft.
Tubuh kecil Akira terbungkus asap tebal. Dari balik asap yang menipis muncul sesosok tubuh pucat seorang laki-laki 19 tahun dengan pakaian jounin lengkap. Tak lupa terpasang seulas senyum palsu yang begitu akrab dengannya.
"Jadi, senyumku begitu membekas dalam ingatanmu, cantik?" Tanya Sai segera setelah efek asap menghilang keseluruhan dari tubuhnya.
"Kapan aku pernah mengatakannya?!" Protes Ino dengan pipi merona.
"Ah, aku ingin memberikan sesuatu padamu." Sai menghiraukan protes Ino dan terlihat sibuk dengan tas kecil di pingganggnya. Setelah mengobrak-abrik isi dalam tas kecilnya beberapa lama, Sai mengeluarkan selembar kertas gambar biasa yang terlipat rapi dan segera memindah tangankannya pada Ino.
"Apa ini?" Tanya Ino tak mengerti.
"Buka saja." Jawab Sai.
Ino membuka lipatan kertas yang ternyata adalah potret dirinya yang lain. Jika dihitung-hitung ini adalah lukisan kelima Sai dengan dirinya sebagai objek utama. Tanpa sadar Ino memuji dalam hati bagaimana dirinya dalam gambar Sai terlihat begitu cantik dengan senyuman lebar di sekeliling murid-murid akademinya yang duduk melingkarinya. Sepertinya Sai melukisnya saat Ino sedang bercerita tentang pengalamannya di akademi bersama Hinata.
"Kau menyukainya?" Tanya Sai.
"Ya," Tanpa sadar Ino mengganggukkan kepala.
"Syukurlah," Sai memasang senyuman palsunya lagi.
"Jadi, jika sekarang aku mengatakan daisuki, apa kau akan percaya, Ino?"
Ino berhenti memandangi potret dirinya dan menatap tajam obsidian Sai.
"Ja-jangan bercanda, Sai-kun!" Omel Ino.
"Apa aku terlihat bercanda?"
Ino terus menatap mata obsidian Sai berusaha mencari sebuah kebohongan yang diam-diam dalam hati Ino berharap untuk tak menemukannya. Ino menundukkan kepalanya, membuat poni pirangnya tergerai ke depan menutupi sebagian pipinya yang tersipu merah. Ino memutuskan untuk mencoba berhenti membohongi dirinya sendiri jika sebenarnya gadis cantik ini mulai jatuh cinta pada pria pucat di sampingnya.
"Se-setidaknya kau harus mengatakannya dengan sedikit lebih romantis." Rajuk Ino malu-malu.
"Ah, begitukah?" Tanya Sai dengan wajah polos.
"Kau tahu? Aku baru saja pulang dari perbatasan dan tak langsung pulang ke rumah hanya untuk menggambar senyuman indahmu."
"Apakah itu romantis, Ino? Tanya Sai yang kembali memasang senyum palsunya. Ino mengangkat kepalanya menatap Sai.
"Ya, aku rasa itu romantis," Lirih Ino yang segera memalingkan wajah tersipunya lagi.
"…."
Sai kembali mengobrak-abrik tas kecil yang tergeletak di sampingnya. Ino mengawasi Sai dari balik poni pirangnya. Sai mulai mengeluarkan media kertas khusus yang biasa dia jadikan media menggambar jutsunya, sebatang kuas dan sekotak tinta. Sai mulai menggoreskan tinta pada media gambar khususnya yang tergelar rapi.
"Apa yang kau gambar, Sai-kun?" Tanya Ino yang penasaran karena Sai dari tadi terlihat hanya menggambar garis lurus.
"Bunga. Bukankah para gadis menyukainya?" Jawab Sai tanpa menghentikan gerakan tangannya.
"Bunga?" Ulang Ino yang mengerutkan keningnya tak mengerti.
"Bagian mana yang terlihat seperti bunga, Sai-kun? Itu hanya sekumpulan garis hitam." Protes Ino. Sai menjawab protes Ino dengan senyuman palsunya. Sai mengangkat sebelah tangan dan mulutnya terbuka untuk merapalkan nama jutsu ninjanya.
"Ninpou Chouuju Giga," Segera setelah Sai merapalkan jutsunya, garis-garis hitam abstrak yang digambarnya bergerak liar keluar dari atas media gambarnya untuk berkumpul di tangan Sai yang bebas.
"Kyaaa…." Pekik Ino jijik.
Semakin lama garis hitam yang ternyata adalah gambar seekor ular, mulai membentuk setangkai bunga hitam yang indah dalam genggaman tangan Sai. Sai mendekatkan bunga hitam ajaibnya di depan mata aquamarine Ino yang membulat dan berubah warna putih keseluruhan.
"Bunga untukmu, cantik." Kata Sai yang masih mempertahankan senyum palsunya.
"Apakah sudah terlihat romantis?" Sai tersenyum tanpa dosa.
Ino menundukkan kepala pirangnya untuk membuat sebuah seringai.
"Sai-kun! Tak bisakah kau melakukannya dengan sedikit lebih normal?!" Teriakan Ino spontan membuat ular-ular Sai berlompatan ketakutan untuk kembali bersembunyi ke dalam media gambar menjadi sebuah garis hitam seperti sedia kala.
oOo TBC oOo
Minna-san…
Chap. 7 nya sedikit Geje aku rasa.
Huhuhu :'(
Cand rencananya pengen buat 11 Chap aja. Cand takut nanti ceritanya semakin melebar saja dari ide awal. Maaf ya klo Chap. Nya kebanyakan.
Selalu dukung Cand dengan review mu ya minna-san :D
Cand mau nitip salam buat Akichan : "Wah Akichan suka Kurama juga ya? :D"
Buat Yuan-san : "Min? Cand bukan Juminten loh ya . Siap untuk dilanjutkan, ttebayou ^^"
Buat Achiles-san : "Arigatou :*"
Buat Yui-san : "Sayang sekali kesenangan Anda Shizune dijitak akan segera berakhir. Wkwkwkwk :p NaruHinanya sudah banyak loh menurut Cand :p"
