Masashi Kishimoto©Naruto

DANGER "YAOI" OOC,OC , TYPO. JADI KALAU TIDAK SUKA SILAHKAN KELUAR.

DON'T LIKE DON'T READ

TEME I,am SORY_

(-^Thy^-)

Kushina terlihat sedang bercakap-cakap dengan seseorang di telpon, sesekali dia membuang napas berat dan mengucapkan kata 'Maaf'.

"Maaf kan aku Mikoto, aku salah palam kepadamu."

"Tak apa. Aku mengerti." Perempuan bernama Mikoto itu terdengar sedikit tertawa

"Aku benar-benar tak tahu, andai aku tahu dari dulu."

"Hahaha, seharusnya aku yang minta maaf. Kushina, bisa kita bertemu? Aku mau menanyakan soal Naruto?"

"Boleh saja, datanglah kerumah kami Mikoto."
"Baiklah, nanti sore aku akan kesana ya."

"Iya, aku tunggu." Hubungan telpon itupun terputus. Kushina tersenyum memandang telpon rumahnya itu.

"Telpon dari siapa?" Minato yang baru muncul dari dapur menatap Kushina heran

"Mikoto, dia bilang akan kemari nanti. Kau sudah rapi, mau kemana?" Kushina mengamati suaminya itu, tak seperti biasa, dandanan Minato sudah sangat rapi, padahal masih sangat pagi.

"Kau belum siap-siap? Kita akan menjeput Naruto di Suna. Aku tak mau Naruto terlalu menyusahkan keluarga Sabaku nanti." Kushina tersenyum

"Naruto sudah besar, dia kesana juga ingin menenangkan diri. Kau kan tahu, masalah Naruto sangat besar. Apapun itu, Naruto mencintai Sasuke, benar begitu kan Minato?" Kushina memandang Minato. Minato tersenyum

"Hmm, tak aku sangkah anak kita mencintai putra bungsu Uchiha itu ya Kushina." Minato memeluk Kushina, Kushina terkikih.

"Sudahlah, aku akan siap-siap, setelah ini kita jemput Naruto, karna nanti sore Mikoto akan datang, aku tak mau calon besanku menunggu lama."

"Hahahaha..jadi kau setujuh Naruto dan Sasuke menikah?"

"Iya, aku setujuh, dari pertama Sasuke sangat baik. Aku akan legah kalau Naruto bersamanya."

"Kau memang ibu yang baik Kushina." Minato mencium pipi Kushina. Keluarga NamikazeUzumaki itu sekarang sudah kembali mesra lagi.

-KEDIAMAN SABAKU-

"Aku sudah menelpon paman agar menjemputmu sekarang." Naruto menatap Gaara tajam. "Jangan menatapku begitu, aku melakukannya agar mereka tak menghawatirkanmu. Lagi pula aku tak suka melihat kau begini, menatap langit tak jelas, tak mau makan dan selalu diam. Aku rindu sepupu ku yang dulu."

"Apa aku menyusahkanmu Gaara?" Mata biru langit yang memudar itu menatap Gaara tanpa emosi

"Kau tak pernah menyusahkan aku, hanya saja, kau yang menyusahkan dirimu sendiri, menyakiti dirimu sendiri dengan seperti ini. Aku hanya tak mau kau terlalu terpuruk begini Naru." Naruto tersenyum, senyum yang sangat dipaksakan, mata biru itu kembali menatap langit yang sudah beberapa hari ini terasa lebih indah di pandang Naruto.

"Dulu dia sering membuat aku tenang kalau aku terpuruk begini. Tapi sekarang dia tak ada." Gaara menghela napas, mendekati Naruto. Lalu memeluk Naruto

"Aku ada, kalau kau butuh orang untuk berlindung, aku selalu ada Naru." Naruto membalas pelukan Gaara, walau tak senyaman pelukan Sasuke, tapi setidaknya sekarang perasaannya sedikit nyaman

"Kau kan sering kekampus, bagaimana keadaan teman-teman Gaara?" Gaara melepaskan pelukannya, menatap Naruto yang tersenyum kearahnya, masih senyum palsu, setidaknya senyum palsu Sai lebih bagus ketimbang senyum palsu Naruto yang terlihat miris itu.

"Sakura kahwatir dengan keadaanmu, dia selalu bertanya denganku. Teman-teman yang lain juga."

"Begitu ya. Sampaikan salamku pada mereka."

"Hn, baiklah." Gaara mengangguk

TOK..TOK..TOK..

Naruto dan Gaara menatap pintu kamar yang di gedor itu.

"Siapa?" Tanya Gaara

"Aku Temari otouto. Ada paman Minato dan Bibi Kushina mencari Naruto."

"Masuklah oneechan..!" Gaara memerinta kakak sulung perempuannya itu masuk. Pintu itu terbuka berlahan, kemudian menampakkan seorang perempuan berkuncir empat berambut pirang tersenyum kearah Naruto dan Gaara.

"Naru_chan..ada paman dan bibi." Temari memberi tahu Naruto, Naruto memandang Temari sebentar

"Katakan aku sedang keluar nee." Ucap Naruto lemas

"Kau mau membohongi kami ya Naru_chan?" Naruto kaget mendengar suara sang ibu yang berdiri di samping ayahnya, menatapnya sambil tersenyum.

"Kaasan?"

"Ayo pulang. Aku sudah tahu tentang semuanya." Naruto bingung melihat Ibunya tersenyum lepas Minato yang disebelah Kushina juga tersenyum.

"Aku betah di sini." Jawab Naruto dingin

"Kau tak kangen dengan kami ya Naru?" Kushina melangkah masuk kekamar itu, Gaara yang dari tadi berada di samping Naruto menyingkir, dia tak mau mengganggu ibu dan anak itu.

"Aku masih betah di sini kaasan, lagi pula, aku tak mau pulang." Kushina menepuk pundak Naruto lembut.

"Apa kau tak kangen dengan Sasuke?"

DEKG

Seperti ada ribuan jarum menusuk hatinya ketika mendengar nama itu. Naruto berjalan menuju jendela kamar Gaara, merasakan angin di Suna yang menerpa wajah tan sedikit pucat itu.

"Tidak." Jawab Naruto singkat. Kushina terlihat sedih melihat keadaan putranya sekarang. Rambut kuning berkilau itu kini terlihat kusam, mata biru indah Naruto kini terlihat tak bercahaya, kulit tan eksotis itu, kini terlihat sedikit pucat. Anaknya sekarang benar-benar seperti mayat hidup

"Tapi Sasuke menunggumu loh." Naruto menoleh kearah ibunya. Bagai mana bisa ibunya bicara begitu setelah tahu siapa Sasuke sebenarnya.

"Kaasan tak apa-apa?" Tanya Naruto khawatir

"Seharusnya aku yang bertanya itu padamu Naru-chan." Naruto tersenyum kearah ibunya. Sang ibu pun membalas senyuman itu.

"Bibi, paman kami permisi dulu." Temari membungkuk hormat dan meninggalkan keluarga itu di kamar Gaara sambil menyeret Gaara yang masih mau menonton adegan sedih dari keluarga itu. –plak-

"Aku sudah memberi tahu semuanya dengan ibumu Naruto." Minato melangkah menyejajarkan dirinya di samping Kushina.

"Iya, tentang pertunanganmu dan Sasuke."

Kaki Naruto serasa lemas. Badannya pun seperti mau ambruk saat mendengar pernyataan Ibunya barusan.

"Pertunangan?"

"Iya, sebenarnya Minato sudah menunangkanmu dengan Sasuke tanpa sepengetahuan kau dan aku. Dan tentang perselingkuhan Minato dan Mikoto itu semua tak ada. Aku hanya Salah paham." Naruto seperti ingin lompat dari gedung dua ratus tingkat saat ini, dia berusaha menajamkan pendengarannya mendengar apa yang dikatakan ibunya barusan.

"Kaasan? Kau tak mabuk kan?" Naruto mentapa ayahnya lekat-lekat, dia ingin memastikan kalau ibunya tak dibuat mabuk oleh sang ayah

"Tidak bodoh. Kenapa? Kau tak suka di tunangkan dengan Sasuke. Padahal aku kira kau mencintainya." Kushina melipat kedua tangannya didepan dada. Naruto menunduk. Kushina dapat mendengar sedikit isak tangis yang keluar dari Naruto.

"Jangan menangis. Kau itu anak laki-lakiku, aku tak suka melihat anak laki-laki ku satu-satunya menangis seperti perempuan Naruto." Ujar Minato menggosok-gosok punggung Naruto.

BUAGK

"Ugk..kau ini kenapa sih Naruto?" Minato meringis kesakitan setelah mendapatkan tinjuan maut dari Naruto. Kushina terkejut, 'apa akan terjadi perang lagi antara kedua laki-laki yang memiliki perawakan hampir sama itu?' batin Kushina

"Kejaaam~ kau kejam tousan, kau membuat aku menderita terus menerus. Kau itu ayah yang kejam." Naruto berteriak kearah Minato. Minato mengerti kalau sang putra pasti akan memakinya begini.

"Kau akan pulang kan? Kami akan menunggumu nanti sore di rumah, ada seseorang yang mau bertemu denganmu Naruto. Ini menyangkut Sasuke." Kushina menarik Minato yang masih meringis kesakitan sambil memegang perutnya. Naruto tak menatap kepergian kedua orang tuanya itu, dia lebih memilih menatap lantai yang kelihatan lebih menyenangkan di lihat dibandingkan kedua orang tuanya itu.

(-^Thy^-)

Naruto sudah terlihat rapi dengan baju kaos Orange dan celana pencil hitamnya. Dia terlihat sedang mengatur rambutnya dengan Gel agar terlihat sedikit menarik, walau sebenarnya rambut itu malah di buat lebih berjingkrak dibandingkan sebelumnya. Sesekali pemuda manis ini tersenyum kearah cermin dikamarnya itu. yah. Naruto Uzumaki sudah kembali ke rumah tersayangnnya, bersiap-siap menjemput sang pangeran yang lama dirindukannya itu. Naruto menuruni tangga sedikit terburu-buru.

"Kaasan, aku akan pergi seben_."

" Naru sayang, kemari. Aku mau mengenalkan kau dengan temanku." Kata-kata Naruto terputus ketika sang ibu menariknya berhadapan dengan seorang perempuan cantik berumur sama persis dengan sang ibu, ah..kelihatannya sedikit lebih tua beberapa tahun, tapi wajah perempuan itu masih terlihat mudah dan cantik. Rambut hitam panjang digerai, mata hitam pekah, kulit putih, dan sangat cantik.

"Jadi ini Naruto itu ya, wah..kau manis sekali." Perempuan itu mencubit pipi Naruto.

"Kaasan, mobilnya sudah aku parkir baik-baik." Tiba-tiba seorang pemuda yang sangat Naruto kenal masuk dari pintu ruang tamu keluarganya, pemuda tampan yang hampir memiliki kesamaan dengan perempuan itu. Mata biru itu melebar.

"Itachi_nii?" Naruto menunjuk kearah pemuda itu tak percaya.

"Hai Naru_chan.." Itachi melambai tangan dan tersenyum girang kearah Naruto. Naruto segerah menoleh kearah perempuan yang dikenalkan ibunya tadi.

'tadi Itachi_nii memanggil perempuan ini dengan sebutan Kaasan. Atau jangan-jangan perempuan ini?' Batin Naruto. Keringat dingin keluar deras di tubuh Naruto.

"Wajar saja anak ku sampai berubah begini, anak mu sangat tampan dan manis Kushina." Kushina terkekeh malu

"Kau?" Naruto menunjuk kearah perempuan itu

"Aku Uchiha Mikoto, ibu dari Sasuke dan Itachi, Naruto. Aku datang kesini ingin menjemput mu." Naruto mengangah. Dia tak habis pikir dapat berhadapan langsung dengan Mikoto perempuan yang dulu dibencinya itu. yah dulu, sebelum dia tahu tentang apa yang terjadi sebenarnya.

"Bagai mana bisa anda ?" Naruto tak tahu mau bertanya apa dengan Minato.

"Naruto, aku mohon kau ikut lah dengan ku sebentar, keadaan Sasuke sangat parah, dia berubah setelah pulang dari sini seminggu yang lalu." Mendadak wajah Naruto berubah menjadi cemas

"Apa yang terjadi pada Sasuke bibi?" Walau janggal, tapi Naruto berusaha memanggil wanita itu dengan sedikit hormat

"Semenjak pulang, Otouto sering mengamuk, mengurung diri di kamar, tak mau makan, sering mabuk, sering keluyuran, dan pulang malam. Dia benar-benar berubah Naru." Itachi menjelaskan, Mata Naruto melebar, dia tak mau melihat Sasuke begitu. Kenapa Sasuke berubah begitu.

"Apa dia tak apa-apa?"

"Bisa di bilang keadaannya memburuk. Beberapa hari ni dia pulang dengan mabuk, dan yang lebih parah anak itu selalu menyetir dalam keadaan mabuk. Untunglah dia dapat pulang dengan selamat."

"Aku akan menemui Sasuke, nii-chan, bibi." Kushina tersenyum bangga. Setelah berpamitan dengan sang ibu, Naruto segera pergi.

(-^Thy^-)

Naruto menatap kagum kearah sebuah rumah besar mewah kediaman Uchiha. Perkarangan luas, rumah yang sangat besar dengan pagar besar. Di pagar itu ada sebuah lambang kipas, lambang dari keluarga Uchiha. Naruto berdecak kagum melihat rumah besar itu, yang mungkin lebih besar tiga atau lima kali lipat dari rumahnya.

"Ayo masuk Naru_chan." Itachi menepuk pundak Naruto yang masih berdiri di depan rumah itu. Naruto akhirnya melangkah masuk ke dalam, melewati beberapa orang pelayan.

"Duduklah, aku akan panggil Sasuke." Perintah Mikoto. Naruto mendudukan dirinya di sebuah sofa empuk berwana biru tua. Itachi pun juga ikut mendudukan diri di sana, hanya sekedar menemani Naruto untuk bicara, sebelum Sasuke datang. Jantung Naruto terasa berdetak sangat kencang. Dia berjanji, kalau bertemu Sasuke nanti, dia akan memeluk pemuda itu, dan meminta maaf kepadanya.

"Itachi…" Mikoto menjerit dari lantai dua rumahnya. Itachi segera menuju sumber suara begitu pula dengan Naruto.

"Ada apa kaasan..?" Itachi bertanya cemas. Wajah ibunya memucat.

"Sasuke tak ada di kamar." Naruto membelalakan matanya. Dia berlari kearah kamar bercat Biru langit itu, meneliti kamar tersebut. Benar, tak ada manusia di sana, hanya ada sebuah foto Sasuke yang sangat besar tergantung indah di dinding di atas ranjang Hitam. Dan beberapa alat-alat elektronik seperti Televisi, Home teater, PS3, dan berbagai macam alet elektronik mewah lainnya. Itachi terlihat bingung, dia memanggil seorang pelayan perempuan yang sedang melintas didekatnya.

"Apa kau melihat Sasuke. Ayame?" Perempuan itu mengangguk cepat.

"Saya melihat tuan Sasuke pergi, saat ditanya mau kemana dia bilang mau pergi menghilangkan kebosanan." Itachi langsung menyambar kunci mobilnya.

"Kau mau kemana Itachi?" Mikoto bertanya dengan tampang bingung

"Menjemput Sasuke, aku yakin dia pasti ke bar." Itachi berlari menuruni tangga dan pergi entah kemana.

Malam itu Mikoto dan Naruto terlihat cemas menunggu kedatangan Sasuke dan Itachi, sudah pukul 22:43 malam. Tapi kedua anak nya itu tak kunjung pulang.

"Maafkan Sasuke Naruto. Karna dia kau harus pulang malam." Mikoto menatap Naruto dengan pandangan menyesal.

"Tak apa, aku akan menunggu Sasuke pulang bibi." Naruto menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Sambil menyengir kearah Mikoto

"Ehem..apa Sasuke bertemu dengan seorang perempuan saat di rumah mu?"

Naruto bingung. Seingatnya Sasuke memang banyak bertemu perempuan saat tinggal di rumahnya.

"Memangnya kenapa bibi?"

"Maaf Naruto, kelihatnnya Sasuke menyukai orang lain." Naruto melemas. Hatinya sangat hancur, bagai mana bisa Sasuke menyukai perempuan lain. Ck, apapun itu, sasuke laki-laki, jadi kalau dia menyukai perempuan pasti sangat wajar. Tapi saat ini perasaan Naruto campur aduk, Takut, marah dan cemburu. Dia menyesal sudah membuat Sasuke berpaling darinya. Ingin sekali dia menangis saat ini.

"Ap…apa benar bibi?" Naruto bertanya gugup. Walau bagai mana pun, Naruto sudah mencintai Sasuke, dia tak mau kehilangan Sasuke begitu saja.

"Iya, Sasuke selalu menggumam nama perempuan itu kalau sedang tidur, setiap mabuk pun dia selalu menyebut nama perempuan itu." What? Rasanya Naruto sudah benar-benar diliputi api cemburu, siapa perempuan yang membuat Sasuke tercintanya sangat tergila-gila begitu.

"Ano…bibi tahu namanya?" Mikoto tersenyum kearah pemuda pirang itu. dia tahu pemuda itu sebenarnya cemburu, tapi berusaha ditutupin.

"Hmm siapa ya..?" Mikoto sedikit berfikir, mengingat nama perempuan yang sering disebut-sebut anak bungsunya itu. "Namanya aneh, bobe…ah bukan lobe..bukan-bukan ah iya dobe.." Naruto salting, Mikoto tersenyum bangga karna berhasil mengingat nama perempuan itu.

'Itu kan nama yang sering di peruntukan untukku.' Batin Naruto. Walau terlihat mencongos, tapi perasaan Naruto sangat senang, karna Sasuke menyebut-nyebut namanya.

"Kau kenal perempuan itu Naru_chan?

"Iya..sangat kenal Bibi."

-BRUK-

Naruto dan Mikoto memandang pintu ruang tamu yang didobrak paksa oleh seseorang. Seorang pemuda yang sedang mnggotong pemuda lainnya.

"Itachi, kau dari mana. Kenapa Sasuke begini?" Mikoto menunjuk Sasuke yang terlihat sangat mabuk di gotongan Itachi. Itachi langsung mendudukan Sasuke di sofa terdekat. Naruto memandang Sasuke yang merancau tak jelas.

"Aku menemukannya di bar sedang mabuk seperti itu kaasan. Aku menariknya pulang." Itachi menunjuk kearah adik semata wayangnya itu.

"Engh…dobe….kenapa kau tak mendengarkan aku dulu….aku mencintaimu dobe..tolong maafkan aku, aku mohon datanglah dobe." Sasuke merancau, tak menghiraukan orang-orang yang menatapnya.

"Maaf Naruto, kelihatnnya adikku terbentur sesuatu." Itachi menenangkan perasaan pemuda pirang itu. dia tak mau menyakiti hati Naruto karna sang adik mencintai perempuan lain.

"Maafkan putraku Naruto." Mikoto terlihat menyesal. Naruto berjongkok di depan Sasuke, menggenggam tangan putih itu.

"Hei teme, aku sudah datang tahu, apa-apaan kau ini, pakai acara mabuk segala. Kau tahu aku kemari jauh-jauh, eh kau malah mabuk." Mikoto dan Itachi merasakan nada sedih di perkataan Naruto barusan.

"Kita bawa Sasuke kekamar saja." Itachi mengangkat Sasuke yang masih tak sadar itu kekamarnya, dibantu Naruto.

"Naruto, kau menginaplah, aku tak mau kau pulang larut begini. Nanti Kushina bisa marah kalau anaknya pulang selarut ini." Naruto mengangguk

"Kau tidur dikamar Sasuke saja. Lagi pula kau dan Sasuke kan suatu saat juga bakal sekamar." Naruto merona. Itachi terkekeh geli

(-^Thy^-)

Matahari pagi menyusup dari sela-sela kamar Sasuke, membuat pemuda pirang yang tertidur sambil duduk itu terbangun. Yah, Naruto tak bisa tidur dengan tenang di samping Sasuke kerna melihat kondisi orang yang dicintainya itu begitu terpuruk. Naruto mengangkat kepalanya menatap Sasuke yang masih tertidur dengan nyamannya di ranjang itu, sedangkan Naruto tidur dalam posisi duduk, itu supaya memudahkan Naruto untuk melihat perkembangan sang bungsu Uchiha itu. Naruto mengelus rambut hitam yang halus itu. tersenyum kearah pemuda yang sangat dirindukannya ini.

"Ohayo teme."

TOK..TOK..TOK..

Naruto bangkit dari duduknya , membukakan pintu kamar yang di ketok

"Naru_chan, ayo sarapan." Itachi tersenyum hangat kearah Naruto

"Baik." Naruto keluar dari kemar Sasuke.

"Apa dia belum bangun?" itachi bertanya kearah Naruto sambil menuruni tangga, Naruto mengagangguk lemah

"Naru_chan ayo sarapan dengan kami." Mikoto melambaikan tangan kearah Naruto, Naruto segera menuju meja makan yang sudah menunggu seorang perempuan paruh baya dan seorang laki-laki. Itachi menyuruh Naruto duduk di kursi di samping Itachi.

"Naruto, kenalkan ini ayahku." Itachi memperkenalkan laki-laki yang tersenyum kearah Naruto

"Hai Uzumaki, jadi kau anak itu, aku calon ayah mertua mu." Mendengar pernyataan laki-laki itu, Naruto merona. Dia menduduk dalam

"Nama saya Naruto paman, salam kenal." Naruto menyapa Fugaku dengan sopan

"Salam kenal juga. Apa Sasuke sudah bangun?"

"Belum paman."

"Begitu, maaf kan kelakuan anak ku itu ya."

"Iya paman."

"Aku akan coba bangunkan Sasuke, kau tunggu di sini." Itachi berdiri dan langsung berjalan santai kearah kamar Sasuke.

CEKLK

Itachi menatap adiknya yang terlihat nyaman dalam buaian mimpi. Sesekali sang adik menggumam nama seseorang' Dobe'. Itachi tak habis pikir, bagaimana bisa adiknya menolak pemuda semanis Naruto hanya karna seorang perempuan bernama aneh itu.

"Hei Sasuke bangun. Ayo sarapan." Itachi mengguncang-guncangkan tubuh sang adik, mata hitam itu akhirnya terbuka, menampakan keindahan langit malam tak berbintang.

"Kau..ukh..kepala ku." Sasuke mendudukan diri senyaman mungkin di ranjangnya. Itachi menatap adiknya.

"Kau tadi malam mabuk lagi. Menyusahkan aku dan Naruto saja." Mata hitam Sasuke membulat mendengar nama pemuda yang dicintainya itu disebut sang kakak.

"Naruto?"

"Iya, Uzumaki Naruto, dia yang merawatmu tahu, dia juga yang membantu aku membopongmu sampai ke kamar ini."

"Kau bercanda?" Sasuke terlihat tak percaya.

" Kau tak percaya? Sekarang saja dia lagi sarapan dengan kaasan dan tousan." Sasuke tak menyia-nyiakan waktu lagi. Dia segera turun dari ranjang dan berlari menuju ruang makan keluarganya. Tak menghiraukan pelayan-pelayang yang terjungkal karna ditabraknya.

Saat sampai di ruang makan, Sasuke membantu melihat sosok tersenyum yang sedang makan bersama kedua orang tuanya, sosok yang sangat lama dia rindukan itu.

"Sudah bangun Sasuke." Mikoto menyapa Sasuke. Naruto yang duduk menyampingi Sasuke langsung melempar pandang pada cowok emo itu.

"Kau?" Naruto tersenyum kearah Sasuke. Sasuke berjalan mendekati Naruto

"Ohayo teme.." Sasuke langsung memeluk Naruto yang masih terduduk di tempat. Mikoto dan Fugaku terkejut dengan apa yang dipandangnya. Sedangkan Itachi yang baru turun dari tangga langsung mendudukan diri di tempat semula. Baginya adegan mesra ini tak terlalu tabuh untuk di tonton, mengingat dia juga sering melakukannya dengan Deidara.

"Dobe, kau?" Sasuke tak tahu harus berkata apa, pelukan itu semakin mengerat. Mikoto dan Itachi tercengah ketika tahu nama dobe yang mereka kira perempuan itu adalah nama ejekan untuk sang Uzumaki.

"Teme, lepaskan aku, aku tak bisa napas.." Naruto berusaha melepaskan pelukan maut Sasuke

"Tidak." Sasuke semakin mempererat pelukannya

"Kau mau aku mati ya?" Pelukan Sasuke merenggang, bahkan terlepas. Dia menatap mata biru yang terlihat kelelahan itu. menarik oksigen sebanyak mungkin akibat Sasuke yang memeluknya sangat erat.

"Kalau kau pergi lagi, aku tak akan memaafkanmu. Dan kalau kau mati, aku juga ingin ikut. Aku tak mau kau tinggal lagi dobe." Seluruh keluarga Uchiha itu menganga mendengar pernyataan Sasuke barusan.

"Jangan seperti itu, aku bercanda Sasuke." Naruto berusaha menetralisir keadaan. Dia berdiri dan memeluk bungsu Uchiha itu. Sasuke terkejut dengan pelukan tiba-tiba itu.

"Aishiteru dobe." Sasuke berbisik ketelinga Naruto. Naruto merinding merasakan napas hangat Sasuke mengenai tengkuknya.

"Aishiteru too teme."

"Kelihatnnya pernikahan ini akan berjalan lancar, aku tak sabar melihat putra-putraku menikah." Naruto melepas pelukanya karna baru menyadari keberadaan manusia lain selain dia dan Sasuke.

(-^Thy^-)

Naruto sedang berbaring di pangkuan Sasuke. Sesekali Sasuke mengacak-acak rambut pirang Naruto.

"Woi teme, bagaimana kalau kita jalan-jalan." Sasuke memandang kebawa, tepat kearah mata biru yang juga memandangnya.

"Aku lagi tak berniat jalan-jalan.." Jawab Sasuke enggan

"Aku bosan terus-terusan di rumah teme." Naruto mendudukan dirinya, mata kelam Sasuke mengamati gerak-gerik si pirang miliknya itu. yah, sudah setahun Sasuke dan Naruto menikah, sekarang mereka tinggal di satu atap yang sama, menikmati liburan yang jarang mereka dapatkan.

"Aku lagi tak berniat untuk keluar." Naruto menggembungkan pipinya 'manis' batin Sasuke.

"Kau itu jarang sekali dapat liburan, sama dengan aku. Kita selalu sibuk dengan urusan masing-masing. Kau sibuk dengan perusahaanmu, dan aku sibuk dengan kerjaku." Naruto merengut kesal. Setelah menikah,dan tamat kuliah. Naruto di perbolehkan ayahnya untuk bekerja di perusahaan ayahnya itu sebagai wakil direktur. Sadangkan Sasuke, dia sibuk mengelolah perusahaan yang diberikan ayahnya di kota Konoha sebagai direktur utama. Kesibukan mereka membuat kedua pemuda yang saling mencintai itu jarang bertemu, walaupun bertemu paling waktu malam hari, atau pagi, sebelum mereka pergi bekerja.

"Aku ingin menghabiskan waktu ini hanya denganmu saja." Sasuke melingkarkan tangannya ke pinggang Naruto. Menggigit kecil tengkuk pemuda pirang itu, memperjelas tanda permainan mereka semalam. Naruto mengerang merasakan lidah Sasuke menelusuri bagian lehernya, Sasuke menghirup aroma lemon dari rambut Naruto. Membaunya, walau sudah beberapa kali Sasuke melakukan ini dengan Naruto tapi tak ada perasaan bosan di hati pemuda beriris mata hitam itu. Naruto mendesah saat tangan dingin Sasuke meraba masuk kedalam kemeja putih yang dia kenakan. Kepala belakang Naruto menyender pada bahu Sasuke, menikmati permainan tangan Sasuke di kedua tonjolan kecil yang sudah mengeras itu.

"Ngh…Sa…Sasuke.." Naruto ngerang

Sasuke menyeringai melihat dobe tercintanya itu larut dalam permainan mereka. Sasuke memegang dagu Naruto. Memutar kepala berambut kuning itu supaya berhadapan dengannya. Mencium bibir manis Naruto. Sesekali Sasuke menghisap bibir bawah Naruto memohon agar Naruto mau menbukakannya. Dengan senang hati Naruto membuka mulutnya agar lidah suaminya itu dapat masuk menelusuri rongga mulutnya. Lidah Sasuke dan Naruto saling bertarung, menentukan siapa yang menang. Sasuke yang menyandang predikat seme itu lah yang memenangkan pertarungan lidah itu. lidah Sasuke menjelajahi rongga hangat mulut Naruto. Ciuman panas itu berakhir, terlihat saliva yang menghubungkan antara mereka menipis dan kemudian putus.

"Ha..ha..kau ini, kenapa tiba-tiba menyerangku."

"Aku mencintaimu."

CUP

Sasuke mengecup ringan puncak kepala Naruto, dan kemudian menyelimuti tubuh mereka.

'Tak akan aku lepaskan kau dobe' Batin Sasuke

KEBOHONGAN YANG SELAMA INI AKU BENCI TERBUKA SUDAH. KOBOHONGAN ITU HANYA SEBUAH KESALAH PAHAMAN YANG BERBUAH MANIS. TAPI AKU BERI TAHU KALIAN SEMUA, APAPUN ITU, KEBOHONGAN TETAPLAH KEBOHONGAN, YANG SUATU SAAT NANTI AKAN MELUKAI PERASAAN SESEORANG…..

.

.

.

.

FIN

Akhirnya fict ini selesai juga walau dengan bertahap. Terima kasih untuk para Minna yang sudah merepyu fict ini dan membacanya sampai akhir. Mugi senang *peyuk semua* (^,^)..

Hehehehe…mugi bakal datang lagi dengan beberapa fict buatan Mugi *promosi*.

Yoooo mina..tolong di repyu dan kalau fict ini memang perlu di flame silahkan, asal yang membangun.

Maaf kalau penulisannya masih acak-acakan dan ada kata-kata yang janggal. Ini karna kompi mugi yang eror, dan karna mugi juga sih *pletak*.

Yooooosss…

REVIEW PLEASE ^^