Paparazzi!

Disc: Masashi Kishimoto

Rat: T

Pair: SasuNaru

Warn: Miss Typo, Yaoi/BL, Canon, OOC.

Terima kasih untuk para peng-review. Maaf jika apdet cerita ini begitu lama. m(_._)m. Pete sulit meng-apdet karena tugas kuliah yang menumpuk dan disaat liburan Pete malah jalan-jalan terus * digetok reader *. Oke, daripada berbanyak mulut, kita langsung saja pada cerita.

Selamat menikmati.


Derap kaki orang-orang yang berlari terus terdengar di sepanjang jalan pertokoan. Naruto yang merupakan seorang artis yang sedang naik daun dengan penuh ketakutan berlari menghindari para wartawan yang mengejarnya secara terus menerus. Baju kemejanya yang berwarna putih sudah basah oleh keringat, sedangkan rambutnya yang berwarna kuning yang bermodel spike menjadi sedikit turun karena keringat. Naruto melihat ke arah kiri dan kanan saat di persimpangan jalan untuk memilih jalan dan karena para wartawan dan paparazzi mulai mendekat. Dan akhirnya, dia memutuskan untuk masuk ke dalam jalan kecil yang menghubungkan jalan besar satu dengan jalan besar lainnya.

Pemilik mata onyx tersenyum tipis ketika melihat pemandangan di depannya. Rencana yang sudah disusun selama berhari-hari ternyata sesuai rencana, bahkan rencana tersebut sangatlah sukses. Meskipun keinginannya sudah tercapai, yaitu: membuat Naruto dikejar-kejar seperti ini, tetapi penyandang nama Sasuke Uchiha tersebut belum merasa senang seutuhnya karena acara puncak yang dinanti-nantinya belum tiba.

Lee yang merupakan sahabat Naruto sudah menanti Naruto dengan mobil yang sudah disiapkan di sampingnya. Selain Lee, Kiba dan Shikamaru pun sudah berada di dalam mobil dan berharap jika Naruto segera tiba, sehingga mereka bisa pergi membawa Naruto dari kejaran para karyawan secepat mungkin.

Sasuke memandang sahabat-sahabat Naruto yang menunggu Naruto dengan cemas. 'Lalat seperti mereka benar-benar harus disingkirkan,' pikir Sasuke sambil mengalihkan pandangannya ke arah Naruto kembali.

Akibat ulah Sasuke, jalanan yang dilewati Naruto menjadi macet dan ramai. Kali ini bukan saja para wartawan maupun paparazzi yang mengejar Naruto, tetapi fans Naruto yang begitu banyak pun ikut memeriahkan suasana. Sasuke pun dengan sekuat tenaga harus menahan tawanya karena kejadian yang tidak direncanakannya telah membantunya.

Pintu mobil pun terbuka lebar. Meskipun teman-teman Naruto sangat mengetahui jika parkir di depan papan aturan lalu-lintas yang bersimbol P dicoret merupakan tindakan tidak baik dan dapat terkena sangsi, mereka tidak peduli, karena yang terpenting bagi mereka adalah Naruto selamat dari kejaran para wartawan.

Naruto terus berlari dan sebentar lagi akan memasuki mobil kepunyaan temannya sebelum seseorang yang menaiki motor dengan kecepatan tinggi menembus kerumunan dan hampir membuat beberapa wartawan mati tertabrak mendekati Naruto. Orang tersebut dengan satu tangan menarik Naruto, dan membuat Naruto terduduk di kursi penumpang motor tersebut.

Lee dan teman-temannya dilanda kepanikan. Naruto ternyata begitu panik sehingga dengan seenaknya menaiki motor. Selain itu, dari bawah pohon Sasuke memandang tajam motor yang semakin menjauh membawa Naruto. Tangannya terkepal dengan sangat kuat. Diambilnya ponsel dari saku celana dan ditekannya tombol-tombol yang ada di ponselnya.

"Suigetsu, cepat kemari! Rencanaku berubah...," kata Sasuke, dan setelah itu Sasuke menutup ponselnya.

"Memangnya ada apa, Boss?" tanya Suigetsu sambil menyetir mobil kepunyaan Sasuke.

Sasuke menggertakkan giginya. "Ada orang yang membawa mangsaku. Sepertinya aku mengetahui kemana orang tersebut pergi."

"Baik, Boss!" Suigetsu segera memacu mobil Sasuke.

Sasuke mematikan ponselnya.

'Sial!" umpat Sasuke.


Naruto memandang ke arah belakang. Hatinya menjadi tenang karena dia telah berhasil lolos dari para wartawan. Tetapi, hatinya kembali tidak tenang setelah menyadari dia telah menaiki motor yang tidak diketahui siapa pengemudinya. Dengan perasaan gugup, Naruto menyentuh pengendara motor tersebut dengan jari telunjuknya. Dan beberapa saat kemudian, motor itupun berhenti di samping jalan yang dipepenuhi dengan pepohonan; jalan menuju pegunungan.

Naruto turun dari motor tersebut dan berdiri di samping pengendara motor tersebut. "Siapa kamu?" tanya Naruto.

Pengendara motor tersebut membuka helm-nya dan tersenyum tipis. Naruto menelan ludahnya, seseorang yang dia tidak perkirakan berdiri di depannya. Orang tersebut berambut hitam, dan tidak pernah menghentikan senyuman yang selalu dianggap Naruto adalah senyuman 'fake'.

"Kita kembali bertemu ya, Naru-chan?" kata Sai setelah membuka helm-nya.

Naruto mengangguk perlahan. Tidak menyukai senyuman Sai sedikit pun. "Terima kasih..," jawab Naruto datar.

Sai membuka matanya, dan memperlihatkan pandangan tajam terhadap Naruto. Tetapi pandangan tersebut menghilang seiring senyuman yang kembali datang. Naruto tidak merasakan rasa ingin berterima kasih pada orang di depannya ini walaupun dia telah menolong dirinya. Dia sangat mengetahui jika orang di depannya ini berbahaya, sama bahayanya seperti Uchiha Sasuke.

"Hapuslah senyuman mu itu...," kata Naruto.

Sai kembali menghilangkan senyuman dari bibirnya. Matanya memandang Naruto yang kini hanya berdiri di sampingnya sambil memandang dirinya. Wajah Naruto yang biasa terlihat ramah dan penuh keceriaan kini begitu serius.

"Memangnya ada apa dengan senyumanku, Naru-chan?" kata Sai.

"Kau tidak bisa menipuku, karena orang seperti diriku tidak akan pernah percaya pada orang yang selalu tersenyum, dan tidak ada emosi sedikit pun. Dan jangan panggil aku Naru-chan!"

Sebuah mobil melaju kencang dan berhenti di belakang motor Sai. Naruto sangat mengetahui siapa pemilik mobil tersebut. Sasuke Uchiha turun dari mobil. Matanya memandang Sai dengan pandangan galak, dan sinis. Naruto mendekati Sasuke, menarik kerah baju Sasuke dan mendorong Sasuke ke mobil.

"Uchiha Sasuke, jangan bermain-main dengan diriku!" teriak Sasuke.

Sasuke melupakan Sai, dan tersenyum a la Uchiha setelah melihat Naruto. Disingkirkannya tangan yang menggenggam kerahnya. "Siapa bilang aku bermain-main, Dobe?"

Naruto berancang-ancang akan memukul Sasuke, tetapi Sasuke menghindari pukulan Naruto, sehingga Naruto hampir terjatuh jika tidak menyanggah badannya pada mobil Sasuke. Setelah itu, Sasuke dengan secepat kilat akan menendang Naruto, tetapi Naruto menahan tendangan Sasuke dengan punggung tangannya. Pihak ketiga yang bernama Sai hanya bisa memandang kedua orang yang sedang berkelahi di depannya. Rasa cemburu dan ucapan Naruto terus merasuki hatinya. Sai segera menaiki motor dan meninggalkan Sasuke dan Naruto.

'Sebaiknya aku mendengarkan obrolan mereka dari tempat lain,' pikir Sai.

Sasuke menarik kakinya dan merapihkan kerahnya. "Aku tidak akan pernah segan-segan untuk memukulmu, Dobe. Meskipun kau seorang artis."

"Aku tidak butuh rasa kasihanmu, Teme! Dan jangan panggil aku Dobe."

Naruto mendekatkan wajahnya pada wajah Sasuke. Mata mereka saling bertatapan. Melihat mata berwarna biru, tiba-tiba jantung Sasuke menjadi berdebar-debar. Tetapi, bukan Uchiha jika tidak bisa menghilangkan emosi tersebut secepat mungkin. Sial, ada apa dengan diriku?

"Kau memang tangguh, Dobe! Apa kau akan setangguh ini jika aku memberitahukan orang tuamu telah di penjara?" Sasuke tersenyum tipis melihat Naruto yang membelalakkan mata.

"Kau! Siapa yang bilang orang tuaku di penjara? Mereka tidak di penjara! Gosip itu hanyalah bohong!" teriak Naruto.

Sasuke mengelus wajah Naruto. Matanya terus memandang wajah Naruto yang sedang penuh dengan ekspresi kesal dan marah. Melihat Naruto marah dan kesal, entah kenapa selalu membuat Uchiha bungsu ini senang dan puas. 'Aku benar-benar sudah gila,' pikir Sasuke. Sedangkan Naruto tidak berani bertidak kasar pada Sasuke, karena dia mengetahui jika salah sedikit saja bertindak maka orang-orang yang disayanginya akan terancam bahaya.

"Aku mempunyai banyak bukti, Dobe! Aku harap kau mau bekerja sama denganku."

Naruto menelan ludahya. Tangan Sasuke telah berhenti menyentuh wajahnya. Mata Sasuke kembali berkilat tajam, penuh dengan tatapan ambisius dan percaya diri yang tinggi. Percaya akan kemenangan yang sebentar lagi menghampirinya.

"Kau akan berjanji?" tanya Naruto.

Mendengar suara Naruto, Sasuke memejamkan matanya dan membuka matanya secara perlahan dengan senyuman yang kembali melebar. "Berjanji akan apa, Dobe?"

"Janji akan menyimpan rahasia ini, maksudku kau tidak akan membocorkannya jika aku ingin bekerja sama dengan dirimu?"

Bingo!

Sasuke memegang dagu Naruto dan menatap mata Naruto yang berwarna biru. "Jika masalahku selesai, aku tidak akan mengganggu kehidupanmu, Dobe! Aku berjanji...," kata Sasuke.

Naruto mengangguk dan menyingkirkan tangan Sasuke. Naruto segera berjalan menjauhi Sasuke. 'Sudah cukup,' Naruto menghela napas.

'Cukup! Cukup dengan Uchiha dan paparazzi lainnya.'

Setelah cukup jauh berjalan, mobil berwarna putih meluncur cepat dan melewati Naruto. 'Dasar Teme..,' pikir Naruto sambil menggelengkan kepala ketika melihat mobil tersebut menjauhi dirinya. 'Dan, oh iya? Kemana Sai?' pikir Naruto. Ah sudahlah! Dia mungkin sudah pulang ketika aku bertengkar dengan si Teme, tetapi kasihan juga, tadi aku begitu bersemangat untuk menghajar orang itu sehingga melupakan Sai.

Sasuke memandang kaca spion. Seseorang yang berambut kuning sedang berjalan di pinggir jalan dengan wajah cemberut membuat dirinya tersenyum kembali. Tanpa disadari oleh Sasuke, perasaan terhadap Naruto semakin membesar seiring dengan masalah-masalah Naruto yang terus disiapkan oleh dirinya. Selain itu, pikiran Sasuke selalu teralih pada penyandang nama Uzumaki tersebut.


Sai berdiri di depan seorang pria yang memiliki wajah pucat dan mata seperti ular yang baru saja bebas dari penjara. Wajah kejam dan licik tersirat di wajah orang tersebut. Sai mendekati orang tersebut dan mengangguk hormat. "Orochimaru-sama," kata Sai dengan suara yang penuh rasa hormat.

Orochimaru tersenyum sadis dan mendekati Sai, orang di depannya ini adalah orang yang bisa dipakainya untuk menghirup udara kebebasan secara maksimal, yang dimaksud maksimal di sini adalah, dia bisa melenyapkan atau membuat Sasuke Uchiha tunduk pada dirinya setelah bebas dari penjara. Setelah berjalan beberapa langkah disentuhnya pundak Sai dan membuat Sai sedikit bergidik karena tangan Orochimaru yang begitu dingin. "Bagaimana?"

Sai berjalan menjauhi Orochimaru. Diambilnya foto yang tersimpan di sakunya dan serahkan foto tersebut pada Orochimaru. Pemilik mata ular tersebut segera memandang foto-foto yang ada di tangannya. Wajah marah Naruto sambil memegang kerah baju Sasuke terlukis di foto tersebut.

"jadi?" tanya Orochimaru.

"Uzumaki menyetujui rencana Sasuke untuk menghancurkan keluarganya."

Sai berusaha menyimpan rahasia Naruto yang memiliki keluarga di penjara. Meskipun dia akan menerima akibatnya karena telah merahasiakan hal tersebut dari Orochimaru, tetap saja di dalam hati kecilnya Sai tidak mau menyakiti Naruto dan berusaha Naruto selamat dari incaran Orochimaru.

"Sepertinya ada yang kau rahasiakan?" Orochimaru mendekati Sai.

Sai tersenyum kecil. Dia menjadi seorang penipu dengan segala profesi yang bisa dia lakukan bukan karena apa-apa. Untuk membohongi Sasuke Uchiha saja begitu mudah bagi darinya, apa lagi untuk membohongi manusia ular di depannya ini?

"Tidak ada Orochimaru-sama. Jika ada berita lainnya, saya akan segera memberitahukannya pada anda."

Sai mengangguk hormat dan segera berjalan keluar kamar Orochimaru. Setelah menutup pintu kamar tersebut, Sai menghapus senyumannya dan memandang pintu yang di sampingnya. Wajah Naruto yang marah terhadap dirinya kembali terniang. 'Akulah yang harus mempermainkannya,' pikir Sai sambil meremas kaset yang ada di tangannya.

'Baik Uchiha dan manusia ular tersebut harus aku hilangkan terlebih dahulu.'


Keesokkan harinya, Naruto masih melingkarkan dirinya di dalam selimut. Badannya terasa pegal-pegal karena kemarin dia harus berjalan begitu jauh tanpa kendaraan sedikit pun. Meskipun mobil-mobil yang melewati dirinya menawarinya tumpangan, Naruto tidak sudi menaikinya karena dia sudah jera diculik untuk kesekian kalinya. Baru saja akan memejamkan matanya kembali, Iruka memasuki kamarnya dan menarik selimut Naruto.

"Bangun, Naruto! Di pagi yang cerah ini lebih baik kau berolahraga. Dan apa ini? Berita ini mengatakan kau telah dikejar-kejar para wartawan untuk dimintai keterangan hubunganmu dengan paparazzi jahat itu, dan selain itu, kau membuat suasana di tengah kota menjadi macet. Kau membuat jalanan menjadi macet? benarkah itu?" tanya Iruka dengan sedikit keheranan.

Naruto merubah posisinya menjadi duduk. Omelan Iruka tidak memungkinkan dirinya untuk tidur kembali. Dikucek matanya yang masih mengantuk, dan dipandangnya wajah Iruka yang terlihat sedang sangat marah. Naruto menghela napas.

"Itu bukan salahku...," jawab Naruto datar.

Iruka menaruh tumpukkan majalah di atas kasur. Dan Naruto memandang tumpukkan majalah yang terdapat wajah dirinya di cover majalah tersebut. "Apa ini? Kau sebut ini bukan salahmu?"

"Itu bu-"

"Itu salahku, akulah yang membuat masalah-masalah itu...," seseorang bersandar di pintu dan membuat Naruto dan Iruka merasa keheranan kenapa Sasuke bisa berada di tempat ini.

"Kenapa kau bisa berada di sini?" tanya Naruto dengan sedikit panik.

Sasuke tidak mendengarkan pertanyaan Naruto. Dia berjalan ke arah kasur yang diduduki oleh Naruto dan Iruka. Setelah itu, Sasuke mengambil salah satu majalah yang terdapat di atas kasur tersebut dan memandang majalah tersebut. Mata Iruka dan Naruto terus memandang Sasuke seolah-olah Sasuke akan menerkam mereka.

"Ini hanyalah berita sampah, tidak ada bandingannya dengan berita orang tuamu, bukankah begitu, Dobe?"

Iruka membelalakkan mata sambil memandang Naruto. Sedangkan Naruto melempar pandangannya pada arah kasur dengan selimut yang digenggamnya dengan sangat erat. Melihat kedua ekspresi tersebut adalah hadiah yang sangat bagus di pagi yang cerah ini bagi Sasuke. Pemilik mata onyx tersebut melempar majalah yang dipegangnya ke atas kasur dan berjalan ke arah jendela.

"Apa maumu, Teme?"

Sasuke tidak menjawab. Dia memandang halaman yang berada di luar jendela. Iruka mengerti jika Sasuke tidak akan membuka pembicaraan jika dia masih berada di kamar Naruto. Iruka mengelus rambut Naruto dan keluar dari kamar Naruto. Mendengar suara pintu kamar Naruto telah tertutup, Sasuke membalikkan badannya dan memandang Naruto.

"Apa kau sudah melupakan perjanjian kita, Dobe?"

Naruto terdiam. Sasuke mendekati Naruto dan melempar majalah-majalah tersebut ke atas lantai. "Untuk apa kau membeli sampah seperti ini?"

Naruto menelan ludah ketika melihat mata Sasuke yang begitu tajam. "Bukan aku yang membelinya, tapi Paman Iruka."

Sasuke memutar kedua bola matanya. "Untuk pertama-tama, aku ingin mengetahui apa yang diinginkan kakakmu darimu? Asal kau tahu saja, aku sudah bisa menduga apa yang diinginkan kakakku. Tapi aku hanya ingin memastikannya."

Naruto ragu untuk memberitahukannya pada Sasuke. Tetapi, dia mengetahui jika nasib kedua orang tuanya ada di tangannya. Naruto mencoba memikirkan penyelesaian masalah yang dia hadapi, tetapi ketika memandang wajah Sasuke, rasa gugup yang sempat menghilang kembali melanda dirinya. Orang di depannya benar-benar pengintimidasi yang sangat hebat; suara dan auranya bisa membuat Naruto merasa merinding.

"Kakakmu ingin kau bekerja sama dengan dirinya untuk mengembalikan dirimu pada keluarga Uchiha...," kata Naruto.

Sasuke tersenyum kecil, 'sudah aku duga.'

"Mhm.. kau ikuti saja keinginan dirinya."

Naruto mengerutkan keningnya. Pikiran Sasuke benar-benar sulit untuk dibaca. Dugaan Sasuke akan marah dan bertindak jahat kembali ternyata meleset. Orang di depannya seperti tersenyum penuh kemenangan dan memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi. Naruto menggelengkan kepalanya, dia menghilangkan rasa gugup pada dirinya. Mau bagaimanapun, Naruto tidak ingin terlihat lemah apalagi takut di depan Uchiha-Teme.

"Untuk apa aku mengikuti keinginannya?" tanya Naruto.

Sasuke menyentuh dagu Naruto. Untuk kesekian kalinya mata mereka saling bertatapan dengan jarak sangat dekat. Sasuke mendekati bibirnya ke lubang telinga Naruto, "menghancurkan seseorang dari dalam lebih mudah, Dobe. Dan... untuk kali ini, aku benar-benar sudah memutuskan benang merah antara kakakku dan dirimu, dengan kata lain, meskipun kalian dekat, tetapi ada jurang yang sangat dalam memisahkan kerja sama kalian berdua," kata Sasuke dengan bisikkan yang menimbulkan desahan yang mengenai lubang telinga Naruto, sehingga Naruto sedikit merinding dibuatnya.

"Kau benar-benar bukan manusia, Uchiha."

Sasuke mengangguk pelan, wangi rambut Naruto membuat dirinya sedikit terhanyut. Perasaan yang tidak dikehendakinya kembali muncul, dan secara tidak sadar Sasuke menjilat telinga Naruto dan membuat Naruto sedikit merinding.

"Itu adalah suatu pujian, Dobe...," suara Sasuke berubah menjadi serak karena emosi yang sedang dipendamnya.

Naruto berusaha tidak takut dan tidak mempedulikan perlakuan Sasuke pada dirinya. Dia adalah seorang aktor, dan hal seperti ini dia anggap sebagai permainan artis pada sebuah acara shooting per-film-an. Tetapi, Naruto sangat heran, kenapa Sasuke yang terkenal dingin dan tidak mengerti apa arti kata sayang bisa berbuat seperti ini.

"Apa yang akan aku lakukan setelah aku berhasil bekerja sama dengan kakakmu?"

Naruto dapat merasakan Sasuke senyum di lehernya. "Bunuh saja dia, dan selesai.

Naruto membelalakkan mata dan Sasuke dapat merasakan orang yang di depannya ini menjadi tegang. "Bercanda, Dobe..," kata Sasuke sambil menjauhkan dirinya dari Naruto.

"Aku akan memberitahukan dirimu jika rencana awal telah kau selesaikan dengan baik."

Naruto menggertakkan giginya. Tidak disangka jika dia dengan sangat mudah menjadi boneka Sasuke. Naruto mengepalkan tangannya dan di dorongnya Sasuke hingga Sasuke terjatuh ke atas kasur. Naruto duduk di atas badan Sasuke dan akan meninjunya sebelum Sasuke memegang tangannya dan tersenyum usil.

"Aku benar-benar membencimu...," kata Naruto dengan perasaan kesal.

Sasuke membalikkan posisi. Kini Naruto-lah yang terperangkap oleh dirinya. "Mau kau menghinaku sebagaimanapun, aku anggap itu adalah suatu pujian, Dobe. Asal kau tahu saja aku sudah kebal pada hinaan-hinaan yang dilontarkan oleh orang-orang."

"Dan...,"

Sasuke pun akan memukul Naruto sebelum Naruto menahan pukulan Sasuke dan tersenyum tipis. "Bukan kau saja yang bisa menghindari pukulan, Teme! Aku memang terlihat lemah di mata mu. Dan asal kau tahu...," Naruto menarik badan Sasuke dan menaruh bibirnya di telinga Sasuke.

"...Desahan mu pun bukanlah satu-satunya yang bisa membuat orang tergoda."

Jika Sasuke tidak segera menyingkirkan Naruto, pasti dia sudah kehilangan kendali. Sasuke segera berdiri dari kasur dan tanpa memandang Naruto dia merapihkan pakaiannya. "Aku tidak ingin tahu... lusa kau sudah harus menemui Itachi..," kata Sasuke, dan setelah itu, Sasuke pergi keluar kamar tanpa melihat Naruto.

Naruto tersenyum. Senyum yang hampir mirip dengan Sasuke-senyum jahat apabila sudah mengetahui rencana yang akan . "Uchiha..Uchiha... kau memang tahu bagaimana cara mengasuh seorang anak singa."

Naruto mengambil ponsel yang ada di sampingnya dan menaruh ponsel tersebut di telinganya ketika ponsel tersebut sudah mengeluarkan nada terhubung.

"Hallo, dengan Uchiha corp., disini, bisa saya bantu?" kata seseorang di seberang sana.

Naruto menghela napas. "Apa Itachi Uchiha ada, katakan pada beliau jika Uzumaki Naruto telah menghubunginya..."


Fugaku sedang berjalan di koridor kantor ketika anak sulungnya berlari dan berpapasan dengan dirinya. Itachi terdiam sejenak, dan begitu juga Fugaku. Mereka saling pandang, dan Itachi kembali berlari, seolah-olah tidak mempedulikan Fugaku.

Di tempat lain, Naruto meremas ponselnya. Ini sudah sangat keterlaluan bagi dirinya. Bekerja sama dengan Uchiha Sasuke merupakan hal paling gila yang pernah dia lakukan. Tetapi, di lain pihak, Naruto harus melakukan semua ini, demi orang tuanya, membuat hati seseorang terluka pun akan dia lakukan.

Naruto tersadar dari lamunannya. Sebuah ide pun muncul dari pikirannya. Senyuman merekah pun muncul dari bibirnya yang berwarna merah muda. "Benar, aku tidak boleh menyakiti siapapun... jika begini... aku harus berbuat sesuatu...," gumam Naruto sambil mengambil handuk dan memasuki kamar mandi.


Sasuke terdiam di dalam mobil. Napas Naruto yang mengenai telinganya masih terniang-niang di pikirannya. Sasuke menggeleng-gelengkan kepalanya, dan dia segera menyalakan mobilnya. 'Gila...,' pikir Sasuke sambil memacu mobilnya keluar halaman parkir-tempat tinggal Naruto berada.


Wangi kopi menyerbak ke seluruh penjuru ruangan kafe. Bunga-bunga yang menghiasi ruangan kafe menambah suasana menjadi lebih romantis dan nyaman. Seseorang yang memiliki rambut berwarna hitam dengan model dikuncir di belakang sedang menikmati kopi yang terletak di atas meja. Sedangkan di depannya terdapat seorang pemuda yang sedang memandang pria tersebut.

"Jadi, untuk apa kau mengundangku kemari?" tanya Itachi dengan senyum yang lembut, jauh berbeda dari senyuman adiknya, Sasuke Uchiha.

Naruto tersenyum kecil. "Aku ingin bekerja sama denganmu untuk membuat adikmu kembali pada keluarganya."

Itachi mengangguk perlahan. Dirinya merasa tidak yakin pada ucapan Naruto, tetapi di lain pihak pikiran Itachi jika Naruto bekerja sama dengan Sasuke sangat dibenarkannya. 'Untuk apa Naruto bekerja sama dengan orang yang telah mengerjai dirinya secara habis-habisan? Atau...' pikir Itachi yang ternyata si jenius yang sedikit polos.

"Kenapa kau tiba-tiba ingin bekerja sama dengan diriku?"

Mendengar pertanyaan Itachi, hampir saja Naruto tersedak kopi yang sedang diminumnya. Tetapi, Naruto segera berekpresi polos kembali dan menatap mata Itachi. "Aku membenci dia karena dia sungguh keterlaluan. Berita-berita yang dia sebarkan tentang diriku benar-benar murahan. Pertanyaanmu benar-benar murahan, Uchiha," kata Naruto dengan nada sinis, berharap jika Itachi mempercayainya.

Wajah Itachi berubah menjadi riang. Matanya pun penuh dengan harapan, harapan Sasuke akan kembali menjadi adiknya yang penurut dan penuh dengan kasih sayang. Melihat tatapan mata Itachi, perasaan Naruto menjadi tidak karuan. Rasa bersalah telah mendatanginya. Tetapi, Naruto berusaha memperlihatkan kemampuan acting-nya, yaitu: dengan wajahnya yang dibuat polos, Naruto membalas senyuman Itachi.

"Kalau begitu kita harus membicarakan langkah pertama kita."

Naruto mengangguk. Di tatapnya tangan Itachi yang sedang sibuk menulis sesuatu di secarik kertas. Beberapa saat kemudian, Itachi berhenti menulis dan menaruh kertas di depan Naruto.

"Apa ini?" tanya Naruto sambil membaca tulisan Itachi.

Membaca tulisan Itachi, Naruto mengangkat sebelah alisnya. Tidak disangka-sangka jika pikiran adik-kakaknya ini benar-benar sama. Baik Sasuke maupun Itachi hanya memerintahkan dirinya untuk mendekati lawan masing-masing.

"Aku harus mendekati Sasuke?" tanya Naruto.

Itachi-pun mengangguk dan pandangan halusnya kini berubah kembali menjadi penuh harapan.

"Bagaimana caranya?"

Itachi tersenyum tipis. "Kau adalah seorang artis bukan? Bagaimana jika kau menggunakan kemampuanmu?"

"Ke-kemampuanku?" Naruto membeo dengan nada terbata-bata.

"Yah, kau tahu sendiri kan maksudku? Tampaknya tipe sepertimu akan menjadi tipe adikku."

Mendengar perkataan Itachi, membuat Naruto sedikit berdebar-debar. Perlakuan kurang ajar Sasuke cukup membuat warna wajah Naruto menjadi merah. "Kau tahu bukan? Aku sangat membenci adikmu?"

Itachi tertawa keras, dan pengunjung yang lain langsung memandang ke arah Naruto dan Itachi. Melihat suasana menjadi canggung, Naruto sedikit risih dan berharap jika obrolan dirinya dan Itachi segera selesai.

"Kau berpikir adikmu tidak normal?" tanya Naruto dengan wajah heran dan penuh dengan ekspresi mengejek.

"Hahaha, kau tahu sendiri jawabannya. Melihat tatapannya terhadapmu saja, semua orang pasti dapat mengiranya."

Naruto memandang jendela yang di sampingnya. Dia berharap pikirannya tidak akan rusak seperti para Uchiha. Selain itu, kertas yang berada di tangannya kembali dibacanya dan wajahnya berubah pucat. 'Ternyata seluruh Uchiha memang berpikiran dan bersifat sama.' pikir Naruto sambil menggelengkan kepala.

Itachi memandang Naruto. 'Rupanya Sasuke sudah bisa mengikat bocah di depanku ini. Kau pikir kakakmu bodoh?' Itachi tertawa semakin keras.

Di saat yang sama, badan Sasuke yang sedang memantau seorang artis terkenal pun menjadi merinding. 'Aku seperti mendengar suara tawa kakak,' pikir Sasuke.

BERSAMBUNG


Bagaimana ceritanya? Dikit ya? Aduh idenya cuman baru sampai segini (dibakar reader). Oke, terima kasih sudah membaca. Seperti biasa, Pete berharap review dan maafnya jika ada salah dalam cerita Pete.

Salam hangat,

Pete.