luigi torelli
Hetalia – Axis Powers © Hidekaz Himaruya. penulis tidak mengambil keuntungan material apapun atas pembuatan karya; ditulis hanya untuk kesenangan. perhatian: ini adalah fiksi penggemar historikal; meski mengandung unsur sejarah, tetap ada aspek-aspek bersifat rekaan di dalamnya
Pairing/Character: Romano/Liechtenstein; OC!Roma, Hungary. Genre: Adventure/Family/Romance. Rating: T. Other notes: WWII!AU, Naval Army, Regia Marina.
(Francisco akhirnya mengatakan yang Lovino minta. Erika, di sisi lain, mulai keluar dari dunianya yang kecil ke realita yang gelap.)
Lovino mencari waktu ketika dia dan Francisco bisa satu ruang.
Tetapi waktu itu tak pernah muncul bahkan berhari-hari setelah dia mulai berlayar atas laut. Entah karena Francisco yang sengaja menghindar, atau faktor-faktor yang terjadi begitu saja: misalnya ketika dia harus dinas berjam-jam di meja kerjanya, di depan radio besar beserta satu rekannya si lugu dari Florence itu, dan Francisco sendiri sibuk sebagai ajudan Mayor.
Patroli sudah membutuhkan banyak jam kerja aktif di bagian komunikasi, terlebih lagi sekarang mereka telah dihadapkan pada satu misi baru: menyelusup di Selat Gibraltar dan menghindari Sekutu untuk mencapai Bordeaux. Dia tak bisa berlengah diri dan sibuk dengan urusan hidupnya saat Kapten terus memintanya menyampaikan pesan dan meminta balasan.
Ia hanya bisa menyumpah,
Awas kau nanti, Francisco.
Dia masih harus menahan hingga empat-lima hari berikutnya. Sepuluh hari lewat telah dia habiskan dengan mati-matian mengalihkan diri, sementara Francisco tampak tak pernah terganggu dengan utangnya setiap kali mereka bertemu mata saat makan bersama.
Dan di hari setelahnya, Lovino memutuskan untuk tidak melihat wajah lelaki itu lagi.
Akan kucari tahu sendiri nanti.
Erika berbalik dan mendapati punggung Erzsi. Wanita itu sudah tidur dengan selimut mencapai separuh kepalanya, rupanya, dan Erika mendadak merasa kesepian. Seandainya saja mereka langsung dikirim ke lapangan dan bukan diberikan istirahat dulu ... tetapi tidak akan terasa adil juga jika mereka diizinkan. Berjam-jam di dalam kereta memang melelahkan untuk kebanyakan orang, namun bagi Erika yang sedang benar-benar ingin menyibukkan diri untuk melupakan, pilihan kedua terdengar lebih menjanjikan ketenangan.
Dia melongok mencari tahu apa yang digenggam Erzsi, karena tampaknya wanita itu melakukannya dengan sangat kuat. Erika sempat melihat juga ia mencium sesuatu di dalam genggaman tangannya sebelum tidur.
Genggaman itu telah sedikit melonggar. Erika bisa melihatnya.
Sebuah gelang.
Lovino memaksa knop di hadapannya, berkali-kali tetapi pintu tetap macet. Dia bahkan mendorong-dorong daun pintunya dan memulasnya dengan keras. Tak ada hasil. Dia mendengus dan mendecih pada pintu.
Pintu toilet rusak lagi, untuk ketiga kalinya hari ini.
Lelaki itu berbalik dan mengangkat kerah baju ke hidungnya, yang membuatnya mendecih kesal lagi. Bau sekali. Boleh jadi dia tinggal di dalam air, tetapi bukan berarti bisa dengan mudah mengguyur tubuh mereka dengan rutin dua kali sehari. Air asin harus didistilasi lebih dulu sebelum digunakan, dan bukankah hal itu tidak termasuk keperluan utama perang? Maka acara mandi kru pun tidak termasuk di dalam daftar.
Lovino seharusnya bisa tidur. Jam piket jaganya baru berakhir dan dia harus menyimpan tenaga untuk jadwal pagi-pagi besok. Namun ia hanya duduk dengan tangan bertumpu pada lututnya. Menutup wajahnya.
Ruang sempit sudah mulai mencekiknya, menekan kepalanya dengan cara yang ia benci. Hampir satu minggu setelah terakhir kali dia melihat daratan Italia, hidupnya tidak terasa sama lagi. Rasanya benar-benar dikurung dan dihabisi pelan-pelan dengan kesepian.
Namun ketika dia memikirkan kembali apa yang membuatnya berada di sini, dia mencoba merebahkan diri. Menatap langit-langitnya yang merupakan dasar dari tempat tidur rekan sesama kru radio.
Dua hari lalu anak itu meminta bertukar dengannya, karena dia tak bisa tidur nyenyak lagi jika masih ada seseorang lagi di atasnya. Lovino mengutuk dalam hati—betapa alasan itu konyol dan murah—tetapi dia menyetujuinya saja tanpa banyak kata. Pada akhirnya dia merasakan bahwa kedua pilihan sebenarnya sama saja. Sama-sama sempit, sama-sama rendah, dan tidak ada kebebasan yang lebih daripada yang lain.
Memiringkan tubuhnya, Lovino mencoba tidur.
Gagal ketika pintu dibuka perlahan.
"Aku yakin kau belum tidur."
Erzsi jauh lebih tangkas daripada Erika. Erika mengikutinya dengan susah payah ketika sebuah rumah sakit telah tampak di depan mata. Mereka berdua berserta empat orang lainnya ditugaskan membantu ke sana, sementara sisanya tak Erika tahu pergi ke mana. Nama-nama tempat dalam bahasa Jerman terdengar begitu asing baginya, meski sebenarnya lidahnya diciptakan untuk bahasa tersebut.
"Sebelah sini," Erzsi mengarahkan sambil mengedikkan dagu.
Erika mengikuti. Tetapi di persimpangan koridor, Erzsi berhenti mendadak. Dia mengarahkan dua orang pertama untuk terus ke depan karena mereka mampu menjahit luka dengan baik—rumah sakit ini begitu kekurangan perawat untuk operasi kecil. Dua lainnya diarahkan ke kiri karena ada tiga orang warga sipil yang menderita sakit pes sebagai dampak peperangan. Mereka berdua lebih ahli dalam obat-obatan penyakit seperti itu, terang Erzsi.
"Jadi ... kita?" Erika bertanya ragu.
"Aku percaya padamu soal satu hal." Erzsi mulai berjalan pelan-pelan. "Bahwa kaubisa menangani anak-anak dengan baik."
"Erzsi juga suka anak-anak?"
"... Lumayan. Tapi kurasa kau akan lebih hebat mengurus mereka daripada aku. Namun walaupun begitu, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian," terangnya sambil melirik dan tersenyum kecil, "kau yang paling kecil di sini, dan maaf—bukan bermaksud mengataimu kurang berpengalaman ... kau benar-benar baru di sini dan benar-benar tidak etis jika aku membiarkanmu membiasakan dirimu sendiri tanpa bantuan."
Erika tidak menjawab lagi. Lorong rumah sakit menyempit dan aroma menusuk mulai tercium. Seperti ada obat-obatan yang bocor bercampur dengan bau luka yang tidak tertutup sempurna. Ruangan-ruangan tak berpintu, bangsal-bangsal yang beratap doyong dan berdinding penuh bercak karena basah tak kurang dari separuh. Lebih banyak lagi: cahaya matahari sangat tidak memadai di tempat itu. Pasien-pasien yang mengantri, di suatu ruangan yang cukup besar di persimpangan ketiga yang Erika temui, bercampur dengan orang-orang yang dirawat inap dengan tubuh penuh perban.
Jika menambahkan cerita tentang perawat, Erika kehabisan kata. Mereka semua sibuk dan melintas selalu dengan berlari. Beberapa bahkan harus menenangkan pasien yang tak sabar dengan wajah lelah mereka.
Jadi ... perang itu untuk apa?
Erika teringat wajah Lovino.
Lovi, tolong, jangan perbuat hal-hal yang berujung pada yang seperti ini ...
Dia mengepalkan tangan erat-erat mengingat misi Lovino dan perkiraan keadaannya sekarang. Sedang terlibat kombat langsungkah ia? Sedang berhadapan muka dengan mukakah dia dengan lawan? Atau dia baru saja menjatuhkan seorang pemuda—atau seorang ayah, atau barangkali seorang anak yang dirindukan ibunya?
Atau mungkin dialah yang dijatuhkan?
"Erika—hei, ada apa?" Erzsi tiba-tiba berhenti, Erika nyaris menabraknya.
Pipi Erika basah dan ia baru menyadarinya saat Erzsi mengerutkan kening. Lekas-lekas dia seka dan dia berjalan kembali, nyaris mendahului Erzsi. "Aku minta maaf. Aku tidak takut."
Erzsi meraih bahu Erika, "Tapi kalau kau takut kau bisa kuantar pul—"
"Tidak. Tidak perlu," tolak Erika halus sambil menggeleng dan sekali lagi memastikan tidak ada lagi tersisa airmata di sekeliling matanya. "Aku hanya teringat Lovino dan ... ini tidak ada hubungannya dengan tugasku. Aku ingin berjalan terus."
Erzsi mengembuskan napas sambil menggeleng. "Ayo."
Bangsal yang Erzsi maksud berada tepat di samping gudang besar berisi tumpukan kotak dan sebagian Erika kenali: kotak-kotak itu adalah kotak infus yang sama dengan yang ada di sudut ruang rawat sempit Nyonya Gabriella.
Di dalamnya, suara tangis anak-anaklah yang paling menyita perhatian. Erika menghitung sekilas dan ada tujuh belas anak di dalam bangsal yang melebar itu. Erszi langsung mendekati dua perawat yang berada di samping ranjang anak perempuan yang dibelit perban tebal kakinya. Erika membuntuti.
Perempuan itu berbicara dengan bahasa Jerman yang sangat cepat dan tak bisa Erika tangkap kecuali satu-dua kata per kalimat. Teman baru, sepertinya, lalu bantu, dan mengerti. Setelah mereka bertiga bertukar persetujuan dengan anggukan kepala, Erzsi berbalik pada Erika.
"Kebanyakan sudah ditangani. Namun mereka butuh orang untuk menenangkan anak-anak yang ..." Erszi menjeda untuk menelan ludah. "... sendirian. Mereka terus meminta orangtua mereka tapi ... begitulah. Ayo, sudahlah," katanya, lebih kepada mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia pun menarik siku Erika. "Ke sebelah sini. Anak di depan sana cukup parah ..."
Anak yang mereka hampiri perempuan, tetapi seluruh kepalanya tertutup perban berikut pula salah satu matanya. Bibir atasnya sobek dan sepertinya tidak ditangani dengan baik—atau terbuka kembali karena dia menangis terlalu kencang.
Erika berlutut di hadapannya. "Adik manis ..."
Anak itu tak merespons dan terus saja menangis. Dia menyebut-nyebut ibunya. Erika pun berdiri. "Apa kautahu di mana letak obat-obatan mereka?"
"Akan kutanyakan."
Erika hanya mengelus-elus kepala anak itu sambil duduk di tepian tempat tidurnya. Erzsi kemudian kembali dengan sebuah baki logam berisi peralatan dan perlengkapan yang bercampur, gunting-gunting bertumpuk dengan perban dan obat-obat keping bercampur dengan botol obat merah.
Erika mengambil obat merah dan menuangkannya ke atas kapas yang bersih. Erszi berkata dia akan mengurus yang lain, dan Erika pun mendekatkan anak itu ke rangkulannya.
Dia mengobati anak itu sambil memeganginya dengan lembut. Ketika itu dia berusaha keras untuk mencari kosakata yang pas. Ia tahu hal-hal yang harus ia katakan tetapi kepalanya penuh oleh hal-hal yang menghalangi.
Anak itu meronta dan memukuli lengan Erika. Erika melihat ke arah lain, mencari Erzsi, dan beruntung, wanita itu menoleh cepat, refleks karena tangisan anak itulah yang menjadi semakin keras di tengah kegaduhan.
"Bisakah aku minta tolong, Erzsi?"
"Ya. Butuh obat lain?"
"Tolong terjemahkan kata-kataku ... dia tidak mungkin mengerti bahasa Italia. Aku benar-benar bingung."
"Baiklah. Katakan saja."
Erika berkata lembut, "Adik yang pemberani, maukah kau mendengar suatu cerita tentang ibumu?"
Anak itu menjadi diam sejenak. Salah satu matanya yang sayu bergantian menatap Erzsi dan Erika—sedikit takut tetapi dia tak berontak karenanya.
"Ibumu sekarang berada di tempat orang-orang yang baik. Dia sangat senang di sana."
Ia tergugu. Erzsi berpandangan dengan Erika sekilas.
"Ibumu tidak bisa bersedih di sana, karena dia sudah tenang dan sangat menyukai tempatnya."
Anak itu perlahan merapat pada Erika. Ia masih terisak.
"Tetapi ada satu hal yang benar-benar bisa membuatnya sedih dan takut. Tahukah kau apa itu?"
"... Ibu ...," rengeknya parau.
"Dia sangat sedih ketika melihat kau bersedih. Dia sangat tidak ingin melihatnya. Kau tidak ingin, bukan, ibumu yang sudah tersenyum di sana, menjadi sedih lagi karena kau ketakutan dan menangis terus-menerus?"
Perempuan mungil itu diam dan menunduk. Erika membersihkan lukanya kemudian menempelkan kain kasa yang dilipat tebal pada bagian sana.
"Apa kita harus menjahitnya?" Erika mendongak pada Hungary.
"Nanti saja saat dia sudah agak tenang. Yang penting hindari infeksi dulu. Anak ini harus kita bujuk dulu, tetapi kalau dia ingin tidur sebentar—dia pasti capek karena menangis dan meronta terus—biarkan saja sementara ini. Kata yang lain, anak ini memang paling susah ditangani," ucapnya sambil melirik pada dua perawat lain yang sedang mengurusi masing-masing anak yang patah kakinya dan bocah tanggung yang sepertinya terkena pecahan ranjau.
Erika menatap anak yang sekarang kepalanya telah jatuh ke pangkuannya. Erika membelai sisi kepalanya. Kedua perawat itu sama-sama membiarkan anak itu terlelap dulu untuk berbicara kembali.
"Sebenarnya berapa bahasa yang kaukuasai, Erzsi?" Erika bertanya setengah berbisik, sembari meletakkan kepala si anak ke bantal dengan amat pelan.
Erzsi, yang duduk di sisi lain tempat tidur, terkikik, "Barangkali yang bisa diandalkan dariku semasa sekolah hanyalah bahasa. Walau aku sempat merasa gila karena pindah sana-sini—aku merasa hal itu ada untungnya untuk kuterapkan di saat-saat seperti ini."
"Sebenarnya ... kau berasal dari mana?"
"Hungaria. Hanya dua tahun di sana, sebelum ayahku pindah ke Genoa untuk menjadi buruh di pelabuhan. Ketika keluargaku mulai retak, aku ikut Bibi ke Jerman ... dan disekolahkan di sana. Bahasa Jerman membuatku ingin jungkir balik di kursi belajarku," Erzsi menahan tawa. "Beberapa tahun di sana, lalu kembali lagi ke Italia, hanya untuk menyaksikan keluargaku benar-benar hancur berantakan. Aku lari ke Jerman, pernah ikut ke Prancis juga—lalu kembali lagi ke Jerman lagi sampai aku menikah."
Erzsi adalah petualang, Erika sadar diri. Hidupnya yang terlalu sederhana dan hanya berpusat di gang kecil di pelosok Italia, tak sebanding sama sekali.
Namun suatu waktu Lovino pernah berkata padanya, mungkin dia belajar sendiri setelah mengalami depresi saat sekolah: semua orang mendapat jatah yang sama. Ada yang dimiliki seseorang yang tidak dimiliki yang lain—dan sebaliknya. Erika mencoba mengangguk bukan untuk memaklumi Erzsi sepenuhnya, hanya untuk meyakinkan dirinya.
"Tapi konyolnya, aku sama sekali tidak bisa berbahasa Hungaria, bahasa ibuku sendiri. Aku sudah benar-benar lupa."
Erika menatap Erzsi penuh harap kemudian. "Tolong ... ajari aku bahasa Jerman."
"Bestimmt, Erika!"
Erika mencoba menjahit luka di bagian atas bibir anak itu dengan bantuan seorang perawat lokal. Melalui Erzsi, didapat cerita bahwa anak itu sering menjadi korban kekerasan pamannya, dan akhirnya saat ibunya melarikan dirinya dari rumah keluarga, mereka menjadi korban perampokan orang-orang yang melarikan diri dari sebuah kampung yang miskin sebagai dampak perang. Ada juga yang bilang bahwa perampok itu adalah pelarian dari Perang Saudara di Spanyol tahun 1936 lalu.
"Erzsi pernah ke Spanyol?" tanya Erika, setelah perawat lain itu pergi, dan mereka sedang duduk-duduk sambil menyuapi seorang anak.
"Satu kali." Erzsi tersenyum. "Bersama suamiku, sebelum dia dinas militer. Orang-orang mengira kami berbulan madu di sana ... padahal sebenarnya kami ke sana untuk mencoba mencari pekerjaan. Suamiku punya teman orang Spanyol."
Erika memandang anak di hadapannya sejenak. Ia mengaduk bubur hambar di tangannya lagi, lalu menyuapkannya pelan-pelan. Ibu dari anak ini sedang terbaring sakit karena kolera, dan anak ini demam. Dia memang tak memanggil-manggil ibunya dengan cengeng, namun Erika sadar dia sangat bersedih, dari matanya yang kecil dan sendu.
Isi mangkuk habis. Erika pergi meninggalkan tempat itu, menaruh mangkuk di baki dekat pintu yang sudah diisi piring-piring kotor dan beberapa gelas. Ia mampir ke tempat tidur lain yang berisi seorang remaja tanggung yang memakai celana tentara. Erzsi membiarkan Erika agar bisa mendapatkan cerita tentangnya nanti, sementara menunggu ia mengeluarkan sebuah gelang dari dalam sakunya.
Diciumnya gelang itu, dia menghirup aromanya seolah sedang meresapkan rapalan nama berkali-kali ke dalam kepalanya—melakukan semuanya sambil menutup mata. Khidmat.
Cepat-cepat ia simpan kembali ketika Erika sudah selesai mengganti perban anak itu.
"Akhirnya kaudatang juga. Tcih. Aku tidak butuh ceritamu lagi." Lovino pun berbalik ke arah dinding logam. Ia memejamkan matanya rapat-rapat, hanya untuk menemukan warna aneh menghantui matanya. Ketika dia berbalik lagi dan membuka mata karena begitu terganggu akan dirinya sendiri, ia mendapati Francisco telah duduk di tempat tidur sebelah.
"Nama ibuku Magdalena Vargas."
Mata Lovino melebar dan ia langsung bangkit, menjumput kerah pakaian Francisco tanpa rasa hormat sedikit pun, "Kau bersekongkol membunuh Kakek?!"
"Lepaskan dulu," Francisco tetap tenang namun dia melibas tangan Lovino dengan kencang. "Kenapa aku harus membunuh seseorang yang juga kakekku sendiri?"
"Kakek, katamu?"
"Ibuku adalah anak dari sepupu kakekmu. Aku bertaruh, kakekmu tidak pernah menceritakan apapun tentang keluarganya selain tentang orangtuamu dan masa kecilmu bersama adikmu. Namun di lain sisi, kami sekeluarga tahu siapa kakekmu."
"Dia pemimpin faksi oposisi," cetus Lovino sambil membuang muka. "Aku tahu itu. Ya 'kan? Kaumau bilang hal itu, bukan? Sudahlah, cukup, aku tahu cerita itu. Tidak usah repot-repot membuang tenagamu untuk menceritakan seseorang yang sudah mati dan tidak bisa kubawa kembali ke sini."
"Kautahu alasan kakekmu dibunuh?"
"Sudah kubilang," bentak Lovino, "dia mati karena dia berseberangan dengan orang yang kalian banggakan di atas sana." Tangan Lovino mengacung-acung di udara. "Orang yang sedang memerintah Italia dan berharap kita bisa menjadi Kekaisaran Roma yang lama, cih, ketika semua prajurit tidak lagi naik kuda, kenapa malah berniat mengulangi masa lalu?!"
"Lalu apakah kautahu kakekmu sebenarnya juga sudah tahu kapan dia akan terbunuh?"
Bibir Lovino langsung terkatup diam.
"Dia tahu dia akan dihabisi sebentar lagi. Sebenarnya dia bisa pergi. Dia bisa melarikan diri bersama Lovino dan Feliciano Vargas kesayangannya. Lalu apakah kaubisa mengerti mengapa dia tidak melakukannya sama sekali, dan bertahan di tenda pengungsian dan menyerahkan nyawanya sendiri?"
"Sampah! Kenapa kau begitu berbelit-belit?!"
"Fabrizio Vargas mengadakan persetujuan dengan sebagian Kemeja Hitam, dan tidak pada sebagian yang lain, bahwa dia rela menyerahkan dirinya sendiri asalkan cucu-cucunya bisa dibiarkan aman dan mengejar impian mereka sendiri." Francisco berdiri lagi, menghadapi Lovino yang mematung dan memucat.
"Kautahu, semua anggota keluarganya, selalu memintanya untuk berhenti memikirkan ideologi-ideologinya tentang Italia tanpa Il Duce. Bukan karena mereka tidak setuju, tetapi mereka mengkhawatirkan kedua cucu yang sangat disayanginya itu. Dia masih ngotot melakukan gerakan rahasia bahkan setelah kalian masuk sekolah."
Lovino menggeleng impulsif. Francisco hanya tersenyum kecil. "Seluruh keluarga gagal meruntuhkan idealismenya. Sadarkah kau, pada akhirnya dia hanya bersedia menyerah pada keyakinannya karena dua orang?"
Kalimat barusan adalah penutup. Francisco berlalu di hadapan Lovino.
"Aku selalu merinding dan menggigil setiap kali mengunjungi tempat seperti ini." Erzsi memelankan langkahnya dan membiarkan perawat-perawat lain memasuki gerbang yang pucat dan terlihat amat kaku di depan sana terlebih dahulu. "Kamp telah menjadi suatu mimpi buruk bagiku."
"Memangnya ... ada banyak tempat yang seperti ini, Erzsi?"
"Banyak," Erzsi menjawab sambil mengangguk cepat tak karuan. "Yang pertama kali dibangun ... adalah sesaat setelah Hitler berkuasa. Aku pernah mengunjungi salah satu yang tertua. Keadaannya ... sudahlah. Kau bisa lihat sendiri nanti di dalam. Tolong, kuminta, jangan menyerah hanya karena berhadapan dengan tempat seperti ini, oke?"
Langit di atas Gurs tak begitu bersahabat. Sekeliling Erika adalah atmosfer yang membuat dia menciut. Ia melihat kotak-kotak yang beratap, bersusun rapi dan sama kelabunya dengan langit. Bagian-bagian yang panjang ada di belakang rumah-rumah yang berdiri di atas sepetak bagian tanah yang begitu sempit. Jalur-jalur antar barak sangat rapi hingga terlihat terlalu menjemukan dan menyeramkan di saat bersamaan.
Perjalanan yang membuat Erika tak bisa tidur dari perbatasan Jerman-Prancis ke barat daya Prancis seketika menghilang dari ingatannya, terlebih ketika dia menatap pengawas-pengawas bermata elang yang menyelidiki mereka dengan sangat tidak bersahabat.
Kepala tim perawat—tim yang sudah dikerucutkan karena pembagian tugas ini—mulai berbicara pada penjaga. Erika menunggu di barisan paling belakang bersama Erzsi, membuang rasa gugup dengan mengusap-usap lambang palang merahnya serta membenarkan letaknya berkali-kali.
"Tidak ada menara penjaganya," komentar Erzsi, matanya masih menyapu sekeliling.
"Menara ...?"
"Ya. Penjaga bersenjata biasanya berada di sana. Untuk menambah seramnya tempat ini, senjatanya diarahkan ke dalam."
"... Astaga ... Tuhan ..."
"Ya, tapi kurasa yang ini agak sedikit berbeda dari yang biasanya terdengar dari tempat-tempat lain terutama sekeliling Jerman. Lihatlah sekitar sini," dia mengedikkan dagunya dengan gerakan yang nyaris tak tampak. "Pagar kawatnya hanya kurang lebih dua meter. Mereka akan lebih beruntung jika kawatnya tidak dialiri listrik."
Lama tak ada respons, Erzsi menatap lawan bicaranya.
"Kau takut?"
Erika merapatkan bibirnya lalu menggeleng.
"Tenanglah. Aku juga takut di kali pertama kunjunganku. Aku bahkan menangis di malam harinya dan dilihat teman-temanku."
Penjaga memberi izin. Walaupun suaranya tegas, dia tidak memperlihatkan ancaman yang lebih mengerikan. Kelompok berisi tujuh orang itu pun masuk ke dalam.
"Tempat ini dekat dengan Samudra Atlantik, jadi sering hujan. Ya, berlumpur begini jadinya ..." Seorang wanita memandu jalan Erika dan Erzsi. Tubuhnya mungil, namun dia mengaku sebaya dengan Erszi. Arianna, namanya, dia memperkenalkan diri tanpa nama keluarga, mengaku sebagai seorang yang campuran Italia-Prancis-Spanyol. Lahir di daerah Pirenea, suatu area bernama Andorra, yang tak Erika kenali seperti apa rupanya. Berada di sini sejak beberapa hari lalu sebagai bagian dari Palang Merah juga, namun bekerja sendiri dengan sukarela karena dia sebelumnya tinggal di dekat sini.
"Apa tidak apa-apa kalau kalian kuminta memasak sementara seharusnya ... kalian mengobati orang-orang lain di sana?" tanyanya, mulai sedikit ragu hingga berhenti melangkah dan berbalik menghadap keduanya. Bahasa Italianya bercampur logat Prancis yang kental, tak Erika kenali di beberapa kata.
"Apa ada banyak orang sakit di sini?" Erzsi mencoba melirik ke kiri dan kanan sekilas. Tempat ini tidak seburuk yang dia kira, menurut firasatnya.
"Tidak juga. Tidak ada kasus luar biasa. Tetapi makanan sangat tidak memadai. Memang, warga sekitar diizinkan untuk masuk dan menjual bahan makanan, juga para wanita diperbolehkan menewa kuda atau kereta untuk pergi membeli bahan-bahan. Namun sayang sekali ... ada banyak mulut yang harus disuapi tiga kali sehari di tempat ini."
"Baiklah," sahut Erzsi. "Erika juga pandai memasak."
Arianna memandang Erika sebentar lalu tersenyum. "Senang mendengarnya."
Dari cerita Arianna, tempat ini luasnya dua puluh delapan hektar. Satu jalan membujur sepanjang area, ada tujuh blok dan enam blok di masing-masing sisi. Pagar ganda mengelilingi bagian blok, para penjaga berkeliling di sana. Erika menatap semuanya sembari mendengarkan cerita Arianna, membayangkan pengasingan yang menekan mental seperti ini.
Tidak, dia tidak ingin membayangkan dirinya masuk dalam lingkaran seperti itu. Dunia bukan hanya semakin sempit, tetapi pikiran semakin teracuni ketika kau dibedakan dengan cara yang kasar.
"Awalnya tempat ini digunakan untuk menampung orang-orang Spanyol yang melarikan diri dari Franco yang baru saja menang Perang Saudara. Bahkan bahasa mayoritas di sini adalah bahasa Spanyol."
"Lalu, Jerman langsung mengambil alih?"
"Tidak, Erzsi. Sempat ada waktu, setelah perang pecah, ketika pemerintah Prancis menaruh orang-orang Jerman dan siapapun yang berasal dari Blok Poros, bahkan kaum oposisi Prancis sendiri. Dan setelah penyerahan diri Prancis baru-baru ini ... aku yakin pemerintah Vichy yang pro-Jerman akan melakukan perubahan lagi dan membebaskan beberapa pihak."
Arianna berhenti sebentar karena kakinya terbenam di lumpur lembek. Erzsi akan menariknya namun dia berhasil meloloskan diri. Mereka bertukar senyum sesaat, sementara itu Erika masih tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sekitar. Termasuk bagian belakang, ke jejak mereka yang masih basah di atas tanah becek yang berlubang-lubang.
"Itu ..."
Erzsi dan Arianna menoleh bersamaan.
Sekelompok orang datang, diiringi oleh beberapa penjaga yang bersenjata.
"Begitulah. Tambahan lagi untuk kamp ini."
"Apa belakangan ini ada lebih banyak kelompok yang datang?" Erzsi masih sesekali menoleh.
"Tidak juga. Namun biarpun sedikit, bahan makanan tidak pernah bertambah dengan seharusnya. Sebelah sini," pandunya, melewati sebuah lubang berair yang cukup besar dan ia pun berbelok ke jalan yang lebih kecil menuju tempat yang ditunjuknya.
Erika sekali lagi menoleh ke belakang. Kelompok barusan tidak lagi terlihat. Ia mencoba menelan gumpalan besar di dalam kerongkongannya.
chapter 7: end.
a/n: kamp konsentrasi gurs, memang pernah ada. penjelasan dari arianna itu kuambil dari wikipedia; setelah riset singkat ke sana. dan btw, arianna itu juga oc. tahu negara andorra? arianna adalah personifikasi negara tersebut. belum ada di hetalia tapi kurasa memasukkan dia di sini adalah bukan ide yang buruk.
so, yeah, any two cents? thanks for those who have reviewed, favorited, and read also followed the story! i love y'all! xoxo
