Kakakku Sayang.
Omake.
.
.
.
"Solar?, Blaze?" Panggil Gempa yang baru saja membuka pintu rumahnya. Ia baru saja pulang dari menolong Taufan yang memintanya mencari sesuatu yang sulit dan hampir tidak masuk akal seperti semanggi berdaun empat dan batang daun teh yang bisa berdiri ketika diseduh. Menurut Taufan, ia sangat membutuhkan benda-benda itu untukkeberuntungan menghadapi ujian penerimaan mahasiswa. Gempa yang terlampau baik hati terlanjur mengiyakan permintaan konyol saudara kembarnya itu dan berputar-putar di sekitar Pulau Rintis hampir seharian untuk mencari keinginan Taufan.
Tentunya Gempa tidak bisa menemukan benda-benda yang diminta Taufan, kecuali semanggi berdaun empat. 'Aneh-aneh saja Taufan, koq percaya mitos begituan,' Begitu keluhnya sewaktu mencari-cari daun semanggi yang diinginkan seperti orang kesurupan di taman-taman di seluruh penjuru Pulau Rintis.
"Solar?, Blaze?" Panggil Taufan yang berada di belakang mengikuti Gempa.
Terlihatlah kedua saudara kembar Gempa dan Taufan yang dipanggil-panggil sedang tertidur di atas sofa ruang tengah.
"Tumben sekali mereka akur..." Komentar Gempa yang melihat Solar bersandar pada pundak Blaze. "Biasanya sudah macam kucing dengan anjing mereka berdua itu."
"Entahlah, mungkin mereka gencatan senjata?" Komentar Taufan sembari melangkah ke salah satu sudut ruang tengah. Terlihat ia mengambil sesuatu dari atas lantai yang langsung dimasukkan ke dalam sakunya, tanpa sepengetahuan Gempa.
"Baguslah... Aku setengah menduga kalau rumah bakal jadi kapal pecah... Tapi tumben-tumbenan si Solar cuma pakai singlet sama celana pendek saja..."
"Kepanasan, mungkin, cuaca memang terik kan?"
"Oh, sangat terik sekali memang... Dan kamu memaksaku memutari taman demi daun semanggi sialmu itu." Ketus Gempa sambil berjalan menuju dapur. 'Mungkin segelas air es bisa mendinginkan kepalaku.' Pikirnya.
Tak lama Halilintar menyusul pulang. Pemandangan akan Solar dan Blaze tertidur saling bersandaran membuatnya mengangkat sebelah alisnya. "Hm... Menarik." Gumamnya. "Taufan... Bagaimana rencanamu... Sukses?" Tanya sang kakak tertua dengan nada setengah berbisik.
"Sukses dong" Jawab Taufan dengan menyeringai sambil menepuk-nepuk saku celananya. Ia mengedipkan sebelah mata pada Halilintar "Nanti malam?"
Kedua alis Halilintar sedikit mengangkat, menunjukkan ketertarikannya akan hasil jahil Taufan. "Nanti malam." Ujarnya dengan sebuah anggukan kecil.
.
Dan pada malam harinya, setelah makan malam bersama selesai.
.
"Blaze..." Panggil Hallilintar pada adiknya yang sedang menonton TV.
"Ya Kak Hali?" Jawab Blaze dengan matanya yang masih melekat pada layar TV.
"Sini, ikut denganku sebentar... Ada yang mau kubicarakan denganmu."
"Apa sih kak ? Film nya lagi seru."
"Sekarang!" Dengus Halilintar dengan tatapan mata yang tajam. Tangannya mencengkeram pundak Blaze dengan kuat.
"Ah, iya, sekarang, Kak Hali." Blaze langsung berdiri tanpa membuang waktu. Dari cengkeraman kakaknya itu, ia bisa tahu bahwa apapun alasannya, panggilan sang kakak adalah serius.
Diikutinya sang kakak tertua menuju lantai dua rumahnya. "Eh? Kamar Solar dan Ice?" Tanya Blaze ketika Halilintar membuka sebuah pintu dan mempersilahkan adiknya untuk masuk. Di dalam kamar nampak Taufan dan Solar sedang mengobrol berduaan.
"Nah, Kak Hali dan Blaze sudah datang... Kunci pintunya ya." Ujar Taufan ketika Halilintar mengajak Blaze masuk ke dalam kamar.
"Kayaknya aku sudah tahu kak Taufan mau bicara apa nih." Solar angkat bicara ketika pintu dikunci oleh Halilintar.
"Iya kah? Coba mengenai apa, kalau kamu tahu, Sol?" Tanya Taufan dengan bibir gemetaran seperti menahan tertawa.
Solar memutar bola matanya keatas melihat gerak-gerik Taufan. "Pasti mengenai aku dan Blaze tadi siang, kan?"
Blaze terbelalak sambil menegok ke arah Solar, kemudian ke arah Taufan. "Kak Taufan tahu?"
"Hm..." Dengus Taufan sambil menggelengkan kepala. "Masa kamu ngga sadar sih Blaze, mendadak tadi siang kamu ngantuk? Mana pernah kamu ngantuk kalau siang begitu?"
Blaze cengo. "Hah... Iya ya?... Biasanya kan aku ngga pernah ketiduran siang-siang begitu."
"Yap, terima kasih Fang untuk obat tidurnya." Celetuk Taufan sembari mulai cekikikan.
Solar sweatdrop sementara Blaze menatap horror pada kakaknya.
"Kak Taufan... Memberiku... Obat tidur?" Tanya Blaze dengan tatapan tidak percaya.
"Yap, dosis kecil koq, makanya kamu masih bisa bangun waktu Solar menciummu."
Keringat mulai mengucur di sekujur badan Blaze yang masih terbungkus tanktop merah-hitam. "Darimana Kak Taufan tahu?".
"Tuh, lehermu." Kali ini Halilintar yang menjawab. Ditunjuknya berkas berwarna kebiruan pada pangkal leher si adik. "Lihat sendiri kalau ngga percaya...".
Blaze langsung berdiri dan berkaca pada sebuah cermin di sebuah lemari pakaian. "Apa ini?" Gumamnya ketika melihat berkas kebiruan pada pangkal lehernya sendiri.
"Itu tanda kepemilikan, Blaze... Artinya, kamu dan badanmu itu sekarang sudah di klaim oleh Solar" Halilintar menjelaskan. "Ngga percaya? Cocokkan saja dengan bibir Solar, pasti ukurannya sama."
"S.. Solar, kamu?" Blaze meneguk ludahnya.
Solar hanya mengangguk saja.
"Ka.. Kami hanya ciuman saja koq!. Ngga lebih dari itu!" Ujar Blaze membela diri sebelum dicecar berbagai pertanyaan dari kedua kakak tertuanya.
"Oh, kurasa lebih." Tanpa ijin, Taufan memasukkan sebuah flashdisk ke slot USB laptop milik solar. "Lihat sendiri."
Wajah Blaze memucat ketika sebuah video diputar pada laptop milik Solar itu. Karena tidak lain itu adalah video adegan panasnya dengan Solar siang tadi, lengkap dengan suara desahan, erangan, dan jeritann.
"Alamak... Bagaimana... Bisa... Terjadi?" Lirih Blaze dengan ekspresi muka ketakutan.
Jawaban Taufan simple saja. "Go Pro."
Sementara Solar?
"Wah, aku keren juga ya? Panas juga adeganku dengan Kak Blaze... Terbaik." Solar acung jempol, yang membuat seisi kamar sweatdrop, termasuk Halilintar yang juga cengo untuk pertama kali dalam hidupnya.
"Hali, gawat." Bisik Taufan langsung ke telinga Halilintar.
"Aku lupa kalau Solar narsis parah." Halilintar berbisik balik.
"Ini bukan narsis, Hali, tapi exhibisionist..."
Blaze tertunduk lesu, tak pernah terpikir olehnya ia akan masuk ke dalam perangkap yaoi tiga orang saudaranya, dimana tidak ada jalan untuk keluar. "Habislah aku." Lirih Blaze dengan pasrah.
.
.
.
-Terima kasih sudah membaca dan review-
-Special thanks untuk guest yang sudah mengkoreksi author-
