I DON'T NEED A MAN

.

.

.

.

.

KAISOO FANFICTION

.

.

.

.

BY KAISOOLOVERS

.

.

.

ORIGINAL IDEAS. DONT PLAGIAT. DLDR. GS. EXO. KAISOO. MAINSTREAM STORY

.

.

.

HAPPY READING

.

.

.

ENJOY

.

.

.

Aku yakin jika hari ini adalah hari tersialku. Baru saja tadi aku mengalami hal tak menyenangkan karena seseorang kini ia ada dihadapannya. Sebuah bencana untukku. Aku harus segera pergi.

"Chanyeol-ssi. Kami pamit dulu"

Chanyeol menoleh kearahku dengan wajah kecewanya.

"Kenapa?"

"Baekhyun besok masih harus sekolah. Kami tak bisa terlalu lama disini"

Aku mencoba mencari alasan yang sangat logis agar tak terlihat seperti ingin melarikan diri.

"Ayok eonnie. Aku sudah mengantuk" ucap adikku.

Aku bersyukur Baekhyun membantuku lari walaupun dia tak tau apa maksudku sebenarnya. Aku dan Baekhyun berdiri. Aku membungkukkan badanku singkat sebelum pergi. Baekhyun menarik tanganku tanpa mau berpamitan kepada Chanyeol.

Aku sempat melirik kearah orang itu yang ternyata dia menatapku juga. Aku merasakan langkah kakinya bergerak lebar. Tapi tarikan Baekhyun yang kuat membuatku segera menghilang dari sana. Dan kali ini aku selamat karena Baekhyun.

"Harusnya eonnie daritadi ngajak pulang" rajuk Baekhyun setelah kami sampai di apartemen.

Aku mengangkat sebelah alisku.

"Wae?" tanyaku.

"Aku malas bertemu ahjussi tadi. Dia seperti pedofil" ucap Baekhyun ngeri.

Aku terkekeh mendengarnya. Adikku ini terlalu berlebihan. Aku rasa Baekhyun sadar jika Chanyeol mempunyai ketertarikan kepadanya. Dan adikku merasa risih didekati Chanyeol.

"Sudahlah. Sekarang kembali ke kamarmu dan tidur saja" suruhku.

Baekhyun mengangguk kemudian mencium pipiku dan beranjak. Aku menghela nafas lelah. Sungguh aku ingin tidur pulas dan melupakan apa yang terjadi hari ini.

Aku beranjak menuju kamarku tapi deringan ponselku menahanku. Aku melirik layar ponselku dan tertera nomer asing disana. Aku mencoba mengabaikannya dengan menolak panggilan itu. Tapi panggilan itu kembali. Aku menolak untuk menjawab. Lama kelamaan aku dibuat jengkel dengan nomer asing ini. Tanpa basa-basi aku langsung menggeser tombol hijau dan menyembur marah.

"Maaf tolong jangan..."

"Aku diluar"

Perkataanku terpotong oleh suara dingin milik seorang namja yang tak ku kenal. Aku mengernyitkan dahiku.

"Nuguseyo?"

"Jangan memancing amarahku, miss Do. Buka pintumu!"

Aku terperanjat. Aku menjauhkan ponselku dari telingaku dan menatapnya lama kemudian aku melirik kearah pintu apartemenku. Aku kembali mendekatkan ponselku ke telinga hingga aku mendengar lagi suara itu.

"Aku hitung sampai tiga. Jika kau tak segera membukakan pintumu aku akan mendobrak pintumu" ancam orang itu.

Aku memandang pintu apartemenku. Aku masih bergulat dalam pikiranku akankah aku membuka pintu atau tidak. Tapi semua pemikiranku kacau saat aku mendengarnya mulai menghitung. Aku bergegas menuju pintu dengan ponsel yang masih berada ditelingaku. Dan aku berhasil membuka pintu pada hitungan ketiganya.

Aku melihatnya berdiri dengan angkuhnya dan tatapan tajamnya. Seakan tak senang dengan gerakan lambatku. Tapi kenapa? Disini aku adalah tuan rumah dan aku berhak tidak membuka pintu untuk tamu yang tak ku inginkan. Termasuk dia.

Kakiku refleks berjalan mundur saat ia mendekatiku. Aku seketika panik melihat dia menutup pintu apartemenku. Aku mencoba untuk meraih pintu agar tetap terbuka karena aku tak ingin membawanya masuk kedalam apartemenku lagi. Tidak setelah apa yang pernah ia lakukan disini.

Tanganku ditahan oleh tangannya. Pandangannya dalam dan kelam. Aku seakan terhisap kedalamnya. Tapi aku sudah berpegang teguh untuk tak akan pernah terpengaruh olehnya.

"Ada apa?" tanyaku kesal.

"Kenapa kau lari?" desisnya.

"Aku tak lari. Apa maksudmu?"

"Kau tau jika aku akan menghampirimu tapi kau langsung pergi begitu saja. Dan jangan mengelak jika kau tak melihatku. Kita bertatapan sebelum kau pergi"

Aku yakin ia sadar jika aku memang ingin menghindarinya. Tapi masa bodoh. Aku memang tak ingin berdekatan dengannya lagi.

"Lalu?" tantangku.

"Kenapa?"

Aku menghela nafas untuk kesekian kalinya. Haruskah aku mengatakannya lagi? Bukankah ia sudah meminta Jongin untuk tak mempermainkannya?

"Jika kau butuh wanita hanya untuk kesenanganmu, jawabannya bukan aku. Aku bukan wanita yang mudah kau taklukan dengan semua ide gilamu. Aku bukan wanita yang dengan mudahnya jatuh kepelukan orang brengsek sepertimu. Aku tau pria macam apa dirimu, Kim-ssi"

Aku menatap matanya lurus. Semua hal yang ingin aku sampaikan langsung tersalur begitu saja. Masa bodoh jika dia menganggapku mengharapkan sesuatu yang lebih darinya. Karena dari awal aku tak mau hal 'lebih' itu dengannya.

"Pulanglah" usirku.

"Tidak"

Aku memutar kedua bola mataku. Tak akan mudah mengusirnya.

"Sebenarnya apa maumu?" tanyaku berani.

Jujur aku sudah lelah mengahadapi pria ini.

"Kau. Aku ingin kau jadi milikku" jawabnya tegas.

Aku menaikkan salah satu alisku. Apa aku tak salah dengar? Seorang Kim Jongin menginginkanku? Ini pasti bercanda.

"Aku tak tertarik jadi milikmu. Pulanglah" usirku lagi.

"Ingatlah baik-baik, miss Do. Kau tak akan pernah bisa lari dariku. Aku tak akan melepaskanmu" bisiknya mengancam ditelingaku.

Tubuhku seketika kaku. Setiap kata yang diucapkan bagaikan kutukan untukku. Kutukan yang kuat melekat dan mengalir disetiap aliran darahku. Otakku langsung memproses tanda bahaya yang sangat besar. Dan entah kenapa aku jadi merinding karenanya.

Jongin mencuri sekilas ciuman dibibirku sebelum keluar dari apartemenku. Aku langsung mengerang kecil saat tubuhnya menghilang. Bagaimana aku bisa sebodoh ini masuk kedalam perangkap namja sepertinya. Aku mengutuki diriku berulang kali karena selalu terpengaruh dengan kata-katanya.

--:--

Dan mimpi buruk Kyungsoo dimulai. Setiap pagi dan siang selalu ada kiriman makanan maupun barang. Siapa lagi jika bukan Jongin yang mengirimnya. Kyungsoo sampai kualahan mengembalikan semua barang-barang itu.

Hingga suatu hari surat ancaman muncul. Jongin mengancam akan mendatangi kantor Kyungsoo dan melakukan sesuatu hal yang dapat membuat heboh seluruh kantor jika Kyungsoo mengembalikan semua barangnya. Dengan penuh pertimbangan akhirnya Kyungsoo tak pernah lagi mengembalikan barang-barang itu tapi tak juga menerimanya.

Kyungsoo tak bisa membayangkan apa yang akan dilakukan Jongin kepadanya. Jongin adalah orang yang sangat nekat dan setiap ucapannya akan menjadi kenyataan. Entah apa yang ada diotak namja itu hingga bisa mengancamnya seperti ini.

Kyungsoo melihat kearah tumpukan barang yang diberikan Jongin disudut ruangannya. Berbagai macam barang diberikan Jongin untuknya masih tergeletak disana tak tersentuh. Sudah sebulan Jongin mengirimkan berbagai barang itu. Tapi lelaki itu tak menampakkan dirinya lagi. Untung saja laporannya sudah selesai dan ia tak mempunyai kewajiban lagi dengan Kim Corp. Proyeknya sudah hampir selesai dan ia akan segera terbebas. Setidaknya itu yang dipikirkan Kyungsoo.

Minji masuk keruangan Kyungsoo setelah mengetuknya tiga kali. Minji melirik kearah tumpukan barang Kyungsoo yang semakin hari semakin banyak saja.

"Kau sudah menyiapkan daftarnya?" tanya Kyungsoo saat melihat Minji masuk.

"Sudah, bujangnim. Tapi apakah tidak apa-apa?" tanya Minji khawatir.

"Biar saja. Toh itu sudah diberikan kepadaku yang berarti milikku. Terserah aku akan melakukan seperti apa untuk barang-barang itu"

"Jumlah di daftar dan barangnya sesuai. Apa bujangnim mau membagikannya langsung?"

Kyungsoo menggeleng.

"Buat saja seperti undian dan bawa itu dikantin nanti. Aku ingin semua karyawan mendapatkan bagiannya"

Minji mengangguk.

"Kalau begitu saya akan meminta OB untuk mengangkatnya. Sebentar lagi jam makan siang"

"Terima kasih, Minji"

Minji keluar ruangan Kyungsoo. Kyungsoo menyandarkan punggungnya dan menghela nafas keras. Hidupnya tak akan pernah setenang dulu.

Tak lama kemudian Minji masuk keruang Kyungsoo diikuti beberapa OB yang siap membantu mengangkut barang-barang Kyungsoo. Kyungsoo memperhatikan semua barang itu diangkut. Akhirnya ruangannya menjadi lebih luas daripada sebelumnya.

Kyungsoo memerintahkan Minji untuk mengumpulkan semua karyawan di kantin. Kyungsoo melangkahkan kakinya menuju kantin dimana semua karyawan sudah bersiap makan siang.

Ditengah jalan, Kyungsoo bertemu dengan kepala bagian lainnya yang ingin makan siang.

"Oh..Do bujangnim. Ingin makan siang?"

Kyungsoo tersenyum.

"Jo bujangnim. Anda ingin makan siang bersama?"

"Tentu saja. Aku jarang bertemu denganmu walau kita satu kantor"

Jo bujangnim adalah kepala bagian keuangan. Beliau sangat disegani oleh semua pegawai. Parasnya yang tampan dan tingginya yang menjulang membuat pegawai wanita saling curi pandang kearahnya.

"Aku dengar kau mau bagi-bagi sesuatu?" tanya Jo bujangnim.

Kami berjalan beriringan menuju kantin.

"Hanya beberapa barang tak pernah aku pakai yang ingin aku bagikan"

"Apa itu hadiah dari seseorang yang selalu datang ke ruanganmu?"

Jo bujangnim tersenyum geli. Ia tau jika setiap harinya ada kiriman yang ditujukan ke Kyungsoo.

"Anda menyadarinya?"

Kyungsoo mencoba bergurau. Percuma juga ia menutupinya karena semua orang sudah tau. Jo bujangnim tertawa.

Sesampainya dikantin telah banyak karyawan yang mengantri makan. Bahkan beberapa dari mereka terlihat melirik kearah tumpukam barang yang ada disudut kantin. Minji sudah meminta beberapa karyawan mengambil satu buah gulungan kertas. Mereka masih bertanya-tanya untuk apa gulungan itu.

Kyungsoo mengambil sebuah gelas dan memukulnya pelan dengan garpu hingga terdengar dentingan yang cukup keras. Semua perhatian mulai terpusat kearah Kyungsoo. Kyungsoo tersenyum sekilas.

"Maaf sudah menganggu makan siang kalian. Apakah kalian semua sudah mendapatkan gulungan kertas? Tolong jangan dibuang. Setelah selesai makan siang kalian bisa menunjukkan gulungan kertas itu kepada Minji. Setiap gulungan kertas memiliki nomor dan itu akan menunjukkan barang mana yang akan kalian bawa pulang"

Kyungsoo menunjuk barang-barang yang ada disudut kantin. Seketika suasana menjadi riuh dengan sorak sorai. Kyungsoo tersenyum melihat antusiasme para karyawan.

"Tolong yang tertib. Semua akan mendapatkan hadiahnya"

Kyungsoo mempersilahkan karyawan lainnya untuk melanjutkan makan siang mereka. Kyungsoo yang hendak berjalan menuju meja yang sudah diduduki Jo bujangnim langsung tersentak saat ada yang membalikkan badannya.

Plak

Kepala Kyungsoo tertoleh karena tamparan keras dari seseorang. Semua mata kini tertuju lagi kearah Kyungsoo dan seseorang. Kyungsoo mencoba menstabilkan emosinya dan menatap pelaku penamparannya.

Didepan Kyungsoo berdiri seorang gadis dengan rambut panjangnya yang digerai. Wajahnya sangat kesal menatap Kyungsoo.

"Beraninya kau merebut tunanganku?!" sembur gadis itu.

"Anda siapa?" tanya Kyungsoo kalem.

"Kau tak mengenaliku?! Aku adalah tunangan dari Kim Jongin! Pemilik dari Kim Corp!" teriak gadis itu.

Kyungsoo sedikit tersentak. Tapi ia mencoba tak menampakkannya.

"Lalu hubungannya dengan saya apa?"

"Kau menggoda calon suamiku! Berani-beraninya wanita rendahan sepertimu mendekati calon suamiku!"

Kyungsoo tersinggung saat kata 'wanita rendahan' terlontar begitu saja dari mulut wanita itu.

"Saya beritahu satu hal. Saya tak pernah sekalipun menggoda tunangan anda. Saran saya jaga tunangan anda baik-baik. Saya pun tak ingin tunangan anda itu berurusan dengan saya"

Kyungsoo meninggalkan gadis itu dengan emosi yang meluap. Ia butuh sendiri. Rasanya baru kali ini ia dipermalukan didepan banyak orang. Harga dirinya terluka dengan tuduhan tak berdasar yang dilontarkan gadis itu.

"Yak! Aku belum selesai denganmu!" teriak gadis itu.

Tak lama beberapa penjaga keamanan mulai berdatangan dan mengusir gadis yang mengganggu itu. Untung saja Minji cepat tanggap dan langsung menghubungi keamanan sebelum semuanya lebih gaduh. Minji hendak menyusul bosnya tapi ditahan oleh Jo bujangnim.

"Biarkan dia sendiri, Minji"

Minji hanya bisa mengangguk pasrah sambil menatap pintu kantin dimana bosnya sudah menghilang.

--:--

Kyungsoo duduk termenung di meja kerjanya. Bekas tamparan itu masih terasa sakit dipipinya. Ia yakin ada warna merah yang berbekas. Kyungsoo menghela nafas lelah.

Ponsel Kyungsoo berdering. Ia lirik siapa yang menelepon. Kyungsoo menggeser tombol merah. Ia tak mau diganggu. Ia ingin sendiri. Ponselnya berdering lagi dengan menampilkan nama yang sama. Kyungsoo menolak panggilan itu dan langsung mematikan teleponnya.

Segala kerusuhan yang terjadi selama beberapa bulan ini menyiksannya. Hampir saja Kyungsoo kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada dirinya. Ia hanya cukup diam dan merilekskan dirinya. Ia tak ingin masa kelamnya terulang. Ia tak ingin menyakiti dirinya.

Telepon dimeja kerja Kyungsoo berbunyi. Kyungsoo mengangkatnya.

"Bujangnim" panggil Minji ragu.

"Ada telepon untuk anda" lanjut Minji.

"Dari siapa?"

"Tuan Kim dari Kim Corp"

"Aku tak mau menerima telepon dari siapapun hari ini. Dan tolong jangan ganggu aku dulu, Minji-ah"

Kyungsoo menutup teleponnya. Kepalanya berdenyut. Pening kembali menyerangnya. Lama-lama dia bisa gila jika terus seperti ini.

Kyungsoo mengambil tasnya dan ponselnya. Ia harus pergi meninggalkan kantor. Kyungsoo membuka pintu ruangannya dan membuat Minji terkejut.

"Bujangnim mau kemana?"

"Aku akan memantau dilapangan. Aku mematikan teleponku jadi tolong tangani dulu keadaan kantor selama aku pergi"

Kyungsoo langsung bergegas meninggalkan kantor. Alasannya meninggalkan kantor tidak ia buat-buat. Kyungsoo memang berencana ingin memantau proyek yang ada di Busan dalam waktu dekat. Hanya saja ia masih belum menemukan waktu yang tepat. Dan sekarang adalah waktunya. Sekalian ia ingin menghindar dari hiruk pikuk Seoul.

Kyungsoo membawa mobilnya kembali ke apartemen. Ia harus menyiapkan bajunya dulu sebelum pergi. Dan juga ia harus memberitahu Baekhyun terlebih dahulu sebelum pergi.

Setibanya di apartemen Kyungsoo langsung membereskan baju-bajunya. Ia tak akan lama tinggal disana. Kyungsoo tak bisa meninggalkan Baekhyun sendirian terlalu lama. Walaupun Baekhyun sudah mandiri dan bisa mengurus semua sendiri tapi Kyungsoo tak tega meninggalkan Baekhyun.

Setelah selesai beberes Kyungsoo meninggalkan sebuah note untuk Baekhyun. Berhubung ini masih siang dan Baekhyun masih ada disekolah jadi ia hanya bisa meninggalkan sebuah note. Ia akan menghubungi Baekhyun nanti jika sudah sampai disana.

Kyungsoo langsung pergi setelah selesai dengan persiapannya. Ia memutuskan untuk membawa mobilnya sendiri dibandingkan harus menaiki transportasi umum. Walaupun melelahkan karena perjalanan jauh Kyungsoo akan tetap melakoninya.

--:--

Akhir-akhir ini Jongin sangat mudah tersenyum. Kebiasaan barunya memberikan sensasi aneh pada tubuhnya. Setelah percakapan dengan Kyungsoo kala itu membuat tekatnya semakin bulat untuk mendapatkan si mata bulat. Jongin sangat suka dengan reaksi yang diberikan Kyungsoo kepadanya.

Awalnya Jongin menikmati saat Kyungsoo mengembalikan semua barang pemberiannya. Tapi lama kelamaan ia merasa jengkel. Hingga akhirnya ia mengancam Kyungsoo agar menerima semua pemberiannya. Dan benar saja, Kyungsoo langsung menerimanya. Jongin merasa tertantang untuk menaklukan Kyungsoo. Pemberontakan gadis itu menimbulkan gejolak aneh dalam dirinya.

Tak pernah sekalipun seorang wanita menolaknya. Mereka akan dengan ikhlas melakukan apa saja untuknya. Tapi Kyungsoo bahkan ingin menjauhinya bahkan berpura-pura tak mengenalnya. Hal baru untuk Jongin. Dan apa yang Jongin inginkan harus ia dapatkan. Entah bagaimana caranya yang jelas ia bukan orang yang mudah menyerah.

Daehyun masuk keruangan Jongin dengan tergopoh-gopoh. Jongin yang melihatnya menatap Daehyun heran. Daehyun mengambil nafas sebanyak-banyaknya sebelum berbicara.

"Ada apa?" tanya Jongin.

"Sajangnim. Tunangan anda..."

"Tunangan?" potong Jongin.

"Maksud saya mantan tunangan anda kembali ke Korea"

"Lalu?"

"Dari yang saya dengar ia menuju Lee Construction dimana nona Kyungsoo bekerja"

Jongin termenung. Ada yang tidak beres disini. Kenapa tiba-tiba saja wanita itu kembali dan menuju ke kantor Kyungsoo? Seolma...

Jongin meraih ponselnya dan langsung menelepon Kyungsoo. Tapi panggilannya selalu ditolak oleh Kyungsoo. Jongin menggeram marah dan mencoba menghubungi Kyungsoo lagi. Sama sekali tak ada jawaban. Saat mencoba kembali ternyata ponsel Kyungsoo sudah mati.

Jongin membanting ponselnya hingga pecah. Daehyun berjingit kaget melihat reaksi Jongin. Ia menatap takut bosnya yang mengeluarkan aura dinginnya.

"Sambungkan aku ke kantor Kyungsoo!" perintah Jongin.

Daehyun langsung mengambil telepon yang ada dimeja kerja Jongin dan menelepon kantor Lee Construction. Jongin memperhatikan Daehyun yang sedang berbicara. Ia menatap serius setiap apa yang dilontarkan Daehyun.

Daehyun melirik takut kearah Jongin. Ia merasa dirinya akan mati setelah ini jika tak dapat menyambungkan dengan Kyungsoo. Dan sebuah hantaman keras saat PA Kyungsoo mengatakan jika ia tak ingin diganggu. Dengan perlahan Daehyun menurunkan ganggang telepon itu sambil melirik takut.

"Nona Kyungsoo tidak ingin diganggu, sajangnim" ucap Daehyun gemetar.

Jongin menatap Daehyun tajam. Amarahnya tiba-tiba menguasainya. Ia harus mencari cara untuk menemui Kyungsoo. Pasti terjadi sesuatu disana.

"Cari tau apa yang wanita itu lakukan. Dan cari tau keberadaan Kyungsoo!" perintah Jongin.

"Ne, sajangnim"

Daehyun berlalu meninggalkan Jongin. Jongin mengepalkan tangannya erat. Baru saja ia melancarkan aksinya untuk mendekati Kyungsoo tapi sekarang rencana itu dihancurkan oleh wanita bodoh yang disebut mantan tunangannya itu.

"Yeoja sialan! Aku tak akan tinggal diam jika kau menyakiti Kyungsoo" geram Jongin.

20.06.17

Uwaaa...aneh kah?? maksa kah?? kalian sadis. Gegara respon di wattpad dan ffn luar biasa aku langsung ngebut bikin chap ini.

Jadi??? Siapa wanita itu??? Akhirnya ada penganggu ya, hahaha. Dari kemarin si Jongin seneng-seneng aja gangguin Kyungsoo. Sekarang dibalik ah, hahaha.

Banyak yang bilang pendek. Tapi mian, aku ga bisa nulis panjang-panjang. Pendek ga papa kan asal update cepet? Kkkkk

REVIEW JUSEYO~~~