Gadisku

Disclaimer: Selalu berharap Naruto dkk itu punya saia hehehe

Pairing: SasuFemNaru

Rated: T aja deh

A/N: Chapter 7 datang… Typo(s), kacau, gaje, dan kesalahan-kesalahan yang tidak pernah disengaja lainnya

Hannia Fujisaki Present

.

.

.

Enjoy ^O^

.

.

.

"Niichan!"

Naru memeluk erat seorang pemuda yang baru saja memasuki kamarnya. Nyaris saja, bunga mawar yang dibawa pemuda tampan itu terjatuh, akibat pelukan maut Naru. Namun, pemuda itu dapat mempertahankan bunga mawar yang dibawanya. Pemuda tampan itu tersenyum, lalu mengusap rambut pirang Naru dengan lembut. Ya, sudah lama juga dia tidak mengusap rambut pirang itu. Mata biru pemuda itu terpejam, merasakan pelukan erat adiknya. Mengingat, bagaimana dulu, untuk pertama kalinya dia bertemu dengan gadis yang kini memeluknya.

Flashback (on)

Tok-tok-tok

Pemuda yang berusia 19 tahun membuka pintu kamarnya. Rambut orange kemerahannya dia acak sekilas, lalu menatap sang Kakek yang merupakan pelaku yang mengganggu tidur siangnya itu.

"Mereka sudah datang," ucap sang kakek dengan santai, tidak memperdulikan tatapan protes sang cucu di depannya. Rambut cucu pertamanya ini benar-benar mirip dengan menantunya.

"Setelah 16 tahun, mereka baru ke sini? Ck, dasar orang tua."

"Kau tidak boleh berkata begitu. Ada alasan kenapa mereka tidak membawamu ke Jepang," jawab Jiraiya, kakek pemuda tersebut.

"Ya, ya, aku tahu. Agar aku bisa dididik dari kecil sebagai penerus mereka. Agar bisa diandalkan, dan mandiri hidup tanpa orangtua," balas pemuda berambut orange kemerahan itu dengan malas. Pemuda itu menutup pintu kamarnya, lalu mulai berjalan menjauhi kamar, "hei kakek, kau mau diam di sana?" Ujarnya, lalu berjalan menuruni tangga.

Pemuda tampan itu terus berjalan, dia akan menemui orangtuanya yang saat dirinya berusia 3 tahun, pergi meninggalkannya begitu saja. Saat beberapa bulan kemudian, dia diberi kabar kalau ibunya kembali mengandung. Itu artinya, dia akan memiliki seorang adik. Seorang bocah yang berusia 3 tahun diberi kabar akan memiliki seorang adik, kau tahu bagaimana rasanya bukan? Sangat senang. Namun, dia sedih, karena dia tidak bisa menemani ibunya saat mengandung sang adik. Serta, dia juga sedih ketika kelak adiknya itu lahir. Sedih, karena dia tahu adiknya jauh lebih beruntung daripada dirinya. Ya, adiknya akan merasakan kasih sayang ayah dan ibu dengan utuh dan secara langsung, tidak seperti dirinya.

Dua tahun kemudian, saat usianya lima tahun, orangtuanya datang, bersama adiknya. Mereka datang hanya untuk menengoknya, bukan untuk mengajaknya ikut. Rasa cemburu sempat hinggap dihatinya, dan entah kenapa dia membenci adik perempuannya itu.

Masa kuliahpun tiba, dan tahun ini terakhir dia kuliah. Kegiatan skripsi sudah di depan mata. Beberapa hari yang lalu, dia mendengar kabar kalau orangtuanya akan pindah ke negara ini. Rasa senang sempat menghinggapi hatinya, namun, hanya sesaat. Baginya, hal itu sudah terlambat. Toh sekarang umurnya sudah 19 tahun, dia sudah tidak memerlukan lagi kasih sayang dari ayah dan ibunya itu. Ya, walaupun selama ini orangtuanya memberi kasih sayang padanya, namun kasih sayang secara tidak langsung. Hanya melalui telepon, video call atau hadiah ulang tahun yang dikirim untuknya setiap tahun. Tapi, jujur saja, bukan hal itu yang dia mau saat usianya belum seperti sekarang. Melainkan, kasih sayang secara langsung. Dibesarkan dan dirawat oleh ayah dan ibunya, seperti adik perempuannya yang kini telah berusia 15 tahun.

Grepp!

Sebuah pelukan erat diterima pemuda berambut orange kemerahan itu ketika dia sampai di pintu ruangan utama. Rambut merah terlihat oleh sudut matanya. Sang ibu, kini memeluknya dengan erat. Terdengar isakan lembut keluar dari bibir ibunya. Ibunya yang dia rindukan selama ini.

Tangan pemuda tampan itu terangkat, lalu balas memeluk wanita cantik berambut merah itu. Sudah lama dia ingin memeluk wanita yang telah melahirkannya itu.

"Kaasan…" Ucapnya lirih dan pelan, ah sudah lama juga dia ingin mengatakan kata ini. Mata birunya menangkap seorang laki-laki tampan berambut pirang, yang sedang berdiri bersama seorang gadis manis dengan rambut yang sama. Laki-laki itu tersenyum lembut padanya.

Kushina Uzumaki melepaskan pelukannya, lalu dia mengusap matanya yang sedikit berair.

"Kau sudah sebesar ini, Kyu," ucapnya pada pemuda di depannya. Tangan mulusnya mengusap pipi anak pertamanya itu, Namikaze Kyuubi.

Pemuda itu tersenyum, lalu dia memperhatikan gadis yang berdiri di samping ayahnya. Dia tidak percaya, dulu gadis kecil berusia dua tahun yang datang menengoknya, kini telah menjelma menjadi gadis manis dengan rambut pirang terurai.

"Apa dia…adikku itu, Kaasan?" Tanya Kyuubi ragu.

"Iya, dia adikmu itu. Dia akan melanjutkan SMA di sini," jawab Kushina lembut. Tangan wanita itu sedikit mendorong punggung puteranya untuk mendekati suami dan puterinya, "sapalah mereka," ucapnya lembut.

Minato,putera tunggal pasangan Jiraiya dan Tsunade itu memeluk sekilas anak sulungnya itu, "jangan canggung, kita sering mengobrol bukan? Walaupun hanya lewat telepon," katanya sambil menepuk bahu Kyuubi.

Kyuubi hanya memberikan cengiran khasnya, lalu pemuda itu memandang adik perempuannya. Adik perempuannya itu terlihat menggenggam erat tangan ayahnya, sepertinya sedikit takut. Tangan kyuubi terangkat, lalu mengacak pelan rambut pirang gadis di depannya.

"Tidak usah takut, aku kakakmu," ucapnya sambil tersenyum lembut. Dulu, dia sempat membenci adiknya itu. Namun sekarang, perasaan itu tergantikan oleh perasaan ingin melindungi. Ya, karena dia adalah putera sulung Namikaze. Penerus, serta pelindung puteri Namikaze. Kewajiban seorang kakak bukan? Untuk melindungi adik kecilnya.

Flashback (off)

Naru melepas pelukannya, lalu gadis manis itu menarik kakaknya untuk duduk. "Kenapa Nii tidak bilang dulu mau ke Jepang?"

"Aku hanya mampir saja, Naru-chan," jawab Kyu santai, matanya melihat sekeliling. Tak ada yang berubah dari kamar adiknya itu. "Nii sebenarnya dari China, ada urusan kantor. Karena ingat adik kecil Nii ini, jadi, nii mampir," lanjut Kyu, lalu tangannya mencubit pipi tembem Naru. "Jangan sering sakit, ok?"

.

.

"Selamat siang, Sasuke-sama."

Sebuah sura membuat langkah Sasuke terhenti, ketika pemuda itu baru memasuki rumahnya. Pemuda itu menolehkan kepalanya ke sumber suara, bukan suara Iruka, Sasuke tahu suara siapa ini. Suara tangan kanan ayahnya dulu, sebelum ditukar dengan Iruka.

"Lama tidak berjumpa," ucap si pemilik suara ketika Sasuke menoleh ke arahnya, menatap dirinya.

"Hn," balas Sasuke singkat pada Hatake Kakashi. Jika ada Kakashi, itu artinya…. Tuan Muda Namikaze-Uzumaki berada di sini.

Seolah mengerti apa yang dipikirkan oleh Sasuke, Kakashi kembali bersuara, "Tuan sedang bersama dengan Tunangan anda," katanya sopan.

Sasuke hanya bisa menatap tangga menuju kamar gadis tercintanya itu. Ya, untuk saat ini, biarkan Naru bersama kakaknya.

.

.

"Hah.." Kyuubi menghela napas, pemuda itu melirik calon adik iparnya yang berdiri di sampingnya.

"Katakan saja, apa yang ingin kau katakan," ucap Sasuke tanpa menoleh calon kakak iparnya itu. Pemuda berambut raven itu bingung, harus bersikap bagaimana pada Kyuubi.

Mereka baru bertemu dua kali dengan saat ini, yang pertama saat pemakaman Minato dan Kushina. Mereka tidak banyak bicara saat itu, saat itu, Kyuubi hanya meminta Sasuke untuk menjaga Naru, serta menukar Iruka dengan Kakashi, dan juga memberikan semua saham Uzumaki Inc kepada Uchiha Inc, karena Kyuubi tidak mungkin mengurus dua perusahaan yang letaknya berbeda. Namikaze Inc yang berada di London serta Uzumaki Inc yang berada di Jepang. Jadi, Kyuubi memutuskan untuk memberikan semua sahan Uzumaki Inc pada perusahaan besar Uchiha Inc. Tentu saja, keluarga Uchiha menyetujuinya. Mengingat cepat atau lambat, Sasuke dan Naru akan menjadi suami-istri.

Kyuubi kembali menghela napas, lalu pemuda berwajah tampan itu membalikan badannya. Kini menghadap Sasuke. "Tidak aku katakanpun, kau pasti akan melakukannya," ucap Kyu tenang, mengingat betapa over protective-nya si Uchiha bungsu itu pada adiknya. Jadi, dia yakin, tanpa dimintapun, Sasuke pasti akan menjaga dan membahagiakan Naru.

Kyu menepuk bahu Sasuke pelan, "Jangan kecewakan aku, kupercayakan Naru padamu," ucapnya lalu berlalu dari balkon, meninggalkan Sasuke.

'Tentu saja, aku tidak akan mengecewakanmu, Kyu-nii.'

.

.

Hyuuga Neji mengernyitkan dahinya, "jadi…Naru itu puteri pasangan Namikaze?" katanya pelan, matanya membaca deretan huruf di monitor laptop-nya.

Pemuda berusia 24 tahun itu meng-klik gambar yang berada dalam artikel yang sedang dibacanya. Setelah diperbesar, gambar itu menunjukan wajah pasangan Namikaze. Sekarang Neji yakin, kalau Naru benar-benar puteri pasangan Namikaze. Semenjak orangtua Naru meninggal, gadis itu tidak lagi memakai nama 'Namikaze' melainkan memakai nama 'Uzumaki.'

.

.

Malam telah tiba, jadi jam makan malampun telah tiba. Itu artinya, waktunya bagi Naru untuk memanggil sang Tunangan. Tunangan yang selalu sibuk di kamarnya, tentu saja mengerjakan urusan kantor. Gadis yang kini memakai pakaian santai berwarna merah itu berdiri di depan pintu kamar Sasuke. Tangan kanannya terangkat, gadis itu akan mengetuk pintu di depannya. Namun, pintu di depan telah terbuka sebelum diketuknya.

Sasuke dengan t-shirt hitamnya kini berdiri di depan Naru, yang masih mengangkat tangannya. Sasuke menghela napas, lalu meraih tangan Naru dan menariknya untuk berjalan menuju ruangan makan.

"Apa makan malam sekarang, kau yang memasak?"

"jangan meledekku, Teme. Kau tahu'kan aku tidak bisa memasak," jawab Naru, membalas genggaman Sasuke dan berjalan disamping pemuda tampan itu.

"Hn."

.

.

Klek!

Hinata membuka pintu ruang kerja Neji, Hinata tersenyum, ketika melihat hasil jepretan sang kakak sepupu yang menghiasi setiap sudut ruangan kerjanya itu. Bukan tanpa alasan dia memasuki ruang kerja Neji, Hinata ingin memanggil Neji untuk makan malam.

Hinata melihat kakak sepupunya itu tengah tertidur di meja kerjanya, dengan laptop yang masih menyala. Gadis yang menyukai bunga lavender itu mendekati Neji, setelah berada di sisi Neji, Hinata yang hendak menyentuh pundak Neji menghentikan niatnya.

Mata cantiknya melihat ke arah laptop yang masih menyala, matanya sedikit terbelalak ketika dia menyadari sesuatu. Ya, gadis itu menemukan sosok pirang yang sedang memeluk lutut, rambutnya terurai dan sosok itu sedang duduk disalah satu batu alam didekat sungai.

'Bu-bukannya itu Naru? Tu-tunanganya Sasuke-kun?' Gadis berambut panjang itu kini mengalihkan perhatiannya kearah sang kakak sepupu yang sedang tertidur, 'apa niisan dan naru saling ke-kenal?' bathinya.

.

.

Sepasang kekasih sedang diam di ruang keluarga, mereka menonton acara tv setelah makan malam usai. Si pemuda menatap bosan pada acara yang ditontonnya, tidak ada yang seru.

"Kenapa niichan makan malam di luar sih? Hah, menyebalkan," gerutu si gadis, kini meraih remote tv dan memindahkan channel tv. "Padahal, Presiden Direktur-nya ada di sini, kenapa juga Niichan harus ke kantor bersama Itachi-nii?" Keluh Naru lagi, kini mata birunya melirik Sasuke yang duduk di sampingnya.

"Kyu-nii adalah satu pemimpin Uchiha Inc juga, kau lupa?"

"Ah iya, semua saham Uzumaki Inc-kan dipindahkan ke Uchiha Inc," kata Naru mengingat-ngingat, "aku baru ingat, hehehe," lanjutnya sambil nnyengir.

Sasuke hanya mendengus, lalu pemuda itu menoleh ke arah Naru, " alasanmu melihat album SMA-ku bukan karena Hinata'kan?" Tanya Sasuke tanpa basa basi.

Naru terdiam, lalu, gadis itu menoleh kearah Sasuke yang kini menatapnya. "Me-memangnya kenapa?" Naru balik bertanya, sayangnya, suaranya terbata.

Tanpa aba-aba, Sasuke langsung menarik Naru ke pangkuannya, hal itu membuat Naru memekik kaget. "Te-Teme! Apa yang kau lakukan?" Tanya Naru dengan wajah merona, "bagaimana ka-kalau Iruka-san atau pelayan yang lain melihat kita," lanjut Naru masih memerah dan gugup luar biasa.

"Biar saja, mereka harus terbiasa dari sekarang," balas Sasuke santai. Sasuke makin mengeratkan pelukannya pada pinggang gadis berambut pirang yang kini berada di pangkuannya.

"Dasar Teme," gerutu Naru pelan.

"Kau melihat album SMA-ku karena ingin mengetahui soal Neji Hyuuga'kan?" Tanya Sasuke lagi, tepat sasaran, karena dia merasakan tubuh Naru menegang. "Kau tidak mengenal Hinata, jadi, aneh saja kau tiba-tiba bertanya soal Hinata," lanjut Sasuke kini menyenderkan kepalanya ke dada Naru. Menghirup aroma citrus si Gadis.

"Aku hanya penasaran, Teme. Soalnya, Neji-san bilang kalau dia itu seniormu di SMA, ya sudah aku cari tahu kebenarannya," jawab Naru, kini memeluk leher Sasuke. "Ternyata, dia memang seniormu," lanjut Naru sedikit geli ketika Sasuke menyusupkan wajahnya ke leher mulusnya.

"Lalu?"

"Tanpa sengaja, aku menemukan gadis yang memiliki nama keluarga yang sama dengan Neji-san, ya sudah aku baca saja."

Sasuke memejamkan matanya, dia menghirup aroma citrus Naru dengan makin menyusupkan wajahnya ke leher Naru.

"Kenapa aku bisa bertanya soal Hinata? Itu…karena aku melihat photomu yang sedang memakai baju olahraga, yang diam di dekat air kran, dengan Hinata di dekatmu, dia memberikan handuk padamu," ucap Naru panjang lebar, gadis itu meremas rambut raven Sasuke. Sasuke mulai menggodanya.

"Itu photo yang diambil wartawan sekolah, Dobe."

"Iya, aku tahu itu," balas Naru pelan, dia mendorong Sasuke agar sedikit menjauh darinya. Gadis itu bernapas lega, ketika Sasuke sudah duduk tegak lagi. Kini onyx Sasuke menatap mata biru Naru.

"Kau ragu padaku?" Tanya Sasuke serius. Hal itu membuat Naru berdebar tidak beraturan.

"Aku percaya padamu, Sasuke."

"Jadi, berhenti bicara soal Hinata, dan berhenti berpikir negative tentang perasaanku padamu, Dobe," kata Sasuke serius, matanya menatap lekat Naru. "Ini hanya milikmu."

Detik berikutnya, Sasuke mencium bibir Naru dengan lembut, memagutnya dengan penuh kasih. Saat Naru mulai memejamkan mata birunya, Sasuke menjauhkan bibirnya, dan kembali menatap mata biru Naru.

"Kuharap, ini…juga hanya milikku," ucap Sasuke pelan, sambil menyentuh bibir Naru dengan jarinya. "Hanya milikku seorang."

Baru saja Naru akan menjawab, Sasuke sudah kembali mencium bibir merah Naru. Kali ini, dengan intensitas yang berbeda, dan Naru hanya bisa meremas rambut Sasuke. Meremasnya dengan lembut, mencoba menemani keinginan sang Tunangan, untuk berpartisipasi dalam ciuman dalam itu.

Butuh oksigen, Sasuke menjauhkan kembali bibirnya. Dia bisa melihat wajah merah Naru, ugh, semakin menggemaskan.

"Hanya milikku'kan?" Tanya Sasuke kembali menyentuh bibir Naru dengan jarinya.

Naru mengangguk malu-malu, "tentu saja, aku setia tahu di London," katanya, kini menundukan kepalanya. Dia benar-benar malu, tapi dia tidak bisa menolak ke-posesive-an Sasuke.

Sasuke tersenyum, lalu mengecup pipi Naru sekilas. "Mau diteruskan?" Tanya Sasuke dengan seringaian jahilnya.

"Tidak! Kita belum menikah! Teme Mesum!" Seru Naru lalu berdiri dan menjulurkan lidah pada Sasuke, "aku mau tidur," katanya sambil berlalu meninggalkan Sasuke yang tersenyum ke arahnya.

'Aku harap, kau tidak tertarik pada si Hyuuga itu, Dobe.'

To be Continued

Yeaaaaayyyy Update… Maaf ya telat hehehe… Yang jawab Kyuubi, selamat kalian mendapat ciuman dari Neji hehehehe Tapi, Neji-nya tidak mau tuh ^^v

Masih belum ada konflik ya? Maaf… Saia sedang berusaha mengingat-ngingat alur fict ini hehehe

Kenapa mengingat-ngingat? Karena flashdisk saia eror… Dan file saia ilang T.T

Ok, di sini ada OC yaitu Kyuubi human!

Review okay? Biar saia semangat hehehehe

Arigatou

Hannia Fujisaki a.k.a Shinju Arissa