"C'est La Vie"
Chapter Seventh
Kaisoo Fanfiction
Pedofil and HardYaoi
-ooo-
-ooo-
Present by : Don'tJudgeMeLikeYou'reRight
Lets Check This Out!
Please, REVIEW and Dont Bash!
Don't Like Don't Read, kay?
Author POV
"Ouh, Hai, Kyungsoo. Bagaimana tidurmu, hm?"
Kyungsoo, mengerjap. Masih menyesuaikan pandangan matanya dengan cahaya sekitar. Seseorang yang baru saja bertanya itu, adalah seseorang yang sama, orang yang tega melukainya sedemikian rupa. Dia bilang namanya, Kai. Ini bukan ditempat semula, bukan didalam gudang terbengkalai yang lantainya amat dingin, dan dindingnya pengap. Ini sesuatu yang bergerak, dan nalar Kyungsoo masih belum bisa menyadari bahwa tumpangan tubuhnya kali ini adalah sebuah mobil. Dengan pengemudinya, yang berhati besi, Kai.
"Kau masih lelah, ya? Baiklah, aku tidak memaksamu untuk bicara."
Dia berubah lembut, satu tangannya beralih mengelus puncak kepala Kyungsoo. Tetapi hal itu malah membuat bocah kecil ini menangis, kembali meneteskan airmatanya. Lalu beringsut mundur, bersandar pasti dibangku penumpang. Kai tersenyum, seolah hendak membuat Kyungsoo berminat pada wajah kelewat manisnya itu. Sayang, Kyungsoo tetap antipati dengan apa dan siapa yang ada didepannya. Dua kejadian menyakitkan itu sudah cukup menghancurkannya, membunuh jiwa bocah seusia lima tahun yang benar-benar tak sepantasnya menerima ini.
"Aku akan mengantarmu ke sekolah lagi, Soo. Oh ya, tadi luka-lukamu juga sudah kuobati."
Kyungsoo tidak peduli. Bagaimana dirinya bereaksi, atau bagaimana dirinya berakhir dihari ini. Masalah luka yang diobati, ia memang merasa cukup lebih baik. Tapi, tidakkah menutup kemungkinan ahjussi asing ini akan mengulanginya lagi? Kyungsoo takut, ia hanya tak bisa membayangkan dirinya yang kembali jatuh dalam lubang yang sama. Tatapan kosongnya beraliha pada kehampaan diluar jendela. Cuaca cerah, meski masih mengukir awan mendung. Tidak ada senyuman yang ia tampakkan, melainkan getir yang mendominasi.
Balita itu tidak berniat sama sekali untuk mengeluarkan suara. Terlampau hanyut pada peristiwa mengerikan yang ia alami bertubi. Tentang apa maksud dan apa manfaat dari kegiatan bejat semacam itu, Kyungsoo tidak mendapatkan apapun sebagai jawabannya. Kendaraan roda empat yang elit ini tiba-tiba dihentikan lajunya, sudah terparkir rapi didekat trotoar sekolahnya.
Hingga dua iris mata kelamnya beradu dengan iris legam yang penuh muslihat, milik Kai.
"Kubantu kau turun, ya. Sebentar lagi adalah jam pulang sekolah, jadi kurasa yang menjemputmu akan sampai beberapa menit lagi." Kyungsoo menahan kekesalannya. Ia justru berniat memukul dada ahjussi itu. Tapi apa daya, tenaga untuk menarik nafas saja sulit, lebih sulit lagi kalau Kyungsoo menyampaikan amarahnya. "Nah, kita berpisah disini, Soo. Aku janji akan menemuimu lagi."
Janji akan menemuimu lagi? Kyungsoo membulatkan matanya. Yang benar saja, apa yang sebenarnya diinginkan ahjussi ini? Kyungsoo menyanggahnya dengan gelengan berulang, berangsur dirinya yang melepas paksa tuntunan Kai dilengannya.
"Hei, hei, kenapa? Kau tidak mau bertemu denganku?" Kai berjongkok, menyamakan tingginya dengan tinggi Kyungsoo. Lalu dua tangannya cekatan meraup wajah anak itu, mengalirkan sedikit rasa otoriternya yang sudah berkurang. Jalanan sepi, hanya interaksi mereka berdua yang tersapu angin. Kyungsoo, lagi-lagi meronta. Berontak dari sentuhan yang diberikan Kai. Memang bukan sentuhan kasar dan keras seperti beberapa waktu yang lalu, tapi Kyungsoo tetap waspada. Orang ini, bisa menyakitinya kapanpun. "Ayolah, Kyungsoo, kau pasti jauh lebih baik bersamaku daripada tinggal dirumahmu sendiri. Ya, kan? Aku akan memperlakukanmu dengan baik. Tunggu saja."
Memperlakukanmu dengan baik? Yang seperti apa? Memasuki anusnya dengan benda tumpul itu? Kyungsoo mengatupkan matanya yang sayu, kembali menggelengkan kepalanya tanpa henti. Menolak semua tawaran busuk Kai yang jelas semakin memporak-porandakan dirinya.
"Aku tidak mau bertemu Ahjussi lagi, aku benci ahjussi. Kyungsoo tidak mau, pokoknya Kyungsoo benci Ahjussi!"
Biarpun belum ada kepulihan dari tubuh mungil itu, tapi kakinya memaksa berlari. Meski dengan langkah tanpa arah dan cenderung terseok, Kyungsoo masuk ke pelataran sekolahnya. Berniat menunggu Min-ah disana dan sendirian, ketimbang bersama ahjussi jahat yang berpotensi menculiknya lagi. Kai hanya mendengus, decihan yang ia tekankan pada udara. Sesekali ia mengacak rambutnya, berdiri dan berlalu menuju mobil.
"Tidak sulit membuat bocah itu bertekuk lutut padaku, hah."
Setelahnya derum mesin itu mengalunkan gelegar, menghilang dari sana dan kembali dengan tujuannya membelah kota Seoul.
Ia menyangsikan ini, betapa Kyungsoo membuatnya kecanduan. Sosok kecil itu terus membayang, kekalutan yang menjamah hatinya kala Kyungsoo tidak disampingnya. Pedofil, dia memang memiliki kelainan ini. Bolehkah Kai bersyukur dengan penyakitnya?
-ooo-
Kyungsoo terburu menghambur ke pelukan Min-ah yang baru hendak menyapanya. Wanita itu jelas kebingungan setengah mati. Kyungsoo menangis, meraung histeris. Lalu ia ingin didekap terus tanpa dilepas. Min-ah tentu menurutinya, seraya mengelus-elus punggung bocah mungil itu.
"Ada apa, Kyungsoo-ah?"
"Hiks, hiks..Kyungsoo ta-takut, hiks..Min-ah.." Tetap sesenggukan, Kyungsoo selalu terbata jika menyuarakan setiap kata. "Ahjussi i-itu jahat sekali, hiks.."
"Siapa, Kyungsoo? Takut kenapa, hei?"
Min-ah memasang pendengarannya lebih tajam, dengan seksama ia berusaha mencurahkan seluruh perhatiannya pada Kyungsoo. Anak itu terguncang, jelas sekali kentara dan Min-ah tidak bodoh kalau Kyungsoo sedang menahan trauma.
"Di-dia memasukkan sesuatu yang besar, keras, hiks..ke dalam anusku, Min-ah, hiks..sakit.."
Deg.
Kesimpulannya hanya satu.
Kyungsoo baru saja mendapat pelecehan. Seksual.
"Astaga!" Min-ah spontan merengkuh bahu Kyungsoo, terbawa suasana dengan aliran airmata yang ikut menderas. "Siapa yang tega melakukannya, Kyungsoo? Yaampun, kenapa selama ini aku lelet sekali? Maafkan aku, Kyungsoo.."
Mereka masih duduk bersimpuh, didekat kelas Kyungsoo yang sudah sepi. Min-ah teelambat menjemput Kyungsoo, dan dari persembunyiannya, tidak ada yang tahu keberadaan Kyungsoo untuk menenangkan diri.
"Hiks, bukan salah Min-ah..hiks, Kyungsoo takut, dia bilang dia akan datang lagi, hiks.."
Min-ah tergerak untuk mengusap airmata dipipi Kyungsoo, tangisan wanita itu sendiri juga belum reda. Ironis, miris. Hatinya terlalu sakit menyadari kelalaiannya menjaga Kyungsoo, hingga anak itu harus mengalami ketragisan yang merusak dirinya.
Atau, dia bisa menyalahkan orangtua Kyungsoo.
"Kau tahu seperti apa orangnya?" Semburat kemerahan itu menjelma diwajah Kyungsoo, matanya kembali berkaca, seperti sedang menerawang sesuatu yang sangat berat. "Ceritakan, Kyungsoo."
Balita itu menggeleng lemah, sejenak menduselkan kepalanya didada Min-ah, meminta rangkulan manja. "Kulitnya gelap, wajahnya tegas, hiks..lalu, lalu, dia..jahat, Min-ah. Pokoknya dia jahat."
Jahat. Kyungsoo sudah terdoktrin dengan tabiat orang yang berani melakukan kekejian ini. Hanya keburukan yang diingat memorinya, selain itu, ia tak dapat mendeskripsikan seperti apa pelakunya.
"Ayo pulang, orangtuamu harus tahu, Sayang. Oh, bersabarlah sebentar, Kyungsoo." Min-ah menuntun Kyungsoo, dan anak itu mensejajari langkahnya dengan iring-iringan Min-ah yang menggandengnya. "Mereka harus tahu, seberapa beban yang mereka timpakan padamu, Soo."
Kyungsoo terkesiap, terheran dengan perkataan Min-ah yang baru bisa ditolerir pikirannya. Orangtua? Ayah dan ibunya? Mana mungkin mereka peduli, hah. Kyungsoo hanya anak yang pintar merekam situasi, ia tahu mustahil adanya kalau orangtua itu mau terjun dalam ketakutannya kali ini.
"Percuma, Min-ah. Hiks..Umma dan Appa mungkin tidak mau tahu, hiks.."
Terenyuh, Min-ah tidak bisa menggambarkan bagaimana cara godam raksasa itu menghujam ulu hatinya.
"Aku akan membelamu, Kyungsoo. Tenanglah, baik orangtuamu atau orang jahat itu, mereka pasti akan mendapat balasannya."
Sungguh, Min-ah sendiri tidak yakin dengan ucapannya barusan. Bukan maksudnya untuk menyumpahi majikan, tapi ia hanya mendasarkan semua yang menimpa Kyungsoo disebabkan pola asuh orangtua yang salah.
"Aku berjanji untuk selalu berusaha, semampuku, Kyungsoo, membuat kehidupanmu membaik."
Kyungsoo meringis mendengar lantunan ikrar dari Min-ah. Bahkan kehidupannya yang tak menentu ini, sampai sekarang belum ada kepastian. Orang itu, ahjussi jahat itu pernah bilang, kalau dia akan memiliki Kyungsoo. Selangkah lagi. Ah, apakah itu artinya, Kyungsoo tidak akan bisa melihat wajah Min-ah dan atau Umma serta Appanya? Jangan, jangan sampai orang itu mengambil alih dirinya.
"Jangan pernah hiks..tinggalkan aku, Min-ah. Orang jahat itu ada dimana-mana. Hiks.."
"Tidak akan, Kyungsoo-ya. Tidak akan."
-ooo-
Yeonso dan Soojin baru saja menyelesaikan makan siangnya, saat kedatangan Min-ah yang tergopoh justru mengejutkan mereka.
"Tuan dan Nyonya," panggilnya, masih dengan Kyungsoo yang meringkuk dibalik badan wanita itu. "Ada yang saya ingin bicarakan, dan ini sangat gawat."
Yeonso meletakkan alat makannya, berikut istrinya yang beralih mengelap bibir. Keduanya kemudian fokus pada Min-ah seraya melirik sinis kehadiran Kyungsoo.
"Kyungsoo..Kyungsoo, baru saja mendapat pelecehan seksual."
Satu. Dua. Tiga. Benar, kan? Tidak ada raut apapun yang berarti dari wajah orangtua Kyungsoo. Selain mendelik sekilas sambil tersentak dengan gerakan kecil. Suami istri itu saling lempar pandang, bergantian menatap Kyungsoo dan Min-ah.
"Benarkah?"
Apa? Min-ah tidak salah dengar dengan respon itu, ia juga tidak salah lihat dengan ekpresi mereka yang cenderung acuh.
"Kalau begitu, besok bawa saja dia ke Dokter."
Kyungsoo mendongak, mendapati wajah Min-ah yang memendam kekesalan. Hanya itu komentar beruntun dari Yeonso. Tampak santai yang keterlaluan.
"Tapi, kita harus bertindak, Tuan. Nyonya, mungkin kita bisa melaporkannya."
"Bagaimana kau tahu dia barusan diperkosa? Memang siapa yang mau dengannya? Maksudku, mungkin saja dia berbohong."
Itu anggapan Soojin, yang mengabaikan kalimat persuasi dari Min-ah. Kyungsoo menggembungkan pipinya, ia tidak lagi mampu menopang tubuhnya yang rasanya seperti diremukkan. Serius, bagian belakangnya masih berdenyut-denyut dan kini, figur ibu itu malah berdalih tidak memercayainya?
"Astaga, Nyonya." Min-ah mengelus dada, "Kyungsoo tidak mungkin bohong, dia terlihat sangat ketakutan dan lagi, saya tahu sendiri seperti apa dia saat anusnya disentuh."
Penjelasan itu mendapat kibasan tangan dari Soojin. "Yah, lain kali akan kucari siapa pelakunya. Ada bukti baru bisa dilaporkan, Min-ah." Apa-apaan? Lain kali?
"Harus secepatnya, Nyonya. Kyungsoo bilang, orang itu mengincarnya."
"Cih, kalau begitu biarkan saja."
Gila. Nyonyanya memang sudah gila. Seorang ibu yang melahirkan anaknya sendiri dari rahim miliknya, bahkan merelakan Kyungsoo tersiksa sebegini rupa?
Min-ah tidak tahu harus mengatakan apa lagi. Lidahnya kelu, pikirannya buntu. Sementara kedua lengan kecil itu masih melingkari pinggangnya, erat.
"Tapi anda tidak bisa melakukan itu, Nyonya!"
Min-ah mulai emosi. Kyungsoo, anaknya sendiri butuh perlindungan dan orangtua ini malah menampiknya?
Soojin melengos, dan Yeonso mengaitkan jemarinya diatas siku. "Kau hanya tidak tahu apa yang menjadikan Kyungsoo pantas dibenci, Min-ah. Kau hanya tidak tahu." Tersirat makna misterius dalam suara itu, yang tak dimengerti Min-ah sama sekali. Nada mengecam dari Nyonyanya itu, tiba-tiba membuat Min-ah tersadar akan satu hal. Kandungan dalam kalimat itu adalah pesakitan yang terpendam.
Bagaimana kelanjutan kasus ini? Min-ah jelas cemas. Bukan masalah apa, melainkan ia tidak tahu harus melakukan setelah ini.
"Selesaikan saja, Yeonso. Kau 'ayah'nya." Penekanan pada kata ayah itu membuat Yeonso menyeringai. Istrinya menyindir yang tidak-tidak. "Aku akan mengurus Hyera dulu." Soojin mendorong kursinya, lalu segera undur diri dari orang-orang disana yang mengandalkannya.
"Tuan," Min-ah mencegah satu-satunya harapan yang masih tertinggal. "Saya mohon, tolong Kyungsoo."
Yeonso berhenti sejenak, tidak jadi menyusul istrinya. Ia menengok kearah Min-ah, "Besok akan kuurus masalahnya."
A-hah. Betapa leganya Min-ah mendengar ungkapan itu. Ayah Kyungsoo bersedia campur tangan. Bukankah hatinya jauh lebih baik daripada istrinya? Min-ah tersenyum, senyum yang seolah mengucap terimakasih bejibun jumlahnya.
Laki-laki itu juga menghentikan tatapannya pada Kyungsoo. Seakan meneliti seperti apa anak itu terluka, secara detail. "Tapi aku tidak tahu besok ada waktu atau tidak."
Tidak apa. Setidaknya masih ada pegangan. Yeonso masih mau menganggap keberadaan Kyungsoo penting saja, Min-ah sudah girang bukan main.
-ooo-
"Kau tidak bisa seenaknya menerima orang asing masuk kesini, Kai."
Kai melenggang, mengangkat satu tangannya sebagai isyarat agar mereka diam. Kris ada disana, bersandar pada dinding seraya memasang wajah angkuh seperti biasa.
"Dan lagi, kau tidak terlalu mengenalnya. Jangan ceroboh, Kai."
Kris tetap mengoceh. Mendumel sendiri. Tapi Kai tidak menggubrisnya sama sekali, ia malah asik dengan hisap demi hisap cerutu yang diapit bibirnya.
"Omong-omong, terima kasih sudah membawakan Kyungsoo. Aku cukup terkesan pada kinerja kalian berdua."
Hanya sekedar memuji, tapi Kris dan Tao tetap kakak-beradik yang mengecoh. Keduanya mungkin bersikap selayaknya anak buah yang memuja sang master. Tapi Kai tahu ada maksud terselubung didada mereka, terutama Kris. Yang gila hormat, yang haus mendapat kesan istimewa.
"Kai, kali ini percayalah, dia tidak membawa kebaikan apap-"
Dobrakan pintu yang sengaja ditendang itu membuat ketiganya menoleh seketika.
"Oh, maaf, kukira tidak ada orang." Suho, dengan wajah konyolnya, menginterupsi obrolan Kai dan dua pesuruhnya. "Hell, yeah, Kai, ini markasmu, eoh?" Ia mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.
"Aku hanya gelandangan berkedok mafia, Suho." Kai terkekeh, "Ah tidak, hanya bercanda."
Kris mengernyitkan keningnya, menelisik sosok Suho yang tak asing dilihatnya beberapa jam lalu. Sementara Tao yang sejak tadi hanya mengamati, menjadi penonton, kini malah mengikuti polah Hyungnya. Merasa sangsi dengan kehadiran Suho.
"Jangan memasang tampang seperti itu," Kai menonjok tanpa tenaga dada Kris, "Aku yang mengundangnya."
Entah kenapa, intensitas keakraban Kai dan Suho agaknya membuat Kris semakin geram.
"Seperti yang kau minta, aku akan menyampaikan beberapa informasi yang kudapat. Hasil dari mengintai dan menyamar."
Hah, terlalu sombong menunjukkan jerih payahnya? Kris muak dengan tipe orang seperti itu. Tapi sebaliknya, Kai mendekat, merasa tertarik. Pemuda tan itu lalu menepuk-nepuk bahu Suho, memberikan lampu hijau agar Suho segera berbicara.
"Jadi," Tanpa diminta, Kris dan Tao mencuri dengar. Ikut penasaran dengan info yang dibawa lelaki asing itu. "Ternyata, Kyungsoo hanya dekat dengan Baekhyun dan kakaknya, Chanyeol. Serta si cadel Sehun."
"Aku tidak butuh hal sepele semacam itu, Suho." Kai mencibir, "Teruskan."
Suho mengangguk, sedikit melirik Kris dan Tao melalui ekor matanya. "Mm, tentang keluarganya. Ajaib sekali ternyata orangtuanya membenci anak itu."
"A-ha." Kai menyambar cepat, "Ini sebuah titik temu. Ini kesalahan yang bisa diperdebatkan, lalu dibawa ke pengadilan, dan oh, astaga, Kyungsoo akan jadi hak milikku."
"Good point, Kai."
Suho membasahi bibirnya, setuju dengan pemikiran Kai. Berbeda dengan Kris dan Tao, atau Kris saja, yang masih sulit melepaskan bagaimana prasangka buruknya tentang Suho. Mengenai motif Suho menjadi informan bagi Kai, sampai dia yang berani mengambil alih tugas yang seharusnya diemban Kris bersama Tao.
"So, how? Will you prove something?"
Bahkan Kai membutakan matanya, enggan membuka atau menyinggung Kris dan Tao dalam obrolan mereka.
"Kai," Kris tidak kuat lagi, ia maju selangkah. "Kau tidak ingin melibatkan aku dan Tao lagi?"
Ada nada putus asa dalam suara itu. Membuat Kai terpaksa membuyarkan rencananya semula.
"Oh, bukan begitu, Kris. Akan ada bagiannya sendiri nanti." Kai melepas tautan cerutunya, lalu menjatuhkan batangan nikotin itu untuk kemudian diinjak sepatunya. Mati. "Lagipula kau belum berkenalan secara resmi dengan Suho. Kalian akan menjadi partner kerja."
Partner kerja? Tao yang sedari tadi diam, kini mulai membuka mulutnya, hendak mengucapkan sesuatu. Sialnya, kata-kata yang sudah diujung itu tertelan lagi begitu melihat Kris menggebu mendominasi obrolan. Tidak membiarkan Tao mengeluarkan aspirasinya.
"Ah, itu bisa kita bahas nanti, Kris. Sekarang biarkan aku merajut strategiku bersama Suho. Dan, kalau kau ingin memberi saran, silahkan." Suho merasakan dua aura berbeda yang dibawa Kai. Menyudutkan Kris dan mengunggulkan dirinya. "Kau bisa mengurusnya untukku, kan? Kau bisa bekerja sama dengan mereka." Kai menunjuk Kris dan Tao lewat dagunya. "Kalian bisa berdiskusi. Aku mau Kyungsoo jadi milkku secepatnya."
Kai keluar dari gudang itu, entah menuju kemana. Yang jelas ia pergi menyisakan kecanggungan mendalam bagi tiga pesuruhnya itu. Hingga Tao berdeham, memecah keheningan yang dingin.
"Mm. Hyung ada pandangan?" Lirih si mata panda dengan suara takut-takut. Tapi, tetap tanpa tanggapan.
Suho mengangkat kepalanya, melihat Tao sudah berdiri disamping Kris dan kini ketiganya membentuk lingkaran kecil.
"Jadi namamu Suho?" Kris tidak pada topik sebelumnya. Ini melenceng jauh. Garis wajahnya bahkan menampakkan ketidaksukaan yang benar-benar Suho sadari. "Apa maksudmu?"
"Maksudku? Oh, hanya ingin membantu Kai. Sudahlah, lebih baik jangan permasalahkan kehadiranku, kau ingat bagaimana Kai memberikan masalah ini untuk kita selesaikan, kan?"
"Kau dapat apa darinya, hah?" Kris mendesak, tatapan matanya tajam dan menuntut. "Uang? Atau kebanggaan? Atau malah kau ingin merusaknya secara perlahan?"
Suho melengkungkan bibirnya, tertawa sedikit, baru memutar bola matanya. "Jangan berburuk sangka pada orang yang baru kau kenal, Kris. Aku tahu, kau dan adikmu adalah bawahan kesayangan Kai, dan kau begitu memuja seorang Kim JongIn." Suho melipat tangannya, menonton Kris yang tampak tidak terima. "Apa yang menjadi masalahmu?"
"Masalahnya karena kau tiba-tiba datang seolah kau akan membereskan semuanya lalu menyingkirkan kami!" Suho mundur selangkah, telunjuk Kris tak henti menodong wajahnya. Tao berusaha menahan lengan hyungnya, mencegahnya agar tidak bertindak lebih jauh. Dan lagi, ia tak ingin Kai marah jika tahu tentang masalah ini. "Seharusnya kau tidak disini kalau kau tidak memiliki maksud lain!"
"Woo, woo, santai sebentar, Kris." Suho mengangkat kedua tangannya didepan dada, mendorong bahu Kris sedikit demi sedikit. "Begini saja, terserah kau mau berpikir apa tentangku, perjanjiannya adalah kita selesaikan dulu masalah ini. Setelah Kyungsoo ditangan Kai, kau bisa pastikan aku membantunya tanpa pamrih." Suho beralih menuju sudut ruangan, jendela besar itu menjadi tujuannya. Yang berembun karena butir hujan.
Kris bungkam. Setidaknya, dia bisa melihat sebentar. Membuktikan apa yang dikatakan Suho akan digenggamnya sebagai kartu As pria itu. Bukan apa, hanya sebagai jaminan.
Suho memunggungi kedua makhluk hidup itu, berdalih untuk menghindari keributan lebih lanjut kalau ia meladeni Kris. "Suho Hyung? Mm, mau kembali berdiskusi?" Tao kembali menjadi penengah, mengembalikan dimensi dua orang yang sebelumnya melanglang buana itu.
"Ya, ya, oh, namamu Tao, ya." Suho berbalik, mendapati Kris sudah melumerkan ekspresi wajahnya, lebih terkendali. "Baiklah, jadi menurut kalian bagaimana?"
"Layangkan saja surat pemberitahuan dari kepolisian. Atas orangtua yang menyiksa anaknya."
Itu pendapat Kris.
"Tidakkah terlalu cepat? Mm, maksudku, apa kita punya bukti?"
Pertanyaan Tao disambut helaan nafas oleh Suho.
"Waktu itu aku sempat melihat ada beberapa lebam dipunggungnya, saat disentuh dia akan merintih," Sahutan Suho itu dipikirkan ulang oleh keduanya. Kris merasakan atmosfer disekitarnya berubah serius, tapi Tao tetap bergeming dalam kebisuannya. "Bisa saja kalau kita melaporkan tindak kekerasan itu."
"Hukuman penjara untuk keduanya?" Tao defensif lagi dengan masalah ini. Agak rumit sebenarnya kalau menyangkutpautkan hak asuh disini. "Apa kau yakin Kai bisa menang dipersidangan?"
"Mmh," Suho mengangguk untuk kesekian kali. "Kita bisa memalsukan identitas Kai, sebagai saudara dekatnya. Paman mungkin?"
Kris mengelak, "Tidak semudah itu, Suho." Kilahnya, kini menggerutu sendiri.
"Mudah. Aku bisa bereskan keduanya." Suho mematri senyum kemenangannya. "Besok aku yang akan mengalihkan identitas Kai menjadi marga Do untuk jangka waktu yang ditentukan. Kalian berdua yang akan melapor sebagai pihak yang menyaksikan kekerasan itu. Kebetulan aku punya videonya,"
Cih. Semahir apa si Suho ini dalam memata-matai? Kenapa kelihatannya begitu sempurna?
"See? Tidak sulit, kan?" Suho mengedikkan bahunya, sekilas membuat dua orang itu tercengang dengan penerangan panjang lebar yang ia kemukakan. "Aku punya banyak koneksi, dan hal semacam menyadap, menguntit, atau apapun, aku bisa menyelesaikannya."
Kris sudah bilang bahwa ia benci orang sombong, kan? Sialnya, ia mengakui kehebatan si Suho.
"Ya, itu artinya kita sudah bekerja sama. Dan pembagian tugas ini akan secepatnya mengakhiri masalah yang diberikan Kai. Right?" Tao menarik kesimpulan sendiri, memandang bergantian kearah Suho dan Kris. Lalu ia mengulurkan telapak tangannya kedepan, meminta penyatuan telapak yang lain. "Mulai besok, semuanya akan berjalan sesuai rencana."
"Bagus," Suho menyanggupi, begitu pula dengan Kris. Jadi, sejauh ini tidak ada ketidakadilan yang mengusik rencana brilian ini. "Tunggu, aku sedikit lupa tentang pelayan keluarga Do. Min-ah, dia selalu didekat Kyungsoo."
Kris menimang lagi, "Kau ingin menyingkirkannya juga? Ada ide?"
"Mungkin tidak. Atau memulangkannya saat Kai sudah mendapat hak asuh Kyungsoo? Dia tidak punya suara untuk membela Kyungsoo dimata hukum, kan?" Katakan saja pikiran Suho kali ini sudah diujung tanduk, ia tidak bisa memikirkan kemungkinan lain.
Tao menyibak rambut yang menutupi matanya, "Dia yang lebih tau, Suho Hyung. Dan Kyungsoo bisa mengatakan pada Min-ah kalau Kai pelakunya." Tao berdeham lagi, singkat. "Lalu mereka akan menyelidiki kebenaran itu. Bisa, kan?"
"Shit!" Umpat Kris, tidak sabar sudah dengan kerunyaman ini. "Lalu bagaimana?" Tambahnya, frustasi.
Suho kelihatan lebih tenang, meski tak dipungkiri perasaannya bergejolak juga. "Membujuknya. Melakukan sesuatu terhadap keluarganya di Busan, tempat tinggalnya. Sehingga dengan begitu dia akan meninggalkan Kyungsoo. Tadaaa! Masalah selesai." Suho melesak jauh dalam buaian bayang keberhasilan. Matanya berbinar dan wajahnya berseri seketika itu, turut menyampaikan hal yang sama pada Kris dan Tao.
"Yang ini, Suho Hyung juga yang akan mengurusnya?" Tao memastikan, gelagat pria itu mulai teratur, tidak segelisah tadi.
"Yah, tapi setelah urusan pengadilan selesai, dan jangan biarkan Kyungsoo melihat siapa Kai dulu."
"Tidak bisa, Hyung. Kalau begitu Min-ah harus pulang ke Busan sebelum orangtua Kyungsoo menerima surat panggilan dari pengadilan." Masukan Tao ini ditindak lebih lanjut oleh Suho. Masuk akal. "Dengan begitu, tidak ada yang menghalangi lagi."
"Tapi siapa yang akan menemani bocah itu? Misalnya saat pengadilan menanyakan kesaksiannya." Kris kembali mencuatkan tanda tanya, masih belum paham benar.
"Kai. Karena Kai sudah menjadi Pamannya, dan sekalipun Kyungsoo bersikeras Kai bukan pamannya, kurasa pihak pengadilan tidak akan percaya." Jawaban dari Suho itu meninju telak jalan pikiran Kris yang tak sampai kesana. Sungguh, Suho adalah orang dengan taraf kejelian yang tidak bisa diremehkan. "Wooohoo! Selangkah lagi, selangkah lagi, teman-teman."
Ya, selangkah lagi. Bukan imbalan yang diharapkan ketiganya, itu hanya bonus. Mungkin dengan selesai dan berhasilnya misi ini, kedudukan dan derajat mereka bisa dipandang sesuai sebagai bawahan paling berkelas bagi Kai. Dan masih ada sejuta alasan lain, selain uang.
"Selamat bekerja." Kaliamat penutup dari Tao itu mengakhiri obrolan malam mereka. Berangsur memecah mereka agar berpencar. Suho pergi mendahului setelah sebelumnya menepuk bahu Kris dan Tao, tanda pamit. Lalu ia berteriak lantang, "Kurasa, kita bisa menjadi teman dekat setelah ini."
Teman dekat? Kris enggan mengutarakan alibinya terhadap Suho, yang ramah dan cerdik itu. Sudahlah, biar ia lihat dulu kesungguhan seperti apa yang tadi menjadi iming-imingnya. Tao? Tao mungkin hanya akan mengikuti arus. Yang sudah tersaji dengan sendirinya, tanpa disuruh.
Yah, Kyungsoo membelitkan semuanya. Dan permintaan Kai, semakin memperparah keadaan.
-ooo-
Sesiangan ini Soojin dan Yeonso memutuskan untuk menghabiskan waktu mereka bersama Hyera dirumah. Kyungsoo dibiarkan berada dikamar dengan Min-ah yang tetap menenangkan anak itu. Yang jiwanya bagai terserang gempa dan angin puting beliung secara beruntun.
"Kyungsoo-ya, sebentar ya, ada yang menghubungiku." Min-ah merasakan ponselnya bergetar, ia segera menjauh dari ranjang Kyungsoo untuk menerima panggilan tersebut. "Yeoboseyo?"
Rencana pertama sepertinya berjalan tanpa hambatan. Suho membuktikannya dengan raut wajah Min-ah yang kentara panik dan khawatir. Belum lagi keringat dingin yang membasahi wajahnya, tubuh wanita itu melemas seketika. Kabar buruk berasal dari seberang sana.
"Tidak mungkin. Appa pasti bercanda, Umma kemarin sehat-sehat, kan?" Berita yang disampaikan membuat kaki Min-ah tak mampu menopang beratnya lagi. Ibunya, wanita yang paling berharga itu, kini terbaring lemah dirumah sakit. Ayahnya bilang, Kanker kelenjar getah bening sudah menggerogoti sampai stadium tiga. Ah, jangan tanya bagaimana cara Suho memanipulasi hal ini, ia hanya pintar memainkan teka-teki sembari mencari kelemahan orang lain. "Hiks..hiks..kalau begitu, sore ini aku sampa di Busan, Appa. Tunggu aku."
Klik. Sambungan terputus. Min-ah sudah sembab dengan mata merahnya yang berkantung. Ia melihat Kyungsoo disana, duduk bersimpuh seraya memandang heran kearah Min-ah. "Waeyo?"
Hanya gerak bibirnya yang samar, Min-ah tidak tega meninggalkan anak ini, tapi situasi menuntutnya. Ia juga tidak mungkin membiarkan ibunya sakit tanpa pernah ada dirinya sebagai anak yang mendampingi. Min-ah tidak mau menyesal dikemudian hari. Dua kesulitan yang menutup jalan keluarnya, membuat wanita ini harus memilih. "Min-ah?"
Min-ah tersadar, alur lamunannya ia hentikan sementara. "Ergh, Kyungsoo." Bahkan untuk menatap dua bola mata bulat itu saja membuat dada Min-ah sesak. "Maafkan aku, hiks..tidak bisa memenuhi janji untuk selalu berada disampingmu." Wanita itu tertunduk, tapi dekapannya yang hangat tetap memberikan kenyamanan bagi Kyungsoo. Balita itu getir, senyum pahit menghiasi wajahnya. Ia tahu, saat-saat mengejutkan yang berbanding terbalik dengan takdir, pasti terjadi.
Kyungsoo tidak menjawab, tidak tahu harus mengungkapkan apa. "Kau pasti bisa menjadi anak yang kuat, Sayang. Dari jauh, Min-ah akan selalu mendoakanmu. Lagipula, tadi pagi Min-ah melihat surat pemanggilan dari pengadilan, Soo. Itu artinya, kau akan mengalami perubahan, mereka bisa dipenjara. Dan hak asuhmu akan jatuh ke tangan yang lebih baik." Min-ah berujar penuh semangat, teringat amplop yang diselipkan dipintu rumah. Tertuju untuk Yeonso dan Soojin. Min-ah tidak yakin sebenarnya, tapi Tuhan pasti pintar memilah mana yang seharusnya diterima Kyungsoo. Orang yang melaporkan kasus ini, memang dirahasiakan. Min-ah sempat melihat sampulnya yang memampangkan hal itu. Tapi siapapun dia, Min-ah patut bersyukur akhirnya kehidupan Kyungsoo bisa membaik. "Kau dengar kegaduhan dibawah? Ayah dan ibumu pasti meributkan amplop itu. Ayo turun."
"Min-ah? Yakin akan pergi?" Kyungsoo melirih, rautnya sendu seketika itu. Menyadari sebentar lagi tidak akan ada orang yang melindunginya. Dan mengenai amplop yang dibicarakan Min-ah, sejujurnya ia tidak paham sama sekali. Hak asuh? Bagaimana kalau ia malah berpindah ketangan yang buruk? Sekalipun itu keluarganya sendiri? "Semoga Umma Min-ah cepat sembuh, ya. Terima kasih, selama ini sudah menjagaku," Min-ah diam. Sedetik. Ia lalu bersegera mengecupi wajah Kyungsoo, memeluknya lama sekali.
"Aku akan selalu menjagamu, Soo. Maafkan aku, hiks, yah, semoga Ummaku cepat sembuh."
Kyungsoo jelas tidak bisa mencegah kepergian Min-ah. Memang siapa dirinya? Anak bukan, saudara bukan. Jadi, baiklah, Min-ah butuh mengejar apa yang menjadi prioritasnya. Setidaknya, Kyungsoo sangat bersyukur bisa dipertemukan dengan Min-ah, manusia jelmaan malaikat yang sudah mau berbaik hati selalu mengurusnya, sepanjang hari. Kini, semuanya akan cepat berubah. Kyungsoo tidak akan bisa bersembunyi dibalik badan Min-ah lagi, pergi ke sekolah bersamanya, atau memakan sarapan buatannya. Bukankah perpisahan sangat menyakitkan?
"Kyungsoo janji akan selalu jadi anak yang kuat. Dan tetap sayang Umma dan Appa."
Min-ah tak bisa berhenti dengan tangisannya. Melulu menciumi Kyungsoo dan seolah enggan melepas tautan pelukannya. Maka, ia terburu menuntun Kyungsoo agar cepat sampai dilantai satu. Sebagai selimur pelipur lara. Ia mendapati kebingungan Yeonso dan Soojin yang sudah menjadi-jadi, dan Min-ah berusaha ikut masuk dalam lingkup keduanya.
"Kalau kita dipenjara, bagaimana dengan Hyera? Dasar, memangnya siapa yang bisa mengetahui hal ini, sih? Siapa dia yang kurang ajar melaporkan kita, Yeonso?" Soojin tampak depresi, berlebih. Ia yakin, Min-ah bukan pelakunya, sepandai apapun pelayannya itu, dia tetap tak punya akses melakukan ini. "Jika hukumannya bisa kau tanggung, tanggunglah. Aku butuh mengurus Hyera."
Yeonso tak jauh beda dengan istrinya, merasa kalut, "Kita datangi saja panggilan ini. Dengan begitu, kita akan tahu siapa saksinya. Masalah hukuman, penjara berapa tahun pun akan kulakoni, asal Hyera bisa tumbuh baik bersama ibunya. Bersamamu, Soojin."
"Tapi, kau lihat sendiri, kan, kalau pelapornya dirahasiakan? Bagaimana kalau pihak pengadilan tidak mau menerima hukumanku yang kau gantikan?"
"Kita bisa menitipkannya pada Halmeoni di Daegu, Soojin."
Kyungsoo maju sebentar, menjauh dari gamitan tangan Min-ah. Lalu tangan-tangan kecilnya menarik kain baju orangtuanya, mendongak. "Umma? Appa?"
"Hah! Ini semua karenamu, bodoh!" Soojin meluap, ia tidak kuasa lagi menahan amarahnya yang tak terbendung. "Kau senang kan, kami akan dipenjara dan tidak akan menyiksamu lagi?!"
Kyungsoo menggeleng, "Tidak, Umma. Kyungsoo hanya ingin kalian berubah, bisa menyayangiku. Seperti kalian menyayangi Hyera." Min-ah memisah jarak itu, menghadang Soojin yang hendak memukul Kyungsoo. "Tidak bisa dan tidak akan pernah, Kyungsoo." Desis Soojin tajam.
"Nyonya, sudahlah." Min-ah berucap, spontan. "Ini hari terakhir saya, sekaligus saya ingin menyampaikan pesan pada anda semua."
"Hari terakhir? Kau akan mengundurkan diri?" Yeonso mengerutkan hidungnya, "Mau kemana, Min-ah?"
"Sa-saya harus pulang ke Busan. Karena ibu saya menderita sakit parah yang kronis." Min-ah meneteskan satu bulir airmatanya lagi. "Dan saya mohon, sayangilah Kyungsoo."
Soojin meneguk ludahnya kasar, "Percuma. Sebentar lagi kami pasti akan dipenjara. Dan anak itu mungkin sudah tidak akan bertemu dengan kami. Atau Hyera."
Tidak. Dalam benak Kyungsoo, ia tidak ingin berpisah dengan orangtuanya, atau bahkan Hyera adik kecilnya yang manis. Kalau saja ia tahu urusan orang dewasa ini, mungkin ia bisa memilih untuk memaafkan. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara mengatakannya pada pengadilan.
Yeonso mengangguk sekilas, "Baiklah, kuijinkan kau pulang, Min-ah. Semoga Ibumu cepat sembuh." Laki-laki itu mengusap wajahnya sekali. "Tentang Kyungsoo, pada siapa hak asuhnya beralih, kami saja tidak tahu."
Min-ah tidak bisa merubah apapun, ia hanya punya harapan. Betapa Kyungsoo selalu dilindungi Tuhan, dan kelak anak itu akan dewasa dengan kebahagiaan.
"Aku tahu ada permainan disini, Yeonso," Soojin memijit pelipisnya. "Ah, orang ini sepertinya menginginkan Kyungsoo, hm?"
Yeonso memikirkan argumen istrinya, "Aku juga berpikir seperti itu. Min-ah yang tiba-tiba pulang, kita dipenjara. Bukankah ini penuh rencana? Muslihat. Terlalu tiba-tiba."
"Mm, kalau begitu saya mohon pamit, Tuan dan Nyonya. Ah terima kasih telah bersedia menampung saya bekerja disini. Saya juga memohon maaf jika ada kesalahan yang tak bisa dimaafkan." Min-ah melirik Kyungsoo, menjadikan lengannya sebagai sandaran anak itu.
"Min-ah jangan pergi," Kyungsoo merajuk, semakin mempertebal benteng kokoh atas nama ketegaan yang sudah dibangun Min-ah. "Kyungsoo takut sendirian, hiks.." Balita itu kembali menangis.
"Kemari, Kyungsoo." Min-ah sekali lagi memeluk dan mengecup Kyungsoo, lalu ia berlari cepat untuk membereskan barangnya yang tak seberapa banyak. Beberapa menit kecanggungan itu dilalui, Min-ah turun dengan wajah tertekuk sedih. "Kyungsoo-ya, jaga dirimu baik-baik. Tuan, Nyonya, selamat tinggal."
"Min-aaaah!" Kyungsoo memacu langkahnya menuju pelataran rumah, dimana Min-ah sudah membuka pintu pagar dan untuk terakhir kalinya menoleh pada Kyungsoo. Ia menemukan lambaian tangan dari Yeonso dan Soojin yang menerima kepergiannya secara mendadak ini. Tapi, Kyungsoo, anak itu meraung histeris, memberontak dari cekalan ayah dan ibunya. Meski masih terbersit rasa enggan, Min-ah tetap harus kembali ke kampung halamannya. "Jangan, hiks, tinggalkan Kyungsooo!"
Selesai. Wanita yang bertahun-tahun ini ada disamping Kyungsoo itu sudah musnah. Berpamitan padanya untuk tidak kembali. Perpisahan yang memilukan, Kyungsoo tahu setelah ini semuanya tak akan sama.
Kyungsoo tidak tahu pada siapa ia berlabuh setelah ini.
-ooo-
Ketuk palu. Semua orang tampak berkumpul dalam ruangan ini, Kyungsoo ada ditengah-tengah. Hanya sebagai korban tanpa suara. Ayah dan Ibunya ada diujung sana, menyaksikan dengan seksama vonis yang akan dijatuhkan. Hyera ada digendongan Halmeoninya, merengek ingin menghambur kearah Soojin. Sungguh, Kyungsoo tidak tahu bagaimana kelanjutan kisahnya, juga adiknya, ataupun orangtuanya.
Kyungsoo tidak tahu mengapa selalu terdapat riuh rendah saat mereka yang disebelah Hakim membicarakan dirinya. Satu yang ia tangkap, sebuah video tentang perlakuan ayah dan ibunya dua malam lalu menjadi bukti mengapa ia disini. Lalu Hakim dan dua orang disampingnya membahas sesuatu yang rumit, tentang sebab dan akibat. Sekali lagi, Kyungsoo tidak tahu. Ia hanya bocah lima tahun, kalau boleh memilih, ia justru lebih memilih mereka membahas tentang pelecehan seksual yang dialaminya, daripada hal tak bermutu tentang kekerasan ayah dan ibunya.
"Sudah diputuskan." Suara Hakim itu membelah keheningan, tegas. Membuat Soojin dan Yeonso serentak menegakkan tubuh. "Mereka terbukti bersalah."
Diam. Selama beberapa detik hingga lagi-lagi ketukan palu terdengar pilu.
"Hasil visum menyatakan adanya beberapa bukti kekerasan yang dilakukan secara berkala."
Kyungsoo menajamkan telinganya, tapi pandangannya kabur. Ia melihat tatapan menusuk yang dilayangkan orangtuanya pada dirinya.
"Tidak ada pembelaan lagi. Hukuman penjara lima tahun disahkan."
Apa? Penjara, kah, maksud mereka? Kyungsoo tidak tahu, selama lima tahun itu berarti sampai umurnya sepuluh tahun. Yang ini, Kyungsoo paham. Tapi, hei, bagaimana bisa? Kemana dirinya setelah ini? Kalau Hyera, Kyungsoo tahu adiknya itu akan diasuh Halmeoni di Daegu. Tapi dia? Apa yang selanjutnya terjadi?
"Hak asuh Kyungsoo jatuh pada salah satu sanak saudaranya. Dirahasiakan."
"Dirahasiakan?" Yeonso menginterupsi, pengacara disampingnya hanya memperhatikan, tidak ada lagi celah baginya untuk mengutarakan sesuatu. "Siapa dia?"
"Ya. Dia meminta identitasnya dirahasiakan karena suatu alasan. Tenang saja, dia tetap saudara anda."
Hell. Bagaimana bisa? Sosok berkharisma ditempat tertinggi itu memasang wajah serius lagi. Tidak mengindahkan protes yang diberikan Yeonso. Bukannya masa bodoh, tapi ini jelas sebuah permainan.
"Soojin, lima tahun tidak lama, Sayang," Bisik Yeonso pada istrinya, Soojin yang mulai terisak. Ia memeluk wanita itu, yang pikiran dan tubuhnya melemas seketika itu. "Ada aku, kita berdua."
"Tapi bagaimana dengan Hyera? Aku tidak bisa melihat pertumbuhannya, dia akan merindukanku, Yeonso. Kau tahu seberapa besar aku menyanyanginya." Yeonso menghela nafas, ia berangsur mengelus helai rambut istrinya. Menenangkan. "Dasar bocah iblis."
Soojin mengalihkan tatapannya, bahkan hendak menuju kearah Kyungsoo jika saja Yeonso tidak keburu menahannya.
"Serahkan pada Halmeoninya, Sayang. Sudahlah, aku janji setelah kita keluar darisini, akan kupastikan Kyungsoo kembali menderita."
"Aku..membencinya. Sangat membencinya."
Kyungsoo jelas menyadari sorot benci yang seakan melubangi punggungnya. Suasana ini tidak mendukung, malah semakin membuatnya ingin ambruk bahkan tanpa seorang pun didekatnya. Ya, karena tidak ada lagi Min-ah.
"Baiklah, sidang ditutup. Dan telah ditetapkan tanpa bisa diganggu gugat."
Tiga ketukan palu. Tanda sahnya persidangan sekaligus usainya kasus ini. Sekalipun Kyungsoo tetap tidak tahu siapa yang akan mengasuhnya, setidaknya sampai orangtuanya dibebaskan. Itupun kalau mereka bisa berubah nantinya. Kyungsoo juga tidak berharap lebih.
"Soojin, ini adalah permainan. Orang ini mempermainkan kita." Desis Yeonso, meraup wajah istrinya untuk fokus padanya. Soojin menimpalinya dengan sesenggukan, ia tidak mampu menelaah lagi bagaimana kejadian beruntun ini menimpanya.
Meski tak dipungkiri, Yeonso dan Soojin menyadari kesalahan mereka. Kekakuan hati yang menyesatkan. Kyungsoo sepantasnya bahagia, tapi dasar ego dendam sudah menguasai, mereka jadi kepalang dibutakan amarah.
Mereka, lansia dan batita itu menghampiri Kyungsoo. Halmeoni dan adiknya, Hyera. Wanita tua itu memeluknya erat, mengalirkan segala simpatik mendalam untuk cucunya. Sementara Hyera yang ada digendongannya, meronta ingin diturunkan. Tak ingin ketinggalan ikut memeluk Oppa yang amat disayanginya, dan ia menyaksikan sendiri bagaimana kakaknya itu cukup melalui waktu yang berat.
"Oh, Kyungsoo sayang. Maafkan Halmeoni tidak bisa menjagamu selama ini, kumohon maafkan juga kedua orangtuamu. Tapi biarkan hukuman ini mereka jalani, setidaknya setelah ini kau aman, Sayang," Neneknya itu tetap memeluk, mengucapkan sebaris makna kalimat yang membuat Kyungsoo berputar. "Maafkan Halmeoni.."
"Tidak apa, Halmeoni, Kyungsoo sudah terbiasa. Ah, ya, tetap jaga Hyera saja, ya. Setelah ini kita tidak bertemu, Manis." Kyungsoo mengacak pelan rambut Hyera, yang kini matanya mulai berkaca. "Tetap jadi anak baik, ya, untuk Oppa."
"Oppa hiks..mau kemana?" Hyera mengalunkan suara kecilnya, masih memeluk Kyungsoo yang membalasnya dengan senyum getir. "Jangan pelgi, hiks..Hyela sayang Oppa."
Kyungsoo mengelus punggung adiknya, menekannya agar semakin dalam dipelukannya yang menghanyutkan, "Oppa jauh lebih menyayangimu, Hyera. Maaf selama ini kita jarang bermain bersama, Umma tidak memperbolehkanku menemuimu,"
"Hueeee~ Oppa jangan pelgi, pokoknya Oppa halus sama Hyelaa hueee~" raungan tangis gadis kecil itu membuat Kyungsoo tersayat hatinya, kesakitan yang perih. Ia sulit melepaskan Hyera, sekalipun mereka jarang bersama, tapi Hyera tetap saudaranya, adiknya yang sangat ia sayangi.
"Suatu hari kita akan bertemu lagi, aku janji, Hyera. Kyungsoo akan datang Halmeoni."
Dewasa, Kyungsoo terlalu dewasa sebelum saatnya. Mengalihkan sebagian dirinya pada Halmeoni yang kini menatapnya sendu.
"Oppa janji, ya? Halus menemui Hyela di Daegu, kalena Umma dan Appa pelgi jauh."
Kyungsoo mengangguk, berulang kali. Sesungguhnya ia juga tidak yakin dengan janjinya sendiri. Bisakah Kyungsoo memenuhinya? Maksudnya, siapa yang mengasuhnya setelah ini pun ia tidak tahu, dan kenapa dia tidak ikut diasuh oleh neneknya, bersama Hyera?
"Pasti, Hyera. Oppa janji." Omong kosong. Jalannya masih tak menentu dan Kyungsoo berharap bisa memperbaiki dirinya sendiri? "Halmeoni tahu siapa yang akan mengasuhku? Kenapa aku tidak dibiarkan bersama Halmeoni saja?"
Gelengan lemah menjawab pertanyaan Kyungsoo, "Halmeoni juga tidak tahu, Sayang. Tapi mereka bilang dia termasuk saudara kita, dia akan merawatmu dengan baik."
Bagaimana rasanya dipisahkan oleh keluarga sendiri? Dengan dalih kau akan diasuh dengan orang yang tak kau kenal tapi mengakui dirinya sendiri sebagai keluargamu? Kyungsoo bungkam. Sekilas ia menyaksikan kedua orangtuanya digiring, entah menuju kemana tapi Kyungsoo mensinyalir ini adalah pertemuan terakhir mereka. Lima tahun kedepan, semuanya akan berubah seiring perkembangannya. Itu juga kalau ia masih hidup, atau paling tidak orang yang mengasuhnya ini memang memiliki hati yang baik.
Kedua orangtuanya itu melemparkan tatapan sinis, sekalipun Kyungsoo tahu ini kesan yang mereka berikan terhadapnya. Yah, hari ini semuanya berubah. Kejadiannya terlalu cepat hingga untuk menarik nafas baginya pun terasa sulit. Kenyataannya memang seperti ini, ayah dan ibu yang menghidupinya itu sudah menghilang dibalik jeruji besi. Mendekam tanpa salam perpisahan selama lima tahun.
Dan Kyungsoo, tidak tahu seperti apa kehidupannya berikut ini. "Do Kyungsoo?" Dua lelaki bertubuh tegap, dengan setelan khas yang misterius. Datang dam menginterupsi obrolan ketiga orang disana. Kyungsoo mendongak, melepas pelukannya pada Hyera. Ia beralih menatap heran pada dua sosok yang terlihat sangat aneh itu. "Mohon maaf, kami akan membawa anda menemui pengasuh anda yang baru."
Kyungsoo belum sempat berucap apa-apa sampai mereka mencekal lengannya. Memaksa Kyungsoo membiarkan Hyera berteriak memanggil namanya, dan Halmeoni yang tetap menahan Hyera agar tidak berlari menyusulnya. "Oppaaaaaa! Hiks..jangan lupakan, Hyelaaa!"
Dua wajah orang yang disayanginya, takkan pernah bisa dilupakan Kyungsoo. Mengingat janjinya pada Hyera, Kyungsoo akan tetap kuat menjalani apapun yang tersaji setelah ini. Dengan begitu, ia akan secepatnya menemui Hyera, lalu orangtuanya bersedia kembali mengasuhnya setelah keluar dari penjara. Semoga masih ada harapan. Hidupnya membaik, ayah dan ibunya akan meminta maaf, lalu mereka kembali utuh sebagai keluarga. Tidakkah kenyataan semudah membayangkan?
Mereka membawa Kyungsoo keluar gedung, ditempat terpencil yang jauh dari jangkauan. Disana sudah berdiri sepostur tinggi tegap yang bersandar di dinding. Masker hitam menutupi sebagian wajahnya. Ia mendekati Kyungsoo, yang takut-takut menerima kedatangan orang ini. "Salam kenal, Do Kyungsoo. Aku, pamanmu."
Deg. Suara ini. Tidak asing. Kacamata gelap itu dilepasnya, dipegang tangannya. Mata itu, iris mata itu. Kyungsoo yakin ia sangat akrab dengan tatapan itu. Rambutnya, helai rambutnya yang acak. Kyungsoo sadar, ia baru saja memasukkan diri ke kandang buaya. Mati disana.
"Pada akhirnya, kau menjadi milikku, oh, ucapkan terima kasih pada mereka yang telah membantuku." Berat. Masker itu diturunkan sebatas leher, dan Kyungsoo mendelik, dan Kyungsoo merasakan nafasnya tercekat. "Hai, Kyungsoo. Mulai hari ini aku akan menjadi pemegang sah hak asuhmu. Kau selamat ditanganku, Sayang. Kai, pamanmu."
Dan Kyungsoo merasakan dunianya runtuh saat itu juga.
-ooo-
TBC!
Aaaaah!
Maaf alurnya dipercepat, biar ngga bertele2. Cepet selesai deh di Kai. Ohiyaa, maafkan kalo ngga nyambung sama tetek bengek tentang pengadilan, min-ah, ortunya, atau apapun itu didalam cerita. Maafkan yaaa~ author ngarang bebas soalnya xD
Oke, gimana chappie ini?
Kyungsoo bakal hidup di apartemen Kai habis ini. Penasaran sama kehidupan mereka berdua? Keseharian dan...sex?
Yaya!
See ya on next chap!
And, don't forget for leave your participants!
Revieeew pleaseee :)
