**WARNING! Bahasa vulgar , penyiksaan.**

##

##

##

##

"Apa kau yakin itu rumahnya?"

Di balik semak-semak yang tersapu angin, dua orang tengah bersembunyi. Mereka tengah konsen memperhatikan sebuah rumah besar nan mewah dengan unsur tradisional di sebrangnya. Rumah itu berasal dari alamat yang diberikan pada surat yang sudah dia baca.

"Iya, Biksu. Mereka pasti membawa dia kesana."

Biksu itu hanya bisa mengerat mulut. Ia tak dapat berkata apapun karena tidak menduga bahwa ia akan terlibat permasalahan berdarah ini. Ia pikir dirinya berada dalam kedamaian shanti untuk seumur hidupnya, namun ia memaksakan diri untuk membantu Jaehyun menyelamatkan mate nya yang sedang diculik.

Bukan sekedar diculik...

"Aku akan masuk ke dalam." Ucap Jaehyun santai, hendak meninggalkan sang Biksu. Tentu saja merasa ditinggalkan, Biksu itu tidak membiarkan.

"Mau kemana kamu ini!? Pergilah bersamaku. Aku akan ikut."

"Tidak, Biksu. Jika aku terluka, dan kau terluka, siapa yang akan menyelamatkan kita berdua?"

Biksu itu sejenak terdiam.

"Namun, aku tak mungkin membiarkan seorang anak kecil sendirian masuk ke rumah itu!" Biksu itu masih enggan melepas genggaman tangannya pada Jaehyun, yang kemudian ditepis paksa.

"Aku bukan anak kecil, aku ini sepenuhnya sudah besar. Umurku 18 tahun! Mate ku ada disana meminta pertolonganku. Inilah kewajibanku sebagai Alpha-nya untuk selalu melindunginya. Meskipun tubuh pendek sialan ini , tidak akan bisa menghambatku."

Jaehyun pun menghela nafasnya.

"Aku sesungguhnya adalah pembunuh di umurku yang sangat belia. Aku telah belajar mengiris leher orang bahkan di umurku yang masih 10 tahun sudah disuruh mematahkan tulang seseorang ketika umurku 10 tahun, dan belajar menembak kepala manusia di umurku 13 tahun.

Aku menjalani masa anak-anakku dengan tragis dan kebusukan. Aku sudah dilahirkan seperti itu, sehingga tak ada artinya aku bermanja dan melindungi diriku sendiri di kehidupanku yang sekarang."

Biksu itu pun menjadi tak bisa berargumen kembali dikarenakan pernyataan Jaehyun. Ia tak sekali mendengar kenyataan yang ada bahwa anak ini bukanlah sembarang anak-anak yang biasa ia temui. Biksu itu memang tidak bisa mempersulit keputusan begitu besar dari sisinya yang sudah didasari pengalamannya semasa hidup.

"Apa kau tak membawa senjatamu saja, Jaehyun? Jika kau ini pembunuh dahulu. Aku sebenarnya tak ingin kau membunuh.."

Jaehyun menggeleng. "Sejak tubuhku mengecil, sejak aku memiliki Taeyong-hyung, aku memiliki komitmen untuk tidak membunuh lagi. Aku akan melepaskannya dengan nyawaku, bukan nyawa orang lain."

"Jae—Jaehyun..."

"Jika dalam 1 jam, aku atau Taeyong-hyung tak kembali. Biksu bisa panggil polisi."

Biksu itu meneguk ludah.. "A—atau?"

"..walaupun aku tak yakin polisi bisa berbuat sesuatu pada mereka."

Kemudian, Jaehyun keluar dari semak itu, meninggalkan Biksu tersebut dalam rasa shock beberapa waktu.

###

Jaehyun berjalan di koridor rumah itu didampingi oleh 2 asisten besar yang sudah sangat dikenalnya. Mereka dahulu adalah seniornya yang suka mendecih iri dengan posisi Jaehyun sebagai pembunuh bayaran kesayangan. Namun kini berjalan berdampingan bersamanya dengan ekpresi menggampangi. Air muka mereka seakan berkata , 'Dasar. Kau terlihat lebih bocah sekarang yang tak bisa kurang ajar pada kami lagi'

"Masuklah ke sana" tubuh Jaehyun di dorong ke sebuah belokan yang mempertemukannya dengan jalanan panjang lainnya. Berkelok-kelok. Entah ruangan mana yang sedang dituju.

"Kalian bercanda? Mana mungkin aku hapal dengan tujuanku. Kau malah membiarkanku memasukinya sendiri?! Berharap aku bermain labirin disini?"

"Kau ini masih anak kecil, sudah seharusnya mencari permainanmu sendiri. Sana pergi dan cari ruanganmu." Badan Jaehyun diperosokkan ke lantai kayu dengan tertawaan yang tiada henti. Puas mereka mempermainkan harga dirinya yang sudah dijatuhkan hanya karena sebuah bentuk tubuh pendek juga dianggap tak berdaya.

Jaehyun tidak ingin meladeni mereka lebih lama. Ia langsung lari mengikuti belokan demi belokan pada koridor hingga ia bisa menemukan sebuah ujung dari ruangan yang dielukan sebagai tempat peristirahatan seseorang. Hal itu menyiratkan bahwa Taeyong tengah diasingkan kesana, di tempat yang sangat merepotkan ini dengan sengaja agar tak ada yang bisa menganggu.

Jaehyun langsung berhenti di sebuah pintu kayu merah yang di beri tulisan hitam pada sebuah papan yang digantung berupa 'Dilarang Masuk'. Instingnya tajam sekali memperkirakan sesuatu terhadap keberadaan pintu yang terlihat mencurigakan.

Jaehyun mencoba mendengar dari baliknya, ia buka pendengarannya lebar-lebar di sisi kayu yang tertutup itu.

"Nghh"

"Cepat itu bagianku brengsek"

"Mmphh! Mmphh!"

"HAHA.. sekarang giliranku."

Suara miris itu terdengar menusuk. Ada desahan tiada ampun yang tidak menggambarkan kenikmatan. Melainkan sebuah penyiksaan. Orang disana tidak 1 atau 2 saja, tapi segerombolan. Jaehyun tak jelas mendengar suara parau yang tertahan itu dari siapa, tapi ia berspekulasi banyak hal negative yang tidak membuatnya nyaman.

"Taeyong-hyung!" ia tak tahan, dirinya menendang paksa pintu itu berharap hancur di dobrak. Tapi kekuatannya tidak lebih dari seorang anak-anak. Kakinya mudah sakit jika menendang terus-terusan, tapi ia tak peduli kalau sampai tulangnya patah.

Cklek

"Wah,wah. Siapa yang datang."

Jaehyun terpleset jatuh ke lantai. Ia mendongak , dan bertemu pandang dengan lelaki brengsek itu yang sudah ia jenuh tak ingin ditemui. Alisnya bertautan ingin marah.

"Apa yang kau lakukan dengan Taeyong-hyung!? Lepaskan dia! Kau tak ada urusan dengannya!" Jaehyun berteriak lepas membuat pria di hadapannya tertawa jahat.

"Tentu saja aku punya urusan dengannya. Kau tidak tahu, aku pernah menyuruhmu menculiknya?"

"Ya! Namun, kau sudah melepasnya! Kau membiarkanku tidak menculiknya, dasar Brengsek!"

"Oh, aku bukan menculiknya kali ini. Bukan juga karena alasan untuk mengambil informasi sang mantan Perdana Mentri..."

Jaehyun membelakak mata. Apa maksudnya?

Pria itu kemudian masuk ke dalam. Badannya tidak menghalangi ruang pandangan Jaehyun akan sisi terdalam ruangan itu. Jaehyun dengan leluasa bisa melihat segala hal buruk dan menakutkan di dalam sana yang membuat ia ingin membakar setiap manusia di dalam sana.

Pria itu, berjongkok di samping seorang pemuda tanpa sehelai benang di tubuhnya. Yang telah tergeletak di atas lantai, dipenuhi keringat, bau lelehan sperma yang menjijikkan, bahkan beberapa tetes darah entah darimana. Badannya mengurus kelelahan. Tidak cantik , sangat layu.

Taeyong terikat, banyak luka pecutan, tidak bergerak, tidak sadarkan diri. Seperti seekor hewan ternak.

Yang lebih miris, tangannya terluka, melindungi bagian belakang lehernya. Yang jadi tujuan para Alpha lapar, yang senang menjelajahi daging empuk tersebut di masa heat. Ia melindungi tanda paten yang berada di lehernya agar tidak ditimpa tanda hina lainnya.

"Dia seharusnya kembali padaku," ucap pria itu sambil memaksa mengangkat kepala pemuda rapuh itu seolah buah durian, dengan menarik rambutnya. Wajahnya penuh luka, juga memar habis dipukul. "Ia adalah seseorang yang sangat berarti untukku dahulu. Tapi ia malah meninggalkanku untuk bocah sepertimu."

"K—kau... Yuta?" Jaehyun mengepal tangan. Murka. "KAU 'YUTA-SAN' !? MANTAN KEKASIHNYA!? JADI BUKAN PERDANA MENTRI ITU!?"

Pria bermata cacat itu tertawa puas, menggema di satu ruangan tersebut. Semakin mencerca Jaehyun yang tidak becus sebagai seorang pair nya.

"Sebelum aku menjadi pemimpin yakuza, juga meneruskan ayah tiriku, nama asliku adalah Yuta Kazuto."

Jaehyun tidak bisa menahan kemurkaan yang sudah melepas pada tubuhnya.

"SIALAN!" Jaehyun yang murka telah berlari masuk sambil melayangkan tinju, hendak memukul muka Kazuto yang masih saja tertawa mencela.

Namun ia langsung dicegat salah satu pengawalnya, tangannya dipiting ke belakang, dan dia diperosok ke lantai kayu. Kepalanya mencium lantai, yang sudah bau sperma menggelikan. Ia tak sanggup , tak bisa melawan sama sekali.

"Ku—kumohon, be—baskan Taeyong-hyung." Jaehyun menangis. Air matanya mengalir membasahi wajahnya. Tidak ada yang kasihan, kepalanya malah makin ditekan ke lantai dengan seenaknya.

"HAHAHA... racun itu bahkan membuat mentalmu sangat lemah, Nak. Dirimu yang sok kuat dan tegar, akhirnya menangis dalam kungkunganku." Kazuto kemudian melepas sergapannya, dan membuat Taeyong kembali tergeletak tidak berdaya. Sedikit respon dari lelaki itu, yang berarti ia sudah sedikit sadar. Tubuhnya masih lemah untuk bergerak. Tapi, matanya sudah bisa terbuka.

Ia melihat ke sekitar dengan pandangan minim nya, orang-orang menonton dirinya seperti seekor binatang sirkus yang habis disiksa pelatih. Ia kemudian mencoba menggerakkan diri, untuk melihat hal lain.

Betapa kagetnya ketika ia sadar, telah melihat seorang anak kecil sudah diperosok di hadapannya. Anak itu tak lain tak bukan, adalah seseorang yang begitu berarti untuknya.

"Jae—Jaehyun." Lirihnya terlalu lemah. Namun Jaehyun bisa mendengarnya.

"Tae—Taeyong-hyung?" Jaehyun mendongak, membuat pandangan mereka masih sempat bertemu.

"WAH WAH, pertemuan yang sangat mengharukan. Aku sangat sedih." Kazuto berakting, mempermainkan momentum mengharukan ini sebagai sebuah hiburan menyenangkan untuknya. Kelakuan sadis nya membuat dua orang yang saling cinta ini berada dalam penistaan.

"Aku luluh dengan kalian. Bagaimana bisa aku setega ini memperlakukan kalian?" ucap nya banyak omong. Kazuto pun menyalakan rokoknya. Mengepulkan asap tanpa ragu, seolah keadaan tidak sedang terpojok saat ini.

"Walaupun aku jahat, tapi aku masih cukup bijak." Ungkapnya, membuat Jaehyun maupun Taeyong susah payah mendongak ke arahnya yang menjulang di atas sana, dengan berdiri merajai mereka. Seserius apa ekspresinya saat bicara begitu. "Aku berikan kalian 2 pilihan."

"Pertama, aku akan melepaskan Taeyong. Dengan syarat, anak ini harus mengabdi padaku."

Jaehyun meneguk ludah kasar.

"Kedua, untukmu Yoon Oh." Taeyong memperhatikan Jaehyun.

'Yoon Oh?'

"Kau bisa saja kembali dengan tubuh normalmu. Tapi kau akan melepaskan Taeyong bersamaku seumur hidupnya."

Jaehyun mengerang. Ia tak rela. Kepalanya mencoba bangun, tapi cegatan dari si asisten terlalu kuat.

"Kau ini Alpha. Kau bisa marking seribu Omega manapun, sepuas hatimu. Bahkan kau bisa menikmati tubuh manapun, tanpa terkecuali. Tak ada yang membatasimu. Tanpa mate mu, hidupmu masih sangat leluasa."

Jaehyun mengerang. Ia sekuat tenaga menggeleng tidak ingin. "AKU TAK MAU! LEPASKAN Taeyong-hyung!"

"Jae—Jaehyun.."

Jaehyun dan Taeyong saling berpandangan lagi. Jaehyun mencoba meraih kepala Taeyong dengan sentuhan tangannya yang tidak dipiting. Ia mengusap rambut pemuda itu yang sudah lengket karena keringat. Ia sentuh dengan sayang. Taeyong rindu sentuhan Dewasa itu pernah membelai tubuhnya. Jauh lebih nyaman, daripada sentuhan dari tangan kotor para pria tak tahu diri.

Kemudian dua tangan mereka saling menyentuh, saling bertaut seperti hari-hari kemarin ketika waktu mereka masih bermanja, romantis, dan bebas. Cincin mereka yang merupakan 'saksi' kisah terdahulu, saling bersentuhan dalam dekapan tangan mereka.

"Aku mencintaimu, Taeyong-hyung. Aku sudah banyak membuat rahasia padamu."

"Jaehyun..."

"Jaga dirimu. Tunggu aku. Aku berjanji akan kembali."

Taeyong tidak bisa menahan luapan air matanya. Ia tak sanggup melepas Jaehyun.

"Si—siapa dirimu, Jaehyun.." ucapnya. Taeyong setidaknya ingin memberikan pertanyaan terakhir sebelum mereka memang seharusnya dipisahkan saat ini. Tak ada yang bisa melawan keputusan Kazuto.

Jaehyun tersenyum. "Aku Jaehyun Jung."—karena inilah diriku yang sebenarnya. Tak pernah ada Yoon Oh di akte kelahiranku.

"Sudah cukup dramanya. Cepat lepaskan Omega sialan ini dari penglihatanku! Bawa anak ini ke ruanganku! SEKARANG!" perintah Kazuto yang tiada ampun melakukan adegan pemisahan dua insan yang saling membutuhkan ini semudah tiupan angin yang membelai semak-semak. Ia pergi begitu saja dengan rasa cemburu, karena di jerumuskan pada sebuah sesi percintaan yang tidak pernah ia rasakan.

Ia yang tak sudi pun akhirnya berhasil memisahkan keduanya, ia pergi dengan rasa yang puas sekaligus sakit. Wajahnya ditekuk selama kepergiannya.

Sementara Taeyong meronta-ronta , diseret keluar dari ruangan.

Jaehyun, pun digendong pergi ke ruangan lain.

Arah kepergian mereka berbeda, dan genggaman mereka pun terpisah...

###

Biksu yang menunggu sudah sangat resah karena sampai 1 jam pun, tidak ada tanda siapapun keluar dari rumah tersebut. Ia hanya sibuk berjalan bolak-balik di satu tempat, sambil ragu-ragu mengenggam hp yang diberika oleh Jaehyun.

"Kau kira aku paham menggunakan HP selama kerjaanku bermeditasi di kuil seumur hidupku." Biksu itu mengigit bibir khawatir.

Kemudian, tak lama ia melihat dua orang pria bertubuh besar datang keluar dari rumah, sambil menyeret seonggok tubuh yang tak berdaya. Ia melemparkan tubuh itu seperti sampah ke jalanan. Lelaki yang dibopong mereka bahkan tidak sanggup membela diri. Ia langsung terperosok tidak kuat.

Memastikan tak ada yang mengawasi, Biksu itu tak tega hingga membuatnya langsung beranjak dari tempat persembunyian. Ia berlari keluar mendekati pemuda lemah itu yang sampai mengesot di tengah jalan sepi kendaraan tersebut.

"Bangunlah. Kau baik-baik saja?" –siapa dia? Korban lain dalam sekapan mereka?

"Siapa namamu?"—apakah dirinya yang disebut Taeyong Lee?

Taeyong mendongak, dan mendapati seorang pemuda berkepala pelontos dengan baik membantunya bangun. Ia menerima pertolongan itu. Kakinya tidak kuat berjalan karena sakit.

"A—aku Taeyong Lee."

Sang Biksu terkejut. Taeyong Lee, mate dari Jaehyun rupanya sudah separah ini diperlakukan oleh para penjahat tidak bertanggung jawab di dalam sana. Pantas saja Jaehyun tak sanggup membiarkannya disekap lama.

"Kemanakah Jaehyun, Taeyong?"

Taeyong pun mengeluarkan air matanya. Membuat sang Biksu menjadi tak tega, sambil memberikan sebuah lap pribadi miliknya yang selalu ia bawa untuk membersihkan buraian air matanya.

"Aku tak yakin bisa bertemu dengannya lagi.." Taeyong didudukkan di balik persembunyian yang sebelumnya. Ia di sandarkan ke sebuah pohon. "Ia memintaku untuk tidak melaporkan apapun tentang hal ini demi menyelamatkanku.

Bahkan ia rela pergi bersama mereka demi aku."

"Astaga!"

Taeyong semakin mengerang tangisan karena ia tak bisa lagi merasakan pelukan hangat, atau sentuhan cinta dari mate nya yang selalu ia idamkan berada di sisinya. Dirinya malah larut dalam keterpurukan, dan lagi-lagi kesepian. Ia menumpahkan semuanya dalam sebuah rengekan.

Sang Biksu pun dengan kasihan, memeluk Taeyong dan memberikan rengkuhan tenang untuknya. Ia berdoa pada Dewa-dewa agar keduanya senantiasa diberikan kesabaran. Ia menyadari situasi ini pastilah sulit untuk keduanya.

Biksu itu hanya bisa bijak mempertimbangkan keegoan Jaehyun sebagai maksud perlindungan untuk Taeyong yang harusnya diterima. Ia juga harus menerima Taeyong untuk dilindunginya, seperti yang Jaehyun pernah bilang, jika ia tak sanggup melindungi Taeyong dengan tubuh kecilnya.

Semua petuah itu sekarang akhirnya dijalankan. Biksu itu tidak bisa melepas janjinya.

"Taeyong, mari pulang. Kuajak kau bermalam di kuil agar bisa berdoa. Kita doakan, agar Jaehyun bisa kembali dan bertemu denganmu lagi."

Taeyong memperhatikan dua pandang tulus dari seorang Biksu tersebut seakan menemukan pencerahan untuk jiwanya yang gelap karena kesedihan. Uluran tangan Biksu tersebut, dengan baik ia terima.

Ia tak bisa menoleh lagi ke rumah tersebut, karena ia tak mau mengingat Jaehyun dibawa pergi mereka.

"Jaehyun telah berjanji akan kembali.. maka aku memegang janjinya. Dia pasti tidak akan berbohong padaku.

Ini hanya soal waktu."

To Be Continue

(next is the last episode)

Terima kasih atas comment kalian :) itu memberikan semangat juga buat saya untuk update.. Syukurlah cerita ini mendapat respon baik sekali dari kaliann uhuhuhu 3i'm waiting for your another confession and support!

Cerita ini sudah selesai update di Wattpad, biasanya up2date disana ( Mir_ramen). Saya juga update Ori BL di acc lain saya ( Mir_ayam).