HBD KKE (walau telat lama, tapi biarkan lebih baik telat daripada gak sama sekali) and here's my little present for you, i hope you like it lil fox

etoo, hallooo .. well sebenernya sih, gw rencananya nge akhirin ff ini dengan chapter terakhir kemarin (Umi ga shindaaaaa!) tapi kayanya agak gimana gitu, apalagi ini rencanaya pengen kaya yaaa.. appreciation ff buat Eli lah, and buat kalian thanks karna udah menyempatkan diri buat baca ( ^_^)/


Sudah seratus lima puluh tahun berlalu sejak Umi menghembuskan nafas terakhirnya di pangkuan ku. Dan disinilah aku, masih menunggu 'janji' yang di ucapkannya sebelum meninggal akan terwujud, bodoh memang untuk mempercayai bahwa dia akan kembali lagi, atau lebih tepatnya hidup kembali…, tapi apa salahnya?, lagipula tidak ada yang mustahil di dunia ini.. iya kan?

#Flasback

"Eli, aku tahu kalau ini memang bukan waktu yang tepat untuk menanyakan hal seperti ini,tapi…, apa rencana hidumu setelah ini?" Tanya Maki padaku yang masih duduk termenung memandangi tubuh kaku gadis yang aku cintai

"…" aku tidak menjawab, atau bisa dibillang pikiranku saat ini atau mungkin selamanya tidak akan pernah menemukan jawaban dari pertanyaan yang dilontarkan oleh Maki padaku.

Tangan kiriku menuju tengkuk leher si gadis berambut biru, dan tangan kananku menuju bagian bawah kedua dengkul kakinya.. Dingin, sensasi itulah yang pertama kali tanganku rasakan saat menyentuh tubuh kakunya. Perlahan aku mulai berdiri dengan tetap menjaga keseimbangan tubuhku, dan akhirnya aku berdiri seutuhnya dengan kedua tanganku menopang tubuh dingin dari gadis yang aku sayangi, "tolong biarkan aku sendiri" dan mulai berjalan menuju hutan dan meninggalkan Maki, Rin, Hanayo, dan Honoka.

Semakin kakiku melangkah meninggalkan mereka, semakin juga sensasi di kedua tanganku menarikku kembali pada kenangan di mana saat itu aku juga melakukan hal yang sama, ya..,menggendongnya seperti ini, namun di saat itu tubuhnya terasa hangat, kedua tangannya yang gemetar merangkul leherku, dan bahkan otakku masih merekam rengekannya tentang 'turunkan aku, ini adalah hal yang memalukan' di kupingku di saat hal itu terjadi.

Namun itu semua hanyalah sebuah ingatan sekarang, yang entah itu akan menjadi pelipur ataukah penambah laraku nantinya. Tubuh yang sedang aku topang sekarang tidak lebih hanyalah sebuah cangkang dingin, yang tidak akan bergerak ataupun gemetar, dan yang tidak akan merengek – rengek di kupingku. Sekarang aku tak akan bisa lagi memandang bola mata Topaz itu, karena kedua kelopak itu akan selalu tertutup selamanya.

Noda merah yang ada di dadanya, menandakan bahwa aku tidak akan bisa lagi mendengar ataupun merasakan degup syahdu jantungnya, di saat dia tidur terlelap di atas dadaku, di saat pikiran ku sedang memutar ulang kejadian indah itu, pandanganku mengabur, namun tidak lama karena penyebabnya sudah meluncur turun mengalir di kedua pipiku, ujung pangkal tenggorokanku tersasa sesak seperti ada sesuatu yang mengganjal di dalamnya.

Hujan sudah berhenti, tapi kenapa air ini terus mengalir?, aku terus berjalan menerobos gelap dan lebatnya hutan, dan aku tiba di padang rumput tempat di mana aku melihat mayat Kotori tergelatak, dengan sebagian dari tubuhnya tertempel kertas mantra, dan luka bakar. "Maafkan aku Kotori, aku gagal" kataku pelan seraya aku berjalan melewatinya.

Dan akhirnya aku tiba di pondok miliku, pintunya masih terbuka, karena kejadian tadi siang. Aku masuk ke dalamnya, dan menyusuri gelapnya ruangan, namun itu tidak mempengaruhi penglihatanku, aku berjalan menuju futon miliku, dan secara perlahan aku merebahkan Tubuh dingin Umi di atasnya, di saat yang hampir sama tubuhku pun juga mulai ambruk di sampingnya.

Untuk apa aku hidup?, kedua orang tua ku telah tiada, Alisa di bawa pergi dan sekarang entah dimana, kakek ku membenci ku, dan sekarang satu – satunya cahaya yang aku punya juga telah dipadamka di renggut dariku, lalu pada akhirnya tanpa adanya cahaya, kegelapan akan selalu berhasil untuk menakutiku. "aku lelah dengan semua rasa takut ini, sudah cukup… sudah cukup"

Aku mulai mengeluarkan kuku di telunjuk kananku, dan mengarahkannya pada nadi kiriku.

Ini.., sejauh mataku memandang di depanku sekarang hanyalah padang rumput, yang biasa aku lewati, Apa aku sudah mati?, aku mengangkat tangan kiriku lalu membalikkannya guna untuk melihat nadinya, tidak ada goresan ataupun rasa sakit

"Eli", aku terkejut dengan suara yang memanggil namaku, namun aku lebih terkejut dengan si pemilik suara ini, dengan cepat aku mengangkat kepalaku, dan yaa.. Didepanku berdiri gadis berambut biru yang sangat kusayangi, dia tersenyum memasang senyum lembut khasnya , dan seperti biasa dia mengenakan seragam miko miliknya, yang selalu berhasil membuatku bergumam 'anggun' di saat setiap kali aku bertemu dengannya

"Umi" aku mengarahkan, tangan kananku menuju pipi kirinya, hangat , ibu jari ku mengusap pipinya secara perlahan, dan diapun meresponnya dengan cara menyandarkan wajahnya pada telapak tanganku, dan melapisi tanganku dengan tangannya.

the end(?)


aahhh... just that?, i dun no, maybe yeess maybe noot

tapi satu hal yang pasti "Bundir itu tidak baik anak2" don't be like Sayori be like Monica

Monica