oOo

"Ok, terima Kasih."

Donghae menatap layar ponsel mahalnya yang baru saja mati sambil menghela nafas pelan. Pengacaranya baru saja menghubunginya, mengabarkan kalau berkas perceraian yang diajukannya telah selesai diurus dan esok hari berkas itu akan segera sampai ke tangannya. Selembar kertas laknat yang akan merubah seluruh hidupnya.

"Pengacaramu?" tanya Kibum yang sejak tadi hanya mencuri dengar pembicaraan Donghae dengan pengacaranya. Bukan maksud Kibum untuk menguping, tapi pendengarannya yang setajam belati otomatis bisa mendengar apa apa saja yang dibicarakan sahabatnya melalui sambungan telepon tersebut. Jemarinya yang panjang mengetuk-ngetuk ujung pena pada permukaan meja kaca dihadapannya. Tatapannya tidak luput sedikitpun dari raut keruh Donghae.

"Hm."

"Kau yakin dengan itu? Maksudku apa kau serius akan melepaskan Hyukjae?"

Donghae menghela nafas berat. Sesungguhnya Donghae belum menyerah untuk mendapatkan Hyukjae kembali, namun kini ia merasa mulai lelah. Segala cara telah Donghae lakukan untuk mempertahankan Hyukjae agar pria cantik itu tetap berada disisinya. Namun apa? Hyukjae tetap bergeming dengan keputusannya.

"Aku mulai lelah."

Donghae membawa bahunya bersandar pada sandaran kursi. Memutar benda yang ia duduki itu hingga kini posisinya membelakangi Kibum. Langit cerah diluar sana tetap tidak mampu membuat pikirannya yang semrawut menjadi tenang.

Donghae memejamkan matanya. Memikirkan nasib percintaannya yang amat menyedihkan. Untuk pertama kalinya ia terjatuh begitu dalam pada seseorang dan untuk pertama kalinya jugalah ia merasakan sakit yang teramat sangat. Jauh lebih sakit ketimbang penghianatan yang pernah Jaekyung lakukan padanya dulu.

"Kalian pasangan yang menyedihkan." cibir Kibum.

Donghae berdecak, "Daripada kau sibuk mengomentari urusan rumah tanggaku, lebih baik kau kembali ke kantormu, Tuan Kim. Aku banyak pekerjaan."

Kini ganti Kibum yang berdecih, "Apanya yang banyak pekerjaan? Sejak aku tiba disini tiga puluh menit yang lalu yang kau kerjakan hanya melamun dan menghela nafas seolah besok akan kiamat, Tuan Lee Donghae yang sok sibuk."

Sial.

Apa yang Kibum katakan tidak ada yang keliru sama sekali. Sejak pagi yang Donghae lakukan hanyalah melamun sambil bertopang dagu. Bahkan di atas meja kerjanya tidak ada satupun berkas atau apapun itu yang bisa menujukkan kalau Donghae memang tengah sibuk.

Double sial. Kim Kibum memang jenis manusian yang sulit sekali untuk dibodohi.

"Lalu apa yang mau kau lakukan disini wahai manusia pecahan es kutub utara?" tanya Donghae ketus sambil memutar lagi posisi kursinya menjadi seperti semula.

Kibum menarik sebelah sudut bibirnya. Sudah lama sekali ia tidak mendengar panggilan super aneh itu keluar dari mulut Donghae. Panggilan yang mereka gunakan saat masih kuliah dulu.

"Sebenarnya ada yang ingin kutanyakan padamu."

"Apa?"

Donghae merasa sedikit heran. Kenapa Kibum tidak menanyakannya lewat telepon saja seperti sebelum-sebelumnya. Apa hal yang ingin Kibum tanyakan begitu penting sampai-sampai ia langsung mendatanginya seperti ini? Bukan gaya Kim Kibum sekali yang terkenal sebagai manusia anti repot.

"Saat kau dan Hyukjae di Amerika tempo hari, apa kau sempat menemui dia?"

Alis Donghae semakin mengkerut. Kenapa tiba-tiba Kibum menanyakan hal itu?

"Kenapa memangnya?"

"Hanya ingin memastikan."

"Memastikan?"

Kibum bangkit berdiri, lalu beranjak menuju dinding kaca kemudian bersandar disana dengan posisi menyamping. Salah satu tangannya merogoh saku celananya, mengeluarkan sekotak rokok berikut pemantik apinya. Menyulut sebatang, kemudian menghisapnya dan menghembuskan asapnya dengan perlahan.

Donghae semakin heran. Sejak kapan sahabatnya yang berwajah datar namun tampan itu mulai merokok. Seingat Donghae, hanya Yunho yang pernah merokok, itupun tidak lama. Lalu apa yang terjadi sampai Kibum menjadi pecandu nikotin seperti itu. Meski penasaran Donghae memilih untuk menelan semua pertanyaan yang sudah menggantung di ujung lidahnya. Semua itu bisa disimpan untuk nanti, sekarang yang lebih penting adalah apa yang ingin Kibum katakan.

"Aku dan Kyuhyun bertemu dengannya dua minggu lalu di rumah sakit. Awalnya aku tidak yakin kalau itu adalah dia karena dia merubah warna rambutnya menjadi pirang. Tapi dua hari lalu aku kembali bertemu dengannya di sebuah pusat perbelanjaan, barulah aku yakin kalau itu memang dia."

"Lalu? Kurasa tidak ada yang aneh dengan itu."

"Memang. Tapi apa kau tahu apa yang dia lakukan dirumah sakit?"

"Apa?"

Kibum menjatuhkan rokoknya yang masih tersisa setengah lalu menindasnya dengan ujung sepatu fantopelnya. Sepasang mata elangnya menatap Donghae lekat.

"Well, kau belum menjawab pertanyaanku sebelumnya. Apa kau sempat menemuinya saat di Amerika?"

"Aku-

"Sialan! Ternyata si muka papan ada disini!"

Donghae hampir melempar ponsel dalam genggamannya saat dengan tiba-tiba pintu ruangannya terbuka tanpa peringatan kemudian di susul dengan munculnya sosok Yunho diambang pintu sambil berkacak pinggang.

"BRENGSEK! Kau pikir tempat ini milik kakekmu? Apa tanganmu itu hanya bisa kau gunakan untuk meremas bokong Kim Jaejong, hah? Ketuk pintunya dulu! Dasar tidak tahu sopan santun!" sembur Donghae penuh emosi. Semua jawabannya untuk pertanyaan Kibum pun kembali tertelan bulat-bulat. Sementara Yuhno hanya tersenyum tanpa dosa. Tujuannya kesini hanya untuk mencari Kibum yang kini tengah menatapnya dengan tatapan datar namun sungguh menusuk.

"Sorry, dude. Aku mencari orang itu. Dia berjanji akan menandatangani kontrak kerja sama dengan perusahaanku hari ini."

Baik Donghae maupun Kibum hanya memutar mata dengan malas. Tapi setidaknya bagi Donghae, ada hikmah dibalik kedatangan Yunho kali ini. Dia bisa lepas dari segala pertanyaan penuh keingintahuan dari Kibum. Yeah walaupun hanya untuk sementara, karena Kibum tidak akan jenuh untuk terus mengejarnya walau Donghae bersembunyi di lubang cacing sekalipun.,

"Bagus. Kau bawa saja dia pergi dari sini. Sekarang juga. Karena aku sangat sibuk dan dia hanya menggangu konsentrasiku saja." ucap Donghae dengan gestur tangan seperti tengah mengusir seekor kucing.

"Mencoba untuk menghindar? Cih, aku baru tahu kalau kau jelmaan banci, Tuan Lee."

Meski geram karena disebut jelmaan banci, Donghae tetap mencoba menahan diri untuk tidak melempar kursi yang tengah didudukinya tepat kewajah Kibum. Apa-apaan? Mana ada banci yang perkasa seperti dirinya?

Dasar muka papan!

"Terserah apa katamu. Pintunya disana dan tolong tutup rapat setelah kalian keluar. Terima kasih."

Yunho mendengus, "Bedebah ini." lalu beranjak dari sana lebih dulu. Dia diburu waktu, ngomong-ngomong. Karena Jaejoong, kekasihnya yang cantik dan seksi sudah menunggunya sejak tadi di apartmentnya.

"Kau masih berhutang satu penjelasan padaku." ujar Kibum mengingatkan sebelum menutup pintu ruangan Donghae. Meninggalkan pemiliknya seorang diri dengan berbagai macam pikiran yang bergelayutan dibenaknya.

oOo

Hyukjae tengah menyiapkan susu untuk Jeno ketika suara bel tiba-tiba terdengar memekakan telinga. Hyukjae mengernyit heran, jam yang melingkar di pergelangan tangan kirinya baru menunjukkan pukul tiga sore. Tidak mungkin Donghae sudah pulang jam segini. Lagipula Donghae tidak pernah memencet bel saat pulang. Dia akan langsung masuk. Karena meskipun Hyukjae mengunci pintunya Donghae memegang kunci cadangannya sendiri.

Dengan langkah panjang-panjang Hyukjae meninggalkan dapur menuju pintu utama. Mendengus kesal saat suara belnya semakin lama semakin terdengar tidak sabaran.

"Sore, Hyukjae."

Hyukjae menatap datar tamu yang berdiri dihadapannya sambil tersenyum lebar.

"Mau apa kesini?"

"Hey santai sedikit. Aku hanya mampir karena kebetulan lewat."

Kalau hanya sekedar mampir, lalu untuk apa membunyikan bel seperti orang kebelet mau melahirkan. Membuat kesal saja.

"Donghae belum pulang." Hyukjae membuka pintu lebih lebar agar tamu tidak diundangnya itu bisa masuk.

"Aku tahu. Aku juga tidak sedang mencarinya." katanya cuek kemudian mendudukan dirinya pada sofa panjang di ruang tamu yang maha luas itu.

"Mau minum apa, Kyu?"

"Apa saja."

Kopi dengan sianida sepertinya bagus

"Tunggu sebentar, aku harus memberikan susu ini untuk Jeno dulu."

"Ah, dimana keponakanku yang tampan sepertiku itu? Aku kangen sekali padanya. Sini biar aku yang berikan susunya, kau buatkan saja aku kopi."

Dengan sianida?

Seandainya meracuni dan membunuh itu tidak dosa dan mengakibatkan dirinya terjerat hukum, Hyukjae akan dengan senang hati mencampurkan racun ke dalam minuman Kyuhyun agar populasi orang kurang kerjaan di muka bumi ini sedikit berkurang. Oh, betapa kejamnya dia.

"Pastikan Jeno menghabiskan susunya."

Hyukjae menyerahkan botol susu Jeno pada Kyuhyun dan membiarkan sahabat Donghae itu menaiki tangga menuju kamar Jeno.

"Kamar Jeno ada disebelah kanan bawah tangga ngomong-ngomong." Ujar Hyukjae setengah berteriak saat Kyuhyun sudah ada di anak tangga terakhir di atas sana.

"Kenapa tidak bilang dari tadi?"

"Kau tidak tanya."

"Sialan."

Kyuhyun melompati dua anak tangga terakhir, lalu menuju kamar yang Hyukjae tunjukkan tadi sambil bersungut-sungut.

Saat kopi panas dengan asap mengepul Hyukae letakan diatas meja diruang tamu, disana sudah ada Kyuhyun yang tengah mengoda Jeno yang terlihat sudah hampir menangis karena botol susunya dicabut secara paksa dari mulutnya saat dia tengah asyik menyedot susunya.

"Hentikan. Kau membuatnya menangis, Cho!"

"Dia lucu sekali." ujar Kyuhyun sambil menciumi pipi gembil Jeno membuat balita satu tahun itu kini tertawa kegelian.

"Makanya cepat menikah agar kau cepat punya anak. Kudengar Siwon siap menjadikan kau istrinya."

"SiapaㅡAkh sial! Dokter cabul itu?! Apa yang dia katakan padamu?" Wajah Kyuhyun terlihat memerah. Entah karena tersipu atau menahan marah.

"Tidak ada. Dia hanya bilang kalau dia tertarik padamu." Hyukjae menyesap teh madunya. Lalu meraih Jeno dari pangkuan Kyuhyun untuk direbahkan diatas pangkuannya. Waktunya balitanya untuk tidur.

"Bilang padanya untuk tidak menghubungiku dan menggangguku lagi."

"Kenapa?"

"Aku tidak tertarik."

Hyukjae hanya mengangkat bahu tidak peduli. Bukan urusannya memang. Karena banyak hal yang lebih penting yang harus dia urusi ketimbang mengurusi Siwon dan pria iblis yang menjadi incarannya. Salah satunya berkonsentrasi mengurus kelanjutan proses perceraiannya dengan Donghae.

Sudah hampir tiga bulan berlalu namun berkas-berkasnya tidak kunjung selesai diurus. Bukannya Hyukjae tidak sabaran untuk segera bercerai dengan Donghae. Hyukjae hanya takut jika keputusannya akan goyah jika terlalu lama tetap berdekatan dengan Donghae. Karena Donghae mati-matian melarangnya keluar dari rumah ini sebelum mereka resmi bercerai.

"Oi Hyuk! Kau tidak dengar suara bel itu?"

"Hah?" Hyukjae mengerjap. Rupanya dia sempat melamun tadi sampai-sampai tidak mendengar bel rumahnya berbunyiㅡlagi.

Ada tamu lagi?

"Bisa tolong bukakan pintunya? Aku akan membaringkan Jeno dikamarnya dulu."

Tanpa menjawab Kyuhyun segera beranjak untuk membukakan pintu meski sepangjang jalan menuju pintu mulut pedasnya tidak hentinya menggerutu. Begitu pintu terbuka baru setengahnya saja dan menampakan siluet seseorang tengah berdiri disana, Kyuhyun rasa bola matanya bisa saja menggelinding keluar sebentar lagi karena saking terkejutnya.

"Hai."

"Kau?!"

Berdetik-detik Kyuhyun habiskan hanya untuk menatap seseorang yang berdiri dihadapannya. Kyuhyun bahkan harus beberapa kali mengerjap dan mengucek matanya, berharap apa yang tengah dilihatnya hanyalah buah halusinasinya saja. Namun meski kyuhyun melakukannya berapa kali hingga matanya perih pun objek di depannya tetap tidak berubah ataupun menghilang.

"Siapa yang datang?"

"Hai Hyukjae, lama tidak bertemu."

oOo

Donghae memarkirkan Cadilac Hitamnya dengan asal-asalan dihalaman rumah besarnya. Hyukjae tiba-tiba menghubunginya dan memintanya untuk segera pulang. Yang membuat Donghae penasaran dan langsung meninggalkan ruangannya dan setumpuk pekerjaan begitu saja tanpa meninggalkan pesan apapun pada sekretarisnya adalah karena Hyukjae menolak memberitahu alasan kenapa istrinya itu memintanya untuk segera pulang.

Ada yang aneh.

Tidak seperti biasanya. Namun Donghae mencoba untuk tidak berpikir terlalu jauh. Mungkin saja Jeno tiba-tiba sakit makanya Hyukjae jadi panik dan memintanya segera pulang.

Namun ada urusan apa Kyuhyun di rumahnya saat ini? Begitu pikirnya saat baru menyadari keberadaan sedan mewah Kyuhnyun di sisi lain halaman.

"Ada apa, Hyuk? Apa terjadi sesuatu dengan Jeno?" tanya Donghae dengan terburu-buru. Seratus persen mengabaikan Kyuhyun yang menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat di pahami. Tidak jauh berbeda dengan tatapan Hyukjae.

"Katakan padaku. Dua bulan lalu, saat kita di Amerika, apa kau sempat menemui Jaekyung?"

"A-apa? Kenapa tiba tiba menanyakan hal itu?"Donghae menelan ludah. Firasatnya mengatakan bahwa ada sesuatu yang tidak beres telah terjadi.

"Malam itu, saat kita baru tiba dihotel, saat kau meninggalkanku sendiri, apa kau menemuinya? Ah bukan, aku akan mengganti pertanyaannya. Malam itu, apakah kau menidurinya?"

"Akan kujelaskan, Hyuk."

"Jaekyung hamil, dan bayi itu milikmu."

Bagai tersambar kapal pesiar ditengah lautan. Donghae hanya bisa terdiam kaku tanpa bisa berkata-kata. Mulutnya hanya terbuka tapi tidak ada suara yang bisa keluar dari tenggorokannya. Donghae punya penjelasan tapi dia seolah tidak bisa menjelaskannya. Hingga Donghae jatuh terduduk diatas sofa, seluruh tubuhnya mendadak lemas. Seperti seluruh tulang dalam tubuhnya lenyap tak bersisa.

Saat hening menyelimuti, suara tangis Jeno sayup sayup terdengar, semakin lama semakin keras.

"Dia menunggu di kamarmu."

Hyukjae berbalik untuk beranjak menuju kamar Jeno. Wajahnya merah tapi dia tidak menangis. Membuat donghae merasa jauh lebih sakit. Lebih baik Hyukjae memaki atau menghajarnya daripada Hyukjae menunjukan reaksi seperti itu.

Donghae bangkit berdiri, ingin mengikuti Hyukjae, namun baru dua langkah Donghae menghentikan langkahnya. Percuma jika ia mencoba berbicara sekarang karena pasti hanya akan berujung sia-sia.

"Hey, Lee...Apa aku boleh meninju wajahmu?"

Donghae menatap Kyuhyun yang juga tengah menatapnya tanpa ekspresi.

"Bahkan kalau kau ingin membunuhku sekali pun aku tidak akan melawan."

"Ide yang bagus."

Dan Donghae harus rela tersungkur dilantai marmer rumahnya yang keras dan dingin saat Kyuhyun benar benar menarik kerah kemejanya lalu melayangkan satu tinju pada wajahnya.

"Anggap saja itu sebagai uang muka. Kau bersiap siaplah, karena aku akan kembali lagi untuk benar benar membunuhmu, dasar bedebah!"

Lalu suara pintu yang ditutup dengan sangat keras dan deru suara mesin mobil membuat Donghae yakin kalau Kyuhyun sudah pergi dari rumahnya.

Donghae berbaring dilantai sambil memejamkan matanya yang terasa berkunang-kunang. Lalu menyeka darah segar yang merembas dari sudut bibirnya yang sobek menggunakan punggung tangannya.

"Selesai sudah."

oOo

Wanita yang tengah duduk di sofa single di sudut kamarnya itu memang benar Jaekyung, dengan rambutnya yang pirang seperti yang Kibum katakan tadi. Dan kini tengah tersenyum padanya. Donghae ingin marah dan memaki, karena dengan datangnya Jaekyung kesini dan mengaku tengah mengandung anaknya sudah bisa dipastikan bahwa hidupnya berakhir saat ini juga. Namun semarah apapun Donghae pada mantan kekasihnya itu semuanya hanya akan berakhir sia-sia. Semua ini memang karena kesalahannya. Karena kebodohannya. Akan lebih tepat jika ia marah dan memaki-maki dirinya sendiri.

"Kau terlihat tidak terlalu baik, Donghae?"

Jaekyung menghampirinya, lalu mengusap sisi wajah Donghae yang lebam bekas tinju Kyuhyun beberapa saat lalu.

"Katakan yang sebenarnya. Apa benar dia milikku?" Tanya Donghae dengan suara pelan. Tatapannya tertuju lurus pada wanita dihadapannya.

Jaekyung membalas tatapannya, kemudian tersenyum simpul.

"Kau tahu benar bayi ini milik siapa."

Donghae mundur dua langkah. Wajahnya menjadi pias. Bahkan jika langit runtuh diatas kepalanya pun ia tidak akan bisa merasakan apapun lagi saat ini.

Donghae mati rasa.

Sementara itu Hyukjae kini tengah termenung di kamar Jeno. Inginnya untuk tidak menangis, namun apalah daya Hyukjae yang nyatanya tidak sekuat itu. Setelah berhasil menenangkan Jeno dan berhasil membuat balitanya itu tidur kembali, kini ganti Hyukjae lah yang menangis. Air matanya mengalir deras namun bibirnya berderai tawa.

"Aku hamil dan ini anak Donghae."

"HAH?!"

Saat Jaekyung mengatakannya, Hyukjae tidak menunjukan reaksi apapun meski Kyuhyun disampingnya sudah memekik keras. Seolah suaminyalah yang baru saja berselingkuh hingga menghamili wanita lain.

"Kapan?"

"Saat kami bertemu di Amerika."

Hyukjae menertawakan dirinya sendiri yang terasa begitu menyedihkan. Karena di saat itulah ia juga telah membiarkan dirinya jatuh ke dalam rengkuhan Donghae.

Haha. Bagus sekali.

Aku mendapatkan barang bekas

Sambil menyeka air matanya yang seolah tak mau berhenti mengalir, Hyukjae meraih koper kecil yang berada di atas lemari pakaian Jeno, membukanya dengan tergesa kemudian memindahkan sebagian isi lemari ke dalamnya dengan asal.

Hyukjae sudah mengambil keputusan. Mulai saat ini ia dan Donghae sudah tidak memiliki hubungan apapun lagi. Persetan dengan berkas perceraiannya dan persetan dengan perasaannya. Semua sudah tidak penting baginya. Yang terpenting adalah pergi sejauh mungkin dari Donghae dan segala sesuatu yang berhubungan dengan pria bajingan itu.

"Ini menggelikan."

Hyukjae pergi ke kamarnya dan kembali lagi beberapa saat kemudian dengan membawa sebuah koper besar.

"Ayo sayang, sebelum si brengsek itu membuang kita, kitalah yang akan mencampakanya lebih dulu."

Gumam Hyukjae sembari membawa Jeno ke dalam gendongannya. Sambil melangkah tergesa, Hyukjae sempat melirik pintu kamar Donghae di lantai dua, sepi sekali. Tapi peduli setan, ia bahkan tidak peduli jika penghuni kamar itu kini masih hidup atau tidak di dalam sana.

Namun Hyukjae tidak bisa untuk tidak terkejut saat ia membuka pintu utama dan mendapati seseorang tengah berdiri dengan gagah di hadapannnya dengan salah satu lengan menggantung di udara karena gagal meraih handle pintu. Kini menatapnya dan dua buah koper di samping kakinya secara bergantian dengan raut wajah bingung. Hyukjae mendesah dalam hati, ternyata tidak semudah itu untuk pergi dari Donghae.

.

.

.

.

.

TBC

.

.

.


APA INI? APAAAAA?

Sialan emang saya ini...lama ngilang eh begitu balik malah bawa chap super najisun ky gini, udah gitu pendek pulak TTvTT

Udah pada bisa benak kan apa yg bakal terjadi selanjutnya? Wkwkwkwk

.

_DeSTORIA_