A/N: Untuk pertama-tama saya mau mengingatkan kepada anda sekalian bahwa fic ini adalah hasil pengembangan plot dari canon tentang beberapa unsur yang menurut saya hampir tidak pernah keluar. Secara harfiahnya, fic ini memiliki alur yang agak sedikit berbeda dari aslinya atau gampangnya Alternate Universe. Dan mungkin pada chapter kali ini ada beberapa hal yang mungkin agak sedikit... aneh jika dikatakan, jadi mohon pengertiannya bagi anda sekalian yang membaca fic ini.
Okeh. Sebelum dimulai, saya ingin menjawab satu pertanyaan dari Reviewer yang ingin tahu darimana saya tahu kalau Sandaime diberi julukan Kyōju (The Professor). Jawaban saya ini harus membuat anda sekalian mengingat kembali saat Naruto memasuki Arc Mizuki, dimana Naruto disuruh untuk mencuri gulungan jurus milik Sandaime. Masih ingat ukuran gulungan yang dicuri tersebut? Nah! Dari situ anda dapat menyimpulkan sendiri, kenapa Sandaime diberi julukan Kyōju.
Dan bagi Senpai yang memberi masukan tentang perbedaan penulisan pada Kyuubi, saya haturkan sangat banyak terima kasih karena sudah mengajari saya.
Ok! Let's read this chapter...
Disclaim: Semua karakter yang ada dalam cerita ini bukan milik saya, saya hanya sedikit meminjamnya untuk hobi menulis saya yang masih abal-abal.
Warning: penuh typo, banyak kata yang tidak baku, perubahan karakter, dan lain-lain.
Summary: Karena ucapan kasar Sakura, Naruto berniat merubah segala sesuatu yang menurutnya sudah tak lagi menjadi sebuah hal penting dalam hidupnya sebagai seorang shinobi.
~o~
Chapter 7: Perempuan, Korban, dan Angkara Murka!
"Daging kecil..."
Setelah menyimpan baik sobekan kertas yang ia temukan. Jiraiya merasakan sebuah firasat buruk yang mengatakan bahwa suara yang terdengar seperti bisikan itu berasal dari sosok perempuan yang masih terkurung dalam tabung, Jiraiya tak ingin membuat sebuah gerakan tiba-tiba, karena jika ia melakukan itu bisa saja sosok perempuan tersebut menerkam dengan ganas.
Sang Gama Sennin memutar kepalanya penuh kearah kanan secara perlahan, demi melirik seperti apa keadaan buruk yang kini menimpanya. Sebenarnya dirinya berencana untuk membawa kelinci uji coba yang kini masih terkurung dalam tebung tersebut dalam keadaan hidup-hidup, tapi jika keadaan membuatnya harus melenyapkan makhluk tersebut, maka Jiraiya memang tidak memiliki pilihan.
Namun pikiran-pikiran negatif itu harus Jiraiya singkirkan sepenuhnya, sebagaimana kini dia mendapati bahwa perempuan tersebut masih berada dalam kurungannya. Tak puas hanya melihat dari sudut mata, Jiraiya mulai berbalik perlahan-lahan, dan melihat secara penuh senyuman dari perempuan tersebut yang ditujukan padanya.
Ada yang aneh.
Dahi Jiraiya berkerut dan kedua alisnya bertautan setelah melihat suatu kejanggalan kali ini. Beberapa kali dirinya pernah menemukan markas mantan rekan satu timnya itu, hasil uji coba yang masih tertinggal di markas tersebut sudah tak berbentuk sebagai manusia lagi. Dan hasil akhirnya Jiraiya harus membersihkan isi markas itu terlebih dahulu sebelum akhirnya meniadakan keberadaan markas itu. Hal aneh yang Jiraiya maksud kali ini adalah, salah satu kelinci uji coba yang Orochimaru tinggalkan tidak berubah seperti halnya yang lain, malahan dia terlihat tenang dan terus saja tersenyum tanpa sebab.
"Namamu...?"
Jiraiya menghilangkan wajahnya yang mengeras, namun tak sedikitpun melonggarkan kesiagaannya. "Namaku Jiraiya, namamu...?" Jiraiya ikut tersenyum, dan juga ikut meniru gaya bertanya dari perempuan didepannya.
Perempuan itu sedikit berpikir, kemudian kembali menatap Jiraiya sambil tersenyum. "Namaku, Sasame..."
-Change-
"HINATA...! HINATA...! KUMOHON BERTAHANLAH, HINATA!"
Meskipun Naruto tahu kalau Hinata masih dapat menghirup nafas, namun denyut jantung yang ia periksa dengan mendekatkan telinganya ke dada sang gadis menunjukkan banyak pengurangan. Detak jantung yang kian melambat itu sudah cukup menyadarkan Naruto bahwa nyawa gadis yang kini berada dipangkuannya sudah berada di ujung tanduk, ia tak ingin temannya mati disini.
Tak jauh dari kedua insan itu berdiri sesosok makhluk yang memiliki lengan lebih panjang dari manusia pada umumnya, dua tanduk bersarang didahinya, dan rentetan taring mengisi setiap rongga mulutnya. Makhluk yang sama yang ia hadapi beberapa hari yang lalu, makhluk hasil uji coba orang yang sangat ia benci, makhluk yang kini sudah tidak mempunyai sebuah kewarasan.
Monster tersebut terkekeh karena merasa senang melihat kedua remaja didepannya kini sama-sama menderita. Namun hasrat membunuh yang sudah melekat dalam-dalam pada dirinya tidak puas jika belum membuat dua remaja itu mati, dengan sesegera monster itu kembali merangsek kearah Naruto dengan air liur dan sebuah tawa yang sangat memuakkan.
"Akan kubunuh kau...!"
Sebelum monster itu benar-benar sampai, instingnya langsung menyuruhnya untuk berhenti ketika sebuah nafsu membunuh yang luar biasa besar mengisi ruang udara dan menyesakkan napas semua yang ada disana. Satu langkah mundur monster itu lakukan ketika insting membunuhnya kini kalah bersaing dengan rasa takut yang sampai-sampai membuat pergelangan kakinya bergetar, dia sadar bahwa yang dihadapinya kini bukanlah seorang remaja yang beberapa menit yang lalu dapat ia buat jatuh bangun dan muntah darah, namun yang dia hadapi kini adalah seorang iblis yang keluar dari dalamnya jurang Neraka untuk menghabisi siapapun yang dengan sengaja membuatnya terbangun.
...
Siang ini sebelum Jiraiya pergi untuk melanjutkan ekspedisinya mencari informasi lebih lanjut mengenai Nonso no Kuni, Jiraiya menyuruh Naruto dan Hinata untuk mengadakan latih tanding. Dan setelah mengucapkan itu, Jiraiya pun pergi meninggalkan kedua remaja yang saat ini saling pandang.
Naruto mengangkat kedua bahunya, "Yah, apa mau dikata? Mungkin Ero-sennin menyuruh kita untuk mengisi waktu luang. Jadi..." Naruto melompat kebelakang menjaga jarak, dan memasang kuda-kuda. "Ayo kita lakukan!"
Hinata kemudian tersentak. Dengan cepat gadis bersurai indigo itu juga ikut memasang pose bertarungnya, "Mohon bantuannya!"
"Aku mulai!" Naruto segera berlari menyongsong pertarungan. Satu lesatan pukulan tangan kanan dapat dengan mudah Hinata hindari, namun Naruto tak berhenti dan terus melesatkan pukulan dari kedua tanganya yang terus saja menargetkan kepala sang lawan.
Hinata sebenarnya juga ingin membalas, namun karena Naruto terus saja melancarkan serangan yang tidak ada habisnya, gadis itu dipaksa untuk terus menghindar dan menepis setiap pukulan Naruto yang selalu saja mengincar wajahnya.
BRAK!
Akhirnya kesempatan Hinata untuk mengambil sebuah jarak datang setelah Naruto membenamkan tinjunya kesebuah pohon yang batangnya kini sedikit hancur. "Sial, dia lolos!" Naruto segera mencabut tangannya yang terbenam. Dan saat dia berbalik, instingnya langsung membunyikan alarm bahaya dan menyuruhnya untuk langsung menunduk demi menghindari sebuah telapak tangan kecil yang mengarah tepat ke wajahnya.
Gagal melancarkan satu pukulan balasan, Hinata kembali meloncat kebelakang untuk menjaga jarak dari sang lawan. Byakugan telah aktif saat dirinya melancarkan serangan balasan tersebut, membuatnya dapat melihat aliran Chakra pada tubuh Naruto dengan sempurna.
Kedua remaja yang sedang latih tanding itu terlalu terhanyut dalam suasana pertarungan dan sampai-sampai tak sadar, bahwa mereka kini telah disoraki oleh sisa penduduk yang selamat.
"Aku mulai!" Kali ini Hinata yang maju menyerang. Sama seperti halnya Naruto, gadis itu terus menargetkan kepala sang lawan agar terkena serangan yang ia lancarkan. Namun serangan yang dilancarkannya hanyalah sebuah umpan agar Naruto terfokus untuk melindungi kepalanya, dan saat pertahanan bawah Naruto melonggar, Hinata langsung menendang perut Naruto.
Bunyi gedebuk pelan menyertai jatuhnya tubuh Naruto diatas tanah berumput Gake no Shi. Sedetik kemudian erangan kesakitan yang tak begitu keras suaranya terdengar bersamaan bangkitnya Naruto yang mengelus perutnya.
"Naruto-kun!" Hinata segera berlari menghampiri pemuda tersebut, "K-kau tidak apa-apa?"
Naruto mengusap belakang kepalanya sambil terkekeh, "Sepertinya aku kalah," sebelum sempat berdiri, insting ninja Naruto kembali berbunyi menandakan sebuah bahaya. Dengan cepat ia menoleh kebelakang, dan kedua mata birunya pun melebar. 'Sejak kap –' mengandalkan sebuah reflek, Naruto langsung menerkam Hinata dan mengajak gadis itu berguling kebelakang.
Sebuah ledakan dapat Naruto dengar saat dirinya tengah berguling. Setelah merasa cukup aman, pemuda pirang itu langsung melepaskan Hinata dari dekapannya. Pandangan kedua mata birunya kini mengeras, menatap tajam monster yang entah sejak kapan sudah berada di area Gake no Shi.
"Hinata, cepat suruh para penduduk untuk masuk kedalam gua. Kau yang kuberi tanggung jawab melindungi mereka!" Setelah membuat perintah singkat, Naruto kembali memfokuskan perhatiannya kearah debu yang mengepul yang disebabkan oleh hantaman monster itu. Segera Naruto mengambil sebuah kunai peledak dari tasnya, kemudian melemparkannya kearah debu didepannya.
Suara ledakan segera menarik perhatian Hinata yang tengah mengungsikan para penduduk. Gadis itu masih dapat melihat keberadaan Naruto yang tetap berjongkok ditempatnya, dia berharap pemuda itu bisa memenangkan pertarungan ini tanpa terluka. Namun sepertinya, itu mustahil.
Naruto merogoh kembali tas ninjanya, mengeluarkan satu buah kunai yang kini ia pakai sebagai persenjataan. 'Kali ini, aku tidak boleh ceroboh. Keselamatan puluhan nyawa, kini berada di tanganku.' Mata Naruto terus mengawasi asap dari kunai peledak yang belum saja pupus. Genggaman pada kunai di tangan kanannya semakin ia eratkan karena firasatnya mengatakan kalau perbedaan level kekuatan mereka terlampau jauh, namun karena keselamatan para penduduk yang tersisa, mau tak mau ia harus mengalahkan monster itu.
Sebuah siluet tiba-tiba muncul dari balik asap. Siluet itu tiba-tiba langsung menyongsong kearah Naruto berada, Naruto cepat-cepat berdiri dan menyiagakan posisi. 'Dia terlalu cepat!' Naruto kembali harus dibuat menghindar, ketika sang monster sudah terlebih dahulu mengarahkan serangannya dan membuat ledakan pada tanah tempat Naruto berpijak tadi. 'Sepertinya, aku harus berhasil membaca arah serangannya sebelum melancarkan serangan balasan.'
Melihat bagaimana monster itu kembali bersiap berlari kearahnya, Naruto juga bersiap untuk ikut menyerang. 'Hanya ada satu kesempatan!' saat monster itu melesat, Naruto juga ikut melesat. Monster itu mengarahkan cakarannya ke kepala Naruto, sang Shinobi dengan cepat menyadari arah serangan tersebut dan langsung menunduk.
JLEB!
"Berhasil!" Rasa senang Naruto hanya bertahan sebentar saja sebelum pemuda itu menyadari bahwa tusukan kunai yang ia arahkan ke perut monster itu sama sekali tak berhasil membuat sebuah lolongan kesakitan atau teriakan penderitaan. Pemuda itupun mendongak, ketika dia berhasil menangkap sebuah kekehan laknat yang keluar dari mulut monster yang dihadapinya.
TAP!
Naruto yang tak memiliki reflek secepat Jiraiya, tidak bisa menghindari sebuah tangan yang kini sukses mencengkram kepalanya. Shinobi pirang itu meronta mencoba melepaskan cengkraman itu, namun usahanya hanya menghasilkan hal yang sia-sia.
Monster yang terkekeh itu kemudian mengangkat tubuh Naruto keudara, dia semakin mempererat cengkramannya di kepala Naruto, membuat sang Shinobi hanya bisa melolong kesakitan. Hal yang kemudian monster itu lakukan adalah menyedot Chakra sang shinobi, membuat teriakan yang ia keluarkan makin berkurang volumenya karena secara paksa tenaganya telah habis terkuras. Tubuh Naruto langsung menggelantung lemas pada cengkraman tangan monster itu.
BLAR!
Naruto hanya dibuat pasrah ketika monster itu membanting tubuhnya ke tanah. Sebuah teriakan yang kini lebih keras terdengar, keluar dari mulut Naruto ketika sebuah kaki super besar menginjak permukaan badan Naruto dan membuat sang shinobi harus memuntahkan darah dikarenakan beberapa tulang rusuknya patah.
Monster itu masih belum puas akan siksaan yang dia berikan. Segera monster itu mencekal kerah Naruto, mengangkat Naruto tinggi-tinggi, dan kemudian menusuk perut Naruto dengan kelima kukunya. Muntahan darah sekali lagi Naruto keluarkan dari mulutnya, warna tubuhnya kini mulai memucat, pandangannya kini sudah mulai memudar, otaknya kini tidak bisa memproses apapun selain rasa sakit. Dan penderitaan itu harus terbayarkan ketika ia merasakan kalau tubuhnya melayang, yang kemudian punggungnya menghantam sesuatu yang keras yang membuat kesadarannya perlahan-lahan menghilang.
Namun samar-samar Naruto mendengar kalau namanya diserukan.
Saat Naruto membuka matanya kembali, dia tahu dia akan berada didepan penjara raksasa di dalam sebuah gorong-gorong yang tempatnya mirip seperti sebuah saluran pembuangan. Dia kini duduk bersimpuh, menatap genangan air berwarna hijau kekuningan yang disebabkan distorsi kurangnya pencahayaan tempat itu.
"Bagaimana rasanya tubuhmu dibuat babak belur, hah? Pasti menyakitkan bukan?" Kyuubi langsung tergelak setelah mengucapkan itu.
"..."
"Apa kau ingin kekuatan?! Jika iya, maka aku akan memberikannya!" Kyuubi kembali tergelak.
"..."
"..." Kyuubi menggeram karena habis kesabaran, "Jawab aku, bocah!"
"Bisakah kau tutup mulutmu, brengsek!?"
Kyuubi dibuat terperangah ketika ia kini dihadapkan dengan mata biru yang tersirat sebuah kemarahan. Bukan kemarahan konyol yang biasa Naruto buat, tapi sebuah kemarahan yang sesungguhnya. Lebih pekat, lebih kelam.
Naruto mulai bangkit, "Aku harus segera pergi dari sini sebel –"
"Memangnya apa yang bisa kau lakukan setelah kau keluar dari sini? Kau ingin mati?"
Naruto terdiam, "...Jika itu bisa membuat yang lainnya selamat. Ya! Aku lebih memilih mati daripada terus berada di tempat ini."
Kyuubi mendecih. Dia tahu kalau inangnya sudah bicara penuh keyakinan seperti itu, Naruto tidak akan mundur. "Perlu kuingatkan, kau tidak akan bisa keluar dari sini."
"..." Naruto berhenti melangkah.
"...Sekitar lebih dari delapan puluh persen Chakra yang ada didalam tubuhmu, sudah diambil oleh makhluk itu. Jadi untuk sementara waktu, kau hanya bisa berada disini sembari menunggu tubuh aslimu mengumupulkan tenaga."
Naruto berbalik, melemparkan tatapan yang sama seperti tadi. "Cepat keluarkan aku dari sini!"
Kyuubi kembali mendecih, "Sudah kubilang –"
"AKU TIDAK PEDULI!"
"Bah! Terserah kau saja."
Naruto mengernyit ketika dirasakannya sakit disekujur tubuhnya. Kedua mata birunya perlahan-lahan terbuka dan samar-samar ia dapat kembali memandang sosok monster yang kini seperti sedang melemparkan sesuatu kearahnya.
Suara gedebuk nyaring langsung menyadarkan Naruto dari rasa sakit yang dideritanya. Karena saat pandangannya kembali normal, sebuah tubuh yang penuh akan darah terpampang didepan matanya. Tubuh teman wanitanya.
"HINATA!"
-Change-
"Akan kubunuh kau..."
Monster itu dipaksa untuk berjengit ketika dihadapkan dengan sepasang mata berbeda warna yang dimiliki oleh pemuda pirang shinobi dari Konoha. Naruto meletakkan tubuh Hinata perlahan, kemudian dia mulai berdiri sambil terus menatap monster itu dengan mata yang sudah kehilangan kehangatannya.
Tak ada sedikitpun ekspresi yang kini menempel diwajahnya. Seolah rasa sakit di perutnya kini sudah tiada, seolah rusuk yang patah kembali seperti semula. Naruto mengambil sebuah kunai, dan menggenggamnya erat-erat. Dia mulai melangkah, melewati tubuh lemas Hinata yang menjadi pemicu segala amarahnya.
Chakra berwarna keemasan menguar dan berkobar-kobar. Membuat setiap tanah yang dipijaknya menjadi sebuah bantalan yang hancur dengan hanya sekali tapak, "Akan kubunuh kau..." kata-kata yang diucapkan dengan suara datar itu seolah menjadi sebuah sumpah yang harus dipenuhi, dan tak ada seorangpun yang dapat menghalangi.
Dibawah alam sadarnya. Kyuubi harus dibuat mendecih sekali lagi saat secara perlahan Chakra yang dimilikinya keluar dari kungkungan jeruji besi dan kemudian diserap oleh Naruto yang kini tengah berdiri di tengah-tengah ruangan itu. Hanya terpaku, tanpa suara.
'...Sejak kapan bocah brengsek ini bisa menarik keluar paksa Chakraku? Tak hanya menyerap, tapi juga memurnikannya secara alami sebelum semua itu ia alirkan pada tubuhnya. Benar-benar brengsek!'
"Akan kubunuh kau..." satu kalimat itu kembali terucap. Sebelum sedetik kemudian Naruto melesat dengan kecepatan diluar nalar yang tiba-tiba saja membuatnya sudah berada tepat didepan monster itu, "Akan kubunuh kau..."
JLEB!
Kali ini monster itu melolong kesakitan, ketika sebuah ujung lancip dari sebuah kunai masuk kedalam perutnya dan menembus selaput daging dipunggungnya. Naruto yang tinggi badannya sama dengan letak perut monster itu, dapat melihat dengan jelas berbagai organ dalam setelah pemuda itu menarik kembali tangannya.
Satu tangannya yang bebas, Naruto pakai untuk merogoh tas ninjanya dengan cepat. Sebuah kunai peledak langsung ia tancapkan ke paha kanan monster yang masih meringkuk kesakitan, Naruto meloncat kebelakang sembari tangannya yang bersih kembali merogoh tas ninjanya.
Naruto tak ingin memberi jeda. Tepat setelah ledakan dari kunai itu terjadi, sesegera ia melesat kembali kearah asap yang didalamnya terdapat monster itu. Monster ciptaan Orochimaru itu terhuyung-terhuyung kebelakang setelah dirinya kini hanya mempunyai satu kaki, monster itu ingin meraung, tapi hal itu tak bisa ia lakukan saat ujung tajam benda dingin nan mematikan berhasil menembus tengkuk lehernya.
Melihat bagaimana kepala monster itu mendongak, tak segan-segan Naruto langsung menancapkan sebuah kunai peledak tepat di dahi sang monster. "Mati kau.."
[To be Continued]
.
A/N: Yah, inilah yang dapat saya berikan untuk anda sekalian. Jika sekiranya chapter ini jelek, mohon maklumi karena saya juga masih berada ditahap belajar.
Okeh, jika ada yang bertanya-tanya bagaimana warna kedua mata Naruto, dapat anda lihat pada sampul fic ini. Bagaimana caranya? Rubahlah mode Hp anda ke mode PC, dan anda dapat melihatnya secara langsung.
Merasa aneh dengan chapter ini? Anda sudah saya peringatkan di awal cerita.
Ok! See you next time on the Next Chapter. Adios~
