Title : To Be With You

Main Cast : Byun Baekhyun Park Chanyeol

Other Cast : EXO's Members and other

Main Pair : ChanBaek

Genre : School Life, Romance, Family, Brothership, YAOI (BOY X BOY!)

Rating : T

Length & Type : Chapter

.

.

.

WARNING! BOY X BOY! YAOI! TYPO!

.

.

.

DON'T BASH

DON'T PLAGIAT

.

.

.

Summary

Menjadi satu-satunya lelaki paling cantik dan 'tidak manly' diantara saudara-saudaranya adalah malapetaka bagi Baekhyun. Karena apa? Karena meski dirinya selalu menyebut "aku manly!" tetap saja ia selalu diperlakukan seakan ia yang paling bungsu, bahkan oleh adik bungsunya sendiri yang preman nya minta ampun. Lalu apa kabar dengan si pemimpin preman sekolah yang selalu bersikap aneh padanya? Siapa namanya? Park.. Park apa? ah sudahlah, Baekhyun tidak mau mengingatnya.

.

.

.

CHAPTER 4

.

.

.

2 hari weekend Baekhyun habiskan dengan menunggui Jongin di rumah sakit. Ia bahkan tak menghiraukan Chanyeol yang mengajaknya untuk belajar bahasa Jerman lagi. Ia masih kesal dengan pria itu serta kekasihnya yang menyebalkan. Chanyeol bahkan saat itu tak mengatakan apapun sebagai pembelaan. Dasar pria menjengkelkan. Baekhyun tak peduli dengan Chanyeol yang terus memaksanya agar mau mengajarinya lagi namun tentu saja Baekhyun mengabaikannya.

Dan sekarang adalah hari senin dimana ia harus kembali bersekolah seperti biasanya. Pelajaran hari senin adalah pelajaran-pelajaran paling membosankan menurut Baekhyun. Sepulang weekend ia memang selalu tidak mempunyai semangat belajar, entah kenapa.

"Hei bagaimana dengan Kang Seulgi itu?" Tanya Jongdae dengan tubuh yang sepenuhnya menghadap pada dirinya.

Baekhyun yang memang duduk tepat di belakang Jongdae pun menatap temannya itu dengan pandangan terlampau biasa, "apanya yang bagaimana?"

"Tck, sudah kubilang Seulgi menyukaimu. Jadi bagaimana? Dia cantik kan? Kau memangnya tidak tertarik?" Tanya Jongdae seraya menaik-turunkan alisnya untuk menggoda Baekhyun.

Sedangkan Baekhyun hanya mampu menghela nafasnya, "entahlah. Kau tahu bahwa aku suka pisang. Aku tahu dia cantik, tapi... ya begitulah. Perasaanku tak bisa dibohongi"

"Kau bisa mencobanya dulu kan, Baek? Siapa tahu kau berubah haluan lagi jika kau pacaran dengan Seulgi!" Jongdae keukeuh membujuk Baekhyun.

"Jongdae stop! Jangan mempengaruhi Baekee kita! Kau jahat sekali! Kau pikir berubah haluan itu semudah menyisir rambut, huh?" Omel Xiumin yang beralih membawa kepala Baekhyun ke bahunya seperti anak kecil.

"Menyisir rambut bisa jadi sulit, saat rambutmu sepanjang rapunzel apakah kau masih bisa menyebut 'semudah menyisir rambut'?" Jongdae berkelakar dan Xiumin memutar bola matanya malas. Jawabannya itu loh, menyebalkan.

"Jongdae memang jahat, Umin" adu Baekhyun dengan nada bicara seperti anak-anak menuai delikan dari Jongdae serta kekehan menggemaskan dari Xiumin.

"Baekhyun-ah, bisakah kau ambilkan tugas bahasa Inggris di meja piket dari guru Jang? Katanya guru Jang tidak masuk hari ini" pinta Joonmyeon lembut. Omong-omong, tangan kiri Joonmyeon di gips. Katanya sih dia keserempet mobil kemarin. Jadi saat Joonmyeon meminta tolong padanya untuk menggantikannya ㅡsebagai ketua kelasㅡ mengambilkan tugas di guru piket, Baekhyun mengiyakannya tanpa membantah.

"Mau kami temani?" Tawar Jongdae namun Baekhyun menggeleng sambil tersenyum

"Tidak usah, lagipula tidak baik berkeliaran diluar saat jam pelajaran" Baekhyun mengibaskan tangannya lalu ia pun berdiri dan keluar dari kelasnya, berjalan menuju tempat meja piket yang berada didekat pos satpam.

Ia sampai disana dan menemukan Lee Jinki seonsaengnim yang tengah berjaga di meja piket, "annyeonghaseyo, seonsaengnim" sapa Baekhyun ramah dan ceria.

"Ah! Ye, annyeonghaseyo. Ada perlu apa haksaeng?" Tanya Jinki.

"Aku ingin mengambil tugas bahasa Inggris dari Kim Taeyeon seonsaengnim" ujar Baekhyun mengutarakan maksudnya.

Jinki pun mengangguk lalu mencari-cari apa yang disebut oleh Baekhyun barusan dan ia menemukannya di tumpukan paling akhir, "ini" Jinki menyerahkan selembar kertas berisi tugas bahasa Inggris pada Baekhyun.

"Ye, kamsahamnida, seonsaengnim. Annyeong" Baekhyun membungkuk 90° dengan penuh hormat lalu undur diri dengan membawa selembar kertas yang ia lipat dan ia masukan kedalam saku jasnya ketika ia merasa butuh ke toilet.

Lantas Baekhyun pun pergi ke toilet yang berada di ujung lorong lantai 2. Baekhyun memasuki salah satu bilik toilet disana dengan tenang ㅡtanpa suara. Ia hampir saja akan menuntaskan kebutuhannya saat telinga tajamnya tak sengaja mendengar suara kecipak yang dihasilkan dari... mulut mungkin? Entahlah, Baekhyun tidak dapat menjelaskannya secara blak-blakan. Yang pasti suara itu hanya pernah ia dengar di drama-drama saat terdapat adegan hot kiss didalamnya.

Dengan menahan sebentar hasrat ingin buang air kecilnya, Baekhyun kembali keluar dari bilik toilet dengan membuka pintu sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara sekecil apapun, lalu ia berjalan ke arah bilik-bilik toilet lain untuk mengetahui darimana arah suara kecipak yang ambigu itu hingga ia sampai di bilik paling pojok yang pintu nya sedikit terbuka.

Ia dapat melihat lewat celah itu ada 2 orang berbeda jenis kelamin yang tengah melakukan tindakan tak senonoh didalam bilik toilet tersebut. Jika biasanya pria yang menghimpit wanita ke dinding, maka ini adalah sebaliknya dimana si wanita lah yang memojokkan si pria ke dinding dan menciumnya dengan ganas sedangkan si pria hanya terdiam, tidak menolak tapi menerima setiap lumatan ganas dari si wanita tanpa membuat perlawanan.

Mata Baekhyun hampir keluar dari tempatnya dan jantungnya terasa berhenti berdetak saat ia menyadari bahwa pasangan mesum itu adalah Kim Dasom dan Park Chanyeol.

'Sialan' batin Baekhyun dengan mata yang tiba-tiba terasa memanas. Ia refleks memundurkan tubuhnya hingga kakinya tak sengaja menendang alat pel yang disimpan di pojok toilet dan menimbulkan suara ribut yang cukup untuk membuat kedua manusia tak tahu tempat itu refleks membuka pintu bilik toilet lebar-lebar dan menatap ke arahnya sekarang.

Baekhyun yang perasaannya sangat kacau untuk saat ini pun hanya bisa membuang muka agar ia tak bertatapan dengan pria lain disana dan kaki-kaki pendeknya itu langsung berlari meninggalkan toilet pria dengan mata yang hampir meneteskan cairan beningnya. Hasrat untuk buang air kecilnya pun sudah hilang begitu saja entah kemana. Yang ada sekarang perasaan tak terima dan jantungnya yang bertalu-talu menyakitkan seolah ingin mendobrak rongga dadanya.

Tanpa sadar ia mengusap air matanya yang terjatuh ketika ia berlari kencang menuju ke kelasnya kembali. Perih sekali rasanya. Ia juga tak tahu kenapa rasanya bisa sesakit ini. Padahal itu cuma Park Chanyeol! Memangnya siapa orang itu hingga bisa membuatnya menangis hanya karena melihat ia berciuman dengan kekasihnya sendiri di toilet sekolah?

Baekhyun sungguh tidak mengerti. Tidak mengerti akan kemana hatinya ini membawanya untuk berlabuh. Yang ia mengerti sekarang adalah bahwa dirinya ingin sekali menangis dan melampiaskan kekesalannya yang tanpa sebab ini.

.

.

.

Sejak kejadian ia yang menangkap basah si keparat Park bersama kekasih memuakkannya itu di toilet sekolah tadi siang, Baekhyun jadi berubah murung dan lebih banyak diam. Jongdae, Xiumin maupun Sehun pun dibuat heran dengan perubahan sikap Baekhyun seolah lelaki cantik itu tak dapat ditanya seperti sebuah benda mati.

Sepulang sekolah pun ia langsung pulang ke rumahnya tanpa mampir terlebih dahulu ke rumah sakit untuk menengok keadaan Jongin. Awalnya ia hanya berniat berganti baju lalu kemudian pergi ke rumah sakit. Namun saat penglihatannya menangkap keberadaan mobil Audy A5 hitam milik ayahnya, Baekhyun mendadak tidak enak hati. Ayahnya ada di rumah saat ini. Dan ayahnya datang tanpa pemberitahuan terlebih dahulu yang itu artinya ayahnya datang karena keadaan darurat.

"Papa?" Panggil Baekhyun dengan suara tercekat ketika melihat sosok sang ayah berdiri di beranda belakang rumahnya sambil menatap hamparan halaman belakang dengan danau buatan didalamnya.

Sosok pria berusia senja yang masih terlihat segar di usianya yang sudah tak muda lagi itu menoleh pada anak yang memanggilnya papa lalu tersenyum tipis, sangat tipis. Sampai-sampai Baekhyun tak dapat menangkap senyuman itu.

Ketiga kakaknya yang lain masih belum pulang dari urusan mereka jadi mereka pasti tidak mengetahui kehadiran ayah mereka dirumah. Changmin entah kapan kembali ke Korea. Lalu Donghae akan pulang weekend depan. Sedangkan Minho akan pulang besok sepertinya.

"Kenapa papa disini? Bukannya papa seharusnya berada di Macau bersama kak Changmin?" tanya Baekhyun dengan agak gelagapan.

"Kakakmu sudah besar, Baek. Dia sudah bisa mengurusi urusannya sendiri"

"Tapi papa yang memanggilnya bukan?"

"Bukan berarti papa harus memelototi pekerjaannya juga bukan?" tuan Byun membalikan pertanyaan putranya yang satu itu. Lantas ia pun berjalan mendekat ke arah Baekhyun dan mengajaknya untuk duduk di sofa terdekat.

"Duduklah, ada yang ingin papa bicarakan padamu" ujar tuan Byun dengan serius membuat perasaan Baekhyun makin tidak enak.

"Ada apa, pa?"

Tuan Byun terlihat menghirup nafasnya sesaat sebelum ia berujar, "papa tidak akan berbelit-belit dan akan langsung pada intinya. Dengar, papa ingin kau sekolah di Amerika seperti keinginan papa. Kau juga bisa tinggal bersama papa disana sekaligus untuk mempelajari bagaimana cara mengelola perusahaan"

Tubuh Baekhyun tak bereaksi apapun. Ia hanya bisa diam dengan hati yang terus berteriak protes agar ia menentang keinginan sang ayah namun ia tak mampu, tentu saja.

"Tentu saja, pa. Aku akan berkuliah dimanapun papa inginkan. Hanya tinggal menunggu beberapa bulan lagi untuk ujian akhir serta kelulusanku" jawab Baekhyun dengan senyuman palsu yang ia gunakan sebagai topeng.

"Tidak, Baekhyun. Maksud papa bukan saat kuliah nanti. Tapi sekarang, kau harus segera pindah ke New York"

Lagi-lagi perkataan semena-mena sang ayah membuat Baekhyun tak bisa berkutik. Tubuhnya bagaikan patung yang tak bisa bergerak. Dirinya merasa bahwa ia baru saja terjatuh dari ketinggian 1000 kaki ketika mendengar vonis dari sang ayah.

"Tapi, pa. Aku sudah betah disini" cicit Baekhyun.

"Jangan membantah, Baekhyun! Kau punya waktu 1 bulan lagi di Korea Selatan. Setelahnya kau harus pindah ke New York. Tidak ada alasan"

Hanya itu yang papa pedulikan, papa tak pernah memikirkan perasaan anak-anak papa. Papa bahkan tak mempedulikan mimpi kami. Dan papa bahkan tak menanyakan bagaimana kondisi Jongin yang jelas-jelas papa tahu bahwa ia sedang berada di rumah sakit. Apa yang papa pikirkan hanya perusahaan dan saham berjuta-juta dolar milik papa itu? Hanya itu?

.

.

.

Suasana hati Baekhyun benar-benar hancur hari kemarin. Dimulai dari tidak adanya ketiga kakaknya, ia yang menangkap basah Chanyeol di toilet, dan terakhir adalah perihal ayahnya yang memaksanya untuk pindah ke New York satu bulan lagi. Jika anak lain mungkin akan sangat senang disuruh sekolah di luar negeri, tapi lain ceritanya dengan Baekhyun. Baginya, sudah cukup selama ini ia bersekolah di Paris, berbaur dengan orang-orang asing. Kali ini, Baekhyun ingin tinggal di negeri kelahirannya sendiri. Ia ingin tinggal disini dan meraih mimpinya sendiri. Namun semua orang juga tahu bahwa ia tak mungkin menggapai mimpinya sendiri.

Semua masalah dalam benaknya yang tak mau ia bagi kepada orang lain benar-benar mempengaruhi mood nya sejak kemarin. Saat di rumah sakit, Baekhyun bahkan selalu berusaha menghindari Park preman itu bersama komplotannya. Lalu saat belajar di kelas, ia lebih banyak melamun. Dan sekarang di jam pelajaran ke-6 dia malah pergi ke ruang musik. Ini adalah jam pelajaran Sejarah namun guru yang bersangkutan tidak masuk hingga ia kini bisa berada di sini, ruang musik. Selain itu, Baekhyun pun meminta pada Jongdae serta Minseok untuk membiarkannya sendiri sekarang.

Baekhyun membuang nafas panjangnya lalu memejamkan mata seolah berusaha mengubur perasaan sakit hatinya dalam-dalam. Bersamaan dengan itu, jari-jari lentiknya tergerak untuk menekan tuts grand piano yang ada di hadapannya saat ini. Ia menggerakan jari-jarinya pada tuts tertentu sehingga menghasilkan nada yang indah.

(#author saranin sambil ngedengerin instrumen piano Kiss the Rain by Yiruma)

Nada yang sudah ia hafal itu begitu menyayat hatinya ketika ia memainkannya dengan penuh emosi. Bayangan-bayangan Chanyeol seolah berputar didalam ingatannya membuat setetes air bening turun dari mata bulan sabit milik Baekhyun tanpa pemiliknya sadari. Musik yang ia bawakan dengan instrumen piano sungguh membawanya pada suasana mellow. Semuanya terasa rumit baginya. Dimulai dari persoalan hatinya hingga persoalan ayahnya yang menyuruhnya pindah ke New York satu bulan lagi. Semua hal yang terjadi membuatnya tertekan. Udara yang ia raup hari demi hari pun terasa berkurang seiring berjalannya waktu akibat semua masalah dalam benaknya yang ia simpan sendiri.

Jari lentik itu berhenti bermain lincah di atas tuts piano. Dan seketika ia dikejutkan dengan kehadiran seorang pria yang ia kenal menghampirinya dengan penampilan seperti orang baru bangun tidur.

"Permainan yang sangat emosional, Baekhyun-ssi" ujar suara lembut itu dengan senyum yang menampilkan dimple manis nya.

Baekhyun terkejut, amat sangat terkejut. Tak ia sangka bahwa didalam ruangan ini terdapat orang selain dirinya. Kentara jika Baekhyun merasa gugup. Lihat bola matanya yang berlari kesana kemari untuk mengalihkan pandangannya dari Yixing ㅡsi pria yang baru bangun tidur.

"K-kenapa kau bisa disini?" tanya Baekhyun gelagapan membuat Yixing tersenyum kecil.

"Guru sastra di kelasku sedang absen dan aku memilih tidur disini karena disini sangat sepi dan sejuk"

"O-oh? Jadi aku mengganggumu ya, mian. Kalau begitu aku akan pergi sekarang" Baekhyun cepat-cepat bangkit dengan kaku namun Yixing cepat-cepat menahannya.

"Tidak usah. Aku senang kau disini. Dan aku suka permainanmu, sangat lembut dan sangat emosional. Kau begitu baik membawakan setiap melodi nya." Yixing menarik tangan kurus Baekhyun untuk duduk di bangku lain yang ada di ruang musik. Yang pasti, bukan kursi didepan grand piano. Baekhyun sendiri tersenyum kikuk dengan keadaan mereka sekarang. Lain halnya dengan Yixing yang bahkan terlihat kelewat santai saat dia membereskan rambutnya yang sedikit berantakan akibat kegiatan tidur siangnya.

"Kau sudah diberitahu Song seonsaengnim?" Yixing menoleh pada Baekhyun dan Baekhyun merasa makin canggung ketika melihat tatapan polos dari namja imut itu.

"Perihal duet kita?" Akhirnya hanya itu yang dapat terlontar dari bibir tipis Baekhyun. Yixing mengangguk lucu lalu mengulum senyumnya hingga dimple nya makin kelihatan manis. "Song seonsaengnim bilang kau adalah pemain biola yang sangat jenius"

Baekhyun tidak yakin sekarang bahwa wajahnya akan terlihat biasa-biasa saja karena ia mulai merasakan panas yang menjalar dikedua pipinya setelah mendengar pujian Yixing yang begitu blak-blakan dan terdengar lugu. "Song seonsaengnim hanya terlalu membesar-besarkan"

"Aku yakin dia bukan orang seperti itu, Baekhyun-ssi. Dia tak pernah salah menilai orang. Dan saat dia membicarakanmu didepanku, dia terlihat sangat antusias dan terdapat banyak binar di matanya." Yixing menerawang mencoba mengingat dengan baik obrolannya dengan Song seonsaengnim pada jumat sore waktu itu. Dan apa yang ia katakan sungguh sesuai dengan realita yang memang terjadi.

"Tapi aku tidak tahu kau juga ternyata seorang pianis. Kenapa kita tidak gunakan waktu saat ini untuk berlatih? Bagaimana dengan River Flows In You? Kau mengenal baik Kiss The Rain. Kau juga pasti tau yang itu kan?"

"Um. Kurasa aku bisa" Baekhyun menampilkan senyum simpulnya kemudian beranjak untuk mengais biola milik Jungshin di bahunya sedangkan Yixing sudah siap didepan grand piano.

Tanpa aba-aba yang begitu jelas, hanya sebuah lirikan mata penuh arti, mereka pun mulai menelusuri nada demi nada yang membuat rangkaian musik River Flows In You. Mereka bermain seolah ini bukanlah perdana bagi mereka untuk berduet. Seolah mereka memang sudah sering berduet. Yixing dengan jari-jarinya yang menari lancar di atas tuts piano serta Baekhyun dengan kejeniusannya dalam bermain biola. Mereka sungguh perpaduan yang sempurna untuk membuat sebuah instrumen mengesankan.

"Sangat menakjubkan, Baekhyun-ssi. Yang dikatakan Song seonsaengnim memang benar. Permainan biola mu sungguh jenius" Untuk kedua kalinya Baekhyun dibuat merona mendengar pujian yang lagi-lagi terdengar sangat tulus dari partner nya. Yixing berdiri dari depan grand piano yang barusan ia mainkan kemudian berdiri di samping jendela berlapis tirai transparan sambil menatap ke arah luar. Dengan posisi seperti itu dia jadi terlihat makin manis dan menawan. "Aku tidak suka melihatnya" gumam Yixing yang masih cukup terdengar oleh Baekhyun.

Dengan rasa penasarannya pun ia mendekat dan berdiri di sebelah Yixing. Mata sehatnya dapat melihat Dasom yang tengah bermanja ria pada Chanyeol yang saat ini sedang duduk di pinggir lapangan basket sedangkan teman-temannya bermain basket tanpa menghiraukan Dasom yang sangat menggelikan. Ekspresi wajah Chanyeol juga terlihat sangat datar.

"Kau tidak suka melihat apa?" Baekhyun mungkin tahu apa atau siapa yang dibicarakan pria China itu mengingat matanya yang melihat tepat ke arah Chanyeol dan Dasom namun entah kenapa Baekhyun merasa perlu untuk bertanya, memastikan.

"Aku tidak suka melihat Dasom terus menempeli Chanyeol"

Baekhyun terdiam mengiyakan perkataan Yixing dalam hatinya. Jauh didalam dirinya ia memang merasa tidak suka akan kebersamaan mereka yang terasa janggal di matanya. Entah hanya ia yang berpikir begitu atauㅡ

"Aku tahu Chanyeol tidak menyukainya." Dan ternyata Yixing juga mempunyai pikiran yang sama dengannya. Hanya saja Yixing terlihat sangat yakin, berbeda dengannya yang baru hanya membuat spekulasi dini. Bahkan tadi ia menitikkan air mata hanya karena melihat Chanyeol berciuman dengan Dasom. Menggelikan.

"Aku tidak mengerti kenapa ia menerima pernyataan cinta dari Kim Dasom." Yixing kembali mengutarakan isi pikirannya membuat Baekhyun mengerutkan keningnya diikuti pertanyaan "kenapa?" yang membuat Yixing menoleh padanya dengan sebuah senyuman lebar yang tak dapat ia tebak apa maksudnya.

"Karena aku tahu betul siapa sebenarnya yang Chanyeol sukai"

Dada Baekhyun kembali bergemuruh saat mendengar jawaban Yixing yang tak ia duga. Ia tak bisa membayangkan akan seperti apa perasaannya nanti ketika ia mengetahui siapa yang sebenarnya Chanyeol sukai. Yang pasti ia berpikir bahwa orang itu pastilah bukan dirinya. Siapa kira-kira orang beruntung itu?

"Kau tahu? Bahkan aku tak pernah melihat tatapan mata Chanyeol yang begitu hidup sebelumnya. Tepatnya, sebelum aku melihatnya berbicara dengan orang itu. Kuharap suatu saat, cepat atau lambat, orang itu dapat menyadari sikap Chanyeol yang memang tidak suka bicara gamblang"

Mata Baekhyun berkedip-kedip polos sambil memperhatikan Yixing yang terus berbicara dengan makna yang sama sekali tidak ia pahami. Apa yang dikatakan Yixing membuat kepalanya pusing tujuh keliling. "Kau tahu orangnya? Siapa?". Pertanyaan itu muncul begitu saja tanpa dapat ia tahan. Rasa penasarannya yang tinggi membuat mulutnya berkata begitu saja sebelum otaknya menyadari itu.

Yixing tersenyum misterius, "seseorang yang mungkin sedang 'menangis' melihat Dasom yang terus menempeli Chanyeol"

Setelah berkata demikian yang membuat Baekhyun makin bingung, Yixing melengos pergi, keluar dari ruang musik. Meninggalkan Baekhyun yang masih terperangkap dalam rasa bingungnya. Tanpa tahu apa maksud Yixing dengan 'menangisi'.

.

.

.

Setelah melalui perdebatan panjang dalam dirinya, Sehun memutuskan untuk menyimpan dulu gengsi nya demi menengok Jongin di rumah sakit. Entah darimana ide awal ini muncul, namun ia merasakan kekhawatiran dalam dirinya dari hari ke hari akibat kondisi Jongin. Ia terus merasa bersalah yang tak beralasan dan itu sangat mengganggu. Ia merasa bersalah karena tak pernah menjenguk Jongin selama beberapa hari ini. Maka ia pun memutuskan untuk menengok Jongin diam-diam.

Sehun membuka pintu bangsal tempat Jongin berada dengan perlahan, khawatir jika ada orang lain didalam sana. Teman-teman Jongin atau saudaranya mungkin. Tapi pada akhirnya helaan nafaslah yang terdengar kala matanya tak menangkap keberadaan orang lain disana. Ia masuk kedalam dan menutup pintu dengan rapat menuai tatapan terkejut dari seseorang yang masih terbaring di atas ranjang dengan perban yang berada di kepalanya serta gips yang dipasang di beberapa bagian tubuhnya.

Mata mereka bertemu untuk beberapa saat dan Sehun lah yang pertama membuang muka sambil berdecih seolah mengejek keadaan Jongin yang tidak berdaya diatas ranjang.

"Mau apa kau kesini?" Pertanyaan sarkastik Sehun dapatkan dari Jongin. Namun Sehun berusaha mempertebal dindingnya agar tak mudah terpengaruh perkataan Jongin yang memang terkadang meluncur tanpa melewati filter. Ia menyimpan kotak bekal yang ia bawa di atas nakas disamping ranjang Jongin tanpa berkata apapun.

"Kau sangat menyedihkan, tuan Kim"

"Jika kau kesini hanya untuk mengejek, lebih baik kau pulang saja." Balas Jongin tak kalah tajamnya.

"Kau masih saja mengjengkelkan disaat sakit seperti ini." Sehun kembali membalas tanpa mau kalah. Tatapan sengit keduanya beradu dengan diselimuti aura persaingan dan itu berakhir ketika Jongin lebih dulu mengalah dengan menghembuskan nafasnya kasar.

Mereka berakhir dengan mengobrol seolah mereka adalah teman lama yang sudah bertahun-tahun tak bertemu. Sehun bahkan sudah melupakan fakta bahwa sebenarnya ia kesal pada Jongin. Kesal karena alasan yang tidak diketahui orang lain, hanya ia lah yang mengetahui alasannya. Hingga jarum jam mengarah tepat pada angka 6 pm, Sehun pamit untuk pergi. Ia juga khawatir bahwa nanti ada orang lain yang datang kemari. Ia beruntung dengan fakta bahwa Baekhyun mempunyai jadwal latihan untuk kolaborasi nya bersama Yixing sehingga lelaki cantik itu tidak bisa datang ke rumah sakit sore ini.

Setelah kepulangan Sehun, Chanyeol dan antek-anteknya datang ke rumah sakit. Tanpa sadar Jongin menghela nafas lega karena Sehun sudah pergi dan tak bertemu dengan teman-temannya. Kalau mereka bertemu, bisa-bisa Jongin habis menjadi bulan-bulanan mereka.

Jongin men-dial nomor Baekhyun berulang-ulang kali namun selama itu pula Baekhyun tak menjawab panggilan dari Jongin. Sikap aneh Jongin tersebut lantas menuai tanda tanya dari teman-temannya yang akhirnya bersuara untuk bertanya, "ada apa?"

"Seseorang mengatakan padaku bahwa Baekhyun akan pindah ke New York satu bulan lagi" jawab Jongin resah.

Tadi Sehun sudah menceritakan perihal ini padanya. Sehun bilang Baekhyun mengatakan hal berat ini ketika jam istirahat kedua di perpustakaan. Awalnya ia kaget dan tidak habis pikir kenapa kakaknya itu bahkan tidak mengatakan apapun padanya, malah ia mengatakannya lebih dulu pada orang lain. Tahu dari orang lain lebih menyakitkan daripada mendengar pengakuannya sendiri. Ia tahu ayahnya selalu bersikap seenaknya, namun ia tak menyangka bahwa ayahnya benar-benar tega dan tak memikirkan perasaan Baekhyun sama sekali.

Akibat kesibukan Jongin yang berusaha menghubungi nomor Baekhyun, ia sampai tak menyadari ekspresi Chanyeol yang begitu muram dan kecewa ketika mendengar perkataan Jongin. Dengan pasti ia bangkit dan keluar dari bangsal Jongin menuai tanda tanya besar dari semua orang yang berada didalam. Apalagi saat pria tinggi itu membanting pintu dengan sangat keras.

Entah pirasat atau mungkin ikatan batin mereka yang sangat kuat, tapi yang pasti Chanyeol dapat menemukan Baekhyun dengan mudah di sekolah tanpa pusing-pusing mencari. Entah bagaimana ia bisa tahu Baekhyun ada disana. Dan Baekhyun yang baru saja selesai berlatih bersama Yixing cukup terkejut dengan kehadiran Chanyeol. Tapi ia menutupinya dengan baik hingga ia berpura-pura tidak peduli. Lagipula ia pikir mungkin Chanyeol menjemput Yixing selaku teman satu gank nya.

Yixing tersenyum lebar saat melihat sosok jangkung itu berdiri beberapa meter didepannya dan Baekhyun yang kelihatan sok sibuk dengan ponselnya. "Hai, Yeol. Sedang apa kau disini?"

Pertanyaan Yixing di abaikan oleh Chanyeol. Selanjutnya adalah Chanyeol yang menarik paksa tangan Baekhyun dan memasukkan tubuh mungil nan kurus itu kedalam mobilnya tanpa sempat Baekhyun melakulan perlawanan. Yixing tidak marah di abaikan oleh Chanyeol, sungguh. Ia sudah terbiasa dengan sikap absurd Chanyeol. Sebaliknya ia malah tersenyum melihat betapa kekanakannya Chanyeol barusan. Pasti ada sesuatu yang membuat ia bergerak lebih cepat dari yang ia duga.

Baekhyun sangat ingin menangis saat mobil Chanyeol sudah melaju kencang di jalan raya tanpa persetujuannya. Ia merasa bahwa sekarang ia sedang diculik. Air matanya hampir saja tumpah kala mengingat sikap Chanyeol yang begitu dingin setelah kejadian malam itu. Bahkan sisa lebam di tubuhnya masih ada. Dan luka bakar di lengannya juga masih belum kering. Apa pria itu membencinya karena ia begitu menyusahkan dan lemah? Padahal sebelumnya Chanyeol sangat menjengkelkan dengan ia yang selalu mengganggunya di sekolah. Sungguh, ia rindu masa-masa itu.

"Turunkan aku!" Teriak Baekhyun dengan berusaha menahan buliran bening yang sudah mengaburkan penglihatannya. Namun Chanyeol seperti orang tuli yang tidak mempedulikan teriakan Baekhyun. Perasaan Chanyeol sedang kacau saat ini. Ia sendiri entah kenapa merasa sangat kecewa dan marah saat mendengar bahwa Baekhyun akan pindah ke Amerika. Chanyeol tidak tahu bahwa tindakannya hanya menyakiti Baekhyun lebih dalam lagi.

"PARK CHANYEOL!" dan teriakan frustasi Baekhyun lah yang keluar saat Chanyeol tak kunjung mendengarkannya. Ia harus berhenti, menepikan mobil di pinggir jalan untuk berbicara serius pada Baekhyun sebelum yang lebih tua mengamuk lebih dari barusan.

Baekhyun dapat mendengar dengusan kasar dari Chanyeol sebelum pria itu berbalik padanya dengan tatapan yang cukup membuat Baekhyun semakin tidak mengerti.

"Kau mau pindah ke Amerika?" tanya Chanyeol to the point.

"Apa urusanmu?" desis Baekhyun setelah mengendalikan keterkejutannya. Ia cukup heran, darimana Chanyeol tahu? Dari Jongin? Tidak mungkin, ia bahkan belum memberitahu semua saudaranya perihal ini. Yang baru ia beritahu adalah Xiumin, Jongdae dan Sehun. Mereka bertiga jelas tak mungkin memberitahukan hal ini pada Chanyeol dengan cuma-cuma, itu yang ada dalam pikiran Baekhyun.

Dengusan kesal Chanyeol kembali tertangkap oleh indra Baekhyun dan itu semakin membuat Baekhyun diambang kebingungan. Sebenarnya apa yang ingin Chanyeol katakan?

"Kenapa kau harus pindah?"

"Tidak ada urusannya denganmu!"

Chanyeol merasa kesal, sungguh. Melihat tingkah Baekhyun yang sangat kekanakan seperti ini membuat mood nya semakin jelek. Nyatanya sikap Baekhyun tak jauh lebih kekanakan dibanding keponakannya yang baru berusia 5 tahun.

"Kenapa tidak kau jawab saja, Baek!"

"Sudah kubilang jika itu bukan urusanmu!" nada bicara Baekhyun naik seiring dengan Chanyeol yang semakin membuatnya dilanda emosi. Sejak ia merasakan sakit hati akibat melihat adegan mesra Chanyeol dan Dasom, ia merenung dan akhirnya ia sadar bahwa ia sudah terjatuh dalam pesona si kingka Jungshin yang paling ia benci dulu. Mungkin perasaan yang tak seharusnya itu muncul setelah makan malam mereka berdua di cafe beberapa waktu lalu tepat saat Jongin masuk ke rumah sakit. Dan perasaannya yang tak bisa ia ungkapkan, tak bisa ia salurkan, kini membuat ia tersulut emosi. Chanyeol yang seperti ini seolah menunjukkan bahwa ia peduli padanya, bahwa ia tak ingin kehilangannya, bahwa ia juga tak ingin dirinya pergi. Lalu apa maksudnya Chanyeol bersikap seperti ini? Chanyeol yang seperti ini membuat ia merasa di permainkan. Itulah sebab mengapa ia merasa emosi luar biasa saat ini.

"Jangan bersikap seolah kau adalah orang penting buatku!"

"BAEKHYUN!"

Yang lebih tua terhenyak ketika yang lebih muda meneriaki namanya bahkan tanpa embel-embel hormat pada yang lebih tua sedikitpun. Baekhyun mengernyit tidak suka. Hidung serta bibirnya berkerut secara bersamaan. Matanya menatap nyalang pada Chanyeol seolah menantang yang lebih muda.

"Urusi saja kekasihmu itu! Jangan ikut campur dengan urusanku! Jangan bersikap seolah kau peduli! Omong kosongmu membuatku muak! Dasar keparat!" maki Baekhyun dengan nafas terengah-engah. Secepat itu ia membuka pintu mobil yang entah sejak kapan tidak dikunci lalu berjalan keluar dari mobil Chanyeol tanpa menoleh sedikitpun. Ia kira Chanyeol akan berusaha menghentikannya dan berbicara lebih baik padanya namun pria itu bahkan tak keluar dari mobilnya sedikitpun. Baekhyun kecewa, tentu saja. Orang bodoh mana di dunia ini yang tak mau dihentikan saat pergi begitu saja dari hadapan pria yang disukainya. Semuanya juga pasti berharap mendapat pembelaan dari si pria, termasuk Baekhyun.

Semakin jauh langkahnya pergi meninggalkan mobil Chanyeol, semakin deras pula air mata yang membanjiri wajahnya. Ia terisak tanpa mempedulikan orang-orang yang menatap dirinya penuh tanda tanya sepanjang trotoar ramai yang ia lewati. Yang ia inginkan hanya terus berjalan menjauh hingga akhirnya ia terjatuh di trotoar dan menangis keras seperti anak kecil yang kehilangan ibunya.

Semuanya terjadi begitu saja ketika sebuah tangan hangat yang mengalirkan jutaan volt rindu hinggap di bahunya yang masih bergetar hebat. Perlahan tapi pasti Baekhyun mendongak dan mendapati seseorang yang sudah lama ia nantikan. Seseorang yang selalu setia menemaninya bahkan lebih dari kakak-kakaknya. Tanpa berkata apa-apa, Baekhyun langsung berhambur ke pelukan pria bertubuh tinggi tegap itu dan terisak di dadanya, menyalurkan segala perasaan tertahan yang selama ini menggelayuti benaknya.

"Hyung.." panggil Baekhyun dengan suara tangisan yang mendominasi seolah ia tengah mengadu pada pria itu tentang apa yang ia alami dan betapa menyakitkannya itu baginya.

"Uljimaseyo, doryeonim. Saya disini." suara husky pria itu seolah menjadi penenang bagi tangisan Baekhyun. Yang lebih mungil mulai mengurangi isak tangisnya namun pria itu masih merasakan bahwa tuan muda Byun ini masih belum menghentikan air matanya. Ia jadi sangat ingin tahu hal apa yang membuat tuan mudanya ini berada dalam keadaan yang sangat kacau. Siapa gerangan yang melakukannya? Pertanyaan-pertanyaan itu terus bermunculan dalam pikirannya hingga ia tersadar bahwa mereka telah jadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu lalang sejak tadi. Maka dari itu ia membawa Baekhyun kedalam mobilnya dan meninggalkan kawasan itu detik itu juga.

Sementara itu, Chanyeol hanya mampu berdiri di kejauhan menatap kepergian Baekhyun dengan nanar. Ia tak cukup bodoh untuk menyimpulkan bahwa pria itu adalah kekasih Baekhyun. Jelas sekali pria itu terlihat seperti pria dewasa. Mungkin usianya sama seperti kakak tertua Baekhyun atau mungkin lebih. Dilihat dari tatapan lembutnya, Chanyeol yakin bahwa pria itu adalah orang dekat Baekhyun yang sudah lama menjalin relationship dengannya. Bagaimana pun juga, Baekhyun tak mungkin berpacaran dengan seorang ahjussi. Ia hanya menyesali dirinya sendiri mengapa ia terlalu lama berpikir hingga akhirnya Baekhyun terlanjur pergi tanpa menoleh sedikitpun ke belakang untuk memastikan apakah dirinya ada di belakang sana atau tidak. Ia menyesali dirinya yang begitu pengecut hanya untuk mengambil tindakan berani melindungi Baekhyun. Ia menyesali dirinya yang terlalu lamban. Apakah pada akhirnya nanti ia juga tak akan bisa menghentikan langkah Baekhyun untuk menjauh darinya seperti barusan?

.

.

.

Jung Yunho (35), adalah salah satu orang kepercayaan Kangta yang memegang salah satu anak perusahaan milik Kangta di Busan sejak 3 tahun terakhir. Baekhyun mengenal Yunho sejak usianya masih 10 tahun. Ia menganggap Yunho sebagai kakak, ayah, saudara, dan orang yang paling ia percaya selain kakak-kakaknya. Yunho sudah bekerja dua belas tahun di perusahaan Kangta. Dulu Yunho bekerja di anak perusahaan yang berada di London, itulah kenapa Baekhyun bisa mengenal Yunho.

Yunho tahu hitam putihnya hidup Baekhyun. Ia tahu tentang Baekhyun bahkan lebih dari ayahnya sendiri. Daripada seorang karyawan perusahaan, Yunho jadi lebih terlihat seperti butler nya Baekhyun karena Baekhyun selalu berada di sekitarnya seperti virus yang menginvasi sel makhluk hidup.

Kedekatan mereka terjadi begitu saja sampai akhirnya di usia Baekhyun yang ke lima belas, Yunho di pindah tugaskan ke Busan oleh Kangta. Hal itu tentu saja membuat Baekhyun merasa kesepian. Dan hari ini, Baekhyun sungguh tak bisa menjabarkan perasaannya saat ia melihat Yunho berada di hadapannya dengan sebuah senyuman yang sama menenangkannya seperti dulu.

Yunho membawanya menuju rumah pria itu dengan pasangannya. Baekhyun tidak keberatan, ia juga ingin bertemu dengan pasangan Yunho. Ia mencurahkan apa yang ada dalam hatinya pada Yunho tanpa melewatkan satu kejadian pun. Bahkan ia menunjukkan bekas memar yang masih sedikit membiru pada Yunho akibat kejadian malam itu. Baekhyun bukanlah tipe orang yang suka memendam masalahnya sendirian. Hanya saja, ia selalu berpikir dua kali untuk mengatakannya pada orang lain.

"Kau ungkapkan saja pada Park Chanyeol itu bahwa kau menyukainya" ujar Yunho santai sambil meletakkan segelas susu coklat di atas meja.

Pasangan Yunho itu bernama Kim Jaejoong, seorang pria yang berasal dari pulau Jeju. Ia sedang tidak ada dirumah karena urusan pekerjaannya sebagai penulis novel. Itu yang Yunho katakan.

"Aku tidak bisa, hyung. Dia sudah punya kekasih perempuan" bahu Baekhyun turun kebawah dan Yunho tahu betapa beratnya menjadi Baekhyun untuk saat ini. Ia tak akan bisa membantu untuk masalah kepindahan Baekhyun ke New York. Meskipun ia adalah orang kepercayaan Kangta, hal itu tetap berada diluar kuasanya. Ia tak berhak ikut campur urusan keluarga atasannya.

"Tapi kau tahu dia tidak mencintai kekasihnya" Yunho kembali menyangkal dengan menatap Baekhyun heran.

"Aku tidak bisa hyung. Semuanya terlalu rumit. Dia juga menyukai orang lain yang tidak aku ketahui. Dan lagi, aku mau pindah ke New York."

"Itu dia masalahnya, Baekhyun-ah. Kau akan menyesal jika kau tidak mengatakannya pada Chanyeol."

Baekhyun terdiam cukup lama. Yang dikatakan Yunho memanglah benar. Seharusnya ia menyatakan perasaannya pada Chanyeol sebelum ia berangkat ke New York. Ia mungkin tak akan kembali dalam waktu singkat ke Korea setelah ia berada di New York. Dan mulai sejak saat itu, semuanya pasti akan berubah. Pasti.

.

.

.

Kewajiban Baekhyun untuk membantu Chanyeol memperbaiki nilai bahasa Jermannya sungguh menyiksa. Karena pada siang ini ia harus kembali mengajari Chanyeol di perpustakaan saat jam istirahat. Ia harus rela mengorbankan waktu berharganya. Sejak tadi tak ada yang berani membuka percakapan apalagi sampai menyinggung kejadian kemarin. Baekhyun hanya berucap beberapa kali untuk menyuruh Chanyeol mengerjakan latihan soal di buku. Chanyeol pun tak jauh beda keadaannya dengan Baekhyun. Pria itu sejak tadi juga tetap terdiam seperti orang dungu.

"Aku tidak bisa mengerjakan soal nomor 4" barulah saat itu Chanyeol bersuara. Sebenarnya soal nomor 4 tidak se-sulit ucapannya. Hanya saja ia merasa keadaan canggung mereka sungguh dapat membunuhnya. Ia tidak suka seperti ini.

Baekhyun berusaha tak memandang Chanyeol, tatapannya jatuh pada buku yang baru saja ia ambil dari Chanyeol. Ia membaca soal itu dan kemudian menghela nafasnya.

"Kau hanya perlu mengubah kalimat aktif ini ke kalimat pasif. Seperti contoh ini, kau hanya perlu mengenali yang mana subjek danㅡ" ucapan Baekhyun terhenti saat ia tak sengaja menangkap tatapan Chanyeol yang tertuju dengan intens padanya, bukan ke arah buku. Yang lebih tua lagi-lagi menghela nafasnya melihat kelakuan yang lebih muda, "sepertinya kau tak berniat belajar. Kalau begitu aku kembali ke kelas saja"

Baekhyun nyaris berdiri sebelum tangan panjang Chanyeol menariknya untuk kembali duduk, "maafkan aku" adalah kata yang tak pernah Baekhyun duga akan keluar dari mulut si bastard Park Chanyeol untuk siapapun. Tapi barusan, ia mendengar dengan jelas pria itu mengucapkan permintaan maaf padanya dengan tatapan serius.

"Untuk apa?" Baekhyun bertanya dengan bersikap pura-pura bodoh padahal ia jelas tahu kemana arah pembicaraan Chanyeol.

"Atas kejadian kemarin. Sungguh, itu diluar dugaanku" ucapan Chanyeol terdengar sangat tulus dan penuh penyesalan di telinga Baekhyun. Namun kenapa rasanya tetap saja menyakitkan meski kata maaf sudah terucap dari bibir pria itu.

Baekhyun memalingkan wajahnya kemudian berkata, "aku tidak ingin membicarakannya lagi. Aku akan kembali ke kelas, waktu istirahat hampir habis. Kau bisa mengerjakannya diwaktu senggang, aku akan memeriksanya besok."

Mata Baekhyun berpura-pura melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya lalu bangkit dari salah satu kursi perpustakaan yang ia duduki. Setelahnya ia pun cepat-cepat pergi dari perpustakaan, menyisakan Chanyeol dan beberapa anak lain yang masih berada didalam perpustakaan.

"Kalau aku jadi kau, akan aku lakukan apapun untuk bisa bersamanya"

Chanyeol tersentak saat tiba-tiba Yixing duduk di hadapannya dengan sebuah senyum naif yang tak dapat ditebak apa makna dibaliknya. Yixing menatap Chanyeol seperti biasanya, tenang dan lembut. Seperti sosok seorang kakak.

"Berhenti menjadi orang bodoh, Chanyeol. Buang gengsimu jauh-jauh" Yixing menatap Chanyeol dengan tatapan serius. Dan hal ganjalnya adalah, setiap kali Yixing berbicara seperti ini seolah ia mengetahui segalanya, mata pria China itu selalu berubah menjadi agak kehijauan. Padahal Chanyeol yakin bahwa warna asli mata Yixing adalah hitam. Mungkin itu semacam kelainan genetik? Ah, entahlah.

"Jangan lupa untuk menghabisi anak-anak Mapo nanti sore, bung!" Yixing kembali ke mode 'normal' nya. Ia menepuk bahu Chanyeol lalu melakukan hal yang sama seperti Baekhyun tadi, berdiri dan pergi dari perpustakaan.

.

.

.

"Baekhyunie, kaja pergi belanja" Xiumin menggandeng lengan Baekhyun yang tengah berjalan ditengah lorong untuk pulang. Matanya berkedip-kedip (sok) imut untuk dapat membujuk Baekhyun namun Baekhyun menanggapinya cukup dengan lirikan mata malasnya yang begitu khas.

"Ayolah, ne?" Jongdae ikut-ikutan bergelayut manja padanya menuai kernyitan jijik dari Baekhyun dan membuahkan toyoran pula dari orang yang sama.

"Memangnya aku bisa menolak, huh?"

"YEAY!" seru kedua makhluk hiperaktif itu sambil melakukan high five.

"Dasar" dumel Baekhyun dan ditanggapi cengiran tanpa dosa dari keduanya.

Xiumin dan Jongdae tak henti-hentinya berceloteh tentang apa yang akan mereka beli dan seperti apa modelnya hingga mereka sudah sampai di tempat tujuan. Mereka berencana mencari tuxedo untuk acara malam ulang tahun Jungshin. Dan Baekhyun hanya diam meski sesekali menanggapi karena ia yakin salah satu dari kakaknya pasti akan membelikannya tuxedo dengan sendirinya karena mereka juga pasti akan datang ke acara itu mengingat Jungshin selalu mengundang para alumni untuk menghadiri pesta perayaan ulang tahun itu dan faktanya seluruh kakak Baekhyun adalah alumni Jungshin.

"Ini cocok tidak untukku?" Jongdae mengambil satu setelan tuxedo berwarna coklat dengan model dua saku di bagian bawah yang membuat Jongdae terlihat seperti om-om dimata Baekhyun, lantas pria mungil dengan mata cantiknya itu menggeleng penuh kepastian.

"Kalau aku?" Xiumin datang dengan menunjukkan sebuah tuxedo berwarna biru dongker dengan saku kecil tempat sapu tangan di bagian dada kirinya serta lipatan kecil yang ada di bagian depan. Baekhyun terdiam untuk sejenak. Ia menatap tuxedo yang dipegang Xiumin dan menatap tubuh Jongdae secara bergantian. Warna tuxedo itu tidak cocok untuk dipakai oleh Xiumin menurutnya.

"Coba kau berikan tuxedo itu pada Jongdae." Baekhyun menunjuk keduanya dengan menyilangkan tangan.

Xiumin dan Jongdae saling bertatapan agak ragu namun Xiumin tetap menyerahkan tuxedo pilihannya pada Jongdae.

"Kau pakai itu, aku ingin lihat" lagi-lagi Baekhyun memerintah seperti seorang boss. Anehnya Jongdae hanya menurut saja tanpa banyak protes. Ia mengenakan tuxedo itu diluar kemeja sekolahnya dan memperlihatkan penampilannya pada Baekhyun dengan ekspresi sok angkuh.

"Lumayan," Baekhyun mengangguk-anggukan kepalanya, "coba kau cari yang warna abu dengan model serupa" ia menatap Xiumin dengan mantap dan Xiumin langsung saja melakukan apa yang Baekhyun katakan barusan. Pria manis itu kembali beberapa saat kemudian membawa tuxedo berwarna dark grey dengan model yang sama seperti Jongdae.

"Ini?"

"Aha! Kurasa kau cocok dengan warna itu" Baekhyun membuat gesture seperti menembak dengan dua jarinya yang terarah pada Xiumin sambil tersenyum lebar.

"Benarkah? Aiiii~ kau yang terbaik, baby Baek" Xiumin mengedipkan sebelah matanya membuat Baekhyun terkikik geli.

Sedangkan Jongdae menatap Baekhyun heran, "kau tidak memilih?"

"Kakak ku pasti sudah memilihkannya untukku"

Dan ucapan Baekhyun terbukti 100% saat ia pulang ke rumah dan mendapati Minho sudah membelikannya sebuah setelan tuxedo beraksen hitam serta kemeja berwarna putih. Jangan lupakan dasi kupu-kupu berwarna hitamnya. Sangat manis sekali.

"Kak.. Aku seperti mau menikah saja" protes Baekhyun saat mencoba setelan tersebut dari atas sampai bawah. Minho hanya tersenyum simpul, memaklumi. Tuxedo putih memang identik dengan pernikahan. Tapi menurutnya itu sangat cocok untuk Baekhyun yang manis dan berperangai lembut.

"Itu cocok buatmu, Baek. Neomu yeppeo" Minho terkekeh dengan ucapannya sendiri menuai delikan tajam dari sang adik. Ia menghentakkan kakinya yang berbalut sepatu pantofel berwarna hitam mengkilat dengan sebal.

"Kakak! Aku ini manly!"

"Berhenti bicara seperti itu saat kau justru masih menonton film barbie" ejek Minho membuat kadar kekesalan Baekhyun semakin tinggi.

Untungnya disini cuma ada Minho. Donghae dan Changmin belum pulang omong-omong. Kalau ketiga kakaknya itu berkumpul, habislah ia jadi bahan bulan-bulanan.

"Uri yeppeo Baekhyunee~" Minho tahu-tahu sudah melingkarkan kedua tangan kekarnya di leher Baekhyun dari belakang hingga ia kini memeluk tubuh mungil itu bak sepasang kekasih. Ia menggesekkan hidungnya di area tengkuk Baekhyun membuat Baekhyun tertawa. Bukan karena geli, tapi karena lucu mendapat perlakuan seperti ini dari kakaknya. Hal seperti ini memang sudah sering terjadi tapi tetap saja rasanya aneh karena mereka sudah besar, bukan bocah lagi. Sama halnya dengan mereka yang selalu mencium pipi atau keningnya seenak jidat. Kalau orang lain yang tidak tahu mereka bersaudara melihat itu pastilah mereka akan berpikiran bahwa Baekhyun dan kakak-kakaknya itu adalah sepasang kekasih.

.

.

.

"Apa yang kau lakukan disini?" Chanyeol menatap Dasom dengan tatapan datar yang sangat mengintimidasi kala melihat Dasom sudah berdiri didalam studio yang ia jadikan markas gank nya.

"Tentu saja mengunjungi oppa" jawab Dasom dengan ekspresi sok polos yang sangat menjijikan.

"Apa aku pernah bilang kau boleh datang kesini, eoh?" nada bicara Chanyeol terdengar sangat tidak suka. Beberapa teman satu gank nya bahkan sempat mengerutkan kening mereka.

'Ketua bahkan pernah membawa Baekhyun sunbae kesini. Masa dia tak mengijinkan kekasihnya sendiri untuk kesini?' Zico bertanya-tanya dalam benaknya.

"Tapi aku kekasih oppa" rajuk Dasom masih dengan ekspresi menjijikan.

"Kau pikir kau bebas datang ke tempatku hanya karena kau kekasihku, hah?" kini nada suara Chanyeol terdengar meninggi.

"Tapiㅡ"

"Kau bukan lagi kekasihku. Kita akhiri sampai disini" Chanyeol berujar dingin tanpa perasaan. Dasom tersentak tidak percaya, wajahnya memucat dan ia menatap Chanyeol dengan pandangan gelisah. Ia menggeleng kuat sambil berujar "andwae!"

"Andwae oppa! Kau tidak bisa melakukan ini padaku!" Teriak Dasom penuh emosi. Ia sudah seperti orang yang kehilangan arah sekarang.

"Kenapa tidak? Aku bahkan tidak untuk mencintaimu" ucapan itu lolos begitu saja dari mulut Chanyeol. Ia menatap Dasom dengan pandangan meremehkan yang tidak kenal ampun meskipun kini Dasom sudah bercucuran air mata.

"Bohong! Oppa berbohong! Oppa jelas mencintaiku. Aku tahu itu. Iya kan oppa?"

Chanyeol terdiam, menatap Dasom dengan pandangan tajam yang sangat mengintimidasi. Tanpa perlu di ucapkan oleh kata-kata pun semua orang sudah tahu dari ekspresi Chanyeol bahwa ia mengatakan 'tidak'.

"Kau boleh pergi sekarang. Pintu keluarnya disana" Chanyeol berujar santai tanpa rasa bersalah sedikit pun.

"ANDWAE!" Dasom menjerit frustasi. Matanya bergulir tidak fokus hingga ia melihat sebuah pisau buah yang tergeletak di atas meja yang sedang di kelilingi oleh para anak buah Chanyeol. Tanpa pikir panjang, ia pun melesat mengambil pisau tersebut dan meletakkannya di pergelangan tangannya dengan tangan gemetaran. "Aku lebih baik mati daripada kehilangan oppa" kelakarnya yang membuat senyum sinis terukir di wajah tampan Park Chanyeol.

"Kau boleh mati kalau begitu."

Dan Dasom sungguh tidak mau mempercayai apa yang baru saja telinga normalnya dengar dari ucapan Chanyeol. Ia semakin menangis frustasi, bimbang untuk menggoreskan pisau itu di lengannya. Tadinya ia pikir Chanyeol akan khawatir padanya jika ia mengancam untuk bunuh diri, tapi ternyata dugaannya salah besar karena Chanyeol sama sekali tidak peduli. Maka dengan pikiran gilanya, Dasom menggores cepat pergelangan tangannya dengan pisau buah tersebut membuat tangannya mengeluarkan darah yang cukup banyak. Hal itu tentu mengundang tatapan kaget dari teman-teman Chanyeol, namun tidak dengan si ketua. Pria itu malah menatap datar Dasom yang kini terlihat pucat saat melihat darah segar mengucur di pergelangan tangannya. Dan dalam hitungan detik, gadis itu pun jatuh ke lantai dengan wajah pucatnya.

.

.

.

- TBC -

.

.

.

Aiiihhh.. apa ini? Bersambung dengan Chanyeol yang ngejomblo lagi gaeeees.

Jadi, adakah yang tetap setia menunggu fanfic ini? Author harap sih ada. Ehe.

Okelah gaperlu ngomong ngaler ngidul segala. Jangan lupa review ya gaeeeess! Biar author tambah semangat nulisnya.

Lovyuuuhh