Disclaimer : I do not own Akatsuki no Yona, but Hakuya and Yohime my Own.


.

Chapter 07 – As Long As You're Still Alive

.


Terlihat Yohime berlari di tengah kegelapan berusaha menyusul seseorang yang berjalan jauh di depannya "tunggu?! ibunda, ayahanda, Hakuya, tunggu?!".

"belum waktunya kau kemari, dasar bandel..." sahut Hakuya tersenyum dan menepuk kepala Yohime.

"HAKUYA?!".

.

Yohime membuka matanya, melihat anak yang terkejut menatapnya.

"oh, bangun juga... tapi bisakah kau bangun dengan cara yang lebih normal lain kali? bikin kaget saja...".

"...siapa kau?" ujar Yohime lalu batuk sambil memegangi lehernya yang terasa sakit, suaranya agak serak.

"namaku Yun, pria tampan yang kebetulan lewat, kau bisa lupakan saja itu" ujar Yun memeras jeruk limun ke sebuah gelas yang ia campur dengan madu dan air, lalu ia serahkan pada Yohime "ini, tenggorokanmu akan terasa lebih baik...".

"terima kasih..." ujar Yohime meminum isi gelas yang diberikan Yun.

"tapi siapa kalian? kalian sangat hebat karena bisa bertahan setelah jatuh dari jurang itu, meski aku sempat terkejut karena bajumu berlumuran darah, kukira kau yang terluka paling parah..." ujar Yun menatap Yohime, agak curiga "tapi kalian tak terlihat seperti penjahat...".

"kalian? berarti dia tak menemukanku sendirian..." pikir Yohime memegangi lengan baju Yun "dimana orang yang kau temukan bersamaku? Mereka...".

Tak sempat Yohime menyelesaikan kata-katanya, ia terpaksa menghentikan ucapannya karena lehernya terasa sakit dan batuk beberapa kali, sehingga Yun menunjuk ke samping Yohime "perempuan itu saudara kembarmu, ya? kalian mirip sekali, hampir tak bisa dibedakan kecuali rambut kalian...".

"Yona?!" ujar Yohime bangun tiba-tiba setelah ia melihat ke samping kirinya dimana Yona dibaringkan, ia hampir jatuh membentur lantai karena merasa pusing, seperti yang biasanya ia alami saat darah rendahnya kumat, untungnya Yun sempat menahan tubuhnya meski disertai sedikit omelan.

"ini karena kau bangun tiba-tiba, kau ini...".

"tapi adikku...".

"justru kau yang lukanya lebih parah daripada adikmu, kau kehilangan cukup banyak darah sampai anemia sedangkan adikmu hanya tergores dan terbentur sedikit" ujar Yun menyodorkan bubur dan sayur serta minuman untuk menambah darah pada Yohime "habiskan dan jangan sampai ada yang tersisa, aku sudah susah payah membuatnya... meski laki-laki itu yang paling parah lukanya, sih...".

"Haku... dimana Haku?!".

"Haku? oh, pria berambut hitam yang bersama kalian... dia ada disana..." ujar Yun menunjuk ke belakangnya sambil menahan tubuh Yohime "kau jangan bangun tiba-tiba lagi!? dia masih hidup, tapi hampir saja... dia terluka berat, aku sudah mengatasi racunnya tapi pedang menebas dadanya, beberapa tulang rusuknya patah ditambah luka memar akibat benturan dan dia juga terlalu banyak mengeluarkan darah".

Tak lama kemudian, Yona bangun. Setelah memeluk Yohime dan hampir menangis karena ia sangat lega melihat Yohime baik-baik saja, ia mencari Haku lalu Yun mengulangi diagnosanya pada Haku.

"sedikit saja aku terlambat menolongnya, dia bisa mati..." ujar Yun mencari dedaunan obat di dalam keranjang "mungkin dia melindungimu saat kalian jatuh dari jurang".

Yona menoleh ke arah Yun "eh?".

"dia memelukmu saat kau pingsan...".

Yona mengatupkan kedua tangannya dan menutup mata, ia hampir menangis "Haku?!".

"pepohonan pasti memperlambat kecepatan jatuh kalian..." ujar Yun berdiri dan melirik Yona dengan tatapan curiga "dia rela melakukan semua ini hanya untukmu, apa dia kekasihmu?".

Yona menggelengkan kepala "tidak, sama sekali bukan...".

Yun memalingkan wajahnya ke luar "hah... kasihan sekali dia...".

Tak lama kemudian, setelah Yona bertanya dimana tepatnya tempat mereka saat ini dan siapa Yun, saat ia bermaksud mengatakan tujuannya yang mencari seseorang, seorang pria datang sambil menangis dan masuk, memanggil Yun. Yun mengarahkan sebelah kakinya pada Ik-Su dan menyuruhnya untuk tak mendekat karena baju Ik-Su yang penuh dengan lumpur. Setelah Ik-Su menceritakan penyebab kenapa ia jadi kotor begitu, Yun tanpa ragu mengatakan bahwa surga telah lama meninggalkannya.

Melihat Yohime meringkuk dengan tubuh gemetar, Yona yang khawatir menghampirinya dan memegang bahunya "kak? kakak kenapa?".

"duh, sudah, dong... jangan bikin aku ketawa, perut dan leherku sakit, nih!?" ujar Yohime yang tertawa sambil memegangi perut dan lehernya, tak lama kemudian air matanya menetes dan ia tetap tersenyum sambil menyeka air matanya yang terus mengalir "aku bodoh sekali... jika aku mati, aku tak bisa bertemu mereka lagi dan malah aku yang pergi meninggalkan adikku, kan? bagaimana bisa aku meninggalkan adikku sendirian?".

Meskipun ia tak mengatakan apapun, Yona menyadari kakaknya hanya berusaha keras untuk menyembunyikan tangisannya sehingga Yona yang mengira kematian Hakuya penyebabnya menangis, memeluk Yohime erat.

"kakak..." isak Yona.

"kenapa, Yona? tenang saja, tak ada yang perlu kau takutkan... kau tahu Haku itu keras kepala, kan? dia pasti akan baik-baik saja..." ujar Yohime tersenyum dan menepuk-nepuk punggung Yona.

"bukan itu... itu juga, sih..." isak Yona memeluk erat Yohime dan menyandarkan wajahnya ke pelukan Yohime "kenapa di saat seperti ini aku malah tak tahu apa yang harus kukatakan? seharusnya aku bisa menghiburnya, tapi kenapa malah aku yang dihibur olehnya?".

Saat Yun meletakkan keranjangnya, Yohime memanggilnya dan tersenyum lebar "Yun, terima kasih banyak karena sudah menolong kami bertiga...".

"...sama-sama" ujar Yun memalingkan wajahnya yang tersipu.

"kalian sudah bangun? syukurlah..." ujar Ik-Su memperkenalkan diri.

"anu, aku..." ujar Yona terhenti dan berpikir sesaat "meski mereka kelihatannya bukan orang jahat, aku belum bisa memberitahu identitas kami...".

Detik berikutnya, Yona dan Yohime terkejut melihat Ik-Su menangis.

"kalian sudah banyak mengalami banyak penderitaan, ya?".

"tidak, Haku dan kakak selalu melindungiku, jadi...".

"tidak, maksudku sejak kalian memutuskan untuk memulai perjalananmu... biar bagaimanapun ini terlalu berat untuk Yona-Hime dan Yohime-sama...".

"tunggu, bagaimana anda tahu nama kami?" tanya Yohime teringat ucapan Mundok mengenai pendeta yang tinggal di tempat terpencil "mungkinkah kau... tuan pendeta?".

Saat Ik-Su berusaha menyembunyikan tebakan Yohime yang benar dengan tertawa meski jelas terlihat kalau ia gugup, Yun menghela napas "kau bodoh, ya? pengasingan diri kita jadi tak ada gunanya kalau kau berkata langsung begitu, kau ini benar-benar tak bisa berbohong, ya?".

"maaf... aku ingin mencari saat yang tepat untuk menyapa Hime-sama..." ujar Ik-Su tertawa dan menggaruk kepala.

"kau pendetanya? jadi kau sudah tahu kalau kami akan kemari?" tanya Yona.

"iya, aku bertugas untuk menyampaikan suara dewa kepada semua orang, dewa mengajariku banyak hal mengenai dunia ini".

"tugas apanya? kerjamu hanya berlutut dan terus berdoa sepanjang hari tapi kau bahkan tidak menghasilkan uang, kan? cepat lepas baju kotormu?!" ujar Yun melemparkan handuk basah pada Ik-Su setelah merebut baju Ik-Su yang kotor "kau diusir dari istana karena bertingkah aneh dan mengaku bisa mendengar suara dewa, kan?".

"kenapa kau diusir?" tanya Yona.

"aku terkejut... kau hidup di istana, tapi kau tak tahu?" ujar Yun.

Yona tak bisa membantah ucapan Yun dan menoleh ke arah Yohime "eng, kak...".

"aku tak bisa membelamu kali ini, seharusnya kau belajar sedikit... aku tahu kau apatis tapi tak kusangka kau bahkan tak tahu soal itu, mungkin seharusnya aku mengajarimu..." ujar Yohime menghela napas dan memegangi kepalanya yang terasa tambah pusing "aku tak bilang kalau kau bodoh, kau hanya terlalu apatis... pada nyatanya ucapan Yun benar, kalau kau yang tinggal di istana tapi bahkan tak tahu sedikit dari sejarah yang pernah terjadi itu agak... kecuali jika itu memang rahasia besar yang sengaja disembunyikan kerajaan...".

"tapi... aku memang tak sepandai kau, kan?" ujar Yona mendekati Yohime.

"tak ada orang yang bodoh, yang ada hanyalah orang yang malas atau apatis dan itu tak bisa kau jadikan alasan untuk tak mencoba mencari tahu sendiri atau belajar..." ujar Yohime menunjuk Yona sebelum berbaring sambil menutupi wajahnya "biarkan aku tidur... kepalaku pusing sekali dan kau membuat kepalaku tambah pusing... setelah ini bersiaplah, akan kujejali otakmu dengan apa yang pernah kupelajari, aku tak mau adikku dikatai bodoh".

Setelah memastikan kalau Yohime sudah tidur, Yona menempelkan dahinya ke dahi Yohime "ternyata memang demam... itu sebabnya tubuhku ikut terasa panas...".


Pasca mengambil jemuran, Yun melihat Yona berteriak memanggil Haku.

"Haku, bertahanlah!? Apa kau bisa mendengarku? Haku!?".

"mundurlah..." ujar Yun bergegas memeriksa kondisi Haku setelah ia menyerahkan keranjang cucian pada Ik-Su "demamnya masih sangat tinggi".

Setelah ia mengoleskan obat yang telah ditumbuk dan mengganti perban di tubuh Haku, Yun berdiri "demamnya tak akan turun sementara waktu setelah perawatanku, mungkin malam ini masa kritisnya".

Yona menggenggam tangan Yun "selamatkan Haku?!".

"itulah yang sedang kulakukan, akan menyusahkan jika dia mati... tapi aku juga bukan dokter, jangan berpikir kalau aku bisa menolongnya..." ujar Yun menepis tangan Yona dan beranjak menjauh "kau bahkan belum mengucapkan kata terima kasih pada orang yang menolongmu, tak seperti kakakmu... apa kau pernah mengucapkan kata terima kasih pada orang ini meski ia melakukan hal sejauh ini untuk menolongmu?".

"adikku bukan tipe orang yang tak tahu terima kasih... mungkin dia tak mengucapkannya tapi dari sikapnya, ia sangat berterima kasih... kau baru bisa mengerti seperti apa karakter seseorang jika sudah lama mengenalnya, kan?" ujar Yohime bangun sambil memegangi kepalanya dan menangkap kain basah untuk kompres yang jatuh dari dahinya.

"kak, tidurlah lagi, kau masih demam" pinta Yona menghampiri Yohime, menyelimuti Yohime dan mengompres Yohime.

"suaramu saat kau memanggil Haku keras sekali barusan, aku jadi terbangun" sahut Yohime sebelum terlelap, memegang tangan Yona "jangan takut... aku takkan meninggalkanmu...".

Ik-Su menepuk bahu Yona dari belakang "tak apa-apa, tenang saja... dia masih belum bertemu dengan dewa kematian, dia akan segera kembali".

Mendengar ucapan Ik-Su, Yona meneteskan air mata meski ia tahu, ia masih belum bisa lega.


Yohime terbangun di tengah malam, ia melihat ke sekeliling dimana Haku masih belum sadar sedangkan Yona, Yun dan Ik-Su terlelap dengan wajah kelelahan. Melihat Haku, ia teringat saat Hakuya dan Haku baru saja diangkat menjadi pengawal pribadi mereka berdua, Mundok menghadiahkan Guan Dao dan Tsu Quan Dao pada keduanya. Senjata itu senjata pertama yang sangat penting bagi keduanya, sehingga sangat mungkin jika Haku akan mencarinya begitu ia sadar.

Yohime merangkak pelan-pelan dari tempat tidur, berusaha tak membangunkan Yona, ia lalu berjalan keluar dan mencari Tsu Quan Dao ke sekeliling sesampainya di tempat yang ia kenali sebagai tempat mereka jatuh dari jurang dan ia berhasil menemukan Tsu Quan Dao yang mata pisaunya terlihat bersinar biru keperakan di bawah sinar bulan. Yohime bisa merasakan berat Tsu Quan Dao yang biasa digenggam Haku dengan satu tangan itu, seperti Hakuya yang biasa menggenggam Guan Dao dengan sebelah tangan. Teringat wajah Hakuya yang tersenyum tulus di sampingnya, Yohime mendongak menatap bulan.

.

Though once you ruled my mind

I thought you're always be there

And i always hold on to your face

But everythings changes in time

And the answers are not always there

And i hope you've gone to a better place

Your lover and baby will cry

But your presence will always remain

Is this how will it means to be

You mean something more to me

More than what the people will see

Time will tell, Time will tell

They say that you passed away

And i'd know that you've gone to the better place

.

Yohime berhenti dan menatap patch eye milik Hakuya yang ada di tangannya, teringat ucapan Hakuya sebelum berpisah.

"aku tak pernah bohong padamu, kan?".

"dasar pembohong..." gumam Yohime mengerutkan kening dan menggenggam erat patch eye itu "kau bilang kau akan kembali, kan? tapi kenapa...".

"aku tak tahu kau bisa bernyanyi sebagus itu".

"memang, karena biasanya hanya di hadapan kakakmu dan adikku aku biasa bernyanyi, tapi sekarang... yang biasa mendengarku bernyanyi selain adikku... sudah tak ada lagi..." ujar Yohime menundukkan kepala, menyimpan patch eye itu ke sakunya "dan sepertinya adiknya ini memang ingin cepat mati, ya?".

"aku hanya ingin mencari tombakku".

"ada disini..." ujar Yohime mengangkat sedikit Tsu Quan Dao di tangannya dan berdiri "ayo kita kembali... jika Yona terbangun dan sadar kita berdua tak ada disana, bisa-bisa dia berlari keluar mencari kita".

"tunggu, tombakku...".

"biar aku yang bawa, kau terluka berat begitu...".

"aku tak tahu kalau ternyata kau kuat juga".

"berkat kakakmu".

Melihat Yohime tersenyum, Haku sadar, itu senyuman yang biasa dikeluarkan agar orang lain tak khawatir padanya lagi, senyuman untuk menyembunyikan rasa sakitnya dan yang bisa ia lakukan hanya menutup mata dan tak bertanya apa-apa lagi sebelum mengangguk dan kembali.


Keesokan harinya, setelah Haku mengetahui kalau mereka sudah ada di rumah pendeta, Yona pergi keluar dan menemukan Ik-Su menangis di tepi tebing yang menghadap air terjun. Yohime yang menyusulnya tak sengaja mendengar percakapan mereka berdua.

"aku ingin hidup... nyawaku, nyawa kakak ataupun nyawa Haku takkan kuberikan pada siapa pun!?".

Yohime terkejut melihat adiknya yang kini begitu tegar, seolah ada bara api di kedua matanya.

"jika kalian ingin hidup, kalian harus menempuh jalan yang jauh dari kedamaian... kehidupan kalian akan menimbulkan badai besar yang akan mengguncang kerajaan Kouka...".

Setelah Yun dan Haku ikut bergabung, Ik-Su menyampaikan ramalannya "jika kau tetap menginginkan kehidupan di depanmu, di tengah pertumpahan darah yang tak terhenti maka aku akan menyampaikan suara dewa ini kepadamu".

Saat kegelapan memenuhi daratan

Darah naga dan Suzaku akan mengembalikan kehidupan sekali lagi

Sesuai perjanjian kuno, ketika ke-4 naga berkumpul

Darah Suzaku akan memberikan kehidupan baru

Dari Naga Langit yang bangkit dari alam kematian

Pedang dan perisai yang melindungi Raja akan terbangun

Dan Naga merah akan kembali saat fajar

Pasca menyampaikan ramalannya, Ik-Su tumbang ke tanah "me... menyampaikan suara dewa ini membutuhkan banyak tenaga...".

"dasar orang tua yang menyusahkan" ujar Yun menusuk-nusuk Ik-Su dengan jari telunjuknya.

"naga merah dan ke-4 naga... apakah itu berkaitan dengan legenda tentang terciptanya kerajaan Kouka?" tanya Yohime.

"legenda terciptanya kerajaan... lalu apa hubungannya dengan kami?" tanya Yona.

"Hime-sama ingin hidup, kan? tapi kalian tak bisa hidup sendirian... jika kalian pergi, kalian akan dikejar oleh mereka yang mengincar kalian lagi... orang yang ada di sisi kalian dan mendukung kalian adalah Haku, tapi jika seperti ini terus... Haku bisa mati...".

Yohime dan Yona terbelalak, keduanya terkejut mendengar ucapan Ik-Su. Saat Haku terbaring kesakitan akibat lukanya dipukul oleh Yun pasca Haku protes pada Ik-Su, Ik-Su melanjutkan pembicaraan, meminta kedua putri ini untuk mencari ke-4 ksatria naga sebagai rekan mereka.

"tapi siapa Suzaku dalam ramalan yang kau maksud ini, tuan pendeta? Dan apa hubungannya dengan raja Hiryuu serta ke-4 ksatria naga? Bukankah ia bahkan tak muncul di dalam legenda terciptanya kerajaan Kouka?" tanya Yona.

"naganya bukan hanya 4 ksatria naga, tapi juga ada Naga Langit?" ujar Yohime.

"takdir pasti akan membawa dan mempertemukan kalian dengan ke-6 naga seperti takdir telah mempertemukan kalian dengan reinkarnasi Suzaku..." ujar Ik-Su menunjuk Yohime "titisan burung keabadian, Suzaku, Yohime-sama...".

Yona dan Haku menoleh ke arah Yohime "EH!?".

"...aku!?" tanya Yohime menunjuk dirinya dengan mata membulat "tunggu, maksudnya... aku reinkarnasi Suzaku? tapi aku hanya manusia biasa yang tak punya kekuatan apa-apa, kan?".

"kekuatanmu hanya tertidur, tapi setelah apa yang telah terjadi, nampaknya darahmu sebagai Suzaku mulai bangun... bukankah pertempuran yang baru saja kalian alami kemarin sudah cukup jadi bukti bahwa darahmu sebagai Suzaku mulai terbangun? Buktinya, luka di lehermu seharusnya sudah sembuh berkat kekuatan penyembuhan Suzaku".

Untuk membuktikan ucapan Ik-Su, Yohime membuka perban di lehernya, lukanya benar-benar sudah sembuh bahkan tak berbekas.

"tapi bukan berarti aku abadi, kan?".

"tidak, karena kau hanya mendapat tiga kekuatan sebagai titisan Suzaku, yaitu kekuatan untuk mengendalikan eleman api dan angin, kekuatan penyembuh dan meramal masa depan".

Mengetahui dirinya tak abadi, Yohime menghela napas lega "baguslah, sebab tak ada gunanya abadi jika pada akhirnya aku seorang diri...".

"aku pikir itu semua bukan keajaiban tapi kehendak dewa yang menuntunmu kesini... tapi surga hanya akan menunjukkan jalan, dan jalan apa yang akan kau ambil semua terserah padamu..." ujar Ik-Su menutup pembicaraan.


Malamnya, Yona membuat keputusannya dan membicarakannya dengan Haku, tapi masih ada satu hal yang mereka cemaskan, yaitu Yohime. Setelah Ik-Su meminta mereka membawa Yun serta dalam perjalanan mereka, mereka melihat Ik-Su menghampiri Yohime di tepi tebing yang menghadap air terjun.

"apa yang ingin anda bicarakan, tuan pendeta?".

"ini mengenai anda sendiri, Yohime-sama... manusia selalu berbuat kesalahan karena berbagai sebab, seperti karena masih muda atau kurangnya pengalaman bahkan tidak jarang dari mereka yang berusaha mencari tempat pelarian atau bersembunyi dari akibat perbuatan mereka... ada saatnya kita terhenti di suatu tempat dan tak bisa melihat posisinya, seperti terjebak di tengah kegelapan saat sadar kalau kita seorang diri... saat itu dunia seolah berakhir tepat di depan mata kita dan karena kita tak bisa kembali ke keadaan sebelumnya, kadang kita akan panik, sedih dan kesepian... tindakan anda saat itu memang bisa dimengerti tapi ingatlah, tindakan yang dilakukan berdasarkan emosi sesaat kadang hanya akan berakibat buruk".

Yohime tersenyum pilu, mengerti apa yang dimaksud Ik-Su, ia lalu menutup mata dan memegang lehernya "seseorang pernah berkata padaku, bukankah dunia ini terlalu indah untuk dilewatkan dengan cuma berpangku tangan? begitu aku sadar kalau dia sudah tak bisa kutemukan lagi dimanapun di dunia ini, yang terlintas dipikiranku hanya bagaimana cara agar aku bisa bertemu kembali dengannya? aku ingin selalu ada di sisinya, tapi tampaknya aku terlalu banyak meminta pada dewa... seharusnya kenangan indah yang telah kudapatkan selama bersamanya sudah cukup... aku bersyukur dan berterima kasih kepada dewa karena telah mempertemukan kami berdua, tapi kenapa... kenapa sekarang semua kenangan indah itu terasa menyakitkan?".

"meski kau tak menginginkannya, kenangan indah yang bisa terasa menyakitkan itu akan terus ada karena itu adalah bukti kalau kau sangat mencintainya... luka yang kau dapatkan memang sangat besar dan hampir tak tertahankan, tapi setiap luka bisa sembuh, meskipun meninggalkan bekas luka, waktu yang akan menyembuhkannya... jangan melepaskan atau melupakan luka itu karena itu bukti bahwa kau hidup...".

"bukti hidup, ya? melihat bagaimana adikku tetap ingin hidup, lagi-lagi aku merasa dikalahkan olehnya... selama di istana, setiap aku dibandingkan dengan adikku dan tiap melihat orang lain meremehkan adikku, membuatku benar-benar merasa kesal pada mereka yang tak tahu apa-apa sampai aku ingin memukul mereka, karena justru akulah yang selalu kalah darinya... tak sepertinya, aku bukan orang yang bisa mengekspresikan perasaanku dengan mudah... jika diibaratkan adikku ibarat matahari dan aku hanyalah bulan yang perlu cahaya matahari agar aku bisa tetap bersinar, karena itulah aku selalu berusaha untuk menjaganya, karena aku sangat menyayanginya... melihatnya tadi, lagi-lagi aku kembali disadarkan atas tindakan bodohku yang sangat memalukan... aku bodoh sekali, jika aku mengakhiri hidupku sendiri, aku memang bisa terlepas dari rasa sakit ini tapi itu sama saja aku melarikan diri, jika aku mati di saat mereka berdua masih bertahan hidup, berarti aku yang pergi meninggalkan mereka... dan bagaimana bisa aku meninggalkan adikku?" ujar Yohime mendongak menatap langit, lalu menundukkan kepala, meneteskan air mata sambil menutup mulutnya "aku bermimpi tentang saat kami masih ada di kastil, mimpi yang sangat indah, hingga terasa sangat menyesakkan... saking indahnya mimpi itu, penderitaan begitu terbangun akan jadi terasa makin pahit dan lebih sakit... dan sekarang, kami hanya bisa bertemu dalam mimpi... aku mengerti tak seharusnya aku berpikir begini... tapi aku tak suka jika dia tak ada di sisiku lagi... seharusnya akulah yang mati saat itu...".

"jangan berpikir begitu... jangan pernah lagi mencoba mengakhiri nyawamu sendiri untuk yang kedua kalinya... baik yang ditinggalkan maupun yang meninggalkan sama-sama menyakitkan, itu sebabnya jika kau merasa dia berharga bagimu, jangan lepaskan dia..." ujar Ik-Su menepuk-nepuk kepala Yohime "meski kau merasa seorang diri, jangan berhenti karena jika kau berhenti disini, kau akan kehilangan cahayamu... jika kau terus hidup, meski memerlukan waktu selama beberapa tahun, kau pasti akan kembali menemukan apa yang berharga bagimu jadi jangan kau berpikir kalau kau seorang diri... entah bagaimana, hari esok akan selalu datang dan kau bisa menemukan banyak alasan baru untuk ingin terus hidup... apapun bisa menjadi alasan untuk tetap hidup, karena itulah jangan pernah lagi berpikir untuk membuang nyawamu sendiri".

"terima kasih atas nasehatmu, tuan pendeta..." ujar Yohime menyeka air matanya, tersenyum "Ik-Su, kau mirip ayahku".

Ik-Su terkejut dan mengayunkan tangan "eh? yang mulia Il? Hime-sama terlalu berlebihan!?".

"tidak, kau benar-benar orang yang baik... dinasehati olehmu membuatku merasa seperti telah dinasehati oleh ayahku sendiri..." ujar Yohime berdiri dan tersenyum "tuan pendeta, tolong... rahasiakan pembicaraan kita, terutama dari adikku dan Haku... meski tak mengatakan apapun, Haku tentu sangat sedih karena ia baru saja kehilangan kakak kembarnya, satu-satunya keluarganya yang sedarah dengannya... aku harus melakukan sesuatu agar ia tak bersedih lagi, bukan hanya karena dia adik Hakuya, tapi karena dia juga sudah kuanggap seperti keluargaku sendiri... aku juga tak ingin Yona melihatku dalam kondisi lemah seperti ini... karena aku kakaknya, akulah yang harus lebih kuat agar aku bisa melindunginya...".


Haku dan Yona mendengar semua pembicaraan Yohime dengan Ik-Su, sehingga Yona yang dari tadi menutup mulutnya, mulai menangis setelah terduduk lemas.

"aku tak pernah tahu... kalau itu yang kakak pikirkan tentangku..." isak Yona memeluk lutut dan menangis tanpa suara "selama ini aku selalu dibanding-bandingkan dengan kakak dan aku selalu merasa iri padanya... tanpa kutahu seperti apa perasaan kakak selama ini... aku ingin jadi kuat, Haku... aku ingin sekuat kakakku... tapi kenapa aku begitu tak berdaya? Aku tak ingin dilindungi olehnya terus-terusan, aku juga ingin melindunginya...".

Haku hanya diam sambil merangkulkan kepala Yona "tenang saja, kita akan melindunginya... aku juga sudah berjanji pada Hakuya untuk menjaga Yohime-sama...".