"Apa kau yakin, tak merasakan marah atau kecewa? Setidaknya sekali saja kau memikirkan perasaanmu."

Jihoon menatap tak percaya pada seorang namja, yang cantik dengan rambut panjangnya. Penulis dihadapannya ini memang sangat suka memutar balikkan pikiran orang yang ia ajak bicara.

Sesungguhnya, Jihoon pun tak ada niat sedikitpun untuk bertemu dengannya.

Ia paling tahu dirinya sendiri. Ia tahu ia bisa goyah kapan saja. Ia juga bukan tak bisa marah dengan Wonwoo. Hanya saja ia mencoba menerima kenyataan jika Scoups hyung yang menyukai Wonwoo, bukan Wonwoo yang menyakitinya.

Jihoon menghela nafas. Ia sedikit lelah dan payah. Jisoo memberikan banyak pekerjaan, termasuk merevisi beberapa buku yang seharusnya terbit akhir tahun.

Yah... sebentar lagi natal.

Jihoon memutar tubuhnya hingga ia menatap namja cantik yang masih sibuk dengan kertas kerja di hadapannya. Merasa dilihat oleh sahabatnya, namja itu mengangkat wajahnya.

"Wae, Jihoon-ah?"

"Apa tak sebaiknya kau mengejar CEO baru kita? Daripada kau terus memikirkan bagaimana aku, tapi kau mengabaikan kekonyolanmu saat bersama dengan Jisoo hyung. Aku tahu kau menyukainya."

"Uhhukkk..."

Namja itu langsung terbatuk. Ia membulatkan kedua matanya menatap Jihoon.

Bingung harus ditaruh dimana muka cantiknya ini, karena kebetulan sekali sang CEO baru saja masuk ke ruangan rapat yang sebentar lagi memang akan dimulai.

"Jihoon...! Pabo...!"

.

.

.

.

.

Author : rainy hearT

Length : Series

Rated : T to M

Cast :

-Kim Mingyu

-Jeon Wonwoo

-Hong Jisoo

- Choi Seungcheol

-Lee Jihoon

- Other SVT members

Pairing : Mean MEANIE

Disclaimer : Semua cast belongs to God and themselves. Pledis CUMAN pinjem mereka sebentar

Genre : ||Drama || Romance|| Sad || Slice Of Life

Warning : || YAOI || Gaje || typo's || EYD tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia||

Sumarry: I saw you from the beginning. My heart STOP at that second when I see you smile... NOT FOR ME

.

.

.

.

Another PRESENT From Me

.

~Cheat on ME~

.

.

HAPPY READING

.

.

Chapter 7: H.O.P.E

.

.

.

.

.

Angin pagi memang sejuk sekali. Meski berhembus lembut menerpa wajah pucat itu, tapi tetap saja dinginnya bisa membangunkannya. Ia mencoba mengerjapkan kedua mata sipitnya.

Wangi bunga dan udara di pagi hari memang sangat menenangkan. Terlebih lagi dengan lengan kekar yang melingkari pinggangmu, membuat perasaanmu terasa penuh dipagi hari.

Wonwoo mengulas senyumannya.

Ia mencoba mengangkat wajahnya. Ia tersipu. Malu.

Meski sudah berulangkali, bahkan ratusan kali ia melihat kekasihnya itu tapi tetap saja ia semakin jatuh cinta lagi dan lagi. Wonwoo mencoba mengeluarkan tangan kanannya dari bawah selimut dan mencoba untuk menyentuh bibir kekasihnya.

"Hei ... Gyu-ie..." Wonwoo berucap pelan, seperti berbisik. "Kau tahu, aku sangat mencintaimu."

'Cheesy...'

Mingyu membatin.

Hei... namja tan itu tak lagi tidur. Ia bangun saat merasakan pergerakan tangan Wonwoo yang lepas begitu saja dari pinggangnya hingga berakhir memainkan bibirnya. Mingyu ingin menggigit tangan nakal itu. Tapi ia masih ingin mendengar perkataan Wonwoo yang lainnya.

Perkataan gombalan Wonwoo yang sangat jarang sekali didengar Mingyu.

"Aku takut kau akan meninggalkanku." Wonwoo mencoba bergerak sedikit untuk mengangkat wajahnya sedikit, hingga wajahnya kini berada di atas Mingyu.

'Aku lebih takut, itu akan terjadi Wonu-ya...'

Mingyu terus membatin dan juga berusaha untuk menahan dirinya agar tak terbangun begitu karena perlakuan kekasihnya yang pagi-pagi sudah menggodanya.

Dengan posisi hampir terduduk, Wonwoo menopang berat tubuhnya dengan tangan kirinya. Ia membiarkan tangan kanannya memanjakan Mingyu. Mengusap Wajah lembut kekasihnya itu. Sangat lembut, agar Mingyu tak terbangun.

Wonwoo tersenyum, kemudian ia menurunkan wajahnya dan mencium lembut bibir Mingyu. Hanya kecupan kecil, karena ia tak tahan melihat bibir kekasihnya yang mengangguh pagi itu terlihat sangat menggairahkan dengan bekas gigitan kecil dari sisa percintaan mereka semalam.

"Hehehe..." Wonwoo tertawa pelan. Susah payah menahan tawanya saat ia menyadari jika Mingyu sudah gagal pura-pura tidur. "Gyu-ie, aku tahu kau susah bangun."

"Aku tak bangun, kau tak lihat kedua mataku masih tertutup."

"Apa? Kedua matamu tertutup sih memang. Tapi Mingyu kecil di bawah sana mungkin butuh sesuatu dipagi hari seperti ini. Memangnya kau mau menutup matamu terus? Apa tidak mau melihat wajahku."

Mingyu langsung membuka kedua matanya.

Wonwoo kasih kode! Buat morning sex!

Coba pikir, orang gila mana yang bisa menolak ajakan Wonwoo untuk morning sex yang sangat jarang mereka lakukan karena Mingyu selalu saja sibuk dari pagi dan lelah dimalam hari.

"Hup..." Mingyu mengangkat tubuh Wonwoo dengan mudah hingga namja kurus itu jatuh tepat di atas perutnya. Mingyu dapat merasakan dengan jelas, sensasi kejut saat kulit mereka saling bersentuhan.

Seakan belum lupa dengan apa yang mereka lakukan beberapa jam lalu, tubuh Mingyu seperti tak kenal lelah karena yeah... sang junior disana sudah merindukan kekasihnya.

Wonwoo menggeliat pelan dibawah kungkungan selimut tebal mereka. "Hanya sebentar saja ya Gyu. Aku ada pertemuan dengan Jeonghan hyung nanti siang."

"Nanti siang itu masih ada 5 jam lagi. Kurasa cukup."

"Tapi aku akan sangat lelah, lagipula ini saja sudah membuatku susah berjalan. Satu ronde saja yah?"

Wonwoo sedang melakukan tawar menawar. Semalam mereka melakukan 3 kali sampai Wonwoo rasanya ingin pingsan karena Mingyu melakukannya tanpa jeda.

Dan pagi ini adalah morning sex pertama mereka setelah sekian lama mereka tak melakukannya. Sudah bisa dipastikan jika Mingyu tak akan melakukannya sekali saja. Tidak mungkin.

"Kan bisa bawa mobil?"

"Kau lupa, mobilku dipinjam Chan?"

"Aku yang akan mengantar."

"Tapi, bagaimana fansmu? Aku ada pertemuannya itu ditengah kota."

"Gwaenchana..." Mingyu menggeleng pelan. Ia kemudian memainkan tangannya untuk mengusap punggung lembut Wonwoo. "Jangan mengkhawatirkan hal kecil. Aku sangat mencintaimu hampir jadi gila. Aku bahkan bisa berhenti menjadi model atau apapun itu hanya untuk bersamamu."

Wonwoo tersenyum. Hidungnya sampai mengerut lucu. "Kau ini, gombal sekali."

Wonwoo menurunkan wajahnya dan mendekati bibir Mingyu. Mengecupnya lembut dan menjilat pelan berkas darah yang sudah mengering di bibirnya. "Aku sangat suka menggigit bibirmu, seksi..."

"Benarkah?" Mingyu bertanya, dengan nada menggoda. Ditambah dengan kedua tangannya yang sudah sampai di kedua paha belakang Wonwoo dan mengusapnya lembut.

Wonwoo memainkan lidahnya, menyapa gigi taring Mingyu. Membiarkan kedua lidah mereka beradu membagi saliva dan kehangatannya.

"Lihatlah, siapa yang minta satu ronde saja pagi ini." Mingyu mengusap lembut paha belakang Wonwoo hingga jemarinya naik dan terus naik dan menemukan lubang sempit yang masih terasa sedikit lembab. Sisa semalam.

"Eungh..."

Mingyu memamerkan smirk-nya. Ia membuka belahan bokong Wonwoo dengan kedua tangannya dan memainkan jemarinya untuk menyapa hole itu lagi.

Wonwoo makin merasakan perasaan kejut itu yang membuat perutnya melilit tak karuan. Ditambah dengan Mingyu kecil yang perlahan menyapanya bersamaan dengan junior Wonwoo yang makin lama makin mengeras, sangat terasa di perut Mingyu.

Satu jari, dua jari hingga tiga jari...

"Mingyu...eung..." Wonwoo mendesah pelan. Ia menurunkan tubuhnya dan menciumi bahu Mingyu sambil terus menggesekkan tubuh mereka. Sesekali menjilat dan mengulum telinga Mingyu.

"Ungh... Wonu..." Seluruh tubuh Mingyu bagai disengat listrik yang membuat gairahnya makin menjadi.

Mingyu suka sekali dengan Wonu yang sedang liar. Selimut yang menjadi penutup tubuh mereka perlahan ia singkirkan hingga ia bisa bergerak lebih leluasa.

"Masukkan Gyu-ie..." Wonu merengek seks. Ia memainkan jemari lentiknya di perut dan niple Mingyu. Mengusapnya nakal.

"On top, Wonu-ya..." Mingyu berbisik pelan di telinga Wonwoo. Tak lupa,ia menjilat telinga itu dan membasahinya.

"Ughhh... geli sekali Gyu..." Wonwoo merasakan Juniornya makin mengeras. Ia menggesekkan Juniornya di perut mungyu.

Wonwoo tersenyum. "Ahhhhs..." Ia melenguh pelan saat jemari Mingyu yang sedari tadi bersarang di holenya tiba – tiba ditarik keluar. Perlahan ia menurunkan wajahnya. Memainkan jemarinya pada junior Mingyu. Mengocoknya perlahan.

"Aku mau yang sangat besar, Gyu-ie..." Wonwoo menurunkan wajahnya kemudian mendekati Junior Mingyu. Membasahinya sedikit dengan air liurnya sebelum kemudian mengulum junior besar itu dan merasakan manisnya precum-Mingyu.

"Wonu, masukkan saja. Ah..."

Wonwoo menghentikan kegiatannya. Ia mengangkat wajahnya dan kemudian tersenyum. ia membiarkan Mingyu menemukan pinggangnya dan menuntun tubuhnya untuk jatuh dan pas di hole Wonwoo.

"Mingh..!"

Wonwoo menjerit pelan. Ia menggeliat manja. Perutnya terasa mual melilit dan nyeri dalam satu waktu. Mingyu memintanya on top, tapi malah Mingyu yang menggerakkan pinggulnya seakan tanpa henti, tanpa lelah.

"Ahss... Gyu, terus Gyu..." Wonwoo menggila. Ia menurunkan wajahnya dan menyapa bibir Mingyu. Ia menciumnya dengan cepat. Memainkan lidah mereka menambah kesan panas atas kegiatan mereka.

Tangan bebas Mingyu, terkadak menampar bokong kenyal Wonwoo. "Ugh... Mingyu yeahh..."

.

.

Ting tong!

.

.

.

Suara bel itu. Berulangkali sudah. Entah siapa yang berani mengganggu kegiatan pagi mereka.

"Mingh... ada tamu."

"Biarkan saja ah... Wonu baby..."Mingyu tak peduli. Ia masih sibuk menggerakkan tubuhnya. "Kau masih sempit saja." Mingyu menahan leher Wonwoo agar namja itu berhenti mengalihkan kegiatan mereka. Biarkan saja tamu itu menunggu.

Wonwoo merasakan junior Mingyu makin membesar di hole-nya. Wonwoo pun makin menggila. Ia ikut menggerakkan pinggulnya. Mengikuti irama pergerakan Mingyu. Mengabaikan tamu yang entah siapa itu.

Ia meraih kedua sisi pipi Mingyu. Kedua mata mereka saling bertatapan. Dengan nafas yang menderu cepat, Wonwoo menghujani wajah tampan itu dengan ciuman kecupan kecil darinya.

"Yeahhh akh...! Disitu Gyu! Yeah... terus Gyuhh ahhhhss..."

Wonwoo mendesis, Mingyu makin menggila. Ia tak peduli lagi dengan tubuhnya maupun tubuh Wonwoo. Ia memutar tubuhnya hingga sekarang Wonwoo berada di bawahnya. Tanpa melepaskan tautan mereka, ia kemudian mengangkat kaki Wonwoo hingga berada di bahunya.

"Gyuh! Ahhh... Good Gyu-ie... yeah... lebih dalam lagi ahs..."

Menghujam dalam kedalam hole Wonwoo. Satu tangan Mingyu yang lainnya mengocok junior Wonoo seirama dengan hentakan kuat Mingyu.

"Ughhh Wonu, nikmat sekali. Ugh..."

Wonwoo mendekatkan tubuh Mingyu kearahnya. "Ayo Gyu...! Lebih Gyuh... Ughh..."

"Ahs... yeah... Wonu..."

Mingyu menggenjotnya dengan kuat, mengabaikan keringat yang bercucuran. Ia mengabaikan Wonwoo yang sudah berteriak tak jelas. Menghentak kuat, merasakan otor dalam hole Wonwoo menjepitnya kencang.

"Ughhh... Aku keluar ahhhh baby Gyu-ie... ahhhsss..."

"Ahss..." Mingyu mengernyit pelan merasakan orgasmenya tumpah didalam hole Wonwoo. Ia tak mengeluarkannya, karena ini terlalu enak untuk diakhiri begitu sa.a "Ini tadi enak sekali, tapi sayang suara bel itu mengganggu."

"Padahal aku tak ada janji dengan siapapun." Wonwoo berucap pelan. Kedua matanya menatap mata Mingyu. "Kau selalu saja mengeluarkannya didalam, Gyu-ie..."

"Kenapa memang?"

"Kalau tiba-tiba aku hamil, bagaimana?"

"Itu bagus malah."

"Eh?"

"Iya." Mingyu menurunkan tubuhnya kembali. Perlahan menggerakkan pinggulnya mencoba untuk membangunkan juniornya yang masih tertanam di hole Wonwoo.

"Gyu...istirahat dulu. Aku mau minum."

Mingyu tersenyum. Terlihat, sangat licik. "Ayo melakukannya di dapur."

"Gyu!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Kau sungguh, tak ada sedikit saja keinginan untuk membalas Wonwoo?"

"Jangan mengadu kami."

"Kudengar, dulu kau juga menyukai Mingyu. Tapi Mingyu sukanya sama Wonwoo."

"Hyung... hentikan."

"Kudengar juga, pacarmu itu juga sukanya wama Wonwoo."

Jihon membanting kaleng minumannya. Ia menatap lawan bicaranya. "Apa maksudmu Jisoo hyung!"

"Pisahkan Wonwoo dan Mingyu. Aku akan membuatmu bahagia. Aku bisa membuat Mingyu menyukaimu. Kau mendapatkan Mingyu, dan aku dapat Wonwoo."

"Hentikan kebodohanmu! Sampai kapanpun aku tak akan menyakiti Wonwoo."

Jisoo tersenyum. Terlihat sangat lembut dan menenangkan. "Scoups pacarmu 'kan?"

"Hentikan!"

Jisoo berdiri dari duduknya. Ia berjalan mendekati Jihoon. "Aku tahu, kau mungkin mencintai Hoshi. Aku juga yakin Hoshi sangat mencintaimu. Tapi aku belum buta, untuk tak melihat jika kau juga masih menyukai Mingyu."

"Aku hanya suka, dulu. Sebatas fans dengan idolanya. Dan itu sudah lama sekali."

"Sepertinya kau sangat yakin, jika kau tak menyukainya lagi."

"Hentikan Jisoo hyung! Kalau kau mau merebut Wonwoo maka lakukan dengan cara yang wajar."

"Wajar?" Jisoo kemudian tertawa lirih."Wajar katamu? Apakah wajar, jika seorang sahabat berulang kali menikungmu?"

Jisoo mengusap pipi Jihoon. "Aku bukan Wonwoo, yang menganggap semua orang baik. Aku juga bukan kau, yang akan diam saja sampai tak dapat apa-apa."

Jiso melangkah pergi meninggalkan Jihoon. Tapi sebelum keluar, ia berhenti di depan pintu masuk cafe itu. "Sahabat mana yang meminta sahabatnya untuk me-reset hubungan percintaan mereka yang sudah terjalin lama? Kau sangat jahat, Jihoon-ahhh..."

Namja mungil itu menahan tangis, marah, emosinya. Ia menepuk dadanya perlahan, mencoba menguatkan dirinya sendiri. Ia juga tak tahu, kenapa sampai sekarang, bayangan perasaannya kepada Mingyu belum berubah.

Sial!

.

.

.

.

.

.

TBC.

Aku tahu, NC itu ga hot. Maapkeun ini... soalnya baru mulai nulis NC lagi... ehehee