.
Peringatan: Bagi mereka yang merasa kurang nyaman membaca cerita yang mengandung
ungkapan atau kata-kata kasar dan perilaku tidak terpuji lainnya
kalian bisa memencet tombol kembali sekarang juga.
.
.
.
GETTING BY
"That confession"
.
.
.
Ingatkan aku lagi, kalau aku belum benar-benar sepenuhnya bebas dari neraka. Aku baru saja mendapatkan e-mail pemberitahuan perubahan keberangkatanku. Menghembuskan nafas lagi dan lagi. Mati-matian aku berusaha keluar dari tempat itu tapi setelah berhasil kenapa rasanya berat. Aku mencuci mukaku dengan air dingin yang keluar dari kran wastafel. Menatap wajahku lagi dan lagi. Apakah ini rasanya diusir?
Aku kembali duduk di tempat dudukku. Menatap ke arah jendela dan pemandangan luarnya. Memikirkan kembali kejadian yang terjadi pada hidupku beberapa bulan ke belakang. Terlalu banyak yang terjadi dan begitu cepat. Aku tidak ingin pergi. Tidak, aku ingin pergi tapi tidak secepat ini. Aku belum siap. Aku melirik kembali ke dalam kelasku. Menatap orang-orang yang ku anggap berharga bagiku. Aku tidak ingin semuanya berlalu dan menghilang begitu saja.
Aku mengikat rambutku ke belakang dan masuk ke dalam rumah. Udara di luar benar-benar panas tapi tidak dengan di dalam. Rasanya selalu seperti musim dingin di dalam sini. Berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil eskrim dari dalam sana lalu mengambil sebuah sendok untuk memakannya. Aku duduk di meja makan sendirian memakan eskrimku sendirian ketika ibuku datang menghampiriku.
"Ada apa dengan rambutmu?" Tanyanya dengan nada bicara seperti biasanya.
"Hanya ingin merubah gaya rambutku, sudah terlalu lama aku punya rambut panjang. Lagipula sebentar lagi musim panas, pasti akan terasa gerah sekali dengan rambut panjang." Jawabku sambil tetap menyuapkan eskrim ke dalam mulutku.
Ibuku hanya mengangguk mengiyakan dan berlalu dari hadapanku. Tak beberapa lama ia kembali duduk di hadapanku mengambil beberapa potong kue dan menyodorkannya ke arahku. "Makanlah," ibu beranjak pergi meninggalkanku setelah menyodorkan kue tersebut.
Sasori kini sedang memberikan tur tempat tinggalnya dengan antusias. Sementara aku hanya meliriknya sesekali dan kembali fokus mengemas barang-barangku. Tak ingin ada yang tertinggal. Aku tak ingin dihantui rasa penyesalan karena ada yang tertinggal. Koperku sebentar lagi akan penuh tapi terasa masih ada yang kurang.
"Hei! Kau memperhatikanku tidak?" Protesnya dari sebrang sana.
"Hmmm, tunjukan lagi kamarku dimana?" Tanyaku berpura-pura memperhatikannya.
.
.
.
Hari ini kegiatan olahraga terakhir kelasku. Kami memutuskan untuk melakukan pertandingan basket. Aku hanya mengangguk setuju tak seantusias lainnya. Pikiranku tidak fokus beberapa hari ke belakang. Aku dan Ino berada di tim yang sama. Kami sedang berkumpul dengan tim kami membahas strategi. Aku tidak bisa mendengar dengan jelas apa yang mereka bicarakan. Aku hanya berpura-pura memperhatikan. Peluit dibunyikan dan permainan segera dimulai.
Lima menit pertama aku masih bisa fokus ke dalam permainan namun setelahnya pikiranku mulai kacau. Gerak refleksku untuk menagkap dan merebut bola menjadi lambat. Tak fokus lagi dalam permainan dan berujung wajahku terkena lemparan bola basket. Bola tersebut berhasil mendarat di wajahku. Bisa ku rasakan sakit teramat sangat di area hidungku. Orang-orang langsung berkumpul di sekitarku memeriksa keadaanku. Aku hanya bergumam tidak apa-apa dan pergi ke pinggir lapangan sementara permainan kembali dilanjutkan tanpa diriku.
Aku membersihkan darah yang mengalir dari hidungku melalui kran di wastafel. Sial darahnya banyak sekali. Seharusnya aku jadi pemain cadangan saja tadi daripada jadi pemain inti. Pikirku saat ini. Seseorang menghampiriku dan memberikan sapu tangannya. Aku meliriknya hendak berterimakasih sebelum melihat mata hitam kelam tersebut.
"Thanks," aku meraih sapu tangan tersebut dan meletakannya di depan hidungku. Aku akan pergi ke ruang kesehatan sekarang.
"Tundukan kepalamu!" Perintahnya dengan kesal karena aku sempat mengadahkan kepalaku ketika hendak pergi dari sini. Ia berjalan ke sampingku dan memegang kepalaku supaya menunduk.
"Dasar bodoh! Tundukan kepalamu supaya darahnya cepat keluar."
"Aku sudah melakukannya, jadi kau mau apalagi?" Tanyaku gusar.
"Mengantarmu ke ruang kesehatan. Kau pikir kau bisa berjalan dengan benar ke sana tanpa bantuan orang lain? Aku bahkan ragu kau bisa pergi ke sana sendirian." Sasuke hendak menuntunku berjalan ketika aku hanya diam melongo menatapnya. "Cepat sebelum aku berubah pikiran!"
Kami berdua berjalan berdampingan menuju ruang kesehatan. Saling diam seperti biasanya. Aku merasa pandanganku kabur dan sedikit pusing ketika selesai menaiki tangga untuk sampai di gedung sekolah. Mataku mulai kabur dan aku mulai merasa lemas untuk berjalan. Aku berusaha membuka mataku lebar-lebar supaya aku bisa melihat dengan benar. Tapi hasilnya tetap saja penglihatanku kabur.
"Apa ku bilang. Ayo cepat naik!" Sasuke berjongkok di depanku.
"Tidak usah, aku masih bisa berjalan." Aku mendorong punggungnya dan berjalan melewatinya.
"Cih, dasar keras kepala!" Ia menarikku dan langsung mengendongku.
Suara berisik bel sekolah membangunkanku. Aku mengerjapkan mataku beberapa kali sebelum bangkit untuk duduk. Sepertinya tadi aku sempat pingsan karena ingatan terakhirku itu saat Sasuke memaksa mengendongku lalu semuanya jadi gelap. Aku menjambak rambutku kesal. Seharusnya aku bisa bertahan lebih lama lagi padahal kami sudah dekat dengan ruang kesehatan. Bodoh. Benar-benar memalukan.
Seseorang membuka pintu ruang kesehatan begitu cepat dan kencang. Aku merasa sangat kaget sehingga kembali tiduran dan bersembunyi di balik selimut. Benar-benar seperti orang bodoh. Aku membuka selimutku dan melihat sahabatku berjalan ke arahku. Ia datang membawa tasku ke sini.
"Kau sempat pingsan tadi, membuat kami semua cemas." Ujar Ino yang kini duduk di sebelahku. "Kau sudah baikan? Mau ku antar ke rumah sakit?"
"Aku rasa aku sudah baikan setelah tidur tadi." Ujarku seraya tersenyum ke arahnya. Aku bangkit dari kasurku dan meraih tasku hendak berganti dengan seragamku.
Aku berjalan ke arah lobi. Menunggu jemputanku sembari memandangi rintik hujan. Ino sudah pulang terlebih dahulu saat aku mengganti seragamku tadi. Sebentar lagi masa SMA-ku akan segera benar-benar berakhir. Suka atau tidak suka dengan kenangan semasa SMA ini, aku akan mengingatnya selama sisa hidupku nanti. Aku melihat sekitar karena bosan dengan pemandangan di depanku dan melihat Sasuke berjalan ke arahku.
"Kau belum pulang?" Tanyaku padanya.
"Sebentar lagi Naruto akan kemari," ujarnya tanpa menjawab pertanyaanku.
"He? Naruto?" Tanyaku. Aku melirik ke arah koridor sekolah dan melihat bayangan Naruto mendekat kemari. Ia tersenyum seraya memanggil namaku.
"Sakura, apa kau baik-baik saja? Aku dengar kau sempat pingsan tadi ketika pelajaran olahraga." Ujarnya dengan nada ramah seperti biasanya.
"Ada apa, Uzumaki?" Tanyaku cepat tak ingin berbasa-basi dengannya.
"Mengenai kejadian waktu itu...emm...aku benar-benar minta maaf. Tak seharusnya aku melakukan tindakan bodoh seperti itu." Ia menggaruk leher belakangnya. Sembari sesekali melirik ke arah lain karena tak berani ditatap olehku. "Aku rasa aku sudah mendapatkan hukuman yang pantas atas kelakuanku waktu itu. Pokoknya aku benar-benar minta maaf, Sakura."
"Aku sudah memafaakanmu. Berhenti bicara seolah-olah kau sudah melakukan tindakan yang sangat jahat," ujarku cepat.
"Kalau begitu, kita berteman lagi?" Wajahnya terlihat cerah kembali.
Aku hanya menganggukan kepalaku.
"Karena sekarang kita berteman kembali... aku pikir, apa kau mau pergi ke prom dengan temanmu ini?" Tanyanya.
Aku berusaha mengontrol emosiku. Baru beberapa detik yang lalu ia meminta maaf, dan sekarang ia mengajakku pergi ke prom dengannya? Mungkin yang dikatakan pepatah mengenai orang tidak mudah berubah ada benarnya juga.
"Jangan salah paham. Aku hanya mengajakmu sebagai... emm...teman." Ujarnya meyakinkanku.
"Tidak bisa," jawabku cepat. Aku berusaha memikirkan alasan lainnya sampai aku melihat ke arah Sasuke dan terpikirlah sebuah ide. "Aku akan pergi ke prom dengan Sasuke. Kami sudah memutuskan untuk pergi bersama sebagai teman sekelas. Aku benar-benar minta maaf, Naruto."
"Aaa, begitu rupanya. Baiklah." Jawabnya. Aku bisa melihat raut kekecewaan di wajahnya walaupun ia tersenyum. "Ini pakailah. Aku lihat kau tak punya payung."
Naruto menyerahkan payung padaku dan berlari menerobos hujan setelah pamit. Ia meninggalkan teman-temannya di belakangnya dan langsung lari begitu saja.
"Ada apa dengannya? Bukannya tadi ia yang bilang sendiri kalau dia tidak akan pulang sebelum hujannya reda?" Ujar seseorang dari belakang sana sementara aku hanya menatap punggungnya sampai ia menghilang dari pandanganku.
Ku pikir hari-hari menjelang keberangkatanku akan tenang, tapi aku salah. Semuanya jadi kacau karena aku menolak ajakan Naruto pergi ke prom. Aku sedang duduk diam mendengar keluhan dari pantat ayam yang kesal karena harus pergi ke prom denganku. Aku beberapa kali meminta maaf tapi nihil. Aku tetap kena omelan darinya. Kupingku terasa panas tapi aku merasa beruntung. Beruntung karena ini hanya omelan melalui telepon dan bukannya ketika kami langsung bertemu.
"Aku kan sudah bilang maaf. Lagipula, kau tak akan pergi dengan gadis... ah tidak... temanmu satu pun juga, kan? Jadi, kenapa sih kau harus sangat kesal?"
"Apa yang kau bilang?! Siapa bilang aku akan pergi ke prom sendirian?!" Elaknya dari sebrang sana.
"Aku sangat tahu dirimu orang seperti apa. Kau pasti lebih memilih pergi sendirian daripada pergi dengan orang lain yang merepotkan, kan?" Aku sedikit tertawa ketika mengucapkannya. Sasuke bukan orang yang senang berpergian dengan orang asing.
"Tch."
"Yang perlu kau lakukan hanya menjemputku, lalu mengantarkanku pulang."
"Hanya itu?" Tanyanya.
"Iya, hanya itu. Saat sampai nanti, kita tak perlu bersama-sama terus."
"Kau menyuruhku memperlakukanmu seperti sampah? Begitu maksudmu?"
"Kenapa kau mengata-ngatai diriku sampah?!" Aku kini mulai kesal lagi. "Aku hanya mengatakan kalau kita tak perlu bersama terus menerus hanya karena kita pergi ke prom bersama."
"Tidak mau!" Tolaknya. "Aku yang akan terlihat seperti orang yang tidak bertanggunjawab."
"Woah, aku tidak menyangka ternyata kau cukup peduli omongan orang lain mengenai dirimu."
"Sebaiknya nanti kau tidak melamun seperti orang bodoh atau kau akan terkena bola basket lagi sampai hidungmu mimisan seperti itu lagi!" Ucapnya berusaha mengalihkan pembicaraan.
Aku hanya diam karena kesal dan langsung mematikan teleponnya. Bodoh. Harusnya aku tidak perlu memikirkan ucapan Ino beberapa waktu yang lalu. Tidak mungkin Sasuke punya perasaan lebih dari teman denganku. Melihat ia tetap kasar dan kami tidak pernah melewatkan kesempatan untuk saling mengejek setiap waktunya.
.
.
GETTING BY
.
.
Aku terbangun dari tidurku. Ini masih jam dua pagi. Aku bangkit dari tempat tidurku karena merasa haus. Berjalan perlahan ke arah pintu karena kamarku yang gelap. Mataku semakin menyipit ketika keluar dari kamarku karena silau. Aku berjalan ke arah tangga dan turun pelan-pelan. Berjalan ke arah dapur dan mengambil salah satu gelas yang ada di sana.
Aku menuangkan air ke dalam gelas dan meminumnya dengan mata masih setengah terpejam. Aku meletakan gelas minumku di meja dan hendak berjalan kembali ke kamarku. Aku hampir memekik ketika kakiku merasakan sesuatu. Aku mundur beberapa langkah karena kaget tak percaya dengan apa yang ku lihat. Aku mengucek mataku beberapa kali sampai benar-benar yakin.
Ibuku tergeletak di bawah sana, tepat di atas lantai. Rambutnya terurai bebas dan helaiannya sempat mengenai kakiku. Aku mendekatkan diriku padanya dan memastikan keadaannya baik-baik saja. Aku bisa mendengar bunyi nafas yang teratur. Ya, ibu tertidur. Aku berusaha membangunkannya sehalus mungkin tapi yang terjadi ibuku hanya melantur tak jelas. Aku melirik sekitar dan menemukan sebotol besar wine.
Aku berjalan melewati ibuku dan naik kembali ke kamarku. Masuk ke dalam kamarku dan menarik selimutku sampai ke dagu. Aku berusaha memejamkan mataku selama hampir satu jam. Sia-sia saja. Aku tak bisa tidur. Aku menendang-nendang kakiku dan bangkit dari kasur. Menggaruk kepalaku frustasi. Aku menyeret kakiku untuk keluar dari kamar.
Aku kembali turun ke dapur. Posisi ibu masih sama seperti saat ku tinggalkan tadi. Aku berjongkok dan menaruh salah satu lengannya di pundakku dan berusaha sekuat tenaga untuk membawanya masuk ke dalam kamarnya. Aku membaringkan tubuh ibuku di kasur terdekat. Aku memandang kamar orang tuaku. Aku tak pernah masuk ke dalamnya semenjak aku SMP. Dan sekarang ini untuk pertama kalinya aku masuk lagi ke kamar ini. Aku tak tahu kapan dan bagaimana bisa ada dua kasur berukuran besar ada di ruang ini. Beberapa skenario berputar-putar di kepalaku. Aku hendak berbalik untuk keluar dari kamar orang tuaku tapi ibuku menahanku pergi.
"Aku sudah lelah. Aku ingin berhenti." Racau ibuku tak jelas apa arti dan maksudnya.
.
Aku duduk di meja makan seperti biasanya. Ibuku sedang menyiapkan sarapan. Wajahnya terlihat seperti kelelahan. Matanya sedikit merah. Aku rasa ibu masih sedikit mabuk tapi aku diam saja tak ingin mengucapkan apapun padanya walaupun ucapannya semalam membuatku punya banyak pertanyaan yang ingin ku ajaukan padanya. Ayahku kini bergabung denganku duduk di meja makan dan membaca koran paginya. Aku masih ingat saat aku membaringkan ibuku pagi buta tadi, ayahku tidak ada di kamar.
"Bukankah hari ini harusnya kau tidak perlu pergi ke sekolah?" Tanya ayahku dari balik korannya.
"Aku hanya pergi untuk mengambil barang-barangku yang ku simpan di locker," jawabku.
"Kau harus cepat pulang. Bukankah prom malam ini?" Tanya ibuku sembari menaruh sarapan di hadapanku dan ayahku.
"Ya, aku hanya akan mengambil barang-barangku lalu pulang." Ucapku sekali lagi.
.
.
.
Aku berjalan menyelusuri lorong sekolah. Tak terlihat ada satu orang pun di sini. Aku berjalan ke arah kelasku sendirian. Seperti biasanya aku mengenakan earphone-ku. Kali ini aku tidak berpura-pura sedang mendengarkan lagu, tapi aku sedang mendengar ocehan sahabatku ini. Dia terus menasehatiku tentang persiapan sebelum prom.
"Ino, sudah ku bilang. Aku akan segera berangkat setelah upacara kelulusan." Ujarku memotong ucapannya.
"Apa kau tahu kalau kau itu sangat kejam?"
"Hmm, belum beberapa lama ini aku mengetahui kalau aku memang sangat kejam." Candaku. Aku membuka lockerku. Beberapa barang terjatuh dari dalamnya. Aku pun berjongkok untuk mengambilnya. Terlihat beberapa amplop berwarna-warni. Aku hanya melihat-lihatnya sekilas. Tidak tertarik untuk membukanya saat itu juga.
"Kau sudah di kelas?"
"He'eh," jawabku asal. "Hei, Ino. Apa junior kita sedang mengerjakan project atau apapun itu yang berkaitan dengan senior?"
"Hmm, aku tidak yakin. Ada apa memangnya?"
"Baru saja aku melihat beberapa amplop di lockerku."
"Astaga! Astaga! Astaga!"
"Ino berhenti berteriak!" Ujarku kesal karena teriakannya di sebrang telepon sana.
"Kau harus membacanya di rumah! Hubungi aku kalau kau sudah membacanya, oke?"
"Baiklah," ujarku lalu mengakhiri teleponku dengan Ino. Aku segera membereskan sisa barang-barang milikku yang berada di locker. Aku memasukan semua barangku ke dalam tas ranselku. Tak membiarkan satupun tertinggal. Aku menutup tasku dan hendak berjalan keluar kelas ketika seseorang tiba-tiba muncul di pintu kelasku. Ia berdiri diam di sana.
"Astaga ku kira kau hantu!" Ucapku karena kaget ketika melihat sosoknya yang tiba-tiba muncul. "Kau mencari seseorang?"
Ia hanya menggeleng.
"Lalu?" Tanyaku kembali.
"Aku ingin memberikan ini pada kakak," ia menyerahkan sebuah amplop berwarna merah padaku. "Aku juga ingin mengatakan permintaan maaf karena aku tidak punya keberanian selama ini untuk menyapa kakak."
Aku diam beberapa detik sebelum akhirnya sadar ke arah mana ucapannya tersebut. Aku meremas tali ransel yang ada di punggung kiriku. Teringat beberapa amplop yang sebelumnya ku temukan di lockerku. Aku menyesali betapa lambatnya diriku untuk memahami situasi yang terjadi saat ini. Aku berjalan pelan menjauh darinya sambil berpikir untuk segera kabur dari sini sebelum percakapan ini menjadi lebih canggung lagi.
"Begini..." aku berusaha menebak-nebak namanya.
"Lee, namaku Rock Lee." Jawabnya.
"Begini, Lee. Sebenarnya aku sedang terburu-buru saat ini. Jadi terimakasih." Ujarku lalu segera membalikan badanku dan berjalan menjauh darinya.
Aku berhenti setelah berjalan beberapa langkah. Sial, aku rasa aku terlalu kasar padanya. Aku pun berbalik. "Kau harus segera kembali ke kelasmu kalau tak mau mendapat hukuman dari sensei, Lee."
.
.
GETTING BY
.
.
Aku sedang duduk di depan meja riasku ketika seseorang mengetuk pintu kamarku. Aku hanya diam duduk dan mempersilahkannya masuk. Ia berjalan masuk ke dalam kamarku dan duduk di sofa dekat dengan jendela kamarku. Sementara aku masih sibuk menata rambut baruku. Sesekali aku meliriknya lewat bayangan yang ada di cermin. Ia hanya duduk di sana memejamkan matanya sembari menyilangkan kedua tangannya.
"Jangan salahkan aku jika kau bosan. Seharusnya kau datang setengah jam lagi." Ujarku padanya.
"Aku bosan menunggu di rumah." Jawabnya singkat, masih dalam posisi yang sama.
"Bukankah sekarang sama saja bosannya," gumamku pelan.
"Setidaknya di sini tidak ada kakakku yang mengolok-olok penampilanku."
Aku berbalik ke arahnya. Aku memandang Sasuke dari atas sampai bawah. "Penampilanmu..." potongku. Ia membuka matanya dan memandangku balik.
"Penampilanmu baik-baik saja. Tidak ada yang aneh." Aku pun berbalik dan kembali menatap cermin di hadapanku. Tidak mungkin kalau aku mengatakan dia terlihat tampan. Tidak, aku tidak ingin dia besar kepala karena ucapanku.
Sasuke bangkit dari duduknya dan berjalan-jalan di kamarku. Ia berhenti tepat di meja belajarku dan mengambil sesuatu dari sana.
"Apalagi yang kau lakukan sekarang?" Tanyaku tak nyaman.
"Jangan hiraukan aku, tata saja rambutmu dengan benar. Aku tidak ingin pergi dengan orang-orangan sawah ke prom." Jawabnya.
Aku hanya diam dan meremas alat penata rambutku. Menahan sekuat mungkin amarahku supaya tidak keluar. Mulutnya terkadang memang tidak tahu diri. Aku sudah hampir menyelesaikan pekerjaanku. Aku melirik ke arah Sasuke untuk memastikan apa yang sedang ia lakukan sekarang. Ia kembali duduk di sofa sambil memegang sesuatu. Aku kembali menatap cermin di hadapanku. Berpikir apa yang sedang ia baca. Kemudian aku melirik ke arah meja belajarku dan tak melihat tumpukan surat cinta yang ku dapat dari lockerku. Aku langsung bangkit dan merebut surat itu darinya.
"Kau membacanya?" Tanyaku gugup.
"Semuanya." Jawabnya dengan muka datarnya.
Aku pun langsung meletakan surat-surat tersebut kembali ke tempat asalnya dan menutupnya dengan sebuah novel. Aku kembali ke meja riasku berusaha setenang mungkin seolah-olah tak terjadi apa-apa.
"Musim semi akan segera pergi, begitu juga dengan diri ini. Walaupun ini sangat terlambat, tapi aku ingin mengatakannya sebelum aku berpisah dengan musim semiku..."
"Diam," ujarku dingin.
"Ku lihat kau jarang sekali tersenyum hari ini tapi jika di lain hari kau tersenyum, ku harap akulah alasan dibalik senyummu itu." Ledeknya lagi. "Wah aku benar-benar merinding sampai ke tulang-tulangku ketika membacanya."
"Kalau begitu, kenapa kau harus menghapal isi surat mereka?" Tanyaku sebal.
"Aku tidak menghapalnya dengan sengaja, hanya saja isinya terbayang-bayang," jawabnya.
"Kau tidak seharusnya mengolok-olok pengakuan tulus seseorang." Ucapku tegas.
"Yang seperti itu yang kau sebut sebagai pengakuan yang tulus?" Tanyanya. Ia bangkit menghampiriku. "Aku hanya melihatnya seperti omong kosong yang dituliskan di atas kertas oleh seorang pecundang yang hanya berani diam-diam mengawasi dari jauh."
"Kau tidak perlu berkata kasar seperti itu. Tidak semua orang punya keberanian untuk mengungkapkan perasaannya jadi mereka lebih memilih untuk menunggu..."
"Menunggu sampai waktunya tepat? Benar-benar klise. Sepertinya kau terlalu banyak membaca romance, Sakura."
Aku hanya diam tak tahu ingin berkata apa untuk menyanggahnya. Aku kalah.
"Aku akan menunggumu di mobil. Take your time." Ujarnya. Ia berlalu dari hadapanku dan keluar dari kamarku.
.
.
to be continued
