Chapter 7
Annie melepaskan kunciannya, Eren yang merasa mendapat kesempatan emas pun segera menegakkan kakinya dan berusaha untuk mencoba menjelaskan maksud perkataannya. Bak kuda perang berlari kencang, disisi barat tempatnya berdiri, Mikasa berlari dengan mengebu-ngebu dan wajahnya tampak suram dan kosong, terlebih setelah melihat adegan nista Eren dan Annie. Ia mengepal tangan kanannya bersiap menonjok, Eren gemetaran hebat saat Mikasa mendekat dan mulai melayangkan tinjunya.
"Kamvrueto no jutsu!"
Eren mendapat tinjuan di wajahnya dan jatuh mencipok lantai, Mikasa menghentikan langkahnya kaget. Annie yang masih tembok mode ikut terkaget, pria berbadan kekar yang memiliki ikat kepala ala fandom sebelah telah menonjok Eren dihadapan mereka.
"Apa yang kau lakukan?! Rainer!" bentak Eren dengan wajah bonyok, Mikasa dan Annie hanya bengong.
"Hmpf! Apa yang aku lakukan?! Ya menonjok lu lah! Emang tadi gue mencium lu atau apa sampai elu bertanya begitu?!" jelas Rainer tanpa menjelaskan apapun. Eren marah tak terima ditonjok tanpa alasan, padahal dia sudah tegang karena Mikasa akan menonjoknya tadi, tapi malah ditonjok duluan dengan Rainer.
"Kenapa kau melakukannya?!" ujar Eren dan berusaha berdiri, Rainer yang memakai ikat kepala yang memiliki nama 'Annie' ditengahnya pun ikut emosi.
"Tentu saja! Karena kau telah menodai SINGA SALJU'KU'!" ujarnya setengah teriak dengan kobaran api fanboy yang membara. Eren ikutan cengo. Mikasa menatapnya sinis, jika ia menonjok 'Baby sweet'nya lagi, akan dipastikan kalau Rainer tidak akan bisa melihat Annie sang idola lagi.
Annie dengan kesal melumpuhkan Rainer dengan sekali pukul layaknya super hero botak dari fandom lainnya. Berthold, teman humu-humuannya datang dan menyeretnya yang sudah bersimbah darah. Annie dapat menghela nafas lega dan melenggang pergi.
"Eren, permintaan putusmu kuterima, semoga kedepannya kau tidak mendapatkan pacar yang membosankan sepertiku.." ujarnya cuek bebek belibus, Eren memancarkan senyum kemenangan diwajahnya. Mikasa yang mendengarnyapun terkaget salah paham, dikiranya tadi Eren sedang 'ahuk-ahuk'an dengan Annie.
~~o0o~~
Mikasa membawa Eren yang juga bersimbah darah ke UKS. Saat membuka pintu, mereka dapat melihat adegan humu nista antara Erwin dan Levi yang sedang bermesraan. Mereka kaget akan kedatangan Mikasa dan Eren pun segera berakting layaknya artis dadakan.
"Hei Erwin! Sekarang hari pahlawan ya?! Ayo kita nonton filem 'One pansu man' dibioskop, Hahaha.." ujar Levi Ooc dengan mata ikan, Erwin menganguk setuju juga dengan mata ikan.
"Ya, aku sudah punya tiketnya, ayo kita membeli harum manis ke diskotik land, Hahaha" Mikasa dan Eren pun hanya tertegun didepan pintu melihat akting duo humu itu.
kembali ke topik.
~~o0o~~
Erwin memberikan kotak P3K kepada Mikasa yang sedang mengompres memar pada wajah Eren, Mikasa dengan hati-hati memasangkan perban dan lakban, untungnya bukan ban mobil.
"Cih! Dasar! Kenapa mereka datang disaat begini.. Merepotkan" gumam Levi pada dirinya sendiri. Erwin pun mengeluarkan 2 lembar tiket dari saku jas putih yang biasa dikenakannya, ia menyodorkan tiket tersebut kepada Mikasa.
"Pergilah ke bioskop bareng, kalian berdua.. Kudengar film ini bagus, ditambah lagi nanti malam minggu.. Ayo terima tiketnya.." tawar Erwin ramah. Eren dan Mikasa seketika merona, tiket? bioskop? malming? Jangan-jangan inikah yang namanya 'Kencan bioskop malam minggu!'. Tanpa basa-basi, Mikasa menerima tiket tersebut dan menyerahkan salah satunya kepada Eren, Eren menerima tiket tersebut dengan tenang walau hati sudah kayak gunung merapi.
Eren menatap tiket tersebut lekat. Ia menampakkan wajah horor saat membaca judul filem yang tertera disana. Filem horor yang bejudul "Pocong kantoran" itu terdengar seperti mendapat durian jatuh yang jatuhnya tepat diatas kepala. Eren lansung menyanyikan lagu "sakitnya tuh disini".
Mikasa tepuk jidad, ia lupa kalau Eren itu sangat takut dengan yang namanya hantu. Masih terekam jelas di kepalanya ekspresi Eren saat menonton filem boneka chaki yang awalnya dikira filem barbie. Mengingatnya saja seperti tersandung durian jatuh. Mikasa lansung menyanyi "sakitnya tuh disini".
"Maaf calon kakak ipar Erwin, aku tidak bisa menerimanya.." ujar Mikasa dengan berat hati ditambah dengan sebutanya untuk Erwin, Levi malu sendiri. Mikasa pun terpaksa mengembalikan tiket tersebut keempunya tiket.
"Eh?! Kenapa!? Calon adik iparku sayang?!" tanya Erwin yang juga meniru sebutan Mikasa padanya, Levi merah padam.
Mikasa terdiam, mana mungkin selimut tetangga eh maksudnya mana mungkin ia mengatakan kalau Eren itu penakut, ia akan menjaga kehormatan Eren sebagai pria sejati!.
Mikasa merapatkan lengannya kedada, ia merubah matanya yang sayu menjadi lebih besar, lalu sedikit menebar pesona.
"W-watashi wa... Kuwaii.. (Aku.. Takut)" ucapnya lirih dengan logat moe lolipret. Eren yang melihat wajah Mikasa yang pertama kalinya ada sisi cewek moe-moe itu pun lansung merebut kembali tiket tersebut, ia tahu pasti kalau Mikasa sedang ngeles untuk menyembunyikan fakta dirinya.
"Aku!.. Tidak jadi pergi!" ucap Eren lalu merobek tiket tersebut. Erwin, Levi dan Mikasa ber'eh' ria, kok bisa?!
"Anjir lu! Gue kira lu bakal jadi nontonya!" tiba-tiba Author nyorong ke fanfic, Eren mengendus kecil.
"Filem tak berbobot itu, pasti kebanyakan adegan anu-anunya, hantunya juga tidak seram.. mending kita pergi kepasar malam saja?!" ujar Eren dengan gagah berani dan juga nyindir, Author pun bertepuk tangan lalu menghilang entah kemana. Mikasa merona takjub, Erwin menganguk dengan senyum penuh kepahaman, Levi hanya mengendus kecil, padahal Eren sendiri cuma ngeles.
"Ya sudah, pergi sana! Mengganggu saja!" ujar Levi lalu menendang kedua insan itu dari 'markas cinta'nya.
"Eh?! Eren belum selesai diobati tahu! Kuntet bodoh!" bentak Mikasa jengkel.
~~o0o~~
Ternyata, Eren menepati janjinya dan mengajak Mikasa ke pasar malam, Tentu saja Mikasa senang akan ajakan tersebut. Tapi, masalah Mikasa saat ini adalah... Pakaian.
"Sial! Kok gue ngak punya pakaian yang bagus seh! Rok mini aja ngak punya! Oh God! Why!" rutuk Mikasa dengan nangis darah dalam hati, ia pun mengambil buku tabungan dan melihat saldo pada tabungannya. Dan ternyata, sisa tabungannya adalah..
"0!" teriaknya histeris dan terkapar di lantai, Levi yang sedang mandi jadi terkaget akan jeritan penuh penderitaan itu dan lansung menuju tkp dalam keadaan sensor sinar dewa.
"Hoi! Kalau kau mau teriak-teriak, ke hutan saja sana! Mengganggu saja!" ujarnya sambil menggali emas ditelinganya, Mikasa tidak peduli dengan kakaknya yang telanjang dan hanya sinar dewa yang menghalagi bagian R18+ itu, ia ngesot menghampiri Levi dan berlutut setengah memohon padanya.
"Kak.. Belikan aku rok baru.." tuturnya lirih, Levi menghela nafas berat, lalu menyeret Mikasa masuk kedalam kamar pribadinya.
"Tidak usah beli, kau boleh ambil dilemariku.." ujarnya lalu membuka lemari pakaian miliknya. Nauzubillah, kok bisa si kuntet maho punya baju cewek sebanyak itu?! Apakah kemahoannya dalam level akut hingga memiliki hobi crosdressing?!
"Jangan salah paham dulu! Aku membelikannya untukmu tahu! Cuma belum dikasih pada kau!" sanggahnya ngeles, Mikasa setengah tak percaya.
"Ah bohong! Masa' kakak membelikanku baju?! Terlebih sebanyak ini, jangan bohong deh.." ujarnya. Levi mendecih kesal, ia pun mengambil rok mini bewarna hitam dan kemeja putih polos.
"Banyak cincong lu coeg! Nanti dijelaskan, sekarang pakai ini.." Levi menyerahkan pakaian itu kepada Mikasa. Seperti anak bayi yang mendapat kembali dotnya, Mikasa terdiam dan segera menuju kamarnya untuk ganti baju.
"Kakak jangan lupa pakai baju!.."
Levi lupa memakai baju sebelum menemui adiknya.
~~o0o~~
Eren merapikan rambut dan pakaiannya, lalu sedikit narsis didepan kaca jendela rumah keluarga Ackerman.
"Mikasa! Kau sudah siapkan?!" ujarnya memanggil siempunya rumah. Derapan kaki menggema keluar, Eren sedikit berdebar saat pintu akan dibuka.
"Maaf lama menunggu.." ujar Mikasa lalu membuka pintu. Kini, debaran jantungnya makin cepat, rona merah menjalar di kulit wajah sao matangnya semerah bibir gadis itu, Mikasa juga mengikat rambutnya dengan gaya pony tail. Pemandangan yang tak biasa ini, harus diabadikan.
"Mikasa! Selfie doeloe.." ujarnya dan mengeluarkan hp cinanya, ia bahkan lupa kalau hp itu ngak ada kameranya.
Jankrik berbunyi nyaring.
Kembali ketopik!
~~o0o~~
Mikasa dan Eren berjalan-jalan mengelilingi pasar malam yang cukup ramai pengunjung, mereka tampak menikmati permainan odong-odong yang membuat anak-anak menangis karena ngak kebagian jatah main. Belum lagi kuliner yang mereka cicipi seperti gulali cumi-cumi, harumanis laba-laba dan tidak lupa batu serut. Baik Mikasa maupun Eren, mereka tampak bahagia dengan pasar malam aneh itu.
"Baru kali ini aku ketempat seperti ini bersamamu Mikasa.." ujar Eren lalu meregangkan otot lengannya, Mikasa hanya terdiam. Walau senang, tapi sepertinya ia tampak gelisah, tak tenang akan perasaannya. Ia mencoba menggali petunjuk yang membuatnya tak tenang disaat seperti ini, turus mencari dengan terus terdiam walau Eren sudah melambaikan tangannya kearah pandangan Mikasa yang kosong. Sampai terlintas olehnya ucapan Annie tadi siang, ada kata 'putus' yang terselip di antara kalimat-kalimatnya.
"Oi, Mikasa?! Dengar ngak sih!?" akhirnya Mikasa tersentak dari lamunannya, Eren pun dapat bernafas lega.
"Ada apa? Kok melamun sih? Kau kenapa?! Lagi M?! Makanya minum N capsul iyaiiyai.." ucapnya bergurau garing. Mikasa meneguk liurnya, ia pun berbalik menatap Eren dengan wajah yang cukup serius.
"Hei.. Kenapa kau putus dengan Annie?!" Eren tercekat dengan pertanyaan itu, sungguh memaksakan jiwa raga.
"Terlalu cepat kau menanyakannya, Mikasa.. Padahal aku ingin lebih lama bersamamu.." Eren membatin.
TBC
A/N: pyuh~ lega.. ternyata saya telat mengapdet chapter ini, dan juga cukup banyak :D.. Maaf buat para reader yang telah lama menunggu.. See you in the next chapter~.. (/~-..-)/~
