Boku wa Exorcist
Disclaimer : Vocaloid milik Crypton Future Media yang punya
Warning : Typo, Normal Pov
.
.
.
Chapter 7
Misi pertama
Pagi itu, gadis berambut tosca itu terbangun karena ponselnya yang sedari tadi berbunyi.
"Hai, Moshi-Moshi?" Jawab Miku setengah sadar.
"Kalian ini niat tidak sih di misi pertama kalian! Yang lain sudah mengambil misinya, hanya kelompokmu saja yang belum mengambilnya!" Marah orang yang menelpon Miku.
"EEEEhhh! Meiko-san!" Kata Miku langsung bangkit duduk.
"Jangan hanya Eh saja! Cepat ke bagian pengambilan misi atau kalian tidak akan pernah melaksanakan misi pertama kalian!" Kata Meiko sambil menutup ponselnya, Miku segera bergegas menuju gedung utama. Bahkan dalam perjalanan dia terus berlari. Dia meruntuki kelompoknya yang malah molor pagi itu.
"Ini dokumen misinya, tempat dan jenis yokai ada di dalamnya, pelajari dan kalahkan!" Kata Meiko.
"Ha-Hai!" Kata Miku langsung menuju kompleks rumah mereka lagi. Sesampainya di lorong gedung dia bertabrakan dengan seseorang. "A-ah, maaf!" Kata Miku sambil berusaha bangkit.
"Sialan! Ternyata si miskin yang hendak meraih kemuliaan rupanya!" Hina seseorang, Miku pun mengenali rambut Galactic itu.
"Ritsu Namine-san! Maafkan aku!" Kata Miku sambil membungkuk.
"Lebih baik kita apakan dia ini Ritsu-chan?" Tanya seseorang dengan rambut putih yang sangat di kenali Miku. Zhanyin Lorra.
"Menurutmu apa Zhanyin-chan? Bukankah dia juga sudah merebut Kaito-kun dariku?" Tanya Ritsu.
"Kalau menurut Kiku-chan? Hanya kau yang belum memberi hukuman anak ini." Kata Zhanyin kepada gadis berambut merah itu. Sementara itu Zhanyin terus menarik rambut panjang Miku hingga tidak bisa kabur.
"Hhhmm.. bagaimana kalau kita buat saja jadi adonan?" Tanya Kiku sambil mengeluarkan sekarton penuh telur.
"I-iie! Gomenasai! Tolong lepaskan aku!" Pinta Miku, tetapi kelompok dari bangsawan itu tidak menghiraukan Miku.
"Baiklah, pertama-tama, ikat dia di tiang!" perintah Ritsu selaku ketua kelompok itu. Mereka kemudian mengikat Miku di tiang bangunan disana.
"Tidak! Kumohon lepaskan aku!" Kata Miku meronta.
"Kemudian lempari dengan Tamago." Kata Ritsu lagi sambil mengambil telur dari karton itu dan telur itu pecah ketika sudah sampai di badan Miku. "Jangan lupa, tuang adonannya." Kata Ritsu lagi sambil mengambil tepung dan menuangkan semua isi dari karton tepung itu ke kepala gadis yang telah terlumuri telur itu.
"Hora! Apa yang kalian lakukan!" Teriak seseorang langsung datang.
"Cih, pengganggu, ayo kita pergi kawan-kawan." Kata Ritsu.
"Kau tidak apa-apa Miku-chan?" Tanya orang itu yang ternyata Yuuma.
"Hiks, hiks Yuuma-senpai.." Miku sekarang merasa sangat kotor, Yuuma kemudian membantu Miku melepaskan ikatan di tubuhnya.
"Ayo, kita ke tempat Merli dan Luka, mereka akan membantumu membersihkan semua ini." Kata Yuuma sambil mengambil map yang tergeletak di lantai itu.
Di tempat lain.
"Bagaimana Uni-chan? Kau sudah menukarnya?" Tanya Ritsu.
"Tentunya sudah Kaichou, seperti perintahmu!" Kata gadis berambut pink itu dengan senang.
"Haha.." Ritsu mulai tertawa.
"Kali ini si anak yang telah merebut Kaito darimu itu akan mati Ritsu-chan!" Kata Kiku kemudian ikut tertawa.
"Dengan ini kau tidak perlu khawatir dia akan mengganggu kedekatanmu dengan Kaito-kun lagi, Ritsu." Kata Zhanyin kemudian juga ikut tertawa.
-skip time-
Seseorang mengetuk pintu rumah Miku.
"Miku, kau di dalam?" Tanya gadis bersurai madu itu.
"Ah, maaf, sudah saatnya berangkat ya?" Kata Miku, dia telah selesai membersihkan badannya yang terlumuri telur dan terigu.
"Kau tidak apa-apa Miku?" Tanya laki-laki bersurai madu dengan sedikit rambut yang diikatnya kebelakang.
"Ah, tidak apa-apa kok, Len-kun, Rin-chan, dan Kaito-kun! Sudah aku bilang, semakin kau melabrak mereka, aku akan semakin disiksa mereka tahu!" Kata Miku kepada ketuanya itu.
"Ha-habis mereka sungguh keterlaluan kali ini. Lagipula yang bersenang-senang di sini malah si maniak jeruk dan maniak pisang tuh!" Kata Kaito-kun sambil menunjuk Len dan Rin.
"Heeehh! Bukannya kau juga menikmatinya hah!" Kata Len tidak terima.
"Sudahlah kalian semua, segera berangkat, nanti terlambat loh." Kata Luka dari belakang mereka. Mereka pun langsung berangkat, setelah kejadian tadi Luka dan Merli sungguh kaget dengan kondisi Miku saat diantar Yuuma ke tempat mereka berkumpul, Gakupo segera mengabari hal ini kepada anggota kelompok Miku yang lainnya dan melaporkannya kepada Meiko, sang kepala sekolah. Sedangkan Luka dan Merli kelabakan mencari shampo dan sabun, di bantu Yuuma untuk berlari ke rumah Miku dan di bantu Rin yang mengambilkan baju-nya Miku akhirnya kembali bersih. Kelompok itu pun di panggil kepala sekolah.
"Huh, pem-Bully-an masih ada rupanya, kukira hanya ada di jaman kuno saja." Gerutu Gakupo.
"Aku kasihan dengan Miku, padahal dia adalah orang penting di negeri ini." Kata Luka.
"Orang penting?" Tanya Gakupo, Luka langsung membekap mulutnya, dia masih belum memberitahu siapa-siapa tentang siapa jati diri Miku Zatsune.
"Ti-tidak ada apa-apa kok!" Kata Luka.
"Kau pembohong yang payah Luka." Kata Gakupo.
"Baiklah, akan aku jelaskan, ke rumahku saja yuk, tidak enak mengobrol di rumah orang." Kata Luka mengingat mereka masih di rumah Miku.
-di tempat lain-
"Kelompok kita kebagian di daerah gorong-gorong, Yokai yang akan kita basmi berjenis air." Kata Kaito membuka map-nya. "Dan dia di percaya, darahnya merupakan air kejujuran, dimana akan mengungkapkan semua yang berusaha di tutup-tutupi oleh seseorang. Dan Yokai jenis air, akan susah mengalahkannya karena dia akan menyatu dengan air, apa lagi ini adalah gorong-gorong." Kata Kaito lagi.
"Jadi tempatnya tepat di bawah kita ini?" Tanya Len sambil menunjuk penutup gorong-gorong itu. Kini mereka memakai pakaian yang lebih nyaman untuk bergerak leluasa dan mereka membawa tas kecil berisi peralatan mereka. Sedangkan Kaito memakai sebuah perisai kecil di tangan kirinya, perisai itu bisa menyimpan banyak sekali senjata yang di gunakan Exorcist tipe 1, dan perisai itu bisa melebar.
"Gorong-gorong di tempat ini luas loh, memang kita akan mencarinya dimana? Di sini hanya tertulis gorong-gorong, tidak menentukan koordinat tepatnya." Kata Rin sedikit frustasi.
"Lebih baik segera mencari, hari sudah semakin siang, atau kita akan ketinggalan dengan kelompok lain." Kata Miku sambil membuka pintu gorong-gorong di jalan itu dan mulai meloncat masuk ke dalam saluran itu.
"Baiklah, mari kita cari bersama-sama, jangan sampai ada yang berpencar, ayo kita telusuri saja." Kata Kaito menyemangati kelompoknya, mereka kemudian menyalakan senter mereka dan melihat berbagai penjuru. Akhirnya mereka sampai di sebuah jurang tak berdasar. Air yang mengalir di sekitar mereka terjun bebas kearah lubang besar itu, juga di temukan beberapa saluran yang langsung membuat airnya jatuh ke jurang yang tidak terlihat dasarnya itu.
"Ini aneh." Kata Miku sambil memutar-mutar kertas di hadapannya. "Di peta tidak ada tempat ini." Kata Miku lagi. Kaito mengambil kertas darisana dan melihatnya. "Nih, kita sekarang ada di sini di saluran 401, seharusnya di sini hanyalah lorong, tetapi kenapa menjadi tempat seperti ini?" Kata Miku sambil menunjukkan gambar berupa gambar lurus tidak ada keterangan lubang penampungan banjir atau apapun.
"Yah ini cukup aneh, mau melihat ke tengahnya?" Tanya Len.
"Memangnya bagaimana kita kesana. Kalau kita berjalan, kita bisa mati di jurang tidak berdasar ini." Kata Kaito.
"A-aku bisa menggerakkan tumbuhan rambatku kearah sana, kebetulan aku membawa biji tumbuhan rambat sangat banyak, dengan sebanyak ini dia bisa menopang tubuh kita semua dari sebrang sini hingga sebrang sana." Kata Rin sambil mengeluarkan setangkup biji, dia kemudian menanam dengan tanah yang ada di sana kemudian Rin melakukan sihirnya, dia menangkupkan kedua tangannya di atas gundukan tanah itu. "Lebih baik kalian menepi." Kata Rin. Miku, Len, dan Kaito kemudian minggir, sinar hijau keluar dari tangkupan tangan Rin. "Ayo.. Ayo.." Kata Rin, kemudian tanaman rambatnya mulai keluar dari tanah dan Rin mengarahkan tangannya kearah sebrang dari lingkaran luas itu. Jadilah sebuah jembatan menuju gorong-gorong di seberang lubang itu.
"Ayo kita cek ke tengah, hati-hati." Kata Kaito, semua hanya mengangguk dan mulai berjalan melewati jembatan tanaman rambat itu. Kemudian terdengar geraman di bawah mereka.
"Kalian dengar itu?" Tanya Len, semuanya mengangguk.
"Sebaiknya aku mengecek ke bawah." Kata Kaito.
"Aku ikut, Rin, buat beberapa tali dari tanamanmu untuk kami berdua. Kalian tunggulah disini." Kata Len. Rin hanya mengangguk dan mulai menangkupkan tangannya di dahan kecil disana dan kemudian ujungnya menjadi simpul untuk kaki mereka. "Kalian peganglah ini, kita akan terus berkomunikasi." Kata Len sambil menyerahkan walkie talkie kearah Rin dan Miku. Miku pun menerimanya.
"Kalian siap?" Tanya Rin, kedua laki-laki yang sudah posisi menggantung itu mengangguk, Rin kemudian menggenggam kedua sulur yang menjulur kebawah itu. Sulur itu memanjang.
"SSssrrrhhss.. disini Len, kondisi baik-baik saja!" Kata Len lewat walkie talkie itu. Sementara Miku melihat-lihat dokumen itu, dia akhirnya menelan ludah.
"Minna, kita berhadapan dengan Yokai tingkat 6!" Kata Miku lewat walkie talkie itu.
"Apa!"
"Apaa!" Kata mereka berbarengan.
"Kaito-kun, Len-kun, akan aku naikkan kalian lagi!" Kata Rin sambil kembali menggenggam sulur itu.
"Rin-chan awas!" Teriak Miku sambil memeluk Rin untuk menunduk, otomatis cengraman Rin di sulur itu terlepas dan Rin dan Miku jatuh bertumpukan. Sebuah saluran air tiba-tiba menyemprot mereka dari sebrang jembatan itu.
"Kalian di atas ada apa?" Tanya Kaito lewat walkie talkie itu.
"Bisa tidak kalian keatas memanjat sulurnya! Aktivitas Yokai mulai terdeteksi!" Kata Miku sambil terus mencoba melindungi Rin dari semburan air deras itu. Setiap Exorcist memiliki jam untuk mendeteksi aktifitas Yokai, Bakemono, dan Hantu. Juga alat ini sungguh serbaguna untuk melacak sejauh apa kalian berjalan. Akhirnya para laki-laki sudah sampai di jembatan buatan itu.
"Miku, sebaiknya kita ke seberang, kalau kita terus di tengah sini, kita bisa jatuh ke dalam jurang itu." Kata Rin, mereka pun merangkak ke seberang, ke tempat mereka tadi. Akhirnya, mereka sampai di seberang dimana mereka di suguhkan pemandangan tidak mengenakkan.
"Ki-kita di jebak?" Tanya Rin ketakutan.
"Jadi, kita harus melawan heh?" Tanya Kaito sambil mengeluarkan pedangnya dari balik perisainya. Len mengeluarkan bukunya dan mengulurkan tangan kirinya ke arah jurang tak berdasar itu, bahkan atasnya pun sudah tidak terlihat. Bahkan mereka tidak bisa melihat ujung dari lingkaran besar itu di atas mereka, padahal mereka tidak masuk terlalu jauh ke dalam tanah.
"Jadi kalian masuk berapa meter?" Tanya Miku. Len mengecek jamnya.
"180 M masih tidak menemukan dasarnya!" Kata Kaito dengan muka sedikit takut, Yokai level ini sungguh di luar kekuatan mereka.
"Apa? Bagaimana ini?" Tanya Rin.
"Tenang Rin-chan, kalau kau kalut seperti itu, kau akan gagal." Kata Miku. Akhirnya Len berjalan ke arah saluran air dibawah mereka itu.
"Et De Klaryra!" Kata Len sambil meregangkan semua jari tangan kirinya. "Sudah aku duga." Kata Len.
"Ada apa?" Tanya Miku.
"Kita sudah berada di dimensi lain, kita sudah berada di dimensi keberadaan Yokai itu!" Kata Len, kemudian dia menyentuh dinding air itu, dinding itu sungguh keras, airnya tidak bisa di tembus, Len kembali membaca mantra. "Seal! Kyoruku De!" Kata Len, kemudian sebuah listrik merambat tangan Len yang menyebabkan pemuda itu terhempas ke belakang. Miku dengan sigap menangkap Len sebelum pemuda itu jatuh ke jurang tak berdasar itu. "Sankyu, Miku." Kata Len, dia kembali ke tempat kering. Sepatu dan sebagian celananya basah. Tetapi sebuah aliran air datang sebelum Miku sempat keluar dari jalur air, mau tidak mau Miku terhempas ke jurang tidak berdasar itu.
"Miku-chan!"
"Miku!" Teriak mereka melihat rekan mereka terdorong arus ke jurang tidak berdasar itu.
'Apa? Tidak mungkin!' Batin Miku, dia tidak bisa mengeluarkan Kekkai miliknya, dia terus jatuh dan jatuh di jurang tidak berdasar itu, Miku memejamkan mata, bahkan lorong tempat teman-temannya berada sudah tidak terlihat, Miku sungguh ketakutan saat itu hingga ada yang meraih tangannya.
"Kaito?" Tanya gadis itu tidak percaya. Kaito langsung memeluk Miku dan menempatkan dirinya di bawah Kaito, tangannya melindungi kepala Miku dari benturan yang terjadi. "Ba-baka!" Hina Miku. "Kenapa kau ikut melompat!" Kata Miku tidak habis pikir dengan jalan pikiran ketuanya itu.
"Diam saja kau!" Kata Kaito, kemudian mereka mendarat si sesuatu, air?
"A-ada kolam?" Tanya Miku sambil menyembul ke permukaan.
"680 meter, jauh juga kita jatuhnya. Apalagi air ini tidak terlihat dasarnya." Kata Kaito yang membuat Miku bergidik. Kaito tahu kalau Miku phobia dengan air yang dalam, apalagi tidak terlihat sekelilingnya. Miku mulai merasa terancam di air yang gelap itu. Bukan karena Miku tidak bisa berenang, kenangannya dengan sungai deras yang tidak terlihat ujungnya tempat dia hendak mati ketika keluar dari kediamannya dan berlari ke arah hutan membuatnya takut akan air yang tidak terlihat sekelilingnya.
"Ka-Kaito!" Kata Miku sambil mencengram baju Kaito. Kaito mengeluarkan walkie talkie-nya.
"Maniak pisang! Jawab aku!" Kata Kaito.
"Di sini Len, eskrim berjalan, kalian selamat!" Kata Len lega.
"Yah, kami mendarat di air, menurut jam-ku tadi, aku sudah jatuh sejauh 680 meter tingginya! Bahkan kolam tempatku mendarat, tidak ada tepi, kelihatannya masih satu lorong dengan yang kita tadi. Apalagi air ini tidak memiliki kedalaman, Miku mulai ketakutan dibawah sini, Rin, bisa kau ulurkan tumbuhanmu untuk kami?" Kata Kaito berusaha menenangkan Miku.
"Tidak bisa Kaito-kun! Air yang di serap tumbuhanku menjadi air beracun dan membuat tumbuhanku mati, bahkan jembatan itu sudah jatuh!" Kata Rin. Seketika Kaito menyadari ada sesuatu yang berat kearah mereka, Kaito menarik Miku dari kemungkinan kejatuhan jembatan besar itu. Jembatan itu menghempas air membuat sebagian air menyiram mereka berdua. Akhirnya jembatan itu jatuh ke dalam, semakin dalam, semakin tidak terlihat. Miku bertambah takut. Beberapa air yang bersumber dari lorong-lorong yang mereka lihat ketika jatuh itu tiba-tiba di dasarnya mulai mengeluarkan semburan.
"Ka-Kaito, ada semburan disana!" Kata Miku mulai paranoid.
"Apa itu?" Tanya Kaito, tiba-tiba saja ada gelombang yang menghentakkan Miku dan Kaito ke arah air terjun tempat mereka jatuh tadi, seketika dia terbawa arus, Miku semakin erat memeluk Kaito dan akhirnya Miku sadar, dia tidak bertambah turun di kegelapan air itu. Tetapi dia malah ke atas!
Mereka terus ke atas, terus, dan terus, hingga sampai di mana sumber air itu. Lorong tempat mereka tadi.
"Kalian selamat!" Kata Rin menyambut dua pasangan yang basah kuyup itu.
"Ka-Kaito Lihat!" Kata Miku ke arah lingkaran jurang itu, sang Yokai menampakkan diri.
'Makanan lezat datang kepadaku!' Katanya, yokai itu membentuk sesosok naga!
"Arch! Water!" Kata Kaito sambil mengeluarkan busurnya yang mengeluarkan panah tidak habis untuk memanah sosok naga itu.
"Chainna garagona rope!" Ucap Len, sebuah tulisan panjang menjadi sulur yang menjerat naga yang tidak terlalu besar itu. Tulisan itu seketika membakar sang naga.
Miku langsung mengerahkan kertas segelnya untuk mengurung naga itu ke dan mengecilkannya.
'Grraaaggghh!' Teriak Naga itu. Seketika kembali terjadi semburan dari segel air itu, Miku tidak mau ke dalam air yang menakutkan itu. Akhirnya Miku membuat pilihan sulit, dia merentangkan tangannya sehingga Kekkai energinya membendung mereka dari derasnya air itu, semua rekan Miku terdesak di segel buatan Miku di tengah semburan air yang dahsyat itu. Semuanya terkejut melihat Miku kecuali Rin. Rambutnya yang di cat hitam, seketika catnya memudar dan akhirnya tinggal warna Tosca di rambutnya. Warna yang menandakan dia adalah keturunan Hatsune. Akhirnya, air itu mereda, dan Miku melepaskan segelnya, rasanya kekuatannya cukup terkuras, karena semburannya sangat keras tadi.
"Jadi, selama ini Miku..." Tanya Len tidak percaya. Ternyata air itu adalah darah sang naga, air kebenaran. Miku hanya memandangi rambutnya yang sudah kembali ke warna rambutnya dulu, Tosca.
"Miku Zatsune, adalah Miku Hatsune?!" Kata Kaito tidak percaya. Miku langsung terduduk di tengah-tengah saluran air sambil menutup mukanya menangis.
"Gomenasai, Gomenasai, Minna, aku membohongi siapa jati diriku sebenarnya! Aku membohongi kalian semua!" Kata Miku. Kemudian bahu Miku di tepuk seseorang dan kemudian di peluk oleh orang itu.
"Tidak peduli kau ini Miku Zatsune, atau Miku Hatsune sang keturunan asli, kau sudah menyelamatkan kami!" Kata seseorang disana. Kaito.
"Benar, setidaknya, jangan sembunyikan identitasmu lagi Miku Hatsune-san, kau adalah keturunan dari keluarga yang paling di agungkan Hatsune." Kata Len.
"Akhirnya terbongkar deh." Siul Rin pelan, Len menatap Rin penuh tanya.
'Sang energi murni! Aku akan semakin kuat!' Kata Naga yang sudah beregenerasi itu.
"Miku, ini hanya firasatku saja sih, bisakah kau membuat alas untuk kami dan ke bawah tempat air itu tadi.? Kelihatannya aku melihat sedikit cahaya dari bawah tadi." Kata Kaito, Miku hanya mengangguk, asalkan dia tidak di suruh berenang di air itu, dia akan menyanggupi. Miku membuat segel dari kakinya berbentuk lingkaran dan semua orang naik ke lingkaran itu dan Miku mengarahkan ke kolam air tadi.
'Tidak!' Teriak naga itu.
"Len, hambat gerakannya!" Kata Kaito.
"Anggap saja beres!" Kata Len bersemangat, dia bersemangat orang kuat ada di pihaknya, dia tidak perlu takut lagi.
"Aku juga akan membantu!" Kata Rin, dia membuat tembok dari rumbuhan rambatnya dan kemudian membuat tembok itu menutupi lingkaran besar itu.
"Sign, garagona rope!" Ucap Len sambil membuat jarinya membentuk pistol tetapi yang di acungkan ke depan tidak hanya jari telunjuk, tetapi jari tengahnya juga. Erangan sang naga kembali terdengar hingga akhirnya banyak sekali semburan dari lorong-lorong sekeliling Miku. Miku membuat Kekkai Kotak membungkus mereka semua, semua mantra dan pengendalian itu masih tetap berjalan karena tidak membuntu aliran sihir yang sebenarnya masih ada di setiap tipe Exorcist. Miku menahan kerasnya air itu hingga dirinya merasa melemah.
'Tidak aku harus kuat! Diriku yang lain, bisakah kau membantuku?' Batin Miku kepada dirinya yang lain.
'Tenang saja Miku!' Jawab diri Miku yang lain. Kekuatannya mulai bertambah.
"Sekarang buat lubang Miku! Aku butuh semua kekuatan kalian untuk anak panahku ini." Kata Kaito sambil menjulurkan anak panah yang tidak terlihat seperti panah biasa. Ternyata kolam tadi sudah menjadi pusaran air dengan cahaya terang sekali di dasarnya. Rin menyentuh panah itu, dan panah itu terselimuti tumbuhan rambat berduri.
"Army! Rouken Da Scala!" Ucap Len hingga sebuah mantra mengelilingi anak panah itu. Miku menyentuhnya lagi hingga sebuah Kekkai membungkus erat panah itu.
"Arrow! Thunder Max!" Teriak Kaito ketika melepaskan anak panah itu ke arah pusaran yang semakin terlihat jelas itu.
'Tiiidaaaakkk!' Teriak sang naga, akhirnya keluar aliran listrik dari inti itu dan membutakan semua orang.
"Uugghh, kalian tidak apa-apa?" Tanya Kaito.
"Bisakah aku berbaring sebentar, aku merasa kelelahan." Kata Len.
"Aku juga." Kata Rin.
"Tenagaku terasa terkuras habis." Kata Miku.
"Syukurlah kalau kalian tidak apa-apa, serangan tadi juga membuat tanganku sakit. Itu adalah kekuatan terbesar yang pernah aku keluarkan." Kata Kaito ikut berbaring, kini mereka di sebuah tempat penampungan banjir yang asli. Mereka berempat tidur terlentang di dasarnya yang sedikit ada airnya.
"Darimana kau tahu Kaito, soal inti Yokai itu?" Tanya Len.
"Ketika aku berusaha menenangkan Miku, aku menyadari, lorong itu adalah Yokai itu sendiri!" Kata Kaito yang di iringi kekagetan semua anggotanya. "Segel itu bukanlah segel, tetapi kulit dalam Yokai itu. Sedangkan semua aliran gorong-gorong itu adalah denyut nadinya. Aku tadi sama sekali tidak merasakan air yang meninggi walaupun banyak sekali air dari Gorong-gorong di atasnya, sedangkan saat tadi dia menyemburkan air dari salah lorong tempat kita tadi, seperti kita melukai beberapa bagian naga itu. Saat itulah, aku melihat di balik segel Miku, beberapa aliran air tidak sederas itu, ada beberapa yang deras ada yang tidak, saat naga itu beregenerasi, semua aliran dari lorong yang sebelumnya deras itu mulai normal, maka dari itu lah aku menyadari sebuah 'tubuh'. Dan kolam tempat aku dan Miku terjatuh, adalah jantungnya! Ingat aku tiba-tiba terangkat oleh arus keatas bersama Miku? Sama seperti kerja jantung manusia, ada darah yang masuk, ada darah yang keluar. Maka dari itu aku pun melihat seberkas cahaya saat terdesak air itu. Aku awalnya tidak yakin dengan pemikiranku sendiri, tetapi untungnya kalian mau menemaniku. Kalau Yokai itu membentuk 'tubuh' yang kita lihat, tentunya memerlukan air, dan airnya dari 'jantungnya' itu sendiri, dan ketika dia membentuk 'tubuh' maka jantung itu bekerja lebih keras, sama seperti kita ketika kita sedang berlari. Dan akhirnya Intinya akan terlihat dengan logika, naga itu tadi adalah Yokai yang sebenarnya. Dan kita akan kelelahan dengan semua energi untuk menyerang tubuh tidak asli itu." Jelas Kaito panjang lebar.
"Syukurlah! Kalian di sini rupanya! Kalian! Cepat bawa tandu kemari!" Kata seseorang membuat semua remaja yang berbaring di genangan itu bangkit untuk melihat siapa yang datang.
"Meiko-san!" kata mereka terkejut.
"Jadi, mitos kalau darah Yokai Air adalah air kebenaran ternyata benar yah." Kata Meiko. Para remaja yang sedang berbaring itu di pindah ke tandu dan mulai di angkut lewat ambulans karena kemungkinan mereka terkena hiportemia. "Asal kalian tahu, berkas misi kalian tertukar dengan kelompok senior kalian, kelihatannya ada yang menukarnya ketika kau sedang di bully oleh kelompoknya Ritsu Namine-san." Kata Meiko kepada para remaja itu. "Dan kelompoknya juga sudah mengaku kalau dia yang menukarnya." Kata Meiko lagi
"Di-dia kan! Miku Hatsune! Sang anak yang di kabarkan mati oleh pamannya sendiri itu!" Kata salah satu petugas paramedis itu.
"Bisa tidak, tidak membahas hal itu dahulu Oji-san.. Aku capek nih." Gerutu Miku yang sudah berbaring di tandu itu.
"Ha-Hai!" Kata petugas paramedis itu.
Tetapi apa mau dikata, kemunculan Miku Hatsune yang dulu sempat di kabarkan meninggal oleh pamannya sendiri disebabkan penyerbuan rumahnya pun membuat media massa heboh. Para polisi juga berduyun-duyun ke rumah sakit tempat Miku di rawat untuk mendapatkan keterangan penyerangan di rumahnya 4 tahun yang lalu itu. Dan sang pendamping setia Miku, Hiyama Kiyoteru pun kembali muncul untuk mengawal sang majikannya yang sangat dia sayangi seperti anak sendiri itu.
.
.
.
TBC
Hyaaann! Kembali lagi sama Clara-desu.. setelah ini kehidupan Miku bakalan berubah 36000(kebanyakan -_-). Apa yang akan di lakukan keluarga Lorra mengetahui kalau Miku yang sudah di anggap mereka bunuh dan mati tiba-tiba muncul dengan stempel asli miliknya sendiri? Lihat terus di kelanjutan Chapternya yah! Clara pamit duluuuu..
Balasan review:
Fujita Mari : Gomenasai-desu kalau msih kurang greget konfilknya, maklumlah, author baru, ini pun di ambil dari sekian banyaknya karya yang aku timbun-desu.. Yosh! Clara bakalan usaha supaya konfliknya greget-desu! Terus RnR ya.. Mari-Senpai.
