"Maze"
.
.
.
A ChanHun fanfiction by Halona Jill
.
I own this story including the idea, except the casts. If you don't like, just don't read.
Dedicated to my beloved husbands, Chan Chan and Sehunie of course (LOL)...
Enjoy reading...
.
.
Masa remaja memang masa yang penting, dimana setiap orang akan memilih dan memutuskan 'Jadi apa aku di masa depan?'. Chanyeol baru 18, tapi sudah berani mengambil keputusan yang besar. Dia tidak akan menyesal, bahkan berjanji pada dirinya sendiri. Juga pada pemuda manis yang selalu memeluknya erat, Oh Sehun.
.
For warn.. this is YAOI
.
.
.
-00-
.
.
Chapter 7 : Keluarga Park (Sorry for typos)
.
Tidak ada siapapun yang menginginkan perpisahan, begitu pula dengan Sehun. Pemuda manis itu menoleh sekali lagi pada Ibu dan Hyung-nya, air mata hampir menuruni pipinya melihat bagaimana dua orang itu melambaikan tangan dengan senyum tulus. Sehun membalasnya, melambaikan tangan sebelum masuk ke mobil dan tidak menoleh lagi.
Mereka tidak punya alasan untuk tinggal lebih lama lagi. Setelah Chanyeol keluar dari rumah sakit, keluarganya segera membawa mereka ke rumah Sehun untuk mengemasi barang kemudian kembali ke Seoul. Keluarga Chanyeol sangat tidak main-main menanggapi kecelakaan yang menimpa Chanyeol.
Sehun sempat ragu untuk berangkat ke Seoul bersama-sama, tapi senyuman Ibu Chanyeol yang hangat dan mata Chanyeol yang terlihat sangat tulus meminta membuat Sehun luluh juga. Bahkan saat ini Sehun sudah duduk di dalam mobil keluarga Chanyeol, berdampingan dengan Chanyeol yang sedang tertidur di bahunya.
"Chanyeol tidak akan sekolah untuk beberapa hari, kau bisa mengabarkan pada ketua kelas kalian, kan?" tanya Nyonya Park.
"Ah ya bibi, tentu saja," jawab Sehun, pemuda itu menatap Ayah Chanyeol yang diam saja.
Jalanan yang tidak mulus membuat perjalanan jadi sangat tidak nyaman dan merepotkan terutama bagi Sehun, sudah berulang kali pemuda itu membenarkan letak kepala Chanyeol dengan hati-hati. Yoora sama sekali tidak membantu, gadis itu tertidur di bangku belakang.
Tidak ada yang bicara lagi selama perjalanan, Sehun memandang keluar jendela; tiang, pepohonan dan bangunan hanya nampak seperti bayangan kabur. Sehun merasa pusing dan mual, nasi dan kimchi yang dimakannya tadi pagi terasa naik lagi ke kerongkongannya membuat Sehun harus menelan berkali-kali.
"Paman—" Sehun memberanikan diri untuk menyentuh bahu Ayah Chanyeol; Pria tua itu menoleh. "Bisakah menepi sebentar? Aku rasa aku ingin muntah."
Tanpa banyak bicara Tuan Park menepikan mobil membuat Yoora yang baru saja terbangun bertanya-tanya, tapi melihat bagaimana Sehun bergegas keluar kemudian membungkuk di pinggir jalan dengan wajah pucat gadis itu langsung mengerti.
Yoora menyusulnya keluar. Gadis cantik itu membawakan tisu dan sebotol air untuk Sehun juga membantu Sehun dengan mengusap punggung anak laki-laki yang lebih muda darinya. Ada satu dari dewi batinnya yang merasa begitu kasihan dan sayang pada Sehun, rasanya seperti melihat adik sendiri.
"Kenapa? Kau tidak biasa melakukan perjalanan jauh?" tanya Yoora.
Sehun mengusap bibirnya dengan tisu yang diberikan Yoora, pemuda itu menggeleng. "Tidak, mungkin tidak enak badan, belakangan ini aku kurang istirahat," kata Sehun, lalu dia meneguk airnya, rasanya lebih baik dari yang sebelumnya, rasa asam dan bau tidak sedap di mulutnya tersapu habis.
"Terimakasih noona," kata Sehun.
Yoora hanya mengangkat bahunya dan balas tersenyum pada Sehun. Tangannya menepuk bahu Sehun dengan hangat membuat pemiliknya merasa terenyuh. Keluarga Chanyeol benar-benar suatu rangka yang utuh, sempurna, dan kuat. Sehun berpikir apakah dirinya akan merusak rangka yang sempurna itu saat dia mencoba masuk ke dalamnya.
"Sehun.. kenapa diam saja?!" Sehun tersadar dari lamunannya, Yoora sudah berdiri di samping mobil dan membuka pintu. "Cepat ke mobil!"
Tungkai ramping Sehun bergerak dengan cepat menyusul Yoora masuk ke mobil. Chanyeol yang sudah terbangun menatapnya dengan pandangan bertanya. Sehun langsung duduk dengan tenang, dia menghela nafas sekali sebelum menutup pintu dan perjalanan kembali dilanjutkan. Kali ini Sehun akan mencoba untuk menutup matanya. Dia tidak yakin sanggup melakukan perjalanan panjang lagi setelah muntah di pinggir jalan.
"Tidurlah nak, akan ku bangunkan saat kita sampai," kata Ibu Chanyeol; Sehun membalasnya dengan anggukan kecil sebelum terlelap di bahu Chanyeol, tanpa disengaja olehnya.
.
-00-
.
Aku pasti sangat mengganggu kalau berkunjung di jam ini— Sehun mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, menyimpan tangannya kembali di samping pahanya dan menggigit bibirnya resah. Sekitar sepuluh menit berlalu dan Sehun masih berdiri di tempat yang sama. Di depan rumah orang tua Chanyeol, di waktu yang tidak tepat karena langit sudah gelap.
Tidak ada yang bisa menghalangi Sehun dari rasa rindunya yang membuncah untuk Chanyeol. Bahkan tugas sekolah sekali pun. Sehun bergegas menuju rumah Chanyeol setelah sesi belajar mandiri selesai, tidak ada niat untuk membawa serta teman-teman Chanyeol. Sehun butuh waktu untuk berdua, melepas rindu satu sama lain dalam pelukan hangat. Tapi yang dilakukannya hanya mematung di depan pintu bercat putih dengan ukiran 'Park' ditulis seperti huruf sambung tertera di bagian atasnya.
"Masuk atau pulang.. masuk atau pulang.. masuk atau—"
"Sehun?"
Sehun nyaris terpeleset kalau saja dia tidak bisa mengontrol keseimbangan tubuhnya dengan baik. Suara serak dari belakang membuatnya terkejut setengah mati dan kehilangan alam sadarnya untuk sepersekian detik. Sehun berbalik, lampu di halaman rumah tidak terlalu terang tapi cukup bagi Sehun untuk tahu siapa yang berdiri di depannya saat ini.
Seseorang yang tinggi dan besar, sosok yang sangat dirindukan Sehun. Lampu taman yang temaram tidak membuat orang itu kehilangan kilau pesonanya, masih membuat Sehun bergetar dan tidak sabar ingin mendekapnya.
Sehun mendekat, bibirnya membentuk senyum manis saat sosok di depannya sudah siap untuk menyambut dengan merentangkan dua tangan. Wangi musk bercampur keringat menggelitik indra penciuman Sehun saat dia mendekap Chanyeolnya. Sehun mengusak kepalanya di leher Chanyeol, menghirup udara sebanyak mungkin disana. Menghirup wangi Chanyeolnya yang memabukkan.
Sedangkan Chanyeol mengusak hidungnya diantara helai rambut Sehun yang halus, wangi permen yang manis membuatnya gemas setengah mati. Oh Sehun adalah seorang submisif dengan banyak hal menggoda dari tubuhnya yang indah. Seperti ekstasi, Sehun membuat seorang Park Chanyeol kecanduan dan ingin selalu menempatkan Sehun dekat dengannya.
"Kenapa tidak mengetuk pintunya?" tanya Chanyeol setelah memberi jarak diantara mereka.
"Kenapa keluar rumah dan berkeringat sebanyak ini?" Sehun memilih untuk ikut bertanya alih-alih menjawab.
Tangannya terangkat dan jemarinya dengan lincah menyusur lekuk wajah Chanyeol dari kening hingga bibirnya. Sehun berjinjit lalu mencium Chanyeol tepat di bibir, hanya sebuah kecupan biasa ditambah sedikit bumbu rindu di dalamnya, itu cukup untuk Sehun.
"Habis membeli plester, dan anjing galak milik bibi Han tidak dirantai.. jadi.." Chanyeol mengatur nafasnya. "Kau harusnya mengerti tanpa ku jelaskan lebih lanjut."
Tawa ceria milik Sehun pecah. Pemuda manis itu terkikik ceria menertawakan Chanyeol yang sudah memasang raut wajah masam. "Beruntung sekali kaki-kakimu panjang, kalau tidak.. celanamu sudah jadi sasaran empuk anjing itu."
Sehun mengeluarkan tisu dari tasnya lalu mengusap wajah Chanyeol secara lembut dan penuh kasih sayang. Iris coklat terangnya berkilat indah menatap Chanyeol, debaran jantungnya menjadi tidak teratur dan pipinya merona indah.
"Kau akan pulang setelah ini?" Chanyeol mendekat lalu menempatkan lengannya melingkari pinggang Sehun.
"Ya, aku hanya ingin memastikan kalau kau sudah baik-baik saja," kata Sehun. Tangannya meraih tengkuk Chanyeol lalu membawa bibir pemuda tampan itu kedalam ciuman singkatnya lagi. "Cepat ke sekolah ya, teman-teman juga sangat rindu padamu," lanjut Sehun.
Chanyeol terkekeh. "Rindu apanya, mereka akan menertawai gaya rambutku yang baru begitu aku masuk ke kelas," katanya dengan wajah cemberut.
Mimik wajah dan nada bicara Chanyeol terasa sangat menohok hati Sehun. Bayang-bayang kecelakaan malam itu berputar lagi di kepalanya, Sehun dihatui rasa bersalah dan hal itu membuatnya menjauhkan lengan Chanyeol dari pinggangnya lalu hanya menunduk.
"Kenapa?" tanya Chanyeol.
"Tidak.. tidak apa-apa," Sehun tersenyum. "Sudah jam berapa? Aku rasa aku harus pulang sekarang."
Chanyeol mengernyit bingung, matanya melirik arloji di tangannya yang menunjukkan jam setengah delapan, belum terlalu malam bagi Sehun. Chanyeol tahu bagaimana kegiatan Sehun, bahkan jadwal keseharian kekasihnya. Sehun tidak pernah pulang tepat waktu bahkan di hari libur sekolah atau libur kerja sekalipun.
"Jangan bohong lagi," kata Chanyeol, tangannya membawa Sehun mendekat dan menahan tubuh kurus itu dalam dekapannya. "Aku tahu kau menyembunyikan sesuatu dariku. Aku akan selalu tahu," Chanyeol mengangkat dagu Sehun lalu menatap langsung pada iris coklat terang itu.
"Sayang.." panggil Chanyeol lembut. "Jangan merasa bersalah lagi atas apa yang menimpaku saat ini. Kau sama sekali tidak bersalah, bukankah aku pernah bilang bahwa sudah seharusnya aku melindungimu?"
Tidak ada jawaban tapi Sehun mengangguk dan membalas pelukan Chanyeol.
"Aku sama sekali tidak keberatan untuk berkorban, selama itu untuk dirimu. Aku sudah banyak berjanji padamu, dan yang harus kau lakukan hanya membuatku mempertahankan janji yang sudah aku berikan. Ingatkan aku jika nanti aku mulai melupakan janjiku, dan jangan pikirkan hal lain selain itu."
Keduanya terdiam, Chanyeol memilih untuk memulai semuanya, memagut bibir Sehun secara lembut seperti biasanya. Membawa tubuh kekasihnya yang langsing untuk lebih mendekat, telapak tangannya bergerak secara perlahan disekitar punggung dan pinggul Sehun membuat pemiliknya melenguh. Dan lenguhan itu yang membangunkan makhluk buas dalam diri Chanyeol. Membuat perutnya menggelegak, sesuatu seperti memaksa untuk naik dan di keluarkan.
Chanyeol masih sempat melirik pintu rumah yang hanya beberapa meter di depannya sementara kekasihnya terhanyut dalam ciumannya yang panas dan dalam. Tangannya dengan cekatan membawa Sehun ke bagian yang gelap di samping rumah tanpa melepas pagutan mereka lalu menyudutkannya di tembok.
"Chan.." Sehun gemetar; Chanyeol dapat merasakannya saat tangan pemuda manis itu menyentuh bagian leher Tshirt-nya lalu mendorongnya perlahan.
"Ya, sayang?" tanya Chanyeol, wajahnya belum menjauh sama sekali dari Sehun, masih mencoba untuk menggoda si submisif manis di depannya.
"Aku.." Sehun menggigit bibirnya resah. "Aku takut ada yang melihat."
Seringai tampan muncul di bibir Chanyeol. Sempat terpikir olehnya jika Sehun menolaknya, tapi melihat bagaimana pipi itu merona, bagaimana gigi putih itu menggigit bibirnya yang merah dan menggoda membuat Chanyeol yakin sepenuhnya, bukan hanya dirinya yang sudah terbakar api gairah.
Chanyeol tidak akan peduli kalau Ibu dan Noona-nya yang sedang di dalam rumah tiba-tiba muncul atau mengintip keduanya, yang diinginkannya saat ini adalah melumpuhkan pemuda manis itu kemudian membawanya masuk ke kamar dan memenjarakan Sehun disana untuk satu malam ini saja.
"Coba saja untuk tidak mendesah terlalu keras," bisik Chanyeol.
Tangannya menyusuri lekuk tubuh Sehun dari bahu hingga pinggul lalu menarik tubuh itu lebih dekat lagi. Bibirnya menyentuh setiap inci wajah si submisif dan berakhir di rahangnya yang tajam, Chanyeol mengecupnya disana beberapa kali secara intens. Lenguhan Sehun terdengar jelas, menggelitik pendengarannya, seperti sulur anggur yang merambat masuk lalu memprovokasi setiap sel dari tubuh Chanyeol hingga bergejolak.
"Chan.. berhenti—" nafas Sehun tersengal, tangannya bergerak liar mengusak rambut Chanyeol sekaligus mencoba menjauhkan kepala kekasihnya. "Ayahmu.. Chan.. Ayahmu pulang—" Sehun meringis saat Chanyeol mengecup jakunnya.
"Park Chanyeol!"
Sialan!—Chanyeol mengumpat dalam hatinya dan dengan terpaksa menjauh dari Sehun. Matanya menangkap Sehun yang sedang mengatur nafas, terlihat gugup, resah dan ketakutan, pemuda manis itu berdiri merapat pada tembok alih-alih bersembunyi di belakang tubuh Chanyeol yang besar.
"Kau anak kurang ajar!" sosok pria paruh baya itu menghampiri keduanya.
Sehun terlalu bingung untuk melakukan sesuatu, tubuhnya masih merapat pada tembok dan membeku disana, bahkan saat Ayah Chanyeol memukul kepala putranya yang masih dalam kondisi sakit. Mungkinkah Ayah Chanyeol tahu? Mungkinkah pria itu melihat keduanya bercumbu. Sehun ingin menangis membayangkannya.
"Kau mau melakukan apa pada anak orang? Mencoba jadi preman, eh?! Kau mau mengajak temanmu berkelahi di samping rumahmu sendiri?!"
Pertahanan Sehun runtuh, pemuda manis itu terjatuh bersimpuh dan menangis. Terlalu bahagia dan terlalu lega karena Ayah Chanyeol salah paham tentang apa yang dilakukan putranya. Sungguh, Sehun berterimakasih pada lampu yang temaram hingga Ayah Chanyeol tidak melihat semuanya secara sempurna.
"Nah.." pria tua itu memandang Sehun lalu menunduk dan menepuk bahu Sehun. "Nak, kau tidak apa-apa? Apa Chanyeol sudah melakukan sesuatu padamu?"
Tangis Sehun semakin ribut saat melihat raut wajah Ayah Chanyeol yang terlalu khawatir padanya. Pemuda manis itu menggeleng dengan cepat hingga rambut-rambutnya ikut bergerak. "Tidak paman.. Chanyeol sangat baik padaku—"
"Ayah.. Ayah salah paham, aku hanya berbincang dengan Sehun dan—"
"Berbincang bisa di dalam rumah tidak harus di tempat gelap seperti ini!" kata Tuan Park memotong kalimat Chanyeol.
"Nah.. kalau begitu Ayah berhenti marah-marah dan biarkan kami masuk," kata Chanyeol.
Tangan Tuan Park terangkat lagi hampir memukul kepala Chanyeol, tapi pemuda tampan itu dengan cepat menghindar lalu menarik kekasihnya yang masih meringkuk dan gemetar. Tangannya dengan cekatan merangkul bahu Sehun kemudian membawa pemuda manis itu masuk ke rumah, meinggalkan Ayahnya yang kebingungan melihat tingkah putranya sendiri.
.
-00-
.
Atmosfer canggung memeluk tubuh Sehun erat-erat. Pemuda manis itu memanglah duduk dengan tenang di samping Chanyeol dan berhadapan langsung dengan Ibu Chanyeol. Tapi detak jantungnya benar-benar tidak normal, seolah-olah ingin mendobrak tulang rusuknya lalu melompat keluar.
Chanyeol sialan— Sehun melipat telapak tangan kirinya yang terletak di bawah meja kuat-kuat. Jika bukan Chanyeol yang menciumnya lebih dulu dan membuatnya mendesah di samping rumah, kejadian makan malam bersama seperti ini tidak akan terjadi. Sehun gugup setengah mati, terlebih saat melihat wajah Ibu Chanyeol dan Yoora yang bertanya-tanya, seolah-olah menyangsikan kenapa Sehun bisa ada disini dengan keadaan yang kacau sehabis menangis.
"Makanlah yang banyak.. belajar seharian pasti sangat melelahkan."
Sehun mengangguk sambil tersenyum lalu menyuap nasi dan lauknya pelan-pelan meskipun perutnya sangat lapar dan sangat tidak sabar untuk diisi. Chanyeol yang duduk disampingnya terlihat makan dengan nikmat, Sehun memperhatikan setiap suapan yang masuk ke dalam mulut Chanyeol dalam porsi yang besar. Tidak heran jika tubuhnya dan tubuh Chanyeol jadi sangat berbeda meskipun memiliki tinggi badan yang tidak terlalu jauh selisihnya.
Dari hal seperti ini saja sudah terlihat. Chanyeol dibesarkan oleh keluarga baik-baik yang menjaga kelangsungan hidupnya dengan baik pula, memberi Chanyeol makanan yang tentunya baik hingga anak itu tumbuh tinggi dan tegap. Mendidiknya dengan baik hingga Chanyeol jadi seorang pemuda dengan hati yang lembut dan berjiwa ksatria. Tapi Sehun menyangsikan apakah kemesuman Chanyeol juga datang dari ajaran orang tuanya.
"Kenapa?"
"Uhuk!" Sehun merasa seperti sesuatu telah mencakar bagian dalam kerongkongannya hingga terasa perih.
Double sialanuntuk Chanyeol dari Sehun. Seisi ruang makan panik, satu diantaranya mencoba untuk mengusap punggung Sehun, itu adalah Chanyeol. Yoora membantu menuangkan segelas air kemudian memberikannya pada Sehun. Pemuda manis itu menerimanya dan langsung meneguk airnya hingga tak tersisa setetes pun, rasa lega memenuhi jiwa dan raganya saat itu juga.
"Kalau orang sedang makan jangan di ajak bicara," Tuan Park menatap Chanyeol sengit.
Yang lain mungkin tidak tahu, tapi bagi Chanyeol dan Sehun tatapan pria tua itu menandakan bahwa perang diantara dua kubu masih berlanjut, mungkin akan menjadi perang dingin Amerika-Rusia beberapa abad yang lalu, atau perang dingin Ayah-Anak beberapa minggu yang lalu.
"Kak Yoora bicara saat makan setiap hari, dia tidak pernah dimarahi," kata Chanyeol tidak terima.
"Aku tidak! Seenaknya saja kalau bicara!" Yoora ikut berteriak tidak terima.
"Diamlah..," Nyonya Park menghela nafasnya lalu terkekeh geli. "Kalian tidak malu bertengkar di meja makan? Dan sekarang sedang ada tamu ikut makan malam bersama," mata wanita itu menatap Sehun lalu menunjukkan senyuman, persis seperti senyum milik putranya.
"Maafkan kami, tidak seharusnya kau melihat hal yang seperti ini," lanjutnya dengan raut wajah menyesal.
Tidak ada yang bisa dilakukan Sehun selain mengangguk lalu ikut tersenyum. Selama hidupnya sejak dia menginjak usia anak-anak, Sehun tidak pernah merasakan kehangatan keluarga seperti disini. Keluarga yang selalu diidamkan olehnya, yang makan malam bersama, berkumpul meskipun dipenuhi oleh perbincangan atau perdebatan kekanakan yang membuat mereka terhibur.
Chanyeol adalah mimpi-mimpinya selama ini yang pada akhirnya menjadi kenyataan, faktor utama hadirnya senyum di bibir tipis miliknya. Seperti sinar yang berpendar diantara malam yang gelap, Chanyeol yang menuntunnya melewati malam. Pembuka gerbang kehidupan masa depannya yang lebih baik, dan Sehun menjadi lebih optimis untuk meraih kebahagiaannya satu persatu.
"Bibi.. simpan saja piringnya, aku yang akan membersihkan semuanya," kata Sehun saat melihat Ibu Chanyeol sudah bersiap untuk merapikan meja setelah makan malam.
"Tidak perlu semuanya, kau kan tamu, tidak seharusnya bekerja terlalu banyak.." balas nyonya Park lembut, tangannya meraih piring dengan cekatan sebelum Sehun membawanya. "Kau akan pulang?"
"Ya, aku tidak bisa lebih lama bi, rumah sewaku cukup jauh, bibi tahu sendiri, kan?"
Nyonya Park menghela nafasnya, terlihat tidak senang akan jawaban Sehun, raut wajahnya melukiskan banyak kekecewaan. "Padahal menginap saja, bibi akan sangat senang kalau begitu," katanya. "Nah nak.. karena kau tidak mau menginap, bantu bibi mencuci piringnya, ya?"
Sehun tidak bisa menolak. Lagi pula pekerjaan mencuci piring ini bukan hal yang sulit, ini saatnya bagi Sehun untuk menunjukkan keahliannya membersihkan dapur lebih baik dari perempuan.
Waktunya untuk mengesankan ibu mertua— Sehun terkikik dalam hati sekaligus merasa malu karena menyebut Ibu Chanyeol sebagai Ibu mertuanya.
"Baiklah bi.. serahkan saja pada Sehun."
.
-00-
.
Ranjang milik Chanyeol berderit beberapa kali, seseorang tertelungkup diatasnya sambil memeluk guling. Sudah hampir tengah malam, Sehun belum bisa memejamkan matanya. Dia tidak terbiasa tidur di kamar orang lain, kejadian serupa menimpanya beberapa tahun lalu saat pertama kali Sehun datang ke Seoul dan tidur di kamarnya yang baru.
Matanya mengamati Chanyeol yang sudah tertidur pulas di kasur lipat. Triple sialan untuk Chanyeol. Dengan sengajanya Chanyeol mengganggu pekerjaan Sehun di dapur dan mengajaknya menonton tayangan sepak bola dengan Tuan Park yang sebenarnya sangat tidak diminati oleh Sehun hingga anak manis itu sadar bahwa bus terakhir yang akan membawanya pulang sudah lewat beberapa menit sebelum pertandingan selesai.
"Tidurlah.. sudah malam, besok kita harus sekolah."
Entah karena Sehun yang terlalu berhalusinasi atau memang Chanyeol yang sama sekali belum tidur, pemuda tampan itu terkekeh pelan kemudian membuka matanya, iris hitam pekatnya menghujam tepat di iris coklat terang milik Sehun hingga jantung keduanya berdegup kencang.
"Aku tidak bisa tidur," kata Sehun. Pemuda manis itu turun dari ranjang, menarik selimutnya lalu meringkuk di samping Chanyeol.
Tubuh Chanyeol menyamping menghadap kekasihnya, tangannya terulur meraih kepala Sehun lalu menyimpan kepala itu di dadanya dan mengusak setiap helai rambut Sehun penuh kasih sayang. Deru nafas Sehun di permukaan dadanya membuat Chanyeol gugup setengah mati. Kecanggungan melingkupi mereka, dan Chanyeol dengan cepat memutar otaknya untuk mencari topik baru.
"Ah.." Chanyeol tersenyum. "Bagaimana keluargaku? Ayah dan Ibu orang yang baik, kan?"
Sehun mengangguk. "Sangaaat baik. Aku jadi merasa menyesal karena sikap keluargaku tidak sebaik disini," katanya. Sehun memilih untuk duduk di samping Chanyeol lalu menempatkan kepala Chanyeol di pahanya.
"Tidak apa-apa..jangan ungkit masalah di rumahmu lagi, ok?," Chanyeol tersenyum lagi, tangannya meraih tangan Sehun kemudian mengecup setiap jemarinya. "Jadi, tidak takut untuk jujur pada orang tuaku, kan?"
Tidak ada tanggapan dari Sehun, lebih tepatnya Sehun memang tidak bisa menjawab. Berbagai macam pikiran berkecamuk di kepalanya. Ini adalah waktu terbaik untuk mengungkapkan kejujurannya, keluarga Chanyeol juga memang terlihat seperti kumpulan orang-orang baik di dalamnya. Tapi, Sehun menghela nafas saat dewa batinnya sendiri mengingatkan adanya kata 'Tapi' dalam keputusan ini.
Sanggupkah dia mengatakannya, sanggupkah dirinya sendiri untuk jujur. Mengakui dengan lantang bahwa dirinya dan Park Chanyeol sedang menjalin suatu hubungan, menyatakan kebenarannya di depan keluarga Chanyeol.
Bisa saja dirinya akan menghancurkan simpati keluarga Chanyeol padanya, menghancurkan perhatian dan kasih sayang tulus dari Ibu Chanyeol untuknya, menghancurkan tawa dan canda yang ada di keluarga Park yang utuh. Sanggupkah Sehun melihat satu keluarga utuh ini hancur hanya karena pernyataan mengejutkan yang keluar dari bibirnya atau bibir kekasihnya.
"Beri aku waktu ok?" Sehun tersenyum tipis, menunduk kemudian mencium bibir Chanyeol. "Aku ingin lebih dekat dengan keluargamu baru mengakuinya."
"Kenapa begitu? Kau bisa mengenal keluargaku lebih baik kalau kita mengatakannya sekarang sayang," kata Chanyeol protes, wajahnya menunjukkan raut tidak suka.
"Aku baru saja kenal dengan keluargamu Chan," kata Sehun pelan. "Aku baru saja mendapatkan simpati dari keluargamu, kasih sayang dari Ibumu, aku menginginkannya lebih lama. Kau bisa bayangkan? Apa jadinya jika kita bicara sekarang, aku bisa saja diusir—"
Sehun tidak bisa bicara lagi saat bibir Chanyeol membungkamnya. Rasa terkejut tidak bisa dipungkiri oleh Sehun, pemuda manis itu memekik pelan saat Chanyeol mendorongnya ke lantai lalu memagut bibirnya dalam dan keras.
Oh, tidak lagi— Sehun mengerang, mencoba menjauhkan Chanyeol dari tubuhnya. Tangannya menggapai bahu Chanyeol lalu mendorongnya secara perlahan membuat tautannya terlepas. Sehun mengatur nafasnya sementara pipinya merona hebat, separuh dari paru-parunya terasa mengempis karena kehilangan oksigen secara tiba-tiba.
"Keluargaku tidak akan seperti itu, kau tidak percaya padaku?" tanya Chanyeol, nada bicaranya menjadi lebih tinggi meskipun tidak akan terdengar keluar kamar.
"Chanyeol..." Sehun menghela nafasnya, rasa kesalnya mencapai titik penghabisan. "Aku percaya padamu! Ok?! Hanya beri aku waktu! Aku tidak ingin melihatmu menanggung resiko lagi."
"Kau sudah mengaku pada keluargaku dan kau yang terluka, jadi sekarang biarkan aku yang mengaku pada orang tuamu dan—"
"Aku sudah bilang aku akan melindungimu!"
"Diam! Aku belum selesai bicara!" Sehun ikut meninggikan nada bicaranya, dia berdiri kemudian melemparkan bantal ke wajah Chanyeol. "Aku belum selesai bicara...," lanjutnya dengan nafas yang tersengal.
"Kau marah padaku?"
Sehun tidak menjawab apapun, memilih untuk meraih selimutnya lagi dan naik ke atas ranjang. Emosi membludak di kepalanya, beberapa mencoba untuk mendobrak keluar tapi Sehun menahannya, membiarkan emosi itu pecah di dalam dan keluar dalam bentuk isakan kecil yang keluar dari bibirnya juga air mata yang menuruni pelupuknya.
"Oh Sehun?!"
Butuh beberapa menit bagi Chanyeol untuk mencerna apa yang terjadi pada Sehun. Chanyeol tahu Sehunnya menangis saat ada isakan kecil yang menyapa gendang telinganya. Pemuda tampan itu menghela nafas, mengusap wajah dengan telapak tangannya kemudian menghampiri Sehun. Menempatkan lengannya melingkari pinggang Sehun, dan membawa kepala Sehun agar menyandar di dadanya lagi.
"Maaf.." bisiknya. "Sungguh, aku tidak bermaksud membentakmu."
Dia tidak berhenti sampai disitu. Tangannya menggenggam tangan milik Sehun lalu mengusapnya secara lembut, bibirnya mengecupi kepala Sehun, membenamkan hidungnya sendiri diantara helai rambut Sehun yang halus.
"Aku akan mengikuti apa maumu, ok?" Chanyeol mengecup telinga Sehun. "Apapun, bahkan jika kau belum siap mengatakannya pada orang tuaku, aku tidak akan memaksa."
"Sehun? Jangan diam saja, aku sungguh minta maaf, aku terlalu emosional. Aku hanya berpikir bahwa kau tidak percaya padaku, maaf, aku terlalu berpikiran buruk tentangmu."
"Sehun?"
Chanyeol melepaskan dekapannya. Kepalanya terangkat mengintip wajah Sehun, dan Chanyeol bisa menghela nafas lega saat melihat wajah cantik itu begitu tenang, terpejam dengan damai dan nafasnya yang teratur, juga bibir yang sedikit terbuka. Chanyeol berpindah ke sisi kanan Sehun, menghadap wajah kekasihnya, matanya terus tertuju pada bibir Sehun.
Mengecupnya dengan lembut lalu mengecup kelopak mata Sehun. Chanyeol tersenyum tipis sekaligus menghela nafas lagi.
"Selamat tidur, mimpi indah sayang.."
.
-00-
.
Jika boleh berharap dan jika itu bisa terjadi, Sehun ingin waktu berhenti di pagi ini saja. Tepat saat matanya terbuka, bayangan samar Chanyeol yang hanya mengenakan celana panjang dan kaos sleeveless ketat menyapa retinanya. Sehun bisa merasakan jantungnya berdegup kencang dan wajahnya menghangat, ada semburat merah jambu menghiasi pipinya.
Chanyeol begitu sempurna dari segi fisiknya. Sehun sama sekali tidak berkedip saat Chanyeol berbalik untuk mengambil kemeja sekolah, lengan Chanyeol terlihat kuat dan berotot. Sehun menjilat bibirnya, membayangkan bagaimana dua lengan itu melingkari pinggangnya selama ini, atau bagaimana dirinya menyandar manja pada lengan kokoh itu. Dadanya bidang, sungguh sangat mengundang Sehun untuk mengusak kepalanya seperti anak anjing disana. Chanyeol benar-benar membuat Sehun gemetar di pagi hari.
"Sayang.." Sehun cepat-cepat memejamkan matanya sebelum Chanyeol sadar bahwa dirinya sudah bangun sejak beberapa menit yang lalu.
"Sudah pagi," Chanyeol menarik selimut yang melingkupi tubuh langsing Sehun. Menemukan pemuda manis itu tengah meringkuk.
"Bangunlah.. aku tahu kau tidak tidur," lanjutnya, Chanyeol menunduk kemudian mengecup pipi Sehun yang merona.
Seringai tampan muncul di wajah Chanyeol saat Sehun menggigit bibir lalu membuka mata secara perlahan. Siapa juga yang tidak tahu kalau Sehun sudah terbangun, Chanyeol menyadarinya sejak awal, sejak dia menarik zipper celananya dan mendengar lenguhan Sehun di belakang.
"Jam berapa sekarang?" tanya Sehun berpura-pura kebingungan, meskipun dirinya malu setengah mati. Chanyeol tahu bahwa dia sama sekali tidak tidur.
"Masih pagi, jam enam, tapi kau harus mandi, sarapan lalu berangkat sekolah denganku," kata Chanyeol. Tangannya terulur, kemudian Chanyeol menyelipkan lengannya diantara punggung Sehun dan lekukan betisnya. Membawa pemuda manis itu mengitari kamar.
Sehun terkikik pelan, mengalungkan dua lengannya pada leher Chanyeol dan meletakkan dagunya pada bahu kekasihnya yang tampan. Rasa kesal dan emosinya semalam untuk Chanyeol terhapus sudah. Si perfect boy itu punya seribu satu cara untuk membuat perasaan Sehun menjadi lebih baik lagi.
"Aku tidak punya pakaian dalam selain yang ini," bisik Sehun malu-malu setelah Chanyeol berhenti menggendongnya dan menurunkannya hingga menapak di lantai.
"Bagaimana ya.. pakai punyaku?" tanya Chanyeol; Sehun kelihatan ragu-ragu. "Pasti kebesaran ya," gumamnya pelan. Chanyeol terlihat berpikir kemudian menyeringai setelah beberapa detik. "Tidak usah pakai saja," katanya.
Tangan Sehun melayang menampar wajah Chanyeol meskipun tidak keras tapi membuat pemiliknya mengaduh pelan. "Apa sih yang ada di kepalamu?! Dasar otak hentai."
"Hentai?" Chanyeol menatap Sehun, matanya berkilat jahil. "Kau tahu istilah seperti itu?" bibirnya membentuk seringai lagi. "Ah, pacarku yang manis ini pasti suka menonton hentai juga ya?"
Sehun meringis sekaligus gemas pada dirinya sendiri yang dengan bodohnya mengatakan hal semacam itu. Ok, dewa batin dalam kepala Sehun mengangguk-angguk, bukan salahnya kalau menonton hal-hal semacam itu, Sehun adalah remaja dan dia laki-laki, hormonnya bisa meledak kapan saja dan menonton video itu adalah hal yang wajar. Yang terpenting, Sehun tidak akan melakukannya sebelum dua puluh tahun.
"Sudahlah jangan bahas itu, aku pinjam pakaian dalammu," kata Sehun ketus, sebisa mungkin menahan rasa malunya dan menghindari tatapan Chanyeol. "Tapi pinjamkan yang paling kecil," lanjutnya dengan nada yang lebih pelan.
Chanyeol tertawa, mata bulatnya menyipit dan sedikit berair. "Baiklah.. baiklah," bibirnya mengecup hidung dan bibir Sehun. "Sekarang pergilah mandi," Chanyeol melepaskan tangannya dari pinggang Sehun.
"Ah.. sayang!"
Sehun menoleh sebelum keluar dari kamar.
"Jangan masturbasi di kamar mandi, ya?"
Sialan!— umpat Sehun dalam hati. Pemuda itu menatap kekasihnya dengan tajam sambil mengacungkan jari tengahnya pada Chanyeol, kemudian membanting pintu dengan tenaga yang sama sekali tidak di perlukan.
Aku akan menghajar Park Chanyeol setelah ini kalau bicara hal-hal mesum lagi dan mengarahkanku pada kegiatan yang semacam di video itu. Sehun merengut. Tapi...Ah! Sialan! Chanyeolku menggoda sekali.
"Tidak tidak.. dua tahun lagi," gumam Sehun. "Yaampun! Dua tahun itu masih lama sekali!"
.
-00-
.
Senyum di bibir tipis Sehun tidak luntur sejak tadi. Pemuda manis itu benar-benar dalam mood yang baik, sesuatu telah mengubahnya menjadi seseorang yang berbeda. Sehun benci Biologi, tapi hari ini anak manis itu mendengarkan penjelasan guru dengan baik bahkan bisa menanggapi atau memberikan argumen saat berdiskusi dengan baik.
Seseorang yang lain sedang berkumpul dengan beberapa siswa lain di meja yang berbeda tidak melepas pandangannya dari Sehun. Terhitung sejak mereka masuk ke kelas dan jam pelajaran sudah di mulai. Matanya menatap wajah rupawan itu secara intens, menyorot setiap lekuknya kemudian menyeringai saat mata mereka bertemu.
Tapi tepukan keras di punggungnya membuat Chanyeol tersadar dan meringis. Kyungsoo menatap Chanyeol dengan raut wajah yang kesal. "Heh pitak! Kau serius tidak sih mengerjakan tugasnya?" tanya Kyungsoo.
"Siapa yang kau panggil pitak? Aku? Hey, ini bukan pitak, ini luka gores, bukti pengorbananku untuk cintaku yang teramat indah."
Kyungsoo memasang mimik ingin muntah begitu pula Jongin dan beberapa teman sekelompok mereka.
"Kyung, dia sedang di mabuk cinta, biarkan saja," Jongin mencoba menengahi. "Setelah lukanya sembuh dan rambutnya tumbuh lagi, dia akan kembali pada alam sadarnya. Doakan saja."
"Heh, kau kira aku tidak waras? Menghayal?"
"Tidak bung, wow.." Jongin mendorong kursinya untuk mundur menghindari Chanyeol. "Santai saja, aku tidak berpikiran kau tidak waras, ok? Kau hanya kehilangan alam sadarmu untuk beberapa—"
Jongin tidak bisa melanjutkan kalimatnya, malah berteriak meminta tolong saat Chanyeol menarik dan menjepit lehernya dengan tangan yang besar itu. Beberapa orang mulai panik termasuk Sehun. Chanyeol tidak pernah main-main dalam segala hal.
"Chan.."
"Tidak apa-apa sayang, aku hanya sedang memeluk Jongin, pelukan antara teman akrab," kata Chanyeol ceria. "Ya, kan? Jongin temanku yang paling manis,"
"Uhuk! Sialan, ini bukan pertemanan namanya," keluh Jongin mencoba menjauhkan lengan Chanyeol dari lehernya. "Ini pembully-an, aku selalu dibully. Uhuk!"
"Sudahlah jangan kekanakan, sebelum guru muncul dan menagih hasil diskusi kita lebih baik kalian berhenti bertengkar, Chanyeol, kau sama sekali tidak membantu, aku butuh ensiklopedia Biologi-mu saat ini, jadi bicaralah yang penting, jangan memandangi Sehun terus!"
Kyungsoo menghela nafasnya setelah mengeluarkan nada tinggi untuk menyadarkan dua temannya. Pemuda bermata bulat itu membenarkan letak blazernya sebelum menatap Chanyeol dengan tajam, memaksa Chanyeol untuk mulai bicara.
.
.
"Jadi, kenapa bisa sampai masuk rumah sakit seperti itu? kalian bertemu preman di jalan atau apa?" tanya Baekhyun.
Chanyeol hanya mengangguk, mulutnya sedang sibuk mengunyah nasi yang disuapkan Sehun untuknya. Ada hal-hal yang sebaiknya hanya diketahui oleh Chanyeol dan Sehun saja, akan terlalu beresiko jika memberitahu teman-temannya. Chanyeol tidak mau kejadian yang lalu terulang saat Baekhyun salah bicara dan Sehun menangis karenanya.
"Makanya, kau masuk klub hapkido denganku saja, jadi kau bisa mengalahkan preman jalanan bukannya masuk rumah sakit dan dapat dua puluh jahitan," Baekhyun tiba-tiba berdiri dan menunjukkan satu jurus andalannya dengan sempurna. "Keren, kan?"
"Tidak minat, aku tidak bercita-cita jadi pegulat," balas Chanyeol singkat.
"Ya.. urusi saja spesimen daun dan serangga aneh di basement rumahmu itu," kata Jongin mencibir.
Sehun menatap Chanyeol dengan pandangan penuh tanya. "Aku tidak tahu di rumahmu ada basement-nya."
Suara batuk datang dari Kyungsoo, pemuda bermata bulat itu menepuk-nepuk dadanya, terlihat kesakitan karena tersedak makanannya sendiri. "Memangnya kau sudah tahu rumah pacarmu ini?"
Chanyeol merangkul kekasihnya dan tersenyum lebar. "Dia menginap di rumahku tadi malam."
Kyungsoo tersedak lagi, kali ini lebih parah hingga dia menangis kemudian meneguk air milik Jongin membuat pemiliknya memprotes keras, Baekhyun cepat-cepat mengamankan botol minumnya sebelum Kyungsoo merebutnya.
"Kenapa harus seheboh itu sih?" tanya Sehun.
Wajahnya tiba-tiba menjadi sendu, ada rasa sedikit kesal melihat respon dari Kyungsoo yang sangat berlebihan. Tidak ada yang salah dari itu, menurut Sehun. Chanyeol kekasihnya, dan Ibu Chanyeol juga menyukainya bahkan memintanya untuk menginap disana.
"Tidak.. hanya saja," Kyungsoo meneguk air lagi lalu mencoba bernafas dengan baik. "Aku tidak percaya si Park Chanyeol ini bisa seserius itu mengajak pacarnya menginap di rumah."
"Well.. intinya congratulation, you're the first," kata Kyungsoo dengan nada yang lebih ceria.
"Oh? Apa? Bisakah kau tidak pakai bahasa Inggris?" keluh Sehun. "Aku tidak mengerti."
Kyungsoo memutar bola matanya, menatap Chanyeol kesal. "Hey pitak, kau harus ajari pacarmu ini bahasa Inggris, setidaknya kalimat yang paling sederhana!"
"Aku bukan guru bahasa Inggris, ok? Dan jangan panggil aku pitak lagi, memangnya aku tidak tahu kalau kepalamu juga pitak di sebelah kirinya," balas Chanyeol sengit.
"Dan kalian berhentilah bertengkar atau akan aku jejalkan saus pedas ini berikut botolnya," kata Sehun sebal, tangannya sudah mengangkat botol saus ke udara.
Ini pertama kalinya Sehun berani bicara seperti itu. Sudah lama, sejak dirinya jadi sosok yang begitu pendiam. Sehun melirik Chanyeol dan Kyungsoo yang masih saling mencibir, lalu Jongin dan Baekhyun yang tertawa lepas. Ada setitik rasa bangga dalam hati Sehun, dia bisa membuat teman-teman di sekitarnya tertawa.
Mungkinkah— Sehun selalu bertanya-tanya dalam hatinya. Mungkinkah Park Chanyeol memang seseorang yang selama ini disiapkan Tuhan untuknya?. Seseorang yang akan memutar balikkan kehidupannya dari gelap menjadi terang, dari kelabu menjadi penuh warna. Mungkinkah masa depannya akan lebih baik dengan adanya Chanyeol saat ini?.
Tidak ada jawaban pasti yang bisa didapatkan Sehun secara instan, butuh proses untuk menjawab semuanya. Dan Sehun akan selalu menantikan. Menanti saat dimana rasa penasarannya akan terbukti. Chanyeol memang takdirnya, atau Chanyeol hanya bayangan buram yang lewat sekejap mata seperti dalam mimpinya.
"Kau melamun lagi?"
Sehun menoleh, mendapati Chanyeol tengah menatapnya. Iris hitam pekat pemuda itu menjadi lebih teduh membuat jantung Sehun berdegup tidak teratur. "Tidak.. siapa yang melamun."
"Jangan bohong lagi.." kata Chanyeol gemas, tangannya menarik hidung Sehun. "Kalau kau memikirkan sesuatu, katakan padaku, ok?"
"Ya," Sehun tersenyum, menyandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol. "Aku tidak akan menyembunyikan apapun kok."
"Bung! Bisakah kalian tidak pamer kemesraan? Ayolah.. makan siangku belum habis dan aku bisa saja memuntahkan apa yang sudah ditelan karena melihat kalian," keluh Baekhyun.
Mungkin mereka memang harus mengontrol skinship di publik dan sebagainya sebelum Baekhyun menancapkan garpu di kepala Chanyeol. Keduanya terkikik melihat ekspresi wajah Baekhyun yang masam. Chanyeol berbisik pada Sehun kemudian dua orang itu meninggalkan meja sambil tersenyum satu sama lain.
"Ya.. lihatlah, lihat.. temanku yang tidak waras itu bahagia sekali dengan pacarnya," kata Jongin.
Bayangan Chanyeol dan Sehun masih terlihat kemudian menghilang di balik tembok bercat abu-abu.
.
.
.
TBC
.
.
Hello..
Sudah lama sekali ya? Wks. Maaf telat banget lagi updatenya. Kegiatan fakultas ini banyak bangeet yaampun, tiap pulang mau lanjut ff bawaannya capek mulu, gak nge-feel lah, dan berbagai kendala lainnya. Ditambah UTS segera tiba hohoho T.T
Well, saya sudah bekerja keras untuk chater 7 ini. lost feel beberapa kali, edit beberapa kali, dan inilah jadinya, pas-pasan mungkin, tapi ya, jangan males untuk review ya, karena ada 'take' dan ada 'give'. Ngerti kan? :v kalo ngga ngerti ya gapapa asal review :v
Dan terimakasih banyaaak untuk yang selalu review ff-ku ini muachh aku sayang kalian banget, yang sudah review&fav&follow love u so much, you're my earth-air-water-fire (alay :'v) yang baru fav&follow seperti biasa, tidak adakah yang ingin kalian sampaikan pada saya? :'v yang selama ini cuma baca atau yang baru baca silahkan review jangan malu-malu, ok? ;;)
Dan maaf sekali, karena saya gak balesin review kalian untuk beberapa saat. Nanti kalo banyak waktu senggang saya balesin, mau seabreg reviewnya, sekalimat reviewnya, aku balesin kok :v
Btw, biar aku gak terlalu php, jangan menantikan ini fast update ya. Pokoknya sampe november saya sibuk :'v.
Last words..
.
.
.
Review please.
Halona Jill.
