This story belong to jjokkomi , not mine I just translate it into bahasa. Please don't re-upload it without my permission. ^^

Sorry for typo(s)

Main : Kaisoo

Side: Xiuhan, Yunjae, Suchen, Kray, Baekyeol & Taohun

Rating: T with few NC-17 chapter

Warning : contains mpreg

Don't like don't read , but I hope you like it.

.

.

.

Kamis, 5 Oktober

Jika ada guru yang paling dibenci Kyungsoo, itu pastilah Tuan Shin. Fakta bahwa dia mengajar di semua materi kalkulus sudah cukup buruk, namun ditambah lagi dengan tua, berisik, dan kasar. Tidak perlu dijelaskan kalau air liurnya menyiprat ketika berbicara. Barisan depan di kelas seluruhnya kosong sampai kursi terakhir di dekat jendela, semua orang tahu tentang rumor 'Shin si air liur' ketika memilih kursi di minggu pertama. Semuanya merasa bersalah pada anak transferan yang terlupakan, Eunji ketika dia didudukkan di sisa tempat yang kosong.

Banyak alasan kenapa dia membenci guru itu, salah satunya karena pria itu ketinggalan jaman. Dia tidak pernah mengijinkan siapapun mengeluarkan ponsel di kelasnya dan jika kau tertangkap, Tuan Shin akan menyita benda itu untuk seminggu. Tuan Shin guru yang sangat ketinggalan jaman, dia menolak menggunakan apapun kecuali kapur atau pulpen merah. Sekolah sudah mengganti papan tulis kapur dengan papan tulis spidol namun Tuan Shin tidak memakai satupun. Dia bahkan tidak memiliki komputer di ruangannya —mengejutkan karena saat ini semuanya serba elektronik.

Tuan Shin sungguh kuno, bahkan dia sering diceritakan tentang ayahnya saat masih di sekolah menengah atas —dan well, menurut guru itu Do Yunho adalah "murid paling buruk sepanjang sejarah.". Pria itu menceplos padanya, meskipun dia sangat berbeda dari ayahnya saat remaja; Tuan Shin yakin kalau dia sama nakalnya. Lebih sering iya daripada tidak, ketika ia mencoba menanyakan pertanyaan, bukannya mendapat jawaban ia malah diomeli tentang seberapa buruk ayahnya saat menjadi siswa. Jadi dia lebih banyak diam sepanjang jam pelajaran.

Dan kebenciannya semakin membara ketika Tuan Shin memuji Baekhyun, meskipun mereka... seperti teman —mungkin bukan teman yang sebenarnya. Baekhyun adalah seniornya; tidak ada yang spesial dari hal itu. Bagaimanapun Kyungsoo masih junior, sialan, bahkan tidak seharusnya dia mengambil kelas kalkulus, dan mencoba mendapatkan nilai tertinggi di kelas, Tuan Shin akan memuji siapapun kecuali dia. Jongdae pikir itu lucu, namun sejujurnya ia tidak mengerti dimana letak kelucuannya.

Dia hanya mendapat omelan dari pria itu saat berjalan memasuki kelas setelah menyelesaikan kelas bahasa inggris dengan Chanyeol. Tidak penting kalau sebenarnya Kyungsoo tidak pernah membolos sebelumnya, atau Jongdae juga ikut absen, dialah satu-satunya yang mendapat omelan sampai bell berdering. Mood baiknya hancur seketika saat lelaki tua itu membuka mulut kasarnya.

Jadi disinilah dia terduduk, lebih dari jengkel dengan sebuah kepeningan yang berasal dari neraka dan seperti biasa, Tuan Shin menjadi ekstra berisik hari ini. Dia sedikit merasa kasihan pada Eunji yang terciprat air liur dengan kecepatan yang lebih daripada biasanya.

Dia mengerang dan menyandarkan kepalanya ke meja, tidak repot-repot mencatat, ini sangat buruk. Dia akan mengkopinya saja dari Jongdae; Kyungsoo berhutang pada Jongdae karena selalu membantubya dengan pekerjaan rumahnya. Selain pening, seseorang memakai parfum terlalu banyak dan itu membuatnya mual.

Untuk pertama kalinya dia berhasil memakan sarapannya dan sekarang dia harus mengeluarkannya lagi karena gadis bodoh yang tercium seperti pelacur. Dia menarik nafas dalam, mencoba untuk menenangkan diri —dan langsung menyesalinya, baunya malah semakin terhirup. Dia menahan muntahnya dengan tangan terangkat ke udara.

"Apa lagi sekarang Tuan Do, tidakkah kau lihat kalau aku sedang mengajar?"

Pria itu membentaknya —jika dia berkelakuan sama dengan ayahnya dia akan membalas tak kalah kasar, tapi tidak, dia punya tata krama, meskipun akan muntah.

"Bisakah aku pergi ke ruang kesehatan?"

Jongdae memandangnya khawatir, matanya berkedip menatap antara Kyungsoo dan gurunya.

"Ruang kesehatan? Kau tidak sedang sakit! Jangan memainkan permainan ini denganku Tuan Do! Ayahmu mengerjaiku dengan trik yang sama ketika masih remaja dan kau pasti akan melakukan hal yang sama!"

Pria itu mengoceh dan mengoceh tentang ayahnya lagi, Kyungsoo semakin menahan dorongan muntahnya. "Tuan Shin, ku pikir dia benar-benar sakit." Gadis dari belakang kelas mencoba memberi alasan namun tidak didengarkan, pria itu masih mengomel.

"Kau hanya akan menyelinap untuk membolos! Aku tahu bagaimana kelakuan anak-anak sekarang. Membolos dan memakan brownies ganja dan melakukan seks. Kenapa ketika aku masih rema-"

Kyungsoo menahan muntahnya lagi mendengar adanya makanan yang disebut dan melihat temannya bisa menyembur kapanpun, Jongdae berdiri dari kursinya dan menarik Kyungsoo yang terlihat hijau keluar dari kelas —meskipun gurunya mengoceh protes, dan menuntunnya ke kamar kecil.

Mereka buru-buru berjalan ke toilet laki-laki yang tertutup dan Kyungsoo langsung mendorong pintu kamar kecil dan berlari ke bilik toilet yang kosong, tidak perduli untuk menutup pintunya terlebih dahulu, sebelum mengeluarkan apapun yang dia makan pagi ini dan lebih banyak lagi.

Jongdae mengkerutkan hidungnya jijik mendengar suara Kyungsoo yang sedang muntah bergema di ruangan yang sepertinya kosong. Dia beruntung memiliki perut yang kuat —kalau tidak mungkin dia juga akan muntah.

Kyungsoo mengerang sambil menyiram klosetnya. Pikirnya ia sudah cukup sial dengan mengalami morning sick tapi kenyataannya tidak, kenapa dia harus mual-mual saat pelajaran Tuan Shin. Ia berjalan keluar dari bilik menuju keran air.

"Kau baik?"

Jongdae muncul disampingnya, bersandar di wastafel. Kyungsoo menatap lelaki itu dan melanjutkan mencuci tangannya dengan air sebelum menangkup mereka dan berkumur. Dia benci bagaimana rasanya setelah muntah.

Dia mendekat ke arah gantungan handuk untuk mengeringkan tangannya sebelum bersandar ke dinding. Jijik, itu yang selalu ia dirasakan setelahnya, dan bisanya dia akan berbaring di ranjang untuk beberapa saat sebelum kembali beraktivitas, tentu saja dia tidak bisa melakukannya disini. Dia bisa saja pergi ke ruang kesehatan namun dia masih harus pergi kembali ke kelas, dia sudah melewatkannya kemarin dan Kyungsoo benci ketinggalan kelas, sekalipun itu kelas Tuan Shin.

Jongdae menghela nafas melihat Kyungsoo yang terlihat seperti bisa pingsan kapan saja.

"Ayo, duduklah."

Jongdae membuat pergerakan untuk menggenggam tangan lelaki itu namun dia menariknya dan menatapnya seolah-olah Jongdae gila.

"Lantainya kotor!"

Jongdae memutar bola matanya.

"Berhentilah menjadi orang yang germaphobe dan dudukan bokongmu itu. Kau terlihat seperti akan pingsan."

Dengan enggan Kyungsoo duduk, menarik lutut ke dadanya, sebisa mungkin mencoba menjauh dari lantai yang terkontaminasi. Dia harus merebus seragamnya ketika sampai di rumah dan mandi dengan air panas. Dia memaki ketika ingat ayahnya akan menjemput pulang sekolah nanti, dia akan tetap memakai seragam kotor sampai larut. Sialan.

"Ini menyebalkan."

Jongdae merespon dengan gumanan, sibuk dengan ponselnya. Kyungsoo memutar matanya sebelum mengistirahatkan kepala di lututnya.

"Apa yang kau makan untuk sarapan?"

Memikirkan makanan membuatnya mual, dorongan untuk muntah datang lagi.

"Jangan menyebutkan makanan atau aku akan muntah padamu."

"Ew!"

Jongdae memekik dan bergeser dari tempatnya duduk, terlihat takut. Dia duduk dalam diam sementara Kyungsoo beristirahat, tidak ingin mengganggunya karena takut hal itu akan membuatnya mual lagi. Dia tidak ingin muntahan di seragamnya. Setelah sekitar lima menit, dianggapnya sudah aman untuk memulai pembicaraan.

"Apakah selalu seburuk ini?"

Kyungsoo mengangguk dan menghela nafasnya. "Biasanya hanya terjadi saat pagi dan aku baik-baik saja saat sekolah dimulai," dia terdiam memikirkan parfum dengan bau yang mengerikan itu, "namun hari ini seseorang memutuskan untuk tercium seperti campuran dari bau madu dan kematian, dan yah... disinilah kita sekarang."

"Ku pikir, sepertinya itu Jiyeon."

Dia mendengus, "well, itu tidak mengejutkan." Jiyeon adalah gadis paling klasik di sekolah.

"Kau ingat ketika dia ketahuan sedang memberi blow job ke seorang senior saat tahun pertama kita?" Jongdae mulai bergosip. Kyungsoo mengerutkan bibirnya berpikir, tahun awal sudah hampir dua tahun yang lalu dan dia perlu mengorek ingatannya.

"Yeah, ku rasa aku ingat itu."

"Kau rasa?! Seisi sekolah tahu tentang itu!"

Dia memutar matanya pada lelaki yang lebih tua itu. Dia terlalu sibuk belajar untuk khawatir apa yang dibicarakan sekolah.

"Tapi bukankah dia junior saat itu?" Alis Kyungsoo berkerut mengingat kejadian itu. "Bukankah dia harusnya sudah lulus?"

"Yeah, namun dia berhenti setahun karena hamil. Seingatku dengan kapten tim football jika tidak salah. Siapa namanya? Mungkin Doojoon? Aku tidak ingat."

Kyungsoo tetap diam setelah itu, Jongdae masih ragu tentang semua masalah ini, namun dia tetap tertawa. Dia tidak bisa menahan untuk menganggap situasi ini serius, meskipun dia tidak terlalu mengenal gadis itu.

Kehamilan remaja adalah hal yang masih dianggap rendah oleh masyarakat, meskipun sekarang sudah cukup biasa terjadi. Samar-samar ia ingat kejadian dimana seorang ibu muda diteriaki oleh beberapa wanita tua di bus. Biasanya para orang tua punya masalah dengan hal itu namun tetap saja, itu topik yang sensitif untuk kebanyakan orang dan yang paling penting semua orang punya pendapat masing-masing.

Ada beberapa contoh dimana orang-orang disekolahnya hamil dan yang terjadi selalu sama. Semua orang akan menatap, menghakimi dalam diam sambil mengomentari yang sebenarnya tidak pelan. Remaja adalah lintah, mengambil kejadian apapun yang mereka temukan dan menjadikannya masalah besar.

Memikirkan hal itu membuatnya teringat tentang drama Jiyeon. Dia hamil dan rumor tentangnya sangat buruk sampai gadis malang itu berhenti sekolah. Tentu saja reputasinya sedikit mempengaruhi hal itu, namun tetap saja itu adalah salah satu hal paling buruk yang pernah terjadi pada remaja hamil di sekolahnya —dan itu membuatnya khawatir.

Akankah hal itu terjadi padanya? Apa orang-orang akan membuat rumor tentangnya? Tentu saja dia bukan anak yang paling populer di sekolah tapi dia masih dikenali, itu hanya karena ia menjadi anggota organisasi sekolah dan memiliki rangking tertinggi di kelasnya. Kata-kata mulai tersebar dan orang-orang akan mulai membicarakannya. Namun akankah itu hal buruk? Akankah dia juga harus meninggalkan sekolah karena hal itu?

Tidak perlu dijelaskan bahwa hal itu akan memundurkannya agar lulus pada waktunya. Kyungsoo tidak pernah ingin melewatkan sekolah. Dia sudah berusaha keras sejak tahun awal. Dia tidak datang ke pesta-pesta, keluar dengan teman-temannya, hell, dia bahkan tidak berkencan karena sangat sibuk dengan sekolah, dan sekarang besar kemungkinan semua itu sia-sia. Jika dia tidak lulus pada waktunya, dia akan ditinggalkan sendirian, Chanyeol dan Jongdae akan melanjutkan hidupnya. Hanya akan ada dirinya. Dia tidak mungkin bisa bertahan seperti itu.

Dia benar-benar mengacaukan semua hal di hidupnya sendiri dan tiba-tiba dorongan untuk muntah terasa lagi, kali ini bukan karena aroma parfum yang bodoh.

"Hey," ucap Jongdae sambil merangkulnya, "kau akan baik-baik saja."

Hanya sebuah bisikan "bagaimana kau bisa tahu" lah apa yang bisa diucapkannya. Tenggorokannya tercekat dan perutnya terasa melilit, air matanya akan segera tumpah. Kehamilan sudah membuat emosinya kacau dan dia masih harus menghadapinya selama berbulan-bulan.

"Well, yang pertama kau tidak se-... erm, bersetubuh dengan siapa saja seperti Jiyeon. Bukankah dia sudah pernah menghisap milik seluruh anggota tim football sebelum dia hamil, tidak ada satupun yang terkejut dengan itu. Seperti itulah kelakuan para remaja."

Jongdae menjeda dan kembali ke tempatnya yang semula, di samping lelaki yang lebih muda. Kyungsoo bukanlah orang yang harus sering diberi kalimat penyemangat, terakhir kali dia seputus asa ini adalah saat tahun awal, karena alasan yang bahkan tidak ingin Jongdae ingat saat ini kalau tidak dia mungkin saja emosinya akan terpancing dan dia tidak bisa melakukannya saat ini.

Kyungsoo butuh seseorang yang bisa menenangkannya bahwa semua akan baik-baik saja. Seharusnya itu ayahnya, atau Minseok, atau Yixing. Hell, bahkan Jongin. Namun sekarang yang dimilikinya hanyalah Jongdae dan lelaki yang lebih tua darinya itu tidak takut untuk maju saat dibutuhkankan.

"Dengar, aku tau ini sangat menakutkan bagimu, namun kau akan baik-baik saja. Aku tidak bisa bilang kalau ini akan mudah seperti yang lain, tapi kau adalah Do Kyungsoo. Kau bisa mengerjakan pekerjaan rumah kalkulus dengan mata tertutup, jadi aku sangat yakin kalau kau bisa mengatasi sekolah menengah atas sekalipun dengan seorang anak."

"Kau akan menjadi seperti ibu muda sialan yang ditayangkan di Oprah atau apapun itu yang hamil dan masih bisa mendapatkan nilai kelulusan sempurna dan diterima di beberapa perguruan tinggi terbaik."

"Dan aku akan melawan siapapun yang berani berbicara buruk tentangmu. Aku akan menghajar mereka, dan aku sangat yakin kalau Yixing dan Chanyeol akan melakukan hal yang sama."

Kyungsoo tersenyum, sedikit tersedu sebelum menarik lelaki yang lebih tua mendekat dan melemparkan diri padanya, mencoba memberi pelukan.

"Terimakasih, hyung." Meskipun Jongdae kadang menyebalkan, dia masih tahu bagaimana cara membuat Kyungsoo merasa lebih baik dan dia bersyukur karena itu, terutama saat ini.

"Sama-sama," Jongdae menggeliat, "sekarang lepaskan aku, kau gendut." Dia mencoba mendorongnya menjauh namun tidak berhasil. Kyungsoo menurut dan melepaskannya, tapi tidak tanpa memukul lengannya lebih dahulu.

"Ouch, what the fuck, untuk apa itu?!"

Jongdae mengerutkan bibirnya sambil meraba lengannya. Kapan Kyungsoo belajar untuk memukul sekeras itu?

"Kau tidak boleh menyebut orang yang tengah hamil gendut!" Bentak Kyungsoo dengan seringai main-main di wajahnya. Jongdae hanya mendengus dan memutar bola mata.

"Terserahlah, fat ass, ayo kembali ke kelas Tuan Shit."

Kyungsoo mengangguk dan bangkit dari lantai, bergidik memikirkan betapa kotornya lantai itu. Sungguh, siapa yang tahu kapan terakhir kali lantai itu dipel.

Keduanya menuju pintu dan terdiam, mata membelak melihat Baekhyun yang bisa dibilang shock. Ketiganya hanya berdiri dalam keheningan, menatap satu sama lain.

Kyungsoo memaki semua orang dan semua hal. Jagat raya pasti membencinya, ya kan? Ekspresi di wajah Baekhyun sudah menunjukkan semuanya. Lelaki itu mendengar, seberapa banyak yang tidak diketahuinya, tapi tentu saja dia mendengar akhir pembicaraannya dengan Jongdae.

Terasa seperti berjam-jam sampai ada yang membuka suara, se-klise kedengarannya. Baekhyun lah yang berbicara, dirinya dan Jongdae tidak tahu harus mengatakan apa tanpa mengubur diri ke lubang besar.

"Kau... ha-hamil?"

Baekhyun berbisik dan jika dia tidak berdiri sedekat ini dia mungkin tidak akan bisa mendengarnya. Tidak ada yang mengatakan apapun, sekali lagi mereka jatuh ke keheningan.

Baekhyun anggap jika itu pertanda buruk. Dia baru saja datang untuk memeriksa keadaan Kyungsoo dan disinilah dia mendengarkan informasi pribadinya. Dia tidak bermaksud untuk menguping, tapi ketika Tuan Shin mengirimnya untuk memastikan mereka tidak membolos atau sejenisnya, dia menjadi penasaran alasan kenapa Jongdae harus menyeret Kyungsoo keluar. Rasa penasaran benar-benar membunuh si kucing.

"A-aku minta maaf," dia tergagap melihat Kyungsoo mulai melotot, itu tidak pernah menjadi pertanda baik, "i-itu bukan urusanku."

"Yeah, memang bukan." Kyungsoo menggertak, mengabaikan Jongdae yang menyikutnya.

Sekarang dia sungguh marah karena Baekhyun sudah menguntit dirinya dan Jongdae. Siapa yang tau apa yang akan dilakukannya sekarang. Dia orang yang bermulut besar, mungkin saja dia akan memberitahu Chanyeol. Tidak, dia tidak akan punya kesempatan untuk melakukannya.

"Kau akan menutup mulutmu, mengerti?" Adalah apa yang dikatakannya sebelum mendorong Baekhyun yang ketakutan menyingkir dan meninggalkan kamar kecil. Dia tidak punya waktu untuk hal semacam ini.

Jongdae menatap Baekhyun yang mengangguk, linglung sepenuhnya. Dia menghela nafas dan mengacak rambutnya dengan satu tangan. Semuanya akan jauh lebih mudah jika Kyungsoo mengaku saja dengan Chanyeol dan Jongin. Dia sempat memikirkan untuk memberi tahu Chanyeol sendiri, tapi itu bukan haknya, meskipun mereka bertiga sudah menjadi sahabat selamanya.

"Dengar, Chanyeol tidak tahu tentang hal ini, jadi kau benar-benar harus menutup mulut, Baekhyun."

Mata Baekhyun melebar. Kyungsoo selalu memberitahu Chanyeol tentang segalanya tapi dia tidak memberitahu tentang hal ini? Sebenarnya dia merasa cemburu dengan Kyungsoo karena betapa dekatnya dia dengan kekasihnya. Kyungsoo tahu hal-hal tentang Chanyeol yang tidak diketahuinya dan sebaliknya. Mereka berdua adalah definisi dari sahabat, dan Kyungsoo masih menyembunyikan hal seperti ini?

"Dia belum memberitahunya?" Jongdae menggelengkan kepalanya dengan ekspresi gusar.

"Kau tidak bisa begitu saja mengharapkanku untuk tidak mengatakan apapun." Ucap Baekhyun dengan sedikit kurang ajar. Jongdae manahan dorongan untuk memutar bola matanya.

"Aku bisa dan akan ku lakukan."

"Tapi-"

"Dengar," potongnya, "Kyungsoo berada di posisi yang rumit, okay? Dia perlu mengendalikan semuanya dan semua yang di lakukannya harus direncanakan baik-baik. Aku bersumpah kalau dia bahkan mengatur kapan dia akan menggunakan toilet, tapi bukan itu intinya."

"Intinya adalah jika dia tidak bisa mengendalikan situasi dia akan panik. Mungkin dia tidak terlihat seperti itu tapi dia sangat ketakutan sekarang dan aku tidak akan menyalahkannya. Aku tidak berpikir kalau dia merencanakan untuk memiliki anak, jika di pikirkan."

Dia terdiam, memikirkan kembali mommy issue yang pernah dialami lelaki yang lebih muda itu, meskipun dia tidak menyadarinya, namun itu bisa jadi masalah di lain hari.

"Jadi meskipun aku tidak berpikir kalau dia harus menyembunyikan hal ini dari Chanyeol, dari semua orang, aku akan menghormati keputusannya dan kau lebih baik juga seperti itu, terutama jika kau tidak ingin dia membunuhmu."

Baekhyun tidak mengatakan apapun, hanya mengangguk dan keduanya kembali ke kelas mereka dalam keheningan. Kyungsoo sudah duduk dan mencatat ketika mereka tiba dan dia melirik lelaki yang lebih muda itu sebelum pergi ke kursinya di dekat jendela, di sebrang ruang dimana Jongdae dan Kyungsoo duduk.

Sejujurnya dia tidak tahu harus melakukan apa dengan cobaan ini. Separuh dari dirinya ingin mengirimi Chanyeol pesan tentang ini itu, dan sebagiannya lagi ingin untuk tidak mengatakan apapun pada siapapun tentang hal itu. Jika dia tetap menutup mulut maka Kyungsoo akan merasa senang dan itu selangkah lebih dekat untuk Kyungsoo agar tidak membencinya.

Tapi jika ia tidak memberi tahu Chanyeol, maka apa yang akan terjadi? Mungkin kekasihnya akan merasa sakit, dikhianati malah, tapi sungguh itu bukan rahasianya. Itu rahasia Kyungsoo. Dia tidak bisa bertanggung jawab untuk rahasia orang lain, kan?

Seluruh situasi ini membuat kepalanya sakit, hasil terbaiknya adalah keragu-raguan. Dia menghabiskan sisa pembelajaran dalam lamunan, bingung apa hal benar yang harus dilakukan.

.

.

Kyungsoo sangat jarang mengambil kelas sejarah, dengan Tao yang mengikuti mereka sementara Chanyeol langsung menanyakan kenapa dia tidak menikmati jam bebas yang diberikan oleh guru mereka. Dia tetap diam sepanjang waktu, lebih memilih untuk mengirim pesan kepada Minseok daripada mendengarkan celotehan Chanyeol. Dia merasa muak tanpa alasan pada lelaki yang lebih tua itu.

Dia memberikan jawaban ketus saat ditanyai dan tidak repot untuk mendongak dari ponselnya. Dia bisa memberi tahu Chanyeol kalau dia sedang kesal dan mungkin sedikit menyakitkan bahwa dia tidak membatasi seperti dirinya, namun dia tidak merasa dirinya peduli tentang itu.

Dia tidak bisa memberitahunya bahwa dia marah dengan Baekhyun tanpa memberitahu tentang kehamilannya. Dan itu bukan seperti dia tidak ingin memberitahu Chanyeol, karena sesungguhnya dia ingin. Dia ingin Chanyeol jadi orang pertama yang tahu tentang hal semacam ini, dia ingin untuk bisa menceritakan rahasianya. Untuk bisa menangis dan membuat lelaki yang lebih tua darinya itu memberi tahunya kalau semua hal akan baik-baik saja.

Tapi ketika kemarin Chanyeol tidak terusik untuk muncul, sepertinya sesuatu di dalam dirinya memberontak. Dia merasa sakit karena Chanyeol mengabaikannya, bahkan marah. Sebelum ada Baekhyun lelaki yang lebih tua darinya itu selalu ada untuknya ketika dibutuhkan, namun sekarang sepertinya dia tersingkirkan dan dia benci hal itu lebih dari apapun. Dia tidak peduli siapa yang dipacari Chanyeol, selama dia bahagia, namun dia benci fakta bahwa lelaki yang lebih tua itu menjauhkan diri.

Jadi ketika bel berbunyi, dia dengan cepat keluar kelas, mengabaikan untuk mengucapkan sampai jumpa atau berhenti saat Chanyeol memanggil namanya karena jika dia melakukannya, ia pikir ia hanya akan menjungkir balikkan segalanya dan dia tidak ingin itu terjadi. Dia tidak ingin menjadi Kyungsoo yang sama yang akan memberitahukan semuanya pada hyungnya semenjak Chanyeol tidak seperti dulu lagi.

Mungkin dia sedikit overdramatis, lebih dari dia yang biasanya, tapi hari ini dia memilih untuk tidak perduli. Dia akan perduli di lain hari, mungkin besok. Sekarang apa yang diinginkannya adalah pergi kemanapun dan tidak diganggu. Jadi dia mengabaikan lokernya, meskipun buku kalkulus dan buku sejarahnya terasa seberat satu ton dan lebih memilih pergi ke atap dimana rumah hijau milik sekolah berada.

Tempat itu hening saat dia masuk, banyak orang yang melupakan tempat ini meskipun masih ada dan dia senang dengan hal itu. Dia hanya ingin sendiri. Semua pemikirannya sudah membebaninya dan dia merasa mual di perut, tidak sedikitpun merasa lapar, meskipun baru saja mengosongkan perutnya tadi. Secara harfiah baru sekitar duapuluh empat jam semenjak dia memastikan kehamilannya dan hal itu sudah membuatnya gila.

Dia sempat berpikir untuk menelpon ayahnya dan memintanya untuk menjemputnya namun dia tahu ayahnya tidak bisa begitu saja meninggalkan pekerjaan. Bagaimanapun juga dia tetap menelpon, ayahnya mengangkat saat dering ke dua.

"Kyungsoo? Kenapa kau menelpon saat jam sekolah?"

Ayahnya terdengar kawatir dan dia merasa bersalah karena menelponnya untuk alasan bodoh dan tidak bisa mengendalikan emosinya. Dia tidak menyampaikan pemikiran itu, hanya meminta apakah ia bisa dijemput dan beruntung ayahnya tidak bertanya apapun dan bilang kalau dia akan berada disana secepatmungkin sebelum menutup telponnya.

Dia mengabaikan pesan yang muncul di ponselnya dan lebih memilih untuk berkeliling, melihat bunga-bunga dan pohon-pohon kecil sebelum duduk di sudut yang agak jauh dari pintu, takut seseorang masuk. Dia menghabiskan seluruh waktu makan siang dengan menatap bunga-bunga, menyadari hal itu menyenangkan dengan caranya sendiri. Paling tidak hal itu membantu mengurangi sedikit kegugupannya saat kemudian bel berbunyi.

Dia berjalan menuju kelas fisika yang sialnya Jongdae dan Chanyeol berada disana juga. Saat keduanya sampai ke kelas mereka membombardir Kyungsoo dengan pertanyaan, kenapa dia tidak di ruang makan, kenapa dia tidak menjawab telpon atau pesannya, kenapa dia mengabaikan mereka.

Jongdae lebih ke arah khawatir sedangkan Chanyeol lebih ke arah mengganggu. Jongdae tahu itu mungkin karena masalah Baekhyun, yang menutup rapat mulutnya saat makan siang —meskipun dia terlihat seperti akan membeberkan semuanya. Chanyeol tidak tahu lagi apa yang sedang terjadi dengan teman-temannya dan itu mulai membuatnya khawatir. Dia bukan orang yang mudah marah namun mereka menyembunyikan sesuatu darinya dan itu cukup untuk menganggunya.

Dia sempat berpikir untuk membicarakannya dengan mereka namun bell berdering dan mereka tenggelam pada penjelasan membosankan yang terlewat cepat dan hal membosankan lainnya yang berhubungan dengan fisika, jadi Chanyeol memilih untuk mengunci mulutnya dan berencana untuk menghadap mereka ketika jam sekolah usai.

Sudah lebih dari setengah jam pelajaran ketika suara ponsel berdering menyela penjelasan di kelas dan seisi ruangan kegirangan dalam diam saat sang guru menjawabnya. Guru itu mengangguk maklum dan mengucapkan ya sebelum menutupnya dan mengatakan kalau Kyungsoo diperbolehkan pulang.

Kyungsoo mengangguk dan mengemasi barang-barangnya, berbisik "nanti aku akan menelponmu" ke seekor Jongdae yang terlihat khawatir, mengabaikan Chanyeol mengabaikan tatapan yang diberikan lelaki yang lebih tua itu padanya. Dia tidak pernah dijemput. Terakhir kali dia pulang cepat adalah saat kelas lima sekolah dasar ketika dia terkena gangguan pencernaan.

Kyungsoo berhenti dulu di lokernya, mengambil apapun yang mungkin ia perlukan sebelum menuju ke arah kantor. Koridor sepi. Yang sesekali terdengar hanya suara meja digeser atau suara penjelasan guru yang mengajar. Ini berbeda dengan koridor yang biasanya —tapi ini menyenangkan.

Dia mempercepat pergerakannya mengetahui tinggal beberapa menit lagi sebelum kelas bubar dan Kyungsoo tidak ingin terperangkap di keramaian dan bertemu salah satu temannya. Dia hampir sampai di koridor yang menuju ke kantor dan ketika dia berbelok di persimpangan pandangannya dipenuhi dengan kaus merah, sang pemilik menabraknya.

Kyungsoo terhuyung ke belakang, hampir jatuh karena kakinya sendiri saat berusaha mundur tapi untungnya orang itu menangkapnya sebelum dia mendarat dengan bokongnya.

Ia mendongak dan memaki peruntungannya. Sialan, Kyungsoo hanya ingin pulang, bukan berurusan dengan Jongin.

"Holy shit! Maafkan aku hyung! Apa kau tidak apa-apa?!"

Jongin hampir histeris memeriksanya, terlihat seperti dia baru saja menendang anak anjing atau sebagainya. Kyungsoo tidak mengatakan apapun, hanya menatap pemandangan di depannya yang merupakan Jongin. Dia mengenakan kaos basket berwarna merah dan celana pendek putih. Rambutnya lembab dan berantakan. Ia menatap setetes keringat mengalir melalui leher Jongin dam menuju dadanya sampai tetesan itu menyelip ke balik tenunan merah —pikirannya otomatis menjadi buyar.

"Hyung?"

Kyungsoo tahu seharusnya dia mengatakan ssesuatu, apapun itu, tapi yang mampu dilakukannya hanyalah menatap ke bibir plum milik Jongin. Ia mengatakan sesuatu tapi kata-katanya terdengar seperti gumanan kacau untuknya. Dia tersadar dari lamunannya ketika sebuah lengan mengguncang bahunya pelan.

Ia menggeleng dan mengerjapkan matanya beberapa kali dan menggumankan "huh?" dengan bodohnya saat matanya bertemu milik Jongin.

"Apa kau tidak apa-apa?"

Dirinya mengangguk. "Yeah, aku tidak apa." Jongin tersenyum malu-malu padanya dan mulai meminta maaf lagi, rona merah terang di pipinya ketika menjelaskan bahwa ia sedang buru-buru kembali ke kelas setelah mengantarkan Sehun ke ruang kesehatan, yang terkena pukulan di hidung.

Pikirannya otomatis kembali ke ingatan pagi ini, memikirkan sindiran bodoh Sehun, yang mungkin bukan ide bagus karena ia mulai menatap lagi.

Jongin tidak menyadari tatapannya, masih berbicara tentang basket dan pelanggaran atau apapun itu —dan Kyungsoo tidak ingin apapun selain membuatnya diam. Dia sedang di setengahnya pembicaraan mencoba menjelaskan kenapa dia menyikut Sehun di wajah ketika pertahanan Kyungsoo hancur dan menangkap lehernya — menautkan bibir mereka bersama.

Ia tahu kalau seharusnya ia tidak melakukan ini, emosinya sedang terlalu tidak stabil sekarang untuk berada di dekat Jongin, mengikuti keinginan untuk menciumnya tapi ia benar-benar tidak tahan. Kyungsoo hanya ingin melupakan semuanya.

Jongin terlalu terkejut untuk mengatakan apapun ketika ia merasakan bibir lembut Kyungsoo di miliknya. Sejujurnya ia tidak mengerti apa yang terjadi. Semenit yang lalu ia membicarakan tentang Sehun, di menit selanjutnya tangannya berada di pinggul Kyungsoo, matanya terpejam dan lidahnya bergerak ke milik lelaki yang lebih tua.

Dia lebih dari bingung, tapi —hell seperti dia akan berhenti dan menanyakan Kyungsoo apa yang terjadi. Kemarin lelaki yang lebih tua darinya itu masih mengabaikannya. Pagi ini ia membiarkan Jongin menempel padanya dan menertawainya dan sekarang Kyungsoo menciumnya? Tidak ada yang masuk akal tapi ia tidak menemukan sedikitpun bagian dari dirinya protes.

Kyungsoo melampiaskan semua rasa frustasinya pada mulut Jongin. Menjepit dan menghisap dengan tangan menjerat rambut cokelat yang lembab. Dia hanya bisa mengerang saat Jongin mendorongnya kasar dan menghimpitnya diantara loker terdekat, ranselnya menekan kearahnya dan sebuah buku mengganjal di punggung bawahnya namun ia tidak memperdulikan hal itu.

Ia lebih memilih fokus ke bagaimana rasa dari bibir Jongin di bibirnya dan cara tangan lelaki yang lebih muda mencengkram pinggulnya, ibu jari kirinya membuat gestur lingkaran di kerahnya. Tangannya sendiri sama sibuknya, salah satu tangannya melingkar di leher Jongin dan tangannya yang lain bergerak di sepanjang tulang selangkanya dan bergerak turun kemudian berhenti di dada lelaki yang lebih muda, mencengkram pada kain merah seolah-olah hidupnya bergantung pada hal itu.

Sebelum bell sempat berdering Kyungsoo tersentak dari keadaannya, secara langsung menghempaskan Jongin darinya. Sungguh, ia kehabisan nafas dan merasa malu dengan apa yang telah dilakukannya.

Jongin oleng ke belakang, terperangah akan apa yang telah terjadi. Dia langsung terengah melihat Kyungsoo yang memerah, warna bibirnya sesuai dengan rona di pipinya. Dia ingin tersenyum tapi ekspresi di wajah lelaki yang lebih tua darinya itu membuatnya merasa sulit.

Jongin membuka mulutnya untuk menanyakan apa yang salah tapi Kyungsoo menyelanya dengan menyemburkan kata maaf, yang Jongin tidak yakin untuk apa, dia tidak mungkin meminta maaf karena telah menciumnya.

"T-tidak seharusnya aku melakukan i-itu. Maaf Jongin."

"Hyung, tunggu—"

Ia bergerak untuk mencengkeram lengan lelaki yang lebih tua tapi dia langsung menarik tangannya dan mengatakan maaf lagi sebelum lari melewati koridor, bercampur dengan kerumunan siswa yang menuju ke kelas selanjutnya. Jongin merasa sangat bingung melihat adanya penyesalan di mata lelaki yang lebih tua itu. Apakah ia seburuk itu untuk berada di dekatnya?

Jongin mengerang dan mengacak rambutnya dengan satu tangan sebelum kembali menuju gedung olah raga. Dia akan terlambat ke kelas tapi ia sama sekali tidak perduli, hell— dia sangat butuh mandi dengan air dingin dan waktu untuk memikirkan apa yang baru saja terjadi.

.

.

.

hay... _-_ /?

Err... sudah berapa tahun saya gak update? Masih ada yang ingat? XD

Maaf saya terkena Translator block /apa/

Intinya saya benar-benar minta maaf, maaf juga kalau ini mengecewakan dan maaf gak bisa balas review satu-satu. Serius saya gak maksud nelantarkan ff ini, tanya aja akang darkestlake /mention /g

Saya sibuk... kemaren sibuk ujian, terus sibuk kegiatan sekolah dan sekarang sibuk nonton anime /ggg

Chapter depan saya akan membalas reviewnya deh~ kalau ada yang review sih :"D

Kalau ada yang ingin di tanyakan atau disampaikan pergi aja ke sns saya -3-

Uname fb Jaseth Kwa atau bbm 5171b517 atau mau di akun roleplayer aja? /plok

Thanks for readers, followers, fav, and siders! Love u guys~ umumumumumumu :*

See ya in the next chapter~ /waves

RnR please? /kedipin readers /?

p.s spesial thanks to darkestlake yang ngetawain saya. umumumumumu :"*

.

Orange Sky

Muarakaman, Kalimantan Timur